Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 39042 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Hira Fitriani Aisyah; Pembimbing: Rita Damayanti; Penguji: Sandra Fikawati, Erma Sarwati
Abstrak: Latar Belakang. Stunting adalah deficit pertumbuhan pada anak yang bisa diperkecil dengan melakukan usaha intervensi pada lingkungannya sebelum usia anak melebihi dua tahun, jika melebihi usia tersebut kegagalan pertumbuhan linier tidak bisa diubah. Konsekuensi dari kejadian stunting adalah kematian, rendahnya kemampuan kognitif, rendahnya tinggi badan saat dewasa, meningkatkan resiko penyakit kronis, menurunkan kesehatan reproduksi, menurunkan produktivitas kerja. Pola asuh merupakan faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak berusia di bawah lima tahun. Perilaku ibu dalam mengasuh balitanya memiliki kaitan yang erat dengan kejadian stunting pada balita. Salah satu penyebab ibu tidak dapat mengasuh balitanya dengan baik adalah ketika ibu memiliki pekerjaan, dan meningkatnya peran sosial ekonomi wanita pada saat ini. Wilayah Jakarta Timur menduduki posisi lokai fokus stunting, salah satunya di Kelurahan Tengah. Diketahui sebagian besar pekerjaan ibu di Kelurahan Tengah sebagai pengupas bawang. Berdasarkan operasi timbang dan pengolahan data pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti pada Februari 2019 di wilayah kerja Puskesmas Kelurahan Tengah, Kecamatan Kramat Jati, diketahui prevalensi stunting pada enam posyandu di dua RW terpilih mencapai angka 25,9%. Tujuan. Mengetahui Perbandingan Pola Asuh Ibu Pekerja Pengupas Bawang Dengan Balita Stunting Dan Tidak Stunting Di Kelurahan Tengah, Kecamatan Kramat Jati Tahun 2020. Metode. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus dengan teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam secara daring. Penelitian di lakukan di wilayah kerja Puskesmas Kelurahan Tengah, Kecamatan Kramat Jati. Sampel dipilih secara purposive sampling sesuai kriteria inklusi dan eksklusi dengan informan utama yang memiliki balita stunting dan tidak stunting usia 24-59 bulan, informan keluarga dan informan kunci terdiri dari, Tenaga Pelaksana Gizi Puskesmas Tengah dan kader posyandu. Hasil. Hasil penelitian terhadap informan utama dengan balita stunting menunjukkan bahwa sebagian besar ibu berpendidikan rendah, memiliki suami dengan pekerjaan nonformal, tidak memberikan ASI Eksklusif kepada anaknya, memberikan makan dengan frekuensi yang kurang, variasi makanan tidak beragam karena anak banyak diberikan jajanan, dukungan psikososial yang rendah serta rendahnya partisipasi ke posyandu. Kesimpulan. Terdapat perbedaan antara pola asuh ibu pekerja pengupas bawang dengan balita stunting dan ibu pekerja pengupas bawang dengan balita tidak stunting. Kata kunci: Pola asuh ibu, stunting, balita
Read More
S-10350
Depok : FKM-UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Terania Alfarisa; Pembimbing: Caroline Endah Wuryaningsih; Penguji: Evi Martha, Triani Posma Rohana
Abstrak:

Latar Belakang. Wilayah Depok menduduki posisi lokasi fokus stunting, salah satunya di Kelurahan Sawangan. Berdasarkan pengolahan data awal, diketahui prevalensi stunting meningkat dari 6,29% menjadi 7,29% dan menduduki peringkat ke-2 se kota Depok.
Tujuan. Mengetahui Gambaran Pola Asuh Ibu balita stunting (0-59 bulan) di Wilayah kerja UPTD Puskesmas Sawangan Depok Tahun 2024.
Metode. Penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus melalui wawancara mendalam secara tatap muka dan observasi. Sampel dipilih secara purposive sampling sesuai kriteria inklusi dan eksklusi dengan 6 informan utama yang memiliki balita stunting 0-59 bulan, informan keluarga, serta informan kunci terdiri dari, Tenaga Pelaksana Gizi, Bidan, Ketua kader dan kader posyandu.
Hasil. Hasil penelitian terhadap informan utama dengan balita stunting menunjukkan bahwa sebagian besar ibu tidak memberikan ASI Eksklusif kepada anaknya, memberikan makan dengan frekuensi yang kurang, variasi makanan tidak beragam karena anak banyak diberikan camilan. Selain itu, ibu dengan anak stunting juga mendapatkan dukungan psikososial yang rendah serta rendahnya partisipasi ke Posyandu.
Kesimpulan. Terdapat faktor pola asuh yang mempengaruhi naiknya prevalesi stunting di wilayah Puskesmas Sawangan .


Background. The Depok area occupies a stunting focus location, one of which is Sawangan Village. Based on preliminary data collection, it is known that the prevalence of stunting has increased from 6.29% to 7.29% and is ranked 2nd in Depok City. Objective. Find out the description of parenting patterns for mothers of stunted toddlers (0-59 months) in the UPTD work area of the Sawangan Community Health Center, Depok in 2024. Method. Qualitative research with a case study approach through in-depth face-to-face interviews and observations. The sample was selected using purposive sampling according to the inclusion and exclusion criteria with 6 main informants who had stunted toddlers aged 0-59 months, family informants, and key informants consisting of nutrition workers, midwives, cadre heads and posyandu cadres. Results. The results of research on key informants with stunted toddlers show that the majority of mothers do not give exclusive breast milk to their children, provide food with less frequency, the variety of food is not diverse because the children are given lots of snacks. Apart from that, mothers with stunted children also receive low psychosocial support and low participation in Posyandu. Conclusion. There are parenting style factors that influence the increase in stunting prevalence in the Sawangan Community Health Center area.

Read More
S-11808
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Lia Permata Br Karo; Pembimbing: Caroline Endah Wuryaningsih; Penguji: Evi Martha, Nesya Rivka Qurrotun Aini
Abstrak:
Stunting sering kali dikaitkan dengan ketidakmampuan daya beli karena kondisi ekonomi yang kurang mampu. Namun menurut data yang ditemukan oleh peneliti, sebesar 46 balita dari 50 balita yang mengalami stunting di Kelurahan Depok Jaya berasal dari keluarga dengan tingkat ekonomi menengah ke atas. Tujuan penelitian yakni mengetahui gambaran pola asuh ibu berstatus ekonomi menengah ke atas pada balita stunting di Puskesmas Depok Jaya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data wawancara mendalam kepada informan utama, yakni 10 ibu balita, informan kunci yakni TPG, bidan, ketua kader dan kader, informan keluarga yakni 10 pengasuh/keluarga terdekat ibu balita. Pengambilan data secara luring. Hasil penelitian yaitu beberapa tidak IMD dan ASI eksklusif 6 bulan. Beberapa memberikan MPASI pertama kepada anak dalam bentuk bubur instan pabrikan, frekuensi pemberian sumber protein hewani hanya sebanyak 1-2 kali seminggu dengan porsi yang tidak sesuai dengan anjuran WHO, belum memperkenalkan karbohidrat atau protein hewani pada balita saat pertama kali MPASI, anak tidak menyukai sayuran berwarna hijau, dan jadwal pemberian MPASI yang tidak teratur setiap harinya. Beberapa balita diberikan cemilan tanpa mempertimbangkan kandungan nutrisi dan bahaya gula. Beberapa kondisi yang mengalihkan perhatian anak saat makan adalah ajakan main dari kakaknya atau diajak main oleh anak tetangga secara tiba-tiba, suara gawai, dan kedatangan tamu atau kehadiran orang asing. Beberapa tidak mengukur berat dan tinggi badan anak ke posyandu saat masa pandemi Covid-19, hingga dengan sengaja tidak datang ke posyandu secara rutin karena malas dan denial dengan kondisi anaknya yang dinyatakan stunting. Beberapa jarang berinteraksi dengan anak karena sibuk bekerja dan merawat anaknya paling kecil, jarang membawa anak main dan bersosialisasi keluar rumah, dan jarang membelikan mainan. Saran yaitu puskesmas dapat membuat sasaran promosi yang difokuskan kepada keluarga terdekat ibu balita agar dapat berperan aktif dalam mendukung pemberian makan dan pemeliharaan kesehatan balita, meningkatkan pengetahuan kader posyandu dengan recall info stunting untuk mencegah pemberian informasi yang kurang tepat pada ibu balita saat kegiatan posyandu selanjutnya, merancang penyuluhan rutin stunting pada ibu balita tanpa memandang status kesehatan balita.


Stunting is often associated with a lack of purchasing power due to poor economic conditions. However, according to data found by researchers, 46 of the 50 toddlers who experienced stunting in Depok Jaya Village came from families with a middle to upper economic level. The aim of the research is to find out the description of the parenting patterns of mothers with middle to upper economic status for stunted toddlers at the Depok Jaya Community Health Center. This research uses a qualitative approach. Data collection techniques were in-depth interviews with main informants, namely 10 mothers of toddlers, key informants namely TPG, midwives, cadre heads and cadres, family informants namely 10 caregivers/closest family of mothers of toddlers. Offline data collection. The results of the study were that some did not have IMD and exclusive breastfeeding for 6 months. Some give their first MPASI to children in the form of manufactured instant porridge, the frequency of giving animal protein sources is only 1-2 times a week with portions that are not in accordance with WHO recommendations, they have not introduced carbohydrates or animal protein to toddlers when they first give MPASI, children do not like vegetables green, and an irregular MPASI feeding schedule every day. Some toddlers are given snacks without considering the nutritional content and dangers of sugar. Some conditions that divert a child's attention while eating are an invitation to play from an older sibling or a neighbor's child suddenly inviting him to play, the sound of a device, and the arrival of guests or the presence of strangers. Some did not measure their children's weight and height at the posyandu during the Covid-19 pandemic, and deliberately did not come to the posyandu regularly because they were lazy and in denial about their child's condition being declared stunted. Some rarely interact with their children because they are busy working and looking after their youngest children, rarely take their children to play and socialize outside the house, and rarely buy them toys. Suggestions are that community health centers can create promotional targets that are focused on the closest families of mothers of toddlers so that they can play an active role in supporting the feeding and health care of toddlers, increase the knowledge of posyandu cadres by recalling stunting information to prevent providing inappropriate information to mothers of toddlers at the next posyandu, design routine stunting education for mothers of toddlers regardless of the toddler's health status.
Read More
S-11499
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
F. Detiniaty; Pembimbuing: Caroline Endah Wuryaningsih; Penguji: Ella Nurlaela Hadi, Mieke Savitri, Rufina Bonur Tamayati Pardosi, Ni Gusti Ayu Ketut Dewi Pramoni
Abstrak:

ABSTRAK Nama :    F. Detiniaty Program Studi :    Ilmu Kesehatan Masyarakat Judul :   Perilaku Ibu dalam Pemberian Makan Bayi dan Anak Stunting Usia 0-23 Bulan (Studi Kualitatif di Kecamatan Lape, Kabupaten Sumbawa Tahun 2017) Perilaku ibu dalam Pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA) pada periode kritis (usia 0-23 bulan) sangat penting untuk mencegah kondisi stunting pada bayi/anak. Penelitian ini bertujuan mengetahui perilaku ibu dalam pemberian makan bayi dan anak stunting usia 0-23 bulan di Kecamatan Lape, Kabupaten Sumbawa, tahun 2017. Pendekatan Kualitatif menggunakan desain Rapid Assessment Procedure dengan metode pengumpulan data diskusi kelompok terarah, wawancara mendalam, dan observasi terhadap informan ibu yang sudah dan belum mendapatkan konseling/penyuluhan PMBA. Pengetahuan dan sikap ibu yang positif terhadap informasi terkait PMBA yang diperoleh dari konseling/penyuluhan tidak menjamin terlaksananya perilaku pemberian makan bayi dan anak dengan benar. Adanya faktor dukungan keluarga, tradisi yang tidak mendukung, akses dan pemanfaatan pangan serta praktik pemberian informasi melalui penyuluhan menjadi salah satu yang menghambat kegiatan PMBA. Perilaku ibu dalam pemberian makan bayi dan anak stunting usia 0-23 bulan di Kecamatan Lape belum optimal. Perlu adanya evaluasi pelaksanaan kegiatan konseling PMBA di lapangan. Kata kunci : stunting, perilaku ibu, pemberian makan bayi dan anak (PMBA)


ABSTRACT Name : F. Detiniaty Study Program : Public Health Science Title : Mother's Behavior in Infants and Young Child Feeding Stunting Age 0-23 Months (Qualitative Study in Lape Sub-district, Sumbawa Regency in 2017) Mother’s behavior in Infant and Young Child Feeding (IYCF) in critical periods (ages 0-23 months) is very important to prevent stunting conditions in infants/children. This study aims to determine the behavior of mothers in feeding infant and stunting children aged 0-23 months in Lape Sub-district, Sumbawa Regency in 2017. Qualitative approach using Rapid Assessment Procedure design with data collection methods of focus group discussion, indepth interviews, and observation of mother’s informants who had had and have not received IYCF counseling/education. Knowledge and a positive attitude towards mother IYCF related information obtained from counseling/education does not guarantee the implementation of feeding infants and children properly. The existence of family support factors, unsupported tradition, access and utilization of foods and the practice of providing information through counseling to be one that inhibits IYCF activities. Mother’s behavior in feeding infant and stunting children 0-23 months in Lape Sub-District is not optimal. It is necessary to evaluate the implementation of IYCF counseling activities in the field. Keywords: stunting, maternal behavior, infant and young child feeding (IYCF)

Read More
T-5040
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Embun Ferdina Enjaini; Pembimbing: Rita Damayanti; Penguji: Evi Martha, Sandra Fikawati, Kodrat Pramudho, Mellisa Chew
Abstrak: Stunting (pendek) merupakan masalah gizi kronis pada balita yang ditandai dengan tinggi badan yang lebih pendek dibandingkan dengan anak seusianya. Kecamatan Tanjung Agung Palik memiliki persentase stunting tertinggi (47,48%), Desa yang menjadi lokasi penelitian adalah Desa Sengkuang dan Desa Sawang Lebar, kedua desa tersebut merupakan desa yang paling tinggi kejadian stunting. Tujuan Penelitian ini untuk menganalisis sosial budaya suku Rejang terkait dengan stunting. Metode penelitian ini menggunakan kualitatif Rapid Ethnografi. Informan utama dalam penelitian ini adalah 4 ibu yang memiliki anak balita stunting dengan ekonomi rendah, 4 ibu yang memiliki balita stunting dengan ekonomi menengah dan 4 ibu yang memiliki anak balita normal dengan ekonomi rendah, yang tinggal di suku Rejang Kecamatan Tanjung Agung Palik yang dipilih dengan metode purposive sampling yang datanya sudah diketahui dari sistem e- PPGBM Puskesmas berdasarkan pengukuran antropometri. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dan observasi partisipasi yang dilaksanakan pada bulan April-Juni 2019 di Kecamatan Tanjung Agung Palik. Hasil penelitian menunjukan bahwa penyebab stunting pada masyarakat suku Rejang disebabkan oleh 1) Lingkungan dan Sanitasi yang buruk, 2) Masih belum melakukan ASI eksklusif, 3) Pemberian MP-ASI dini balita, 4) Pola pemberian makanan yang masih rendah, 5) Pengetahuan masyarakat yang masih rendah, 6) Masih adanya kepercayaan tentang pantang makan pada ibu hamil dan balita. Disarankan agar ada upaya penurunan kepercayaan pantang makan ibu hamil dan anak balita, pengetahuan lingkungan dan sanitasi, mengurangi pemberian makanan prelakteal pada bayi baru lahir, pola pemberian makan dan cakupan pemberian MP-ASI dini melalui penyuluhan rutin dengan melibatkan orang tua balita dan bermitra dengan dukun untuk memberikan edukasi akan pentingnya kesadaran ibu terkait gizi
Read More
T-5720
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Essi Guspaneza; Pembimbing: Evi Martha; Penguji: Tri Krianto, Diah Mulyawati Utari, Andri Mursita, Victory Syafutra
Abstrak:
Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak berusia di bawah lima tahun (balita) akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang terutama pada periode 1000 Hari Pertama kehidupan (HPK). Kabupaten Kerinci memiliki persentase stunting tertinggi kedua di Provinsi Jambi tahun 2019 sebesar 42,4%, sedangkan angka kejadian stunting tertinggi di Kabupaten Kerinci terdapat di Kecamatan Siulak Mukai sebesar 44,32%, desa yang menjadi lokasi penelitian yaitu Desa Tebing Tinggi dan Desa Siulak Mukai, penetian dilaksanakan pada bulan Mei-Juni 2020. Tujuan Penelitian untuk menganalisis bagaimana peranan aspek budaya dan unsur budaya terhadap kejadian stunting pada baduta di Suku Kerinci, Jambi. Metode Penelitian ini menggunaka kualitatif pendekatan phenomenology. Informan utama dalam penelitian ini yaitu 5 orang ibu yang memiliki baduta stunting berpendidikan rendah dan 5 orang ibu yang memiliki baduta stunting berpendidikan tinggi serta 10 orang ibu yang memiliki batita tidak stunting berpendidikan tinggi. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam dan telaah dokumen. Hasil Penelitian diketahui adanya tradisi/kebiasaan yang berdampak buruk, adanya perilaku fatalistis, adanya nilai/norma dalam hal kepercayaan yang berdampak buruk, adanya pengetahuan yang kurang dan tidak mendapatkan dukungan keluarga dalam hal pemberian ASI Ekslusif, pemberian MP-ASI, perilaku hygiene dan sanitasi serta pemanfaatan pelayanan kesehatan dalam kejadian stunting. Saran agar dilakukan penyuluhan dan sosialisasi secara rutin kepada masyarakat dan bermitra dengan tokoh masyarakat serta dukun untuk memberikan edukasi tentang stunting, ASI ekslusif, pemberian MP-ASI yang bervariasi, perilaku hygiene dan sanitasi serta pentingnya pemanfaatan pelayanan kesehatan seperti posyandu.

Stunting is a condition of failure to thrive in children under five years old (toddlers) due to chronic malnutrition and recurrent infections, especially in the period of the First 1000 Days of life (HPK). Kerinci Regency has the second highest stunting percentage in Jambi Province in 2019 at 42.4%, while the highest stunting incidence rate in Kerinci Regency is in Siulak Mukai Subdistrict at 44.32%, the villages that are the study sites are Tebing Tinggi Village and Siulak Mukai Village in May-June 2020. The purpose of this study was to analyze how the role of cultural aspects and cultural elements in the occurrence of stunting in Baduta in the Kerinci tribe, Jambi. This research was  qualitative with phenomenology approach. The main informants in this study were 5 mothers who had poorly educated stunts and 5 mothers who had high-educated stunts and 10 mothers with high educated stunted toddlers. Data collection was carried out by in-depth interviews and document review. The results of the study revealed the existence of traditions / habits that have a negative impact, the existence of fatalistic behavior, the existence of values ​​/ norms in terms of beliefs that have a negative impact, the lack of knowledge and not get family support in terms of exclusive breastfeeding, complementary feeding, hygiene and sanitation behavior and utilization of health services in the event of stunting. Suggestions for regular outreach and outreach to the community and in partnership with community leaders and traditional healers to provide education about stunting, exclusive breastfeeding, provision of varied MP-ASI, hygiene and sanitation behavior and the importance of utilizing health services such as integrated health center.

Read More
T-5838
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Heryanto; Pembimbing: Evi Martha; Penguji: Asih Setiarini, Dian Ayubi, Lina Marlina, Daning Pujiarti
Abstrak:
Berdasarkan hasil survei pemantauan status gizi (PSG) tahun 2018, sebanyak 26,64% balita di Kabupaten Lampung Utara mengalami stunting. Pada tahun 2020 Kabupaten Lampung Utara ditetapkan sebagai salah satu kabupaten lokasi fokus stunting. Tekait dengan implementasi intervensi penurunan stunting pada level masyarakat diketahui bahwa belum semua desa sudah membentuk kader pembangunan manusia (KPM) termasuk desa-desa yang ada diwilayah kerja Puskesmas Kotabumi II. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi pengetahuan, sikap, motivasi dan perilaku kader posyandu tentang stunting dan pencegahannya sebagai dasar penyususnan draf dokumen advokasi kebijakan peningkatan peran kader. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan desain rapid assessment procedure. Informan dalam penelitian ini adalah kader posyandu berjumlah 6 orang, dengan informan kunci berjumlah 7 orang yaitu bidan desa 5 orang, petugas gizi 1 orang dan kepala puskesmas 1 orang. Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara mendalam melalui telepon selluler,menggunakan pedoman wawancara. Hasil penelitian ini ,menunjukan bahwa pengetahuan kader posyandu tentang stunting dan pencegahannya sebagian besar dalam katagori sedang, semua kader memiliki sikap postif tentang stunting dan pencegahannya, semua kader memilki motivasi yang tinggi, dan sebagian desa perilaku kader tentang deteksi dini stunting dan pencegahannya masih kurang. Berdasarkan hasil identifikasi tersebut maka dapat disusun dokumen advokasi kebijakan berupa policy brief dengan rekomendasi antara lain: perlu meningkatkan kapasitas kader posyandu, dan perlu membentuk kader pembangunan manusia (KPM) sebagai tenaga yang dapat membantu dalam menanggulangi masalah stunting di desa dengan cara meningkatkan peran kader posyandu. Mengingat Kabupaten Lampung Utara merupakan salah satu kabupaten lokasi khusus stunting, maka hendaknya ada kebijakan pencegahan stunting terintegrasi pada level masyarakat dengan menjadikan kegiatan stunting menjadi program prioritas di anggaran dana desa dan membentuk kader pembangunan manusia (KPM) dengan merekrut tenaga kader posyandu
Based on the results of a nutritional status monitoring survey (PSG) in 2018, as many as 26.64% of children under five in North Lampung Regency were stunted. In 2020 North Lampung Regency was established as one of the stunting focus districts. Regarding the implementation of stunting dropping interventions at the community level, it is known that not all villages have formed human development cadres (HDC) including villages in the working area of the Kotabumi II Public Health Center. The purpose of this study was to identify the knowledge, attitudes, motivations and behavior of posyandu cadres about stunting and its prevention in the context of preparing policy advocacy documents regarding the role of cadres. The study uses qualitative methods with rapid assessment procedure design. The informants in this study were 6 posyandu cadres, with 7 key informants namely 5 midwives, 1 nutritionis and 1 puskesmas head. Data collection was carried out by means of in-depth interviews via cellular telephone, using interview guidelines. The results of this study indicate that the knowledge of posyandu cadres about stunting and prevention is still largely lacking, all cadres have a positive attitude about stunting and prevention, all cadres have high motivation, and cadre behavior regarding early detection of stunting and prevention, most are still lacking. Based on the identification results, a policy advocacy document can be prepared in the form of a policy brief with recommendations including: need to increase the capacity of posyandu cadres, and the need to establish human development cadres (KPM) as staff who can assist in overcoming stunting problems in the village by increasing the role of posyandu cadres . Considering that North Lampung Regency is one of the special stunting location districts, there should be an integrated stunting prevention policy at the community level by making stunting a priority program in village fund budgets and forming human development cadres (HDC) by recruiting posyandu cadres
Read More
T-6334
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yunia Nur Fadhillah; Pembimbing: Rita Damayanti; Penguji: Iwan Ariawan, Evi Martha, Dezi Syukrawati, Sarah Handayani
Abstrak:
andemi COVID-19 yang melanda dunia, dinyatakan sebagai status kedaruratan bencana wabah di Indonesia. COVID-19 mengganggu layanan imunisasi, hal ini memungkinkan jutaan anak berpotensi terjangkit wabah penyakit seperti difteri, campak, polio dan komplikasinya. Berdasarkan teori Health Belief Model (HBM) dimana persepsi berpengaruh terhadap respon, pandemi COVID-19 diasumsikan dapat mempengaruhi persepsi orang tua dan pola pencarian imunisasi dasar. Penelitian ini menggunakan analisis kualitatif untuk melihat kaitan antara persepsi dan pola pencarian imunisasi dasar oleh orang tua saat pandemi COVID-19 di Kelurahan Bojong Menteng dan Kelurahan Margajaya Kota Bekasi. Hasil penelitian ini menunjukkan status ekonomi saat pandemi melatarbelakangi penundaan imunisasi anak, walau bukan menjadi faktor tunggal. Dukungan kader dan petugas kesehatan terhadap imunisasi berperan dalam keputusan untuk mengimunisasi anaknya. Penerapan strategi yang disesuaikan dengan karakter sosial budaya di tiap wilayah menjadi sangat penting. Saran: meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai COVID-19 dan informasi mengenai sistem layanan kesehatan yang aman saat situasi kedaruratan khusus seperti pandemi perlu disampaikan secara utuh untuk memberikan kepercayaan layanan imunisasi yang aman.

COVID-19 has hit the world, has been declared an emergency status for the outbreak in Indonesia. COVID-19 disrupts immunization services, this allows millions of children to potentially contract outbreaks such as diphtheria, measles, polio and its complications. The theory of the Health Belief Model (HBM) about perception can influences response, the COVID-19 pandemic is assumed to be able to influence parents' perceptions and basic immunization search patterns. This study used a qualitative analysis to see the pattern of basic immunization search for parents during the COVID-19 pandemic in Bojong Menteng and Margajaya, Kota Bekasi. The results of this study indicate that the economic status during the pandemic is behind the delay in immunization of children, although it is not a single factor. Support of cadres and health workers for immunization plays a role in the decision to immunize their children. The implementation of strategies that are adapted to the socio-cultural characteristics in each region is very important. The implementation of strategies that are adapted to the socio-cultural characteristics in each region is very important. Suggestion: increase public understanding of COVID-19 and information about a safe health service system when special emergencies such as a pandemic need to be conveyed in full to provide confidence in safe immunization services.
Read More
T-6024
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Riri Fajriyatul Izza; Pembimbing: Adi Sasongko; Penguji: Triyanti, Ida Budi Kurniasih
S-7998
Depok : FKM-UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dhia Fairuz Auza; Pembimbing: Rita Damayanti; Penguji: Dian Ayubi, Dian Rosdiana
Abstrak:
Latar belakang: Terdapat peningkatan jumlah perokok remaja di Indonesia berdasarkan perbandingan data Riskesdas 2016 dan Riskesdas 2018. Jika dibandingkan dengan data pada tahun 2016, Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 menunjukkan terdapat peningkatan jumlah perokok remaja di Indonesia sebesar 0,3% dengan perokok usia 10-18 tahun mencapai 9,1%. Beberapa faktor yang melatarbelakangi terbentuknya perilaku merokk pada siswa adalah harga diri, tekanan dalam pertemanan, dan pola asuh negatif. Metode: Studi cross-sectional yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara harga diri, tekanan dalam pertemanan, dan pola asuh negatif dengan perilaku merokok melalui Angket Perilaku Remaja Siswa Sekolah Menengah di DKI Jakarta pada bulan November 2023. Penelitian melibatkan 160 responden dari kelas 10 dan 11 di SMAN 38 dan SMAN 90 Jakarta yang diambil secara stratified proportional random sampling. Hasil: Tidak ada hubungan yang siginifikan antara harga diri (p-value 0,725) dan pola asuh negatif (p-value 0,713) dengan perilaku merokok. Namun, ada hubungan yang signifikan antara tekanan dalam pertemanan (p-value 0,004) dengan perilaku merokok. Kesimpulan: Disarankan bagi SMAN 38 dan SMAN 90 untuk dapat meningkatkan pengawasan pelaksanaan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di sekolah.

Background: There is an increase in the number of teenage smokers in Indonesia based on a comparison of Basic Health Research of the year 2016 and 2018. When compared with 2016 data, the 2018 Basic Health Research (Riskesdas) shows that there is an increase in the number of teenage smokers in Indonesia by 0.3% with smokers aged 10 -18 years reached 9.1%. Several factors behind the formation of smoking behavior in students are self-esteem, peer pressure, and negative parenting patterns. Method: A cross-sectional approach which aims to determine the relationship between self-esteem, peer pressure, and negative parenting patterns with smoking behavior through the Adolescent Behavior Questionnaire for Middle School Students in DKI Jakarta in November 2023. The research involved 160 respondents from grades 10 and 11 at SMAN 38 and SMAN 90 Jakarta using stratified proportional random sampling. Results: There is no significant relationship between self-esteem (p-value 0,725) and negative parenting patterns (p-value 0,713) and smoking behavior. However, there is a significant relationship between peer pressure (p-value 0,004) and smoking behavior. Conclusion: It is recommended for SMAN 38 and SMAN 90 to increase supervision of the implementation of No-Smoking Areas (KTR) in schools.
Read More
S-11531
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive