Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 37001 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Asep Nurul Ridwan; Pembimbing: Pandu Riono, Sudijanto Kamso; Penguji: Iriani Samad, Eka Muhiriyah
Abstrak: Penyakit DBD masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Pada tahun 2014 kasus DBD di Indonesia berjangkit di 433 Kota atau Kabupaten dengan angka kesakitan sebesar 39,83 per 100.000, sementara itu jumlah kasus DBD sendiri di Jawa Barat, hingga 28 Januari 2019 tercatat ada 2.204 orang yang terjangkit DBD. Sebanyak 14 orang di antaranya meninggal dunia. Kota Cimahi dan Kabupaten Cianjur merupakan wilayah dengan jumlah kasus DBD tinggi yakni sebanyak 292 kasus dan jumlah kematian sebanyak 2 kasus di Kota Cimahi sementara di Kabupaten Cianjur jumlah kasus 532 kasus dan 2 kasus kematian upaya pengendalian DBD monitoring serta upaya pencegahaan yang dilakukan dengan surveilan DBD belum optimal menekan jumlah kasus DBB di Kota Cimahi dan Kabupaten Cianjur. Maka kemudian perlu dilakukan upaya evaluasi untuk mengetahui dan memberikan solusi perbaikan sistem informasi demam berdarah dengue di Kabupaten Cianjur dan Kota Cimahi pada komponen masukan, proses dan luaran, penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan wawancara, observasi dan telaah dokumen sebagai instrumen penelitiannya dengan jumlah informan sebanyak 12 orang dimana 6 orang berada di wilayah kota Cimahi dan 6 orang informan berada diwilayah kabupaten Cianjur. Hasil penelitian menunjukan bahwa komponen masukan komponen proses dan komponen luaran berbeda antara kota Cimahi dan kabupaten Cianjur serta perbedaan sistem informasi DBD di Kota Cimahi Menggunakan aplikasi sistem informasi Demam berdarah dengue (SI DBD) dan pengiriman laporan melalui surat elektronik sementara di Kabupaten Cianjur Pengumpulan data dan pengolahaan data dilakukan secara manual, dan laporkan dikirimkan melalui pos atau petugas pelaksana program ke dinas kesehatan. Kesimpulan dari penelitian ini 1) Komponen masukan sistem informasi DBD berkaitan dengan masalah kelengkapan dan ketepatan laporan pada luaran ketenagaan memerlukan tenaga terlatih sehingga upaya pelatihan dan kursus singkat diperlukan 2) Permasalah pada komponen proses adalah pengolahaan data selama ini belum dilakukan secara terstruktur dan masih manual walaupun menggunakan komputer sehingga memerlukan waktu relatif lama serta frekuensi pengolahaan yang tidak menentu pada akhirnya data jarang diolah dan di analisa untuk menghasilkan informasi DBD 3) Kondisi pada komponen proses dapat menyebabkan permasalahan pada komponen Luaran yaitu informasi tidak dapat mendukung para pengambil kebijakan dalam pengambilan keputusan 4) Adanya peluang dalam pengembangan Sistem Informasi DBD yaitu, otomatisasi pelaporan sehingga dapat menghasilkan informasi yang cepat, akurat dan relevan sesuai dengan kebutuhan manajemen
Read More
T-5672
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Bayu Taruno Nugroho Putro; Pembimbing: Budi Utomo; Penguji: Indang Trihandini, Tri Krianto
S-6071
Depok : FKM UI, 2010
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Septalina Purba; Pembimbing: Indang Trihandini, Sudijanto Kamso
T-1761
Depok : FKM UI, 2003
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Slamet Hidayat; Pembimbing: Sudijanto Kamso; Penguji: Artha Prabawa, Pandu Riono, Felly Philipus Senewe, Miladi Kurniasari
Abstrak:
Notifikasi penemuan kasus TB di Indonesia mengalami penurunan sebesar 20,5% Pada tahun 2019-2020 dan kenaikan 6,8% pada tahun 2020-2021. tujuan penelitian ini untuk mengetahui evaluasi program TB-HIV pada program penanggulangan Tuberkulosis di Provinsi Jawa Barat Tahun 2022. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif menggunakan data sekunder dari database Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB) dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat. hasil analisis deskriptif diketahui bahwa Proporsi orang dengan TB dengan diagnosis TB Klinis lebih besar 64.44%, dibandingkan orang dengan TB dengan diagnosis TB Bakteriologis lebih sedikit yaitu 35.56%. Proporsi ODHIV yang terdiagnosa TB secara klinis sebanyak 64.33%, sedangkan proporsi ODHIV yang terdiagnosa secara bakteriologis lebih sedikit hanya 35.67%. Proporsi orang dengan TB dengan HIV positif lebih besar pada TB klinis yaitu 67.12%, sedangkan orang dengan TB dengan hasil HIV Positih lebih sedikit pada TB klinis sebanyak 32.88%. Proporsi orang dengan TB dengan HIV positif lebih besar pada TB klinis yaitu 67.12%, sedangkan orang dengan TB dengan hasil HIV Positif lebih sedikit pada TB klinis sebanyak 32.88%. Proporsi orang dengan TB pada laki-laki lebih besar pada diagnosis bakteriologis sebesar 56.88%, sedangkan proporsi laki-laki pada diagnosis klinis 43.12%. Untuk peningkatan program dapat dilakukan dengan memaksimalkan kolaborasi program TB-HIV sehingga semua penderita TB dapat diperiksa HIV agar kasus bisa ditemukan dengan cepat sehingga juga bisa mendapatkan pengobatan lebih awal.

Notifications for finding TB cases in Indonesia have decreased by 20.5% in 2019-2020 and increased by 6.8% in 2020-2021. the purpose of this study was to determine the evaluation of the TB-HIV program in the Tuberculosis control program in West Java Province in 2022. This research is a descriptive study using secondary data from the Tuberculosis Information System (SITB) database from the West Java Provincial Health Office. The results of the descriptive analysis revealed that the proportion of people with TB with a clinical TB diagnosis was 64.44% greater, compared to people with TB with a bacteriological diagnosis of TB which was less, namely 35.56%. The proportion of PLHIV who were clinically diagnosed with TB was 64.33%, while the proportion of PLHIV who were diagnosed bacteriologically was less, only 35.67%. The proportion of people with HIV positive TB was greater in clinical TB, namely 67.12%, while people with TB with HIV positive results were less in clinical TB as much as 32.88%. The proportion of people with HIV positive TB was greater in clinical TB, namely 67.12%, while people with TB with positive HIV results were less in clinical TB as much as 32.88%. The proportion of people with TB in men was greater with a bacteriological diagnosis of 56.88%, while the proportion of men with a clinical diagnosis was 43.12%. Then, the proportion of people with TB in women based on a bacteriological diagnosis was 51.45% and the proportion of women with a clinical diagnosis was 48.55%. Program improvement can be done by maximizing the TB-HIV collaboration program so that all TB sufferers can be tested for HIV so that cases can be found quickly so they can also get treatment earlier.
Read More
T-6794
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Agus Haryanto; Pembimbing: Pandu Riono; Penguji: Poppy Yuniar, Munaryo
Abstrak: Bervariasinya penerapan SIMPUS IHIS dan e-Health di Kabupaten Bantul membuat laporan SP2TP sebagai keluran dari SIMPUS menjadi terhambat. Dalam penerapan SIMPUS IHIS dan e-Health di Kabupaten Bantul terdapat hambatan-hambatan yang perlu diperhatikan dan ditangani dengan baik agar tidak semakin kompleks. Evaluasi SIMPUS di Kabupaten Bantul dengan menggunakan metodeHOT-fit digunakan untuk mengetahui sejauh mana penerapan dan kendala dalam implementasi. Metode penelitian dengan menggunakan pendekatan penelitian campuran yaitu penelitian kualitatif dan penelitian kuantitatif. Pengumpulan datadilakukan dengan wawancara mendalam, kuesioner, observasi pada Puskesmasdan dokumentasi tertulis kegiatan penerapan SIMPUS IHIS dan e-Health. Hasilpenelitian menunjukkan SIMPUS IHIS dan e-Health sudah digunakan seluruhPuskesmas di Kabupaten Bantul. Faktor organisasi memberikan pengaruhterhadap berjalannya sistem, komitmen Kepala Puskesmas tidak dijabarkan dalambentuk operasional teknis seperti pembentukan tim SIK dan tidak dibuatnya SOPdalam penerapan SIMPUS IHIS dan e-Health.
Kata kunci : IHIS, e-Health, Bantul
The variations in the application of SIMPUS IHIS and e-Health in Bantul detainSP2TP reports as the output of SIMPUS. There are obstacles in the application ofSIMPUS IHIS and e-Health in Bantul that need to be considered and dealt with inorder not to become more complex. The evaluation of SIMPUS in Bantul usingHOT-fit method is used to determine the effectiveness of implementation and theconstraints in implementation. The research uses both qualitative research andquantitative research. Data was collected through in-depth interviews,questionnaires, observation and written documentations on the SIMPUS IHIS ande-Health application. The results shows that SIMPUS IHIS and e-Health havebeen used in all Puskesmas in Bantul. Organizational factors impact the run of thesystem, head of the health center's commitment is not described in technicaloperations such as forming SIK team and SIMPUS IHIS and e-Health SOP is notdetermined.
Keywords : IHIS, e-Health, Bantul
Read More
S-8429
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Kartika Sari Wanodya; Pembimbing: Martya Rahmaniati Makful; Penguji: Rico Kurniawan, Fresty Cahya Maulina
Abstrak: Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui secara spasial kejadian diare balita di wilayah Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Barat pada tahun 2019. Data pada penelitian ini menggunakan data sekunder yang bersifat open source dari Dinas Kesehatan Jawa Barat dan BPS Jawa Barat. Penelitian ini menggunakan desain studi ekologi dengan analisis spasial. Persentase diare balita tertinggi berada di Kabupaten Bogor, Kabupaten Sukabumi dan diikuti oleh Kabupaten Garut.
Read More
S-10859
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Chaerul Anwar; Pembimbing: Yuniar, Tri Yunis Miko Wahyono, Victoria Indrawati, Linda Lidya
T-4370
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Alphyyanto Eko Sutrisno; Pembimbing: Martya Rahmaniati; Penguji: Irwan Ariawan, Sudijanto Kamso, Tri Riana Lestari, Vivi Voronika
Abstrak: Pendahuluan Penyakit difteri masih menyebar di Indonesia. Provinsi Jawa Barat memiliki jumlah penduduk terbanyak berada di peringkat kedua di Indonesia. Difteri bersifat menyebar antar wilayah dengan cepat sehingga perlu analisis yang mencakup hubungan antar wilayah. Tujuan Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola sebaran difteri dan faktor-faktor yang mempengaruhi penyebaran difteri dari satu kabupaten/kota ke kabupaten/kota lain di Jawa Barat. Metode Penelitian ini adalah crossectional dengan analisis multivariat menggunakan regresi autokorelasi spasial. Populasi yang digunakan seluruh kabupaten/kota di Provinsi Jawa Barat berjumlah 27 dan menggunakan data bersumber dari BPS tahun 2017 dan Profil Kesehatan tahun 2018. Hasil Sebaran jumlah penemuan kasus difteri yang tinggi di Jawa Barat cenderung berkumpul di wilayah barat dengan nilai indeks Moran 0,2554. Terdapat 7 kabupaten/kota di kuadran 1, terdapat 6 kabupaten/kota di kuadran 2, dan sisanya 15 kabupaten/kota di kuadran 3. Variabel yang berpengaruh adalah Jumlah Tenaga Kesehatan Lingkungan (koefisien = 0,174), Riwayat Balita yang Pernah Diimunisasi DPT (koefisien = -0,559), dan Rumah Tangga yang Memiliki Air Bersih yang Layak (koefisien = -0,300), serta pengaruh dari wilayah disekitarnya (koefisien = 0,362). Pembahasan Jumlah tenaga kesehatan lingkungan dapat menambah pengetahuan dan kemauan masyarakat untuk berobat sehingga akan meningkatkan jumlah penemuan kasus difteri. Imunisasi DPT dapat meningkatkan kekebalan komunitas sehingga mengurangi penyebaran penyakit ke wilayah lainnya. Masih kurangnya partisipasi unuk imunisasi ulang diperlukan peran serta tokoh agama dan tokoh masyarakat. Penyediaan air bersih dapat meningkatkan PHBS untuk mengurangi kontak dengan bakteri difteri. Kedekatan wilayah berpengaruh karena mobilisasi tinggi penyebaran difteri antar wilayah. Kesimpulan Kasus penemuan difteri di Jawa Barat berpola berkumpul (tidak merata). Faktor yang mempengaruhi adalah Jumlah Tenaga Kesehatan Lingkungan, Riwayat alita yang Pernah Diimunisasi DPT, dan Rumah Tangga dengan Air Bersih
Read More
T-5751
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Novi Mesrina Cicionta Br Ginting; Pembimbing: Sudijanto Kamso; Penguji: Dien Anshari, Ulfa Khairina
Abstrak: Tujuan penelitian ini adalah untuk menggambarkan pelaksanaan Sistem Informasi TB (SITB) di wilayah kerja Dinas Kesehatan Kabupaten Karo. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus (case study) menggunakan model kerangka teori HOT Fit dengan pengambilan data melalui wawancara dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengguna SITB di Puskesmas masih belum merasa terampil dalam menggunakan SITB, SITB mengalami error saat sistem digunakan banyak pengguna serta Puskesmas belum memiliki dukungan fasilitas infrastruktur dan sarana prasarana dalam pelaksanaan SITB.
Read More
S-10737
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Anisah Zulfah; Pembimbing: Sudijanto Kamso; Penguji: Kemal N. Siregar, Wulan Meilani
Abstrak: Implementasi e-kesehatan di Indonesia tahun 2013 masih menemui kendala pada komponen kebijakan, infrastruktur, aplikasi, standar, tata kelola, dan pengamanan data (Kemenkes, 2015). Langkah-langkah prioritas yang dilaksanakan untuk penguatan SIK di Indonesia adalah pembenahan sistem informasi non elektronik menjadi SIMPUS/SP2TP/SP3 Sedangkan untuk aliran dan integrasi data dilakukan optimalisasi pelaporan data dari kabupaten/kota melalui aplikasi komunikasi data. (Pusat Data dan Informasi, 2017). Kota Bogor merupakan salah satu kota di Jawa Barat yang melaporkan data kesehatan prioritas bulanan, triwulan, dan tahunan pada tahun 2017 secara lengkap, namun belum tepat waktu. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan kerangka Performance Routine Information System Management (PRISM). Penelitian bertujuan untuk mengetahui faktor input dari segi teknis, organisasi, dan perilaku, mengetahui faktor proses pelaksanaan pelaporan dan umpan balik, serta mengetahui faktor output laporan dari sistem informasi kesehatan. Subyek penelitian adalah koordinator pelaporan/SIK dan penanggung jawab program di Puskesmas.Penelitian menunjukkan kekurangan dalam kinerja sistem informasi kesehatan yakni puskesmas melakukan pencatatan ganda dengan banyak formulir yang tersedia, belum semua puskesmas menerapkan SIMPUS, masih ditemukan puskesmas yang belum memiliki SOP dan alur pelaporan/kegiatan SIK, SIMPUS error dan jaringan yang belum stabil, belum adanya penunjukkan tertulis untuk petugas pelaporan atau tim pelaporan, pengawasan dari manajemen bersifat insidentil, puskesmas belum memiliki rencana pelatihan yang terjadwal, belum ada kesadaran petugas akan pentingnya pelaporan, dan alur pelaporan yang masih terfragmentasi. Hal ini menyebabkan pelaporan yang dikirimkan ke Dinas Kesehatan Kota Bogor mengalami keterlambatan dan menghambat pelaporan/komunikasi data prioritas kesehatan ke Pusdatin Kemenkes RI.

The implementation of e-health in Indonesia in 2013 still faces constraints on policy components, infrastructure, applications, standards, governance and data security (Ministry of Health, 2015). The priority step implemented for strengthening Health Information System (HIS) in Indonesia is the improvement of non-electronic information system to SIMPUS/SP2TP/SP3, improve flow and data integration by optimizing data reporting from districts through data communication application. (Data and Information Center 2017). Bogor city is one of the cities in West Java that report health data monthly, quarterly, and yearly complete in 2017, but not yet timely. This is a qualitative research with Performance Routine Information System Management (PRISM) framework approach. The research aims to know the input factors (technical, organizational and behavioral aspect), to know the process factor of reporting and feedback, and to know the output factor of health information system. The subjects of the study were the reporting coordinator/HIS and the person in charge of the program at Public Health Centre (PHC). The study shows that PHC has double recording and reporting with many forms available, some PHC do not implement SIMPUS, PHC do not have SOP of reporting /HIS, SIMPUS error and unstable network, no statement of reporting officer or reporting team , supervision from management is incidental, PHC do not have a scheduled training plan, there is no awareness of the importance of reporting officers, and fragmented reporting flows. These are causes of reporting submitted to the Bogor City Health Office not timely and inhibit reporting / communication of priority health data to Data and Information Centre of Health Ministry RI .
Read More
S-9805
Depok : FKM UI, 2018
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive