Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 27224 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Purnama Sidebang; Pembimbing: Agustin Kusumayati; Penguji: Budi Haryanto, Miko Hananto, Didi Purnama
Abstrak: Latar belakang: Particulate Matter (PM2,5), merupakan polutan di udara yang berbahaya terhadap kesehatan manusia dengan risiko kematian akan meningkat seiring dengan peningkatan paparan PM2,5. Sektor transportasi merupakan salah satu sumber polusi udara terbesar di perkotaan dan sopir angkutan umum merupakan kelompok yang berisiko senantiasa terpapar polusi udara khususnya PM2,5. PM2,5 telah diketahui dapat menjadi pemicu terjadinya oksidatif stres, yaitu ketidakseimbangan Reactive Oxygen Species (ROS) dan antioksidan (seperti total GSH) dalam tubuh yang dapat merusak jaringan, protein, DNA dan lemak dalam sel dan lebih lanjut berperan dalam terjadinya penyakit pada manusia seperti kanker, asma, penyakit respiratori dan gangguan inflamasi.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pajanan PM2,5 terhadap kadar total glutathione pada sopir angkutan kota Terminal Kampung Melayu.
Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional, dilaksanakan pada bulan Mei tahun 2019 dengan jumlah sampel sebanyak 96 orang sopir dari 9 trayek angkutan kota yang masuk dan berangkat dari Terminal Kampung Melayu. Pengukuran antropometri, konsentrasi PM2,5 di udara dan karakteristik individu dilakukan serta pemeriksaan kadar GSH total pada urin yang dilakukan di Laboratorium menggunakan Glutathione Assay Kit dengan teknik colorimetric menggunakan spektrofotometer.
Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata konsentrasi PM2,5 di seluruh trayek angkutan kota Terminal Kampung Melayu sebesar 90,85 ± 1,83 μg/m³. Dari semua rute mikrolet, rata-rata pajanan PM2,5 lebih tinggi adalah mikrolet trayek M28 sebesar 114,85 μg/m³. Rata-rata total GSH pada urin sopir diketahui sebesar 1,29 ± 0,52 μM. PM2,5 berhubungan signifikan terhadap kadar GSH Total (p value = 0,042), namun pengaruhnya menunjukkan hubungan yang lemah (r = 0,208) dan berkorelasi negatif. Analisis multivariabel menunjukkan PM2,5 berpengaruh terhadap GSH Total sebesar 9,2% (R2 = 0,092) setelah dikontrol dengan IMT sopir, dengan hubungan negatif yang berarti semakin besar konsentrasi PM2,5 maka kadar GSH akan semakin rendah (p value = 0,026). Pengukuran kadar antioksidan sebagai penanda oksidatif stres dapat dilakukan pada sampel urin dengan menggunakan biomarker yang lebih akurat seperti GSH teroksidasi.
Kata kunci: Particulate Matter (PM2,5), Glutathione Total (GSH), Oksidatif stres, Polusi udara, Sopir angkutan umum.

Background: Particulate Matter (PM2,5), is a pollutant in the air that is harmful to human health with the risk of death increasing along with increased PM2,5 exposure. The transportation sector is one of the biggest sources of pollution in urban areas and drivers of public transport are at risk of being exposed to air pollution especially PM2.5. PM2,5 has been known to be a trigger for oxidative stress, namely the imbalance of Reactive Oxygen Species (ROS) and antioxidants (such as total GSH) in the body which can damage to tissues, proteins, DNA and fat in cells and further caused disease in humans such as cancer, asthma, respiratory disease and inflammatory disorders.
Objective: The aims was to study the effect of PM2.5 exposure to total glutathione levels on drivers of Kampung Melayu Terminal transportation.
Method: This study uses a cross-sectional design, carried out in May 2019 with a total sample of 96 people from 9 routes of city transportation entering and departing from Kampung Melayu Terminal. Anthropometric, individual characteristics and measurements of PM2.5 in air were carried out. Examination of urinary total GSH levels carried out in the Laboratory using Glutathione Assay Kit with colorimetric techniques using a spectrophotometer.
Results: The results showed that the average PM2.5 concentration in all Kampung Melayu terminal transportation routes was 90.85 ± 1.83 μg/m³. Of all the microlet routes, the average exposure of PM2,5 is higher is the M28 route mikrolet of 114.85 μg/m³. The average of drivers urinary total GSH is 1.29 ± 0.52 μM. PM2.5 is related significantly to total GSH levels (p value = 0.042), but the effect shows a weak relationship (r = 0.208) and is negatively correlated. Multivariable analysis shows that PM2.5 affects to Total GSH at 9.2% (R2 = 0.092) after being controlled by IMT and smoking habits, with a negative relationship which means the greater the PM2.5 concentration, the Total GSH level will be lower (p value = 0.026). Measuring antioxidant levels as an oxidative marker can be done in urine samples by using more accurate biomarkers such as oxidized GSH.
Keywords: Particulate Matter (PM2,5), Total Glutathione (GSH), Oxidative stress, Air pollution, Public transport driver
Read More
T-5771
Depok : FKM UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Damai Arum Pratiwi; Pembimbing: Budi Haryanto; Penguji: Agustin Kusumayati, Laila Fitria, Miko Hananto, Didi Purnama
Abstrak: Sopir angkutan kota (angkot) di Terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur, menghabiskan waktu berjam-jam di jalan sehingga terpajan particulate matter (PM2,5) dalam konsentrasi yang tinggi sehingga dapat menyebabkan masalah kesehatan bahkan kematian dini melalui mekanisme stres oksidatif. Malondialdehyde (MDA) adalah salah satu produk sampingan dari stres oksidatif yang menjadi biomarker peroksidasi lipid. Dalam tesis ini, peneliti mengukur PM2,5 pada 130 driver saat mereka mengendarai angkot selama satu kali pulang pergi. Kadar MDA diperiksa dari sampel urin, indeks massa tubuh (IMT) diukur dengan berat dan tinggi badan, dan data variabel lainnya (masa kerja, durasi kerja, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, konsumsi vitamin, konsumsi minuman energi, kebiasaan olahraga, dan trayek angkutan) dikumpulkan dengan kuesioner dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pajanan PM2,5 dan IMT secara signifikan berhubungan dengan kadar MDA (p <0,05). Secara keseluruhan, tesis ini menyarankan pengemudi untuk mengontrol berat badannya agar kadar MDA dalam tubuh tidak meningkat serta agar sopir melindungi kesehatan dirinya
Read More
T-5773
Depok : FKM UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tia Prabawati Suhengsi; Pembimbing: R. Budi Haryanto; Penguji: Laila Fitria, Didi Purnama, Zahra
Abstrak: Latar belakang. Pencemaran udara telah menjadi masalah global tahunan sejak beberapa tahun belakangan. Pencemaran udara dapat mengakibatkan berbagai dampak buruk bagi kesehatan. Salah satu komponen zat pencemar udara yang umum ditemukan di kota-kota besar di dunia yaitu PM2,5, polutan yang dapat menyebabkan gangguan fungsi paru. Sumber terbesar dari pencemaran PM2,5 di udara ambien perkotaan berasal dari asap kendaraan bermotor.
Tujuan. Penelitian ini dilakukan untuk mengatahui hubungan antara konsentrasi pajanan PM2,5 dan gangguan fungsi paru pada sopir angkutan kota Terminal Kampung Melayu, Jakata Timur.
Metode. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode observasi dengan desain studi cross-sectional untuk mengetahui hubungan konsentrasi pajanan PM2,5 dan gangguan fungsi paru pada sopir angkutan kota Terminal Kampung Melayu, Jakata Timur. 125 sopir angkutan kota terlibat sebagai subjek pada penelitian ini.
Hasil. Dari 125 sopir yang terlibat, ada 72 sopir angkutan kota yang mengalami gangguan fungsi paru dengan persentase sebesar 57,6%. Konsentrasi rata-rata PM2.5 yaitu 90,99 μg/m3. Nilai P konstan dari uji regresi logistik antara gangguan fungsi paru dengan konsentrasi PM2.5, umur, lama kerja dan riwayat penyakit paru, yaitu 0,039.
Kesimpulan. Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini adalah ditemukan adanya hubungan antara gangguan fungsi paru yang dialami oleh sopir angkutan kota Terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur dengan Konsentrasi PM2.5, setelah setelah dikontrol oleh variabel umur, lama kerja, serta riwayat penyakit paru
Kata kunci: pencemaran udara; PM2,5; gangguan fungsi paru; sopir angkutan kota

Background. Air pollutions has been becoming annual global issue for the past fiew years. Air Pollutions can cause various adverse effects on health. One component of air pollutants which commonly found in major cities in the world is PM2.5, a pollutant that can cause lung function impairments. The biggest source of PM2.5 pollutions in urban air comes from motor vehicle combustion.
Purpose. The aim of this study is to determine the relationship between exposure of PM2.5 and impaired lung function on Public Transportation Drivers of Kampung Melayu Terminal, East Jakarta.
Methods. This study was conducted by the observation method with a cross-sectional study design to determine the relationship between PM2.5 exposure concentration and lung function impairment in the public transportation drivers of Kampung Melayu Terminal, East Jakarta. 125 drivers were involved as subjects in this study.
Results. There were 72 public transportation drivers, of the 125 drivers involved, who experienced lung function impairments (57.6%). The mean PM2.5 concentration was 90.99 μg / m3. The constant P value from the logistic regression test between lung function impairments and PM2.5 concentrations, controlled by age, length of work and a history of lung disease is 0.039.
Conclution. The conclusion from this study is lung function impairments experienced by public transportation drivers of Kampung Melayu Terminal, East Jakarta were associated with PM2.5 concentration, after being controlled by variables of age, length of work, and a history of lung disease.
Keyword: Air Pollutions; PM2.5; lung function; drivers
Read More
T-5782
Depok : FKM UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aqiela Fadia Putri; Pembimbing: Budi Haryanto; Penguji: Budi Hartono, Didi Purnama
Abstrak:
Latar belakang: Polusi udara, khususnya partikulat halus (PM2,5), merupakan salah satu masalah kesehatan lingkungan yang signifikan di wilayah perkotaan padat lalu lintas seperti Kota Depok. PM2,5 memiliki ukuran partikel yang sangat kecil sehingga dapat masuk hingga ke alveoli paru dan menimbulkan berbagai gangguan kesehatan, termasuk gangguan fungsi paru. Sopir angkutan kota menjadi salah satu kelompok yang paling rentan karena sebagian besar waktu kerjanya dihabiskan di area dengan tingkat polusi udara tinggi. Tujuan: Mengetahui hubungan antara pajanan PM2,5 di udara ambien dengan gangguan fungsi paru pada sopir angkutan kota di Terminal Depok, Jawa Barat tahun 2025. Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan jumlah sampel 100 sopir angkutan kota yang dipilih melalui teknik proportionate stratified random sampling. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat, dan multivariat untuk mengetahui hubungan antara pajanan PM2,5 dan gangguan fungsi paru dengan mempertimbangkan faktor kovariat. Hasil: Penelitian menunjukkan bahwa rata-rata konsentrasi PM2,5 adalah 42,19 μg/m³ (SD 10,04 μg/m³), yang melebihi nilai ambang batas yang direkomendasikan WHO. Sebanyak 74% responden mengalami gangguan fungsi paru. Analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara pajanan PM2,5 dan gangguan fungsi paru (p = 0,012). Namun, pada analisis multivariat, setelah dikontrol dengan variabel umur, masa kerja, dan status merokok, hubungan tersebut tidak signifikan (p = 0,642; OR = 1,018; 95% CI: 0,944–1,099). Kesimpulan: Pajanan PM2,5 memiliki hubungan dengan gangguan fungsi paru secara statistik pada analisis bivariat, tetapi tidak setelah dikontrol dengan faktor risiko lainnya. Saran: Penelitian ini menyarankan perlunya upaya pengendalian polusi udara, peningkatan kesadaran sopir akan risiko kesehatan, penyediaan alat pelindung diri, serta perlunya kebijakan pemerintah dalam pengaturan ulang terhadap baku mutu udara ambien nasional.

Background: Air pollution, particularly fine particulate matter (PM2,5), is a significant environmental health issue in urban areas with dense traffic such as Depok. PM2,5 consists of extremely small particles that can reach the alveoli and cause various health problems, including pulmonary function impairment. Public transport drivers are among the most vulnerable groups as they spend most of their working hours in areas with high levels of air pollution. Objective: To determine the relationship between ambient PM2,5 exposure and pulmonary function impairment among public transport drivers at Depok Terminal, West Java in 2025. Methods: This study employed a cross-sectional design with 100 public transport drivers selected using proportionate stratified random sampling. Data were analyzed using univariate, bivariate, and multivariate methods to assess the association between PM2,5 exposure and pulmonary function impairment while controlling for covariates. Results: The study showed that the mean PM2,5 concentration was 42.19 μg/m³ (SD 10.04 μg/m³), exceeding the limit recommended by WHO. A total of 74% of respondents experienced pulmonary function impairment. Bivariate analysis indicated a significant association between PM2,5 exposure and pulmonary function impairment (p = 0.012). However, in multivariate analysis, after adjusting for age, length of employment, and smoking status, the association was not statistically significant (p = 0.642; OR = 1.018; 95% CI: 0.944–1.099). Conclusion: PM2,5 exposure was significantly associated with pulmonary function impairment in the bivariate analysis, but this association was not significant after controlling for other risk factors. Recommendation: This study suggests the need for air pollution control efforts, increased driver awareness of health risks, provision of personal protective equipment, and a review of national ambient air quality standards by the government.
Read More
S-12015
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muhammad Mustaghfiri Asror; Pembimbing: R. Budi Haryanto; Penguji: Zakianis, Ary Susanti
Abstrak: Pada tahun 2017 Kota depok memiliki tingkat hipertensi primer mencapai angka 27,08% pada tahun 2017. Berdasarkan Riskesdas 2018 hasil tersebut mendekati prevalensi hipertensi Nasional yaitu sebesar (31,6%). Faktor risiko hipertensi yang diduga kuat oleh peneliti yaitu perilaku merokok di kalangan sopir hal tersebut mengacu pemeriksaan mengenai tingkat hipertensi yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan tahun 2013 terhadap supir bus, sebanyak 234 dari 314 responden yang diperiksa menderita hipertensi. Penelitian ini memiliki tujuan untuk memberikan gambaran mengenai adanya hubungan antara kadar kotinin urin yang disebabkan oleh perilaku merokok sopir angkot terhadap gejala hipertensi serta variabel lain seperti riwayat hipertensi keluarga, aktivitas fisik, Indeks Masa Tubuh dan konsumsi alkohol menggunakan desain studi crossectional. Sebanyak 84,4% responden memiliki kadar kotinin ≥200 ng/mL, 13 responden (28,9%) mengalami gejala tekanan darah hipertensi. Dalam penelitian ini tidak ditemukan hubungan antara kadar kotinin dengan hipertensi (p value = 0,093). Namun terdapat hubungan antara riwayat hipertensi keluarga (p value = 0,004). Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa mayoritas responden memiliki kadar kotinin yang tinggi akibat dari aktivitas merokok yang tinggi dan penemuan hipertensi juga tinggi
Kata Kunci: Hipertensi, kotinin, rokok, sopir, transportasi, urin

In 2017 Depok had a primary hypertension rate reaching 27.08% in 2017. Based on the Indonesia Basic Health Research 2018 the precentages approached the National Hypertension prevalence that is equal to (31.6%). The risk factor for hypertension that is strongly suspected by researchers is smoking behavior among drivers. It refers to an examination of the level of hypertension conducted by the Ministry of Health in 2013 on bus drivers, 234 of 314 respondents who were examined were suffering from hypertension. This study aims to provide an overview of the relationship between urinary cotinine levels caused by the smoking behavior of public transportation drivers on the symptoms of hypertension and other variables such as family history of hypertension, physical activity, Body Mass Index and alcohol consumption using a cross-sectional study design. As many as 84.4% of respondents had cotinin levels ≥200 ng / mL, 13 respondents (28.9%) experienced symptoms of hypertension. In this study no relationship was found between cotinin levels and hypertension (p value = 0.093). But there is a relationship between family history of hypertension (p value = 0.004). From this study it can be concluded that the majority of respondents have high levels of cotinin as a result of high smoking activity and the discovery of hypertension is also high.
Keywords: Hypertension, cotinine, cigarrette, driver, transportation, uri
Read More
S-10490
Depok : FKM UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dedy Suprianto; Pembimbing: Haryoto Kusnoputranto, Ema Hermawati; Penguji: Budi Hartono, Inswiasri, Budi Pramono
Abstrak: Sejauh ini banyak dilaporkan empat spesies plasmodium yang dapat menginfeksi manusia di Indonesia, keempat plasmodium itu adalah Plasmodium falciparum, Plasmodium vivax, Plasmodium malariae dan Plasmodium ovale. Indonesia dihadapkan pada tantangan perubahan epidemiologi malaria, yaitu dengan dilaporkannya kasus malaria Plasmodiun knowlesi. Di kota Sabang kasus malaria P.knowlesi mengalami peningkatan dari tahun 2017-2018 ditemukan kasus malaria P. knowlesi dengan total sebanyak 57 kasus, hal ini merupakan salah satu bukti bahwa telah terjadi penularan jenis malaria tersebut di Indonesia. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor risiko kasus malaria Plasmodium knowlesi di kota Sabang provinsi Aceh. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kasus kontrol dengan data primer dan sekunder. Analisis data menggunakan analisis univariat, bivariat chi square dan multivariat regresi logistik. Faktor-faktor yang diteliti adalah jarak pemukiman penduduk dengan populasi monyet, adanya genangan air disekitar tempat tinggal, pekerjaan, umur, jenis kelamin, pendidikan, pengetahuan, penggunaan kelambu, pemeliharaan binatang ternak, penggunaan obat anti nyamuk, aktifitas ke dalam hutan, pemasangan kasa ventilasi, kebiasaan keluar rumah pada malam hari. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan faktor risiko jarak pemukiman penduduk dengan keberadaan monyet diperoleh nilai p = 0,001 dan OR sebesar 3,970 (95%CI; 1,749-9,01), adanya genangan air di sekitar rumah menunjukkan adanya hubungan diperoleh nilai p = 0,001 dan OR sebesar 3,684 (95%CI; 1,900-7,145), adanya aktifitas kedalam hutan menunjukkan adanya hubungan diperoleh nilai p = 0,001 dengan nilai OR= 3,636 (95%CI; 1,855-7,128) dan adanya aktifitas dimalam hari menunjukkan adanya hubungan diperoleh nilai p=0,004 dengan OR = 2,663 (95%CI; 1,392-5,095). Kesimpulan faktor yang paling dominan terhadap kasus malaria Plasmodium knowlesi di Kota Sabang adalah aktifitas responden kedalam hutan
Read More
T-5563
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yudi Iskandar; Pembimbing: Haryoto Kusnoputranto; Penguji: Budi Hartono, Umar Fahmi Achmadi, Sonny Priajaya Warouw, Inswiasri
Abstrak: Penyakit infeksi seperti diare dapat menyebar melalui transmisi oral fecal. Menurut WHO, lebih dari 1,4 juta anak di bawah usia lima tahun di seluruh dunia meninggal akibat penyakit diare dapat dicegah dan diperkirakan bahwa 88% dari kasus-kasus ini terkait dengan air yang tidak aman atau sanitasi yang buruk. Di wilayah Asia Tenggara, hampir 48% atau diperkirakan 3.070.000 kematian setiap tahun yang dikaitkan dengan infeksi saluran pernapasan akut dan penyakit diare dengan beban tertinggi penyakit diare di lima negara: Bangladesh, India, Indonesia, Myanmar, dan Nepal dimana penyakit ini menyebabkan 60.000 kematian setiap tahunnya. Tujuan dalam penelitian ini untuk menganalisis pengaruh faktor-faktor sanitasi total berbasis masyarakat (STBM) terhadap kejadian diare pada balita di Kabupaten Tebo Provinsi Jambi Indonesia tahun 2017. Dalam penelitian ini menggunakan analisis cross sectional. Data variabel mengenai sarana pembuangan tinja, jarak sumber air dengan tangki septik, kebiasaan membuang tinja balita, cuci tangan pakai sabun, sumber air minum, pengelolaan air minum, penyimpanan air minum, pengelolaan sampah rumah tangga, pengelolaan limbah cair rumah tangga dan pendidikan ibu dikumpulkan dengan wawancara dan observasi serta dikategorikan dan disaring dengan chi square. Hasil dalam penelitian ini didapat enam variabel dengan nilai p < 0,25 yang masuk kedalam analisis regresi logistik yang menghasilkan 2 variabel yang signifikan dengan nilai p < 0,05 (kebiasaan ibu membuang tinja anak balitanya dan cuci tangan pakai sabun). Uji regresi logistik didapatkan kebiasaan membuang tinja anak (OR) 1,59 dan cuci tangan pakai sabun (OR) 1,48. Studi ini memyimpulkan bahwa kebiasaan ibu membuang tinja anak balitanya secara sembarangan dan aktivitas cuci tangan pakai sabun yang tidak memenuhi syarat mempunyai pengaruh terhadap terjadinya diare
Read More
T-5525
Depok : FKM UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nur Hairunnisa; Pembimbing: Besral, Artha Prabawa; Penguji: Maryata Rahmaniati, Gita Swisari, Nora, Dian Elco
Abstrak: Latar Belakang : Pelayanan kesehatan tradisional yang dilakukan oleh penyehat tradisional di Kota Tangerang cukup banyak. Namun penyehat tradisional yang melakukan pelayanan dan memiliki STPT sedikit sedangkan STPT wajib dimiliki bila melakukan pelayanan kesehatan pada masyarakat. Tujuan : Untuk mengetahui gambaran implementasi kebijakan serta faktor determinan kepemilikan STPT pada penyehat tradisional di Kota Tangerang. Metode : Penelitian ini merupakan penelitian mixed methods menggunakan data primer dengan desain survey. Sampel penelitian yaitu penyehat tradisionalyang berada di 5 puskesmas lokasi fokus Dinas Kesehatan Kota Tangerang. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara kuesioner. Analisis data yang digunakan untuk kuantitatif adalah regresi logistik sedangkan untuk kualitatif adalah interpretasi makna informasi. Hasil dan Kesimpulan : Pada implementasi kebijakan terkait surat terdaftar penyehat tradisional (STPT) di wilayah Kota Tangerang saat ini belum berjalan secara optimal dikarenakan kurangnya sosialisasi. Hasil penelitian ini didapatkan terdapat hubungan antara informasi tentang STPT dan pendidikan terakhir terhadap kepemilikan STPT pada Penyehat tradisional. Saran : Untuk dapat meningkatkan kepemilikan STPT pada penyehat tradisional disarankan untuk melakukan sosialisasi serta monitoring dan evaluasi kebijakan dan syarat-syarat memperoleh STPT yang memudahkan penyehat tradisional memiliki STPT. Hal ini dapat dilakukan oleh Dinas Kesehatan bekerjasama dengan Kementerian Kesehatan serta asosiasi terkait.
Read More
T-5573
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ballada Santi; Pembimbing: Yovsyah, Ratna Djuwita; Penguji: Diah Mulyawati Utari, Iip Syaiful, Sardjono
Abstrak: Anemia didetinisikan sebagai suatu keadaan kadar hemoglobin (Hb) dalam darah lcbih rcndah daripada nilai normal untuk kclompok orang yang bersangkutan. Anemia ibu hamil berdasarkan SKRT tahun |995 sebesar 50,9%; prevalensi anemia ibu hamil di Kabupaten Kuningan tahun 2005 sebesar 62,5 %. Salah satu upaya untuk pencegahan dan penanggulangan anemia ibu hamil dengan pemberian suplemen tablet besi-folat. Selain suplemen tablet besi folat, pemerintah daerah juga menyediakan suplemcn multivitamin mineral. Tujuan penelitian untuk mengetahui perbedaan pengaruh konsumsi supiemen tablet besi-folat dan suplemen multivitamin mineral terhadap kadar hemoglobin pada ibu hamil anemia di Kabupaten Kuningan Tahun 2006.

Penelitian ini menggunakan desain ekspcrimen dengan randomisasi, dilakukan pada ibu hamil anemia dengan umur kehamilan trimester ll (minggu kc 16 sampai minggu ke 24) yang menderita anemia di Wilayah Kabupaten Kuningan Tahun 2006. Jumlah sampel 138 terdiri : 70 diberi suplemen tablet besi folat dan 68 diberi saplemen multivitamin mineral. Data yang dikumpulkan dam primer yang diperoleh melalui wawancara dan pengukuran. Data diuji dengan 1.1851 berpasangan dan Lies! dna mean independent.

Hasil penelitian diperoleh : proporsi anemia pada ibu hamil trimester ll di Kabupaten Kuningan masih cukup tinggi (59,57 %); karakteristik ibu hamil yaitu usia ibu hamil, jamk kehamilan, paritas, latar belakang pendidikan, pekerjaan, asupan makanan, pola konsumsi makanan dan status gizi ibu hamil tidak ada perbedaan yang bermakna pada kedua kelompok pcrlakuan atau dapat dikatakan homogen; terdapat perbedaan yang bermakna kadar Hb sebelum dan setelah perlakuan; terdapat kcccndcrungan pcningkatan :ata-rata kadar Hb lebih tinggi pada ibu hamil yang dibcri suplemen tablet besi folat dibandingkan ibu hamil yang diberi suplemen multivitamin mineral, tidak ada pcrbedaan yang bcmiakna kenaikan kadar Hb antara ibu hamil yang diberi suplemen tablet besi folat dan ibu hamil yang diberi suplemen multivitamin mineral, peningkatan kadar Hb lebih tinggi pada ibu hamil anemia dengan kadar llb awal yang lebih rendah karena kebutuhan tubuh akan besi berpengaruh besar terhadap absorpsi besi.

Disimpulkan terdapat perbedaan yang bemtakna rata-rata kaclar Hb sebelum dan sesudah pcrlakuan pada ibu yang diberi suplemen tablet besi folat dan ibu yang diberi suplemen multivitamin mineral, tidak ada pcrbedaan yang bemtakna kenaikan kadar Hb ibu hamil yang diberi suplemen tablet besi folat dan ibu hamil yang diberi suplemen multivitamin mineral, kecendemngan peningkatan kadar Hb lebih tinggi pada ibu hamil anemia yang diberi suplemen tablet besi folat dibandingkan dengan ibu hamil anemia yang diberi suplemen multivitamin mineral, suplemen tablet besi folat maupun suplemen multivitamin mineral dapat meningkatkan kadar Hb ibu hamil anemia sama baiknya, peningkatan Radar Hb lebih tinggi pada ibu hamil anemia dengan kadat' Hb awal yang lebih rendah karena kebutuhan tubuh akan besi berpengaruh besar terhadap absorpsi besi.

Disarankan penanggulangan ibu hamil anemia dapat dengan pemberian suplemen tablet besi folat maupun suplemen multivitamin mineral tetapi perlu dipertimbangkan efektivitas dari segi finansial, perlu penekanan dalam keteraturan minum suplemen. Pcmilih suplemen multivitamin mineral perlu dipertimbangkan dengan kandungan besi sesuai dengan standar WI-IO (60 mg besi) dan unsur vitamin lain yang berguna untuk meningkatkan kadar Hb ibu hamil serta mengurangi efek, melakukan penyuluhan tentang asupan makanan yang mengandung zat besi.
Read More
T-2746
Depok : FKM UI, 2007
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nindy Audia Nadira; Pembimbing: Evi Martha; Penguji: Hadi Pratomo, Tiara Amelia, Harry Mulya, Yeni Rustina
Abstrak: Perawatan Metode Kanguru (PMK) merupakan salah satu metode perawatan terhadap bayi BBLR yang mulai dikembangkan di Indonesia sejak tahun 90-an. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan PMK, serta untuk mengidentifikasi hal-hal yang mendorong dan menghambat pelaksanaan PMK di rumah oleh Ibu pasca perawatan di RSUD Kota Depok tahun 2019. Penelitian ini merupakan studi kualitatif dengan desain studi kasus. Pengumpulan data dilakukan dengan metode wawancara mendalam, observasi, dan telaah dokumen pada bulan Mei-Juni 2019 terhadap 4 orang Informan Ibu yang melakukan PMK di rumah dan 18 informan kunci. Berdasarkan hasil penelitian, belum keseluruhan Ibu melaksanakan PMK sesuai dengan kategori komponen PMK. Keberhasilan dan kegagalan pelaksanan PMK dipengaruhi oleh tingkat pendidikan, usia, paritas, status pekerjaan, dan dukungan yang diterima Ibu yang melakukan PMK, serta kontrol ulang ke fasilitas pelayanan kesehatan. Disarankan kepada RSUD Kota Depok untuk melakukan edukasi PMK yang tepat sasaran. Selanjutnya, perlu dimaksimalkan peran Kader Kesehatan dan kelompok pendukung dalam pengawasan pelaksanaan PMK di rumah yang berkelanjutan, serta advokasi terkait kebijakan PMK di tingkat kota Depok.
Read More
T-5579
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive