Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 41462 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Irma Gusmi Ratih; Pembimbing: Yunis Miko Wahyono; Penguji: Yovsyah, Vivi Voronika, Hakimi
Abstrak: Kampanye Imunisasi MR Tahun 2017 di Pulau Jawa berakhir dengan hasil belum optimalnya cakupan imunisasi MR, dimana cakupan imunisasi MR di Provinsi Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat lebih rendah dibandingkan 3 provinsi yang lain. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan ibu dengan status imunisasi MR pada anak usia 9-59 bulan saat Kampanye Imunisasi MR Pengetahuan ibu tentang imunisasi MR yang meliputi pengetahuan tentang penyakit campak, penyakit rubella, maupun pengetahuan tentang imunisasi itu sendiri sangat berdampak dalam upaya meningkatkan cakupan imunisasi
Read More
T-5628
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Lina Anggraeni Mariyati; Pembimbing: Putri Bungsu; Penguji: Trisari Anggondowati, Dian Meutia Sari, Arum Ambarsari
Abstrak:
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) masih menjadi salah satu penyebab utama morbiditas pada anak balita, terutama di negara berkembang. Status imunisasi dasar dan riwayat berat lahir rendah (BBLR) merupakan faktor yang secara teoritis berhubungan dengan kejadian ISPA pada anak, namun belum adanya penelitian yang secara khusus mengevaluasi efek gabungan antara status imunisasi dasar dan riwayat berat lahir terhadap kejadian ISPA pada balita. Sehingga penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kedua faktor tersebut dengan kejadian ISPA pada anak usia 12–59 bulan di DKI Jakarta baik secara terpisah (independent), maupun kombinasi (gabungan) berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023 dengan menggunakan desain cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 711 anak usia 12–59 bulan di DKI Jakarta yang memenuhi kriteria inklusi, yaitu memiliki data lengkap pada setiap variabel yang diteliti. Variabel dependen adalah kejadian ISPA, yaitu anak yang tercatat dalam 1 bulan terakhir didiagnosis ISPA oleh tenaga kesehatan dan atau memiliki gejala demam disertai batuk/pilek/nyeri tenggorok, sedangkan variabel independen utama meliputi status imunisasi dasar, riwayat berat lahir, dan variabel gabungan status imunisasi dasar dan riwayat berat lahir. Variabel kovariat terdiri atas usia anak, status gizi, ASI eksklusif, paparan asap rokok dalam rumah, usia ibu, pendidikan ibu, status pekerjaan ibu, dan status ekonomi. Analisis dilakukan secara univariat, bivariat dan multivariat menggunakan regresi generalized linear model dengan pendekatan backward elimination. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi ISPA pada anak usia 12–59 bulan sebesar 37,6%. Setelah mengotrol faktor perancu, anak dengan imunisasi dasar tidak lengkap memiliki prevalensi ISPA 13% lebih tinggi dibandingkan anak dengan imunisasi lengkap (aPR=1,13; 95%CI: 0,93–1,39), namun tidak bermakna secara statistik. Anak dengan riwayat BBLR juga memiliki prevalensi ISPA 33% lebih tinggi dibandingkan dengan anak yang tidak BBLR (aPR=1,33; 95%CI: 0,95–1,88). Pada analisis variabel gabungan, kelompok anak dengan imunisasi lengkap dan riwayat BBLR memiliki prevalensi ISPA tertinggi (aPR=1,62; 95%CI: 0,93–2,83) dibandingkan degan kelompok imunisasi lengkap dan tidak BBLR. Penelitian ini menyimpulkan bahwa status imunisasi dasar dan riwayat BBLR menunjukkan kecenderungan peningkatan risiko ISPA meskipun tidak bermakna secara statistik. Upaya pencegahan ISPA tetap perlu difokuskan pada peningkatan cakupan imunisasi dasar dan pemantauan kelompok anak dengan riwayat BBLR.

Acute Respiratory Infection (ARI) remains one of the leading causes of morbidity among children under five, particularly in developing countries. Basic immunization status and a history of low birth weight (LBW) are theoretically associated with the incidence of ARI in children; however, limited research has specifically evaluated the combined effect of these two factors on ARI among under-five children. Therefore, this study aimed to analyze the association between basic immunization status and birth weight history with the incidence of ARI among children aged 12–59 months in DKI Jakarta using data from the 2023 Indonesian Health Survey through a cross-sectional design. The study sample consisted of 711 children aged 12–59 months in DKI Jakarta who met the inclusion criteria and had complete data for all study variables. The dependent variable was the incidence of ARI, defined as a child who, within the previous month, had been diagnosed with ARI by a healthcare professional and/or experienced symptoms of fever accompanied by cough, runny nose, or sore throat. The main independent variables included basic immunization status, birth weight history, and a combined variable of basic immunization status and birth weight history. Covariates consisted of child age, nutritional status, exclusive breastfeeding, exposure to cigarette smoke inside the house, maternal age, maternal education, maternal employment status, and socioeconomic status. Data were analyzed using univariate, bivariate, stratified, and multivariate analyses with generalized linear model regression and a backward elimination approach. The results showed that the prevalence of ARI among children aged 12–59 months was 37.6%. After adjusting for potential confounders, children with incomplete basic immunization had a 13% higher prevalence of ARI compared with fully immunized children (aPR = 1.13; 95% CI: 0.93–1.39), although the association was not statistically significant. Children with a history of LBW had a 33% higher prevalence of ARI compared with those without LBW (aPR = 1.33; 95% CI: 0.95–1.88). In the combined-variable analysis, children with complete immunization and a history of LBW had the highest prevalence of ARI (aPR = 1.62; 95% CI: 0.93–2.83) compared with children who had complete immunization and no history of LBW. This study concludes that incomplete basic immunization status and a history of LBW tend to increase the risk of ARI, although the associations were not statistically significant. Efforts to prevent ARI should continue to focus on improving basic immunization coverage and monitoring children with a history of LBW.
Read More
T-7550
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Andi Pananrang; Pembimbing: Nurhayati A. Prihartono; Penguji: Yovsyah; Syafriyal; Umar
Abstrak:
Imunisasi hepatitis B adalah salah satu jenis pelayanan imunisasi dasar yang seharusnya diberikan kepada semua bayi pada usia 0-7 hari. Proporsi bayi yang diimunisasi HB-0 tergolong masih rendah sekitar 60% sehingga potensi bayi terinfeksi HBV pada usia dini, masih besar. Tujuan penelitian, untuk mengetahui hubungan pengetahuan ibu tentang imunisasi hepatitis B dengan status imunisasi HB-0 pada puskesmas di kabupaten Barru setelah dikontrol dengan potential confounder. Desain penelitian adalah kasus kontrol. Kasus adalah bayi yang tidak diimunisasi hepatitis B-0 sedangkan kontrol adalah bayi yang mendapat imunisasi hepatitis B-0 (bayi 0-7 hari) dan masingmasing tercatat dalam register imunisasi pukesmas Padongko dan Pekkae bulan Februari-Maret 2011 dengan total sampel sebanyak 166. Hasil penelitian menunjukan bahwa ibu yang berpengetahuan kurang mengenai imunisasi hepatitis B, mempunyai risiko (odds) 5,57 kali bayinya tidak diimunisasi HB-0 dibandingkan ibu yang berpengetahuan baik dengan 95%CI:(2,69-11,53) setelah dikontrol dengan faktor pendidikan ibu. Disarankan kepada instansi terkait untuk meningkatkan upaya promosi program imunisasi HB-0 kepada masyarakat dan kemitraan lintas sektor serta mendorong komitmen setiap unit pelayanan kesehatan untuk melaksanakan program imunisasi HB-0.

The Hepatitsi B Immunization is one of kind the primary immunization care that should be given to all of neonatus early (0-7 days old). The proportion of HB-0 immunized neonatus early is about 60% so there was chance of child be infected HBV when they were still neonatus phase. The study objective is to know association of the mother’s knowledge about hepatitis B immunization and the immunization status of Hepatitis B-0 (neonatus 0 - 7 days old) at puskesmas in the distric of Barru after adjusted by potential confounder. The design is case - control study. The cases are infant who unimmunized hepatitis B-0 (0-7 days old) and the controls are infant who immunized hepatitis B-0 and both of them had been being registered at puskesmas Padongko dan Pekkae in 2011,february-march.The sample size are 166 (83:83). The study result shows that the mothers who have less knowledge about hepatitis B immunization have chance (odds) 5,57 times their infants would not be immunized if be compared with the mother’s who have good knowledge 95%CI:(2,69-11,53) after adjusted by the mother education factor. To be suggested to increase the promotion efforts of hepatitis B immunization programme to the community and immunization partnership programme and build communication intesively to all of the helath service providers to make a commitment conducting immunization of hepatitis B-0 programme.
Read More
T-3405
Depok : FKM UI, 2011
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Gusnilawati; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono, Renti Mahkota; Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, Felly Philipus Senewe
T-2344
Depok : FKM UI, 2006
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Welstin Wemi Loa; Pembimbing: Trisari Anggondowati; Penguji: Lhuri Dwianti Rahmartani, Ratna Djuwita, Damiana Veronika Djahari
Abstrak:
Prevalensi stunting di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) masih bertahan pada kisaran 37% dalam dua tahun terakhir meskipun cakupan ASI eksklusif dan imunisasi dasar lengkap relatif tinggi. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan riwayat ASI eksklusif dan status imunisasi dasar lengkap, serta interaksi keduanya, terhadap kejadian stunting pada anak usia 12–23 bulan di Provinsi Nusa Tenggara Timur setelah dikontrol oleh variabel perancu. Penelitian ini menggunakan desain potong lintang dengan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2024 pada 2.377 anak usia 12–23 bulan. Analisis dilakukan menggunakan regresi Poisson dengan varian robust yang disesuaikan dengan desain kompleks survei dan pembobotan SSGI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, setelah dikontrol terhadap usia anak, jenis kelamin anak, riwayat berat badan lahir rendah, usia ibu saat hamil, kunjungan antenatal care (K6), pendidikan ibu, akses terhadap air minum layak, wilayah tempat tinggal, dan status sosial ekonomi, prevalensi stunting lebih tinggi pada kelompok anak yang tidak pernah mendapatkan ASI (aPR = 1,25; 95% CI: 1,02–1,54) dibandingkan dengan kelompok anak yang mendapatkan ASI eksklusif, serta pada kelompok anak dengan status imunisasi dasar yang tidak lengkap (aPR = 1,39; 95% CI: 1,05–1,85) dibandingkan dengan kelompok anak yang memiliki status imunisasi dasar lengkap. Analisis kombinasi pajanan menunjukkan bahwa anak yang tidak pernah mendapatkan ASI dan tidak memperoleh imunisasi dasar lengkap memiliki prevalensi stunting yang lebih tinggi (aPR = 1,56; 95% CI: 1,10–2,21), sedangkan anak yang memperoleh ASI non-eksklusif (mixed feeding) dan imunisasi dasar lengkap memiliki prevalensi stunting 50% lebih rendah (aPR = 0,50; 95% CI: 0,26–0,98). Penguatan promosi menyusui, peningkatan cakupan dan ketepatan imunisasi, diantaranya melalui optimalisasi fungsi posyandu perlu menjadi prioritas dalam upaya pencegahan stunting di NTT.

The prevalence of stunting in East Nusa Tenggara Province (NTT) has remained at approximately 37% over the past two years, despite relatively high coverage of exclusive breastfeeding and complete basic immunization. This study aimed to examine the association of exclusive breastfeeding history and complete basic immunization status, as well as their interaction, with stunting among children aged 12–23 months in East Nusa Tenggara Province after controlling for potential confounding factors. This study employed a cross-sectional design using data from the 2024 Indonesian Nutrition Status Survey (Survei Status Gizi Indonesia, SSGI), involving 2,377 children aged 12–23 months. Data were analyzed using Poisson regression with robust variance, adjusted for the complex survey design and SSGI sampling weights. The results showed that, after adjustment for child age, child sex, history of low birth weight, maternal age during pregnancy, antenatal care (ANC) attendance (K6), maternal education, access to improved drinking water, place of residence, and socioeconomic status, the prevalence of stunting was higher among children who had never been breastfed (aPR = 1.25; 95% CI: 1.02–1.54) than among those who had been exclusively breastfed, and among children with incomplete basic immunization (aPR = 1.39; 95% CI: 1.05–1.85) compared with those who had received complete basic immunization. Furthermore, the combined exposure analysis demonstrated that children who had never been breastfed and had incomplete basic immunization exhibited a higher prevalence of stunting (aPR = 1.56; 95% CI: 1.10–2.21), whereas those who had received non-exclusive breastfeeding (mixed feeding) and complete basic immunization exhibited a 50% lower prevalence of stunting (aPR = 0.50; 95% CI: 0.26–0.98). Strengthening breastfeeding promotion and improving both the coverage and timeliness of immunization, including through the optimization of integrated health service posts (Posyandu), should be prioritized as key strategies for stunting prevention in East Nusa Tenggara.
Read More
T-7665
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sekar Astrika Fardani; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Renti Mahkota, Yovsyah, Eksi Wijayanti
Abstrak:
Penyakit infeksi merupakan ancaman yang signifikan dan menyebabkan kematian pada anak-anak dalam jumlah besar. Penyakit infeksi berkontribusi terhadap 47,6% penyebab kematian pada balita tahun 2019 di dunia dan lebih dari 22% penyebab kematian pada balita di Indonesia tahun 2021. Riwayat imunisasi dasar dan stunting memiliki peranan penting terhadap risiko terjadinya penyakit infeksi pada anak usia di bawah dua tahun. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat hubungan riwayat imunisasi dasar dan stunting dengan risiko penyakit infeksi pada anak usia 12 – 23 bulan di Indonesia. Penelitian ini dilakukan dengan desain studi cross-sectional menggunakan data sekunder SSGI-2022. Terdapat 53.585 responden yang memenuhi kriteria inklusi-eksklusi penelitian dan dijadikan sebagai sampel penelitian. Analisis data dilakukan menggunakan uji cox regression constant time dengan ukuran asosiasi prevalence ratio (PR) dan interval kepercayaan 95%. Hasil penelitian ini menunjukkan proporsi anak usia 12 – 23 bulan yang menderita penyakit infeksi sebesar 12,67%, proporsi riwayat imunisasi dasar lengkap sebesar 71,63% dan proporsi stunting sebesar 21,28%. Pada analisis multivariat didapatkan riwayat imunisasi dasar berhubungan signifikan dengan penyakit infeksi setelah dikontrol oleh variabel interaksi riwayat imunisasi dasar dan ASI eksklusif. Anak usia 12 – 23 bulan dengan riwayat imunisasi dasar tidak lengkap dan tidak mendapatkan ASI eksklusif memiliki risiko 1,34 kali lebih besar untuk menderita penyakit infeksi dibandingkan anak usia 12 – 23 bulan dengan riwayat imunisasi dasar lengkap dan mendapatkan ASI eksklusif (adjusted PR 1,34; 95% CI 1,24 – 1,43). Anak usia 12 – 23 bulan yang memiliki riwayat imunisasi dasar tidak lengkap tetapi mendapatkan ASI eksklusif berisiko 1,47 kali lebih tinggi untuk menderita penyakit infeksi dibandingkan anak yang memiliki riwayat imunisasi dasar lengkap dan mendapatkan ASI eksklusif (adjusted PR 1,47; 95% CI 1,37 – 1,58). Sedangkan untuk variabel stunting didapatkan tidak ada hubungan yang signifikan antara stunting dan penyakit infeksi setelah dikontrol oleh variabel wasting (adjusted PR 1,05; 95% CI 0,99 – 1,11). Diperlukan upaya untuk melengkapi riwayat imunisasi anak serta pemenuhan asupan gizi dan pemantauan tumbuh kembang anak secara optimal.

Infectious diseases are a significant threat and the leading cause of death in many children. Infectious diseases contributed for 47.6% of the causes of under-five deaths in 2019 globally and more than 22% of the causes of under-five deaths in Indonesia in 2021. History of basic immunization and stunting play an important role in the risk of infectious diseases in children. The aim of this study was to examine the relationship between history of basic immunization and stunting with the risk of infectious diseases among toddlers aged 12 – 23 months in Indonesia. This study was conducted with a cross-sectional study design using SSGI-2022 data. There were 53,585 respondents who met the research inclusion-exclusion criteria used as samples. Data analysis was performed using cox regression constant time to obtain a prevalence ratio (PR) with 95% confidence interval. The results of this study show that the proportion of infectious diseases among toddlers aged 12 - 23 months is 12.67%, the proportion of complete basic immunization history is 71.63% and the proportion of stunting is 21.28%. Multivariate analysis was found that history of basic immunization had significantly association with infectious diseases after being controlled by the interaction variable history of basic immunization and exclusive breastfeeding. Toddlers aged 12 – 23 months with incomplete basic immunization and were not receive exclusive breastfeding have 1.34 times higher risk of suffering from infectious diseases compared to toddlers with complete basic immunization and receive exclusive breasfeeding (adjusted PR 1.34; 95% CI 1.24 – 1.43). Toddlers aged 12 – 23 months with incomplete basic immunization but were exclusively breastfed have 1.47 times higher risk of suffering from infectious diseases compared to toddlers with complete basic immunization and receive exclusive breasfeeding (adjusted PR 1.47; 95% CI 1.37 – 1.58). Meanwhile, for stunting variable, it was found that there was no significant asscociation between stunting and infectious diseases after being controlled for the wasting variable (adjusted PR 1.05; 95% CI 0.99 – 1.11). Efforts are needed to complete the child's immunization history as well as fulfill the child's nutritional intake and monitor the child's growth and development optimally.
Read More
T-6930
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Oki Zulkifli Duski; Pembimbing: Krisnawati Bantas
T-993
Depok : FKM UI, 2001
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nanang Wardhana; Pembimbing: Bambang Sutrisna; Penguji; Lukman Hakim Tarigan, Ella Nurlaela Hadi, Julitasari Soendoro
Abstrak:
Imunisasi dasar adalah suatu tindakan untuk memberikan kekebalan khusus terhadap penyakit tuberkulosis, difteri, pertusis, tetanus, poliomielitis, campak dan hepatitis B kepada anak umur 0-11 bulan. Kegiatan tersebut merupakan salah satu intervensi kesehatan yang berdaya ungkit besar terhadap penurunan angka kesakitan dan angka kematian bayi dan anak. Cakupan imunisasi menurut SDKI tahun 1997 adalah 55% anak terimunisasi lengkap. Di Jawa Barat tahun 1997 cakupan anak terimunisasi lengkap bare mencapai 42 % sedangkan di Kabupaten Majalengka cakupan anak terimunisasi lengkap 81,29%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perilaku ibu tentang imunisasi terhadap status kelengkapan imunisasi dasar pada anak di Kabupaten Majalengka tahun 1999-2001. Desain penelitian yang digunakan adalah kasus kontrol tanpa di matching dengan jumlah sampel 159 kasus dan 159 kontrol diambil dengan cara simple random sampling. Hasil penelitian dengan menggunakan uji statistik multivariabel regresi logistik menunjukkan bahwa perilaku ibu tentang imunisasi berpengaruh terhadap status kelengkapan imunisasi dasar pada anak dengan nilai rasio odds 4,12. Artinya ibu yang memiliki perilaku tentang imunisasi kurang baik memiliki risiko 4,12 kali status imunisasi dasar pada anaknya tidak lengkap dibandingkan dengan ibu yang memiliki perilaku tentang imunisasi baik. Selain itu, status kelengkapan imunisasi dasar pada anak dipengaruhi pula oleh pendidikan ibu, jumlah anak masih hidup, aktifitas kader Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu), aksesibilitas ke Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) dan pemajanan media informasi. Variabel pendidikan ibu, aktifitas kader Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu), aksesibilitas ke Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) dan pemajanan media informasi saling berpengaruh independent dengan status kelengkapan imunisasi dasar pada anak. Pengaruh perilaku ibu tentang imunisasi terhadap status kelengkapan imunisasi dasar pada anak, ternyata dipengaruhi oleh kovariat antara lain pendidikan ibu dan aksesibilitas ke Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu). Dari hasil penelitian ini diperoleh model terbaik yaitu : Logit p(X) = -2,82+ 1,05 (Perilaku ibu tentang imunisasi) + 0,90 (Aktifitas kader Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu)) + 1,53 (Aksesibilitas ke Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu)) + 1,50 (Pemajanan media informasi) + 1,56 (Pendidikan ibu). Untuk meningkatkan status kelengkapan imunisasi dasar pada anak, Dinas Kesehatan dengan didukung oleh program dan sektor terkait perlu melakukan suatu kajian pengembangan media informasi imunisasi dan pemberdayaan Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) dalam program imunisasi.

Mother's Behavior Influences on Immunization to Completeness Status of Basic Immunization for Children in Majalengka Regency in 1999-2001Basic immunization is an action to give immunity to tuberculosis, diphtheria, pertussis, tetanus, poliomyelitis, measles and hepatitis B diseases for children 0-1 l months. The activity is one of the health interventions to reduce morbidity and mortality rates. According to Indonesia Demographic and Health Survey (IDHS) in 1997 immunization coverage is 55% fully immunized children. In West Java in 1997 the fully immunized children are 42% more over in Majalengka Regency the fully immunized children are 81,29%. The research objectives knowing mother's behavior influences on immunization to completeness status of basic immunization for children in Majalengka Regency in 1999-2001. Research design by using case-control 159 sample cases and 159 controls without matching is taken by simple random sampling. The research results to use logistic regression multivariate statistic, indicated which mother's behavior on immunization influence to completeness status of basic immunization for children value to odds ratio 4.12. It means those mothers?s who has a bad behavior on immunization having risk 4.12 times status of basic immunization of her child is incompletely of we compared with the mother's who have a good behavior on immunization. Besides the completeness status of basic immunization for children is influenced by the mother's education, number of children still alive, activities of Integrated Health Service Post cadre, accessibility to Integrated Health Service Post and advance of mass immunization information. The variable of the mother's education, activities of Integrated Health Service Post cadre, accessibility to Integrated Health Service Post and advance of mass immunization information as influence as independently with status of completeness of basic immunization for children. Mother's behavior influences on immunization to completeness status of basic immunization for children which is influenced by covariate such as mother's education and accessibility to Integrated Health Service Post. The research results above are got the best model namely: Logit p(X) = -2,82 i 1,05 (mother's behavior on immunization) - 0,90 (activities of Integrated Health Service Post) + 1,53 (accessibility to Integrated Health Service Post) + 1,50 (advance or mass immunization information) 1,56 (mother's education). To increase completeness status of basic immunization for children, Department of Health supported by program and connected sector should be done the developing research of mass immunization information and revitalization of Integrated Health Service Post in immunization program.
Read More
T-1117
Depok : FKM-UI, 2001
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Januar Tree Kencana; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Yovsyah, Sholah Imari, Muammar Muslih
Abstrak:

ABSTRAK Nama : Januar Tree Kencana Program Studi: Epidemiologi Judul : Hubungan Status Imunisasi dan Status Gizi dengan Kejadian Difteri Pada Kejadian Luar Biasa (KLB) di Kabupaten Serang Propinsi Banten Tahun 2017-2018 Pembimbing : Dr. dr. Tri Yunis Miko Wahyono, M.Sc Penyakit difteri disebabkan oleh infeksi corynebacterium diphteriae merupakan salah satu penyakit menular yang dapat dicegah dengan imunisasi, penyakit ini masih menjadi masalah kesehatan yang serius karena seringkali menimbulkan kejadian luar biasa (KLB) di berbagai negara maupun belahan dunia. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan pada tahun 2017 telah terjadi KLB difteri di 20 propinsi dan 95 kabupaten / kota di Indonesia, termasuk Propinsi Banten dan salah satunya adalah di Kabupaten Serang. Di kabupaten Serang Status imunisasi dan statu gizi masyarakat masih menjadi masalah kesehatan, Cakupan imunisasi yang masih rendah di beberapa Desa dalam kecamatan dan status gizi buruk masih ditemukan, oleh karenanya penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan status imunisasi dan status gizi dengan kejadian difteri pada KLB di kabupaten Serang Propinsi Banten Tahun 2017-2018. Desain penelitian yang digunakan adalah kasus kontrol dimana variabel penelitiannya adalah status imunisasi dan status gizi serta variabel kovariat yaitu lingkungan fisik tempat tinggal, pengetahuan dan riwayat bepergian. Berdasarkan hasil penelitian secara multivariat dengan menggunakan regresi logistik di dapatkan hasil bahwa status imunisasi mempunyai OR : 3,777 95% CI = 1.48 -9.60 P Value 0.005 sedangkan Status Gizi memiliki OR : 1,23 90% CI = 0.44 – 3,41 P Value 0,680 setelah dikontrol dengan Variabel  Umur, Jenis Kelamin, Pengetahuan, Riwayat Bepergian, lingkungan fisik Rumah, pencahayaan alami, Kelembaban dan kepadatan Hunian. Kata Kunci : Difteri, Kasus Kontrol, Kejadian Luar Biasa


ABSTRACT Nama : Januar Tree Kencana Study Program: Epidemiology Title                 : The Relationship between Immunization and Nutritional Status with Diphtheria Outbreaks in Serang Regency, Banten Province 2017-2018. Background: Diphtheria as a one of the most contagious diseases that can be prevented by immunization (VPD) is still a serious health problem because it often causes outbreak in various countries including Indonesia. Based on data from the Ministry of Health of the Republic of Indonesia, during 2017 there have been diphtheria outbreaks in 20 provinces and 95 regency/cities including Serang Regency.This study aims to determine the relationship between immunization and nutritional status with the diphtheria outbreaks in Serang Regency of Banten Province in 2017-2018. Methods: This study was an analytic study using case control design with 172 respondents consisting of 43 cases and 129 controls. Logistic regression analysis was performed to obtain an estimate of the relationship between immunization and nutritional status with diphtheria after controlled covariate variables. Result: Proportion of immunization and good nutrition in the case is lower than in control. Immunization and nutrition in both cases were 51.2% and 76.7% while in controls were 77.5% and 81.4%. The association (OR) between immunization status and diphtheria was 3.78 (95% CI: 1.48-9.60) after controlling to age, room density and natural house lighting while the association (OR) between nutritional status and diphtheria was 1.23 (95% CI: 0.44-3.41) after controlling to age, knowledge, humidity, and immunization status. Conclusions: The proportion of immunization in diphtheria cases is still low. Nonimmunization status are at risk for diphtheria 3.78 times. The Health Office is expected to conduct routine monitoring and evaluation of basic immunization programs, especially in areas with low coverage and provide information to the community about diphtheria, including factors such as immunization, nutrition, and the physical environment of the house. Keywords: Diphtheria, Case Control, Outbreak.

Read More
T-5173
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sadiah Nurul Falah; Pembimbing: Helda; Penguji: Asri C Adisasmita, Purnama Magdalena Simanullang , Hidayat Nuh Ghazali
Abstrak:

Difteri masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Kabupaten Garut terdapat 100 kasus difteri dengan CFR sebesar 17,2%. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan status imunisasi dan riwayat kontak dengan kejadian difteri di Kabupaten Garut tahun 2023–2024. Penelitian ini menggunakan pendekatan mix-method. Penelitian kuantitatif menggunakan desain case control (1:2) dengan matching individu berdasarkan usia dan tempat tinggal. Jumlah responden sebanyak 141 anak (47 kasus dan 94 kontrol) yang dipilih menggunakan teknik total sampling dari data KLB. Analisis kondisional regresi logistik dilakukan untuk menghitung odds ratio (OR) dan 95% Confidence Interval (CI). Pendekatan kualitatif dilakukan melalui wawancara mendalam dengan informan terkait menggunakan pendekatan fenomenologi. Sebagian besar anak pada kelompok kasus tidak diimunisasi (74,47%) dan memiliki riwayat kontak dengan penderita difteri (76,6%). anak yang tidak diimunisasi dan memiliki riwayat kontak berisiko 9 kali untuk terkena difteri dibandingkan dengan yang imunisasi lengkap (95%CI: 2,67-31,79). Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara status imunisasi dan kejadian difteri (OR=5,82; 95% CI: 2,17–15,61; p=0,0001) sebelum mengontrol kovariat. Setelah mengontrol kovariat, terdapat hubungan antara status imunisasi dan kejadian difteri (OR=3,08; 95% CI: 1,40–23,79; p=0,008). Hasil kualitatif menunjukkan bahwa faktor sosial-budaya, agama, penolakan imunisasi, serta sistem surveilans yang belum optimal sebelum KLB turut memengaruhi kejadian. Diperlukan peningkatan cakupan imunisasi, edukasi masyarakat, serta penguatan sistem surveilans untuk pencegahan difteri di wilayah berisiko tinggi.

Keywords: difteri, status imunisasi, riwayat kontak, mix-method, Kab. Garut

Background: Diphtheria remains a public health problem in Garut District, with 100 reported cases and a case fatality rate (CFR) of 17.2%. This study aimed to determine the relationship between immunization status with the incidence of diphtheria in Garut District in 2023–2024. Methods: A mixed-method approach was used. The quantitative component employed a case-control design (1:2) with individual matching based on age and residence. A total of 141 children (47 cases and 94 controls) were selected using total sampling from outbreak data. Conditional logistic regression analysis was conducted to calculate odds ratios (OR) and 95% confidence intervals (CI). The qualitative approach was carried out through in-depth interviews with key informants using a phenomenological method. Result: Most children in the case group were not immunized (74.47%) and had a history of contact with diphtheria patients (76.6%). Children who were not immunized and had contact history were 9 times more likely to contract diphtheria compared to those who were fully immunized (95% CI: 2.67–31.79). A significant association was found between immunization status and diphtheria incidence (OR=5.82; 95% CI: 2.17–15.61; p=0.0001), and remained significant after controlling for covariates (OR=3.08; 95% CI: 1.40–23.79; p=0.008). The qualitative findings revealed that socio-cultural and religious factors, vaccine refusal, and a suboptimal surveillance system prior to the outbreak contributed to the cases. Conclusion: Strengthening immunization coverage, community education, and surveillance systems is needed to prevent diphtheria in high-risk areas.  

 

Read More
T-7311
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive