Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 29374 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Muhammad Yusuf; Pembimbing: Ridwan Zahdi Syaaf
T-579
Depok : FKM UI, 1997
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Syaiful Hidayat, Faisal Yunus, Agus Dwi Susanto
CDK Vol.39, No.1 (2012)
Jakarta : Kalbe Farma, 2012
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muhammad Aditya Kamallah; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan/; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Tubagus Dwika Yuantoko
Abstrak:

Polutan udara dalam ruangan, khususnya PM2.5 memberikan dampak buruk bagi kesehatan penghuni ruangan. Salah satu pengendalian untuk menurunkan konsentrasi PM2.5 adalah dengan menggunakan filter HEPA. Filter HEPA memiliki desain bahan filter yang dilipat-lipat untuk memperbesar luas permukaan filter. Penelitian ini dilakukan untuk meneliti pengaruh jumlah lipatan pada filter HEPA berbahan meltblown nonwoven polypropylene terhadap efektivitas filter dalam menurunkan konsentrasi PM2.5 di dalam ruangan. Penelitian dilakukan dalam bentuk eksperimen yang dilakukan di laboratorium Keselamatan dan Kesehatan Kerja Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. Larutan KCl 5% disebarkan dalam bentuk partikulat ke dalam ruang uji dan digunakan berbagai variasi filter HEPA dengan jumlah lipatan berbeda untuk dilihat efektivitasnya menurunkan konsentrasi PM2.5. Variasi jumlah lipatan pada filter HEPA yang dilakukan pengujian adalah kepadatan lipatan 1 lipatan/cm, 2 lipatan/cm, dan 3 lipatan/cm. Data PM2.5 dikumpulkan secara langsung dengan CEM Air Particle Counter DT-9881. Hasil penelitian menunjukkan bahwa antara tiga kelompok pengujian, tidak terdapat pengaruh signifikan terhadap efektivitas filter HEPA jika dilakukan uji statistik terhadap rata-rata efektivitas filter. Sementara secara praktis, filter 2 lipatan/cm memiliki rata-rata efektivitas paling baik antara ketiga variasi jumlah lipatan, yaitu sebesar 95,28% dan memasuki kategori filter E11.


Indoor air pollution, especially PM2.5, adversely affects its occupants. One of the solutions to reduce PM2.5 concentration is using HEPA Filters. HEPA Filters are designed with pleats to broaden the filter’s surface area. This study aims to research the influence of different pleat count on melt-blown nonwoven polypropylene HEPA Filter on the effectiveness of reducing PM2.5. This research was an experimental study in the occupational and health laboratory, faculty of public health, Universitas Indonesia. A mixture of potassium chloride was dispersed in the form of particulate to the experimentation room and various HEPA filters with different pleat counts were used to see their effectivity in reducing PM2.5 concentration. Variations of pleat count that were used in these experiments were HEPA filters with pleat density of 1 pleat/cm, 2 pleats/cm, and 3 pleats/cm. Data of PM2.5 are directly read and stored with CEM Air Particle Counter DT-9881. Research finds between three variations of pleat count; there were no statistical significance between the average effectiveness percentage of each pleat count variants. Although not statistically significant, filter with pleat density of 2 pleats/cm has the highest effectiveness average between three variations, which is 95,28%, where it’s classified as E11 filter category.

Read More
S-11880
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yeni Y. Boymau, M.D. Charlota Lerik, Imelda F.E. Manurung
JPGK Vol.2, No.1
Kupang : IAKMI - FKM Undana, 2010
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Khairani Fatmah; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan; Penguji: Tubagus Dwika Yuantoko, Laksita Ri Hastiti
Abstrak:
Paparan partikel halus (PM2.5) di dalam ruangan dapat berdampak buruk bagi kesehatan, sehingga diperlukan solusi yang efektif dan terjangkau. Penelitian ini bertujuan menguji efektivitas penggunaan air purifier sederhana dengan filter HEPA berbahan meltblown nonwoven polypropylene dalam menurunkan konsentrasi PM2.5 di ruang tertutup. Eksperimen dilakukan di Laboratorium K3 FKM UI pada Januari–April 2025, dengan dua skenario utama: satu dan dua unit air purifier. Pengukuran dilakukan secara real-time menggunakan air particle counter CEM DT-9883M, serta didukung data suhu, kelembaban, kecepatan aliran udara, dan putaran kipas. Hasil menunjukkan bahwa dua air purifier lebih efektif dibanding satu unit, terutama jika ditempatkan di posisi depan dan belakang ruangan, dengan rata-rata penurunan konsentrasi PM2.5 mencapai 98,8%. Efektivitas konfigurasi ini sekitar 5% lebih tinggi dibandingkan penggunaan satu alat. Selain itu, penggantian turbin pada air purifier tunggal juga memberikan hasil lebih baik, menurunkan konsentrasi dari 56,67 µg/m³ menjadi 46 µg/m³. Hasil ini menegaskan bahwa peningkatan jumlah dan penataan posisi air purifier dapat menjadi strategi sederhana namun signifikan dalam memperbaiki kualitas udara dalam ruangan.

Indoor fine particle exposure (PM2.5) can have a negative impact on health, so an effective and affordable solution is needed. This study aims to prove the effectiveness of using a simple air purifier with a HEPA filter made of Meltblown Nonwoven Polypropylene in reducing PM2.5 concentrations in closed spaces. The experiment was conducted at the FKM UI K3 Laboratory in January–April 2025, with two main scenarios: one and two air purifier units. Measurements were carried out in real time using a CEM DT-9883M air particle counter, and supported by data on temperature, humidity, air flow speed, and fan rotation. The results showed that two air purifiers were more effective than one unit, especially when placed at the front and back of the room, with an average reduction in PM2.5 concentration reaching 98.8%. The effectiveness of this configuration is about 5% higher than using one device. In addition, the placement of the turbine on a single air purifier also gave better results, reducing the concentration from 56.67 µg/m³ to 46 µg/m³. These results confirm that increasing the number and positioning of air purifiers can be a simple yet significant strategy in improving indoor air quality.
Read More
S-11881
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Irene Messyavita Nehe; Pembimbing: Ema Hermawati; Penguji: Fitri Kurniasari, Sony Pawoko
Abstrak:
Sick Building Syndrome (SBS) merupakan masalah kesehatan di tempat kerja yang berkaitan dengan Kualitas Udara dalam Ruangan (KUDR), dan dapat memengaruhi hingga 90% pekerja secara global. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara KUDR dan gejala SBS pada pustakawan di lima perpustakaan Universitas X Depok. Desain penelitian yang digunakan adalah cross-sectional, dengan 47 responden terpilih secara purposive dan analisis dilakukan hingga tingkat bivariat. Sebanyak 57,4% responden melaporkan gejala SBS. Suhu udara berhubungan signifikan dengan SBS (OR=5,00; 95% CI=1,32–18,96), dan hubungan ini tetap bertahan setelah dikontrol berdasarkan lama bekerja. Temuan ini menunjukkan perlunya perbaikan kondisi termal di lingkungan perpustakaan, termasuk pemeliharaan dan perbaikan sistem pendingin udara, guna menurunkan risiko SBS pada pustakawan.

Sick Building Syndrome (SBS) is a workplace health issue linked to Indoor Air Quality (IAQ), affecting up to 90% of workers globally. This study investigates the relationship between IAQ and SBS symptoms among librarians in five libraries at University X, Depok. Using a cross-sectional design, data were collected from 47 purposively selected respondents and analyzed to bivariate level. SBS symptoms were reported by 57.4% of participants. Air temperature was significantly associated with SBS (OR=5.00; 95% CI=1.32–18.96), and the association persisted after adjusting for length of employment. These findings highlight the need to improve thermal conditions in library environments, including air conditioning maintenance and repairs, to reduce SBS risk among librarians.
Read More
S-11940
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rosa Jaya; Pembimbing: Sumengen Sutomo, I Made Djaja; Penguji: Robiana Modjo, Sutaryana, Azhar Jaya
Abstrak:
Kualitas udara dalam ruangan kelja yang tidak memenuhi persyaratan kesehatan dapat menyebabkan ruangan kerja tidak nyaman; dampak negatif terhadap karyawan berupa keluhan kesehatan yang dikenal dengan istilah sick building syndrome 6985). Keluhan SBS biasanya tidak terlalu parah dan tidak diketahui penyebabnya, tetapi mengurangi produktivitas kerja. Sejumlah penelitian pada lingkungan yang berbeda menunjukkan bahwa faktor-faktor intcmal dan ekstemal mempengaruhi kejadian SBS. Informasi mengenai kualitas udara dalam mangan gedung perkantoran Departemen Kesehatan (Dcpkes) belum dikctahui, walaupun sudah banyak Iaporan tentang keluhan SBS. Tujuan penelitian untuk memperoleh informasi mengenai kualitas udara di gcdung Depkes Jakarta, Serta kejadian SBS dan ihktor-faktor yang mempengaruhinya. Menggunakan studi cross-seczional hersifat deskriptif analitik; melibatkan 242 karyawan Depkes scbagai responden. Kriteria respondcn adalah orang sehat tidak menderita penyakit sesuai diagnosa dokter dan tidak sedang hamil. Untuk memperoleh data mengenai, karakteristik, psikologis dan posisi kelja yang ergonomik dari responden menggunakan kucsioner teramh dan terstruktur. Sedangkan pengukuran konsentrasi NO2, CO, C0;, SO2, H2S, NH; and PM|0 scbagai indikator kualitas udara dilakukan pada 10 ruangan. Kualitas udara dalam ruangan masih memcnuhi persyaratan scsuai Keputusan Mentcri Kesehatan No. 1405/Menkes/SK/XI/2002. Kadar NO2, SO2, and NH; terdeteksi pada tiga ruangan. Konsenlrasi C0 pada setiap ruangan sama; C02, H2S, and PMN lerdetcksi pada setiap ruangan dengan konscntrasi berbeda-beda. Pencahayaan pada seluruh ruangan memenuhi pcrsyaratan (> |00 lux). Di Iain pihak, suhu dan kelembaban pada beberapa ruangan melebihi persyaratan, namun secara umum nilai rata-ratanya masih memenuhi persyaratan. Prevalensi SBS sebesar 19%, dengan gejala tcrbanyak berupa kelelahan, rasa sakit dan kekakuan pada bahu dan Ieher (50%); flu, batuk dan bersin-bersin (49.6%); Serta pusing, sakit kepala dan kesulitan konsentrasi (38.4%). Suhu, posisi keqja yang ergonomik, jenis kelamin dan umur mempcngaruhi kejadian SBS secara bemmakna, dimana suhu merupakan variabel yang paling dominan. Kualitas udara masih memenuhi persyaratan kesehatan, untuk Iingkungan fisik dalam ruangan kenja nilai rata-rata pengukuran masih memenuhi persyaratan, walaupun ada ruangan yang suhu atau kelembaban tidak memcnuhi persyaratan kesehatan, Suhu, posisi kerja yang ergonomik, jenis kelamin dan umur sangat mempengaruhi kejadian SBS. Pemeliharaan pendingin ruangan serta posisi kerja yang ergonomik merupakan upaya pencegahan yang harus mcndapat perhatian dalam program SBS.

Indoor air quality that does not meet the health standard requirement may lead to uncomfortable working environment and causes negative impacts to the workers in the fomm of health complaints known as sick building .syndrome (SBS). Usually the complaints are not very serious and the sources are unknown; however it could reduce work productivity. A number of studies in different settings have indicated that several internal and external factors influence the incidence of SBS. Infomation on the indoor air quality of the Ministry of Health (MOH) building has not yet been known, in spite ofthe SBS complaints that have been reported. The purpose of this study is to obtain infomation on the indoor air quality ofthe MOH building Jakarta, as well as the incidence of SBS and its’ underlying thctors. Using cross-sectional study which is descriptive-analytic; the study involved 242 MOH employees as respondents. The criteria ofthe respondents were healthy individuals not suffering from diseases as diagnosed by a physician and not pregnant. To obtain data on the characteristics, psychological and ergonomic working position of the respondents, guided and structured questionnaire were used. Whereas measurements of NO;, CO, CO2, S02, I-I2S, NH, and PM10 concentrations as indicators of air quality were undertaken in ten rooms. Indoor air quality still meets the standard requirement, in accordance to the Minister of Health Decree No. 1405/ivlenkes/SK/XI/2002. Concentrations of NO2, SO2, and Nl-I; were detected in three rooms. The concentration of CO in all rooms was the same; while CO2, l-l2S, and PM10 were detected in all rooms with different concentrations. Illuminations in all rooms were in compliance to the standard requirement (> 100 lux). On the other hand, the temperature and humidity in some rooms exceeded the standard requirement, however, in general the average value of these two variables still meet the requirements. The prevalence of SBS was 19%, mostly in the fonn of fatigue, pain and stiff on the shoulder and neck (50%); common cold, coughing and sneezing (49.6%); as well as diuiness, headache and concentration problems (38.4%). Temperature, ergonomic working position, sex and age significantly influence the incidence of SBS, in which the room temperature was shown to be the predominant variable. Indoor air quality was still in compliance to the health standard requirement. As for the physical environment, the measurement average values still meet the requirements although the temperature and humidity in some rooms did not. _ Temperature, ergonomic working position, sex and age significantly influence the incidence of SBS. Maintenance of the air conditioner and sustaining ergonomic working position are prevention actions that should acquire attention in the SBS program.
Read More
T-2975
Depok : FKM UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Lulu Djanatha; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Mila Tejamaya, Henry V. Matakupan
Abstrak: Penelitian mengenai Analisis Hasil Pengukuran Kualitas Udara Dalam Ruangan Perusahaan XXX di Jakarta Tahun 2015, penelitian ini dilakukan terkait beberapa keluhan karyawan mengenai kualitas udara dalam ruangan kantor dan hasil dari pengukuran kualitas udara dalam kantor yang telah dilaksanakan pada September 2014. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah kualitas dalam ruangan perusahaan XXX sudah sesuai dengan standar dari pemerintah RI. Penelitian ini menggunakan metode analisis kualitatif deskriptif, pengambilan data dari penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan data hasil pengukuran kualitas udara dalam ruangan dan pelaksanaan wawancara dan observasi lapangan. Hasil dari analisis kadar SO2, CO2, O2, Temperatur, Kelembaban, dan Laju Ventilasi pada beberapa area pengukuran tidak memenuhi standard. Saran yang penulis ajukan terkait menyesuaikan sistem udara (HVAC) dan pengontrolan kadar CO2 dalam ruangan. Serta melakukan penelitian lebih mendalam terkait kemungkinan gangguan kesehatan yang berhubungan dengan kualitas udara dalam ruangan.
Kata kunci: kualitas udara dalam ruangan, gangguan kesehatan terkait kualitas udara dalam dalam ruangan, higiene industri
Read More
S-8727
Depok : FKM UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Haqqu`l Falaah Damar Aji; Pembimbing: Mila Tejamaya; Penguji: Yuni Kusminti, Yusif Zalaya
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Gambaran Kualitas Udara di Dalam Ruangan Lingkungan Asrama UI dengan melakukan pengukuran tingkat pajanan parameter fisik, kimia, dan biologi. Desain penelitian ini bersifat deskriptif analisis dengan pendekatan cross-sectional. Penelitian kuantitatif dilakukan melalui pengukuran tingkat pajanan parameter fisik dan konsentrasi kontaminan kimia udara dengan cara grab sampling menggunakan direct reading instrument dan dengan menyebarkan kuesioner tentang keluhan/gejala subjektif yang dialami oleh mahasiswa penghuni gedung Asrama UI. Hasil dan kesimpulan dari penelitian ini adalah, parameter kualitas udara di dalam ruangan yang melewati nilai ambang batas adalah lain suhu, kelembaban, kecepatan angin, dan PM10. Kata Kunci: Kualitas udara di dalam ruangan; Asrama Universitas Indonesia; Tingkat pajanan parameter fisik; Konsentrasi kontaminan kimia; jumlah koloni bakteri dan kapang Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Gambaran Kualitas Udara di Dalam Ruangan Lingkungan Asrama UI dengan melakukan pengukuran tingkat pajanan parameter fisik, kimia, dan biologi. Desain penelitian ini bersifat deskriptif analisis dengan pendekatan cross-sectional. Penelitian kuantitatif dilakukan melalui pengukuran tingkat pajanan parameter fisik dan konsentrasi kontaminan kimia udara dengan cara grab sampling menggunakan direct reading instrument dan dengan menyebarkan kuesioner tentang keluhan/gejala subjektif yang dialami oleh mahasiswa penghuni gedung Asrama UI. Hasil dan kesimpulan dari penelitian ini adalah, parameter kualitas udara di dalam ruangan yang melewati nilai ambang batas adalah lain suhu, kelembaban, kecepatan angin, dan PM10. Kata Kunci: Kualitas udara di dalam ruangan; Asrama Universitas Indonesia; Tingkat pajanan parameter fisik; Konsentrasi kontaminan kimia; jumlah koloni bakteri dan kapang
Read More
S-9548
Depok : FKM UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Gelar Winayawidhi Suganda; Pembimbing: Sjahrul Meiza; Penguji: Fatma Leastari, M. Heru Sunardjo, Eko Pudjadi
T-3270
Depok : FKM-UI, 2010
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive