Ditemukan 39481 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Liana Andryana; Pembimbing: L. Meily Kurniawidjaja; Penguji: Indri Hapsari, Milla Tejamaya, Sudi Astono, Fathur Rahman
Abstrak:
Bekerja di ketinggian bagi tim SAR merupakan jenis pekerjaan yang mempunyai resiko bahaya yang tinggi seperti terjatuh, tertimpa benda, tersetrum, kebakaran, dan lain-lain. Akses tali telah diterapkan secara luas dalam setiap pekerjaan di ketinggian, namun penerapanya membutuhkan keterampilan yang baik agar resiko bahaya terjatuh dapat dicegah. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kontribusi faktor predisposisi, faktor pemungkin dan faktor penguat pada perilaku selamat petugas Potensi SAR yang mengikuti pelatihan penyelamatan di ketinggian menggunakan akses tali (rope access). Desain penelitian ini adalah cross-sectional, menggunakan metode penelitian analitik korelatif dengan pendekatan semikuantitatif. Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner, observasi, dan wawancara. Populasi penelitian meliputi seluruh Potensi SAR di daerah Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara yang telah mengikuti pelatihan Rope Acces di Basarnas sebanyak 1500 orang dan sampel diambil dengan teknik acak sebanyak 30 orang. Hasil dari penelitian menunjukan bahwa variabel persepsi dan pelatihan berhubungan dengan perilaku selamat, sedangkan variabel pengetahuan, fasilitas, upaya penyelamatan di ketinggian, dan dukungan tidak berhubungan dengan perilaku selamat. Direkomendasikan antara lain memastikan petugas Potensi SAR memahami posisi tubuh ergonomis, mewajibkan mengikuti pelatihan sebelum melakukan pertolongan di ketinggian, dan menerapkan reward bagi petugas Potensi SAR yang telah mengikuti pelatihan dengan baik
Read More
T-5821
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Nurhayati; Pembimbing: L. Meily Kurniawidjaja; Penguji: Indri Hapsari Susilowati, Mila Tejamaya, Istiati Suraningsih, Dudi Herna Gunadi
Abstrak:
Masih tingginya angka kejadian (30% - 50%) gangguan otot rangka di kalangan pekerjaindustri proses kimia. Studi pendahuluan di PT.X mendapatkan gangguan otot rangka84,9%, berpotensi menurunkan produktivitas pekerja. Salah satu faktor risikonyaadalah perilaku kerja yang tidak ergonomi. Tujuan penelitian ini untuk menganalisisfaktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan perilaku kerja pada pekerjaan angkatangkut di industri proses kimia. Desain penelitian adalah cross sectional denganpendekatan kuantitatif menggunakan kuesioner dan diklarifikasi dengan wawancara danobservasi, sedangkan untuk mengetahui keluhan terkait dengan gangguan otot rangkamenggunakan kuesioner Nordic Body Map. Hasil telitian menunjukkan sebagian besar(87%) pekerja di PT.X berusia 36-50 tahun, semua (100%) berpendidikan cukup (SMA)sebagai tenaga pelaksana dan sebagian besar (60,2%) dengan masa kerja lebih dari 16tahun. Dari distribusi Perilaku kerja didapati 64,4% responden berperilaku kerja tidakergonomi. Faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan perilaku kerja yangsignifikan yaitu sikap sebagai faktor predisposisi, alat bantu angkat angkut sebagaifaktor pemungkin dan pengawasan sebagai faktor pendukung dengan nilai p< 0,05.Kata kunci: Faktor Perilaku, Gangguan Otot Rangka, Industri Proses Kimia.
Read More
T-5220
Depok : FKM UI, 2018
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Cinthya Theresia Tambunan; Pembimbing: Meily Kurniawidjaja; Penguji: Dian Ayubi, Yosephin Sri Sutanti
Abstrak:
The Smoking behavior is one of the biggest public health threats in the world. Wherever, whenever, and anyone can smoke, not exception the police in National Traffic Management Center Police of Republik Indonesia. (NTMC Polri). This research was conducted to find out the relationship of the factors that increase the success of quit smoking of in NTMC Polri. This descriptive study using a cross-sectional study design and are semi-quantitative from 51 police who become the respondents. The results showed that there is a significant relationship between a predisposing, enabling, and reinforcing factors and the success of quit smoking from the police in NTMC Polri. Control and explicit sanctions needs to be enhanced so that the smoke free workplace program in NTMC Polri runs well and can create a favorable environment to quit smoking.
Perilaku merokok merupakan salah satu ancaman terbesar kesehatan masyarakat dunia. Dimanapun, kapanpun, dan siapapun dapat merokok, tak terkecuali polisi di National Traffic Management Center Polisi Republik Indonesia (NTMC Polri). Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan faktor-faktor yang meningkatkan kemungkinan seseorang untuk berhenti merokok dengan keberhasilan berhenti merokok pada polisi di NTMC Polri. Penelitian deskriptif ini menggunakan desain studi cross-sectional dan bersifat semi kuantitatif, pada 51 polisi yang menjadi responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara faktor predisposisi, pemungkin, penguat dan keberhasilan berhenti merokok pada polisi di NTMC Polri. Pengawasan dan sanksi yang tegas perlu ditingkatkan supaya program Kawasan Tanpa Rokok di NTMC Polri berjalan dengan baik serta dapat menciptakan lingkungan yang baik untuk berhenti merokok.
Read More
S-8868
Depok : FKM-UI, 2015
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Raih Zenita Imami; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Hendra, Mayarni
S-8349
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Nadya Nurul Haq; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Indri Hapsari Susilowati, Agus Wuryanto
S-10287
Depok : FKM UI, 2020
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Thias Aulia Ramadhanty; Pembimbing: L. Meily Kurniawidjaja; Penguji: Mila Tejamaya, Agus Wuryanto
Abstrak:
Pemadam kebakaran menerapkan jadwal kerja 1 x 24 jam hal ini memiliki risiko kelelahan pada pekerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran faktor risiko yang berhubungan terjadinya kelelahan pada petugas pemadam kebakaran. Variabel dependen dari penelitian ini adalah tingkat kelelahan pada pekerja pemadam kebakaran. Variabel independen adalah faktor tidak terkait pekerjaan (usia, waktu perjalanan, kuantitas tidur, kualitas tidur, kondisi kesehatan dan status gizi (IMT)) dan faktor terkait pekerjaan (masa kerja, pekerjaan sampingan dan variasi kerja). Sampel dalam penelitian ini adalah 56 petugas pemadam. Pengumpulan data menggunakan kuesioner. Pengukuran tingkat kelelahan menggunakan Subjective Self Rating Test dari IFRC, kualitas tidur diukur dengan kuesioner Pittsburgh Sleep Quality Index. Desain penelitian adalah Cross Sectional, dengan pendekatan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan 85,7% pekerja mengalami kelelahan ringan dan 14,3% kelelahan sedang. Hasil tersebut sejalan dengan jumlah kasus kebakaran selama sebulan terakhir hanya ada 16 kasus sehingga beban kerja pemadam tidak berat. Kelelahan responden berhubungan dengan masa kerja (OR 7.2), kondisi kesehatan (OR = 5.0), kuantitas tidur (OR = 5.8), kualitas tidur (OR = 0.02) dan waktu perjalanan (OR = 0.08). Oleh karena itu, perlu pengendalian faktor risiko yang teridentifikasi berhubungan dengan kelelahan.
Kata kunci: Kelelahan, Faktor Risiko, Pemadam Kebakaran.
Fatigue is a feeling of constant tiredness that can reduce the ability to perform a task in a safe and effective way. Firefighters work in 1x24 hours shift, this increase the risk of fatigue among workers. The aim of this study is to determine the risk factors related to fatigue in firefighters. The dependent variable in this study is the level of fatigue on firefighters. The independent variables in this study are divided into non-work-related factors (age, commuting time, sleep quantity, sleep quality, health condition and Body Mass Index (BMI)) and work-related factors (work period, other job and work variations). The sample of this study are a total of 56 firefighters. The data was collected subjectively using questionnaires. This study used Subjective Self Rating Test by IFRC to determine the level of fatigue and Pittsburgh Sleep Quality Index to determine the sleep quality. This study used Cross Sectional design to determine the relationship between the dependent and independent variable. Methods that used is quantitative (Chi-square) and odd ratio to determine the relationship level of the variables. Result showed 85,7% workers experienced low level of fatigue and 14,3% experienced moderate level of fatigue. Based on these results in line with the number of fire cases during the last month there were only 16 cases so that the workload of firefighters is not heavy. The results showed there is a relationship between workers fatigue and work period (OR= 7.2), health condition (OR = 5.0), sleep quantity (OR = 5.8), sleep quality (OR = 0.02) and commuting time (OR = 0.08). Therefore, control related to risk factors related to fatigue is needed.
Key word: Fatigue, Risk Factor, Firefighters
Read More
Kata kunci: Kelelahan, Faktor Risiko, Pemadam Kebakaran.
Fatigue is a feeling of constant tiredness that can reduce the ability to perform a task in a safe and effective way. Firefighters work in 1x24 hours shift, this increase the risk of fatigue among workers. The aim of this study is to determine the risk factors related to fatigue in firefighters. The dependent variable in this study is the level of fatigue on firefighters. The independent variables in this study are divided into non-work-related factors (age, commuting time, sleep quantity, sleep quality, health condition and Body Mass Index (BMI)) and work-related factors (work period, other job and work variations). The sample of this study are a total of 56 firefighters. The data was collected subjectively using questionnaires. This study used Subjective Self Rating Test by IFRC to determine the level of fatigue and Pittsburgh Sleep Quality Index to determine the sleep quality. This study used Cross Sectional design to determine the relationship between the dependent and independent variable. Methods that used is quantitative (Chi-square) and odd ratio to determine the relationship level of the variables. Result showed 85,7% workers experienced low level of fatigue and 14,3% experienced moderate level of fatigue. Based on these results in line with the number of fire cases during the last month there were only 16 cases so that the workload of firefighters is not heavy. The results showed there is a relationship between workers fatigue and work period (OR= 7.2), health condition (OR = 5.0), sleep quantity (OR = 5.8), sleep quality (OR = 0.02) and commuting time (OR = 0.08). Therefore, control related to risk factors related to fatigue is needed.
Key word: Fatigue, Risk Factor, Firefighters
S-10475
Depok : FKM UI, 2020
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Aji Utomo Putro; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan; Penguji: Indri Hapsari Susilowati, Nendra Gunawan
Abstrak:
Penelitian ini membahas tentang analisis faktor-faktor yang berhubungandengan perilaku tidak selamat pada Pekerja Proyek Ulubelu Unit 3 dan 4,Gheothermal Power Project di PT. X. Kecelakaan kerja secara umum disebabkanoleh dua hal yaitu perilaku kerja tidak aman (unsafe act) dan kondisi kerja yangtidak aman (unsafe condition). Heinrich (1980), memperkirakan 85% kecelakaanadalah hasil kontribusi perilaku kerja yang tidak aman (unsafe act). Berdasarkanhal tersebut, dapat dikatakan bahwa perilaku manusia merupakan unsur yangmemegang peranan penting dalam mengakibatkan suatu kecelakaan.Jenis penelitian ini adalah observasional dengan pendekatan kuantitatifmenggunakan desain penelitian cross sectional, Variabel independen ini meliputifactor personal (Psycological distress, Laziness, Mudah marah, Terburu-buru,pamer, dan Ketidaknyamanan), Faktor Pekerjaan (Jumlah pekerjaan, Timepressure), Faktor Manajemen (Pengawasan, Komitmen manajemen, dan Rewarddan Penalty) dan Faktor Kelompok (Tekanan kelompok). Variabel dependen yangditeliti adalah Perilaku Tidak Selamat. Sampel pada penelitian ini berjumlah 158responden. Analisis bivariat dilakukan dengan uji Chi Square. Berdasarkan hasilpenelitian, diketahui sebanyak 75 orang (47%) memiliki perilaku tidak selamat danselamat 83 orang (53%) yang memiliki perilaku selamat. Faktor-faktor yangterbukti berhubungan dengan perilaku tidak selamat adalah Psycological distress,Laziness, Mudah marah, Terburu-buru, Pamer, Ketidaknyamanan, Jumlahpekerjaan, Time pressure. Sedangkan, daktor-faktor yang terbukti mempengaruhiperilaku tidak selamat adalah Komitmen manajemen, Reward dan Penalty danTekanan Kelompok.Kata kunci: perilaku tidak selamat, proyek konstruksi, gheothermal power project.
This research is about the analysis of related factors to safety behaviour onUlubelu Project Worker Units 3 and 4, Gheothermal Power Project di PT. X.Accidents are generally caused by two things, unsafe work behaviour (unsafe act)and unsafe working conditions (unsafe condition). Heinrich (1980), estimates that85% of accidents are the contribution of unsafe work behaviour (unsafe act). Basedon this research, it can be said that human behaviour is an important element thatrole in causing an accindent.This is the observational-quantitative reasearch with cross sectional designstudies. Independent variables which include on this reaseaarch are personal factors(Psycological distress, Laziness, being angry, in a rush, show off, and beinguncomfortable), Job Factors (Numbers of Jobs and Time Pressure), ManagementFactors (Supervision, Management Commitment, Reward and Penalty), andWorkgroup factors (Group Pressure). Dependen variables which include on thisresearch is Unsafety Behaviour. With 158 respondents of Ulubelu Project Workers,researcher used chi-square for bivariate analysis. The result, 75 workers (47%) haveunsafety behaviour and the other 83 workers (53%) have safety behavior in doingan Geothermal Power Project for Ulubelu. Factors which shown to be related withunsafety behaviour are Psycological distress, Laziness, being angry, in hurry, showoff, being unconfortable, numbers of jobs, Time pressure. And for Managementcommitment, Reward and Penalty, and Group preassure are shown not to be relatedto unsafe behaviour in this research.Keywords: Unsafe Act, Construction Project, Gheothermal Power Project.
Read More
This research is about the analysis of related factors to safety behaviour onUlubelu Project Worker Units 3 and 4, Gheothermal Power Project di PT. X.Accidents are generally caused by two things, unsafe work behaviour (unsafe act)and unsafe working conditions (unsafe condition). Heinrich (1980), estimates that85% of accidents are the contribution of unsafe work behaviour (unsafe act). Basedon this research, it can be said that human behaviour is an important element thatrole in causing an accindent.This is the observational-quantitative reasearch with cross sectional designstudies. Independent variables which include on this reaseaarch are personal factors(Psycological distress, Laziness, being angry, in a rush, show off, and beinguncomfortable), Job Factors (Numbers of Jobs and Time Pressure), ManagementFactors (Supervision, Management Commitment, Reward and Penalty), andWorkgroup factors (Group Pressure). Dependen variables which include on thisresearch is Unsafety Behaviour. With 158 respondents of Ulubelu Project Workers,researcher used chi-square for bivariate analysis. The result, 75 workers (47%) haveunsafety behaviour and the other 83 workers (53%) have safety behavior in doingan Geothermal Power Project for Ulubelu. Factors which shown to be related withunsafety behaviour are Psycological distress, Laziness, being angry, in hurry, showoff, being unconfortable, numbers of jobs, Time pressure. And for Managementcommitment, Reward and Penalty, and Group preassure are shown not to be relatedto unsafe behaviour in this research.Keywords: Unsafe Act, Construction Project, Gheothermal Power Project.
S-9262
Depok : FKM-UI, 2016
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Januardi Putra; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Doni Hikmat Ramdhan, Dicky W. Rahmawan
S-8432
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Syafrijal Fajri; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Doni Hikmat Ramdhan, Abdul Kadir, Ahmad Wildan, Jonter Sitohang
Abstrak:
Read More
Mengemudi bus merupakan salah satu jenis pekerjaan yang mempunyai risiko tinggi terhadap kecelakaan lalu lintas. Seorang pengemudi harus selalu mengharapkan sesuatu yang tidak diharapkan, sehingga akan selalu waspada dan sadar serta berhati-hati dalam bertingkah laku saat mengemudikan kendaraan. Safety driving merupakan dasar perilaku mengemudi yang lebih memperhatikan keselamatan khususnya bagi pengemudi itu sendiri dan orang disekitarnya. Safety driving didesain untuk meningkatkan kesadaran pengemudi terhadap segala kemungkinan yang tejadi selama mengemudi. Pentingnya safety driving pada saat berkendara merupakan salah satu pilar dalam mewujudkan keamaan dan keselamatan berlalu lintas dan sangat berpeluang untuk mengurangi kecelakaan yang terjadi. Desain penelitian pada penelitian ini adalah cross sectional. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor yang berhubungan dengan perilaku berkendara selamat dengan pendekatan kuantitatif. Sampel pada penelitian ini berjumlah 308 pengemudi bus di PT XYZ. Adapun metode pengambilan data dilakukan dengan melakukan pengisian kuesioner kepada responden. Selanjutnya data yang didapatkan diolah secara deskriptif dan inferensial menggunakan software statistik untuk melihat gambaran dan hubungan dari setiap variabel. Variabel independen pada penelitian ini adalah usia, masa kerja, status kebugaran, komunikasi dengan atasan, komunikasi dengan rekan kerja, kondisi jalan, kondisi kendaraan, waktu kerja pengemudi, jarak tempuh, SOP, kebijakan, pengawasan, kompensasi, status kepegawaian, training improvement, dan pemberian reward & punishment. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara status kebugaran (POR=6.203 (3.649 – 10.547)), komunikasi dengan atasan (POR=4.025 (2.500–6.478)), kondisi kendaraan (POR=2.602 (1.622-4.173)), waktu kerja pengemudi (POR=2.287 (1.447-3.614)), jarak tempuh (POR=1.904 (1.209-2.998)), SOP (POR=1.850 (1.175-2.913)), kebijakan (POR=1.860 (1.182-2.925)), pengawasan (POR=1.904 (1.209-2.998)), kompensasi (POR=2.570 (1.622-4.072)), training improvement (POR=8.069 (4.790-13.593)), dan pemberian reward & punishment (POR=2.199 (1.384-3.493)) dengan perilaku berkendara selamat. Sedangkan variabel usia, masa kerja, komunikasi dengan rekan kerja, kondisi jalan, dan status kepegawaian tidak menunjukan adanya hubungan dengan perilaku berkendara selamat. Status kebugaran menjadi faktor dominan yang mempengaruhi perilaku berkendara selamat pada pengemudi bus di PT. XYZ.
Driving a bus is one of the types of jobs that carries a high risk of traffic accidents. A driver must always expect the unexpected, so they remain vigilant, aware, and cautious in their behavior while driving. Safety driving is a driving behavior foundation that focuses on safety, especially for the driver themselves and those around them. Safety driving is designed to raise driver awareness of all potential events that may occur during driving. The importance of safety driving while driving is one of the pillars in achieving road safety and can significantly reduce the occurrence of accidents. The design of this research is cross-sectional. The aim of this study is to analyze factors associated with safe driving behavior using a quantitative approach. The sample in this study consisted of 308 bus drivers at PT XYZ. Data collection was done by administering questionnaires to the respondents. The data obtained were processed descriptively and inferentially using statistical software to examine the relationships and patterns of each variable. The independent variables in this study include age, years of service, health status, communication with superiors, communication with coworkers, road conditions, vehicle conditions, driving duration, travel distance, SOP, policies, supervision, compensation, employment status, training improvement, and reward & punishment. The results showed a significant relationship between health status (POR = 6.203 (3.649 – 10.547)), communication with superiors (POR = 4.025 (2.500 – 6.478)), vehicle conditions (POR = 2.602 (1.622 – 4.173)), driving duration (POR = 2.287 (1.447 – 3.614)), travel distance (POR = 1.904 (1.209 – 2.998)), SOP (POR = 1.850 (1.175 – 2.913)), policies (POR = 1.860 (1.182 – 2.925)), supervision (POR = 1.904 (1.209 – 2.998)), compensation (POR = 2.570 (1.622 – 4.072)), training improvement (POR = 8.069 (4.790 – 13.593)), and reward & punishment (POR = 2.199 (1.384 – 3.493)) with safe driving behavior. On the other hand, the variables of age, years of service, communication with coworkers, road conditions, and employment status did not show any relationship with safe driving behavior. Health status is a dominant factor that influences safe driving behavior of bus drivers at PT. XYZ.
T-7225
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Hesti Utami Dewi; Pembimbing: Hendra; Penguji: Dadan Erwandi, Yuni Kusminanti
S-4685
Depok : FKM UI, 2006
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
