Ditemukan 36212 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Fitrah; Pembimbing: Iwan Ariawan; Penguji: Mieke Savitri, Citra Jaya
S-10193
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Agil Oktora; Pembimbing: Sutanto Priyo Hastono; Penguji: Martya Rahmaniati Makful, Nilna Rahmi Isna
Abstrak:
Sectio cesarean merupakan tindakan untuk membantu melahirkan pada Ibu hamildengan melakukan pembedahan pada dinding abdomen (laparatomi) dan dindinguterus (histerotomi). (Cunningham et, 2017). Melahirkan dengan sectio cesareandi dunia sudah melebihi batas angka yang telah ditetapkan oleh WHO yaitu 15%dari seluruh kelahiran disetiap Negara. Di Indonesia angka melahirkan dengansectio cesarean berdasarkan Riskesdas tahun 2018 yaitu sebesar 17%, danberdasarkan laporan data sampel BPJS Kesehatan tahun 2015-2016 tindakansectio cesarean ringan merupakan 10 tindakan terbanyak yang dilakukan padapeserta BPJS Kesehatan. Sectio cesarean dilakukan dengan indikasi medis dantanpa indikasi medis keadaan yang menyebabkan seseorang melahirkan dengansectio cesarean tanpa indikasi medis dapat disebabkan oleh beberapa hal sepertipsikologis, takut berlebihan dan lain sebagainya. Penelitian ini bertujuan untukmengetahui hubungan antara karateristik peserta BPJS Kesehatan denganmelahirkan sectio cesarean tanpa indikasi medis. Dengan desain penelitian CrossSectional dan menggunakan data sampel BPJS Kesehatan tahun 2015-2016.Sampel dalam penelitian ini yaitu dengan kriteria inklusi Ibu yang melahirkansectio cesarean dengan pada data sampel BPJS Kesehatan dan kriteria Eklusiyaitu Ibu yang melahirkan tanpa sectio cesarean. Hasil dari penelitian ini bahwaproporsi peserta BPJS Kesehatan yang melahirkan sectio cesarean tanpa indikasimedis sebesar 61,18%. Terdapat hubungan yang signifikan antara Wilayah,segmentasi peserta daan Kepemilikan tempat pelayanan kesehatan denganmelahirkan sectio cesarean tanpa indikasi medis. Sedangkan pada variabel Umurtidak terdapat hubungan dengan melahirkan sectio cesarean tanpa indikasi medis.Oleh karena itu perlu ditingkatkan pengawasan tindakan sectio cesarean yangdilakukan dirumah sakit yang bekerjasama dengan BPJS Kesehatan, dan perluditingkatan promosi terhadap masayarakat tentang bahaya sectio cesarean tanpaindikasi medis.Kata kunci:Melahirkan, Sectio Cesarean, BPJS Kesehatan
Cesarean sectio is an action to help give birth to pregnant women by performingsurgery on the abdominal wall (laparatomy) and uterine wall (hysterotomy).(Cunningham et, 2017). Childbirth with cesarean sectio in the world has exceededthe limit set by the WHO which is 15% of all births in each country. In Indonesiathe number of births with cesarean sections based on Riskesdas in 2018 is 17%,and based on the BPJS Kesehatan sample data report for 2015-2016 mildcesarean sectio measures are the 10 most actions taken on BPJS Kesehatanparticipants. Cesarean Sectio is done with medical indications and withoutmedical indication the conditions that cause a person to give birth with cesareansectio without medical indications can be caused by several things such aspsychological, excessive fear and so forth. This study aims to determine therelationship between BPJS Health participant characteristics and cesarean sectiodelivery without medical indication. With Cross Sectional research design andusing BPJS Kesehatan sample data for 2015-2016. The sample in this study wasthe inclusion criteria for mothers who gave birth to cesarean sections with theBPJS Kesehatan sample data and the exclusion criteria were mothers who gavebirth without cesarean sections. The results of this study that the proportion ofBPJS Kesehatan participants who gave birth to cesarean sectio without medicalindications was 61.18%. There is a significant relationship between regions,segmentation of participants and ownership of health care facilities and deliveryof cesarean sectio without medical indication. Whereas the age variable is notrelated to cesarean sectio birth without medical indication. Therefore, it isnecessary to increase supervision of cesarean sectio measures performed inhospitals in collaboration with BPJS Kesehatan, and it is necessary to increasepromotion of the community about the dangers of cesarean sectio without medicalindication.Keywords:Childbirth, Sectio Cesarean, BPJS Kesehatan.
Read More
Cesarean sectio is an action to help give birth to pregnant women by performingsurgery on the abdominal wall (laparatomy) and uterine wall (hysterotomy).(Cunningham et, 2017). Childbirth with cesarean sectio in the world has exceededthe limit set by the WHO which is 15% of all births in each country. In Indonesiathe number of births with cesarean sections based on Riskesdas in 2018 is 17%,and based on the BPJS Kesehatan sample data report for 2015-2016 mildcesarean sectio measures are the 10 most actions taken on BPJS Kesehatanparticipants. Cesarean Sectio is done with medical indications and withoutmedical indication the conditions that cause a person to give birth with cesareansectio without medical indications can be caused by several things such aspsychological, excessive fear and so forth. This study aims to determine therelationship between BPJS Health participant characteristics and cesarean sectiodelivery without medical indication. With Cross Sectional research design andusing BPJS Kesehatan sample data for 2015-2016. The sample in this study wasthe inclusion criteria for mothers who gave birth to cesarean sections with theBPJS Kesehatan sample data and the exclusion criteria were mothers who gavebirth without cesarean sections. The results of this study that the proportion ofBPJS Kesehatan participants who gave birth to cesarean sectio without medicalindications was 61.18%. There is a significant relationship between regions,segmentation of participants and ownership of health care facilities and deliveryof cesarean sectio without medical indication. Whereas the age variable is notrelated to cesarean sectio birth without medical indication. Therefore, it isnecessary to increase supervision of cesarean sectio measures performed inhospitals in collaboration with BPJS Kesehatan, and it is necessary to increasepromotion of the community about the dangers of cesarean sectio without medicalindication.Keywords:Childbirth, Sectio Cesarean, BPJS Kesehatan.
S-10226
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Julius Sugiharto; Pembimbing: Sutanto Priyo Hastono; Penguji: Martya Rahmaniati Makful, Flourisa J. Sudrajat
S-6727
Depok : FKM-UI, 2011
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ahmad Faisal; Pembimbing: Sudijanto Kamso; Penguji: Artha Prabawa, Rinni Yudhi Pratiwi
S-6232
Depok : FKM-UI, 2010
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Nisa Rahmadani; Pembimbing: Artha Prabawa; Penguji: Al Asyary, Erfan Chandra Nugraha
Abstrak:
Read More
Skizofrenia merupakan gangguan mental berat yang menjadi beban utama pada layanan kesehatan mental di Indonesia. Hal ini terlihat dari tingginya kebutuhan rawat inap, dan lamanya perawatan, namun data tren pelayanan masih terbatas. Penelitian deskriptif retrospektif menggunakan data klaim BPJS Kesehatan pada fasilitas rujukan tingkat lanjut (FKRTL) tahun 2021–2024. Analisis univariat digunakan untuk menggambarkan tren proporsi dan pola rawat inap, sedangkan uji chi-square membandingkan rawat inap kunjungan skizofrenia dan non-skizofrenia. Dari 1,32 juta kunjungan gangguan kesehatan mental, 40,68% adalah skizofrenia. Proporsi menurun dari 46,52% (2021) menjadi 35,12% (2024), namun jumlah absolut tetap meningkat, terutama pada laki-laki, remaja, peserta PBI, dan kelas rawat III . Pola rawat inap skizofrenia terus meningkat dari 41,59% pada tahun 2021 menjadi 63,56% di tahun 2024. Analisis bivariat menunjukkan risiko rawat inap (RR=3,07; 95% CI: 3,06–3,09) dan lama rawat inap panjang (RR=15,06; 95% CI: 14,61-15,52) pada skizofrenia lebih tinggi dibanding non-skizofrenia. Skizofrenia tetap menjadi beban utama FKRTL, terutama pada kelompok sosial ekonomi rentan. Peningkatan kebutuhan rawat inap menegaskan pentingnya deteksi dini, kesinambungan pengobatan, dan penguatan layanan komunitas.
Schizophrenia is a severe mental disorder and represents a major burden on mental health services in Indonesia. This burden is reflected in high inpatient demand and long treatment durations, yet data on service trends remain limited. A retrospective descriptive study was conducted using BPJS Kesehatan claims data from advanced referral health facilities (FKRTL) between 2021 and 2024. Univariate analysis described trends in proportions and inpatient care patterns, while chi-square tests were used to compare inpatient outcomes between schizophrenia and non-schizophrenia visits. Out of 1.32 million mental health visits, 40.68% were for schizophrenia. Although the proportion declined from 46.52% in 2021 to 35.12% in 2024, absolute visit numbers increased, particularly among males, adolescents, PBI participants (social assistance program), and Class III inpatients. Inpatient care for schizophrenia rose steadily from 41.59% in 2021 to 63.56% in 2024. Bivariate analysis indicated that schizophrenia visits had higher risks of inpatient admission (RR = 3.07; 95% CI: 3.06–3.09) and prolonged inpatient stay (RR = 15.06; 95% CI: 14.61–15.52) compared with non-schizophrenia visits. Schizophrenia remains a primary burden on FKRTL, especially among socioeconomically vulnerable groups. The increasing inpatient demand highlights the importance of early detection, continuity of care, and strengthening community mental health services.
S-12316
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Maylan Tiolina Misrain Sianipar; Pembimbing: Artha Prabawa; Penguji: Besral, Anindita Dyah Sekarputri
Abstrak:
Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia masih tergolong tinggi. Laporan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2012 menunjukkan bahwa semakin rendah kuintil kekayaan (semakin miskin), maka AKB akan semakin tinggi. Penelitian ini bertujuan mengetahui determinan kematian bayi pada keluarga miskin di Indonesia dalam rangka upaya mencegah kematian bayi pada keluarga miskin dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat perekonomian rendah. Penelitian ini menggunakan desain studi crossectional dengan populasi penelitian meliputi wanita usia subur 15 - 49 tahun yang berada pada kuintil 1 (poorest) dan kuintil 2 (poorer). Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa determinan kematian bayi pada keluarga miskin di Indonesia adalah berat bayi lahir, jenis kelamin bayi, dan penolong persalinan, sedangkan umur ibu, paritas, jarak kelahiran, jumlah kunjungan pemeriksaan antenatal, ukuran bayi saat lahir, dan tempat persalinan merupakan variabel konfounding. Pemerintah perlu menyediakan pelayanan kesehatan yang mudah dijangkau oleh keluarga miskin ataupun mendatangi keluarga miskin untuk melakukan pemeriksaan antenatal. Pengelola program kesehatan perlu mengupayakan program yang membantu ibu miskin memenuhi kecukupan gizi selama mengandung untuk mencegah bayi lahir dengan BBLR; mengintervensi ibu terkait pengaruh jenis kelamin bayi terhadap kematian bayi sehingga dapat dilakukan pencegahan sejak dini; dan menggalakkan program kesehatan yang mengupayakan agar ibu dapat bersalin di fasilitas kesehatan dan ditolong oleh petugas kesehatan.
fant Mortality Rate (IMR) in Indonesia is still relatively high. Reports Indonesian Demographic and Health Survey (IDHS) 2012 show that the lower quintiles of wealth (the poor), the IMR will be higher. This study aims to find out the determinants of infant mortality in poor families in Indonesia in an effort to prevent infant mortality in poor family and improve the health of low economic communities. This study used a cross-sectional study design with the study population includes women of childbearing age 15-49 years who are in quintile 1 (poorest) and quintile 2 (poorer). Multivariate analysis show that the determinants of infant mortality in poor families in Indonesia were birth weight, infant gender, and assistance of delivery, while maternal age, parity, birth spacing, number of antenatal visits, size of the infant at birth, and place of delivery is the variable konfounding. The government should provide health care that is easily accessible by poor families or poor families came to do the antenatal care. Health program managers need to pursue programs that help meet the nutritional adequacy poor mothers during pregnancy to prevent infant delivery with low birth weight; mother intervenes related to the influence of the sex of the infant so that the infant mortality can do early prevention; and promote health programs support mothers to delivery at health facility and adelivery by health workers.
Read More
fant Mortality Rate (IMR) in Indonesia is still relatively high. Reports Indonesian Demographic and Health Survey (IDHS) 2012 show that the lower quintiles of wealth (the poor), the IMR will be higher. This study aims to find out the determinants of infant mortality in poor families in Indonesia in an effort to prevent infant mortality in poor family and improve the health of low economic communities.
S-8528
Depok : FKM-UI, 2014
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Selni Paressa Masakke; Pembimbing: Luknis Sabri; Penguji: Sutanto Priyo Hastono, Yuliana Sari
S-4174
Depok : FKM-UI, 2005
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Rosita Dewi; Pembimbing: Sutanto Priyo Hastono; Penguji: Besral, KM. Taufik
S-6045
Depok : FKM-UI, 2010
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Dian Rahayu Pamungkas; Pembimbing: Besral; Penguji: Sutanto Priyo Hastono, Widiawati
S-6925
Depok : FKM-UI, 2012
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Olivia Tisya Anne E.A. Sigalingging; Pembimbing: Martya Rahmaniati Makful; Penguji: Meiwita P. Budiharsana, Maria Gayatri
Abstrak:
Penelitian ini membahas pengaruh jarak kelahiran terhadap kematian bayi usia 0 sampai 1 tahun dengan tujuan mengetahui gambaran pengaruh jarak kelahiran dengan kematian bayi di Indonesia berdasarkan karakteristik wilayah perdesaan dan perkotaan. Desain studi yang digunakan adalah potong lintang (cross sectional) dengan analisis multivariabel regresi logistik menggunakan data sekunder SDKI 2017. Jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebesar 4871 sampel dengan pembagian wilayah perkotaan 2294 sampel dan wilayah perdesaan 2577 sampel pada populasi WUS sudah menikah dan memiliki >1 anak. Hasil penelitian bivariat menunjukkan jarak kelahiran memiliki risiko terhadap kematian bayi usia 0 sampai 1 tahun di perkotaan saja berdasarkan nilai OR. Variabel lainnya yang menunjukan hubungan terhadap kematian bayi usia 0 sampai 1 tahun berdasarkan P value <0,05 adalah jumlah anak yang dilahirkan, kelengkapan melakukan layanan ANC, dan keinginan ibu memiliki anak lagi. Setelah dilakukan analisis pemodelan terdapat perubahan hasil di kedua wilayah. Di perkotaan, hasil analisis multivariabel yang menunjukan faktor risiko kematian bayi usia 0 sampai 1 tahun berdasarkan AOR>1 adalah jarak kelahiran 5 tahun, usia ibu pertama melahirkan 30 tahun, jumlah anak yang dilahirkan >3, tingkat pendidikan tidak sekolah/SD, ANC tidak lengkap, dan ibu menginginkan anak lagi. Di perdesaan, faktor risikonya adalah jarak kelahiran 5 tahun, usia ibu pertama melahirkan 30 tahun, jumlah anak yang dilahirkan >3, ANC tidak lengkap, ibu menginginkan anak lagi. Faktor risiko dominan terhadap kematian bayi usia 0 sampai 1 tahun di kedua wilayah adalah ibu yang melahirkan >5 anak. Dapat disimpulkan jarak kelahiran memiliki hubungan terhadap kematian bayi usia 0 sampai 1 tahun di wilayah perkotaan, sedangkan di wilayah perdesaan jarak kelahiran menjadi faktor risiko setelah dilakukan analisis pemodelan. Terdapat beberapa kesamaan dan perbedaan faktor risiko kematian bayi usia 0 sampai 1 tahun di kedua wilayah, sehingga faktor risiko bervariasi menurut karakteristik wilayah.
Read More
S-10998
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
