Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 41151 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Era Oktalina; Pembimbing: Tris Eryando; Penguji: Asih Setiarini, Martya Rahmaniati, Kurnia Agustini, Dakhlan Choeron
Abstrak: Salah satu masalah kekurangan gizi pada balita yang menjadi prioritas utama adalahstunting. Stunting pada balita diakibatkan oleh kekurangan gizi kronis mulai dari awalperkembangan dimana konsekuensinya bersifat permanen. Permasalahan stunting dapatmenimbulkan efek jangka panjang pada individu dan masyarakat, termasukberkurangnya perkembangan kognitif, fisik, kemampuan produktif dan kesehatan yangburuk, serta peningkatan risiko penyakit degeneratif. Tujuan penelitian ini adalah untukmengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian stunting pada balita diProvinsi Sumatera Barat tahun 2017. Penelitian ini menggunakan data sekunderPemantauan Status Gizi Provinsi Sumatera Barat dengan desain penelitian crosssectional dan jumlah sampel 6421 balita. Pengolahan dan analisis data menggunakan ujichi-square (bivariat) dan uji regresi logistik ganda model prediksi (multivariat). Hasiluji statistik menunjukkan ada hubungan yang bermakna antara umur balita, jeniskelamin, tinggi badan ibu, pendidikan ibu, jumlah anggota rumah tangga dan wilayahtempat tinggal dengan stunting pada balita. Umur balita merupakan faktor yang palingdominan dengan kejadian stunting pada balita. Disarankan adanya dukungan kebijakanpeningkatan anggaran program perbaikan gizi masyarakat dalam upaya penanggulanganmasalah stunting dan menyusun kegiatan program sesuai dengan kebutuhan di lapanganserta memperhatikan kebutuhan gizi anak sesuai dengan tahapan umur.Kata kunci: Stunting, Balita 0-59 bulan, Sumatera Barat
One of the nutritional problems in children under five is the main priority is stunting.Stunting in toddlers is caused by chronic malnutrition from the beginning ofdevelopment where the consequences are permanent. Stunting problems can have long-term effects on individuals and communities, including reduced cognitive, physical,productive and poor health, and an increased risk of degenerative diseases. The purposeof this study was to determine factors related to stunting incidence in toddlers in WestSumatera Province in 2017. This study uses secondary data Monitoring Nutrition Statusof West Sumatera Province with cross sectional study design and 6421 children underfive years old. Processing and data analysis using chi-square test (bivariate) andmultiple logistic regression test prediction model (multivariate). The result of statisticaltest shows that there is a significant relationship between toddler age, sex, mother'sheight, mother education, number of household member and residence area withstunting in children. Toddler age is the most dominant factor with stunting incidence intoddlers. It is recommended to support the improvement of public nutritionimprovement program budget in the effort to overcome the problem of stunting andarrange the program activity according to the need in the field and pay attention to thenutritional requirement of children according to the age stage.Keywords: Stunting, Toddler 0-59 month, West Sumatera.
Read More
T-5416
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Lia Nurdini; Pembimbing: Sabarinah Prasetyo, Agustin Kusumayati; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Wendy Hartanto, Yuli Amran
Abstrak: Pembangunan kependudukan dan keluarga berencana berupaya meningkatkankualitas dan mengendalikan kuantitas penduduk Indonesia. Data (Susenas, 2015)memperlihatkan jumlah pemakaian kontrasepsi menurun dari tahun 2014 sebesar61,75% menjadi 59,98% pada tahun 2015, selaras dengan peningkatan unmet needkontrasepsi dari tahun 2014 sebesar 10,98% menjadi 15,8% pada tahun 2016 (SRPJMN,2016). Unmet need kontrasepsi merupakan ketidakterpenuhan kebutuhan kontrasepsiatau yang dikenal dalam penelitian ini sebagai unmet need tipe 1. Selain unmet needtipe 1 terdapat unmet need tipe 2 yaitu ketidaksesuaian penggunaan kontrasepsi.Penelitian ini bertujuan untuk melihat faktor-faktor yang berhubungan dengan unmetneed tipe 1 dan unmet need tipe 2 kontrasepsi keluarga berencana di Provinsi SumatraBarat. Studi kuantitatif data sekunder ini memakai hasil Survei RancanganPembangunan Jangka Menengah Nasional (SRPJMN) Sumatra Barat tahun 2017,dengan total sampel sebanyak 1180 pasangan usia subur. Analisis statistik yangditerapkan adalah regresi logistik multinomial. Variabel dependen berkategori unmetneed tipe 1, unmet need tipe 2 dan met need. Sedangkan variabel independen terdiri atasfaktor predisposisi dan faktor pendukung. Hasil menunjukkan mayoritas (58,5%)subyek berusia >35 tahun, dengan jumlah anak ≤2 (57,7%) dan tinggal di perdesaan(60,9%). Tingkat unmet need tipe 2 (29,7%), jauh lebih tinggi dibandingkan unmet needtipe 1 (22,2%). Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa variabel yangberhubungan dengan unmet need tipe 1 adalah tempat tinggal (OR=1,4), konseling(OR=4,2), pendidikan (OR=1,7), dan kunjungan petugas KB (OR=0,6). Pada unmetneed tipe 2 variabel yang berhubungan adalah tempat tinggal (OR=1,4) dan konseling(OR=3,2). Variabel yang paling dominan berhubungan dengan unmet need tipe 1 danunmet need tipe 2 adalah konseling. Rekomendasi ditujukan kepada petugas KB untukdapat meningkatkan mutu dalam melaksanakan tugasnya, bekerja sama bersama tokohagama dan tokoh masyarakat dalam upaya melakukan konseling yang efektif sehinggadapat meningkatkan keterpenuhan kebutuhan kontrasepsi dan penggunaan KB yangrasional.Kata kunci: unmet need tipe 1, unmet need tipe 2, keluarga berencana, RPJMN, Sumatra Barat
Population and family planning development makes serious effort to improvethe quality and control the quantity of Indonesians. Data (Susenas, 2015) show thenumber of contraceptive use decreased from 61.75% by 2014 to 59.98% by 2015, inline with the improvement of unmet need for contraception from 10.98% by 2014 to15.8% by 2016 (SRPJMN, 2016). Unmet need for contraception is an inconsistency ofcontraceptive requirement or known in this research as type 1 unmet need. Besides thetype 1 unmet need there is type 2 unmet need that is mismatch of contraception usage.This study aims to know factors related to type 1 unmet need and type 2 unmet need forcontraception of family planning in West Sumatra Province. This was a study using datafrom National Mid-Term Development Plan Survey (SRPJMN) of West Sumatra for theyear 2017. We used the multinomial logistic regression to analyze the data for 1,180couples of reproductive age. The categories of dependent variable were type 1 unmetneed, type 2 unmet need, and met need. Independent variables consists of predisposingfactors and supporting factors. The results show the majority (58.5%) of subjects aged >35 years, number of children ≤ 2 (57.7%), and living in rural area (60.9%). Theproportion of type 2 unmet need (29.7%) is higher than type 1 unmet need (22.2%). Themultivariate analysis shows that variables related to type 1 unmet need were residence(OR = 1.4), counseling (OR = 4.2), education (1.7), and family planning health workervisit (OR = 0.6). While variables related to type 2 unmet need were residence (OR =1.4) and counseling (OR = 3.2). The most dominant variable associated with type 1unmet need and type 2 unmet need was counseling. Recommendations are addressed tofamily planning health workers in order to improve quality in family planning services,collaborate with religious leaders and community leaders to commit effectivecounseling so it can improve the needs of contraception and rational use of familyplanning.Keywords: type 1 unmet need, type 2 unmet need, family planning, RPJMN, WestSumatra.
Read More
T-5393
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Siti Sufinah; Pembimbing: Krisnawati Bantas; Penguji: Putri Bungsu, Agus Triwinarto
S-9442
Depok : FKM UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nanda Rimawati; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Ahmad Syafiq, Sudrajat, Flourisa J. Syafiq
S-6435
Depok : FKM-UI, 2011
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ike Kurnia; Pembimbing: Indang Trihandini; Penguji: Ella Nurlaella Hadi, Sabarinah, Dakhlan Choeron, Emi Nurjasmi
Abstrak:

Tesis ini membahas keterkaitan persiapan orang tua pada keluarga childbearing terhadap kejadian stunting di Kabupaten Solok yang ada di Provinsi Sumatera Barat Tahun 2024 untuk mencari hubungan dan penjelasan mengenai kemungkinan faktor risiko terjadinya kasus stunting. Metode penelitian kuantitatif dengan desain kasus kontrol (case control). Pengumpulan data primer dilakukan di komunitas melalui wawancara menggunakan kuesioner. Sampel penelitian ini adalah 184 orang ibu anak balita usia 24-59 bulan yang terdiri dari 92 orang ibu anak stunting dan 92 orang ibu anak tidak stunting di Kabupaten Solok, menggunakan teknik sampling acak bertingkat (multi-stage sampling) tahap dua. Pengolahan data melalui tahap editing, coding, processing, dan cleaning. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat dan multivariat. Penelitian ini mendapatkan hasil bahwa persiapan orang tua memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian stunting (p=0.05) di Kabupaten Solok. Orang tua dengan persiapan yang kurang baik memiliki peluang 2,92 kali lebih tinggi untuk memiliki anak stunting (OR=2.92 95% 1.38-6.19) dibandingkan orang tua dengan persiapan yang baik. Variabel karakteristik sosial demografi ibu yang berhubungan dengan kejadian stunting adalah faktor tingkat pendidikan ibu (p=0.008) serta Tingkat kesejahteraan keluarga KS III dan III plus (p=0.049). Ibu yang hanya menempuh pendidikan hingga jenjang SMP atau kurang berpeluang 2,26 kali lebih tinggi untuk memiliki anak stunting (OR=2.26 95% 1.24-4.10). Ibu yang berada di Keluarga Sejahtera III dan III plus berpeluang 0,45 kali lebih tinggi untuk memiliki anak tidak stunting (OR=0.45 95% 0.20-1.00). Sedangkan faktor umur ibu saat melahirkan, riwayat kehamilan, interval persalinan, tingkat kesejahteraan keluarga, status tempat tinggal, dan status sanitasi tempat tinggal tidak berhubungan dengan kejadian stunting. Tingkat pendidikan ibu dan status sanitasi tempat tinggal merupakan variabel confounding hubungan persiapan orang tua dengan kejadian stunting. Dengan tingkat pendidikan ibu dan status sanitasi tempat tinggal yang serupa, orang tua dengan persiapan kurang baik berpeluang 2,82 kali lebih tinggi memiliki anak stunting (OR=2.82 95% 1.282-6.218).


This thesis discusses the relationship between parental preparation in childbearing families and the incidence of stunting in Solok Regency, West Sumatra Province in 2024 to find relationships and explanations regarding possible risk factors for stunting cases. Quantitative research method with case-control design. Primary data collection was conducted in the community through interviews using questionnaires. The sample of this study was 184 mothers of toddlers aged 24-59 months consisting of 92 mothers of stunted children and 92 mothers of non-stunted children in Solok Regency, using a second-stage multi-stage sampling technique. Data processing through editing, coding, processing, and cleaning stages. Data analysis was carried out univariately, bivariately and multivariately.  This study found that parental preparation had a significant relationship with the incidence of stunting (p = 0.05) in Solok Regency. Parents with poor preparation have a 2.92 times higher chance of having stunted children (OR=2.92 95% 1.38-6.19) compared to parents with good preparation. The socio-demographic characteristics of mothers that are related to the incidence of stunting are the mother's education level (p=0.008) and the family welfare level of KS III and III plus (p=0.049). Mothers who only have education up to junior high school level or less have a 2.26 times higher chance of having stunted children (OR=2.26 95% 1.24-4.10). Mothers who are in Family Welfare III and III plus have a 0.45 times higher chance of having non-stunted children (OR=0.45 95% 0.20-1.00). Meanwhile, the factors of mother's age at delivery, pregnancy history, delivery interval, family welfare level, residential status, and residential sanitation status are not related to the incidence of stunting. The level of maternal education and the sanitation status of the residence are confounding variables in the relationship between parental preparation and the incidence of stunting. With similar levels of maternal education and sanitation status of the residence, parents with poor preparation are 2.82 times more likely to have stunted children (OR=2.82 95% 1,282-6,218).

Read More
T-7366
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rosikin; Pembimbing: Sandra Fikawati; Penguji: Yayuk Hartriyanti, Lucia Pardede
S-4166
Depok : FKM-UI, 2005
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Lidya Latifah Novianti; Pembimbimbing: Sudijanto Kamso; Penguji: Toha Muhaimin, Pandu Riono, Baby Jim Aditya, Husein Habsyi
Abstrak: Menurut data WHO (2015) jumlah perempuan yang terinfeksi HIV adalahsebanyak 16,0 juta jiwa dan 3,2 juta jiwa merupakan anak-anak (<15 tahun) daritotal 36,7 juta orang yang terinfeksi HIV. Pencegahan penularan HIV dari ibu keanak merupakan upaya pengendalian HIV/AIDS karena membantu menurunkanjumlah orang terkena HIV. Dari tahun 2000 sampai dengan 2015 penurunanjumlah orang yang tertular HIV sampai dengan 35 % dari program pencegahanHIV. Salah satu pencegahannya adalah pemeriksaan tes HIV kepada Ibu hamil.Provinsi Jawa barat termasuk dalam 3 provinsi terbanyak kasus HIV, PuskesmasCicalengka dan Puskesmas Rancaekek merupakan Puskesmas yang tersedialayanan pemeriksaan tes HIV. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku test HIV pada ibu hamil. Design crosssectional dengan menggunakan instrument kuesioner. Hasil regresi logistic dalampenelitian didapatkan persepsi manfaat (P value = 0,021; OR = 0,299), informasi(P value = 0,004; OR = 6,67) dan dukungan petugas kesehatan (P value = 0,011;OR = 3,704) merupakan faktor yang berhubungan dengan perilaku tes HIV padaibu hamil, dengan faktor yang paling mempengaruhi adalah faktor informasi.Disarankan untuk Dinas Kesehatan dan Puskesmas untuk meningkatkan upayapromosi tentang pencegahan HIV melalui media elektronik untuk memudahkanakses informasi oleh masyarakat.Kata Kunci: Ibu hamil, HIV, PPIA, dan Tes.
The number of women who is infected by HIV is 16.0 million. Moreover, 3.2million from 36.7 million number who infected by HIV are children (<15 yearsold) (WHO, 2015). Prevention of mother-child transmission is one of HIV-infected. From 2000 until 2015 the decreased number of people who are infectedby HIV down to 35% resulting from HIV prevention. One of the gold standards inprevention programs is HIV examination for pregnant women. West JavaProvince included in three largest provinces of HIV cases, primary health carecenter in Cicalengka and Rancaekek are providing HIV test service. The aims ofthis study are related to HIV test behavior in pregnant women. A cross-sectionaldesign with questionnaire measurement was used in this study. The result ofregretion logistic shows that benefit perception (P = 0.021, OR = 0.299),information (P = 0.021, OR = 0.299), and health care provider support (P =0.021, OR = 0.299) are factors determinant in this study. Information factorresulting as most influencing factors in this study. Recommended to thedepartment of health and public health center is to improve the promotion of HIVusing electronic media to help the community.Keywords: Pregnant women, HIV, PMTCT, and Test.
Read More
T-5093
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Zakiyah; Pembimbing: Caroline Endah Wuryaningsih; Penguji: Ella Nurlella Hadi, Helda, Syahmida S. Arsyad, Irwan Panca Wariaseno
Abstrak: Komplikasi persalinan menyebabkan morbiditas dan mortalitas ibu, kejadiannya meningkat dari 46% pada tahun 2012 menjadi 71,1% pada tahun 2017. Penelitian analisis lanjut menggunakan data SDKI 2017 dengan desain cross sectional, bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan komplikasi persalinan di 34 Provinsi di Indonesia tahun 2012-2017. Sampel dalam penelitian ini adalah wanita usia subur (WUS) yang melahirkan dalam dalam periode 2012-2017 yaitu sebanyak 14.996 orang. Hasil penelitian ini membuktikan adanya hubugan yang signifikan antara status ekonomi, umur, paritas, komplikasi kehamilan, riwayat komplikasi persalinan, penolong persalinan dan tempat persalinan dengan komplikasi persalinan. Hasil analisis regresi logistik ganda didapatkan faktor yang paling dominan berhubungan dengan komplikasi persalinan adalah riwayat persalinan. Responden yang pernah mengalami komplikasi persalinan berisiko hampir 4 kali (OR 3,585; 95% CI: 2,760-4,656) mengalami komplikasi persalinan setelah dikontrol oleh faktor umur, paritas, komplikasi hamil, penolong persalinan, dan tempat persalinan. Komplikasi kehamilan, dan tempat persalinan berinteraksi dengan riwayat komplikasi persalinan terhadap komplikasi persalinan. Disarankan Kementerian Kesehatan dan BKKBN dapat memberikan pelatihan ANC, INC, dan metode kontrasepsi kepada petugas yang memiliki wewenang untuk memberikan perawatan antenatal, intranatal dan pascanatal. Serta memberikan KIE khususnya pada ibu yang mempunyai riwayat komplikasi persalinan untuk mencegah terulangnya komplikasi.
Kata kunci: Komplikasi persalinan, wanita usia subur
Read More
T-5531
Depok : FKM UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Meita Ilyana; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Dian Ayubi, Laily Hanifah
Abstrak: Tingginya prevalensi IMS pada kelompok berisiko salah satunya yaitu wanita penjaja seks tidak langsung, diakibatkan oleh rendahnya proporsi penggunaan kondom sebagai upaya untuk mencegah penularan IMS pada wanita penjaja seksual tidak langsung. Data STPB 2013 menunjukan bahwa proporsi penggunaan kondom secara konsisten hanya sekitar 36% . Penelitian ini bertujuan mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan upaya pencegahan IMS pada wanita penjajak seks tidak langsung (WPSTL). Penelitian ini menggunakan data sekunder Surveilans Terpadu Biologi dan Perilaku tahun 2013 dengan desain studi cross sectional. Sampel penelitian ini adalah WPSTL dari 9 kabupaten/kota di Indonesia yang memiliki data lengkap dalam STBP 2013 dengan jumlah 594 responden. Analisis data meliputi analisis univariat dan bivariat. Hasil penelitian menunjukan bahwa faktor-faktor yang berhubungan secara signifikan dengan upaya pencegahan IMS pada WPSTL yaitu keterpaparan pelayanan kesehatan(Pvalue 0,001; PR 2,3 95%CI 1,5-3,6); akses kondom (Pvalue 0,001; OR 2,6 95%CI (1,7-4,2); kepemilikan kondom (Pvalue 0,001; OR 3,6 95%CI 2,2- 5,7); layanan konseling dan tes HIV (Pvalue 0,015; OR 1,17 95%CI 1,1-2,7), dukungan pelanggan (Pvalue 0,04; OR 3,96 95%CI 2,12-7,38); dukungan pengelola tempat hiburan ( Pvalue 0,001; OR 3,04 95%CI 1,6-5,5); dan dukungan petugas kesehatan (Pvalue 0,001; OR 3,04 95%CI 1,0-5,2). Peningkatan upaya pencegahan IMS oleh WPSTL melalui pendidikan dan pelatihan terkait IMS dan HIV agar prevalensi penularan IMS melalui hubungan seksual berisiko semakin berkurang. Kata kunci : Infeksi Menular Seksual, Wanita Penjaja Seks Tidak Langsung, kondom, Surveilans Terpadu Biologi dan Perilaku tahun 2013
Read More
S-8551
Depok : FKM-UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hartuti; Pembimbing: Sandra Fikawati, Sabarinah B. Prasetyo; Penguji: Ahmad Syafiq, Utami Roesli, Itje A. Ranida
T-2412
Depok : FKM UI, 2006
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive