Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 31487 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Ananda; Pembimbing: Nurhayati Adnan; Penguji: Helda, Zayanah, Darus Sahmedi
Abstrak:

ABSTRAK Nama : Ananda Program Studi : Epidemiologi Komunitas Judul : Hubungan Insiasi Menyusu Dini (IMD) terhadap Kejadian Pneumonia Balita Usia 2-23 Bulan di Poli MTBS Puskesmas Kecamatan Kalideres Tahun 2018 Pembimbing : drg. Nurhayati A. Prihartono, MPH, M.Sc., ScD Kolostrum merupakan cairan ASI pertama yang kaya akan protein dan mengandung zat antibodi atau kekebalan tubuh yang berfungsi melindungi tubuh terhadap infeksi. Pneumonia merupakan salah satu penyebab utama kemantian balita. Masih sedikitnya penelitian mengenai hubungan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) terhadap kejadian pneumonia balita menjadi alasan dilakukannya penelitian ini. Penelitian yang melihat hubungan IMD terhadap kejadian pneumonia balita usia 2-23 bulan di Poli MTBS Puskesmas Kecamatan Kalideres tahun 2018 ini menggunakan desain kasus kontrol. Sampel penelitian adalah 62 kasus dan 62 kontrol. Dari hasil penelitian didapatkan hubungan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) terhadap kejadian pneumonia balita usia 2-23 bulan di Poli MTBS Puskesmas Kecamatan Kalideres Tahun 2018 dengan OR 2,527 (95% CI 1,173 – 5,364). Artinya, balita usia 2-23 bulan yang tidak melakukan IMD memiliki risiko 2,527 kali lebih besar menjadi sakit pneumonia dibandingkan dengan balita usia 2-23 bulan yang melakukan IMD Kata kunci: IMD, MTBS, Pneumonia Balita


ABSTRACT Name : Ananda Study Program : Epidemiology Community Title : Relation of Early Breastfeeding’s Initiation to Pneumonia among 2-23 Months Infants on MTBS at Kalideres Public Health Center 2018 Counsellor : drg. Nurhayati A. Prihartono, MPH, M.Sc., ScD Colostrum is the first breast milk that rich in protein and contains antibodies or immune serving as bodies protection against infection. Pneumonia is one of main causes of death among infants. Fewer researchers on relation of early breastfeeding’s initiation to pneumonia among infants was the reason for this study. This research sees relation of early breastfeeding’s initiation to pneumonia among 2-23 months infants on MTBS at Kalideres public health center 2018 by using case control method. Samples of this research are 62 cases and 62 controls. Result of this research shows relation of early breastfeeding’s initiation to pneumonia among 2-23 infants on MTBS at Kalideres public health centers 2018 (OR 2,527 ; 95% CI 1,173 – 5,364). It means infants among 2-23 months without early initiation of brestfeeding have 2,527 times greater risks of pneumonia than infants among 2-23 months with early initiation of brestfeeding. Key words: Early Initiation, Breastfeeding, Pneumonia, Infants

Read More
T-5174
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Afrida Fitri; Pembimbing: Asri C. Adisasmita; Penguji: Ratna Djuwita Hatma, Eti Rohati
S-9674
Depok : FKM UI, 2018
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ananda; Pembimbing: Helda; Penguji: Renti Mahkota, Umie Kulsum
S-5833
Depok : FKM-UI, 2009
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Saleh Budi Santoso; Pembimbing: Helda; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Rusli
Abstrak: Abstrak

Pneumonia merupakan penyebab kematian terbesar pada anak di seluruh dunia. Setiap tahunnya diestimasikan sekitar 18% kematian anak di bawah usia 5 tahun di seluruh dunia disebabkan oleh pneumonia. Faktor risiko pasti yang berkontribusi diantaranya yaitu balita yang tidak mendapatkan ASI eksklusif.

Tujuan studi ini untuk mengetahui hubungan pemberian ASI eksklusif terhadap kejadian pneumonia balita usia 12 -23 bulan setelah dikontrol terhadap confounder. Studi kasus kontrol ini dilakukan di tiga wilayah puskesmas Kota Cimahi berdasarkan angka insidens kasus pneumonia balita yang tertinggi di tahun 2012. Kasus adalah balita usia 12 - 23 bulan yang berkunjung ke sarana puskesmas penelitian periode Januari - Desember 2012 dan didiagnosa sebagai kasus pneumonia. Kontrol merupakan tetangga dari kasus, dengan perbandingan jumlah kasus dan kontrol yaitu 1:1. Besar sampel minimal sebanyak 133 untuk masing - masing kelompok. Analisis multivariat dengan menggunakan regresi logistik. Besar asosiasi balita yang tidak mendapat ASI eksklusif memiliki OR untuk terjadinya pneumonia sebesar 3,58 kali (95% CI: 2,08 - 6,19) dibandingkan yang mendapat ASI eksklusif setelah dikontrol terhadap confounder.

Penelitian ini memperkuat penelitian terdahulu yang membuktikan kekuatan hubungan pemberian ASI eksklusif terhadap kejadian pneumonia pada balita. Berfokus pada daerah dengan angka insiden kasus penumonia yang tinggi, pihak dinas kesehatan dan puskesmas dapat lebih meningkatkan upaya promosi dan fasilitasi ASI eksklusif, menciptakan kawasan tanpa asap rokok di tingkat rumah tangga, pengurangan adanya paparan asap pembakaran di dalam rumah, peningkatan pengetahuan ibu berkaitan faktor risiko pneumonia.


Pneumonia is the biggest cause of death in children worldwide. Each year approximately 18% of estimated deaths of children under five worldwide are caused by pneumonia. Definite risk factors that contribute to them are children under five who are not exclusively breastfed.

The purpose of this study to determine the relationship of exclusive breastfeeding on the incidence of pneumonia children under five age 12 -23 months after controlling for confounders.Case-control study was conducted in three areas of public health centers Cimahi City based incidence rates were highest children under five cases of pneumonia in 2012. Cases were children aged 12-23 months who visited the research public health centers means the period of January to December 2012 and was diagnosed as a case of pneumonia. Control is a neighbor of the case, the ratio of the number of cases and controls is 1:1. Minimum sample size for each of as many as 133 - each group. Multivariate analysis using logistic regression. Major association children under five who are not exclusively breastfed for the occurrence of pneumonia had an OR of 3.58 (95% CI: 2.08 to 6.19) than those who are breastfed exclusively after controlling for confounders.

This study reinforces previous research that proves the strength of association of exclusive breastfeeding on the incidence of pneumonia in infants. Focusing on areas with a number of high incidence of cases of pneumonia, the health department and public health center could further enhance the promotion and facilitation of exclusive breastfeeding, creating a smoke-free area at the household level, reduction in exposure to combustion fumes in the house, increasing maternal knowledge of risk factors associated pneumonia.

Read More
T-3824
Depok : FKM-UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sumarno; Pembimbing: Helda; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Siti Maskanah, Sigit Darmanto
Abstrak: Pneumonia merupakan pembunuh utama balita di dunia, lebih banyak dibandingkan penyakit lain seperti AIDS, Malaria dan Campak. Riskesdas 2013, menyebutkan insiden pneumonia di provinsi DKI Jakarta adalah 2,4%, prevalensi pneumonia sebesar 5,9%. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan pola menyusui terhadap kejadian pneumonia pada balita 6-24 bulan setelah dikontrol kovariat (umur, jenis kelamin, Berat badan lahir, pertambahan berat badan hamil, pendidikan ibu, pemberian vitamin A dan adanya anggota keluarga perokok). Penelitian dilakukan dari bulan Mei-Juni di Jakarta Pusat. Desain dalam penelitian ini kasus kontrol. Kasus adalah balita usia 6-24 bulan yang menderita pneumonia. kontrol adalah balita tetangga terdekat 6-24 bulan yang tidak menderita pneumonia. Sampel sebanyak 118 (kasus 59 dan kontrol 59). Analisis regresi logistik. Hasil penelitian OR = 3,528 (95%CI: 1,540-8,078). Balita yang tidak diberi ASI eksklusif berisiko 3,528 kali untuk menderita pneumonia dibandingkan balita yang mendapatkan ASI eksklusif saat 6 bulan pertama, setelah dikontrol adanya anggota keluarga perokok Kata kunci: Pola menyusui, pneumonia
Read More
T-4539
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Irwan Muryanto; Pembimbing: Helda, Asri C. Adisasmita; Penguji: Sudarto Ronoatmodjo, Sri Duryati Boedihardjo, Dien Sanyoto Besar
Abstrak:

Latar belakang: Inisiasi menyusu dini memberikan efek yang menentukan bagi kelanjutan pemberian ASI Eksklusif hingga 6 bulan pada bayi. Beberapa penelitian menyimpulkan bahwa bayi yang berhasil menyusu dalam satu jam pertama setelah lahir cenderung akan terus menyusu lebih lama. Satu jam pertama merupakan periode emas yang akan menentukan keberhasilan seorang ibu untuk dapat menyusui bayinya secara optimal. Keberhasilan memberikan ASI Eksklusif yang diawali oleh keberhasilan dalam memberikan kesempatan dalam satu jam pertama ini berkaitan dengan refleks menghisap (suckling reflex) pada bayi. Dimana pada jam-jam pertama setelah lahir refleks menghidap bayi sangat kuat dan setelah itu bayi akan tertidur (Sidi et al, 2007). Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui adanya pengaruh antara inisiasi menyusu dini terhadap kelangsungan pemberian ASI Eksklusif pada baya berusia 6 - 12 bulan di Kabupaten Kuantan Singingi. Metodologi: Penelitian merupakan studi observasional yang menggunakan desain kros seksional. Namun dalam penelitian ini terdapat variabel waktu yang merupakan periode follow up yang peroleh melalui recall (ingatan) responden. Temporal ambiguity dapat dihindari, karena event terjadi setelah exposure. Analisis dilakukan dengan life fable, uji log rank dan Kaplan Meier serta cox proportional hazard. Hasil dan Pembahasan: Inisiasi menyusu dini di Kabupaten Kuantan Singingi dilakukan bervariasi dengan waktu tercepat 15 menit setelah bayi lahir. Sebagian besar (73,1 %) bayi di Kabupaten Kuantan Singingi baru diberikan kesempatan untuk inisiasi menyusu dini > 1 jam setelah lahir, sedangkan bayi yang diberikan kesempatan menyusu pada < 1 jam pertama setelah lahir 26,9%. Ini jauh lebih besar dari angka nasional yang baru mencapai 3,7%. Ini dimungkinkan terjadi karena tingkat pandidikan dan sosial ekonomi masyarakat yang relatif lebih baik serta low birth weight yang sangat kecil. Rata - rata pemberian ASI Eksklusif bayi usia 6-12 di Kabupaten Kuantan Singingi 6,23 minggu (1,51 bulan). Jika merujuk pada standar yang ditetapkan Depkes RI (6 bulan), maka pemberian ASI eksklusif di Kabupaten Kuantan Singingi 4,49 bulan jauh dibawah yang diharuskan. Bayi yang inisiasi menyusu dini < 1 jam cenderung lebih lama menyusu secara eksklusif dibandingkan >1 jam (p=O,OOO). Dari pengujian hazard ralio bayi yang inisiasi menyusu dini 1 jam (HRcrude 5,17 dan HRadjusted 4,98). Hasil ini sama dengan penelitian yang dilakukan Fikawati dan Syafiq tahun 2003 menyebutkan bahwa bayi yang diberikan kesempatan untuk menyusu dini delapan kali akan lebih berhasil menyusu ASI eksklusif. Kesimpupan: Inisiasi menyusu dini merupakan faktor yang mempengaruhi kelangsungan pemberian ASI Eksklusif pada bayi 6 - 12 bulan dengan HRadjusted 4,98 (95% CI 3,74-6,64). Hanya 11,50% bayi di Kabupaten Kuantan Singingi diberikan ASI Eksklusif hingga 26 minggu (6 bulan), pemberian ASI eksklusif menurun drastis pada akhir 4 bulan.


Background: Early Innitiation of Breastfeeding have a significant effect in determining the continuity of Exclusive Breastfeeding for 6 months period of the infant. A few study concluded that infant who succeed breastfeed for the first hour of birth tend to continue breastfeed for a long period. The first hour of birth is a golden period which will determine the succeed of mother in breastfed the infant optimally. The Succeed of Exclusive Breastfeeding is innitiate with succeed of giving the first hour of birth as a chance for the infant to suck the nippJe in order to develop the suckling reflex. In the first hour of birth the infant has a powerfull suckling reflex, and after that the infant will fall asleep (Sidi et al, 2007). This study is conduct to investigate the effect of early innitiation on the continuity of administering exclusive breatfeeding for the 6-12 months infant in Kuantan Singingi District. Metodology: This study is an observasional study which used cross-sectional design. However this study has a time variable which is follow up period taken through the recall of the respondents. Temporal Ambiguity can be reside, because the event is happened after the exposure. The analysis of the study is conduct through life table, log rank test, Kaplan Arfeir and Cox Proportional Hazard. Results and Discussion: EarJy innitiation of beastfeeding in Kuantan Singingi District is conduct varied with shortest time is 15 minutes after the infant is gavebirth. Most of the infant in Kuantan Singingi District (73,1%) is let to innitiate the breastfeed after 1 hour nf birth, meanwhie infant who let to have breastfeed before the first I hour of birth is 26,9%. This number is bigger than National number which reach 3.7%. This is possible because the education and socioeconomic level ofthe society is higher and the low birth weight infants is lower. The mean of exclusive breastfeeding upon the 6-12 months old baby in Kuantan Singingi Districts is 6,23 weeks (l,51 months). Referred to the standard setting by Department of health (6 months), the mean of Exclusive Breastfeeding in Kuantan Singingi is 4,49 months below the standard setting. The infant who innitiate the early breastfeed before 1 hour afterbirth is tend to have longer exclusive breasfeeding period compare with more than 1 hour after birth. Based on the Hazard test, the ratio of infant innitiating of early breastfeeding before and 1 hour of time breastfeed exclusively longer compared with more than 1 hour afterbirth. (BRerude 5.17 and HRacijusled 4.98). This result is similar with the study conducted by Pikawati and Syafiq in 2003 which showed that the infant let to have earJy breastfeed 8 times will more succeed in Exclusive breastfeed. Conclusions: Early innitiation of breastfeeding is a factor influencing a continuity of Exclusive breastfeeding on the 6-12 months old baby with HRadjusled 4,98 (95% CI 3.74-6.64). Only 11.50% infants Kuantan Singingi District is given exclusive beastfeading until 26 weeks old (6 months), Exclusive breasfeeding is decreasing dramatically in the end of 4 months.

Read More
T-2781
Depok : FKM-UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Irwan Muryanto; Pembimbing: Helda; Asri C. Adisasmita; Penguji: Sudarto Ronoatmodjo, Sri Duryati Boedihardjo, Dien Sanyoto Besar
Abstrak:

Latar belakang: Inisiasi menyusu dini memberikan efek yang menentukan bagi kelanjutan pemberian ASI Eksklusif hingga 6 bulan pada bayi. Beberapa penelitian menyimpulkan bahwa bayi yang berhasil menyusu dalam satu jam pertama setelah lahir cenderung akan terus menyusu lebih lama. Satu jam pertama merupakan periode emas yang akan menentukan keberhasilan seorang ibu untuk dapat menyusui bayinya secara optimal. Keberhasilan memberikan ASI Eksklusif yang diawali oleh keberhasilan dalam memberikan kesempatan dalam satu jam pertama ini berkaitan dengan refleks menghisap (suckling reflex) pada bayi. Dimana pada jam-jam pertama setelah lahir refleks menghidap bayi sangat kuat dan setelah itu bayi akan tertidur (Sidi et al, 2007). Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui adanya pengaruh antara inisiasi menyusu dini terhadap kelangsungan pemberian ASI Eksklusif pada baya berusia 6 - 12 bulan di Kabupaten Kuantan Singingi. Metodologi: Penelitian merupakan studi observasional yang menggunakan desain kros seksional. Namun dalam penelitian ini terdapat variabel waktu yang merupakan periode follow up yang peroleh melalui recall (ingatan) responden. Temporal ambiguity dapat dihindari, karena event terjadi setelah exposure. Analisis dilakukan dengan life fable, uji log rank dan Kaplan Meier serta cox proportional hazard. Hasil dan Pembahasan: Inisiasi menyusu dini di Kabupaten Kuantan Singingi dilakukan bervariasi dengan waktu tercepat 15 menit setelah bayi lahir. Sebagian besar (73,1 %) bayi di Kabupaten Kuantan Singingi baru diberikan kesempatan untuk inisiasi menyusu dini > 1 jam setelah lahir, sedangkan bayi yang diberikan kesempatan menyusu pada < 1 jam pertama setelah lahir 26,9%. Ini jauh lebih besar dari angka nasional yang baru mencapai 3,7%. Ini dimungkinkan terjadi karena tingkat pandidikan dan sosial ekonomi masyarakat yang relatif lebih baik serta low birth weight yang sangat kecil. Rata - rata pemberian ASI Eksklusif bayi usia 6-12 di Kabupaten Kuantan Singingi 6,23 minggu (1,51 bulan). Jika merujuk pada standar yang ditetapkan Depkes RI (6 bulan), maka pemberian ASI eksklusif di Kabupaten Kuantan Singingi 4,49 bulan jauh dibawah yang diharuskan. Bayi yang inisiasi menyusu dini < 1 jam cenderung lebih lama menyusu secara eksklusif dibandingkan >1 jam (p=O,OOO). Dari pengujian hazard ralio bayi yang inisiasi menyusu dini 1 jam (HRcrude 5,17 dan HRadjusted 4,98). Hasil ini sama dengan penelitian yang dilakukan Fikawati dan Syafiq tahun 2003 menyebutkan bahwa bayi yang diberikan kesempatan untuk menyusu dini delapan kali akan lebih berhasil menyusu ASI eksklusif. Kesimpupan: Inisiasi menyusu dini merupakan faktor yang mempengaruhi kelangsungan pemberian ASI Eksklusif pada bayi 6 - 12 bulan dengan HRadjusted 4,98 (95% CI 3,74-6,64). Hanya 11,50% bayi di Kabupaten Kuantan Singingi diberikan ASI Eksklusif hingga 26 minggu (6 bulan), pemberian ASI eksklusif menurun drastis pada akhir 4 bulan.


Background: Early Innitiation of Breastfeeding have a significant effect in determining the continuity of Exclusive Breastfeeding for 6 months period of the infant. A few study concluded that infant who succeed breastfeed for the first hour of birth tend to continue breastfeed for a long period. The first hour of birth is a golden period which will determine the succeed of mother in breastfed the infant optimally. The Succeed of Exclusive Breastfeeding is innitiate with succeed of giving the first hour of birth as a chance for the infant to suck the nippJe in order to develop the suckling reflex. In the first hour of birth the infant has a powerfull suckling reflex, and after that the infant will fall asleep (Sidi et al, 2007). This study is conduct to investigate the effect of early innitiation on the continuity of administering exclusive breatfeeding for the 6-12 months infant in Kuantan Singingi District. Metodology: This study is an observasional study which used cross-sectional design. However this study has a time variable which is follow up period taken through the recall of the respondents. Temporal Ambiguity can be reside, because the event is happened after the exposure. The analysis of the study is conduct through life table, log rank test, Kaplan Arfeir and Cox Proportional Hazard. Results and Discussion: EarJy innitiation of beastfeeding in Kuantan Singingi District is conduct varied with shortest time is 15 minutes after the infant is gavebirth. Most of the infant in Kuantan Singingi District (73,1%) is let to innitiate the breastfeed after 1 hour nf birth, meanwhie infant who let to have breastfeed before the first I hour of birth is 26,9%. This number is bigger than National number which reach 3.7%. This is possible because the education and socioeconomic level ofthe society is higher and the low birth weight infants is lower. The mean of exclusive breastfeeding upon the 6-12 months old baby in Kuantan Singingi Districts is 6,23 weeks (l,51 months). Referred to the standard setting by Department of health (6 months), the mean of Exclusive Breastfeeding in Kuantan Singingi is 4,49 months below the standard setting. The infant who innitiate the early breastfeed before 1 hour afterbirth is tend to have longer exclusive breasfeeding period compare with more than 1 hour after birth. Based on the Hazard test, the ratio of infant innitiating of early breastfeeding before and 1 hour of time breastfeed exclusively longer compared with more than 1 hour afterbirth. (BRerude 5.17 and HRacijusled 4.98). This result is similar with the study conducted by Pikawati and Syafiq in 2003 which showed that the infant let to have earJy breastfeed 8 times will more succeed in Exclusive breastfeed. Conclusions: Early innitiation of breastfeeding is a factor influencing a continuity of Exclusive breastfeeding on the 6-12 months old baby with HRadjusled 4,98 (95% CI 3.74-6.64). Only 11.50% infants Kuantan Singingi District is given exclusive beastfeading until 26 weeks old (6 months), Exclusive breasfeeding is decreasing dramatically in the end of 4 months.

Read More
T-2781
Depok : FKM-UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Reynie Purnama Raya; Pembimbing: Syarizal Syarief; Penguji: Yovsyah, Bagus Satriya Budi, Enung Hasanah
Abstrak:

Inisiasi Menyusu Dini (IMD) merupakan salah satu istilah baru yang digunakan untuk pemberian ASI satu jam pertama setelah melahirkan. Bila pemberian ASI satu jam pertama tidak memberikan kesempatan pada bayi untuk mencari sumber makanannya sendiri, tata laksana IMD memungkinkan bayi untuk merangkak diatas dada ibunya dan berusaha mencapai puting susu ibunya sendiri. Faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian ASI 1 jam setelah melahirkan adalah pengetahuan ibu, pelayanan kesehatan pada waktu hamil, dan persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan. Sedangkan faktor yang dominan adalah penolong persalinan dan tenaga periksa hamil. Ketidakberdayaan ibu melahirkan menjadikan ibu berperilaku pasif terhadap apa yang dilakukan padanya dan bayinya sesaat setelah melahirkan membuat bidan sebagai tenaga penolong pesalinan mempunyai peranan penting dalam memberikan dukungan pada ibu untuk melaksanakan IMD. Namun hingga saat ini belum tersedia informasi akurat dari faktor tenaga kesehatan pemeriksa kehamilan maupun penolong persalinan?dalam hal ini bidan?yang dapat mendukung keberhasilan pelaksanaan IMD oleh ibu melahirkan dan bayi yang dilahirkannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran sikap bidan terhadap IMD. Triagulasi metode digunakan dalam penelitian ini, dimana dipakai dua jenis penelitian yaitu penelitian kualitatif dan kuantitatif. Enam informan diwawancara untuk penelitian kualitatif dan 162 responden disurvei dalam penelitian kuantitatif. Dari penelitian kualitatif didapatkan informasi bahwa sebagian besar informan mendukung pelaksanaan IMD dan berpendapat bahwa IMD penting dan bermanfaat bagi ibu dan bayi. Dari penelitian kuantitatif, didapatkan persentase bidan yang kurang mendukung pelaksanaan IMD (54,4%) lebih tinggi dibandingkan yang mendukung pelaksanaan IMD (45,6%). Faktor yang berhubungan dengan sikap bidan terhadap IMD adalah dukungan rekan kerja bidan pada pelaksananaan IMD.


Initiation of Breasfeeding (IBF) is a term that is used for giving breastmilk within one hour after delivery. In the early detachment, a baby wasn?t given any chance to find his own source of food, but in IBF, the baby had the opportunity to crawl on his mother's chest and find his mother?s nipple by himself. Factors that related with breastfeeding within one hour after delivery are mother's knowledge, ante natal care, and delivery helped by health care workers. Moreover, the dominant factors are birth attendant and ante natal care attendant. Physical tiredness after birth makes the mother become very passive to everything done to her and her baby. This situation makes midwife, as birth attendant has big role to support the mother and the baby to do IBF. But until recently, there is no information avalaible about birth attendant and ante natal attendant midwife which can support the successful of IBF. This study was done to determine the midwives attitude towards IBF. Triagulation method was used in this study. Six informen was interviewed in the qualitative method and 162 respondents filled self administered questioners in the quantitative method. Base on the indepth interview, most of the informen show positive attitude towards IBF and claimed that IBF was important and had advantages for both the mother and the baby. Moreover, the survey showed 54,4% respondents had the negative attitude towards IBF and there was significant relationship between peer support for midwife to their attitude towards IBF (p value=0,018).

Read More
T-2983
Depok : FKM-UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nurahasni Mn Harun: Pembimbing: Lukman Hakim Taringan; Penguji: Narsin Kodim, Mondastri Korib Sudaryo, Sutrisno, Ina Hernawati
Abstrak:
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) terutama pneumonia merupakan penyebab utama kesakitan dan kematian pada bayi dan anak balita di negara berkembang termasuk Indonesia. Setiap tahun dari 15 juta kematian yang diperkirakan terjadi dikalangan anak dibawah usia lima tahun (balita) kira -kira 4 juta kematian (26,6%) di sebabkan oleh penyakit ISPA terutama pneumonia. Tingginya angka kematian tersebut maka WHO dan UNICEF mengembangkan suatu strategi yang disebut Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) yang merupakan upaya kuratif sekaligus upaya promotif dan preventif. MTBS dirancang untuk memadukan pendekatan 6 penyakit utama yaitu Pneumonia, Diare, Malaria, DBD, Campak, penyakit telinga serta malnutrisi dan anemia pada balita dengan menggunakan algoritma untuk menilai dan mengklasifikasikan balita sakit, yang prinsipnya untuk memperbaiki kualitas pelayanan kesehatan pada balita sakit secara menyeluruh tidak terpisah-pisah antara satu gejala dengan gejala yang lain. Pendekatan MTBS di Kab. Donggala di mulai tahun 1999 dengan uji coba 4 puskesmas yang hasilnya dapat meningkatkan cakupan penemuan kasus penumonia dari 69% pada tahun 1998 menjadi 86% tahun 1999 dan 109,9% pada tahun 2000. Namun keberhasilan puskesmas dengan pendekatan MTBS dalam meningkatkan kesembuhan pneumonia balita belum dapat dievaluasi terutama di tingkat pelaksanaan baik terhadap masalah petugas dan pasien pada tatalaksana standar. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh talakasana penumonia balita terhadap kesembuhan penderita di puskesmas MTBS Kabupaten Donggala Propinsi Sulawesi Tengah Tabun 2001. Studi ini menggunakan desain kohor prospektif yang mengevaluasi tatalaksana pengobatan kasus pneumonia di puskesmas MTBS dan membandingkan dengan puskesmas non MTBS selanjutnya melihat perkembangan penderita pada hari ke 6 pengobatan. dan mengadakan wawancara dengan menggunakan kuesioner pada ibu balita, Analisa data meliputi univariat, bivariat, dan multivariat. Hasil studi menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara puskesmas MTBS dan non MTBS terhadap tingkat kesembuhan p=0,002. dan hubungan yang bermakna antara tatalaksana kasus pneumonia di puskesmas MTBS berupa pemberian dosis obat dan cara pemberian obat terhadap kesembuhan masing-masing nilai p=0,000, serta penelitian ini juga menunjukkan hubungan yang bermakna antara variabel imunisasi (p=0,001), gizi (p=0,001), pendidikan (p=0,033) dan kepatuhan (p=0,000) terhadap kesembuhan penderita penumonia dan pada akhir analisa ditemukan bahwa balita yang menderita pneumonia pada puskesmas MTBS memiliki risiko untuk sembuh sebesar 2.14 kali lebih dibandingkan dengan balita pada puskesmas non MTBS. Dari hasil penelitian ini disarankan pendekatan MTBS perlu dipertimbangkan pada puskesmas -puskesmas ke Kab. Donggala yang belum melaksanakan, selain itu kegiatan program imunisasi dan perbaikan gizi perlu ditingkatkan melalui kegiatan di posyandu dan penyuluhan gizi pada ibu balita, pemanfaatan pekarangan, sementara program imunisasi selain diposyandu juga diupayakan melalui kegiatan sweeping imunisasi serta perlunya konseling bagi ibu balita di puskesmas khususnya puskesmas non MTBS.

Effect of Pneumonia under fives Manner to recovery patient level in Health Center with MTBS strategy approach in Donggala District of Central Sulawesi Province in 2001Acute Respiratory Infection (ARI) especially pneumonia represents main causes of Mortality and morbidity under fives in the developing country including Indonesia. Every year from 15 million under five deaths that be contribute 4 million death (26,6%) caused by Acute Respiratory Infection (ARI) especially Pneumonia. The rising of that death number so WHO and UNICEF develop a new strategy named Integrated Management of Childhoods Illness (IMCI), which represent curative expedient also, promotive expedient and preventive. IMCI designed to meet of 5 main disease among under five such as Pneumonia, Diarrhea, Dengue , Malaria, Measles, and Malnutrition using algorithm to estimate and classified the sick child, which the principle to revise the quality of medical services to the sick child with entirely way, not separated between one symptoms to another. Strategy approach of IMCI in Donggala district starting on 1999 with testing in 4 health centers, the result can increase the Pneumonia coverage from 69% on 1998 to 86% on 1999 and 109,9% on 2000. In spite of the successful of Strategy approach of IMCI in health center in increasing the children Pneumonia under five recoveries can not evaluated yet, especially on accomplishment level even to the officer problem and patient on standard manner. This study performed to know the effect of Pneumonia under five manners to the recovery patient level in health center with strategy approach of IMCI in Donggala district of Central Sulawesi Province on 2001. This study using Kohor prospective analytic design. Which evaluate and compare implementation of Standard case Management Of ARI (Pneumonia) between HC with IMCI approach and HC without that approach which looking the development of illness until sixth days therapy using questioner to perform deep interview the mother. The data analysis included univariat, bivariat, and multivariat. Study result showed there are significance relation between IMCI health center and non IMCI HC the recovery level of Pneumonia p = 0.002, and significance relation between manner of Standard Case Management of pneumonia in IMCI health center in shape of doses of medicine and the way of give the medicine to the each recoveries with each score p = 0,000, along with this study shows the meaningful relation between Immunization status (p = 0,001), Nutrition status (p = 0,001), Education status (p = 0.003) and Compliance rate (p = 0,000) to the recovery of pneumonia and at the end of the analysis found that under fives children which suffer pneumonia in IMCI health center have risk to recovery than about 2.14 times compared with the child in non IMCI health center. The result of this study suggested that strategy approach of IMCI considered in every health center in Donggala district which not performed will be implementation of IMCI approach, beside that immunization program activity and increasing nutrition status improvement through the activity in Posyandu (Integrated Health Post) and promotion of nutrition espionage to the mother, home garden using, mean while immunization program beside in posyandu also striven through immunization sweeping activity, also need of Health counseling for the mother in health center especially non-IMCI Health Center.
Read More
T-1095
Depok : FKM-UI, 2001
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dinda Harti Utami; Pembimbing: Asri C. Sasmita; Penguji: Syahrizal Syarif, Lennywati
S-10409
Depok : FKM UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive