Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 34429 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Nur Annisa; Pembimbing: Sutanto Priyo Hastono, Artha Prabawa; Penguji: Martya Rahmaniati Mskful, Suhardini, Diah Handayani
Abstrak: Resistensi obat merupakan masalah baru dalam program eliminasi TB yang disebut TB resisten obat. Pengobatan TB resisten obat di Indonesia dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan rujukan dan fasilitas pelayanan kesehatan satelit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh fasilitas pelayanan kesehatan terhadap keberhasilan pengobatan pasien TB resisten obat di Indonesia. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei 2019 di Subdit-TB, Direktorat P2PML, Kementerian Kesehatan RI. Desain studi penelitian ini adalah kohort restrospektif. Jumlah sampel sebanyak 4288 orang, diseleksi menggunakan teknik total sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien yang menyelesaikan pengobatan di fasilitas pelayanan kesehatan satelit sebanyak 97,20% dan di fasilitas pelayanan kesehatan rujukan sebanyak 2,8%. Proporsi keberhasilan pengobatan sebesar 53,2% dengan kumulatif hazard keberhasilan pengobatan sebesar 5,43 di akhir pengamatan selama 36 bulan pengamatan
Read More
T-5649
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Andini Ayu Lestari; Pembimbing: Sabarinah; Penguji: Sudijanto Kamso, Tri Yunis Miko Wahyono, Meilina Farikha, Natalie Laurencia
Abstrak:
Tuberkulosis masih menjadi masalah kesehatan di dunia. Diperkirakan pada tahun 2021 terdapat 10,6 juta orang yang terinfeksi tuberkulosis. Indonesia merupakan salah satu negara yang masuk dalam 20 negara dengan beban TB, TB MDR/RR, dan TB HIV tertinggi di dunia berdasarkan estimasi jumlah kasus hasil modelling yang dilakukan WHO. Angka inisiasi pengobatan pasien tuberkulosis resistan obat meningkat dari tahun 2020-2022, namun pasien yang terdiagnosis tuberkulosis resistan obat tidak dapat segera mendapatkan pengobatan di fasilitas kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui durasi keterlambatan pengobatan pasien tuberkulosis resistan obat, serta pengaruh faktor sistem kesehatan dan faktor pasien terhadap keterlambatan pengobatan pasien tuberkulosis resistan obat di Indonesia tahun 2020-2022. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan sampel pasien tuberkulosis resistan obat yang memulai pengobatan tahun 2020-2022 dan dilaporkan ke sistem informasi tuberkulosis. Penelitian ini menggunakan metode regresi logistik multilevel dengan sumber data dari Sistem Informasi Tuberkulosis dan Profil Kesehatan Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan rerata durasi keterlambatan pengobatan pasien tuberkulosis resistan obat meningkat dari tahun 2020-2022; faktor sistem kesehatan yang mempengaruhi keterlambatan pengobatan tuberkulosis resistan obat antara lain rasio rumah sakit, metode diagnosis baseline, dan wilayah pendampingan komunitas; sedangkan faktor pasien yang mempengaruhi keterlambatan pengobatan pasien tuberkulosis resistan obat yaitu jenis kelamin, domisili pasien, riwayat pengobatan OAT suntik, jenis fasilitas kesehatan pertama yang dikunjungi, dan jumlah kunjungan ke fasilitas kesehatan. Perluasan penggunaan cartridge XDR pada alat TCM diperlukan untuk mengetahui resistansi fluorokuinolon sehingga pasien yang terdiagnosis resistan obat dapat segera diobati dan perlunya penguatan kolaborasi antara fasilitas kesehatan, dinas kesehatan, dan organisasi komunitas dalam mendukung pengobatan pasien tuberkulosis resistan obat.

Tuberculosis is still a health problem in the world. It is estimated that in 2021 there will be 10.6 million people infected with tuberculosis. Indonesia is one of the 20 countries with the highest burden of TB, MDR/RR TB and HIV TB in the world based on the estimated number of cases resulting from modeling conducted by WHO. The rate of initiation of treatment for drug-resistant tuberculosis patients increased from 2020-2022, however, patients diagnosed with drug-resistant tuberculosis cannot immediately receive treatment at health facilities. This study aims to determine the duration of delays in treatment of drug-resistant tuberculosis patients, as well as the influence of health system factors and patient factors on delays in treatment of drug-resistant tuberculosis patients in Indonesia in 2020-2022. This study used a cross-sectional design with a sample of drug-resistant tuberculosis patients who started treatment in 2020-2022 and reported to the tuberculosis information system. This research uses a multilevel logistic regression method with secondary data sources from the Tuberculosis Information System and the Indonesian Health Profile. The results of the study show that the average duration of delay in treatment for drug-resistant tuberculosis patients increased from 2020-2022; health system factors that influence delays in treatment of drug-resistant tuberculosis include hospital ratios, baseline diagnosis methods, and community assistance areas; Meanwhile, patient factors that influence delays in treatment for drug-resistant tuberculosis patients are gender, patient domicile, history of injectable drugs, type of first health facility visited, and number of visits to health facilities. Expanding the use of XDR cartridges in GenExpert is needed to determine fluoroquinolone resistance so that patients diagnosed with drug resistance can be treated immediately and there is a need to strengthen collaboration between health facilities, health services and community organizations in supporting the treatment of drug-resistant tuberculosis patients.
Read More
T-6878
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Anindya Oktaria Yudhanti; Pembimbing: Martya Rahmaniati Makful; Penguji: Milla Herdayati, Lili Musnelina
Abstrak:
Tuberkulosis (TB) masih menjadi masalah kesehatan global hingga saat ini. Indonesia tercatat sebagai salah satu dari lima negara dengan beban kasus tertinggi di dunia. Empat provinsi dengan kasus notifikasi TB RO tertinggi secara nasional berada di pulau Jawa. Fasilitas Pelayanan Kesehatan (fasyankes) berperan penting pada upaya pencegahan dan penanggulangan pengendalian TB RO. Pengaruh fasyankes terhadap pengendalian TB RO tidak hanya terbatas pada mutu kualitas pelayanannya, tetapi juga aksesibilitas bagi masyarakat. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh akses fasyankes terhadap kejadian TB RO di Pulau Jawa. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif menggunakan data sekunder, yaitu SKI 2023. Analisis data dilakukan menggunakan uji regresi logistik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Akses fasyankes sulit berpengaruh terhadap kejadian TB RO di Pulau Jawa (nilai p = 0,008) sebagai faktor protektif dengan aOR sebesar 0,460 (aOR = 0.460; 95% CI = 0.260–0.814). Faktor dominan yang meningkatkan kejadian TB RO adalah status ekonomi terbawah (aOR: 2,894; 95% CI: 1,468–5,703; p-value: 0,002) dan menengah bawah (aOR: 2,131; 95% CI: 0,927–4,901; p-value: 0,075) serta adanya riwayat penyakit komorbid (aOR: 1,961; 95% CI: 1,053–3,651; p-value: 0,034). Sementara itu, penderita TB RO yang tidak memiliki PMO menjadi faktor protektif terhadap kejadian TB RO (aOR: 0,579; 95% CI: 0,341–0,981; p-value: 0,042).

Tuberculosis (TB) remains a pressing global health issue to date. Indonesia is recorded as one of the top five countries with the highest TB burden globally. Four provinces with the highest national notification cases of Drug-Resistant Tuberculosis (DR-TB) are located on the island of Java. Healthcare facilities play a pivotal role in the prevention, management, and control of DR-TB. The impact of healthcare facilities on DR-TB control is not limited solely to the quality of service provided, but also extends to their accessibility to the public. Therefore, this study aims to examine the effect of healthcare facility accessibility on the incidence of DR-TB in Java. This quantitative study utilized secondary data derived from the 2023 Indonesian Health Survey (SKI). Data analysis was conducted using logistic regression. The results indicate that difficult healthcare facility accessibility significantly affects the incidence of DR-TB in Java (p = 0.008), acting as a protective factor (aOR = 0.460; 95% CI = 0.260–0.814). The dominant factors increasing DR-TB incidence were the lowest economic status (aOR: 2.894; 95% CI: 1.468–5.703; p = 0.002), the lower-middle economic status (aOR: 2.131; 95% CI: 0.927–4.901; p = 0.075), and a history of comorbidities (aOR: 1.961; 95% CI: 1.053–3.651; p = 0.034). Conversely, the absence of a treatment supervisor (PMO) was found to be a protective factor against DR-TB incidence (aOR: 0.579; 95% CI: 0.341–0.981; p = 0.042).
Read More
S-12379
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Klara Morina BR Surbakti; Pembimbing: Pandu Riono; Penguji: Moch Noor Farid, Ratnawati, Amin Amsyari
Abstrak:

Abstrak

Salah satu indikator program pengendalian TB secara Nasional strategi DOTS adalah angka keberhasilan pengobatan TB. Fokus utama pengendalian TB strategi DOTS adalah memutus mata rantai penularan TB oleh penderita TB paru sputum BTA positif. Berdasarkan penelitian penderita TB paru sputum BTA negatif dapat menularkan 13-20% (Tostmann A, et al, 2008). BBKPM Bandung sebagai salah satu UPK strategi DOTS pencapaian angka keberhasilan pengobatan masih dibawah target Nasional.Tujuan: mempelajari faktor yang mempengaruhi keberhasilan pengobatan pasien TB paru sputum BTA negatif dan pasien TB paru sputum BTA positif. Faktor yang mempengaruhi keberhasilan pengobatan TB antara lain faktor individu (umur, jenis kelamin, pekerjaan, kepatuhan berobat) dan obat dan penyakit (rejimen, dosis, lama pengobatan, komorbid HIV dan DM). Indikator keberhasilan pengobatan: pemeriksaan ulang sputum BTA menjadi/tetap negatif dan kenaikan berat badan.Desain penelitian: kohort retrospektif.Sampel: data pasien TB Paru yang tercatat di TB 01 tahun 2009-2011dijadikan 2 sub populasi, Pasien TB paru dengan sputum BTA negatif 292 kasus dan pasien TB paru dengan sputum BTA positif 461 kasus.Analisis: multivariabel regresi logistik.Hasil: OR keberhasilan pengobatan pasien TB paru sputum BTA negatif patuh berobat 1,4 dibandingkan tidak patuh (CI : 0,7-3,0) dan pasien TB paru sputum BTA positif patuh berobat 1,1 di bandingkan tidak patuh (CI : 0,6-2,2) setelah dikontrol umur, jenis kelamin dan pekerjaan.Saran: Meningkatkan peran PMO, dan memperhatikan faktor komorbid dalam tatalaksana pengobatan pasien TB paru.


 

Succes rate of TB treatment is an important indicator of the Natinal TB control program.The main focus of TB control program DOTS strategy is to break the chain of TB transmission. Tostmann A, et al (2008) showed that through 13-20% sputum smear negative pulmonary tuberculosis patients can spread TB the bacteria. BBKPM Bandung as one of CGU DOTS strategy has lower treatment succes rate of the national targets.Purpose: To study factors that influence the treatment succes rate of compare with both smear positve and negative pulmonary tuberculosis patients. Those are age, gender, occupation, treatment compliance (factor individu) and regimen, dose, duration of treatment, comorbid HIV and DM (drug and disease). Indicator of treatment succes are the conversion of sputum result examination and the gain weight.Study design: a retrospective cohort study.Samples: the pulmonary TB patient data recorded at TB 01 yeras 2009-2011. The number of TB patients with sputum smear positive are 461 and negative are 292.Analysis: Multivariable logistic regression.Result: OR treatment succes among sputum smear-negative pulmonary TB patients 1,4 (CI: 0,7-3,0) and among sputum smear positive pulmonary Tb patients who adhere to treatment is 1,1 (CI:0,6-2,2) after controlling for age, sex, and occupation.Suggestion: Enhancing the role of the PMO to increase the treatment adherence rate, treat the TB patients with HIV and DM co-infection.

Read More
T-3895
Depok : FKM-UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Afmi Fitriyana; Pembimbing: Tris Eryando; Penguji: Besral, Rahmadewi
T-3964
Depok : FKM-UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sigit Budi Purwatmoko Sukirman; Pembimbing: Sutanto Priyo Hastono; Penguji: Besral
T-1879
Depok : FKM-UI, 2004
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hardini Utami; Pembimbing: Indang Trihandini, Ratna Djuwita; Penguji: Sudijanto Kamso, Sulistyo, Sophia Hermawan
Abstrak:

Salah satu masalah dalam Program Pengendalian TB di Indonesia adalah ketidakpatuhan pasien dalam pengobatan sehingga putus obat dan mengakibatkan gagal konversi dan gagal pengobatan serta risiko menjadi kasus TB kebal obat. Salah satu provinsi dengan angka putus berobat melebihi angka nasional adalah Provinsi Riau, khususnya Kota Pekanbaru, terlebih pada angka putus berobat di Rumah sakit yang telah menerapkan strategi DOTS mencapai 15%. (Surveilens TB nasional, 2011). Angka putus berobat yang tinggi di Rumah sakit disebabkan antara lain oleh jarak yang jauh dari rumah, tidak ada petugas yang melacak pasien putus obat, jejaring yang tidak kuat antara Rumah sakit dan Puskesmas dan petugas TB Kabupaten/Provinsi. Tujuan Penelitian ini adalah melihat hubungan fasilitas pelayanan kesehatan TB DOTS dengan kesintasan kejadian putus berobat TB paru di Kota Pekanbaru. Desain Penelitian ini adalah menggunakan desain kohort retrospektif dengan melihat data surveilens pasien TB kota Pekanbaru yang terdaftar sepanjang tahun 2010 serta analisis yang digunakan adalah analisis survival menggunakan metode Kaplan Meier untuk melihat hubungan antara variabel dependen dan independen dan untuk pemodelan multivariatnya dilakukan dengan Regresi Cox. Sampel penelitian ini adalah 334 pasien yang berobat ke Puskesmas dan 120 pasien yang berobat ke Rumah sakit. Angka putus berobat pasien TB paru kasus baru di Kota Pekanbaru adalah 14,4%, dengan median waktu putus berobat 75 hari dan 73% pasien putus berobat tersebut tidak mengalami konversi atau   sudah putus obat sebelum dievaluasi hasil pengobatan tahap intensifnya. Probabilitas kelangsungan pasien menyelesaikan pengobatannya adalah 62%. Angka putus berobat pasien TB paru kasus baru di Puskesmas sebesar 9% dengan probabilitas kumulatif kesintasan menyelesaikan pengobatannya sebesar 72%, sedangkan angka putus berobat pasien TB paru kasus baru di Rumah sakit sebesar 29%, dengan probabilitas kumulatif kesintasan menyelesaikan pengobatannya sebesar 50%. Pasien TB yang berobat di Fasyankes Rumah sakit memiliki kemungkinan untuk putus berobat sebesar 4.21 kali dibandingkan dengan pasien TB yang berobat di Puskesmas setelah dikontrol oleh variabel ketersediaan tenaga terlatih, dan jarak (Nilai p = 0.000). Untuk mengatasi masalah tersebut, diperlukan jejaring eksternal yang kuat antara Rumah sakit dengan dengan Dinas Kesehatan, laboratorium daerah, Puskesmas dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya untuk meningkatkan keberhasilan pengobatan, serta diharapkan Rumah sakit dapat memberikan pilihan tempat pengobatan kepada pasien pada sesaat setelah diagnosis, di Puskesmas wilayah tempat pasien tinggal atau tetap berobat di Rumah sakit dengan syarat harus patuh pada saat jadwal minum obat maupun harus datang ke RS pada waktu mengambil obat. Kata Kunci: Kesintasan, Putus obat, Rumah sakit, Puskesmas


One of the problems in the TB Control Program in Indonesia is a non-compliance of patients in the treatment of drug withdrawal and thus lead to failed conversions and failed treatment and Multi Drugs Resistance TB. One of the provinces with treatment dropout rate exceeds the national rate is Riau Province, Pekanbaru City in particular, especially in the hospitals that have implemented the DOTS strategy reached 15%. The purpose of this study is to see the relationship of health care facilities with a survival rate of TB patients that have treatment in DOTS Health Facility, in the city of Pekanbaru. The study design was a retrospective cohort design using by looking at the data surveillance of TB patients in Pekanbaru city registered during the year 2010 as well as the analysis used is the analysis of survival using the Kaplan-Meier to see the relationship between the dependent and independent variables for multivariate modeling performed with Cox regression. The research sample was 334 patients who went to health centers and 120 patients who went to the hospital. Treatment drop-out rate of new cases of pulmonary TB patients in the city of Pekanbaru in this study was 14.4%, with median treatment time of 75 days and drop in survival probability of new cases of pulmonary TB patients in the city of Pekanbaru in a complete treatment for 6 months was 87%. Treatment drop-out rate of new cases of pulmonary TB patients at health center by 9% with a median time of default of 120 days and the cumulative probability of survival in the complete treatment period of 6 months by 92%, while the dropout rate for treatment of new cases of pulmonary TB patients in the hospital for 29 % with a median time of 60-day default and the cumulative survival probability of complete treatment within 6 months by 73%. TB patients who seek treatment at hospital have a chance to drop out 4.21 times compared with TB patients who seek treatment at health centers once controlled by the variable availability of trained personnel and the distance (p-value = 0.000). To overcome these problems, it takes a strong external network of hospitals by the district health office, local laboratories, clinics and other health care facilities to improve treatment success, as well as the hospital is expected to provide treatment options to patients in shortly after diagnosis, the health center areas where patients live or stay for treatment at the Hospital but have to comply with the requirements at the time of the schedule to take medication and have come to the hospital at the time of taking the drug. Keyword: Survival, default, hospital, health center

Read More
T-3557
Depok : FKM-UI, 2012
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Supriyanto; PembimbingL: Iwan Ariawan, Artha Prabawa; Penguji: R. Sutiawan, Asep Sunarjat, Teti Widiharti
Abstrak: Abstrak

Pelayanan informasi obat sangat diperlukan karena faktor utama pasien tidak menggunakan obat dengan tepat karena pasien tidak mendapatkan penjelasan yang cukup dari yang memberikan pengobatan atau yang menyerahkan obat. Penggunaan obat yang tidak tepat berakibat tujuan pengobatan tidak tercapai bahkan timbul efek samping yang tidak diinginkan. Akibat lain yang ditimbulkan menjadikan sakit semakin lama/parah. Keterbatasan waktu dan tenaga kesehatan mengakibatkan penyerahan obat juga dilakukan dengan cepat tanpa pemberian informasi obat yang lengkap kepada pasien.

Bertujuan untuk membentuk sebuah sistem pelayanan informasi obat kepada pasien berbasis layanan pesan singkat. Penelitian ini menggunakan pendekatan Sistem Development Life Cycle ( SDLC ), dengan melakukan tahapan analisa, desain dan implementasi sistem.

Sistem pelayanan informasi obat kepada pasien berbasis layanan pesan singkat dirancang sebagai pengembangan Sistem Informasi Kesehatan Puskesmas yang telah ada dengan menambahkan database Formularium Pelayanan informasi Obat. Informasi obat dikirim ke telepon seluler pasien dengan memanfaatkan teknologi informasi komunikasi.


Drug information service is necessary because of the main factors patients not using medications properly because patients do not get adequate ex planation of which provide treatment or who give up drugs. Improper use of the drug resulted in treatment goals are not achieved even arise unwanted side effects. Another result of the pain caused to make a long / severe. Limitations of time and effort resulted in the delivery of health medicine also done quickly witho ut giving a complete drug information to patients.

Aims to create a drug information service system to a patient-based short message service. This study uses approach a Systems Development Life Cycle (SDLC), to perform the analysis stages, design and implementation of the system.

Drug information service system to a patient-based short message service designed as the development of Health Information Systems exist ing Health Center database by adding information Formulary Service Drug. Drug information sent to the mobile phone utilizing the patient with information technology and communications.

Read More
T-3819
Depok : FKM-UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rofiq Firzatullah; Pembimbing: Popy Yuniar; Penguji: Milla Herdayati, Hendri Hartati
Abstrak:
Penyalahgunaan narkoba pada pekerja merupakan masalah kesehatan masyarakat dan kesehatan kerja yang dapat berdampak pada produktivitas, keselamatan, dan kesejahteraan pekerja. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan keikutsertaan pekerja pada program Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN) dengan penyalahgunaan narkoba pada pekerja di Indonesia. Penelitian ini menggunakan desain potong lintang dengan data sekunder Survei Penyalahgunaan Narkoba pada Pekerja Tahun 2017 di Indonesia. Sampel analisis adalah 8.866 pekerja yang memenuhi kriteria variabel peneltian. Analisis dilakukan secara univariat, bivariat, dan multivariat menggunakan regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan 72,5% pekerja mengikuti program P4GN, 7,8% tidak mengikuti, dan 19,7% menyatakan tidak ada program P4GN di tempat kerja. Sebanyak 3,6% pekerja mengalami penyalahgunaan narkoba selama masa kerja. Pada analisis bivariat, keikutsertaan P4GN berhubungan bermakna dengan penyalahgunaan narkoba (p<0,001). Setelah dikontrol jenis kelamin, pekerja yang ikut serta program P4GN memiliki AOR 1,867 (95% CI: 1,292–2,699), sedangkan pekerja yang tidak mengikuti memiliki AOR 2,364 (95% CI: 1,443–3,874) dibandingkan pekerja yang menyatakan tidak ada program. Temuan ini perlu ditafsirkan hati-hati karena kemungkinan reverse causality, karena target program P4GN adalah tempat kerja yang lebih berisiko. Evaluasi P4GN perlu memperhatikan cakupan partisipasi, kualitas kegiatan, konseling, rujukan, dan kerahasiaan layanan.

Drug abuse among workers is a public health and occupational health issue that may affect productivity, safety, and worker well-being. This study aimed to examine the association between workers participation in the Prevention and Eradication of Drug Abuse and Illicit Trafficking Program (P4GN) and drug abuse among workers in Indonesia. This study used a cross-sectional design with secondary data from the 2017 Survey on Drug Abuse among Workers in Indonesia. The analytic sample consisted of 8,866 workers who met the research variable criteria. Data were analyzed using univariate, bivariate, and multivariate logistic regression analyses. The results showed that 72.5% of workers participated in P4GN programs, 7.8% did not participate, and 19.7% reported no P4GN program at their workplace. Drug abuse during employment was found among 3.6% of workers. In bivariate analysis, P4GN participation was significantly associated with drug abuse (p<0.001). After controlling for sex, workers who participated in P4GN had an AOR of 1.867 (95% CI: 1.292–2.699), while those who did not participate had an AOR of 2.364 (95% CI: 1.443–3.874), compared with workers who reported no program. These findings should be interpreted cautiously due to possible reverse causality, as P4GN programs may target higher-risk workplaces. P4GN evaluation should consider participation coverage, program quality, counseling, referral mechanisms, and service confidentiality.
Read More
S-12300
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Olivia Tisya Anne E.A. Sigalingging; Pembimbing: Martya Rahmaniati Makful; Penguji: Meiwita P. Budiharsana, Maria Gayatri
Abstrak: Penelitian ini membahas pengaruh jarak kelahiran terhadap kematian bayi usia 0 sampai 1 tahun dengan tujuan mengetahui gambaran pengaruh jarak kelahiran dengan kematian bayi di Indonesia berdasarkan karakteristik wilayah perdesaan dan perkotaan. Desain studi yang digunakan adalah potong lintang (cross sectional) dengan analisis multivariabel regresi logistik menggunakan data sekunder SDKI 2017. Jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebesar 4871 sampel dengan pembagian wilayah perkotaan 2294 sampel dan wilayah perdesaan 2577 sampel pada populasi WUS sudah menikah dan memiliki >1 anak. Hasil penelitian bivariat menunjukkan jarak kelahiran memiliki risiko terhadap kematian bayi usia 0 sampai 1 tahun di perkotaan saja berdasarkan nilai OR. Variabel lainnya yang menunjukan hubungan terhadap kematian bayi usia 0 sampai 1 tahun berdasarkan P value <0,05 adalah jumlah anak yang dilahirkan, kelengkapan melakukan layanan ANC, dan keinginan ibu memiliki anak lagi. Setelah dilakukan analisis pemodelan terdapat perubahan hasil di kedua wilayah. Di perkotaan, hasil analisis multivariabel yang menunjukan faktor risiko kematian bayi usia 0 sampai 1 tahun berdasarkan AOR>1 adalah jarak kelahiran 5 tahun, usia ibu pertama melahirkan 30 tahun, jumlah anak yang dilahirkan >3, tingkat pendidikan tidak sekolah/SD, ANC tidak lengkap, dan ibu menginginkan anak lagi. Di perdesaan, faktor risikonya adalah jarak kelahiran 5 tahun, usia ibu pertama melahirkan 30 tahun, jumlah anak yang dilahirkan >3, ANC tidak lengkap, ibu menginginkan anak lagi. Faktor risiko dominan terhadap kematian bayi usia 0 sampai 1 tahun di kedua wilayah adalah ibu yang melahirkan >5 anak. Dapat disimpulkan jarak kelahiran memiliki hubungan terhadap kematian bayi usia 0 sampai 1 tahun di wilayah perkotaan, sedangkan di wilayah perdesaan jarak kelahiran menjadi faktor risiko setelah dilakukan analisis pemodelan. Terdapat beberapa kesamaan dan perbedaan faktor risiko kematian bayi usia 0 sampai 1 tahun di kedua wilayah, sehingga faktor risiko bervariasi menurut karakteristik wilayah.
Read More
S-10998
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive