Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 10898 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Junghans Sitorus
JPPP Edisi 7
Jakarta : Dirjen P2P Kemenkes RI, 2017
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aqsha Azhary Nur: Promotor: Adang Bachtiar; Kopromotor: Dante Saksono Harbuwono, Sri Ratna Laksmiastuti; Penguji: Dwi Gayatri, Ratna Djuwita, Purnawan Junadi, Wisnu Jatmiko, Ali Ghufron Mukti, Rizanda Machmud
Abstrak:
Beban Diabetes Melitus Tipe 2 (DMT2) semakin tinggi di Indonesia dengan prevalensi 11,7% menurut Survei Kesehatan Indonesia 2023. Lebih dari 70% penyandang DMT2 belum terdiagnosis, yang menyebabkan keterlambatan pengobatan dan peningkatan risiko komplikasi. Teknologi pembelajaran mesin (machine learning) berpotensi digunakan untuk deteksi dini risiko DMT2 secara efisien dan berbasis data. Penelitian ini bertujuan mengembangkan, memvalidasi, dan menguji kelayakan model skrining risiko DMT2 berbasis pembelajaran mesin untuk populasi Indonesia. Studi ini menggunakan desain observasional dan dilaksanakan dari Oktober 2024 hingga Januari 2025. Penelitian terdiri dari tiga fase. Fase pertama mencakup pengembangan model prediksi menggunakan algoritma pembelajaran mesin dengan data dari dua sumber Kementerian Kesehatan, yakni kohor Penyakit Tidak Menular (PTM) (n=5.010) dan Aplikasi Sehat Indonesiaku (ASIK) (n=8.147.932). Fase kedua adalah validasi eksternal model menggunakan data ASIK tahun 2023 (n=24.735.050). Fase ketiga merupakan uji coba lapangan di dua Puskesmas di DKI Jakarta yang mencakup uji diagnostik (n=100) serta penilaian kelayakan sistem tenaga kesehatan (n=30) menggunakan instrumen System Usability Scale (SUS). Fase 1 menunjukkan bahwa model LightGBM pada data ASIK memiliki performa terbaik (AUC 0,90; sensitivitas 0,70; spesifisitas 0,88), sementara model CatBoost pada data kohor PTM menunjukkan AUC 0,76. Seleksi fitur mengidentifikasi lima variabel utama (usia, tekanan darah sistolik, aktivitas fisik, riwayat keluarga DMT2, konsumsi sayur/buah) sebagai penentu utama risiko. Fase 2 mencakup validasi eksternal dengan data ASIK 2023 menghasilkan AUC 0,90 (LightGBM) dan AUC 0,73 (CatBoost). Fase 3 uji coba lapangan menunjukkan hasil diagnostik yang sejalan dengan skor risiko model, dengan sensitivitas 0,80 dan spesifisitas 0,39 pada cut-off HbA1c 6,5% dan sensitivitas 0,79 dan spesifisitas 0,54 pada cutoff HbA1c 5,7%. Evaluasi oleh tenaga kesehatan menghasilkan skor SUS sebesar 72,5. Sebagai kesimpulan, Model skrining DMT2 berbasis pembelajaran mesin terbukti akurat dan layak diimplementasikan.

Type 2 Diabetes Mellitus (T2DM) burden is increasing in Indonesia, with a national prevalence of 11.7% according to the 2023 Indonesia Health Survey. More than 70% of individuals with T2DM remain undiagnosed, leading to delayed treatment and increased complications. Machine learning has the potential to enhance early detection of T2DM through an efficient, data-driven risk screening process. This study aims to develop, validate, and assess the feasibility of a machine learning-based T2DM risk screening model tailored for the Indonesian population. This study employed an observational design and was conducted from October 2024 to January 2025. The study consisted of three phases. The first phase involved the development of predictive models using machine learning algorithms with two datasets from the Ministry of Health: the PTM Cohort (n=5,010) and the ASIK registry (n=8,147,932). The second phase was an external validation using the ASIK 2023 dataset (n=24,735,050). The third phase was a field trial at two primary health centers (Puskesmas) in Jakarta, which included diagnostic testing of patients (n=100) and usability assessment by healthcare workers (n=30) using the System Usability Scale (SUS). In Phase 1, the LightGBM model trained on ASIK data achieved the best performance (AUC 0.90; sensitivity 0.70; specificity 0.88), while the CatBoost model trained on PTM Cohort data yielded an AUC of 0.76. Feature selection identified five main predictors (age, systolic blood pressure, physical activity, family history of T2DM, and fruit/vegetable consumption). In Phase 2, external validation with ASIK 2023 data confirmed high model performance with AUC 0.90 (LightGBM) and AUC 0.73 (CatBoost). In Phase 3, field testing showed diagnostic performance consistent with model-based risk scores, with sensitivity 0.80 and 0.39 at the HbA1c cut-off of 6.5% and sensitivity 0.79 and specificity 0.54 at the HbA1c cut-off of 5.7%. Usability testing by healthcare workers resulted in an average SUS score of 72.5. In conclusion, the machine-learning-based T2DM screening model has demonstrated high accuracy and is feasible for implementation.
Read More
D-574
Depok : FKM-UI, 2025
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Betania Ilhami Wahida Hera Wati; Pembimbing: Kemal Nazarudin Siregar; Penguji: Milla Herdayati, Sri Lestari
S-10084
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hafshah Farah Fadhilah; Pembimbing: Rico Kurniawan; Penguji: Kemal Nazaruddin Siregar, Popy Yuniar, Muhammad Amin Bakri, Nikson Sitorus
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi faktor risiko dan membangun model prediksi diabetes berbasis machine learning menggunakan data SKI 2023. Sampel terdiri dari individu usia ≥15 tahun. Analisis dilakukan melalui eksplorasi bivariat dan evaluasi sembilan algoritma prediktif. Hasil menunjukkan bahwa faktor usia ≥45 tahun, jenis kelamin, pendidikan, obesitas sentral, hipertensi, pola makan berisiko, dan aktivitas fisik berhubungan signifikan dengan diabetes. Algoritma AdaBoost memberikan performa terbaik (AUC 0,991). Penelitian ini menghasilkan mockup web "Diabetes Risk Assessment" yang berpotensi digunakan untuk skrining mandiri dan pencegahan dini di masyarakat.

This study aimed to identify risk factors and develop a diabetes risk prediction model using machine learning algorithms based on the 2023 Indonesian Health Survey (SKI). The sample included individuals aged ≥15 years who met the inclusion criteria. The analysis involved bivariate exploration and evaluation of nine machine learning algorithms. Results indicated that age ≥45 years, sex, education level, central obesity indicators (BMI, waist circumference, WHtR), hypertension, risky dietary patterns, and physical inactivity were significantly associated with diabetes. Among all models, AdaBoost achieved the highest predictive performance (AUC 0.991). The study also produced a web-based mockup system, “Diabetes Risk Assessment,” offering potential for self-screening and community-level early prevention strategies.
Read More
T-7317
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sara Sonnya Ayutthaya; Pembimbing: Nurhayati Adnan; Penguji: Ratna Djuwita, Marihot Tambunan
Abstrak: Penyakit komorbid Diabetes Melitus (DM) yang umum dan paling sering adalah hipertensi. DM dan hipertensi terdapat secara bersamaan pada 40%-60% penderita DM tipe 2. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui unmodifiable factors dan modifiable factors pada penderita DM tipe 2 sebagai faktor risiko hipertensi. Desain penelitian ini adalah cross sectional. Sampel penelitian adalah pasien DM tipe 2 yang berobat di poli penyakit dalam RSUD dr. Chasbullah Abdulmadjid Kota Bekasi pada tanggal 30 September-19 Oktober 2019 dengan total sampel sebanyak 292 responden. Unmodifiable factors meliputi gender, umur, pendidikan, status perkawinan, lama menderita DM, hereditas DM, hereditas hipertensi dan golongan darah. Sedangkan modifiable factors terdiri dari indeks massa tubuh, pekerjaan, aktifitas fisik dan merokok. Hipertensi adalah keadaan tekanan darah sistolik ≥ 140 mm Hg dan/atau tekanan darah diastolik ≥ 90 mm Hg. Analisis data dengan Cox regression menggunakan Stata versi 15. Persentase hipertensi pada penderita DM tipe 2 adalah 46,57%. Dari analisis multivariat faktor risiko hipertensi yang signifikan untuk unmodifiable factors adalah faktor umur > 50 tahun (Pv= 0,02; PR= 1,93) dan kelompok dengan hereditas DM yang berasal dari kakek/nenek (Pv= 0,04; PR= 1,86) dan orang tua (Pv= 0,04; PR= 1,54). Sedangkan dari modifiable factors, Indeks Massa Tubuh berat badan lebih (Pv= 0,01; PR=1,81) dan obesitas (Pv=0,02; PR=1,81), merupakan faktor risiko hipertensi yang signifikan. Disarankan agar terhadap pasien DM tipe 2 terutama bila disertai dengan berat badan berlebih atupun obesitas perlu diberikan informasi lengkap tentang faktor risiko hipertensi.
Read More
T-5857
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dedy Irawan; Pembimbing: Pandu Riono; Penguji: Ratna Djuwita, Laurentia, Muhammad NoorFarid
Abstrak: Diabetes melitus tipe 2 telah menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius dan merupakan penyebab penting dari angka kesakitan, kematian, kecacatan dan kerugian ekonomi di seluruh dunia. Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi prevalensi, faktor-faktor risiko dan model prediksi kejadian diabetes melitus tipe 2 di daerah urban Indonesia. Penelitian ini menggunakan data Survei Riset Kesehatan Dasar 2007. Kriteria diagnostik menggunakan metode Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO) menurut World Health Organization (WHO) 1999 dan American Diabetes Association (ADA) 2003. Dari 19.960 responden berusia 15 tahun keatas hanya 18.746 responden yang dianalisis. Analisis data menggunakan regresi logistik dengan desain sampel dua tahap.
 
Dari analisis data didapatkan prevalensi diabetes melitus sebesar 5,98% (95%CI 5,40% - 6,62%), prevalensi diabetes melitus tertinggi pada kelompok umur diatas 45 tahun sebesar 12,41% (95%CI 11,13% - 13,81%). Dengan mengontrol tingkat pendidikan, pekrjaan dan umur didapatkan odds ratio kegemukan sebesar 1,52 (OR = 1,52; 95%CI 1,27 - 1,82), odds ratio obesitas sebesar 2,40 (OR = 2,40; 95%CI 1,80 - 3,19) dan odds ratio obesitas sentral sebesar 1,92 (OR = 1,92; 95%CI 1,62 - 2,26). Dengan menghindari kejadian obesitas sentral dapat mencegah 22,6% (95% CI 18,2% - 26,5%) kejadian diabetes melitus tipe 2 di populasi, atau sekitar 474.922 kasus diabetes melitus dapat dicegah jika obesitas sentral diintervensi.
 

Diabetes mellitus type 2 is a serious public health problem in the world. Diabetes mellitus is also the main cause of morbidity, mortality, disability, and economic loss all over the world include development countries. The research objective is to estimate the diabetes mellitus prevalence, risk factors, and prediction model in urban areas of Indonesia. By analyzed The Indonesia Basic Health Research Survey 2007 that consist of 19,960 respondents aged above 15 years old who had Oral Glucose Tolerance Test (OGTT). Only 18,746 respondents had been analyzed. Logistic regression with two stage design sampling was used to analyze the data.
 
The result showed that diabetes mellitus prevalence was 5.98% (95%CI 5.40% - 6.62%), and the highest prevalence was 12.41% (95%CI 11.13% - 13.81%) in an above 45 year-old age group. We estimate odds ratio by adjusted education level, occupation and age. The odds ratio of overweight is 1.52 (OR = 1.52; 95%CI 1.27 - 1.82), the odds ratio of general obesity is 2.40 (OR = 2.40; 95%CI 1.80 - 3.19) and the odds ratio of central obesity is 1.92 (OR = 1.92; 95%CI 1.62 - 2.26). By prevent central obesity we could prevent 22.6% (95% CI 18.2% - 26.5%) the expected diabetes mellitus cases in the population, or above 474,922 diabetes mellitus cases could prevent.
Read More
T-3220
Depok : FKM-UI, 2010
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Irene Febriani; Pembimbing: Iwan Ariawan; Penguji: Besral, Tri Yunis Miko Wahyono, Drajot Darsono, Eva Sulistiowati
Abstrak: Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menemukan faktor risiko dominandan membuat skor risiko diabetes tidak terdiagnosis (UDDM) dan prediabetes.Metode: Pembuatan skor risiko berdasarkan data yang tersedia hasil RisetKesehatan Dasar 2013, dengan kriteria ≥ 18 tahun, baru terdiagnosis saat Riskesdas,tidak menderita penyakit kronis/menular lainnya. Nilai koefisien β hasil analisisregresi logistik multinomial model prediksi digunakan untuk mengenmbangkan skor.Keakuratan skor prediksi diabetes dan prediabetes dinilai dengan ROC (ReceiverOperating Characteristic). Hasil: Dua model prediksi dikembangkan menjadi skorrisiko. Model 1 prediksi diabetes tidak terdiagnosis dengan 7 prediktor AUC 73,5%,sen 62,2%, spes 70,8%, PPV 12,8%, NPV 96,5%, titik potong ≥22, model 2 prediksidiabetes tidak terdiagnosis dengan 5 prediktor AUC 72,4%, sen 68,3%, spes 64,7%,PPV 11,8%, NPV 96,7%, titik potong ≥20. Prediksi prediabetes tidak dikembangkanmenjadi skor karena tidak akurat, tetapi dapat diketahui faktor dominannya.Kesimpulan: Indonesia dapat memiliki perhitungan skor risiko guna memprediksidiabetes yang tidak terdiagnosis berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar yangtersedia. Skor Risiko tersebut dapat digunakan tenaga kesehatan untukmengidentifikasi individu dengan risiko tinggi dan masyarakat awam mampumenggunakan skor tersebut.Kata kunci : Prediabetes, Diabetes tidak terdiagnosis (UDDM), faktor risiko, skor
Objective: This studi aims to find the risk factors and develop risk scorefor undiagnosed diabetes and prediabetes. Method: Risk score madebased on available data from Basic Health Research 2013 in Indonesia,with criteria 18-55 years old, newly diagnosed diabetes, and not affectedby chronic /infectious diseases before.β coeff value from multinomiallogistic regression analysis results of predictive models are used todevelop risk score. The accuracy of risk score assessed with ROC(Receiver Operating Characteristic). Result: 2 prediction models are useto develop risk score. The accuracy form 7 predictors for undiagnoseddiabetes in model 1 are AUC 73.5%, sen 62.2%, spes 70.8%, PPV 12.8%,NPV 96.5%, cut off ≥22. The accuracy form 5 predictors for undiagnoseddiabetes in model 2 are AUC 72.4%, sen 68.3%, spes 64.7%, PPV 11.8%,NPV 96.7%, cut off ≥20 . Score predikction for diabetes not developed,because of poor accuray, but the result of analysis can showed prediabetesdominant risk factors. Conclusion: Indonesia may have a risk scorecalculation for predicting undiagnosed diabetes based on data from HealthResearch provided. The risk score can be used by health workers toindentified individuals with high-risk and the general public are able touse these scores.Keyword : prediabetes, undiagnosed diabetes, risk factor, score
Read More
T-4682
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Medika, No.2, XXX, Pebr. 2004, hal. 100-106, ( Cat. ada di bendel 2000 - 2005 )
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Edi Sugiyanto
Medika-No.2, XXX
Jakarta : Grafiti Medika Pers, 2004
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
MJKI No.2
Jakarta : Grafiti Medika Pers, 2011
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive