Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 32806 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Yulia Anggraeni Hidayat Putri; Pembimbing: Nuning Maria Kiptiyah; Penguji: Krisnawati Bantas, Tri Yunis Miko Wahyono, Mulyadi
Abstrak: Hipertensi merupakan salah satu Penyakit Tidak Menular (PTM) yang menjadi masalah kesehatan di Indonesia maupun di dunia. Hipertensi adalah tekanan darah sistolik ≥ 140 mmHg dan atau tekanan diastolik ≥90 mmHg. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara aktivitas fisik dengan hipertensi di Jawa Barat tahun 2016. Desain studi yang digunakan adalah cross sectional dengan menggunakan data sekunder Surveilens Posbindu PTM di Jawa Barat tahun 2016. Dengan menggunakan jumlah minimal sampel dua populasi sebesar 238 sampel. Analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis regresi logistik. Hasil analisis multivariat menunjukkan hubungan antara aktivitas fisik dengan hipertensi (POR=0,803, 95% CI: 0,661-0.977). Adanya interaksi antara aktivitas fisik dengan umur (POR=1,284, 95%CI: 1,050-1,570). Adanya interaksi aktivitas fisik dengan obesitas (POR= 0,818,95%CI:0,690-0,970). Kata kunci: Aktivitas Fisik,cross sectional, Hipertensi, Jawa Barat Hypertension is one of the non-commicable disease which became part of public health problem in Indonesia and in the world. Hypertension is defined as a systolic blood pressure ≥140 mmHg and/or diastolic blood pressure ≥90 mmHg. This study aims to knows the relation of psychical activity and hypertension in West Java in 2016. This analysis used Surveilens Posbindu PTM data in West Java in 2016 with cross sectional study desaign. Use sample 238 respondens. The data was analizes using logistic regression. The study result of multivariate shows that relation between pshycal activity and hypertension (POR=0,803, 95% CI: 0,661-0.977). Interaction between psychal activity with age (POR=1,284, 95%CI: 1,050- 1,570). Interaction between psychal activity with obesity (POR= 0,818,95%CI:0,690-0,970). Keywords: cross sectional;Hypertension;Physical Activity;West java
Read More
T-5112
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ahmad Aswal Liambo; Pembimbing: Soedarto Ronoatmodjo; Penguji: Helda, Yovsyah, Soewarta Kosen, Eulis Wulantari
Abstrak: Hipertensi merupakan salah satu penyebab kematian dini pada masyarakat, WHOmelaporkan hampir satu milyar orang di dunia menderita hipertensi dan diprediksimeningkat menjadi 1,5 milyar pada tahun 2025 nanti. Kurang aktivitas fisik merupakansalah satu faktor risiko hipertensi yang dapat dimodifikasi dengan usaha dan biaya yangtidak terlalu besar. Pada tahun 2013, prevalensi hipertensi pada penduduk dewasa diIndonesia sebesar 25,8% dan proporsi kurang aktivitas fisik sebesar 26,1%. Tujuanpenelitian ini adalah mengetahui prevalensi hipertensi, proporsi kurang aktivitas fisik danhubungan aktivitas fisik dengan hipertensi pada penduduk dewasa di Indonesiaberdasarkan data IFLS 5 tahun 2014. Desain yang digunakan adalah cross sectional,populasi penelitian yakni seluruh penduduk dewasa (≥18 tahun) yang menjadi respondenIFLS 5 tahun 2014 dengan sampel sebanyak 26.043 responden. Kriteria hipertensimenggunakan pedoman JNC-7 (140/90 mmHg), penilaian aktivitas fisik berdasarkankebiasaan melakukan kegiatan fisik minimal selama 10 menit dalam seminggu, terdiridari aktif dan kurang aktif. Uji statistik pada analisis bivariat dan multivariatmenggunakan cox regression. Hasil analisis menunjukkan prevalensi hipertensi sebesar24,09%, proporsi kurang aktivitas fisik sebesar 35,68%, serta terdapat hubungan yangsignifikan antara aktivitas fisik dengan hipertensi (P value 0,000). Penduduk yang kurangaktivitas fisik berisiko 1,15 kali mengalami hipertensi dibandingkan penduduk yangmemiliki aktivitas fisik aktif (PR: 1,15; 95% CI: 1,09-1,21). Disarankan kepadamasyarakat untuk melakukan kegiatan fisik ringan berupa jalan kaki minimal selama 30menit setiap harinya dan kepada Dinas Kesehatan untuk berinovasi dalam memberikanedukasi kepada masyarakat terkait pentingnya aktivitas fisik dengan menggunakan sosialmedia (Facebook, Twitter, Instagram dan lainnya).
Kata kunci :Hipertensi, aktivitas fisik, cross sectional, cox regression, IFLS 5.
Hypertension is the leading causes for prematur death worldwide. Globally, WHOreported about nearly one billion people living with hypertension and it is estimated thatthis number will escalate to more than 1,5 billion by the year 2025. Insufficient physicalactivity is one of the modifiable risk factors for hypertension, which is not required greateffort and cost. In 2013, the prevalence of hypertension among Indonesian adults was25,8% and the proportion of insufficient physical activity was 26,1%. This study aims toknow the prevalence of hypertension, the proportion of insufficient physical activity andalso its relationship among the Indonesian adults based on IFLS 5 data in 2014. A cross-sectional study was conducted among 26.043 respondents in IFLS 5 aged 18 years andabove. The JNC-7 guidelines used to defined hypertension (if systolic blood pressure≥140 mmHg and/or diastolic ≥90 mmHg), whereas physical activity measured by thehabit of performing physical activity for at least 10 minutes a week. Statistical test onbivariate and multivariate analysis using cox regression. The prevalence of hypertensionwas 24,09% and the proportion of insufficient physical activity was 35,68%. Statisticaltest shown there was a significant relationship between physical activity and hypertension(P value 0,000), people with insufficient physical activity at risk 1,15 times havinghypertension than those with active physical activity (PR: 1,15; 95 % CI: 1,09-1,21).Adults should do at least 30 minutes walking everyday, province/district health officeneeds to use social media such as Facebook, Instagram, Twitter, etc, in order to promotingthe benefit of physical activity.
Keywords :Hypertension, physical activity, cross sectional, cox regression, IFLS 5.
Read More
T-5133
Depok : FKM UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fina Nurillah; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Cut Putri Arianie
Abstrak: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor risiko yang berhubungan dengan PJK pada penduduk usia 3 15 tahun di Jawa Barat tahun 2019. Penelitian ini merupakan studi cross sectional dengan menggunakan data Posbindu PTM Jawa Barat 2019.
Read More
S-10411
Depok : FKM-UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Laila Mufita; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Fiska Maylisa
Abstrak: Skripsi ini membahas tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian hipertensi di Puskesmas Ikur Koto kota Padang tahun 2019. Tujuan yang ingin didapatkan adalah mengetahui gambaran dan hubungan antara variabel dependen (hipertensi) dengan variabel independen (usia, riwayat keluarga, jenis kelamin, obesitas, merokok, pola makan, dan aktivitas fisik). Sampel pada penelitian ini sebanyak 558 orang yang merupakan peserta skrining Posbindu PTM Puskesmas Ikur Koto tahun 2019. Penelitian ini menggunakan analisis bivariat dengan uji chi-square, dimana didapatkan hasil bahwa variabel-variabel yang berhubungan dengan kejadian hipertensi diantaranya adalah variabel usia, variabel Riwayat keluarga, variabel jenis kelamin, dan variabel obesitas.
Read More
S-10568
Depok : FKM-UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Arum Puspitasari; Pembimbing: Helda; Penguji: Nurhayati Adnan, Dewi Kristanti, Budi Setiawan
Abstrak:
Hipertensi merupakan penyakit tidak menular yang masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia, terutama pada masyarakat perkotaan. Obesitas sentral diketahui berhubungan dengan peningkatan risiko hipertensi, sedangkan aktivitas fisik diduga dapat memodifikasi hubungan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran modifikasi aktivitas fisik terhadap hubungan obesitas sentral dengan kejadian hipertensi pada orang dewasa di DKI Jakarta berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 dengan menggunakan desain studi cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 7.050 penduduk usia 18-59 tahun, berdomisili di DKI Jakarta, yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Variabel dependen adalah hipertensi, sedangkan variabel independen utama adalah obesitas sentral. Aktivitas fisik dianalisis sebagai variabel modifikasi. Variabel kovariat terdiri dari usia, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, status pernikahan, konsumsi garam, konsumsi lemak, merokok, konsumsi alkohol, depresi, dan masalah kesehatan jiwa. Analisis menggunakan regresi Poisson complex survei. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi hipertensi sebesar 29,67% dan obesitas sentral sebesar 52,04%. Responden dengan obesitas sentral memiliki risiko hipertensi yang lebih tinggi dibandingkan dengan responden tanpa obesitas sentral (adjusted PR=1,751; 95% CI: 1,539-1,994).  Hasil analisis menunjukkan hampir tidak ada perbedaan risiko pada obesitas sentral dengan aktivitas fisik kurang, dengan hasil pada kelompok aktivitas fisik kurang (PR=1,820; 95% CI: 1,531–2,586), sedangkan pada kelompok aktivitas fisik cukup (PR=1,713; 95% CI: 1,457–2,015). Dengan demikian, aktivitas fisik tidak memodifikasi hubungan antara obesitas sentral dan kejadian hipertensi pada dewasa di DKI Jakarta. Namun, aktivitas fisik tetap menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan hipertensi di masyarakat perkotaan selain pengendalian obesitas sentral.

Hypertension is a noncommunicable disease that remains a public health problem in Indonesia, particularly among urban populations. Central obesity is known to be associated with an increased risk of hypertension, while physical activity is thought to modulate this association. This study aims to analyze the role of physical activity as a modifier in the relationship between central obesity and the incidence of hypertension among adults in DKI Jakarta based on data from the 2023 Indonesian Health Survey (SKI) using a cross-sectional study design. The study sample consisted of 7,050 residents aged 18–59 years, residing in DKI Jakarta, who met the inclusion and exclusion criteria. The dependent variable was hypertension, while the primary independent variable was central obesity. Physical activity was analyzed as a modifying variable. Covariates included age, sex, education, occupation, marital status, salt intake, fat intake, smoking, alcohol consumption, depression, and mental health issues. The analysis used complex Poisson regression. The results showed a prevalence of hypertension of 29.67% and a prevalence of central obesity of 52.04%. Respondents with central obesity had a higher risk of hypertension compared to those without central obesity (adjusted PR = 1,751; 95% CI: 1,539-1,994). The results of the analysis showed almost no difference in risk between central obesity and low physical activity, with the results for the low physical activity group (PR=1,820; 95% CI: 1,531–2,586) and for the moderate physical activity group (PR=1,713; 95% CI: 1,457–2,015)Thus, physical activity does not modify the association between central obesity and the incidence of hypertension among adults in DKI Jakarta. However, physical activity remains an important component of hypertension prevention efforts in urban communities, in addition to controlling central obesity.
Read More
T-7564
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Anung Respati; Pembimbing: Ratna Djuwita; Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, Dede Kusmana, Sudijanto Kamso, Rusbandi Sarpini
Abstrak:

Tingginya prevalensi hipertensi dan stroke pada masyarakat kota Pariaman dan kebiasaan duduk di lapau, sebagai gaya hidup sedentari pada laki-laki, yang dilatarbelakangi budaya. Penelitian dilakukan dengan disain Kasus-Kontrol tidak berpasangan, pada 117 Kasus dan 117 Kontrol, laki-laki berusia 21 - 40 tahun. Kasus dipilih dari orang yang berkunjung ke RSUD Pariaman dan sebuah rumah sakit swasta di Pariaman, sedangkan Kontrol adalah tetangga Kasus dari rumah yang terdekat melingkupi rumah Kasus dan dipilih secara acak (Population based control). Kasus adalah penderita hipertensi ringan tanpa komplikasi yang berkunjung ke rumah sakit pada tahun 2006, dan pada saat wawancara mempunyai tekanan darah sistolik 140 -159 mmHg atau diastolik 90 -99 mmHg. Regresi logistik dilakukan untuk menganalisis hubungan ini. Terdapat 35,9% responden dari kelompok Kasus beraktivitas rendah dibandingkan dengan 14,S% dari kelompok Kontrol. Pada waktu bekerja terdapat 32,5% responden dari kelompok Kasus dengan indeks rendah dibandingkan dengan 22,2% dari kelompok Kontrol. Terdapat 17,1% responden dari kelompok Kasus dengan indeks olah raga rendah dibandingkan dengan 6,8% dari kelompok Kontrol, dan pada waktu senggang terdapat 24,8% responden dari kelompok Kasus dengan indeks rendah dibandingkan dengan 27,4% dari kelompok Kontrol. Laki-laki Pariaman usia 21 - 40 tahun dengan tingkat aktivitas fisik rendah mempunyai risiko untuk mengalami hipertensi ringan 4,06 kali lebih besar (OR 4,06 ;95%CI 1,81 - 9,10) dibandingkan laki-laki Pariaman usia 21 - 40 tahun dengan tingkat aktivitas fisik tinggi setelah dikontrol dengan status gizi dan frekuensi kebiasaan makan roti isi. Aktivitas fisik yang rendah berpengaruh terhadap timbulnya hipertensi ringan. Kebiasaan duduk di lapau harus diimbangi dengan meningkatkan kebiasaan olah raga Dinas Kesehatan Kota Pariaman didukung jajaran lain terkait perlu lebih mempromosikan upaya peningkatan aktivitas fisik di masyarakat dengan kampanye olah raga dan jalan kaki.


The high prevalence on hypertension and stroke among the people city of Pariaman and the sitting habit in the lapau, coffee stalls, as a sedentary life's style of men that culturally set up. Study is using an impaired case-control design with 117 cases and 117 controls of men aged 21 - 40 years old. Cases are chosen from visitors of General Hospital of the Distric of Pariaman ang of one Private Hospital in Pariaman, while controlsare the cases?neighbours from the closest house which surround the cases? houses and randomly selected (Population based control). Cases are stage I hypertension (JNC 7) patients without any comlpication who visit to hospital on 2006 and while interviewedis having blood pressure of systolic on 140 - 159 mmHg or diastolic on 90- 99 mmHg. Logistic regression is performed to analyze this association. There are 35.9% of low physical activities among cases' group compare to 14.5% of controls' group. During work time, there are 32-5% of respondents of case group that having low index, while 22.2% of control group. Seventeen point one percent (17.1%) respondent from the cases' group have low sport index compared to 6.8% of controls' group. During leissure time, there are 24.8% respondents irom the cases' group are having low index, while 27.4% of controls' group. Men in the city of Pariaman aged 21 - 40 years with low level of physical activity have a risk to develop stage I of hypertension 4.06 times greater (OR 4.06; 95%CI : 1.81 - 9.10) than men in the city of Pariaman aged 21 - 40 years with high level of physical activity after being controlled for overweight status and habitual frequency of stuffed bread consumption. Low physical activity influences the occurrence of 1st stage hypertension. Sitting habit in the lapau must be balanced with more higher habit of exercising. The Health Autority of kota Pariaman, supported by its related components, should increase the promotion on the importance of physical activities of the community, such as a campaign on community exercise and walking.

Read More
T-2538
Depok : FKM-UI, 2007
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Teguh Dhika Rohkuswara; Pembimbing: Syahrizal Syarif; Penguji: Nurhayati Adnan, Putri Bungsu, Wartoni
Abstrak: Hipertensi sampai saat ini masih menjadi masalah kesehatan di dunia termasuk Indonesia. Prevalensi hipertensi di Indonesia, cukup tinggi yaitu sebesar 25,8% (Riskesdas, 2013). Sebagian besar penderita hipertensi termasuk dalam kelompok hipertensi derajat 1 dan separuhnya tidak menyadari sebagai penderita. Hipertensi bukan penyakit kausal tunggal, ada berbagai faktor yang berkontribusi terhadap munculnya hipertensi, salah satunya yang sering ditemukan adalah obesitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya hubungan antara obesitas dengan kejadian hipertensi derajat 1 di Posbindu PTM Kantor Kesehatan Pelabuhan Bandung. Desain penelitian adalah cross sectional, menggunakan data sekunder kegiatan Posbindu PTM KKP Bandung tahun 2016. Subjek penelitian adalah pegawai dari instansi Pemerintah dan BUMN di lingkungan Bandara Husein Sastranegara Bandung dan Pelabuhan Cirebon yang melakukan pemeriksaan kesehatan di Posbindu PTM KKP Bandung pada tahun 2016 yaitu sebanyak 206 orang. Hasil penelitian menunjukan bahwa proporsi hipertensi derajat 1 di Posbindu PTM KKP Bandung tahun 2016 yaitu sebesar 41,7% dan obesitas sebesar 54,9%. Responden yang obesitas (IMT ≥25) memiliki risiko sebesar 1,681 kali untuk menderita hipertensi derajat 1 dibandingkan yang tidak obesitas setelah dikontrol variabel umur, riwayat hipertensi keluarga dan aktivitas fisik. Pengoptimalan Posbindu PTM, meningkatkan peran serta masyarakat dan mengaplikasikan perilaku GERMAS diharapkan dapat mengendalikan obesitas dan hipertensi. Kata Kunci: Hipertensi derajat 1, Obesitas, Posbindu PTM Hypertension is still a health problem in the world including Indonesia. The prevalence of hypertension in Indonesia is quite high at 25.8% (Riskesdas, 2013). Most people with hypertension are included in the 1st stage hypertension group and half were unaware as a sufferer. Hypertension is not a single causal disease, there are various factors that contribute to the emergence of hypertension, one of which is often found is obesity. This study aims to determine the magnitude of the relationship between obesity with incidence of hypertension stage 1 in Posbindu PTM Port Health Office (PHO) of Bandung. The research design is cross sectional, using secondary data of Posbindu PTM PHO of Bandung, activities in 2016. The Research subjects are employees of Government agencies and stateowned enterprises in the Husein Sastranegara Bandung Airport and Cirebon Port which conducted health checks at Posbindu PTM PHO of Bandung in 2016, which were 206 people. The results showed that the proportion of stage 1 hypertension at Posbindu PTM PHO of Bandung in 2016, that is 41.7% and obesity of 54.9%. People with obesity (BMI ≥25) had a risk of 1,681 times for hypertension stage 1 compared to non-obese individuals after controlling for age, family history of hypertension and physical activity variables. Optimization of Posbindu PTM, increasing public participation and applying GERMAS behavior is expected to control obesity and hypertension. Keywords: Hypertension Stage 1, Obesity, Posbindu PTM
Read More
T-4846
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hotma Parulian Tambunan; Pembimbing: Helda; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Nasrin Kodim, Ekowati Rahajeng, Endah Gina Faziah
Abstrak:

Latar Belakang : Peningkatan prevalensi penderita hipertensi di masyarakat DKI Jakarta disebabkan oleh berbagai faktor yang dapat dimodifikas maupun tidak. Aktifitas fisik sehagai salah satu lilktor yang dapat mencegah hipertensi perlu mendapat perhatian yang lebih karena faktor ini termasuk: salah satu faktor yang dapat dimodifikasi dengan usaha dan biaya yang tidak terlaiu besar.Tujuan penelitian ini adalah diketahuinya besar hubungan antara kejadian hipertensi dengan aktivitas fisik pada masyarakat di lima wilayah DKI Jakarta tahun 2006. Metode : Penelitian ini dilakukan dengan disain cross sectional dan dianalisis secara kohort menggunakan data sekwtder dari survey faktor resiko PTM utama di lima wilayah DKI Jakarta tahun 2006. Kasus ekspos adalah subyek yang melakukan aktivitas fisik renda yang berjumlah 668 orang subyek dan non ekspos adalah subyek yang melakukan aktivitas tinggi sejumlah 668 orang. Perbandingan kasus ekspos dan non ekspos adalah 1:1, hingga jumlah keseluruhan subyek penelitian 1336 subyek. Hasil : Hasil penelitian mendapatkan proporsi hipertensi pada subyek yang beraktivitas rendah sebesar 65,5% dab pada subyek yang beraktivitas tinggi 58 8%. Hasil analisis menunjukkan bahwa aktivitas fisik berhubungan secara signiflkan dengan kejadian hipertensi. Dengan nilai p (p value) = 0,0001, setelah dikontrol oleh variabel jenis kelamin dan peketjaan didapat OR aktivitas tinggi 0,750 dengan 95% CI (0,601- 0,937) menunjukkan bahwa dengan beraktivitas dapat mengurangi risiko untuk menderita penyakit hipertensi sebesar 4 kali. Dalam penelitian ini variabel Jenis kelamin. umur, tingkat pendidilcan, status perkawinan, diaberes mellitus, hiperkolesterol, low HDL, IMT, dan pekerjaan semua mempunyai hubungan yang signifikan dengan kejadian hipertensi (nilai p < α), sementara variabel merokok, hiper LDL dan kecukupen serat walaupun berhubungan tetapi hubungannya dengan hipertensi tidak signiflkan (nilai p > a). Kesimpulan : Aktivittas fisik tinggi dapat mengurangi resiko untuk terkena penyakit hipertensi, semakln sering kita me1akukan aktivitas fisik semakin rendah resiko untuk menderita penyakit. Subyek yang melakukan aktifitas fisik rendah lebih beresiko untuk terkena hipertensi 4 kali dibanding subyek yang melakukan aktifitas fisik tinggi.

Read More
T-2836
Depok : FKM-UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rindu Rachmiaty; Pembimbing: Helda; Penguji: Ratna Djuwita, Nurhayati Adnan, Yoan H. Naomi
T-4749
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Syafira Anindya Dhika Maulani; Pembimbing: Ratna Djuwita; Penguji: Sudarto Ronoatmodjo, Ahmad Syafiq, Misty
Abstrak:
Peningkatan prevalensi obesitas sentral di Indonesia diikuti dengan terjadinya peningkatan prevalensi aktivitas fisik yang kurang. Risiko meningkat saat usia ≥40 tahu, hal ini berkaitan dengan pengurangan aktivitas fisik dan kecenderungan gaya hidup yang menetap yang membuat orang dewasa yang lebih tua lebih rentan untuk mengalami obesitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan aktivitas fisik terhadap kejadian obesitas sentral pada usia ≥ 40 tahun di Indonesia bedasarkan data IFLS 5. Penelitian ini merupakan studi analitik dengan desain cross sectional yang menggunakan data sekunder IFLS 5 Tahun 2014. Sampel yang dianalisis dalam penelitian ini berjumlah 9.124 orang. Analisis cox regression dilakukan untuk mengetahui besar risiko aktivitas fisik terhadap obesitas sentral. Hasil penelitian menjelaskan prevalensi obesitas sentral pada usia ≥ 40 tahun di Indonesia adalah 44,8 %. Analisis multivariat menunjukkan responden yang kurang aktif secara fisik memiliki risiko 1,049 kali untuk mengalami obesitas sentral dibandingkan responden yang cukup aktif secara fisik setelah dikontrol variabel jenis kelamin tinggal (95% CI 1,012-1,087). Kepada masyarakat disarankan untuk melakukan aktivitas fisik sedang dan kuat dengan prinsip BBTT (Baik,Benar, Terukur, dan Teratur).

The increase in the prevalence of central obesity in Indonesia is followed by an increase in the prevalence of physical inactivity. The risk increases at age ≥40 years, this is related to the absorption of physical activity and the tendency for a sedentary lifestyle that makes older adults more susceptible to obesity. This study aims to determine the relationship between physical activity and the incidence of central obesity at the age of ≥ 40 years in Indonesia based on IFLS 5 data. This research is an analytic study with a cross-sectional design using IFLS 5 secondary data in 2014. The samples analyzed in this study were 9,124. person. Cox regression analysis was performed to determine the risk of physical activity on central obesity. The results of the study explain the prevalence of central obesity at the age of ≥ 40 years in Indonesia is 44.8%. Multivariate analysis showed that respondents who were less physically active had 1,049 times the risk of developing central obesity compared to respondents who were quite physically active after controlling for the remaining sex variable (95% CI 1,012-1,087). The community is advised to carry out moderate and vigorous physical activity with the principle Good, Right, Measured, and Regular.
Read More
T-6719
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive