Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 38370 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Muhammad Lazuardi Pradivta Komara; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Doni Hikmat Ramdhan, Hendra, Bagus Tjahyono, Retno Anggraini
Abstrak: Indonesia menurut Geografi, geologi, hidrologi dan demografi merupakan negara yangrawan bencana baik dari bencana alam, non alam hingga faktor manusia. Salah satupermasalahan akibat bencana adalah pelayanan kesehatan termasuk rumah sakit. Masalahutama dari rumah sakit ketika terjadi bencana yaitu keberadaan kesiapan structural, non-struktural hingga kapasitas fungsional banyak yang tak berfungsi. Pan American HealthOrganization (PAHO) dan World Health Organization (WHO) telah mengembangkanHospital Safety Index (HSI) yang merupakan tools internasional dimana telah divalidasiuntuk penilaian standar dan perbandingan keselamatan rumah sakit . Tujuan penelitianini adalah mengetahui kesiapan siagaan rumah sakit di wilayah kota/kabupaten Cirebon& kabupaten Indramayu dalam menghadapi bencana. Penelitian ini menggunakan desaindeskriptif dengan metode semi kuantitatif. Populasi yang diambil adalah 5 RSUD dikota/kabupaten Cirebon dan Kabupaten Indramayu. Data yang digunakan adalah dataprimer yang berasal dari tools HSI dengan metode wawancara, observasi serta checklistdan data sekunder berupa penelaahan dokumen serta arsip serta data lainnya dari internet.Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa RSUD A mendapat skor 0,57, RSUD Bskor 0,76, RSUD C skor 0,70, RSUD D skor 0,79 dan RSUD E skor 0,41. Hasil yangdiperoleh tersebut menyatakan bahwa sebanyak 3 rumah sakit yakni RSUD B, C dan Dmasuk kategori siap siaga ketika keadaan darurat sementara 2 rumah sakit lainnya yaituRSUD A dan E perlu untuk perbaikan dalam jangka pendek agar kondisinya sama.Kata kunci : Bencana, Kesiapsiagaan Rumah Sakit, SafetyAnalisis index..., Muhamad Lazuardi Pradivta Komara, FKM UI, 2018
Indonesia according to Geography, geology, hydrology and demography is a disaster-prone country both from natural disasters, non-natural and human factors. One of theproblems caused by disasters is health services including hospitals. The main problem ofhospitals in the event of a disaster is the existence of structural, non-structural readinessto functional capacities that do not work. The Pan American Health Organization (PAHO)and the World Health Organization (WHO) have developed the Hospital Safety Index(HSI) which is an international tool that has been validated for standard assessment andhospital safety comparison. The purpose of this research is to know the preparedness ofhospital in Cirebon & Indramayu district in the face of disaster. This research usesdescriptive design with semi quantitative method. Population taken is 5 RSUD in town /regency of Cirebon and Regency of Indramayu. The data used are primary data derivedfrom HSI tools with the method of interviewing, observation and checklist and secondarydata in the form of review documents and archives and other data from the internet. Basedon the results obtained that RSUD A got a score of 0.57, RSUD B score 0.76, RSUD Cscore of 0.70, RSUD D score 0.79 and RSUD E score of 0.41. The result obtained statesthat as many as 3 hospitals, RSUD B, C and D are categorized as standby whenemergency while 2 other hospitals that are RSUD A and E need for improvement in theshort term so that the condition is same.Keywords: Disaster, Hospital Preparedness, Safety.
Read More
T-5199
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Thaza Febrianti; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Robiana Modjo, Rizki Agwis Huda Rahardjo
Abstrak:
Salah satu sektor yang memiliki risiko tinggi terhadap bahaya kebakaran adalah rumah sakit. Rumah sakit memiliki karakteristik banyak menyerap tenaga kerja, padat teknologi, terbukanya akses bagi pasien, pengantar, dan pengunjung, serta kegiatan berjalan selama 24 jam. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi sistem manajemen kebakaran mulai dari pra kebakaran, saat kebakaran, hingga pasca terjadinya kebakaran di RSUD KiSA Kota Depok sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 40 Tahun 2022, Pedoman Teknis di Bidang Bangunan dan Sarana Rumah Sakit, standar NFPA, dan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 20 Tahun 2009. Penelitian ini menggunakan desain penelitian studi observasional dengan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data didapatkan melalui observasi, wawancara, dan telaah dokumen yang didukung dengan instrumen berupa daftar tilik. Analisis data dilakukan dengan analisis secara deskriptif dan dibandingkan dengan peraturan dan standar yang berlaku. Hasil penelitian menunjukan bahwa kebijakan manajemen terkait kebakaran sudah disosialisasikan. Telah terbentuk tim K2G, namun papan struktur K2G belum diisi dengan rutin. Terdapat dokumen identifikasi bahaya kebakaran dan telah terlaksana pelatihan sebanyak 2 kali dalam setahun, namun pasien dan pengunjung belum mendapat pembinaan. Persentase tingkat kesesuaian penerapan sistem proteksi kebakaran aktif adalah 80%, sistem proteksi kebakaran pasif adalah 67%, dan sarana penyelamatan jiwa adalah 81%. Inspeksi kebakaran internal belum dilakukan secara rutin dan masih terdapatnya pegawai yang merokok di rumah sakit. Terdapat prosedur tanggap darurat kebakaran yang komprehensif, namun HT dalam kondisi rusak untuk mendukung komunikasi darurat. Penyelidikan dan pelaporan telah terlaksana oleh pihak K3RS, kepala bagian, dan perwakilan instalasi terkait, serta audit kebakaran telah dilakukan setiap 4 tahun sekali dan 1 tahun sekali berupa pemeriksaan dan pengujian. Saran yang diberikan, yaitu mensosialisasikan kembali kewajiban untuk mengisi papan K2G, memberikan sosialisasi kepada pasien dan pengunjung terkait keselamatan kebakaran, memperhatikan jarak pemasangan sistem proteksi kebakaran aktif, melakukan inspeksi secara rutin pada seluruh sarana keselamatan kebakaran, membentuk sanksi bagi pegawai yang merokok, dan memperbaiki HT yang rusak untuk digunakan saat komunikasi darurat.

One sector that has a high risk of fire hazards is hospitals. Hospitals have the characteristics of being labor-intensive, technology-intensive, open access for patients, caregivers, visitors, and operations for 24 hours. This study aims to analyze the implementation of the fire management system from pre-fire, during fire, to post-fire at RSUD KiSA Depok City in accordance with the Indonesian Minister of Health Regulation No. 40 of 2022, Technical Guidelines in the Field of Hospital Buildings and Facilities, NFPA standards, and Minister of Public Works Regulation No. 20 of 2009. This research used an observational study research design with a qualitative approach. Data collection was obtained through observation, interviews, and document review supported by an instrument in the form of a checklist. Data analysis was carried out by descriptive analysis and compared with applicable regulations and standards. The results showed that management policies related to fire have been socialized. The K2G team has been formed, but the K2G structure board has not been filled regularly. There is a fire hazard identification document and training has been carried out 2 times a year, but patients and visitors have not received guidance. The percentage of conformity level of active fire protection system implementation is 80%, passive fire protection system is 67%, and means of escape facilities are 81%. Internal fire inspections have not been conducted regularly and there are still employees who smoke in the hospital. There is a comprehensive fire emergency response procedure, but the HT is in poor condition to support emergency communication. Investigation and reporting have been carried out by the K3RS, section heads, and representatives of related installations, and fire audits have been carried out every 4 years and once a year in the form of inspection and testing. The suggestions given are to re-socialize the obligation to fill in the K2G board, provide socialization to patients and visitors regarding fire safety, pay attention to the installation distance of active fire protection systems, conduct regular inspections of all fire safety facilities, establish sanctions for employees who smoke, and repair damaged HTs to be used during emergency communication.
Read More
S-11338
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Bayu Agung Nugroho; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan; Penguji: Mila Tejamaya, Aswan Hery Putra
Abstrak: Mutu atau kualitas rumah sakit dipengaruhi oleh dua hal, yaitu : pelayanan olehpetugas kesehatan dan sarana prasarana bangunan rumah sakit itu sendiri. Banyakpenduduk Indonesia (baik yang tinggal di perkotaan atau perbatasan) pergi ke luarnegeri hanya untuk berobat. Hal itu bukan disebabkan oleh rendahnya mutulayanan petugas kesehatan, namun lebih disebabkan oleh minimnya sarana danprasarana rumah sakit sehingga kepercayaan penduduk Indonesia untuk berobat didalam negeri menjadi berkurang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasipenerapan kesehatan dan keselamatan kerja di RSUD Kota Tangerang sesuaidengan standar yang ditetapkan dalam Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 1087/ MENKES/ SK/ VIII/ 2010.Metode analisis data yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Penelitian ini dilaksanakan pada periode bulan Juni 2014. Sarana prasarana RSUD Kota Tangerang telah memenuhipersyaratan minimal yang ditetapkan dalam Keputusan Menteri KesehatanRepublik Indonesia No. 1087/ MENKES/ SK/ VIII/ 2010 meskipun ada beberapahal yang perlu diperbaiki.Kata kunci : evaluasi gedung rumah sakit, sarana prasarana rumah sakit, RumahSakit Umum Kota Tangerang
The quality of a hospital depends on two things, they are : services provides byhealth officer also facilities and supporting infrastructure of the building itself.Many Indonesian people (which is live in urban or border area) goes abroad onlyfor medical treatment reason. That is not because of the poor quality of servicesprovides by health officer but mostly because our hospital facilities andsupporting infrastructure is very poor, therefore the trust of our people forchoosing medical treatment within the country is decreasing. The objection of thisresearch is to evaluate the application of occupational health and safety in GeneralHospital of Tangerang City according to the standard stipulated in Minister ofHealth's Desicion No. 1087/ MENKES/ SK/ VIII/ 2010. Method of data analysisis descriptive qualitative. This research is perform during June 2014. Its facilitiesand supporting infrastructure have fulfilled the minimum requirements of Ministerof Health's Desicion No. 1087/ MENKES/ SK/ VIII/ 2010 while several parts ofthem need improvement.Keywords: hospital building evaluation, hospital facilities and infrastrusture,General Hospital of Tangerang City.
Read More
S-8470
Depok : FKM-UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Puspita Gaharu Nisaa; Pemimbing: Robiana Modjo; Penguji: L. Meily Kurniawidjaja, Stevan D. Anbiya, Achmad Muchlis, Corah Usman
Abstrak:
Tenaga kesehatan senantiasa dihadapkan dengan tuntutan kerja dan bahaya risiko psikososial yang berpengaruh terhadap kesehatan mental seperti distress kerja, kondisi tersebut dapat bermanifestasi terhadap kesejahteraan tenaga kesehatan dan kualitas pelayanan pasien. Tahun 2024, diketahui terdapat tenaga kesehatan di RSUD Balaraja yang memiliki derajat distress sedang hingga berat terkait upaya kerja. Tesis ini bertujuan menganalisis hubungan faktor risiko psikososial serta faktor individu dan distress kerja pada tenaga kesehatan yang bekerja di RSUD Balaraja Kabupaten Tangerang Tahun 2025. Desain penelitian adalah cross-sectional dengan pendekatan kuantitatif pada total 140 tenaga kesehatan (dokter, perawat, farmasi, dan tenaga kesehatan lain seperti bidan, perekam medis, fisioterapis, analis kesehatan, radiografer, dsb.)  Distress kerja diukur menggunakan instrumen distress dari DASS-21 yang dikategorikan menjadi “Normal-Ringan” dan “Sedang-Berat”. Faktor risiko psikososial (berdasarkan model Effort-Reward Imbalance, COPSOQH III dan NIOSH Generic Stress Scale) dan faktor individu diukur melalui kuesioner. Hasil penelitian ditemukan 14,3% responden dengan distress kerja sedang-berat. Analisis inferensial menunjukan hubungan signifikan antara faktor psikososial dengan distress kerja. Variabel yang berhubungan dengan distress kerja diantaranya ketidakseimbangan kerja-rumah (OR=17,34; 95% CI 3,84–78,41; p<0,001), komitmen kerja berlebihan (OR=14,48; 95% CI 3,21–65,31; p<0,001), upaya kerja yang tinggi (OR=6,44; 95% CI 2,03–20,44; p=0,001) dan penghargaan kerja yang tidak baik (OR=4,14; 95% CI 1,31–13,10; p=0,02). Tidak ditemukan hubungan statistik yang signifikan antara faktor individu dan distress kerja (p >0,05). Faktor individu yang perlu diberi perhatian yakni pada variable status single dan perilaku tidak sehat (kurang aktifitas fisik, merokok, minum kopi, dan minum alkohol.) Kesimpulan adalah distress kerja pada tenaga kesehatan di RSUD Balaraja secara dominan berasosiasi dengan faktor psikososial yang bersifat organisasional dan dapat dimodifikasi. Intervensi berbasis prioritas terutama untuk perbaikan area kritis diantaranya ketidakseimbangan antara kehidupan kerja-rumah serta komitmen berlebihan. Rekomendasi difokuskan pada kebijakan organisasional sehingga tercipta budaya kerja yang sehat, suportif dan positif, diantaranya adalah, pertama, pemberian pelatihan sesuai kompetensi, edukasi pengelolaan distress dan  manajemen waktu serta fleksibilitas pemilihan waktu libur atau cuti; Kedua, evaluasi beban kerja agar tidak berlebihan dan lebih merata, fit to work bagi tenaga kesehatan pasca dengan keterbatasan fisik atau pemulihan dari sakit, komunikasi dan transparansi sistem penghargaan maupun kompensasi kepada seluruh tenaga kesehatan, termasuk dalam pemberian insentif dan kebijakan upah kerja lembur dalam rangka keseimbangan upaya kerja dan penghargaan kerja yang lebih baik; Ketiga, evaluasi tugas kerja dan beban kerja oleh manajemen secara periodik yang disertai adanya keterlibatan karyawan dalam pengambilan keputusan. Rekomendasi lain adalah kegiatan senam rutin 150 menit per minggu, kelompok konseling kesehatan mental dan perilaku tidak sehat, serta perbaikan sistem antrian pasien rawat jalan dengan pemberlakuan kode booking kunjungan ulang atau fast track untuk pasien kontrol merupakan strategi yang dapat diambil untuk peningkatan kesehatan kerja dan upaya penurunan distress kerja bagi tenaga kesehatan di RSUD Balaraja.
Healthcare workers are constantly faced with work demands and psychosocial hazards that affect their mental health, such as work related distress. This condition can manifest in the well-being of healthcare workers and the quality of patient care. In 2024, it was found that a number of healthcare workers at Balaraja Regional General Hospital (RSUD) experienced moderate to severe distress related to their work effort. This thesis aims to analyze of risk factors associated with work-related distress to healthcare workers of RSUD Balaraja, Tangerang Regency In 2025. This study used cross-sectional design with a quantitative approach, involved total 140 healthcare workers as respondens (doctors, nurses, pharmacists, and other health care workers such as midwife, medical recorders, physichal therapist, health analysts, radiographer, etc.) Work related distress was measured using a standardized instrument based on distress scale from DASS 21 and categorized as "Normal-Mild" and "Moderate-Severe". Psychosocial risk factors (based on the Effort-Reward Imbalance model, COPSOQ III, and the NIOSH Generic Job Stress Questionnaire) and individual factors were measured through a questionnaire. The results showed that 14.3% of respondents experienced moderate-to-severe work related distress. Inferential analysis indicated an association between psychosocial factors and work related distress, included work-life imbalance (OR=17.34; 95% CI 3.84–78.41; p<0.001), overcommitment (OR=14.48; 95% CI 3.21–65.31; p<0.001), high effort (OR=6.44; 95% CI 2.03–20.44; p=0.001), and low reward (OR=4.14; 95% CI 1.31–13.10; p=0.02). No statistical significant association was found between individual factors and work related distress (p > 0.05). Individual factors that may warrant attention include single marital status and unhealthy bahaviors (lack of physical activity, smoking, and consumption of coffee or alcohol.) The conclusion is that work related distress among healthcare workers at RSUD Balaraja is predominantly associated with modifiable, organizational psychosocial factors. Priority-based interventions are needed, especially to improve critical areas such as work-life imbalance and overcommitment. Recommendations focus on organizational policies to create a healthy, supportive, and positive work culture. These include provide competency-based training, education on distress and time management, and offer flexibility in scheduling holiday or day off; Second, conduct workload evaluations to prevent overload and ensure equitable distribution. Implement "fit-to-work" assessments for healthcare workers with physical limitations or recovering from illness. Ensure transparent communication regarding reward and compensation systems for all staff, including incentives and overtime pay policies, to achieve a better effort-reward balance. Third, reviewing workload policies for better distribution and prevention of excessive demands, providing competency-based training, and offering distress management, priority management, and coping mechanisms to restore work-life balance. Other recommendations include group exercise sessions, aiming for 150 minutes per week, Establish counseling groups for mental health support and to address unhealthy behaviors, improve the outpatient queuing system by implementing “a booking code system” for return visits or “a fast-track pathway." Furthermore, promoting a healthy work culture and controlling overcommitment through periodic evaluation of job tasks and workload by management, with input from employees, is advised. These strategies can be adopted to enhance occupational health and reduce work-related distress among healthcare workers at RSUD Balaraja.

 
Read More
T-7373
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rohman; Pembimbing: Meily Kurniawidjaja; Penguji: Dadan Erwandi, Baiduri, Hanny Harjulianty, Irma Setiowati
Abstrak: Penelitian dilakukan pada proses kerja industri informal menengah ke bawah di sentra pembuatan krupuk Desa Kenanga Kecamatan Sindang Kabupaten Indramayu, karena pada tahapan proses produksinya masih dominan menggunakan kegiatan manual handling. Tujuan dari penelitian yaitu menjelaskan tingkat risiko untuk dapat terjadinya masalah Musculouskeletal Symptoms (MSS) pada aktivitas pembuatan krupuk dibagian produksi dan memberikan masukan modifikasi atau rekayasa alat pada sarana kerja yang teridentifikasi menyebabkan pekerja melakukan postur yang berisiko sangat tinggi. Penelitian menggunakan desain penelitian cross sectional dengan metode REBA (Rapid Entire Body Assessment ) untuk menilai terkait postur janggal, beban kerja, frekuensi dan durasi pekerjaan. Terdapat lima tahapan terkait aktivitas fisik pembuatan krupuk di bagian produksi, yaitu tahap 1.Pembuatan adonan, 2. Penggilingan adonan, 3.Pencetakan adonan, 4.Persiapan pemasakan dan 5.Pendinginan hasil pemasakan. Hasil penelitian menunjukan bahwa sebagian besar tahapan memiliki tingkat risiko tinggi, kecuali pada aktivitas penggilingan adonan, dan tingkat risiko rendah terdapat pada aktivitas pencetakan adonan. Oleh karena itu perlu dilakukan perbaikan secepatnya untuk meminimalisir aktivitas fisik yang mempunyai tingkat risiko tinggi sampai sangat tinggi, salah satunya dengan merubah penempatan alat atau sarana kerjanya. Kata Kunci : Manual Handling,tingkat risiko, REBA
Read More
T-4445
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Zilka Ilmi; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Zulkifli Djunaidi, Dadan Erwandi, Tri Noviati, Ibnu Uzail Yamani
Abstrak:

ABSTRAK Nama : Zilka Ilmi Program Studi : Magister Keselamatan dan Kesehatan Kerja Judul : Analisis Nilai Fire Load sebagai Acuan Proteksi Kebakaran di Rumah Sakit Umum Daerah Pasar Rebo Tahun 2018 Fire load merupakan jumlah energi yang dilepaskan seluruh material pada saat terjadi kebakaran dalam suatu ruangan. Keparahan akibat kebakaran akan meningkat jika fire load bangunan lebih besar. Bangunan rumah sakit merupakan salah satu gedung yang memiliki risiko tinggi terjadi kebakaran. Beberapa kegiatan perawatan medis di ICU, ruang operasi dan ruangan terapi pasien tertentu juga melibatkan peralatan dan hal-hal yang kompleks yang dapat menyebabkan timbulnya kebakaran. Untuk menjamin tingkat keandalan serta keselamatan bangunan maka perlu dilakukan pengelolaan bahaya kebakaran dengan baik dan terencana. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis nilai fire load sebagai acuan proteksi kebakaran di RSUD Pasar Rebo. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dan komparatif dengan membandingkan kondisi pada objek penelitian dengan hasil survei terdahulu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rata – rata fire load density ruang ICU dan kamar operasi adalah 210,968MJ/m 2 . Hasil pengukuran ini masih dalam rentang fractile 80% pada survey yang dilakukan oleh Eurocode1 pada tipe kamar di rumah sakit. Nilai ini berada dalam nilai yang aman. Nilai fire load tidak bisa dijadikan acuan tingginya tingkat fire risk. Untuk mengetahui fire risk perlu memperhitungkan ventilasi dan fire ignition nya. Dari hasil penelitian, disarankan sebaiknya pihak rumah sakit melakukan perbaikan terhadap sistem proteksi kebakaran dan sarana evakuasi agar dapat diandalkan jika terjadi kebakaran sehingga mampu mengurangi risiko bahaya kebakaran. Kata Kunci : Fire load, sistem proteksi, rumah sakit


ABSTRACT Name : Zilka Ilmi Department : Occupational Safety and Health Judul : The Analysis of Fire Load Value as Fire Protection at RSUD Pasar Rebo in 2018 Fire load is the total of energy which is released throughout from the material during fire in a room. The fire severity will increase while the fire load of building is higher. The hospital is one of buildings that having high fire risk. Some activities in the ICU and operating room has equipment and complex things that can cause a fire. To guarantee the level of reliability and safety of buildings, its necessary to manage of fire hazards well and planned. The aim of this study was to analyze fire load value as protection fire at RSUD Pasar Rebo. This study was descriptive study and comparative by comparing the conditions in the object of research with the results of previous surveys. The result of this study showed that the average of fire load density value in ICU and operating room was 210,968 MJ/m 2 . This value is still in fractile range of 80% in a survey by Eurocode 1. It means that value is in safe value. Fire load value can not be used as fire risk level. Take into account the ventilation and fire ignition for calculate the fire risk. Therefore, the management should improvements the fire protection system and evacuation facilities to be reliable during fire so as to reduce the risk of fire hazards. Keywords : Fire load, protection system, hospital

Read More
T-5229
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yuni Sriheryanti; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Dadan Erwandi, Diding Syarifudin
S-4946
Depok : FKM-UI, 2007
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Edric Sugito; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Doni Hikmat Ramdhan, Hendra, Bagus Tjahjono
T-5208
Depok : FKM UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Denny Febrian; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Robiana Modjo, Dadan Erwandi, Bahauddin, Sarto
Abstrak: Rumah sakit-rumah sakit yang terletak di Kota Bontang, dimana Kota Bontang merupakan kota yang sedang berkembang dengan keberadaan dua perusahaan besar berskala internasional dengan potensi bencana seperti kegagalan teknologi, banjir, angin puting beliung, kebakaran lahan/hutan, dan kebakaran permukiman. Untuk mengatasi hal ini, maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis kesiapsiagaan manajemen bencana rumah sakit di Kota Bontang menggunakan studi deskriptif observasional dan mixed methode dengan mengadopsi versi Hospital Safety Index.

Metodenya adalah dengan pendekatan penilaian diri terhadap rumah sakit yang diaplikasikan untuk menilai kesiapsiagaan bencana dalam 151 item yang dikategorikan dalam tiga komponen termasuk keselamatan struktural, keselamatan nonstruktural, dan manajemen Bencana dan Kegawatdaruratan. Data primer tersebut kemudian diolah melalui Ms Excel dan hasilnya berupa mean untuk setiap komponen pada manajemen bencana rumah sakit lalu diklasifikasikan ke dalam kategori A (0.66-0.1), B (0.36-0.65), atau C (0-0.35).

Hasil dari penelitian ini total nilai Hospital Safety Index untuk masing-masing rumah sakit, yaitu 0,90 untuk RSUD Taman Husada, 0,99 untuk RS Pupuk Kaltim, dan untuk RS 0,79 Islam Bontang. Namun tetap menunjukkan bahwa manajemen bencana rumah sakit telah siap dalam menghadapi bencana dan tetap berfungsi dalam situasi bencana. Meskipun demikian, rumah sakit tetap perlu melakukan usaha pencegahan dalam jangka panjang untuk meningkatkan kesiapsiagaan bencana.
Read More
T-5657
Depok : FKM UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Septia Tri Purwaningsih; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Abdul Kadir, Indri Hapsari Susilowati, Hanny Harjulianti, Ratih Dewanti Alawiyah
Abstrak:
Perawat menjadi profesi dengan jumlah tenaga kerja terbanyak di rumah sakit, dimana tidak terlepas dari bahaya distress. Distress erat kaitannya dengan work life balance, dimana distress yang dialami dapat memengaruhi work life balance. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan distress dengan work life balance pada perawat di RSUD X, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Penelitian dilakukan pada Bulan Mei – Juli 2025. Populasi dalam penelitian ini adalah perawat di RSUD X, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Desain penelitian menggunakan cross sectional, pengumpulan data melalui metode kuantitatif. Penelitian menggunakan data primer dimana pengambilan data penelitian oleh peneliti diperoleh secara langsung melalui kuesioner. Sedangkan untuk analisis data diperoleh menggunakan analisis univariat (deskriptif) dan bivariat (inferensial). Hasil penelitian menunjukkan bahwa gambaran work life balance pada perawat di RSUD X, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah secara general sebanyak 51% perawat di RSUD X memiliki work life balance dalam kategori baik, sedangkan 49% lainnya berada dalam kategori buruk. Sebanyak 50,3% responden memiliki distress yang tinggi dan 49,7% memiliki distress yang rendah. Secara general, terdapat hubungan yang signifikan antara distress dengan work life balance (p-value = 0,027) dengan nilai OR sebesar 2,2. Berdasarkan dimensinya, terdapat hubungan yang signifikan antara distress dengan PLEW (p-value = 0,009) dengan nilai OR sebesar 2,6. Sedangkan berdasarkan kelompoknya, terdapat hubungan yang signifikan antara distress dengan work life balance dalam kelompok pekerjaan (p-value = 0,007) dengan nilai OR sebesar 2,6. Selain itu, terdapat hubungan yang signifikan antara distress dengan work life balance dalam kelompok personal life (p-value = 0,002) dengan nilai OR sebesar 3. Oleh karena itu, sebaiknya RSUD X membangun kesadaran akan pentingnya mengelola distress dan work life balance melalui komitmen, kebijakan, dan program kerja yang mendukung.

Nurses are the profession with the largest number of workers in hospitals, where they are exposed to the risk of distress. Distress is closely related to work life balance, where the distress experienced can affect work life balance. This study aims to analyze the relationship between distress and work life balance among nurses at X Regional General Hospital, Klaten Regency, Central Java. The study was conducted from May to July 2025. The population in this study were nurses at RSUD X, Klaten Regency, Central Java. The study design was cross-sectional, with data collection using quantitative methods. The study used primary data obtained directly by the researcher through questionnaires. Data analysis was performed using univariate (descriptive) and bivariate (inferential) analysis. The results of the study show that the work life balance of nurses at X Regional General Hospital, Klaten Regency, Central Java, is generally 51% of nurses at X Regional General Hospital have good work life balance, while the other 49% are in the poor category. A total of 50.3% of respondents had high distress and 49.7% had low distress. In general, there was a significant relationship between distress and work life balance (p-value = 0.027) with an OR value of 2.2. Based on its dimensions, there is a significant relationship between distress and PLEW (p-value = 0.009) with an OR value of 2.6. Meanwhile, based on its groups, there is a significant relationship between distress and work life balance in the work group (p-value = 0.007) with an OR value of 2.6. In addition, there is a significant relationship between distress and work life balance in the personal life group (p-value = 0.002) with an OR value of 3. Therefore, RSUD X should build awareness of the importance of managing distress and work life balance through commitment, policies, and supportive work programs.
Read More
T-7478
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive