Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 31412 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Suci Cahyaningrum; Pembimbing: R. Sutiawan; Penguji: Tris Eryando, Maria Yuliana
Abstrak: PENDATAAN KESEHATAN MERUPAKAN SALAH SATU UPAYA PENDEKATAN OLEH PUSKESMAS KEPADA SELURUH ANGGOTA KELUARGA UNTUK MENDUKUNG PROGRAM INDONESIA SEHAT DENGAN PENDEKATAN KELUARGA (PIS-PK). MASIH RENDAHNYA CAKUPAN KELUARGA TERDATA DAN TELAH TERHITUNG DI DALAM SISTEM MENYEBABKAN DATA KELUARGA SEHAT SAAT INI MASIH BELUM DAPAT MENGGAMBARKAN KONDISI KESEHATAN INDONESIA SECARA KESELURUHAN. ADANYA PEMBATASAN PETUGAS PENDATAAN YANG SEBAGIAN BESAR MEMBEBANKAN KEPADA PETUGAS PUSKESMAS MEMBUAT PROSES PENDATAAN CENDERUNG LEBIH LAMA, MENGINGAT BEBAN KERJA PETUGAS YANG CENDERUNG TINGGI DAN JUMLAH TENAGA KESEHATAN YANG TERBATAS. PENELITIAN INI BERTUJUAN UNTUK MENGUJI PENDATAAN KELUARGA SEHAT BERBASIS MASYARAKAT (KADER KESEHATAN) DENGAN MENGGUNAKAN APLIKASI BERJALAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS TANAH SAREAL. RATA-RATA JUMLAH KELUARGA YANG TERDATA OLEH SEORANG KADER KESEHATAN SELAMA MASA UJI COBA ADALAH SEBANYAK 5-6 KELUARGA DALAM SATU MINGGU. PERSENTASE KUALITAS DATA (KELENGKAPAN DAN KEAKURATAN) PENGENALAN TEMPAT DAN KETERANGAN ANGGOTA KELUARGA YANG DIKUMPULKAN OLEH KADER KESEHATAN LEBIH TINGGI DIBANDINGKAN PETUGAS PUSKESMAS. SEBALIKNYA PERSENTASE KUALITAS DATA KETERANGAN KELUARGA DAN KETERANGAN INDIVIDU HASIL PENDATAAN PETUGAS PUSKESMAS LEBIH TINGGI DARI PADA KADER KESEHATAN. SECARA STATISTIK TIDAK SEMUA DATA MEMILIKI PERBEDAAN KUALITAS YANG SIGNIFIKAN ANTARA YANG DIKUMPULKAN OLEH KADER KESEHATAN DAN PETUGAS PUSKESMAS. HASIL PENELITIAN MENUNJUKAN BAHWA RATA-RATA PERSENTASE KUALITAS DATA YANG DIHASILKAN DENGAN MENGGUNAKAN APLIKASI BERJALAN LEBIH BAIK DARIPADA DENGAN MENGGUNAKAN KUESIONER KERTAS. NAMUN SECARA STATISTIK TIDAK ADA PERBEDAAN YANG SIGNIFIKAN ANTARA KUALITAS DATA YANG DIKUMPULKAN DENGAN MENGGUNAKAN APLIKASI BERJALAN DAN KUESIONER KERTAS. PADA DASARNYA KADER KESEHATAN MAMPU MELAKUKAN PENDATAAN KELUARGA SEHAT DENGAN MENGGUNAKAN APLIKASI BERJALAN. TERDAPAT BEBERAPA FAKTOR YANG MENDORONG KADER KESEHATAN UNTUK DAPAT MENGGUNAKAN APLIKASI SECARA BERKELANJUTAN. KATA KUNCI: APLIKASI BERJALAN, KADER KESEHATAN, KUALITAS DATA, KELUARGA SEHAT, PENDATAAAN.
Read More
S-9886
Depok : FKM-UI, 2018
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Septiawati; Pembimbing: Indang Trihandini; Penguji: Artha Prabawa, Trisna Setiawan
S-5857
Depok : FKM UI, 2009
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Deffi Seplianti; Pembimbing: R., Sutiawan; Penguji: Besral, William Adi Teja
S-9882
Depok : FKM-UI, 2018
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Laila Salsabila; Pembimbing: Sabarinah; Penguji: Popy Yuniar, Teti Tejayanti
Abstrak:
Kelahiran prematur merupakan penyebab kematian neonatal ketiga terbanyak di Indonesia. Kelahiran prematur dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas neonatal/bayi sehingga dapat berdampak pada indikator kesehatan Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi determinan kelahiran prematur di wilayah perkotaan dan perdesaan Indonesia. Data berasal dari Survei Kesehatan Indonesia 2023 dengan menggunakan desain studi potong lintang. Sampel penelitian ini adalah perempuan umur 10-54 tahun yang pernah kawin, mempunyai pengalaman reproduksi dalam kurun waktu lima tahun terakhir untuk anak terakhir dengan total sampel 32.288 responden. Penelitian ini menggunakan uji Chi Square dan regresi logistik ganda dalam analisisnya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa determinan kelahiran prematur di wilayah perkotaan dan pedesaan yaitu,  kunjungan ANC, kehamilan kembar, hipertensi, dan perdarahan antepartum. Usia, ibu, ketuban pecah dini, dan metode persalinan hanya berhubungan di wilayah perkotaan, sedangkan plasenta previa hanya berhubungan di wilayah perdesaan. Kehamilan kembar menjadi variabel yang berhubungan paling dominan dengan kelahiran prematur di wilayah perkotaan dan perdesaan Indonesia

Preterm birth is the third leading cause of neonatal mortality in Indonesia. It significantly contributes to neonatal morbidity and mortality, thereby affecting the overall health indicators of the country. This study aims to identify the determinants of preterm birth in urban and rural areas of Indonesia. The data were obtained from the 2023 Indonesian Health Survey using a cross-sectional study design. The study sample consisted of 32,288 ever-married women aged 10–54 years who had given birth in the last five years. Data were analyzed using chi-square tests and multivariable logistic regression. The results showed that antenatal care (ANC) visits, multiple pregnancies, hypertension, and antepartum hemorrhage were significant determinants of preterm birth in both urban and rural areas. Maternal age, premature rupture of membranes, and mode of delivery were only associated with preterm birth in urban areas, while placenta previa was only significant in rural areas. Multiple pregnancies were the most dominant factor associated with preterm birth in both settings.
Read More
S-12016
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ester Apriliani Telaumbanua; Pembimbing: Martya Rahmaniati Makful; Penguji: Milla Herdayati, Indah Sri Wahyuni
Abstrak:
Latar belakang: Upaya pemenuhan standar Antenatal Care menjadi bagian penting dalam mendukung penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) melalui RPJMN 2025 – 2029 serta menjadi salah satu intervensi untuk mencegah stunting pada Strategi Nasional Percepatan Pencegahan dan Penurunan Stunting 2025–2029. Namun, pemenuhan standar ANC di Indonesia masih belum optimal dan menunjukkan ketimpangan antarwilayah sehingga diperlukan analisis determinan berdasarkan regionalisasi wilayah. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan ketidaklengkapan pemenuhan standar ANC berdasarkan regionalisasi wilayah di Indonesia, yaitu Kawasan Barat Indonesia (KBI) dan Kawasan Timur Indonesia (KTI). Metode: Penelitian menggunakan desain crosssectional dengan data sekunder SKI 2023. Analisis dilakukan secara univariat, bivariat, dan multivariabel menggunakan regresi logistik dengan complex sample analysis. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan proporsi ketidaklengkapan pemenuhan standar ANC sebesar 87,5% di KBI dan 85,7% di KTI. Pada KBI, faktor yang berhubungan signifikan meliputi tingkat pendidikan ibu, status pekerjaan ibu, paritas, status ekonomi, tempat pemeriksaan ANC, dan status keinginan kehamilan. Faktor paling dominan di KBI adalah status ekonomi terbawah, dengan aOR sebesar 2,41 dibandingkan kelompok ekonomi teratas. Pada KTI, faktor yang berhubungan signifikan meliputi wilayah tempat tinggal, usia ibu, status pekerjaan ibu, gravida, status ekonomi, tempat pemeriksaan ANC, tingkat kemudahan akses ke klinik/praktik mandiri, dan status keinginan kehamilan. Tingkat pendidikan ibu tetap dipertahankan dalam model akhir KTI sebagai variabel confounder. Faktor paling dominan di KTI adalah status keinginan kehamilan, dengan ibu yang memiliki kehamilan tidak diinginkan memiliki aOR sebesar 2,62 dibandingkan ibu dengan kehamilan diinginkan. Kesimpulan: Ketidaklengkapan pemenuhan standar ANC masih tinggi di KBI maupun KTI, dengan pola determinan yang berbeda antarwilayah. Penguatan program ANC perlu diarahkan pada kelengkapan kualitas pelayanan, pemerataan akses, serta perhatian khusus pada ibu dengan status ekonomi rendah dan kehamilan tidak diinginkan.

Background: Efforts to fulfill Antenatal Care (ANC) standards are an important component in supporting the reduction of maternal mortality through the 2025–2029 National Medium-Term Development Plan (RPJMN), as well as one of the interventions to prevent stunting under the 2025–2029 National Strategy for the Acceleration of Stunting Prevention and Reduction. However, the fulfillment of ANC standards in Indonesia remains suboptimal and shows disparities across regions, highlighting the need to analyze its determinants based on regionalization. Objective: This study aimed to identify the determinants of incomplete fulfillment of ANC standards based on regionalization in Indonesia, namely Western Indonesia Region (KBI) and Eastern Indonesia Region (KTI). Methods: This study used a cross-sectional design with secondary data from the 2023 Indonesian Health Survey (SKI). The analyses were conducted using univariate, bivariate, and multivariable analyses with logistic regression through complex sample analysis. Results: The results showed that the proportion of incomplete fulfillment of ANC standards was 87.5% in KBI and 85.7% in KTI. In KBI, the factors significantly associated with incomplete fulfillment of ANC standards were maternal education level, maternal employment status, parity, economic status, place of ANC examination, and pregnancy intention status. The most dominant factor in KBI was the lowest economic status, with an aOR of 2.41 compared with the highest economic group. In KTI, the factors significantly associated with incomplete fulfillment of ANC standards were area of residence, maternal age, maternal employment status, gravidity, economic status, place of ANC examination, accessibility to clinics/private practices, and pregnancy intention status. Maternal education level was retained in the final KTI model as a confounding variable. The most dominant factor in KTI was pregnancy intention status, with women who had unintended pregnancies having an aOR of 2.62 compared with those with intended pregnancies. Conclusion: Incomplete fulfillment of ANC standards remains high in both KBI and KTI, with different determinant patterns across regions. ANC program strengthening should be directed toward improving the completeness of service quality, equitable access, and special attention to mothers with low economic status and unintended pregnancies.
Read More
S-12442
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tazmirah Asmarani; Pembimbing: Milla Herdayati; Penguji: Rico Kurniawan, Dieta Nurrika
Abstrak:

Obesitas pada remaja meningkat secara global dan nasional. Hal ini menjadi perhatian khusus karena obesitas pada remaja dapat meningkatkan risiko penyakit tidak menular lebih dini. Penelitian ini menganalisis faktor aktivitas fisik dan pola makan dengan obesitas pada remaja 10—19 tahun menggunakan data SKI 2023 dan analisis regresi logistik berganda (96.721 responden). Hasil menunjukkan di perkotaan, tidak terdapat hubungan
antara aktivitas fisik dengan obesitas. Untuk pola makan, konsumsi makanan berlemak pada status kekayaan tertinggi (AOR= 1,38) dan konsumsi minuman bersoda (AOR= 0,584; 95% CI= 0,404—0,845) menunjukkan hubungan signifikan secara statistik dan menjadi faktor risiko di perkotaan. Di samping itu, di pedesaan, aktivitas fisik pada remaja berumur 10-13 tahun (AOR= 1,89) dan konsumsi makanan berlemak pada status kekayaan tertinggi (AOR= 2,25) memiliki hubungan yang signifikan secara statistik dan menjadi faktor risiko di pedesaan. Oleh karena itu, diperlukan upaya pencegahan lewat penguatan layanan preventif serta kolaborasi antar pihak dalam membentuk kebiasaan dan gaya hidup yang lebih sehat dalam menurunkan angka obesitas.


Adolescent obesity is increasing globally and nationally. This is of particular concern because obesity in  adolescents can increase the risk of non-communicable diseases earlier. This study analyzed physical activity and  dietary factors with obesity in adolescents 10-19 years old using SKI 2023 data and multiple logistic regression  analysis (96,721 respondents). Results showed that in urban areas, there was no association between physical  activity and obesity. For diet, consumption of fatty foods at the highest wealth status (AOR= 1.38) and  consumption of soft drinks (AOR= 0.584; 95% CI= 0.404-0.845) showed statistically significant associations and  were risk factors in urban areas. In addition, in rural areas, physical activity among adolescents aged 10-13 years  (AOR= 1.89) and consumption of fatty foods at the highest wealth status (AOR= 2.25) had statistically significant  associations and were risk factors in rural areas. Therefore, prevention efforts through strengthening preventive  services and collaboration between parties in shaping healthier habits and lifestyles are needed to reduce obesity  rates.

Read More
S-12097
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Niken Ayu Damayanti; Pembimbing: Besral, R. Sutiawan; Penguji: Popy Yuniar, Imelda Amelia
S-5726
Depok : FKM-UI, 2009
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Umy Habibah; Pembimbing: Luknis Sabri
S-3618
Depok : FKM-UI, 2004
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Naila Syifa Uttami; Pembimbing: Iwan Ariawan; Penguji: Martya Rahmaniati Makful, Maria Gayatri
Abstrak: Perilaku seksual pranikah pada remaja wanita merupakan perilaku bermasalah yang dapat berdampak negatif pada kesehatan remaja. Terlebih remaja wanita menjadi kelompok berisiko jika harus mengalami kehamilan pada usia remaja. Presentase perilaku seksual pranikah remaja wanita baik pada daerah perdesaan maupun perkotaan mengalami peningkatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor faktor yang berhubungan dengan perilaku seksual pranikah pada remaja wanita di perdesaan dan perkotaan. Penelitian ini menggunakan sumber data dari data sekunder Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 2017 dan dengan studi potong lintang. Populasi pada penelitian ini adalah remaja wanita usia 15-24 tahun yang belum menikah. Berdasarkan hasil uji regresi logistik berganda usia, konsumsi alkohol, konsumsi narkoba, sikap terhadap perilaku seksual pranikah, pengetahuan kesehatan reproduksi dan pengaruh teman sebaya berhubungan dengan perilaku seksual pranikah remaja wanita di perkotaan. Sementara faktor yang berhubungan dengan perilaku seksual pranikah remaja wanita di perdesaan meliputi usia, pendidikan, status ekonomi, sikap terhadap perilaku seksual pranikah, paparan media massa, perilaku merokok, konsumsi alkohol, pengalaman pacaran dan komunikasi kesehatan reproduksi dengan tenaga kesehatan. Variabel sikap terhadap perilaku seksual pranikah menjadi faktor yang berhubungan paling dominan dengan perilaku seksual pranikah remaja wanita di perkotaan maupun remaja wanita di perdesaan
Premarital sexual behavior in female adolescent is a problematic behavior that can affect negative impact on health. Female adolescent is a risk group if they get pregnant at young age. The percentage of premarital sexual behavior among female adolescents in both rural and urban areas has increased. This study aims to determine the factors associated with premarital sexual behavior among female adolescent adolescent in rural and urban areas. This research used secondary data from Indonesian Demographic Health Survey (IDHS) 2017 with cross-sectional design. The population in this study were unmarried female adolescent aged 15-24 years. Based on the results of multiple logistic regression, age, alcohol consumption, drug consumption, attitudes towards premarital sexual behavior, knowledge of reproductive health, and peer influence are related to premarital sexual behavior of adolescent girls in urban areas. Meanwhile, factors related to premarital sexual behavior of teenage girls in rural areas are age, education, economic status, attitudes towards premarital sexual behavior, exposure to mass media, smoking behavior, alcohol consumption, dating experience, and reproductive health communication with health workers. The attitude variable towards premarital sexual behavior is the most dominant factor associated with the premarital sexual behavior of female adolescents in urban and rural areas
Read More
S-10933
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nadazaira Alifia Ramadhianisa; Pembimbing: Artha Prabawa; Penguji: Rico Kurniawan, Dwita Maulida
Abstrak:
Pada tahun 2022, diperkirakan ada sekitar 1.060.000 kasus tuberkulosis di Indonesia, menjadikan Indonesia dengan jumlah estimasi kasus TB tertinggi kedua di dunia. Kota Depok, Jawa Barat mengalami penurunan keberhasilan pengobatan sejak tahun 2019 sampai 2022. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain kohort retrospektif menggunakan data sekunder yang bersumber dari SITB Kota Depok dan bertujuan untuk mengetahui determinan keberhasilan pengobatan pada pasien dewasa TB paru sensitif obat di Kota Depok tahun 2022. Sebanyak 2259 sampel yang sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi dianalisis secara univariat, bivariat, dan multivariat menggunakan SPSS Statistics 25. Diperoleh angka keberhasilan pengobatan pada pasien dewasa TB paru SO sebesar 84,2%. Variabel umur, jenis kelamin, riwayat pengobatan TB, status HIV, dan lama konversi sputum ditemukan memiliki hubungan dengan keberhasilan pengobatan. Ditemukan tiga determinan keberhasilan pengobatan, yakni variabel umur, jenis kelamin, dan riwayat pengobatan TB dengan variabel riwayat pengobatan TB memiliki pengaruh paling besar. Diperlukan adanya intervensi pada kelompok umur lansia, jenis kelamin laki-laki, riwayat pengobatan TB ulangan, positif HIV, dan lama konversi sputum lebih dari 2 bulan untuk dapat meningkatkan keberhasilan pengobatan TB.

In 2022, it is estimated that there were approximately 1,060,000 tuberculosis cases in Indonesia, making it the country with the second highest estimated TB cases in the world. Depok City, West Java, has experienced a decline in treatment success rates from 2019 to 2022. This research is a quantitative study with a retrospective cohort design using secondary data from SITB aimed at determining the factors influencing treatment success in adult patients with drug-sensitive pulmonary TB in Depok City in 2022. A total of 2,259 samples that met the inclusion and exclusion criteria were analyzed using univariate, bivariate, and multivariate methods with SPSS Statistics 25. The treatment success rate for adult patients with drug-sensitive pulmonary TB was found to be 84.2%. Variables such as age, gender, history of TB treatment, HIV status, and duration of sputum conversion were found to be associated with treatment success. Three determinants of treatment success were identified: age, gender, and history of TB treatment, with the history of TB treatment having the most significant impact. Interventions are needed for elderly age groups, males, those with a history of repeated TB treatment, HIV-positive individuals, and those with sputum conversion lasting more than 2 months to improve TB treatment success rates.
Read More
S-11703
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive