Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 41975 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Meilina Farikha; Pembimbing: Nurhayati Adnan; Penguji: Asri C. Adisasimita, Laila Nurmala, Niken Wastu Palupi, Renti Mahkota
Abstrak: Riwayat alamiah Lesi Prakanker Serviks menjadi kanker invasif berlangsung bertahun-tahun,sehingga memiliki banyak kesempatan untuk dideteksi dini. Metode Inspeksi Visualwith AcetatAcid (IVA) cukup cost efektif dan mampu laksana di Indonesia. Kejadian lesi prakankerdiyakini disebabkan HPV dan dipengaruhi faktor risiko. Tujuan penelitian ini adalah untukmengetahui hubungan karakteristik demografi serta riwayat kesehatan reproduksi dengankejadian lesi prakanker serviks pada perempuan yang diskrining menggunakan metoda IVA diDKI tahun 2016-2017. Cross sectional data Female Cancer Program FKUI-RSCM yangberasal dari deteksi dini di beberapa puskesmas dan kantor di Jakarta. Logistik regresiondigunakan untuk mendapatkan faktor yang memprediksi lesi prakanker serviks. Hasil : Umur≤ 30 tahun (POR 4,9; CI: 1,3-18,2), umur 31-40 tahun (POR 3,5; CI: 1-12), dan umur 41-50tahun (POR 2,1; CI: 0,6-7,5) merupakan faktor prediktor meningkatkan lesi prakanker serviksdibandingkan umur > 50 tahun. Kawin lebih dari 1 kali berisiko lesi prakanker serviks (POR6; 95% CI: 3,2-10,8) dibandingkan kawin 1 kali. KB pil (POR 2,3; CI: 1-5), KB susuk (POR1,8; 95% CI: 0,4-8,7) dan KB suntik (POR 1,5; CI: 0,7-2,8) merupakan faktor prediktormeningkatkan lesi prakanker servik dibandingkan KB non hormonal. Kesimpulan : umur,jumlah perkawinan, dan riwayat KB merupakan prediktor independen lesi prakanker serviksdalam penelitian ini. Dianjurkan deteksi dini pada perempuan yang telah melakukan kontakseksual dan membatasi jumlah pasangan, KB non hormonal sebagai pilihan KB untukpemakaian jangka panjang.Kata kunci:Lesi Prakanker Serviks, IVA, faktor risiko.
Read More
T-5117
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Risna Ilmi Aulia; Pembimbing: Syahrizal; Penguji: Renti Mahkota, Yoan Hotnida Naomi Hutabarat
Abstrak:
Kanker serviks merupakan salah satu penyebab utama kematian akibat kanker pada wanita. Berdasarkan data dari GLOBOCAN 2020, insiden kanker serviks di Indonesia mencapai 36.633 kasus di tahun 2020. Walaupun prevalensi kanker serviks di Indonesia tinggi, skrining nasional kanker serviks masih rendah yaitu 9,3% hingga tahun 2022. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian lesi prakanker serviks di Indonesia. Penelitian ini menggunakan desain studi potong lintang (cross-sectional) dengan sumber data Riset PTM 2016. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah perempuan usia 25-64 tahun di Indonesia yang menjadi responden dalam Riset PTM 2016, yaitu sebanyak 32.564 responden. Hasil penelitian menemukan bahwa prevalensi lesi prakanker serviks pada wanita usia 25-64 tahun di Indonesia pada tahun 2016 sebesar 7,3%. Berdasarkan hasil analisis bivariat, terdapat hubungan yang signifikan antara usia (POR=1,38; 95% CI: 1,27–1,50) dan penggunaan kontrasepsi hormonal (POR=1,23; 95% CI: 1,11–1,36) dengan kejadian lesi prakanker serviks dan terdapat hubungan yang signifikan dengan efek protektif antara paritas (POR=0,91; 95% CI: 0,84–0,99) dan usia pertama melahirkan (POR=0,86; 95% CI: 0,78–0,96) dengan kejadian lesi prakanker serviks. Pemerintah perlu melakukan pemerataan dalam penyediaan peralatan skrining kanker serviks (terutama IVA) ke puskesmas dan fasilitas kesehatan primer lainnya untuk meningkatkan cakupan skrining nasional.

Cervical cancer is one of the leading causes of cancer deaths in women. Based on data from GLOBOCAN 2020, the incidence of cervical cancer in Indonesia reached 36,633 cases in 2020. Despite the high prevalence of cervical cancer in Indonesia, national cervical cancer screening is still low at 9.3% until 2022. This study aims to determine the factors associated with the incidence of cervical precancerous lesions in Indonesia. This study used a cross-sectional study design with the 2016 NCD Research data source. The sample in this study was women aged 25-64 years in Indonesia who were respondents in the 2016 NCD Research, totaling 32,564 respondents. The results of the study found that the prevalence of cervical precancerous lesions in women aged 25-64 in Indonesia in 2016 was 7.3%. Based on the results of bivariate analysis, there is a significant relationship between age (POR=1,38; 95% CI: 1,27–1,50) and the use of hormonal contraception (POR=1,23; 95% CI: 1,11–1,36) with the incidence of cervical precancerous lesions and there is a significant relationship with a protective effect between parity (POR=0,91; 95% CI: 0,84–0,99 and age at first birth (POR=0,86; 95% CI: 0,78–0,96) with the incidence of cervical precancerous lesions. The government needs to ensure equity in the provision of cervical cancer screening equipment (especially VIA) to community health centers (puskesmas) and other primary health facilities to increase national screening coverage.
Read More
S-11626
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yulia Armenda; Pembimbing: Helda; Penguji: Asri C. Adisasmita, Bambang Dwipoyono, Yoan Hotnida Naomi
Abstrak:
Kanker serviks merupakan jenis kanker terbanyak ke-4 yang didiagnosis pada wanita di dunia. Kanker seviks utamanya disebabkan oleh infeksi virus Human Papilloma Virus (HPV) tipe high risk. Merokok merupakan salah satu kofaktor yang menyebabkan perkembangan infeksi HPV berkembang menjadi lesi prakanker dan kanker serviks. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan merokok dengan terjadinya lesi prakanker serviks pada wanita usia 25-64 tahun di daerah perkotaan di Indonesia. Penelitian ini menggunakan disain studi cross sectional dengan menggunakan data sekunder dari Riset PTM 2016, dengan jumlah sampel 37.972 responden. Hasil analisis multivariat menggunakan regresi logistik setelah dikontrol variabel kovariat menemukan bahwa pada wanita perokok aktif didapatkan POR 0,862 (95% CI: 0,687– 1,083) dan pada wanita mantan perokok didapatkan POR 0,927 (95% CI; 0,719-1,119) dengan p-value > 0,05, yang dapat diartikan bahwa pada penelitian ini tidak terdapat hubungan bermakna secara statistik antara merokok aktif dan riwayat dulu pernah merokok dengan terjadinya lesi prakanker serviks. Hasil penelitian ini masih dipengaruhi oleh bias temporal sehingga penggunaan data dari desain cross sectional tidak bisa menjelaskan hubungan kausalitas antara merokok dengan lesi prakanker serviks.

Cervical cancer is the 4-th most common type of cancer diagnosed in women in the world. Cervical cancer is mainly caused by high risk infection of Human Papilloma Virus (HPV). Smoking is one of the cofactors that cause the development of HPV infection into precancerous lesions and cervical cancer. The purpose of this study was to determine the relationship between smoking and the occurrence of cervical precancerous lesions in women aged 25-64 years in urban areas in Indonesia. This study used a cross-sectional study design using secondary data from the 2016 NCD’s Research, with total 37,972 subjects. The results of multivariate analysis using logistic regression shows that there was no significant assosiations between smoking and cervical precancerous lesions, with adjusted POR = 0.862 (95 % CI: 0.687–1.083) in current smoker and adjusted POR = 0.927 (95% CI; 0.719-1.119) for former smoker with a p-value > 0.05, which means that there is no relationship between current active smoking and former smoking with cervical precancerous lesions. This study was still influenced by temporal bias because of using data from a cross-sectional study is not valid to explain the causal relationship between smoking and cervical precancerous lesions.
Read More
T-6792
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Disa Latamilen; Pembimbing: Sudarto Ronoatmodjo; Penguji: Helda, Erlinda
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kepercayaan kesehatan yang terdiri dari persepsi kerentanan, persepsi keparahan, persepsi manfaat, persepsi hambatan, dan isyarat untuk bertindak dengan riwayat tes IVA yang dimiliki oleh WUS. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain studi kasus kontrol. Data yang digunakan adalah data primer yang melibatkan 82 responden kelompok kasus dan 95 responden kelompok kontrol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara persepsi manfaat, persepsi hambatan, dan isyarat untuk bertindak dengan riwayat pemeriksaan IVA. Hal ini sejalan dengan teori HBM yang menyatakan bahwa ketiga variabel tersebut merupakan faktor yang mempengaruhi suatu tindakan kesehatan.
Read More
S-10717
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rizqy Fauzia Ahsani; Pembimbing: Putri Bungsu; Penguji: Helda, Rofingatul Mubasyiroh
Abstrak: Tumor secara umum berarti benjolan yang disebabkan pertumbuhan sel abnormal dalam tubuh. Tumor payudara dapat menjadi faktor risiko kanker payudara yang merupakan kanker yang tersering terjadi pada perempuan. Kejadian tumor payudara meningkat setiap tahunnya di Indonesia. Saat ini, tumor payudara tidak hanya menyerang pada usia lanjut, namun juga usia muda. Beberapa penelitian menunjukkan faktor reproduksi berhubungan dengan tumor payudara. Maka dari itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan riwayat reproduksi dengan kejadian tumor payudara pada perempuan usia muda di Indonesia tahun 2016. Penelitian ini menggunakan desain studi cross setional menggunakan data sekunder dari Riset PTM 2016. Sampel penelitian berjumlah 14.891 responden usia di bawah 40 tahun dalam Riset PTM yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Variabel yang diteliti dalam penelitian ini yaitu variabel independen yang terdiri dari usia menarche, usia pertama melahirkan, status kawin, riwayat menyusui, riwayat penggunaan kontrasepsi hormonal; dan variabel dependen yaitu kejadian tumor payudara. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan usia menarche (OR=1,294), status perkawinan (OR=1,568), usia pertama melahirkan (OR=1,570), riwayat menyusui (OR=1,422), dan riwayat kontrasepsi (OR=0,721) dengan kejadian tumor payudara pada perempuan usia muda di Indonesia. Hal tersebut dapat dipengaruhi karena peranan hormon reproduksi estrogen dan progesteron. Perlu dilakuakn pencegahan pada riwayar reproduksi untuk mencegah tumor payudara.
Kata kunci: tumor payudara, riwayat reproduksi, hormonal, estrogen, cross-sectional

Neoplasm or tumor generally means an abnormal cell growth in the body. Breast tumors can be a risk factor for breast cancer which is the most common cancer in women. The incindence increases every year in Indonesia. At present, breast tumors do not only attack the elderly, but also at young age. Some studies show factors associated with breast tumors. Therefore, this study aimed to study the association of the reproductive history with tumor incidence in young women in Indonesia in 2016. This study used a crosssectional study design using secondary data from the Riset PTM 2016 (Noncommunicable Disease Research 2016). The sample was 14,891 respondents aged under 40 years who meet the inclusion and exclusion criteria. The variables used in this study were independent variables consisting of age of menarche, age of first birth, marital status, breasfeeding history, the use of hormonal contraception; and the dependent variable is the incidence of breast tumors. The results showed an association between menarche age (OR = 1,294), marital status (OR = 1,568), age of first birth (OR = 1,570), breasteeding history (OR = 1,422), and the use of hormonal contraception (OR = 0,721) with breast tumors in young women in Indonesia This can be caused by the role of estrogen and progesterone reproductive hormones that result excessive proliferation.
Keywords: breast tumors, reproductive history, hormones, estrogen, cross-sectional
Read More
S-9900
Depok : FKM UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Miranda Rachellina; Pembimbing: Asri C. Adisasmita; Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, Bambang Dwipoyono, Caroline Kawinda
Abstrak: High-risk Human Papillomavirus (HR-HPV) adalah necessary factor dalam proses terjadinya kanker serviks. Banyak faktor yang dikaitkan dengan infeksi HR-HPV, salah satunya adalah penggunaan kontrasepsi hormonal. Namun hasil penelitian-penelitian sebelumnya belum menunjukkan asosiasi yang konklusif antara pemakaian kontrasepsi hormonal dan infeksi HR-HPV. Data mengenai hubungan antara keduanya di Indonesia masih sangat terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi asosiasi antara penggunaan kontrasepsi hormonal dan infeksi HR-HPV pada populasi yang mengikuti program penapisan kanker serviks oleh Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Prov. DKI Jakarta di Jakarta tahun 2019. Desain penelitian ini adalah kasus kontrol dengan menggunakan data sekunder dari program penapisan kanker serviks di Jakarta pada Januari - Desember 2019. Kasus diambil dari peserta skrining dengan hasil tes DNAHPV positif yang didapat dari pemeriksaan menggunakan Hybrid Capture 2. Kontrol dipilih secara acak dari peserta dengan hasil pemeriksaan DNA-HPV negatif dengan rasio 2 : 1 kasus dan dipasangkan berdasarkan domisili dengan frequency matching. Data dianalisis dengan analisis multivariat unconditional logistic regression. Jumlah kasus yang dapat disertakan dalam penelitian ini adalah 172, dengan kontrol 344 subyek. Prevalensi infeksi HR-HPV dari program skrining adalah 6,56%. Mayoritas subyek penelitian tidak sedang menggunakan jenis kontrasepsi apapun (62,79% kasus; 49,13% kontrol). Pada kelompok yang sedang menggunakan kontrasepsi hormonal, didapatkan risiko infeksi HR-HPV crude OR 0,64 (95% CI 0,39-1,04, p=0,06) dan adjusted OR 0,97 (95% CI 0,53-1,79; p=0,93). Sementara pada yang pernah menggunakan kontrasepsi hormonal didapatkan crude OR 0,55 (95%CI 0,37-0,83; p=0,002) dan adjusted OR 0,53 (95% 0,34-0,82; p=0,005). Pada penelitian ini didapatkan tidak adanya perbedaan risiko infeksi HR-HPV pada perempuan yang sedang menggunakan kontrasepsi hormonal dengan yang tidak. Namun didapatkan adanya asosiasi negatif pada kelompok yang pernah menggunakan kontrasepsi hormonal yang bermakna secara statistik
High-risk Human Papillomavirus (HR-HPV) is the necessary factor for the development of cervical cancer. The use of hormonal contraception has been associated with HR-HPV risk infection. However, the existing study results are not conclusive. There is very limited relevant data available in Indonesia. Hence, this study is aimed to evaluate the association between the use of hormonal contraceptives and infection risk of HR-HPV based on data from a 2019 screening program held by Indonesian Cancer Foundation, Jakarta branch, in Jakarta. This is a case-control study using secondary data from a cervical cancer screening program in Jakarta during January-December 2019. The case group is subjects with positive HPV-DNA test results from Hybrid Capture 2. The control group is randomly selected from the screening participants with negative HPV-DNA test results, with a ratio with the case is 2:1, and frequency matched based on area of domicile. Data is analyzed using multivariate analysis, unconditional logistic regression. The number of case in this study is 172 and 344 subjects in the control group. The prevalence of HR-HPV infection from the whole screening program is 6,56%. Most study participants were not using any kind of contraception methods (62,79% cases; 49,13% control). The risk of HR-HPV is crude OR 0,64 (95% CI 0,39-1,04, p=0,06) and adjusted OR 0,97 (95% CI 0,53-1,79; p=0,93). in current user of hormonal contraceptives. Whilst the association in the past users of hormonal contraception prior the test is crude OR 0,55 (95%CI 0,37-0,83; p=0,002) and adjusted OR 0,53 (95% 0,34-0,82; p=0,005). There is no significant association between the current user of hormonal contraceptives and the risk of HR-HPV infection. On the other hand there is a significant negative association in the past user group.
Read More
T-6154
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Indi Susanti; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Sudarto Ronoatmodjo, Fatum A.R. Basalamah, Rohim Hamdani
T-3199
Depok : FKM-UI, 2010
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hairida Anggun Kusuma; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Renti Mahkota, Aries Hamzah, Aries Hamzah, Dewi Rostianingsih
Abstrak:

ABSTRAK Nama : Hairida Anggun Kusuma Program Studi : Pascasarjana Ilmu Kesehatan Masyarakat Judul : Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Lesi Prakanker Serviks di Kabupaten Kotawaringin Timur Tahun 2017 Permasalahan kanker serviks di Indonesia sangat khas yaitu banyak dan lebih dari 70% kasus ditemukan pada stadium lanjut pada saat datang ke rumah sakit. Peningkatan upaya penanganan kanker serviks, terutama dalam bidang pencegahan dan deteksi dini sangat diperlukan oleh setiap pihak yang terlibat. Penelitian kasus kontrol ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian lesi prakanker serviks. Penelitian melibatkan 102 kasus dan 306 kontrol dari cacatan medis pemeriksaan deteksi dini kanker leher rahim dan payudara tahun 2013 – 2016. Penelitian di 11 puskesmas yang telah melaksanakan pemeriksaan IVA di Kabupaten Kotawaringin Timur. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat dengan chi square dan multivariat dengan regresi logistik ganda untuk mengetahui faktor yang paling dominan. Sebagian besar umur responden ≤35 tahun, pendidikan dasar, tidak bekerja, tidak mempunyai riwayat kanker, usia melakukan hubungan seksual >17 tahun, punya pasangan seksual satu, tidak pernah menggunakan kontrasepsi oral >5 tahun, paritas ≥4 dan tidak pernah pap smear. Sedangkan untuk paparan asap rokok sama besar antara yang terpapar dan tidak terpapar. Hasil regresi logistik ganda menemukan terpapar asap rokok dengan (OR 1,9 95% CI 1,1 – 3), riwayat kanker keluarga (OR 2,5 95% CI 1,3-4,6), paritas ≥4 (OR 2 95% CI 0,9 – 4,4) dan jumlah pasangan seksual lebih dari 1 (OR 1,5 95% CI 0,9 – 2,8) dan faktor yang paling dominan adalah riwayat kanker keluarga. Kata kunci: Lesi prakanker serviks; paparan asap rokok; riwayat kanker keluarga.


ABSTRACT Name : Hairida Anggun Kusuma Study Program : Postgraduate Public Health Faculty Title : Factors Related to Cervical Precancerous Lesions in East Kotawaringin District 2017 The problem of cervical cancer in Indonesia is very distinctive that many and more than 70% of cases are found at an advanced stage upon arrival to the hospital. Increased efforts to treat cervical cancer, especially in the field of prevention and early detection is needed by each party involved. This case-control study aims to determine risk factors associated with the incidence of cervical precancer lesions. The study included 102 cases and 306 controls derived from medical records examining early detection of cervical and breast cancers from 2013 to 2016. The study was at 11 puskesmas who had performed VIA examination in East Kotawaringin District. Data analysis was done univariat, bivariate with chi square and multivariate with logistic regression to know the most dominant factor. Most of the respondents aged ≤35 years, primary education, unemployment, no history of cancer, age of sexual intercourse >17 years, had one sexual partner, never used oral contraceptives >5 years, parity ≥4 and never pap smear. As for exposed by smoke as large between the exposed and not exposed. The result of logistic regression showed exposed to cigarette smoke (OR 1,9 95% CI 1,1 – 3), family cancer history (OR 2,5 95% CI 1,3-4,6), parity ≥4 (OR 2 95% CI 0,9 – 4,4) dan sexual multipartner (OR 1,5 95% CI 0,9 – 2,8) and the more dominant risk factor was family history of cancer. Keywords: cervical precancerous lesions;exposed by smoke; family history of cancer

Read More
T-4912
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Uswatun Hasanah; Pembimbing: Ratna Djuita; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Ocvianty, Dwiana, Deliani, Santi
Abstrak: Kanker leher rahim merupakan kanker nomer dua terbanyak diderita oleh perempuan di seluruh dunia dan penyebab kematian akibat kanker yang paling utama, khususnya bagi perempuan di negara-negara berkembang (WHO, 2002). Prevalensi kanker leher rahim di wilayah DKI Jakarta sebesar 1,2 dari 5.919 pada wanita yang melakukan skrining dan Provinsi Jawa Barat sebesar 0,7 dari 15.635 wanita. Sebelum terjadinya kanker leher rahim akan didahului dengan keadaan yang disebut lesi prakanker. Prevalansi lesi prakanker leher rahim tahun 2012 sebesar 4,5%. Salah satu faktor resiko lesi prakanker leher rahim yaitu usia pertama kali berhubungan seksual < 17 tahun yang saat ini masih tinggi di masyarakat. Penelitian ini membahas hubungan usia pertama kali berhubungan seksual dengan kajadian lesi prakanker leher rahim pada wanita yang melakukan skrining dengan metode Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA) di wilayah kerja Layanan Kesehatan Cuma-Cuma Dompet Dhuafa dengan sasaran penerima manfaat. Penelitian dilakukan dengan desain kasus kontrol dengan jumlah sampel 230 yang terdiri dari 46 kasus dan 184 kontrol. Analisis multivariat menggunakan regresi logistik. Hasil menunjukkkan bahwa usia pertama kali berhubungan seksual < 17 tahun meningkatkan resiko lesi prakanker leher rahim OR 4,092 (CI,1,769-9,464). Oleh karenanya peningkatan pengetahuan dan pemahaman tentang faktor resiko kanker leher rahim melalui edukasi, pendewasaan usia pernikahan serta deteksi dini melalui pemeriksaan rutin akan membantu mengurangi kasus lesi prakanker leher rahim. Kata Kunci: Kanker Leher Rahim, Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA) positif Cervical cancer is second most common worldwide cancer afflict to women and leading cause of cancer deaths, particularly for women in developing countries (WHO, 2002). The prevalence of cervical cancer in women who has been screening in Jakarta around 1,2 from 5,919 and around 0.7 out of 15,635 in West Java. The diagnosis of cervical cancer will be preceded by a condition called pre-cancerous lesions. Prevalence of pre-cancerous cervical lesions in 2012 is 4.5%. One of the risk factors of pre-cancerous cervical lesions is age less than <17 years of first sexual intercourse which is still high in society. This study explained relationship between first-time sexual intercourse with the occurrence of cervical pre-cancer lesions in female beneficiaries doing early detection using Visual Acetic Acid Inspection (IVA) at Layanan Kesehatan Cuma-Cuma Dompet Dhuafa. The study was conducted with case control design of 230 total sample consisting of 46 cases and 184 control. Multivariate analysis used logistic regression. Results showed first age of intercourse less than <17 years increased risk of pre-cancerous cervical lesions OR 4,092 (CI, 1,769-9,464). According to this study increased knowledge and understanding of risk factors for cervical cancer through education, control of marriage age and early detection with periodically checkup will reduce cases of pre-cancerous cervical lesions. Keywords: Cervical Cancerous, Positive Visual Inspection With Acetic Acid
Read More
T-5075
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Iis Sinsin Nuryasini; Pembimbing: Nuning Maria Kiptiyah; Penguji: Maryanto Oemardi, Ratna Dewi, Tri Yunis Miko Wahyono, Ichramsjah A. Rahman
Abstrak:
Osteoporosis merupakan salah satu isu penting dalam bidang kesehatan masyarakat. Jumlah penderita osteoporosis diprediksikan akan mengalami peningkatan secara tajam seiring dengan peningkatan jumlah penduduk dan angka harapan hidup. Dari berbagai literatur didapatkan angka prevalen osteoporosis berkisar dan 6,5-30,3%. Penderita osteoporosis sangat rentan terhadap fracture. Perempuan merupakan populasi paling berisiko (population at risk) terhadap osteoporosis. Di Indonesia, menurut data WHO tahun 1995, prosentase penduduk perempuan yang masih hidup hingga usia 60 tahun ke atas sebesar 75% sementara laki-laki hanya 16%. Program pencegahan perlu dilakukan untuk memperlambat munculnya osteoporosis. Berbagai penelitian telah dilakukan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan osteoporosis. Salah satu faktor yang diduga mempunyai efek protektif (pencegah) terhadap kejadian osteoporosis adalah penggunaan pil keluarga berencana (pil KB). Untuk perempuan Indonesia, faktor ini belum pernah diteliti. Padahal jika melihat jumlah pengguna pil KB di Indonesia, ditemukan bahwa prevalen pengguna pil KB pada semua golongan usia cukup tinggi yaitu 14,8-17,1%, dan usia yang mulai menggunakan pil KB adalah 15-19 tahun. Pil KB yang digunakan oleh perempuan Indonesia sebagian besar (77,1%) merupakan jenis pil kombinasi (combined oral contraception) dengan estrogen sebagai komponen utamanya. Dari literatur tentang hubungan estrogen dan osteoporosis ditemukan bahwa peran estrogen adalah menghambat proses resorpsi tulang baik secara langsung dan tidak langsung. Beberapa penelitian tentang hubungan riwayat penggunaan pil kontrasepsi dan osteoporosis pada wanita ras putih masih menunjukkan kontroversi. Berdasarkan hal itu, perlu diteliti hubungan antara penggunaan pil KB dengan osteoporosis primer pada perempuan Indonesia. Disain penelitian menggunakan kasus kontrol tidak berpadanan dengan jumlah 674 responden dari seluruh data catatan medis pasien di Makmal Terpadu Imunoendokrinologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia sejak Juli 1995 sampai engan Oktober 2000. Pengambilan sampel dilakukan secara acak sederhana. Kasus dan kontrol diambil dari tempat yang sama dengan jumlah 337 kasus dan 337 kontrol. Kasus didiagnosis dengan menggunakan nilai z yang dihasilkan oleh DEXA (Dual Energy X-ray Absorpliometry). Untuk mendapatkan kasus dan kontrol yang eligible untuk penelitian ini dilakukan proses eksklusi yang meliputi usia kurang dari 40 tahun, catatan medis yang tidak lengkap, penderita osteoporosis sekunder, dan penderita osteoarthritis. Selain faktor riwayat penggunaan pil KB, faktor lain yang diteliti adalah usia, indeks massa tubuh, paritas, status olah raga, status menopause, usia saat menopause, dan lama menopause. Analisis data menggunakan regresi logistik ganda dengan bantuan perangkat lunak Stata versi 6.0 for Windows. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara riwayat penggunaan pil KB dengan osteoporosis primer dan hubungan tersebut tersebut dipengaruhi oleh variabel usia dan usia saat menopause serta berbeda pada strata indeks massa tubuh. Kondisi gemuk pada seseorang yang menggunakan pil KB akan meningkatkan probabilitas terhadap osteoporosis primer secara bermakna daripada bukan pengguna pil KB; sementara kondisi berat badan lebih dan kurang pada pengguna pil KB menurunkan probabilitas terhadap osteoporosis primer. Semakin tinggi usia, usia saat menopause, dan indeks massa tubuh, probabilitas osteoporosis primer semakin rendah. Variabel paritas, status olah raga rutin dan lama menopause tidak berhubungan dengan osteoporosis primer. Diantara variabel di dalam model logistik ganda, variabel yang mempunyai probabilitas paling tinggi terhadap osteoporosis primer adalah usia saat menopause awal. Penelitian ini menggunakan data sekunder sehingga tidak dapat mengontrol sejumah variabel lain yang berpotensi sebagai variabel confounding. Berdasarkan hasil penelitian maka perlu diadakan penelitian lebih lanjut untuk memastikan efek dan pil KB dan melakukan penelitian tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan usia menopause awal dan usia menopause terlambat. Perempuan yang pemah menggunakan pil KB dan mempunyai berat badan yang gemuk pada saat ini disarankan agar menurunkan berat badan; sementara pengguna pil KB yang mempunyai berat badan lebih atau kurang pada saat ini disarankan agar mempertahankan berat badannya dalam rentang berat badan lebih atau kurang. Bukan pengguna pit KB lebih baik mempunyai berat badan yang lebih namun agar menghindari obesitas karena merupakan risiko munculnya penyakit lain. SeIain itu, perempuan pada usia menopause awal sebaiknya memeriksakan densitas mineral tulang agar dapat dilakukan pencegahan dini.

Osteoporosis is a current issue on public health due to the increasing number of osteoporotic patients on the populous countries which has an increasing number of life expectancy. Data published by World Health Organization in 1995 showed that 75% of Indonesian women survived into eldelry age (more than 60 years old) while for Indonesian men the number was only 16%. Women tend to be more susceptible and high-risk for osteoporosis_ Osteoporosis leads to osteoporotic fracture. A public health preventive and health promotion program should be done to delay osteoporosis. Many studies has been conducted and published for identifying factors associated with osteoporosis. History of oral contraceptive use is one factor, which has a contribution for preventing osteoporosis. To date no literature has shown the effects of history of oral contraceptive use on osteoporosis among Indonesian women. Demographic Health Survey 1997 showed that the prevalence of oral contraceptive use (pills) was 14,8%-17,1% and the age whose starting to use oral contraceptive was 15-19 years. About 77,1% of oral contraceptive used by Indonesian women was classified as type of combined oral contraceptive which contains oestrogen hormone. Oestrogen will directly and indirectly affects bone remodelling. The association between history of oral contraceptive use in white women remains a controversy. The aim of this study was to determine the association between history of oral contraceptive use among Indonesian women. A case control study was conducted at The Collaborative Laboratory on Immunoendocrinology Faculty of Medicine University of Indonesia Jakarta (MITE FKUI Jakarta). Data was collected from subjects attending the clinic since July 1995 till October 2000. A simple random sampling was used to determine 337 cases and 337 controls among study population. The exclusion criteria for study sample were: age less than 40, incomplete medical records, secondary osteoporosis and osteoarthritis. Both cases and controls were diagnosed using z score of DEXA (Dual Energy X-ray Absorpiiametry) at MTIE FKUI Jakarta. Variables under study were history of oral contraceptive use, age, current body mass index, parity, current exercise, menopausal status, age at menopause, and years since of menopause. Analyzing data used Stata version 6.0 for Windows and the methods of analysis applied multiple logistic regression for unmatched data. The results showed an association between history of oral contraceptive use and primary osteoporosis after controlling age and age of menopause. The association was significantly different at body mass index level (p<0,05). An oral contraceptive user whose obesity had higher probability to primary osteoporosis than non oral contraceptive users; meanwhile overweight and small body mass index had the smaller probability to primary osteoporosis. The study also found negative association between age, age at menopause and current body mass index with primary osteoporosis (p<0,05). Parity, current exepcise and years since menopause were not statistically significant. The study also found that early age of menopause as the highest probability to primary osteoporosis. The secondary data source caused several potential confounding variables which influenced the study results were not included. Based on these results, it is very important to conduct further studies to confirm the effect of oral contraceptive use among Indonesian women and to find factors associated with early age of menopause and late age of menopause. Oral contraceptive users whose greater body mass index are recommended to decrease body mass index into a normal range; meanwhile oral contraceptive users whose small body mass index or overweight should maintain their weight. Non oral contraceptive users are better to be overweight. This study also recommends to do early detection of bone mineral density for the early age of menopausal women.
Read More
T-1077
Depok : FKM-UI, 2001
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive