Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 32274 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Ajie Mulia Avisena; Pembimbing: Krisnawati Bantas, Yovsyah; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Sunardi, Dwinda Romadhoni
T-5443
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Reni Oktarina; Pembimbing: Nuning M.K. Masjkuri; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Zarfiel Tafal, Saktiyono
T-3282
Depok : FKM-UI, 2011
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Suherni; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Renti Mahkota, I Nengah Darna
S-5371
Depok : FKM UI, 2008
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Puhilan; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Yovsyah, Renti Mahkota, Sunardi, Regina TS
Abstrak:

Abstrak

Filariasis (penyakit kaki gajah) adalah penyakit menular menahun yang disebabkan oleh cacing filarial dan ditularkan oleh nyamuk.Program Pemberian Obat Massal Pencegahan (POMP) merupakan salah satu program pencegahan filariasis.Cakupan Program Pemberian Obat Massal Pencegahan (POMP) filariasis dari tahun 2005-2009 berkisar antara 28% -59,48%. Persentase kasus klinis yang ditatalaksana berkisar antara 17%- 40%. Pencapaian ini belum mencapai target yang ditetapkan oleh WHO (85%).

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahuihubungan cakupan pemberian obat massal pencegahan (POMP) terhadap keberhasilan pemberantasan filariasis di 32 Kabupaten/Kota di Indonesia tahun 2012. Penelitian ini menggunakan desain Cross Sectionaldengan pendekatan data ekologi. Penelitian ini dilaksanakan terhadap Kabupaten/kota di Indonesia yang telah melaksanakan pemberian obat massal pencegahan filarisis. Berdasarkan laporan pemeriksaan mikrofilaria dalam darah hasil dari Subdit Pencegahan Filariasis dan Kecacingan Direktorat Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang Ditjen PP dan PL Kementrian Kesehatan RI pada tahun 2012 terhadap kabupaten/kota yang telah melaksanakan pemberian obat massal pencegahan filariasis selama lima tahun yang diberikan sekali dalam setahun. Analisis data menggunakan cox regression.

Hasil analisis diperoleh prevalensi kabupaten/kota cakupan pemberian obat kategori tinggi sebesar 85% dan berhasil dilakukan pemberantasan sebanyak 22 kabupaten/kota. Penelitian ini menunjukkan ada hubungan cakupan pemberian obat massal pencegahan (POMP) terhadap keberhasilan pemberantasan filariasis sebesar 2,04 kali (PR = 2,04; 1,019-4,05), hasil uji multivariat menunjukkan cakupan pemberian obat massal kategori tinggi berpeluang berhasil dalam pemberantasan filariasis sebesar 1,591 kali (PR = 1,591; 0,561-4,512) setelah dikontrol variabel tingkat pendidikan dan sex ratio. Dengan melakukan pemberian obat massal pencegahan (POMP) filariasis yang diberikan satu tahun sekali selama lima tahun berturut-turut maka eliminasi filariasis di Indonesia dapat tercapai.


Filariasis (elephantiasis) is achronic infectious disease caused byfilarial worms and transmitted by mosquitoes. Mass Drug Administration Program (MDAP) is one of filariasis prevention programs. Filariasis Mass Drug Administration Program (MDAP) Coverage from 2005-2009 ranged from 28% - 59.48%. Percentage of clinical cases are administered ranged from 17% -40%. This achievement has not reached the assigned target by the WHO (85%0.

This study aims to determine the relationship coverage of mass drug administration against the success of the prevention of filariasis in Indonesia in 2012. This study was using a cross sectional design with ecological data approach. This study was conducted to district / city in Indonesia that have implemented Mass Drug Administration (MDA) filarisis prevention which is based on inspection reports of microfilariae in the blood in the districts / cities that have implemented preventive filariasis Mass Drug Administration for five years, given once a year. Data obtained from the Filariasis Prevention and Worm Sub Directorate - Directorate of Animal Disease Control Sourced , Directorate General of Disease Control and Enviromental Health, Ministry of Health in 2012. Data analysis using cox regression.

Results of analysis, the prevalence of the district/city high coverage of drug categories by 85% and successfull in preventing 22 districts/cities. This study showed that there are correlation of Mass Drug Administration against the success of filariasis prevention of 2.04 times(PR =2:04; 1.019 to 4.05), test showing the coverage of Mass Drug Administration likely to succeed in the high category for the prevention of filariasis 1,591 times (PR =1,591;0.561 to 4.512) after controlling variable level of education and sex ratio. By doing preventive filariasis Mass Drug Administration give nonce a year for five years regularly then the elimination of filariasis in Indonesia can be achieved.

Read More
T-3910
Depok : FKM-UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ikrimah Nafilata; Promotor: Nurhayati Adnan; Kopromotor: Tri Yunis Miko Wahyono, Taniawati Supali; Penguji: Besral, Dewi Susanna, Evi Martha, Syahrizal Syarif, Christiana Rialine Titaley
Abstrak:
Latar Belakang: Saat ini terdapat 1,3 miliar penduduk di dunia berisiko tertular filariasis pada lebih dari 83 negara dan 50% orang terinfeksi tinggal di Asia Tenggara termasuk Indonesia. Indikator keberhasilan pengendalian filariasis yang telah ditetapkan Kementerian Kesehatan berdasarkan pedoman WHO yaitu kabupaten/kota endemis yang berhasil menurunkan angka mikrofilaria menjadi < 1% dengan menerapkan Mass Drug Administration (MDA) minimal cakupan pengobatan >65% populasi. Pemberian Obat Pencegahan Massal (POPM) dengan Diethylcarbamazine citrate dan Albendazole telah dilakukan di Kota Pekalongan sejak tahun 2011-2015 dengan cakupan pengobatan sebesar >65%, namun hasil evaluasi mini TAS tahun 2019 prevalensi antigen masih > 2%. Berdasarkan pedoman WHO, program POPM Kota Pekalongan harus diperpanjang selama 2 tahun dengan obat Ivermectin, Diethylcarbamazine citrate dan Albendazole (IDA), namun cakupan pengobatan IDA putaran pertama <65%. Perlu dilakukan penelitian untuk membuat model evaluasi POPM filariasis agar dapat dilakukan perbaikan dalam program serta meningkatkan cakupan pengobatan. Metode: Penelitian ini menggunakan desain mixed methods sekuensial eksplanatori dengan jumlah sampel sebanyak 646 sampel untuk data kuantitatif (pengambilan darah jari sebanyak 300µl untuk pemeriksaan antigen dan wawancara terstruktur kuesioner) dan 9 informan dari petugas kesehatan dan penduduk untuk data kualitatif (input, proses, out, outcome program, serta perilaku minum obat penduduk). Penelitian dilakukan pada total 10 kelurahan di daerah endemik Kota Pekalongan dengan teknik sampling menggunakan sistem cluster (40 cluster RW) dipilih secara consecutive sampling. Hasil: Didapatkan model evaluasi pada aspek input yang memerlukan perbaikan berupa evaluasi pendanaan, pada evaluasi aspek proses didapatkan evaluasi pendampingan petugas kesehatan pada masyarakat dengan kriteria tertentu dengan perbaikan komunikasi untuk sosialisasi pengobatan, didapatkan juga model evaluasi pada aspek output dan outcome. Kesimpulan: Model evaluasi program POPM yang tepat yaitu model evaluasi komprehensif (input, proses, ouput, outcome), pada bagian proses harus dioptimalkan pada evaluasi pendampingan petugas kesehatan pada praktik minum obat untuk masyarakat dengan kriteria tertentu dan perbaikan komunikasi untuk sosialisasi melalui pendekatan kuantitatif dan kualitatif, untuk dapat meningkatan cakupan pengobatan dan sosialisasi yang merata. Saran : Model evaluasi program Pemberian Obat Pencegahan Massal yang komprehensif (input, proses, output, outcome) perlu dilakukan agar dapat memperbaiki pendampingan petugas kesehatan dalam praktik minum obat dan perbaikan komuniasi sosialisasi pengobatan pada masyarakat dengan kriteria tertentu untuk dapat meningkatkan cakupan pengobatan di daerah endemik tipe perkotaan.

Background: Currently, there are 1.3 billion people in the world at risk of contracting filariasis in more than 83 countries and 50% of infected people live in Southeast Asia, including Indonesia. The indicators for the success of filariasis control that have been determined by the Ministry of Health based on WHO guidelines are endemic districts/cities that have succeeded in reducing the number of microfilariae to <1% by implementing Mass Drug Administration (MDA) with a minimum treatment coverage of >65% of the population. Mass Preventive Drug Administration (POPM) with Diethylcarbamazine citrate and Albendazole have been carried out in Pekalongan City since 2011-2015 with a treatment coverage of >65%. However, the 2019 TAS mini-evaluation results showed that antigen prevalence was still >2%. Based on WHO guidelines, the Pekalongan City POPM program should be extended for 2 years with Ivermectin, Diethylcarbamazine citrate, and Albendazole (IDA) drugs, but the coverage of the first round of IDA treatment was <65%. Research needs to be conducted to create an evaluation model for POPM filariasis so that improvements can be made to the program and treatment coverage can be increased. Method: This study used a mixed methods sequential explanatory design with a sample size of 646 samples for quantitative data (taking 300µl of finger blood for antigen examination and structured questionnaire interviews) and 9 informants from health workers and residents for qualitative data (input, process, output, program outcome, and residents' medication-taking behavior). The research was conducted in 10 sub-districts in the endemic area of Pekalongan City using a sampling technique using a cluster system (40 RW clusters) selected using consecutive sampling. Results: An evaluation model was obtained for the input aspect that required improvement in the form of funding evaluation, in the process aspect evaluation an evaluation of health worker assistance was obtained for the community with certain criteria with improved communication for treatment socialization, an evaluation model was also obtained for the output and outcome aspects. Conclusion: The appropriate evaluation model for the POPM program is comprehensive (input, process, output, outcome). The process section must be optimized in the evaluation of health worker assistance in the practice of taking medication for the community with certain criteria and improving communication for socialization through quantitative and qualitative approaches, to increase the coverage of treatment and socialization evenly. Suggestion: A comprehensive evaluation model for the Mass Preventive Drug Administration program (input, process, output, outcome) needs to be carried out to improve the assistance of health workers in the practice of taking medication and improve communication and socialization of treatment in the community with certain criteria to be able to increase treatment coverage in endemic urban areas.
Read More
D-551
Depok : FKM UI, 2025
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Salam; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Yovsyah, Suhardini, Hanung Wikantono
Abstrak: Latar Belakang dan Tujuan: Tuberkulosis masih menjadi 10 besar penyebab kematian di seluruh dunia. Indonesia menjadi negara dengan jumlah kasus TB paru terbesar ketiga setelah India dan China. Prevalensi TB paru di Indonesia pada Tahun 2018 sebesar 193/100.000 penduduk dengan jumlah kasus mencapai 845.000 dan 24.000 diantaranya merupakan kasus kebal obat. Salah satu penyebab TB resisten obat adalah tidak teratur minum obat. Kepatuhan minum obat sangat mempengaruhi kesembuhan pasien TB paru. Salah satu penyebab terjadinya kasus putus obat adalah pengawas menelan obat. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Tahun 2018 menunjukan bahwa 30,8% penderita TB paru tidak rutin/patuh minum obat sementara penderita TB paru yang tidak memiliki PMO mencapai 33,8%. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui hubungan PMO dengan kepatuhan minum Obat Anti Tuberkulosis (OAT) pada penderita TB paru sensitif obat di Indonesia Tahun 2018. Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan pendekatan kasus kontrol, populasi sumber merupakan penderita TB paru hasil riskesdas 2018, populasi studi berjumlah 933 orang diambil dari populasi eligible yang memenuhi kriteria inklusi: berumur >15 tahun, didiagnosis TB <6 bulan dan mengetahui fasyankes, kriteria eksklusi:data tidak lengkap. Hasil: Analisis bivariat menunjukan hubungan yang bermakana antara PMO dengan ketidakpatuhan minum obat POR=1,79 (95% CI:1,31-2,35) p=0,000, analisis multivariat menunjukan POR=1,43 (95% CI:1,03-1,99) p=0,0183. Kesimpulan: Ada hubungan yang bermakna antara keberadaan PMO dengan kepatuhan minum obat pada penderit TB paru
Read More
T-5940
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dessi Marantika Nilam Sari; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Syahrizal, Helwiah Umniyati, Suyono
Abstrak:
Kurangnya kepatuhan terhadap pengobatan menjadi faktor risiko munculnya jenis HIV yang resisten terhadap obat, yang dapat ditularkan kepada orang lain. Kepatuhan terhadap pengobatan yang buruk tidak hanya membahayakan kesehatan individu tetapi juga meningkatkan penularan. Penelitian ini bertujuan untuk mengamati faktor-faktor yang berhubungan dengan terjadinya ketidakpatuhan minum obat ARV pada ODHIV yang mendapatkan terapi ARV di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Tangerang. Jenis penelitian ini menggunakan penelitian observasional dengan rancangan cross sectional. Penelitian dilakukan di poli HIV Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Tangerang dan waktu penelitian dilakukan pada bulan November 2023 menggunakan data sekunder. Populasi penelitian berjumlah 1.337 ODHIV yang aktif menjalani pengobatan antiretroviral di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Tangerang dengan menggunakan total sampling sesuai dengan kriteria inklusi dan ekslusi sehingga sampel penelitian berjumlah 1.286 ODHIV. Hasil analisis univariat menunjukan bahwa usia ≥ 35 tahun (56,45), laki-laki (61,20%), pendidikan rendah (87,10%), belum kawin atau cerai (51,92%), domisili dalam kabupaten Tangerang (55,88%), mendapatkan konseling kepatuhan (63,73%), memiliki jaminan kesehatan (51,92%), ≥5km akses layanan kesehatan (54,07%), IO non TB (40,90%), stadium lanjut (63,69%), viral load ≥40 mL (46,73%), tidak ada efek samping obat (53,34%), lamanya pengobatan >5 tahun (72,01%), masuk kedalam populasi kunci (88,01%) dan tidak mendapat dukungan (61,12%). Hasil analisis kai kuadrat secara statistik ada hubungan antara umur, jenis kelamin, status pendidikan, status perkawinan, domisili, pelayanan konseling kepatuhan, stadium klinis WHO, viral load, lamanya pengobatan ARV, kelompok populasi kunci dan dukungan teman sebaya (P-Value<0,05) dengan ketidakpatuhan minum obat ARV. Hasil analisis cox regression dengan faktor yang secara statistik berhubungan terhadap ketidakpatuhan minum obat antiretroviral pada ODHIV adalah umur (P-Value=0,01) nilai PR 1,20 dengan 95% CI (1,05-1,38), status perkawinan (P-Value=0,02) nilai PR 1,18 dengan 95% CI (1,03-1,36), domisili (P-Value=0,01) nilai PR 1,19 dengan 95% CI (1,04-1,36), viral load (P-Value=0,001) nilai PR 1,27 dengan 95% CI (1,10-1,43), lamanya pengobatan ARV (P-Value=0,005) nilai PR 1,25 dengan 95% CI (1,07-1,47), kelompok populasi kunci (P-Value=0,02) nilai PR 1,27 dengan 95% CI (1,04-1,56), dukungan teman sebaya (P-Value=0,04) nilai PR 1,15 dengan 95% CI (1,00-1,32). Faktor umur, status perkawinan, domisili, viral load, lamanya pengobatan, kelompok populasi kunci dan dukungan teman sebaya memiliki pengaruh terhadap ketidakpatuhan minum obat antiretroviral (ARV) pada ODHIV di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Tangerang.

Lack of treatment adherence becomes a risk factor for the emergence of drug-resistant strains of HIV, which can be transmitted to others. Poor adherence to treatment harms the individual’s health and increases the risk of transmission. This study aims to observe the factors associated with the occurrence of non-adherence to taking ARV drugs in PLHIV who receive ARV therapy at the Regional General Hospital of Tangerang Regency. This type of study uses observational research with a cross-sectional design. The study was conducted at the HIV Specialist of the Regional Govern Hospital of Tangerang Regency and the time of the study was carried out in November 2023 using secondary data. The study population amounted to 1,337 PLHIV who were actively undergoing antiretroviral treatment at the Regional General Hospital of Tangerang Regency using total sampling by inclusion and exclusion criteria so that the study sample amounted to 1,286 PLHIV. The results of the univariate analysis showed that the age of ≥ 35 years (56.45), male (61.20%), low education (87.10%), unmarried or divorced (51.92%), domiciled in Tangerang district (55.88%), received compliance counselling (63.73%), had health insurance (51.92%), ≥5km of health service access area (54.07%), non-TB IO (40.90%), advanced stage (63.69%), viral load ≥40 mL (46.73%), no drug side effects (53.34%), duration of treatment ≥5 years (72.01%), entered into key populations (88.01%) and received no support (61.12%). The results of the kai squared analysis statistically showed there was an association between age, sex, educational status, marital status, domicile, adherence to counselling services, WHO clinical stage, viral load, duration of ARV treatment, key population groups and peer support (P-Value<0.05) with non-adherence to taking ARV drugs. The results of Cox Regression analysis with factors statistically related to non-adherence to taking antiretroviral drugs in ODHIV were age (P-Value = 0.01), PR value 1.20 with 95% CI (1.05-1.38), marital status (P-Value = 0.02), PR value 1.18 with 95% CI (1.03-1.36), domicile (P-Value = 0.01), PR value 1.19 with 95% CI (1.04-1.36), viral load (P-Value = 0.001), PR value 1.27 with 95% CI (1.10-1.43), duration of ARV treatment (P-Value = 0.005), PR value 1.25 with 95% CI (1.07-1.47), key population group (P-Value = 0.02), PR value 1.27 with 95% CI (1.04-1.56), peer support (P-Value = 0.04), PR value 1.15 with 95% CI (1.00-1.32). Factors such as age, marital status, domicile, viral load, duration of treatment, key population groups and peer support have an influence on non-adherence to taking antiretroviral drugs (ARV) in PLHIV at the Regional General Hospital of Tangerang Regency.
Read More
T-6876
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Jamilah Nasution; Pembimbing: Ratna Djuwita; Penguji: Lukman Hakim Tarigan, Hadi Pratomo, Nugroho Soeharno, Mursalim
T-3258
Depok : FKM-UI, 2010
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Shania Adhanty; Pembimbing: Syahrizal; Penguji: Trisari Anggondowati, Bambang Setiaji, Rina Fitri Anni Bahar
Abstrak:
Indonesia merupakan negara yang menempati urutan kedua dengan kasus TB tertinggi di dunia. Kasus TB di Indonesia paling banyak ditemukan di tiga Provinsi, salah satunya Provinsi Jawa Barat. Berdasarkan Perhimpunan Organisasi Pasien TB (POP TB) estimasi beban TB tertinggi di Indonesia berada di Provinsi Jawa Barat dengan cakupan pengobatan hanya 50%. Ketidakpatuhan pada pengobatan dapat menyebabkan resistensi obat, kekambuhan penyakit dan kematian. Oleh karena itu dibutuhkan seseorang yang dapat mengawasi pengobatan yang harus dijalani oleh penderita TB. Memastikan kehadiran PMO merupakan salah satu langkah yang solutif untuk meningkatkan keberhasilan pengobatan TB. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara ketersediaan PMO dengan kepatuhan minum obat penderita Tuberkulosis Paru di Provinsi Jawa Barat. Desain studi yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross-sectional dengan pendekatan kuantitatif dan menggunakan data sekunder Riskesdas 2018. Analisis dilakukan terhadap 124 penderita TB di Provinsi Jawa Barat yang telah memenuhi kriteria inklusi maupun eksklusi. Hasil analisis menunjukkan bahwa proporsi ketidakpatuhan penderita TB paru di Provinsi Jawa Barat mencapai 28,23% dan tidak tersedianya PMO mencapai 37,10%. Analisis multivariat menunjukkan bahwa penderita TB yang tidak memiliki PMO 1,35 kali berisiko untuk tidak patuh minum obat dibandingkan dengan yang memiliki PMO setelah dikontrol oleh variabel kovariat (PR 1,35; 95% CI: 0.68 – 2.70). Namun hubungan antara keduanya tidak signifikan secara statistik (p value > 0,05). Memastikan PMO melaksanakan tugasnya dengan baik dengan memberikan fasilitas transportasi yang memadai, memberikan edukasi secara lengkap baik pada PMO maupun penderita TB, pengembangan teknologi dalam melakukan pengawasan, serta menambah jumlah fasilitas pelayanan kesehatan perlu dilakukan sebagai upaya untuk meningkatkan kepatuhan penderita TB.

Indonesia is one of the countries that ranks second as the country with the highest TB cases in the world. Most TB cases in Indonesia are found in three Provinces, one of which is West Java Province. Based on the Association of TB Patient Organizations (POP TB) it is estimated that the highest TB burden in Indonesia is in West Java Province with only 50% treatment coverage. Non-adherence with treatment can lead to drug resistance, disease recurrence and death. Therefore it takes someone who can supervise the treatment that must be undertaken by TB patient. Ensuring the presence of drug supervisors is one of the solution to increase the success of TB treatment. This study aims to see the relationship between the availability of drug supervisors with Pulmonary Tuberculosis Patients Medication Adherence in West Java Province. The study design used in this study is cross-sectional with a quantitative approach and used Riskesdas 2018 secondary data. Analysis was carried out on 124 TB patients in West Java Province who had met the inclusion and exclusion criteria. The results of the analysis showed that the proportion of non-adherence with pulmonary TB patients in West Java Province reached 28.23% and the unavailability of drug supervisors reached 37.10%. Multivariate analysis showed that TB patients who did not have drug supervisors were 1.35 times at risk for not adhere to take medication compared to those who had drug supervisors after controlled by covariate variables (PR 1,35; 95% CI: 0.68 – 2.70). However, the relationship was not statistically significant (p value > 0.05). Ensuring drug supervisors carry out their duties properly by providing adequate transportation facilities, provide education for both drug supervisors and TB patients, developing technology in conducting supervision, and increasing the number of health service facilities needs to be done as an effort to increase adherence of TB patients.
Read More
T-6624
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Armaidi Darmawan; Pembimbing: Sudarto Ronoatmodjo; Penguji: Sudarti Kresno, Tri Yunis Miko Wahyono, Lukman Hakim Siregar, Ismoyowati
Abstrak:

Program penanggulangan tuberkulosis (TB) nasional dengan strategi Directly Observed Treatment Shorrcourse (DOTS) yang mengandung Pengawas Menelan Obat (PMO) semenjak tahun 1995 telah berhasil baik dan setelah 3 tahun berjalan angka kesembuhan penderita lebih dari 85%. Di kabupaten Kerinci strategi DOTS dimulai sejak tahun 1998, tiga tahun sampai tahun 2001 belum memperlihatkan hasil yang memuaskan dimana angka konsumsi yang rendah dan angka kesembuhan hanya 41%. Faktor ketidak teraturan minum obat merupakan salah satu penyebab kegagalan program penanggulangan TB paru.Sejak 1998 strategi DOTS yang mengandung komponen PMO di kabupaten Kerinci sudah diterapkan. Namun bagaimana hubungan PMO tersebut dengan keteraturan penderita TB paru minum obat dan mengapa penderita teratur atau tidak teratur belum diketahui. Untuk ini studi kasus kontrol bersamaan dengan kualitatif Foccus Group Discussion (FOD) ini dilaksanakanSampel adalah penderita TB paru berusia 15 tahun keatas yang telah selesai atau putus berobat di puslesrnas kabupaten Kerinci sejak 1 Januari sampai 31 Desember 2001. Jumlah sampel adalah 194 penderita dengan 97 kasus dan 97 kontrol.Lima kelompok FGD dengan 42 informan, baik dari kelompok kasus maupun kontrol telah membetikan inforrnasinya tentang sebab-sebab ketidak teraturan minum obat.Kasus adalah penderita sampel yang tidak minum obat 3 hari atau lebih pada fase awal dan atau 7 hari atau Iebih pada fase lanjutan, dimana lama penyelesaian minum obat kategori  1 lebih dari 6 bulan 10 hari.Dengan logistik regresi multipel dan contens analysis, hasil signifikan dimana penderita yang tidak mempunyai PMO selama minum obat berisiko 2,68 kali lipat dibanding yang mempunvai PMO (OR:2,6 %: 95°%f%CI: l,4G-4,94;p:0.00I ).Keberadaan PMO di kabupaten Kerinci masih diperlukan, penyuluhan tentang TB paru secara komprehensif dengan durasi yang cukup dan frekuensi yang lebih sering untuk mengantisipasi berhentinya penderita karena tidak mengerti dengan penyakit TB dan program pengobatannya.Diperlukan penanganan khusus ESO yang timbul agar tidak menjadi alasan penderita untuk berhenti minum obat.Daftar Pustaka 42 : (1990 - 2002)


 

The National Tuberculosis Programs (NTP) adopted the Directly Observed Treatment Short course (DOTS) strategy. Treatment observer is one of the live components of DOTS. It has applied to the treatment observer as from 1995. A good result with high cure rate more than 85% has been achieved so far. DOTS strategy has been implemented since 1998 in the Kerinci district, however, the conversion rate was still low and cure rate were just 41% in 2001. The irregularity of drug consuming TB drugs is one of the failures of the national tuberculosis programs.Since 1998 the DOTS strategy has been applied in Kerinci district, however, the relation of treatment observer and the patient regularly or irregularly consuming TB drug is not known yet. For this purpose, a case control study and focus group discussion (FGD) were carried out.The samples were the tuberculosis patients of 15 years old or more who had completed the treatment or defaulted. They are cases treated with category-1 in the community health center since 1 January to 31 Decembe,2001. The total sample taken was 194, where 97 of them are cases and 97 as controls. Five FGD were performed. The total of 42 informants as case and control were attending the FGD and contributed information.The criteria of the cases are those samples who did not consume medicine for 3 days more during intensive phase and or 7 days for intermittent phase and the duration of treatment was six months and ten days or more.Logistic regression multivariate method and content analysis were used for data analysis purpose, and the significant result was obtained. Where the patient without treatment observer has 2.68 times risk of irregularity of consuming TB drug compared with accompanied by the treatment observer (OR: 2.68, 95% CI: 1.46-4.94, p: 0.001).The treatment observer is really required in Kerinci district, A comprehensive counseling on tuberculosis on regular base for quite some time is required to anticipate the drop out from treatment. Most of the patients do not understand about tuberculosis and the treatment procedure. Special action has to be taken w treat the side effect in order to prevent from self stopping TB treatment.

Read More
T-1436
Depok : FKM-UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive