Ditemukan 33862 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Widya Ratna Wulan' Pembimbing: Dian Ayubi; Penguji: Evi Martha, Hadi Pratomo, Tita Srihayati, Maya Raiyan
Abstrak:
Kehamilan tidak diinginkan dan pelecehan seksual pada remaja tunagrahita akibatperilaku seksual berisiko dilaporkan masih terjadi di Kabupaten Semarang sebesar55,6%. Sekitar 25% penduduk Kabupaten Semarang adalah remaja usia 10-24 tahundengan jenis ketunaan terbesar adalah tunagrahita sehingga mempengaruhi risikotingginya perilaku seksual berisiko pada remaja tunagrahita.
Tujuan penelitian ini adalahmengetahui determinan perilaku seksual berisiko pada remaja tunagrahita di SekolahLuar Biasa Kabupaten Semarang Tahun 2018. Penelitian ini merupakan penelitiankuantitatif dengan desain cross sectiona lyang dilakukan di Kabupaten Semarang. Data dikumpulkan dengan cara wawancara menggunakan kuesioner pada 82 siswa-siswiremaja tunagrahita di 5 sekolah luar biasa tunagrahita. Data dianalisis menggunakan ujiregresi logistik sederhana dan regresi logistik ganda.
Hasil penelitian menemukan43,9% siswa-siswi memiliki perilaku seksual berisiko tinggi dengan nilai median 80,0(skala 100). Variabel pengetahuan (p=0,001), peran guru (p=0,001), dan self-efficacy(p=0,017) dengan p-value <0,05 dinyatakan berhubungan signifikan dengan perilaku seksual berisiko pada remaja tunagrahita. Peran guru menjadi variabel dominan yang mempengaruhi perilaku seksual berisiko pada remaja tunagrahita. Perilaku seksual berisiko seperti berciuman bibir sebesar 31,7% serta memasukkan alat kelamin padapasangan masih ditemukan dalam penelitian ini. Peran aktif guru, orangtua, dan instansiterkait dapat meningkatkan pengetahuan dan self-efficay sehingga meminimalisir dampak perilaku seksual berisiko pada remaja tunagrahita.
Kata Kunci: Perilaku Seksual Berisiko, Remaja, Tunagrahita
The sexual behavior that leads to unwanted pregnancy and sexual abuse amongintellectual disability adolescents occured in Semarang Regency of 55.6% due to lack ofsexual health knowledge and information. Approximately 25% of Semarang Regency population is adolescents aged 10-24 years with the largest intellectual disability so thataffect the high risk sexual behavior among intellectual disability adolescents.
This study aimed to determine the determinant of sexual behavior among intellectual disability adolescents in Special School Semarang Regency 2018. This study was a quantitative study with cross sectional design conducted in Semarang regency. Data were collectedby interview using questionnaires on 82 intellectual disability adolescent students in 5special schools. Data were analyzed using simple logistic regression and multiplelogistic regression test.
The results found 43.9% of students who had high-risk sexualbehavior with a median value of 80.0 (scale 100). The analysis result proved thatknowledge (p = 0,001), teacher role (p = 0,001), and self-efficacy (p = 0,017) yieldingp-value <0,05 were significant relation with sexual behavior among intellectual disability adolescents. The teachers role was the dominant factor that influences sexualbehavior among intellectual disability adolescents. Sexual behavior such as kissing lipsby 31.7% and inserting genitals in couples are still found in this study results. The teachers and parents role, as well as the relevant agencies policies improve knowledge and self-efficacy among intellectual disability adolescents could prevent high-risksexual behavior among intellectual disability adolescents.
Keywords: Sexual Behavior, Adolescent, Intellectual Disability
Read More
Tujuan penelitian ini adalahmengetahui determinan perilaku seksual berisiko pada remaja tunagrahita di SekolahLuar Biasa Kabupaten Semarang Tahun 2018. Penelitian ini merupakan penelitiankuantitatif dengan desain cross sectiona lyang dilakukan di Kabupaten Semarang. Data dikumpulkan dengan cara wawancara menggunakan kuesioner pada 82 siswa-siswiremaja tunagrahita di 5 sekolah luar biasa tunagrahita. Data dianalisis menggunakan ujiregresi logistik sederhana dan regresi logistik ganda.
Hasil penelitian menemukan43,9% siswa-siswi memiliki perilaku seksual berisiko tinggi dengan nilai median 80,0(skala 100). Variabel pengetahuan (p=0,001), peran guru (p=0,001), dan self-efficacy(p=0,017) dengan p-value <0,05 dinyatakan berhubungan signifikan dengan perilaku seksual berisiko pada remaja tunagrahita. Peran guru menjadi variabel dominan yang mempengaruhi perilaku seksual berisiko pada remaja tunagrahita. Perilaku seksual berisiko seperti berciuman bibir sebesar 31,7% serta memasukkan alat kelamin padapasangan masih ditemukan dalam penelitian ini. Peran aktif guru, orangtua, dan instansiterkait dapat meningkatkan pengetahuan dan self-efficay sehingga meminimalisir dampak perilaku seksual berisiko pada remaja tunagrahita.
Kata Kunci: Perilaku Seksual Berisiko, Remaja, Tunagrahita
The sexual behavior that leads to unwanted pregnancy and sexual abuse amongintellectual disability adolescents occured in Semarang Regency of 55.6% due to lack ofsexual health knowledge and information. Approximately 25% of Semarang Regency population is adolescents aged 10-24 years with the largest intellectual disability so thataffect the high risk sexual behavior among intellectual disability adolescents.
This study aimed to determine the determinant of sexual behavior among intellectual disability adolescents in Special School Semarang Regency 2018. This study was a quantitative study with cross sectional design conducted in Semarang regency. Data were collectedby interview using questionnaires on 82 intellectual disability adolescent students in 5special schools. Data were analyzed using simple logistic regression and multiplelogistic regression test.
The results found 43.9% of students who had high-risk sexualbehavior with a median value of 80.0 (scale 100). The analysis result proved thatknowledge (p = 0,001), teacher role (p = 0,001), and self-efficacy (p = 0,017) yieldingp-value <0,05 were significant relation with sexual behavior among intellectual disability adolescents. The teachers role was the dominant factor that influences sexualbehavior among intellectual disability adolescents. Sexual behavior such as kissing lipsby 31.7% and inserting genitals in couples are still found in this study results. The teachers and parents role, as well as the relevant agencies policies improve knowledge and self-efficacy among intellectual disability adolescents could prevent high-risksexual behavior among intellectual disability adolescents.
Keywords: Sexual Behavior, Adolescent, Intellectual Disability
T-5348
Depok : FKM UI, 2018
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Fenny Etrawati; Pembimbing: Evi Martha, Rita Damayanti; Penguji: Anwar Hassan, Nurul Agustina, Childa Maisni
T-3993
Depok : FKM UI, 2013
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Nur Shinta Rengganis; Pembimbing: Dian Ayubi; Penguji: Tri Krianto, Evi Martha, Irwan Panca Wariaseno, Heni Rudiyanti
Abstrak:
Temuan penyakit demam tifoid tertinggi di Jawa Tengah berasal dari tiga kabupaten,salah satunya adalah Kabupaten Cilacap. Peningkatan kasus demam tifoid terjadi selamatiga tahun berturut-turut di Puskesmas Kroya I. Salah satu perilaku penyebab penularanpenyakit demam tifoid adalah perilaku cuci tangan. Penelitian ini bertujuan untukmengetahui faktor yang berhubungan dengan perilaku cuci tangan di Kecamatan Kroya.Penelitian dilakukan di Kecamatan Kroya Kabupaten Cilacap, menggunakan desain crosssectional dengan jumlah sampel sebanyak 136 anak usia 9-14 tahun. Data dikumpulkanmelalui wawancara dengan pedoman kuesioner yang telah diuji validitas danreliabilitasnya serta dianalisis menggunakan regresi logistik ganda melalui aplikasistastitik. Hasil penelitian menunjukkan 73,5% responden berperilaku cuci tangan kurangbenar. Hasil analisis menunjukkan pengetahuan, sikap, dan dukungan teman berhubungansecara signifikan dengan perilaku cuci tangan. Pengetahuan merupakan variabel dominandalam perilaku cuci tangan pada anak usia 9-14 tahun, responden dengan pengetahuantinggi berpeluang untuk berperilaku cuci tangan baik 11,86 kali dibandingkan respondendengan pengetahuan rendah. Puskesmas diharapkan memperkaya materi penyuluhankepada anak dan orangtua serta lebih memaksimalkan program dokter kecil sebagai peereducator anak.Kata Kunci: Perilaku Cuci Tangan, Anak, Pengetahuan.
Read More
T-5338
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Determinan Perilaku Pencegahan COVID-19 pada Remaja di Kecamatan Cibinong Kabupaten Bogor Tahun 2022
Nurimeta Nurfianti; Pembimbing:Dian Ayubi; Penguji: Hadi Pratomo, Yuliati, Rusliandy
Abstrak:
Read More
Tingginya pelanggaran protokol kesehatan di Cibinong di dominasi oleh kaum remaja. Remaja memiliki potensi tertular virus COVID-19 bahkan dengan tanpa gejala yang mereka sadari bahkan mereka dapat menjadi carrier atau pembawa virus dalam dirinya dan dapat membahayakan manusia dengan system imun yang kurang baik, hal ini mendasari pentingnya pengendalian perilaku pencegahan COVID-19 pada remaja di Cibinong. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang berhubungan dengan perilaku pencegahan COVID-19 pada remaja di Kecamatan Cibinong. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional. Penelitian dilakukan pada 127 remaja di Kecamatan Cibinong Kabupaten Bogor. Pengumpulan data dilakukan malalui google form. Hasil penelitian menujukan bahwa perilaku remaja dalam pencegahan COVID-19 sudah cukup baik (nilai median=62%). Diketahui bahwa variabel sikap, pengetahuan, dukungan orang tua dan dukungan teman sebaya secara signifikan berhubungan dengan perilaku pencegahan COVID-19 pada remaja di Kecamatan Cibinong. Variabel yang paling dominan dalam penelitian ini adalah pengetahuan remaja mengenai COVID-19 dengan nilai p-value=0,001 dan nilai OR 5.387, CI(2.150-13.499). Responden yang memiliki pengetahuan baik memiliki kecenderungan untuk berperilaku pencegahan COVID-19 5,387 kali lebih besar dibandingkan dengan responden yang pengetahuan kurang. Berdasarkan hasil tersebut disimpulkan bahwa secara umum perilaku pencegahan COVID-19 pada remaja sudah baik dan faktor pengetahuan serta dukungan orangtua maupun dukungan teman sebaya memiliki peran penting dalam mempengaruhi perilaku tersebut.
The high violation of health protocols in Cibinong was dominated by teenagers. Adolescents had the potential to contract the COVID-19 virus even without symptoms that they are aware of; they could even become carriers or carriers of the virus within themselves, which can harm people with weakened immune systems; this underlies the importance of controlling COVID-19 prevention behavior among adolescents in Cibinong. The purpose of this study was to find out what factors are related to COVID-19 prevention behavior among adolescents in Cibinong Sub-District. This study was a quantitative study with a cross-sectional design. The study was conducted among 127 adolescents in Cibinong Sub-District, Bogor Regency. Data collection was conducted by using Google Forms. The results of the study showed that the behavior of adolescents in preventing COVID-19 is quite good (median value=62%). It was known that the variables of attitude, knowledge, parental support, and peer support are significantly related to COVID-19 prevention behavior among adolescents in Cibinong Sub-District. The most dominant variable in this study was adolescent knowledge about COVID-19, with a p-value of 0,001 and an OR value of 5,387 (CI: 2,150–13,499). Respondents with good knowledge tended to behave 5,387 times greater than respondents with less knowledge in preventing COVID-19. Based on these results, it was concluded that generally, COVID-19 prevention behavior among adolescents was good, and factors of knowledge, parental support, and peer support had essential roles in influencing this behavior.
T-6828
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Rizza Yussi Listiani; Pembimbing: Dian Ayubi; Penguji: Diah Mulyawati Utari, Evi Martha, Fera Anjar Pratiwi, Umi Rodiyah
Abstrak:
Read More
Konsumsi Minuman Berpemanis dalam Kemasan (MBDK) pada remaja terus meningkat dan menjadi salah satu faktor risiko masalah kesehatan. Data Riset Kesehatan Dasar tahun 2018 menunjukkan bahwa proporsi remaja usia 15–19 tahun yang mengonsumsi MBDK ≥1 kali per hari masih tinggi. Kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, merupakan salah satu wilayah dengan risiko tinggi, ditandai dengan angka diabetes pada penduduk usia di atas 15 tahun mencapai 11,7% (SKI, 2023. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku konsumsi MBDK pada remaja Sekolah Menengah Atas (SMA) di Kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi. Penelitian dengan desain potong lintang ini melibatkan 128 responden. Pengumpulan data dilakukan secara self-administered menggunakan Google Form dan dianalisis dengan regresi logistik berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 82,8% remaja memiliki perilaku konsumsi MBDK tinggi. Jenis minuman yang paling sering dikonsumsi adalah kopi dan teh dalam kemasan dengan frekuensi 2–3 kali per minggu. Analisis multivariat mengungkapkan bahwa faktor dominan yang berhubungan dengan perilaku konsumsi MBDK adalah Preferensi, dengan peluang 3,2 kali lebih memiliki preferensi suka MBDK dibandingkan yang tidak suka MBDK., setelah dikontrol oleh jenis kelamin dan ketersediaan minuman di rumah.
Consumption of Sugar-Sweetened Beverages (SSBs) among adolescents continues to increase and has become one of the risk factors for various health problems. Data from the 2018 Basic Health Research (Riskesdas) show that the proportion of adolescents aged 15–19 years who consume SSBs ≥1 time per day remains high. Tambun Selatan Subdistrict, Bekasi Regency, is one of the areas with a high risk, indicated by the diabetes prevalence among individuals aged ≥15 years reaching 11.7% (SKI, 2023). This study aimed to determine the factors associated with SSB consumption behavior among high school students in Tambun Selatan Subdistrict, Bekasi Regency. This cross-sectional study involved 128 respondents. Data were collected through a self-administered questionnaire using Google Forms and analyzed using multiple logistic regression. The results showed that 82.8% of adolescents had a high level of SSB consumption. The most frequently consumed beverages were packaged coffee and tea, with a frequency of 2–3 times per week. Multivariate analysis revealed that the dominant factor associated with SSB consumption behavior was preference, with adolescents who preferred SSBs having 3.2 times higher odds of consuming them compared to those who did not, after controlling for sex and beverage availability at home.
T-7470
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Intan Kusuma Wati; Pembimbing: Adi Sasongko; Penguji: Sutanto Priyo Hastono, Ella Nurlaela Hadi, Arfah Laidiah Razik, Childa
T-4313
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Qurrota Aini Aini; Pembimbing: Tri Krianto; Penguji: Dadan Erwandi, Khaerudi
Abstrak:
Tujuan penelitian ini untuk memperoleh gambaran mengenai karakteristik, dankemandirian personal hygiene pada anak berkebutuhan khusus (ABK) di SLBNusantara ber-Asrama Depok tahun 2016. Subjek dari penelitian ini adalah 46 anakberkebutuhan khusus dengan ragam jenis disabilitas, usia dan tingkat pendidikan.Penelitian menggunakan metode kuantitatif. Desain penelitian ini adalah deskriptifdan menggunakan pendekatan cross sectional. Gambaran mengenai kemandirianpersonal hygiene diperoleh peneliti dari hasil observasi. Peneliti menggunakaninstrumen penelitian yang dikembangkan oleh DISHA Comprehensive RehabilitationCenter yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya, dengan modifikasi item berkaitandengan perilaku sehat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan nilaikemandirian personal hygiene antar umur, jenis kelamin, jenis disabilitas dan tingkatpendidikan. Penelitian ini merekomendasikan kepada pihak sekolah, serta kerjasamadinas pendidikan dan dinas pendidikan untuk berkomitmen meningkatkankemandirian personal hygiene ABK mencapai tingkat optimal. Selain itu jugarekomendasi ditujukan untuk peneliti lain guna melihat faktor lain yangmemungkinkan kemandirian personal hygiene pada ABK.Kata Kunci : Anak Berkebutuhan Khusus, Kemandirian, Personal Hygiene.
Read More
S-9289
Depok : FKM-UI, 2017
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Yunita Arihandayani; Pembimbing: Evi Martha; Penguji: Besral, Tri Krianto, Dwi Adi Maryandi, Asep Achadiat Sudrajat
Abstrak:
ABSTRAK Proporsi perilaku sedentari semakin meningkat pada semua kelompok umur baik pada orang dewasa dan anak-anak dari tahun ke tahun. Pada anak-anak dan remaja berbagai dampak kesehatan merugikan dapat terjadi akibat perilaku sedentari yang dilakukan secara terus menerus dalam jangka waktu lama. Beberapa faktor berhubungan dengan terjadinya perilaku sedentari pada anak-anak dan remaja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku sedentari pada siswa SMP di kecamatan Cibinong, kabupaten Bogor, Jawa Barat. Penelitian menggunakan desain cross sectional dengan jumlah sampel sebanyak 312 siswa SMP kelas 7 dan kelas 8. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang sudah di uji validitas dan reliabilitasnya serta dianalisis menggunakan regresi logistik ganda. Regresi logistik ganda menunjukkan 50,6% responden melakukan perilaku sedentari lebih dari 6 jam. Hasil analisis membuktikan faktor umur (OR: 1,5), pola asuh orang tua (OR: 3,0), dukungan teman sebaya (OR: 1,5), fasilitas sekolah (OR: 0,4), dan peraturan sekolah (OR: 5,0) berhubungan dengan perilaku sedentari. Pola asuh orang tua dan peraturan sekolah yang mendukung merupakan faktor paling dominan berhubungan dengan perilaku sedentari. Responden yang mendapat pola asuh tidak baik berpeluang untuk melakukan perilaku sedentari 3,0 kali dibanding yang mendapat pola asuh baik. Responden yang bersekolah di sekolah dengan peraturan yang tidak mencukupi berpeluang untuk melakukan perilaku sedentari 5,0 kali dibanding yang bersekolah di sekolah dengan peraturan yang sudah cukup. Untuk itu dalam upaya pencegahan perilaku sedentari pada siswa perlu melibatkan peran orang tua siswa disamping juga perlu didukung oleh peraturan dan fasilitas sekolah yang mencukupi. Adanya dukungan teman sebaya diantara siswa juga diperlukan untuk mendukung pencegahan perilaku sedentari pada siswa. Kata kunci: Perilaku Sedentari, Siswa, Pola Asuh Orang Tua, Fasilitas, dan Peraturan Sekolah The proportion of sedentary behavior is increasing in all age groups in both adults and children year to year. In children and adolescents a variety of adverse health effects can occur as a result of continual perpetual behavior. Several factors are associated with the occurrence of sedentary behavior in children and adolescents. This study aims to determine the factors associated with sedentari behavior in junior high school students in sub-district Cibinong, Bogor regency, West Java. The research used cross sectional design with 312 students of 7th and 8th grade. Data were collected using questionnaires that have been tested for validity and reliability and analyzed using multiple logistic regression. The results showed 50.6% of respondents performing behavior sedentari more than 6 hours. The results of the analysis prove the age factor (OR: 1.5), parenting patterns (OR: 3.0), peer support (OR: 1.5), school facilities (OR: 0.4), and school rules OR: 5.0) is associated with sedentary behavior. Parenting parenting and supporting school rules are the most dominant factors associated with sedentary behavior. Respondents who received poor upbringing had the opportunity to conduct behavior as much as 3.0 times compared to those who received good parenting. Respondents who attend school with insufficient regulations have the opportunity to conduct behavior 5 times less than those who attend school with sufficient regulation. Therefore, in the effort of prevention of student's sedentari behavior, it is necessary to involve the parent's role as well as to be supported by adequate school rules and facilities. The presence of peer support among students is also needed to support the prevention of sedentary behavior in students. Keywords: Sedentary Behavior, Student, Parenting Patterns, School Regulations and Facilities
Read More
T-5355
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Fajrin Violita; Pembimbing: Ella Nurlaela Hadi, Hadi Pratomo; Penguji: Caroline Endah Wuryaningsih, Linda Siti Rohaeti, Sri Lilestina Nasution
T-5322
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Dhefi Ratnawati; Pembimbing: Evi Martha; Penguji: Dian Ayubi, Baharudin, Esti Widiastuti
T-5341
Depok : FKM UI, 2018
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
