Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 38639 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Dewa Ngakan Gde Wahyu Mahatma Putra; Pembimbing: Jaslis Ilyas; Penguji: Adang Bachtiar, Bambang Dwipoyono, Chairulsjah Sjahruddin
Abstrak: ABSTRAK Latar belakang dari penelitian ini adalah adanya waktu tunggu antrian pasien OK yang cukup lama hingga 21 hari dan angka utilisasi beberapa ruangan OK yang masih di bawah standar utilisasi. Waktu tunggu antrian OK yang lama dan angka utilisasi yang belum optimal salah satunya disebabkan oleh metode penjadwalan operasi yang belum akurat. Penelitian bertujuan untuk mengetahui utilisasi ruangan OK IBS dan mengetahui hubungannya dengan akurasi waktu mulai operasi, jumlah operasi, dan jenis operasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode telaah dokumen. Uji korelasi dilakukan dengan menggunakan metode Spearman. Berdasarkan 320 data sampel yang diteliti diperoleh rata-rata utilisasi ruangan OK IBS pada bulan Januari-Maret 2018 adalah 53,36%. Total pemakaian ruangan OK adalah 555 jam 24 menit. Terdapat dua faktor yang berhubungan dengan utilisasi kamar operasi yaitu akurasi waktu mulai operasi (p-value=0,012) dan jumlah operasi (p-value=0,015) dengan hubungan positif. Sedangkan jenis operasi (p-value = 0.373) tidak memiliki hubungan dengan utilisasi kamar operasi. Faktor lain yang mempengaruhi utilisasi kamar operasi adalah hari efektif jam buka ruangan OK setiap bulannya. Kata Kunci: Kamar Operasi, Operasi Elektif, Utilisasi, Akurasi Waktu Operasi, Jumlah Operasi, Jenis Operasi The background of this research is the high number of OK patients queue and delayed operation schedule due to the high utilization rate in the OK room in Central Surgery Installation Sanglah General Hospital. The study aims to find out the utilization of OK IBS room and to know its relation to the accuracy of the starting time of operation, the number of operation, and the type of operation. This research uses quantitative approach with document review method. The correlation test is done by using Spearman method. Based on the 320 sampled data obtained, the average utilization of OK IBS room in January-March 2018 is 53.36%. The total usage of OK room is 555 hours 24 minutes. There are two factors related to operating room utilization that is accuracy of starting time of operation (p-value = 0,012) and number of operation (p-value = 0,015) with positive relation. While the type of operation (p-value = 0.373) has no relationship with operating room utilization. Another factor affecting operating room utilization is the effective day open room hours OK in every month. Keywords: Operating Room, Elective Operation, Utilization, Accuracy of Starting Operation Time, Number of Operations, Type of Operation
Read More
B-2014
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Putri Umi Sa`adah; Pembimbing: Adik Wibowo; Penguji: Masyitoh, Umi Asyiyah
Abstrak: Infeksi luka operasi merupakan infeksi yang terjadi 30 hari pasca operasi. Angka kejadian ILO di RSUP Fatmawati dari tahun 2014-2016 mengalami peningkatan dari 0,74% menjadi 1,24%. Tahun 2016 0,3% dari total angka kejadian ILO berasal dari pasien kebidanan dan kandungan. Tujuan dari penelitian ini adalah merumuskan upaya perbaikan pencegahan kejadian infeksi luka operasi sehingga diharapkan dapat mengurangi kejadian infeksi luka operasi di RSUP Fatmawati. Penelitian ini merupakan jenis penelitian operasional yang bersifat kuantitatif dan kualitatif. Metode yang digunakan adalah telaah data sekunder, wawancara, observasi dan telaah dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ILO masih terjadi di RSUP Fatmawati walaupun rumah sakit sudah mempunyai SOP terkait ILO untuk melakukan pencegahan dan pengendalian ILO, karena ILO bisa terjadi dari sisi kondisi pasien dan sistem pelayanan rumah sakit. Maka dari itu diperlukan kerjasama dan komitmen antar seluruh pihak yang berkaitan dengan pencegahan dan pengendalian ILO, yakni Instalasi Rawat Inap Teratai, Instalasi Bedah Sentral, KPPI dan Komite Mutu serta diperlukan penelitian lanjutan untuk membahas faktor lain yang tidak terdapat dalam penelitian ini.
Read More
S-9631
Depok : FKM UI, 2018
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
I Made Darmajaya; Pembimbing: Amal Chalik Sjaaf; Penguji: Adik Wibowo, Dumilah Ayunungtyas, Sukamto Koesnoe, Ketut Rupini
B-1604
Depok : FKM UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Gede Eka Rusdi Antara; Pembimbing: Amal Chalik Sjaaf; Penguji: Adik Wibowo, I Made Darmajaya; Kurnia Sari, Ns. I Gede Made Arnata
Abstrak: Pelayanan pembedahan merupakan pelayanan kesehatan di rumah rumah sakit yang dapat menggambarkan mutu rumah sakit. Peningkatan jumlah kunjungan, ketersediaan sarana dan prasarana, ketersediaan sumber daya manusia serta lamanya waktu yang diperlukan untuk memperoleh persetujuan untuk tindakan operasi dari pasien dan keluarga dapat menyebabkan waktu tunggu tindakan operasi menjadi panjang. Penelitian ini menggunakan rancangan mix method yaitu kuantitatif dan kualitatif. Penelitian kuantitatif merupakan penelitian observasional analitik cross sectional. Penelitian ini melibatkan 54 responden pada penelitian kuantitatif dan 7 informan pada penelitian kualitatif.

Hasil penelitian menunjukkan kejadian bed block sebanyak 38,9 % dan tidak terjadi bedblock 61,1%. Persetujuan operasi diperoleh dalam waktu ≥ 1 jam dari 17 responden (31,5%) dan persetujuan operasi yang diperoleh dalam waktu < 1 jam sebanyak 37 responden (68,5%). Alat dan sarana didapatkan tidak lengkap 5,6% dan lengkap 94,4%. Waktu tunggu tindakan operasi yang ≥ 5 jam dikategorikan delay sebanyak 33,3%, waktu tunggu tindakan operasi yang < 5 jam dikategorikan tidak delay sebanyak 66,7%.

Analisis bivariat dengan Chi Square menunjukkan pvalue 0,000 untuk hubungan antara bed block dengan keterlambatan operasi, p-value 0,000 untuk hubungan antara persetujuan operasi dengan keterlambatan operasi, p-value 0,012 hubungan alat dan sarana dengan keterlambatan operasi. Faktor yang paling berpengaruh adalah persetujuan operasi dengan p-value 0,005 dengan regresi logistik.

Dari penelitian ini dapat disimpulkan adanya hubungan yang signifikan antara bed block, persetujuan operasi serta alat dan sarana terhadap keterlambatan operasi. Hasil penelitian ini dapat dijadikan pedoman dalam penyusunan strategi peningkatan kualitas pelayanan pembedahan di Instalasi Rawat Darurat.

Key words: bed block, sumber daya manusia, persetujuan operasi, alat dan sarana operasi, keterlambatan tindakan operasi

Surgery is part of medical services that summarized the hospital performance. Increased hospital visits, unavailability of tools, unavailability of human resources, and times consumed to get patient agreement for surgery may causing delay to operation. This is mix method study, quantitative and qualitative. The quantitative study is observational analytic, cross sectional. This study includes 54 respondents in quantitative study and 7 informants in qualitative study.

The result showed bed block events is 38,9 %. Agreement following informed consent is obtained in ≥ 1 hour for 17 respondents (31,5%) and < 1 hour for 37 respondents (68,5%). Tools and equipment are complete and available in 94,4% cases and incomplete in 5,6% cases. Time consumed waiting for operation is categorized delay if ≥ 5 hours in 33,3% cases, categorized not delay if < 5 hours in 66,7%.

Bivariate analysis using Chi Square showed p-value 0,000 for correlation between bed block and delay to operation, p-value 0,000 for correlation between time consumed to obtain agreement for surgery, p-value 0,012 for correlation between tools and equipment with delay to operation. The most influencing factor is operation agreement with pvalue 0,005 using logistic regression.

From this study, we conclude there is significant correlation between bed block, time consumed for obtain operation agreement, tools and equipment availability with delay to operation. This result is a base in making strategy to improve quality of surgery services in emergency department.

Key words: bed block, human resources, operation agreement, tools and equipment, delay to operation
Read More
B-1959
Depok : FKM UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sophia; Pembimbing: Ede Surya Darmawan; Penguji: Mardiati Nadjib, Kurnia Sari, Hevi Widi Hastuti, Svetlana S. Paruntu
Abstrak: ABSTRAK Kepesertaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) sesuai peta jalan (roadmap) menuju jaminan kesehatan semesta / Universal Health Coverage (UHC) di tahun 2019, seluruh penduduk menjadi peserta Jaminan Kesehatan. Untuk itu Rumkital Dr. Mintohardjo harus selalu memberikan pelayanan kesehatan yang bermutu karena jumlah pasien BPJS Kesehatan yang di rawat inap semakin meningkat setiap tahunnya. Analisis biaya merupakan tindakan strategis yang sangat perlu dilakukan karena saat ini rumah sakit telah menjadi suatu lembaga sosial-ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis biaya satuan tindakan bedah appendiktomi di kamar operasi Rumkital Dr. Mintohardjo tahun 2017 dengan menghitung biaya langsung dan tidak langsung. Penelitian ini merupakan operational research yang bersifat deskriptif, melakukan analisis biaya satuan tindakan appendiktomi di kamar operasi tahun 2017. Metode analisis yang digunakan adalah metode distribusi sederhana. Hasil penelitian yaitu biaya investasi tindakan appendiktomi sebesar Rp 26.280.456,- atau 5,2% dari biaya total tindakan appendiktomi. Biaya operasional merupakan biaya yang paling besar dibandingkan dengan biaya investasi dan biaya pemeliharaan yaitu sebesar Rp 420.142.348,- atau 83,7% dari biaya total tindakan appendiktomi dan biaya pemeliharaan sebesar Rp 1.992.830,- atau 0,4%, Alokasi biaya unit penunjang untuk tindakan appendiktomi sebesar Rp 52.313.904,- atau 10,4% dan alokasi biaya tidak langsung lainnya sebesar Rp 1.430.090,- atau 0,3%. Total biaya tindakan appendiktomi sebesar Rp 502.159.628,- Biaya satuan aktual tindakan appendiktomi sebesar Rp 3.025.058,-. Cost Recovery Rate (CRR) sebesar 109,07%. Perhitungan biaya satuan merupakan strategi awal dari setiap perhitungan tarif pelayanan. Kata Kunci : Biaya satuan, tindakan bedah appendiktomi. metode distribusi sederhana ABSTRACT National Health Insurance (JKN) participation in accordance with the roadmap to universal health insurance / Universal Health Coverage (UHC) in 2019, all residents become participants of Health Insurance. For that Rumkital Dr. Mintohardjo must always provide quality health services because the number of BPJS Health patients hospitalized increases every year. Cost analysis is a strategic action that is very necessary because at this time the hospital has become a socio-economic institution. This study aims to analyze the unit cost of appendectomy surgery in operating room Dr. Mintohardjo Navy Hospital in 2017 by calculating direct and indirect costs. This research is a descriptive operational research, analyzes the unit cost of appendectomy in the operating room in 2017. The analytical method used is a simple distribution method. The results of the study are the investment costs of appendectomy is Rp. 26,280,456, or 5.2% of the total cost of appendectomy. Operational costs are the biggest costs compared to investment costs and maintenance costs, which amounted to Rp 420,142,348, or 83.7% of the total cost of appendectomy and maintenance costs is Rp 1,992,830, - or 0.4%, cost allocation supporting units for appendectomy is Rp. 52,313,904, - or 10.4% and allocation of other indirect costs amounting to Rp 1,430,090, - or 0.3%. The total cost of appendectomy is Rp. 502,159,628, - the actual unit cost of appendectomy is Rp. 3,025,058. Cost Recovery Rate (CRR) which amount to 109,07%. Unit cost calculation is the initial strategy of each service tariff calculation. Keywords : Unit cost, appendectomy surgery, simple distribution method
Read More
B-2055
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Budiyanto Nagawidjaja; Pembimbing: Ronnie Rivany
B-417
Depok : FKM UI, 2000
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Astuty; Pembimbing: Purnawan Junadi
B-430
Depok : FKM UI, 2000
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Reynaldi Fattah Zakaria; Pembimbing: Mardiati Nadjib; Penguji: Amal Chalik Sjaaf, Atik Nurwahyuni, Muhammad Helmi; Purwa Kurnia Sucahya
Abstrak:
Semasa Pandemi COVID-19, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menetapkan RSKD Duren Sawit menjadi rumah sakit rujukan untuk merawat pasien COVID-19. Dan pada tahun 2022, RSKD Duren Sawit telah resmi mengadakan layanan kamar operasi. Akibat urgensi permintaan layanan kamar operasi yang lebih lengkap, penentuan tarif kamar operasi dilakukan dengan mengadaptasi tarif RSUD lain dan Peratuan Gubernur DKI Jakarta. Terdapat selisih biaya yang sangat besar antara tarif rumah sakit dan tarif klaim INA-CBGs, khususnya pada tindakan debridemen bedah yang dilakukan di kamar operasi. Salah satu faktor yang menyebabkan selisih biaya adalah belum ditetapkannya tarif tindakan debridemen berdasarkan komponen biaya satuan (unit cost). Mengetahui unit-cost debridemen di kamar operasi sesuai dengan biaya per-aktivitas. Desain penelitian ini adalah cohort retrospective. Aktivitas tindakan debridemen dikumpulkan melalui pengamatan langsung dan laporan operasi pasien. Kemudian melakukan perhitungan unit cost berdasarkan activity-based costing. Unit cost tindakan debridemen dengan anastesi TIVA adalah Rp. 3.189.185, dengan anastesi spinal adalah Rp. 3.169.460, dan dengan anastesi blok perifer adalah Rp. 3.305.072. Hasil perhitungan unit cost lebih rendah dibandingkan tarif rumah sakit untuk tindakan debridemen leher dan mediastinitis. Namun untuk tindakan debridemen oleh bedah umum dan bedah mulut, unit cost lebih tinggi.

During the COVID-19 Pandemic, The Government of DKI Jakarta established the Duren Sawit RSKD as a referral hospital to treat COVID-19 patients. And in 2022, RSKD Duren Sawit has officially held operating room services. Due to the urgency demand for more complete operating room services, the determination of operating room rates is carried out by adapting the other hospitals and The Governor Regulation of DKI Jakarta. There is a huge difference in costs between the hospital rates and the INA-CBGs claim rates, especially for surgical debridement performed in the operating room. One of the factors causing the difference is the undetermined cost for debridement based on the unit cost component. Knowing the unit-cost debridement in the operating room according to the cost per activity. The study design was a retrospective cohort. Debridement action activities were collected through direct observation and patient operation reports. Then perform unit cost calculations based on activity-based costing. The unit cost of debridement with TIVA anesthesia is Rp. 3.189.185, with spinal anesthesia is Rp. 3.169.460, and with peripheral block anesthesia is Rp. 3.305.072. The unit cost calculation results are lower than hospital rates for neck debridement and mediastinitis. However, for debridement by general surgery and oral surgery, the unit cost is higher.
Read More
B-2342
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Elyana Sri Sulistyowati; Pembimbing: Mardiati Nadjib; Penguji: Amal Chalik Sjaaf, Dumilah Ayuningtyas, Megraini, Juli Prapancha Satar
Abstrak:

Abstrak

Pembatalan operasi elektif di RSUP Dokter Kariadi, sebesar 6,49% di atas angka standar tahun 2012 ( ≤ 5% ). Pembatalan operasi elektif dapat menyebabkan ketidakpuasan pasien, peningkatan biaya, lama rawat pasien di rumah sakit, dan mencerminkan inefisiensi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan pembatalan operasi elektif. Sebanyak 6,8 % operasi elektif dibatalkan karena alasan medis 106 (46,1%) dan non medis 124 (53,9%). Pembatalan operasi berhubungan dengan kondisi pasien, hasil laboratorium tidak normal, dan kesiapan operator. Sehingga disarankan untuk dikembangkan klinik pra bedah.


Cancellation of elective surgery at Doctors Hospital Kariadi, amounting to 6.49% is still above the standard ( ≤ 5% ). Cancellation of elective surgery could lead to patient dissatisfaction, increased costs, length of stay and reflects the inefficiency. This study aims to determine the factors associated with the cancellation of elective surgery. 6.8 % elective operations were canceled due to medical reasons (46.1%) and non-medical (53.9%). Cancellation of operations related to the patient's condition, abnormal laboratory results, and operator. It is suggested to develop pre ? surgery clinic.

Read More
B-1495
Depok : FKM-UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Virna Wita; Pembimbing: Hendrik M. Taurany; Penguji: Amal Chalik Sjaaf, Wahyu Sulistiadi, Budi Hartono
Abstrak:

Dalam era globalisasi tumbuhnya rumah sakit menyebabkan terjadinya kompetisi antar rumah sakit yang makin keras untuk dapat merebut pasar yang semakin terbuka lebar. Hal ini mendorong pihak rumah rumah sakit maupun stakeholder untuk menghitung secara riil berapa biaya pelayanan yang dibutuhkan sehingga dapat menjadi alat dalam pembiayaan pelayanan kesehatan tanpa mengurangi mutu pelayanan yang diberikan, yaitu dengan melakukan analisis perhitungan biaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besaran biaya satuan tindakan appendiktomi akut di kamar operasi rumah sakit X dengan menghitung biaya langsung dan tidak langsung yang terjadi. Penelitian ini merupakan penelitian operational research dan bersifat deskriptif analisis dengan menggunakan data sekunder rumah sakit tahun 2010 di RS X Jakarta. Metode perhitungan biaya menggunakan metode ABC (Activity Based Costing) dan distribusi sederhana. Metode ABC untuk mengalokasikan biaya langsung dengan menghitung biaya dari kegiatan yang terjadi menggunakan cost driver berdasarkan waktu kegiatan. Metode distribusi sederhana untuk mengalokasikan biaya tidak langsung yang secara tidak langsung terlibat dalam pelayanan appendiktomi dengan melakukan pendistribusian biaya dari unit penunjang ke unit produksi (kamar operasi). Biaya satuan aktual appendiktomi sebesar Rp. 5.344.551,48,- dan biaya satuan normatif sebesar Rp. 5.312.912,-. Biaya operasional jasa medis dan paramedis merupakan biaya yang terbesar.


 In an era of growing globalization of the hospital which led to competition among hospitals is increasingly more difficult to capture the wide open market. This prompted the hospital as well as the stakeholders to quantify how much the real cost of services is needed, and could be a reference tool in health care financing without reducing the quality of service provided by analyzing the cost calculation. The objective of this study is to determine the amount of unit cost in acute appendectomy surgery at operating room of hospital X by calculating the direct costs and indirect costs. This research type is operational research and descriptive analysis by using secondary data from hospital X Jakarta for the year 2010. Methods of cost calculation are ABC (Activity Based Costing) and simple distribution. ABC method is used for allocating direct costs by calculating the cost of activities that occur using time-based cost driver activity. Simple distribution method is used for allocating indirect costs that are not directly involved in appendectomy service by distribution of unit costs which supports the production unit (operating room). Actual unit cost of appendectomy surgery is Rp. 5.344.551,48, - and normative unit cost is Rp. 5.312.912, -. Operational costs of medical and paramedical consumable materials become the largest consumption.

Read More
B-1399
Depok : FKM UI, 2012
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive