Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 33558 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Humaira Anggie Nauli;Pembimbing: Endang Laksminingsih Achadi, Hardinsyah; Penguji: Triyanti, Fatmah, Rahmawati
T-5189
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dian Fitri Nurisfanti; Pembimbing: Sandra Fikawati; Penguji: Diah Mulyawati Utari, Fajrinayanti
Abstrak:
Anemia defisiensi zat besi merupakan kondisi anemia yang disebabkan oleh kekurangan zat besi, yang mengakibatkan kurangnya pasokan zat besi yang diperlukan untuk pembentukan sel darah merah (eritropoiesis). Anemia defisiensi besi memiliki dampak jangka pendek dan panjang, di antaranya menurunkan imunitas tubuh, mengganggu konsentrasi dan fokus, memperbesar risiko kematian saat melahirkan, memperbesar risiko melahirkan bayi dengan berat lahir rendah, hingga menyebabkan kematian. Dinas Kesehatan Kota Depok 2023 menyatakan bahwa prevalensi anemia remaja putri di Kota Depok adalah sebesar 36,34%, yang tergolong sebagai moderate public health problem menurut WHO. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan antara faktor-faktor risiko anemia terhadap status anemia remaja putri pada SMA negeri di wilayah Kota Depok tahun 2024. Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional dengan metode pengambilan sampelnya dengan metode quota sampling. Total responden penelitian adalah sebanyak 165 orang remaja putri dari kelas 10 dan 11. Data-data pada penelitian ini diambil dengan beberapa cara, di antaranya dengan antropometri, pengukuran kadar hemoglobin dengan Hemocue Hb 201+ System, food recall 2x24 jam, serta pengisian kuesioner. Data kemudian dianalisis secara univariat, bivariat dengan uji chi-square, hingga multivariat dengan uji regresi logistik berganda. Prevalensi anemia pada penelitian ini didapatkan sebesar 53,3% serta analisis bivariatnya menunjukkan terdapat hubungan antara asupan energi, asupan protein, asupan zat besi, asupan seng, asupan kalsium, konsumsi teh/kopi, siklus menstruasi, lama menstruasi, konsumsi TTD, status gizi, pengetahuan gizi, dan pendapatan orang tua remaja putri terhadap status anemia remaja putri di Kota Depok tahun 2024 (p-value < 0,005). Hasil analisis multivariat menunjukkan faktor yang paling dominan berpengaruh terhadap status anemia adalah asupan protein (OR = 6,18).

Iron deficiency anemia is a condition caused by a lack of iron, resulting in an insufficient supply of iron necessary for the formation of red blood cells (erythropoiesis). Iron deficiency anemia has both short-term and long-term impacts, including reduced immunity, impaired concentration and focus, increased risk of death during childbirth, higher risk of delivering low birth weight babies, and can even cause death. Depok’s Health Service in 2023 reported that the prevalence of anemia among female adolescents in Depok was 36,34%, categorized as a moderate public health problem according to WHO. The aim of this study was to determine the relationship between risk factors for anemia and anemia status among female adolescents at public high schools in Depok 2024. This study used a cross-sectional design with quota sampling for sample collection. The total number of respondents was 165 female adolescents from grades 10 and 11. Data in this study were collected through various methods, including anthropometry, hemoglobin level measurement with the Hemocue Hb 201+ System, 2x24 hour food recall, and questionnaires. The data were then analyzed using univariate, bivariate analysis with chi-square test, and multivariate analysis with multiple logistic regression test. The prevalence of anemia found in this study was 53.3%, and bivariate analysis showed a relationship between energy intake, protein intake, iron intake, zinc intake, calcium intake, tea/coffee consumption, menstrual cycle, duration of menstruation, iron supplement consumption, nutritional status, nutritional knowledge, and parents’ income with anemia status among female adolescents in Depok 2024 (p-value < 0.005). Multivariate analysis indicated that the most dominant factor affecting anemia status was protein intake (OR = 6.18).
Read More
S-11661
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sofiyeti; Pembimbing: Asih Setiarini; Penguji: Trini Sudiarti, Iskari Ngadiarti
S-5968
Depok : FKM-UI, 2010
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Maulida Awaliya Fitri; Pembimbing: Asih Setiarini; Penguji: Endang Laksminingsih Achadi, Andri Mursita
Abstrak: Anemia merupakan kondisi konsentrasi hemoglobin (hb) darah lebih rendah dari normal, dan telah memengaruhi berbagai populasi termasuk remaja putri. Remaja putri usia 10-14 tahun memiliki risiko tinggi untuk mengalami anemia yang dapat memengaruhi perkembangan kognitif dan motorik seperti gangguan kapasitas fisik dan kinerja dalam belajar. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui prevalensi anemia dan faktor-faktor yang berhubungan berdasarkan status menstruasi, perilaku konsumsi makanan hewani, perilaku konsumsi makanan berlemak, status gizi, perilaku konsumsi tablet tambah darah, status pendidikan, status pekerjaan ayah, dan daerah tempat tinggal pada remaja putri usia 10-14 tahun di Indonesia. Penelitian ini menggunakan data sekunder Riskesdas 2018 dengan desain studi cross sectional. Hasil penelitian menyatakan bahwa prevalensi anemia pada remaja putri usia 10-14 tahun di Indonesia sebesar 25,4%. Variabel yang berhubungan dengan kejadian anemia pada penelitian ini adalah status menstruasi (p value= 0,035) dan konsumsi makanan hewani (p value= 0,002). Perlu adanya program edukasi dan konseling remaja putri mengenai kesehatan seperti gizi seimbang dan anemia agar remaja putri lebih sadar akan kesehatannya.
Kata kunci: Anemia, remaja putri

Anemia is a condition of hemoglobin (hb) concentration lower than normal, and has affected various populations including adolescent girls. Adolescent girls ages 10-14 years have a high risk for anemia which can affect cognitive and motoric development such as impaired physical capacity and work performance. This study aims to determine the prevalence of anemia and related factors based on menstrual status, consumption of animal foods behavior, consumption of fatty food behavior, nutritional status, iron supplements consumption behavior, education status, father's employment status, and area of residence in adolescents girls ages 10-14 years in Indonesia. This study uses secondary data obtained from Riskesdas 2018 with a cross sectional study design. The results of the study stated that the prevalence of anemia in adolescent girls ages 10-14 years in Indonesia was 25.4%. Variables that have a significant relationship with the incidence of anemia in this study are menstrual status (p value = 0.035) and consumption of animal foods (p value = 0.002). It needs educational programs and counseling on health for adolescent girls such as balanced nutrition and anemia, so they can aware for their health.
Keywords: Anemia, adolescent girls
Read More
S-10516
Depok : FKM UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Farah Farhanah; Pembimbing: Asih Setiarini; Penguji: Kusharisupeni Djokosujono, Andri Mursita
Abstrak: Anemia merupakan salah satu penyebab dari sebagian permasalahan gizi di seluruh dunia,terutama di negara-negara berkembang seperti Indonesia. Menurut data Riskesdas,prevalensi kejadian anemia pada remaja putri di Indonesia sebesar 11,7% pada tahun 2007dan meningkat menjadi 22,7% pada tahun 2013. Penelitian ini bertujuan untukmengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian anemia pada remaja putriusia 15-18 tahun di Indonesia. Penelitian ini menggunakan studi cross-sectional yangmenggunakan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018. Sampel padapenelitian ini adalah seluruh remaja putri yang berusia 15-18 tahun. Jumlah sampelpenelitian sebanyak 1113 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensikejadian anemia pada remaja putri usia 15-18 tahun di Indonesia pada tahun 2018 sebesar28,4%. Hasil uji statistik menunjukkan hubungan yang signifikan antara status gizidengan kejadian anemia (p=0,030). Namun tidak terdapat hubungan yang signifikanantara konsumsi TTD, daerah tempat tinggal, paparan asap rokok, status pekerjaan ayah,pendidikan ibu, pendidikan remaja, dan jumlah anggota keluarga.Kata kunci:Anemia, Remaja Putri, Status Gizi.
Read More
S-10509
Depok : FKM-UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Inderiyani Zuhdi; Pembimbing: Yvonne Magdalena Indrawani; Penguji: Diah Mulyawati Utari, Ida Ruslita
S-6066
Depok : FKM UI, 2010
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rani Feriani; Pembimbing: Diah M. Utari
S-3814
Depok : FKM-UI, 2004
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nahsty Raptauli Siahaan; Pembimbing: Siti Arifah Pudjonarti; Penguji: Engkus Kusdinar Achmad, Rahmawati
S-6930
Depok : FKM UI, 2012
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Retno Andantya; Pembimbing: Asih Setiarini; Penguji: Siti Arifah Pujonarti, Fatimah Sulistyowati Sigit, Trini Sudiarti, Mutmainah Indriyati
Abstrak:
Anemia di Indonesia termasuk masalah kesehatan moderate. Pada remaja, kondisi anemia dapat menyebabkan penurunan perkembangan fisik, produktifitas, dan multiple intelegence, dimana kondisi tersebut dapat menurunkan prestasi belajar, lebih parahnya lagi status anemia pada remaja bisa berlanjut pada fase kehidupan selanjutnya. Indonesia merupakan negara dengan kondisi geografis yang beragam, sehingga dapat memberikan kesenjangan status kesehatan antara perdesaan dan perkotaan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada perbedaan faktor dominan status anemia remaja usia 10-18 tahun di perdesaan dan di perkotaan. Desain penelitian ini adalah cross-sectional menggunakan data sekunder SKI tahun 2023 yang dilakukan pada periode Juli 2025 sampai Juni 2026. Sampel pada penelitian ini adalah remaja putri usia 10-18 tahun yang menjadi responden SKI 2023 dan masuk kriteria inklusi dan eksklusi (n=1543). Proporsi anemia remaja putri di perdesaan adalah 21,1%, dan 19,8% di wilayah perkotaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara usia (OR=1,846; 95% CI: 1,227-2,867; p=0,004), status gizi (p=0,004), konsumsi TTD (OR=1,543; 95% CI: 1,025-2,323; p=0,038), dan asupan telur dan hasil olahannya (OR=1,602; 95% CI: 1,027-2,4999; p=0,038),  dengan status anemia remaja putri di perdesaan. Terdapat hubungan yang signifikan antara asupan kacang-kacangan biji-bijian dan hasil olahannya (OR=0,682; 95% CI: 0,468-0,994; p=0,046) dan pendidikan (p=0,043) dengan status anemia remaja putri di perkotaan. Faktor dominan status anemia remaja putri di perdesaan adalah usia dimana remaja putri usia 15-18 tahun memiliki odds mengalami anemia 3 kali dibanding usia 10-14 tahun. Sedangkan di perkotaan tidak ditemukan faktor dominan.

Anemia remains a moderate public health problem in Indonesia. Among adolescents, anemia may lead to impaired physical development, reduced productivity, and decreased multiple intelligences, which can negatively affect academic performance. More importantly, anemia during adolescence may persist into later stages of life. Indonesia's diverse geographical conditions may contribute to disparities in health status between rural and urban areas. This study aimed to examine differences in the dominant factors associated with anemia among female adolescents aged 10–18 years in rural and urban areas of Indonesia. This study employed a cross-sectional design using secondary data from the 2023 Indonesian Health Survey (Survei Kesehatan Indonesia/SKI). The study was conducted between July 2025 and June 2026. The study population consisted of female adolescents aged 10–18 years who participated in the 2023 SKI (n=1543). The prevalence of anemia among female adolescents was 21.1% in rural areas and 19.8% in urban areas.The results showed that age (OR = 1.846; 95% CI: 1.227–2.867; p = 0.004), nutritional status (p = 0.004), iron supplementation tablet (TTD) consumption (OR = 1.543; 95% CI: 1.025–2.323; p = 0.038), and egg and egg-product consumption (OR = 1.602; 95% CI: 1.027–2.499; p = 0.038) were significantly associated with anemia among female adolescents in rural areas. In urban areas, consumption of legumes, seeds, and their processed products (OR = 0.682; 95% CI: 0.468–0.994; p = 0.046) and educational level (p = 0.043) were significantly associated with anemia status among female adolescents. The dominant factor associated with anemia among female adolescents in rural areas was age, with adolescents aged 15–18 years having three times higher odds of experiencing anemia compared to those aged 10–14 years. In contrast, no dominant factor was identified among adolescent girls in urban areas.
Read More
T-7643
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Balqis Nisrina Safari; Pembimbing: Fathimah Sulistyowati Sigit; Penguji: Asih Setiarini, Try Nur Ekawati Lukman
Abstrak:
Menarche dini merupakan menstruasi pertama yang terjadi pada usia lebih awal dari usia normal dan dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan pada masa remaja maupun dewasa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan konsumsi UPF dan faktor lainnya dengan kejadian menarche dini pada remaja putri di Depok tahun 2026. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan metode stratified cluster sampling. Subjek penelitian adalah 128 siswi pada SD dan SMP terpilih di Kota Depok. Data dikumpulkan melalui pengukuran langsung (berat badan dan tinggi badan), wawancara (FFQ dan SQ-FFQ), dan kuesioner (karakteristik responden, YPAST-Ina, dan PAQ-C) menggunakan berbagai kuesioner yang telah disesuaikan dengan variabel penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumsi ultra-processed food (UPF) pada responden relatif seimbang antara kategori tinggi dan rendah. Rerata usia menarche responden adalah 10,95 ± 0,95 tahun. Sebagian besar responden (70,3%) mengalami menarche pada usia normal, sedangkan 29,7% mengalami menarche dini. Hasil analisis menunjukkan bahwa status gizi (IMT/U) memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian menarche dini (p=0,02), sedangkan faktor lainnya tidak menunjukkan hubungan yang signifikan (p>0,05). Oleh karena itu, upaya menjaga status gizi dalam kategori normal perlu menjadi perhatian untuk mendukung kesehatan dan perkembangan reproduksi remaja putri.

Early menarche is the onset of the first menstrual period at an earlier age than the normal age range and may increase the risk of various health problems during adolescence and adulthood. This study aimed to determine the association between ultra-processed food (UPF) consumption and other factors with early menarche among adolescent girls in Depok in 2026. This study employed a cross-sectional design with a stratified cluster sampling method. The study subjects consisted of 128 female students from selected elementary and junior high schools in Depok City. Data were collected through direct measurements (body weight and height), interviews using the FFQ and SQ-FFQ, and questionnaires on respondent characteristics, YPAST-Ina, and PAQ-C that were adapted to the study variables. The results showed that UPF consumption was relatively balanced between the high and low consumption categories. The mean age at menarche was 10.95 ± 0.95 years. Most respondents (70.3%) experienced menarche at a normal age, while 29.7% experienced early menarche. The analysis revealed that nutritional status (BMI-for-age) was significantly associated with early menarche (p=0.02), whereas the other factors showed no significant association (p>0.05). Therefore, maintaining a normal nutritional status should be prioritized to support the health and reproductive development of adolescent girls.
Read More
S-12336
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive