Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 34067 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Fitri Damayanti; Pembimbing: Asri C. Adisasmita; Penguji: Ratna Djuwita, Dewi Oktavia TLH, Ari Kusuma
T-5429
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ahmad; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Hadi Pratomo, Sudarto Ronoatmodjo, Prastowo Nurgroho, Noor Sardono
Abstrak:

Persalinan pada dasarnya merupakan proses alamiah yang sudah merupakan tugas seorang ibu yang harus dihadapi. Namun demikian, tidak jarang terjadi penyimpangan, sehingga keadaan ini bukan saja menimbulkan risiko bagi ibu, tetapi juga berisiko terhadap bayinya. Salah satu risiko yang mungkin terjadi bagi bayi akibat persalinan ini adalah afiksia neonatorum. Departemen Kesehatan Republik Indonesia memperkirakan prevalen afisia neonatorum sedang dan berat di Indonesia setiap tahun sekitar 144.900 bayi. Sementara itu data pada Rumah Sakit Umum Dr. Adjidarmo Rangkasbitung tahun 2000 terungkap kejadian asfiksia neonatorum sedang dan berat tahun 1999 sebesar 24,9 % meningkat menjadi 45,9 % pada tahun 2000. Penelitian ini menggunakan data sekunder yang bersumber dari register ibu dan register bayi di Rumah SakitUmum Dr.Adjidarmo Rangkasbitung tahun 2000. Tujuan penelitian ini untuk memperoleh informasi tentang hubungan persalinan lama dengan kejadian asfiksia neonatorum. Faktor lain meliputi umur ibu saat bersalin, paritas, berat badan bayi lahir, kelainan plasenta, persalinan tindakan, kelainan letak dan kasus rujukan diduga mempengaruhi hubungan persalinan lama dengan kejadian asfiksia neonatorum. Desain yang digunakan adalah case control. kelompok kasus adalah bayi yang lahir di Rumah sakit Umum Dr. Adjidarmo Rangkasbitung selama tahun 2000 dengan nilai Apgar menit pertama kurang dari 7. Sedangkan kelompok kontrol adalah bayi yang lahir di Rumah sakit Umum Dr. Adjidarmo Rangkasbitung periode selama 2000 dengan nilai Apgar menit pertama 7 sampai 10. Dari keseluruhan sampel, bayi yang lahir dengan mengalami persalinan lama pada kelompok kasus proporsinya hampir lima kali lebih besar (43%) dibanding kelompok kontrol (8,5%). Terbukti adanya hubungan bermakna antara persalinan lama dengan kejadian asfiksia neonatorum. Bayi yang lahir dengan asfiksia neonatorum, setelah dikontrol persalinan tindakan dan kasus rujukan berperan sebagai confounder, atau mempunyai pengaruh terhadap hubungan persalinan lama dengan kejadian asfiksia neonatorum. Perlunya dilakukan persalinan tindakan sesegera mungkin,apabila diketahui ibu bersalin telah mengalami persalinan lama. Kegiatan lainnya adalah perlu terus dilakukan upaya penyuluhan kepada masyarakat, khususnya ibu hamil untuk selalu melakukan perawatan ante natal yang baik selama kehamilannya guna mendeteksi secara dini penyulit persalinan. The Connection Between Long Duration Childbirth rith Neonatorum Asphyxia Case to Newborn Baby at RSU Dr. Adjidarmo Rangkasbitung in 2000Delivering a baby or childbirth, basically is a natural process as a mother's duty that have to deal with. In such a case, sometimes there is childbirth deviations have risks that could be dangerously to mothers and also to newborn babies. One of this risks is Neonatorum Asphyxia. Ministry of Health Republic of Indonesia has predicted that medium and heavy cases of Neonatorum Aphyxia in Indonesia are about 144.900 cases. In the same cases, RSU Dr. Adjidarmo Rangkasbitungs Neonatorum Asphyxia in 1999 is 24,9% and increasing to 45,9% in 2002. This research was using the secondary data that sourced on numbers of mothers and babies registration data at RSU Dr. Adjidarmo Rangkasbitung in 2000.


 

The main goal of this research is to find out the connection between long duration childbirth and Neonatorum Asphyxia case. Others factors that could make effect are; mother's age, paritas, baby's weight, placenta disorder, breech delivery, and referral cases had presumed to influrnce the long duration childbirth with Neonatorum Asphyxia cases. The research's design that used by the writer is case control design. The cases group is numbers of babies that born at RSU Dr. Adjidarmo Rangkasbitung in 2000 with Apgar value less than 7. Whereas the control group is number of babies with Apgar value range at 7 - 10. From all samples, the babies that born with long duration childbirth at the cases group have the proportion cases five times bigger (43%) than the babies at control group (8,5%). It shows that there's connection between long duration childbirth and Neonatorum Asphyxia cases. The babies with Neonatorum Asphyxia cases from long duration childbirth have 3.053 probability odds times than the babies without Neonatorum Asphyxia cases, after being controlled by maternity acts and referral cases. Maternity acts and referral cases it also predicted had taken part as cofounder, or influence to long duration childbirth and Neonatorum aphyxia cases. The maternity acts must be conducted as soos as possible if a long duration childbirth has been detected. Another actions that should be done and continued are public information or illumination acts, especially to pregnant mothers, to always take care of their pregnancy by doing the best ane natal caring along hers/their pregnancy to pre-detect and prevent maternity or childbirth problems.

Read More
T-1300
Depok : FKM UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Meilida Fitriana; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Helda, Renti Mahkota, Eni Gustina, Agus Rahmanto
Abstrak: Angka kejadian asfiksia neonatorum masih menjadi masalah serius di Indonesia.Salah satu penyebab tingginya kematian bayi di Indonesia adalah asfiksianeonatorum yaitu sebesar 33,6%. Salah satu faktor persalinan yang berhubungandengan kejadian asfiksia neonatorum adalah persalinan dengan sectio caesarea.Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan persalinan tindakan dengansectio caesarea dengan kejadian asfiksia neonatorum setelah di kontrol variabel kovariat. Penelitian ini menggunakan rancangan desain kasus control dengan menggunakan data sekunder dari rekam medis ibu bersalin di RSIA BudiKemuliaan, Jakarta pada tahun 2013. Sampel penelitian ini adalah neonatusasfiksia. Analisis menggunakan regresi logistic. Hasil penelitian menunjukkan66,2% bayi asfiksia dilahirkan dengan persalinan sectio caesarea. Selain didapatkan bahwa hubungan persalinan tindakan sectio caesarea dan kejadianasfiksia secara statistik mempunyai hubungan yang bermakna dengan p-value 0,042 dimana ibu yang melahirkan dengan persalinan tindakan sectio caesarea memiliki resiko 2 kali (95% CI 1,03-4,32) untuk terjadi asfiksia pada bayi yang dilahirkan dibanding ibu yang melahirkan dengan persalinan pervaginam (normal)setelah dikontrol dengan variabel kelainan letak, gawat janin, dan preeklamsi.Kata kunci: Sectia Caesarea, Asfiksia
The incidence of neonatal asphyxia remains a serious problem in Indonesia. Oneof the causes of the high infant mortality in Indonesia is asphyxia neonatorum isequal to 33.6%. One of the factors associated with the incidence of birth asphyxianeonatorum is the Sectio Caesarea delivery. The purpose of this study was todetermine the relationship of labor action by sectio Caesarea with the incidence ofneonatal asphyxia after covariate control variables. This study used a case controldesign design using secondary data from maternal medical records in RSIA BudiKemuliaan, Jakarta in 2013 samples of this study was neonatal asphyxia. Analysisusing logistic regression. The results showed 66.2% of babies born with birthasphyxia sectio Caesarea. In addition it was found that labor relations act sectioCaesarea and asphyxia events have statistically significant association with a p-value of 0.042 where the mother who gave birth to the labor action sectioCaesarea has 2 times the risk (95% CI 1.03 to 4.32) for the case of asphyxia ininfants born to mothers who gave birth compared with vaginal delivery (normal)after controlled with variable layout abnormalities, fetal distress, andpreeclampsia.Keywords : Sectio caesarea, asphyxia
Read More
T-4169
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yulia Nur Izati; Pembimbing: Asri Adisasmita, Endang L. Achadi; Penguji: Sri Lestari, M. Baharuddin
Abstrak:

Setiap tahunnya terdapat 1 juta bayi yang meninggal pada hari pertama dikarenakan asfiksia. Risiko kematian karena asfiksia adalah 8 kali lebih tinggi di negara dengan angka kematian neonatal tinggi (Lawn dkk, 2005). Di Indonesia, sekitar 27.0()0 bayi baru lahir meninggal pada hari pertama karena asfiksia (Save the Children, 2005). Selain itu, asfiksia menempati urutan kedua penyebab utama ematian neonatal di Indonesia, setelah berat bayi lahir re dah (29%) ya itu sebesar 27% (SKRT:, 2001). Kejadian astiksia pada bayi baru lahir di RS, menggambarkan kualitas pelayanan kesehatan yang diterima oleh ibu dan bayi baik sebelum masuk RS maupun sesudah masuk RS. Kualitas pelaya nan yang diterima ibu dan bayi dapat dipengaruhi oleh beberapa aktor, diantaranya adalah akses terhadap pelayanan kesehatan. Akses terhadap pelayanan kesehatan yang bagus akan dapat mencegah keterlambatan dalam enerima pela):anan kesehatan yang berkwalitas dan mencegah terjadinya asfiksia. Sebaliknya akses yang tidak bagus terhadap pelayanan kesehatan akan menggamoarkan adanya permasalalian sebelum mencapai fasilitas kesehatan dan hal ini dapat terlihat dengan adan ya tanda dan gejala asfiksia pada bayi baru lahir. Faktor tempat tinggal ibu merupakan salah satu proksi yang dapat setelah mempertimbangkan faktor ibu dan anak dan pelayanan kesehatan. Pola kejadian asfiksia di RS berdasarkan wilayah tempat tinggal menunjukkan bahwa ibu­ ibu yang berasal dari wilayah rural memiliki risiko 1,57 kali untuk bayinya mengalami asfiksia jika dibandingkan dengan ibu yang berasal dari wilayah urban (OR I ,57 95% Cl I,17 - 2, I 0) setelah dikontrol dengan variabel terkait lainnya.


 

Every year I million babies died on the first day born due to asphyxia. The risk of asphyxia i8 times higher in the country with high neonatal Heath (Law n et al,:2005). In Indonesia, about 27.0. 0 newborn babies d ied in he fi rst day of their life d ue to asphyxia (Save the childre , 2005). Asphyxia is the second cause of death in neonatal periooe in Indonesia (27%), after lew birth weight in th first place (29%) (SKR1\ 2001). Asphyxia of newborn by, ill ustrate health service qualiry hat mother and baby accept before and afte care in tHe hospi tal The quality of services received by mother and Baby can be infl uence by sev ra J factors; one f those is access to the hea lth service. Good access to t h hea lth service can prevent delayed i n the acceptance for quality of hea lth service an prevent baby to get asphyxia. On the other side, poor access to the health service ean ill ustrate a prob le before reaching the healtH facilities and thi can be seen i n he sign and symptom of birth asphyxia of the newborn baby. Mother's residence is one of the p oxies that can illustrate access to the health facilities in one area. The proxy of health service facilities can used to evaluate improveme to prevent asphyx ia. Identify the delay before reaching hospital can also be illustrated poor access t0 the healt}l service. And t his can be used to identify poor access through mother-'s residence rela. ed to birth a hyxia.

Read More
T-2918
Depok : FKM-UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Bella Fitri Ayu; Pembimbing: Syahrizal Syarif; Penguji: Helda, Hermina M. Basrie
Abstrak: Asfiksia Neonatorum adalah salah satu penyebab utama mortalitas neonatal di Indonesia dengan persentase sebesar 27%. KPD menyebabkan terjadinya oligohidramnion yang menyebabkan menngkatnya tekanan pada tali pusat sehingga mengalami penyempitan dan mengahambat aliran darah yang membawa oksigen ke janin dan menimbulkan hipoksia yang berkelanjutan hingga menyebabkan bayi menjadi asfiksia saat dilahirkan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui asosiasi KPD dengan asfiksia neonatorum. Desain studi yang digunakan adalah kohort retrospektif. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh ibu bersalin di RSUD HAMBA Batang Hari, Jambi dengan sampel adalah ibu bersalin di RSUD HAMBA Batan Hari, Jambi pada tahun 2020 yang dipilih dengan metode sampel acak sederhana. Besar sampel pada penelitian ini adalah 70 sampel yang terdiri dari 35 orang terpapar dan 35 orang kontrol. Uji statistik yang digunakan adalah uji regresi cox berganda model faktor risiko. Ada hubungan KPD dengan asfiksia neonatorum gestasi, preeklampsia, dan berat badan lahir. Ibu hamil direkomendasikan untuk konsumsi vitamin C, melakukan pemeriksaan antenatal care rutin, menjaga tekanan darah dengan memperhatikan makanan yang dikonsumsi, mengendalikan stres, dan berkonsultasi kepada dokter sebelum merencanakan kehamilan
Neonatal Asphyxia is one the main causes of neonatal mortality in Indonesia with a percentage of 27%. Premature rupture of membranes (PROM) is one of the factors that cause of nenonatal asphyxia. PROM causes oligohydramnios which causes pressure on the umbilical cord so that it inhibits blood flow that carries oxygen to the fetus and causes continuous hypoxia, causing asphyxia. The purpose of this study was to determine the association between PROM and neonatal asphyxia. The study design used was a retrospective cohort. The population in this study were all mothers who gave birth at the HAMBA Batang Hari Hospital, Jambi with the sample being mothers who gave birth at the HAMBA Batan Hari Hospital, Jambi in 2020 which were selected using a simple random sample method. The samples size in this study was 70 samples consisting of 35 people exposed and 35 controls. The statistical test used was the multiple cox regression test with the risk factor model. There is association between PROM and neonatal asphyxia after controlled b history of abortion, gestational age, preeclampsia, and birth weight. Pregnant women are recomended to consume vitamin C, do antenatal care regularly, maintain blood pressure by paying attention to the food consumed, control stress, and consult a doctor before planning a pregnancy
Read More
T-6281
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rahmatillah Razak; Pembimbing: Asri C. Adisasmita, Syahrizal; Penguji: Dwirani Amelia
Abstrak: Asfiksia kelahiran adalah penyebab 23% dari semua kematian neonatal di seluruh dunia. Tiga perempat darisemua kematian bayi baru lahir disebabkan dari kondisi yang dapat dicegah dan diobati termasuk kejadianasfiksia. BBLR mempunyai risiko mengalami kegagalan nafas yang dapat menyebabkan asfiksia neonatorumnamun tidak semua bayi BBLR adalah prematuritas, sehubungan dengan hal tersebut diperkirakan sekitarsepertiga bayi berat lahir rendah sebenarnya adalah bayi aterm. Penelitian ini dikukan di RSIA Budi Kemuliaan,merupakan salah satu rumah sakit ibu dan anak swasta rujukan untuk proses kelahiran yang ada di Jakarta. Designpenelitian ini adalah kasus kontrol dengan menggunakan data rekam medik, jumlah kasus sanyak 120 dan kontrolsebanyak 240. Hasil analisis menunjukkan asfiksia neonatorum pada bayi BBLR cukup bulan memperlihatkannilai OR 2.17 (0.88-5.37) dan risikonya meningkat pada bayi premature (normal dan BBLR) OR 4.69 (CI 95%2.68-8.18), ini berarti bahwa bayi prematur (normal dan BBLR) berisiko 4.69 kali untuk mengalami asfiksiadibanding dengan bayi yang beratnya normal.Kata kunci: Asfiksia Neonatorum, BBLR, Prematur
Asphyxia neonatorum is the cause of 23% of all neonatal mortality in the world. Three quarters from the mortalityare caused by conditions that can be prevented and treated, including the incident of asphyxia. Low Birth Weight(LBW) has the risk of having a respiratory failure that can cause asphyxia neonatorum, however not all LBWinfants is prematurity, due to this problem, it can be estimated that approximately one-third of LBW is aterminfants. This research was conducted in Budi kemuliaan hospital, which was one of the private mother and childhospital that reference to the birth process in Jakarta. The design of this research was case-control by using medicalrecord data, with 120 cases and 240 controls. The multivariate analysis showed that asphyxia neonatorum on theLBW had OR 2.17 (CI 95% 088-5.37) and the risk increase on the premature (normal and low birth weight) OR4.69 (CI 95% 2.68-8.18). Premature (normal and low birth weight) had 4.69 more at risk of asphyxia neonatorumthan the normal weight neonatal.Keyword: Asphyxia, Low Birth Weight, Prematurity.
Read More
T-5175
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Diah Ayu Pertiwi; Pembimbing: Nurhayati Adnan Prihartono; Penguji: Trisari Anggondowati, Sulistyo
Abstrak:
Latar Belakang Tuberkulosis (TBC) merupakan penyakit yang sudah lama ada dan masih menjadi salah satu penyakit menular utama di dunia. Indonesia menempati peringkat 2 hanya setelah India dengan kasus TBC terbanyak di dunia. Target global dan milestone untuk penurunan insiden dan kematian TBC telah ditetapkan sebagai bagian dari SDGs dan End TBC. Strategi TBC pada akhir tahun 2030 yaitu penurunan 90% kematian TBC dan 80% penurunan insiden TBC. Belum seluruh fasyankes melaporkan terduga dan kasus tuberkulosis ke sistem informasi nasional TBC, maka berdasarkan Strategi Nasional Penanggulangan Tuberkulosis di Indonesia 2020-2024 dan rencana interim 2025-2026 dilakukan penguatan jejaring layanan dengan melibatkan fasyankes pemerintah maupun swasta (Public-Private Mix/PPM). Jejaring Layanan TBC di Fasilitas Kesehatan Pemerintah-Swasta Berbasis Kabupaten/Kota atau District-Based Public-Private Mix (DPPM). DPPM dapat mengatasi kesenjangan dalam hal penemuan kasus TBC, kualitas pelayanan TBC maupun pelaporan kasus TBC. Metode Penelitian ini menggunakan desain studi ekologi dengan menganalisis data sekuder dari register TBC 06 dan TBC 16 Aplikasi SITB Direktorat Jenderal P2P Kemenkes RI dengan jumlah 80 kabupaten/kota yang menjadi wilayah prioritas implementasi PPM di Indonesia Tahun 2023. Data dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan SPSS versi 24. Hasil: Hasil analisis univariat menunjukkan bahwa wilayah implementasi PPM melaporkan notifikasi lebih besar yaitu 56% dibandingkan wilayah bukan PPM sebesar 44% dengan jumlah fasyankes dan jumlah ketersediaan alat TCM yang lebih sedikit dari wilayah bukan PPM. Hasil uji korelasi menunjukkan bahwa jumlah fasyankes (r = 0.774), ketersediaan alat TCM (r = 0.767), dan investigasi kontak (r = 0.672) berkorelasi kuat terhadap notifikasi kasus tuberkulosis pada implementasi PPM di Indonesia Tahun 2023. Kesimpulan dan Saran: Implementasi PPM di Indonesia Tahun 2023 berkontribusi besar terhadap notifikasi kasus tuberkulosis di Indonesia. Jumlah Fasyankes, ketersediaan alat TCM dan investigasi kontak berhubungan signifikan dan kuat terhadap notifikasi kasus tuberculosis. Dengan memperluas wilayah implementasi diharapkan dapat meningkatkan jumlah notifikasi kasus dengan keterlibatan sektor pemerintah dan swasta sehingga semakin memperbesar capaian pada program pengendalian tuberkulosis di Indonesia.

Background Tuberculosis (TBC) is a long-standing disease and remains one of the world's major infectious diseases. Indonesia ranks 2nd only to India with the most TBC cases in the world. Global targets and milestones for reducing TBC incidence and mortality have been set as part of the SDGs and End TBC. The TBC strategy by the end of 2030 is a 90% reduction in TBC deaths and 80% reduction in TBC incidence. Not all health facilities have reported TBC suspects and cases to the national TBC information system, so based on the National Strategy for Tuberculosis Control in Indonesia 2020-2024 and the interim plan 2025-2026, a service network was strengthened by involving public and private health facilities (Public-Private Mix/PPM). District-Based Public-Private Mix (DPPM) TBC Service Networks in Public-Private Health Facilities. DPPM can address gaps in TBC case finding, quality of TBC services and TBC case reporting. Methods This study used an ecological study design by analyzing secondary data from the TBC 06 and TBC 16 registers of the SITB Application of the Directorate General of P2P Ministry of Health, Republic of Indonesia with a total of 80 districts / cities which are priority areas for PPM implementation in Indonesia in 2023. Data were analyzed univariately and bivariately using SPSS version 24. Results: The results of univariate analysis showed that PPM implementation areas reported more notifications at 56% compared to non-PPM areas at 44% with fewer number of health facilities and availability of TCM equipment than non-PPM areas. Correlation test results showed that the number of health facilities (r = 0.774), availability of TCM equipment (r = 0.767), and contact investigation (r = 0,672) has streght corelation to the notification of tuberculosis cases in PPM implementation in Indonesia in 2023. Conclusions and Suggestions: The implementation of PPM in Indonesia in 2023 contributes significantly to the notification of tuberculosis cases in Indonesia. Total health facilities, availability of TCM tools and contact investigation have a significant and strong association with TB case notification. Expanding the implementation area is expected to increase the number of case notifications with the involvement of the government and private sectors, thus increasing the achievements of the TBC control program in Indonesia.
Read More
S-11725
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sri Agustina Sinuhaji; Pembimbing: Ratna Djuwita, Asri C Adisasmita; Penguji: Kusharisupeni, Helda, Suhara Manulang
T-2744
Depok : FKM-UI, 2006
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
B. Nunung Priyatni; Pembimbing: Soedarto Ronoatmodjo
T-1014
Depok : FKM UI, 2001
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Uswatun Hasanah; Pembimbing: Ratna Djuita; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Ocvianty, Dwiana, Deliani, Santi
Abstrak: Kanker leher rahim merupakan kanker nomer dua terbanyak diderita oleh perempuan di seluruh dunia dan penyebab kematian akibat kanker yang paling utama, khususnya bagi perempuan di negara-negara berkembang (WHO, 2002). Prevalensi kanker leher rahim di wilayah DKI Jakarta sebesar 1,2 dari 5.919 pada wanita yang melakukan skrining dan Provinsi Jawa Barat sebesar 0,7 dari 15.635 wanita. Sebelum terjadinya kanker leher rahim akan didahului dengan keadaan yang disebut lesi prakanker. Prevalansi lesi prakanker leher rahim tahun 2012 sebesar 4,5%. Salah satu faktor resiko lesi prakanker leher rahim yaitu usia pertama kali berhubungan seksual < 17 tahun yang saat ini masih tinggi di masyarakat. Penelitian ini membahas hubungan usia pertama kali berhubungan seksual dengan kajadian lesi prakanker leher rahim pada wanita yang melakukan skrining dengan metode Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA) di wilayah kerja Layanan Kesehatan Cuma-Cuma Dompet Dhuafa dengan sasaran penerima manfaat. Penelitian dilakukan dengan desain kasus kontrol dengan jumlah sampel 230 yang terdiri dari 46 kasus dan 184 kontrol. Analisis multivariat menggunakan regresi logistik. Hasil menunjukkkan bahwa usia pertama kali berhubungan seksual < 17 tahun meningkatkan resiko lesi prakanker leher rahim OR 4,092 (CI,1,769-9,464). Oleh karenanya peningkatan pengetahuan dan pemahaman tentang faktor resiko kanker leher rahim melalui edukasi, pendewasaan usia pernikahan serta deteksi dini melalui pemeriksaan rutin akan membantu mengurangi kasus lesi prakanker leher rahim. Kata Kunci: Kanker Leher Rahim, Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA) positif Cervical cancer is second most common worldwide cancer afflict to women and leading cause of cancer deaths, particularly for women in developing countries (WHO, 2002). The prevalence of cervical cancer in women who has been screening in Jakarta around 1,2 from 5,919 and around 0.7 out of 15,635 in West Java. The diagnosis of cervical cancer will be preceded by a condition called pre-cancerous lesions. Prevalence of pre-cancerous cervical lesions in 2012 is 4.5%. One of the risk factors of pre-cancerous cervical lesions is age less than <17 years of first sexual intercourse which is still high in society. This study explained relationship between first-time sexual intercourse with the occurrence of cervical pre-cancer lesions in female beneficiaries doing early detection using Visual Acetic Acid Inspection (IVA) at Layanan Kesehatan Cuma-Cuma Dompet Dhuafa. The study was conducted with case control design of 230 total sample consisting of 46 cases and 184 control. Multivariate analysis used logistic regression. Results showed first age of intercourse less than <17 years increased risk of pre-cancerous cervical lesions OR 4,092 (CI, 1,769-9,464). According to this study increased knowledge and understanding of risk factors for cervical cancer through education, control of marriage age and early detection with periodically checkup will reduce cases of pre-cancerous cervical lesions. Keywords: Cervical Cancerous, Positive Visual Inspection With Acetic Acid
Read More
T-5075
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive