Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 32693 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Hasti Luftyanie Mustopa; Pembimbing: Syahrizal Syarif; Penguji: Yovsyah, Johari
S-10412
Depok : FKM-UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Bayu Seno Aji; Pembimbing: Ratna Djuwita; Penguji: Sudarto Ronoatmodjo, Fathiyah Isbaniah
Abstrak: Situasi pandemi COVID-19 membuka mata masyarakat akan pentingnya kesehatan, peningkatan demand akan produk-produk kesehatan mendorong industri logistik PT X yang berperan dalam distribusi barang untuk melakukan lembur kerja atas intensitas kerja yang tinggi, hal ini meningkatkan risiko terjadinya fatigue di tempat kerja yang dapat menurunkan fungsional tubuh dan berdampak baik pada kesehatan pekerja maupun risiko terjadinya error di tempat kerja, PT X juga belum memiliki sistem manajemen risiko fatigue khusus sehingga deteksi fatigue tidak dapat dilakukan, penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran keluhan dan faktor risiko fatigue pada pekerja logistik gudang PT X tahun 2022 yang bertempat di salah satu kawasan DKI Jakarta. Penelitian ini berdesain deskriptif kuantitatif dan kualitatif dengan metode studi cross-sectional menggunakan instrumen kuesioner termasuk Fatigue Assessment Scale (FAS), NASA Task Load Index (TLX), dan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) yang selanjutnya dianalisis secara univariat dan triangulasi data dengan hasil wawancara di lapangan terhadap beberapa pekerja dan koordinator tiap tim. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 20 pekerja (37,04%) mengalami keluhan fatigue ringan, mayoritas sebagian lainnya (62,96%) tidak mengalami keluhan fatigue dan tidak ditemukan pekerja dengan keluhan fatigue berat, serta untuk faktor risiko fatigue paling dominan yang ditemukan adalah pada faktor kuantitas tidur pekerja dengan mayoritas pekerja (83,33%) memiliki durasi tidur dibawah standar 7 jam
The COVID-19 pandemic situation has opened people's eyes to the importance of health, the increasing demand for health products has encouraged the logistics industry of PT X, which plays a role in the distribution of goods, to carry out overtime work to meet the high work intensity, this increases the risk of fatigue in the workplace which can reduce body function and have an impact on the health of workers and even the risk of errors in the workplace. Additionally, PT X lacks a fatigue risk management system, making it unable to do fatigue detection, thus this research aims to provide an overview of complaints and fatigue warehouse logistics workers at PT X year 2022, located in one of the DKI Jakarta region. Research design is a quantitative and qualitative with a cross-sectional study using questionnaire instruments, including the Fatigue Assessment Scale (FAS), NASA Task Load Index (TLX), and Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) which were then analyzed univariately and triangulated the data with the results of field interviews towards several workers and the coordinator of each team. The results showed that there were 20 workers (37.04%) experiencing light fatigue, the majority of the others (62.96%) did not experience any, and none with severe fatigue, as for the most dominant fatigue risk factor found is the workers' sleep quantity with the majority of workers (83.33%) having sleep duration below the standard of 7 hours minimum
Read More
S-11028
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rita Amaliah; Pembimbing: Renti Mahkota, Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Ratna Djuwita, Rudi Ruhdiat
Abstrak:

TB paru merupakan masalah di Indonesia. Data Riskesdas 2010 menunjukkan, prevalensi TB Paru 2009/2010 sebesar 725/100.000 penduduk. Evaluasi hasil dilihat dengan angka konversi pada akhir pengobatan fase intensif sebesar 80%. Masalah utama kegagalan konversi adalah komponen perilaku penderita TB paru yaitu keterlambatan diagnosis dan tidak selesainya pengobatan yang berakibat resistensi ganda OAT. Penelitian ini menggunakan desain kasus kontrol, populasi sebanyak 1.305 adalah penderita TB paru pengobatan fase intensif tahun 2010 yang tercatat di formulir TB 01 puskesmas di Kabupaten Bekasi. Sampel diambil sebanyak 170 penderita, dikelompokkan menjadi gagal konversi sebanyak 200 penderita dan konversi sebanyak 1.105 penderita. Setiap kelompok diambil masing-masing 85 penderita. Data dikumpulkan dengan wawancara menggunakan kuesioner. Metode analisis data dengan uji Chi Square dan regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan responden tidak teratur minum obat lebih besar yang mengalami kegagalan konversi (74,1%) dibandingkan yang konversi (46,4%). Hasil uji Chi square ada hubungan yang bermakna antara keteraturan minum obat, sikap terhadap keteraturan minum obat, pengetahuan tentang TB, penyuluhan kesehatan, efek samping obat, dan status gizi dengan kegagalan konversi. Hasil uji statistik dengan regresi logistik menunjukkan faktor paling berhubungan dengan kegagalan konversi adalah status gizi OR: 4,705: 95% CI: 2,143-10,332. Status gizi penderita TB paru perlu ditingkatkan sebagai upaya bersama dengan pemberian OAT.


 

Pulmonary TB is a problem in Indonesia. Riskesdas 2010, the prevalence of pulmonary TB 2009/2010 for 725/100.000 population. Evaluation results conversion rate at the end of the intensive phase of treatment by 80%. The main problem is the conversion of a component failure behavior of patients with pulmonary TB is not the completion of delayed diagnosis and resulting treatment dual resistance OAT. Design study are casecontrol study. Population of 1305 patients with pulmonary TB is an intensive phase of treatment in 2010 are recorded in the TB form 01 health centers in the district of Bekasi. Samples were taken 170 patients, classified as many as 200 patients failed to convert and convert as many as 1.105 people. Each group of 85 patients taken at random. Data were collected by interview using a questionnaire. Methods of data analysis with chi square tests and logistic regression. The results showed respondents do not regularly drink more drugs that have failed conversion (74.1%) compared to the conversion (46.4%). Chi square test results there was a significant association between the regularity of drug taking, attitudes toward medication order, knowledge of TB, health education, medication side effects, and nutritional status with conversion failure. The results of statistical tests with logistic regression showed factors associated with failure of the conversion is the nutritional status OR: 4,705: 95% CI: 2,143-10,332. Nutritional status of patients with pulmonary TB needs to be improved as a joint effort with the provision of OAT.

Read More
T-3678
Depok : FKM-UI, 2012
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Bungsu, Putri; Pembimbing: Ratna Djuwita; Penguji: Kusharisupeni Djokosujono, Rachel Merliana
s-6044
Depok : FKM-UI, 2010
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ikes Dwiastuti; Pembimbing: Nurhayati Adnan; Penguji: Mondastri korib Sudaryo, Sulistyo
Abstrak: Munculnya berbagai tantangan baru dalam pengendalian TB, salah satunyamultidrug resistant tuberculosis (TB MDR). TB MDR adalah salah satu jenisresistensi TB yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis yangtidak merespon (resisten), setidaknya, isoniazid dan rifampicin yang merupakandua jenis obat yang paling efektif pada lini pertama obat anti TB (OAT).Penelitian bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhinyakonversi kultur sputum pada pasien TB Paru MDR. Penelitian dilakukan didilakukan di RSUD Labuang Baji Kota Makassar dimulai dari bulan April 2015-Juni 2015. Desain penelitian adalah kohort retrospektif. Jumlah sampel dalampenelitian ini yakni 183 pasien, 139 pasien (76,0%) yang mengalami konversikultur sputum, 4 pasien (2,2%) yang tidak mengalami konversi kultur sputum, dan40 pasien (21,8%) yang loss to follow up. Dari penelitian ini diketahui bahwaprobabilitas konversi kultur sputum pasien TB paru MDR sebesar 95,52%. Hasilanalisis multivariat menunjukkan bahwa interupsi pengobatan (HR:0,45; 95%CI:0,26-0,79), status diabetes melitus (DM) sebelum 33 hari (HR:0,75; 95%CI: 0,29-1,95) dan setelah 33 hari yakni (HR:1,95; 95%CI: 0,90-7,60), serta riwayatpengobatan yang pernah mendapatkan OAT lini I (HR:0,32; 95%CI: 0,12-0,90)serta yang pernah mendapatkan OAT lini II (HR:0,27; 95%CI: 0,10-0,77).Diperlukan penanganan secara intensif dan lengkap pada pasien TB paru MDR diPoli TB MDR dengan memperhatikan interupsi pengobatan, status DM, danriwayat pengobatan sebelumnya.Kata kunci : Diabetes melitus, interupsi pengobatan, konversi kultur sputum,riwayat pengobatan sebelumnya, TB paru MDR.
One of the new emerging challenges in TB controlling is multidrug resistanttuberculosis (MDR TB). MDR TB is a type of TB resistant caused by theunresponsiveness (resistancy) of Mycobacterium tuberculosis to at least isoniazidand rifampicin in which both are the most effective anti-TB drugs in first line.This study was aimed to determine the influencing factors for the timing ofsputum culture conversion among pulmonary MDR TB patients. This study wasconducted in Labuang Baji General Hospital, Makassar City started from April2015 to June 2015. Cohort-retrospective design was performed in this study.There were 183 patients involved in this study consisted of 139 (76,0%) patientswith sputum culture conversion, 4 (2,2%) patients with no sputum cultureconversion, and 40 (21,8%) patients were loss to follow up. The result of thestudy shows that the probability of sputum culture conversion of Pulmonary MDRTB was 95,52%. Multivariate analysis showed that the interruption of treatment(HR:0,45; 95%CI: 0,26-0,79), Diabetes Mellitus (DM) before 33 days (HR:0,75;95%CI: 0,29-1,95), DM after 33 days (HR:1,95; 95%CI: 0,90-7,60), previouslytreated with FLDs (HR:0,32; 95%CI: 0,12-0,90), and previously treated withSLDs (HR:0,27; 95%CI: 0,10-0,77) were found to be the influencing factors forthe sputum culture conversion among pulmonary MDR TB. Complete andintensive care are needed among pulmonary MDR TB in MDR TB polyclinic byobserving the interruption of treatment, DM, and history of previous treatment.Keywords: Diabetes mellitus, history of previous treatment, pulmonary MDR TB,sputum culture conversion, treatment interruption.
Read More
T-4491
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Shena Masyita Deviernur; Pembimbing: Nurhayati Adnan; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Trisari Anggondowati, Sulistyo dan Meilina Farikha
Abstrak:
Proporsi pasien Tuberkulosis Resistan Obat (TB RO) yang memiliki hasil akhir pengobatan meninggal meningkat di tahun 2021 menjadi 19%. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui faktor risiko kematian pasien TB RO selama masa pengobatan di Indonesia. Desain penelitian ini adalah kohort retrospektif dengan menggunakan data kasus TB RO yang memulai pengobatan tahun 2020-2021 dan telah memiliki hasil akhir pengobatan hingga Mei 2023 dan tercatat pada Sistem Informasi Tuberkulosis. Analisis yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis deskriptif, survival dengan menggunakan Kaplan Meier, dan multivariat dengan menggunakan cox regression. Jumlah sampel penelitian adalah 7.515. Hasil penelitian ini menunjukkan sebanyak 19,39% pasien meninggal dengan laju kejadian keseluruhan adalah 6 per 10.000 orang hari dan probabilitas kumulatif survival sebesar 73%. Analisis multivariat menunjukkan Faktor – faktor yang mempengaruhi kematian pasien TB RO selama masa pengobatan di Indonesia adalah kelompok umur 45-65 (HR 1,519; 95% CI 1,275-1,809) tahun dan 65+ (HR 3,170; 95% CI 2,512-4,001), wilayah fasyankes Jawa-Bali (HR 1,474; 95% CI 1,267-1,714), koinfeksi HIV (HR 3,493; 95% CI 2,785-4,379), tidak mengetahui status HIV (HR 1,655; 95% CI 1,474-1,858) memiliki riwayat pengobatan (HR 1,244; 95% CI 1,117-1,385), tidak konversi ≤3 bulan (HR 4,435; 95% CI 3,920-5,017), paduan pengobatan LTR (1,759; 95% CI 1,559-1,985), kepatuhan pengobatan pada kelompok tidak minum obat 1-30 hari (HR 0,844; 95% CI 0,748-0,953) dan kepatuhan pengobatan pada kelompok tidak minum obat >30 hari (HR 0,318; 95% CI 0,273-0,370).

The proportion of drug-resistant tuberculosis (RO-TB) patients who have the final outcome of treatment will die in 2021 to 19%. The purpose of this study was to determine the risk factors for death of TB RO patients during the treatment period in Indonesia. The design of this study was a retrospective cohort using data on TB RO cases that started treatment in 2020-2021 and had final treatment results until May 2023 and were recorded in the Tuberculosis Information System. The analysis used in this study is descriptive analysis, survival using Kaplan Meier, and multivariate using cox regression. The number of research samples is 7,515. The results of this study showed that 19.39% of patients died with an overall incidence rate of 6 per 10,000 person days and a cumulative probability of survival of 73%. Multivariate analysis shows that the factors that influence the death of TB RO patients during the period of treatment in Indonesia are the age group 45-65 (HR 1.519; 95% CI 1.275-1.809) years and 65+ (HR 3.170; 95% CI 2.512-4.001), health facilities area Java-Bali (HR 1.474; 95% CI 1.267-1.714), HIV coinfection (HR 3.493; 95% CI 2.785-4.379), do not know HIV status (HR 1.655; 95% CI 1.474-1.858) have a history of treatment ( HR 1.244; 95% CI 1.117-1.385), no conversion ≤3 months (HR 4.435; 95% CI 3.920-5.017), mixed treatment LTR (1.759; 95% CI 1.559-1.985), treatment adherence in non-medication group 1 -30 days (HR 0.844; 95% CI 0.748-0.953) and medication adherence in the non-medication group >30 days (HR 0.318; 95% CI 0.273-0.370).
Read More
T-6699
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Jajat Hidajat; Pembimbing: Bambang Sutrisna
T-852
Depok : FKM UI, 2000
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Iwan Suwarsa; Pembimbing: Lukman Hakim Tarigan; Penguji: Nuning Maria Kiptiyah, Tri Yunis Miko Wahyono, Nana Mulyana, Lucky Cahyono
Abstrak:
Penyakit tuberkulosis paru adalah merupakan penyakit menular yang bersifat kronis dan memiliki dampak sosial yang cukup besar. Penularannya melalui hubungan yang lama dan akrab, karena itu kontak serumah dengan penderita TB paru diduga merupakan risiko yang tinggi untuk terjadinya penularan. Walaupun demikian tidak semua kontak serumah tertular, oleh karena itu perlu diketahui faktor-faktor yang berhubungan dengan penularan penyakit TB paru pada kontak serumah. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten garut dengan desain cross sectional. Populasi penelitian ini diduga 552 kontak serumah dengan penderita TB paru BTA (+). Sampel sebanyak 155 yang terdiri dari 55 penderita TB paru BTA (+) dan 100 bukan penderita TB paru BTA (+) yang dipilih dengan metode stratified random sampling. Hasil penelitian menunjukkan 1 diantara 2,8 kontak serumah menderita TB paru. Beberapa faktor yang diduga berhubungan adalah: keeratan, lama kontak, pendidikan, pekerjaan, pengetahuan, status gizi dan hygiene sanitasi (p<0,05), dan variabel hygiene sanitasi memiliki hubungan yang paling kuat (POR= 12,30). Dari hasil analisis multivariat ternyata hanya ada 4 variabel utama yang berhubungan yaitu: sanitasi rumah, keeratan, status gizi dan pendidikan, sehingga dapat dikemukakan sebuah model dengan 4 variabel tersebut. Setelah dilakukan penilaian interaksi ditemukan ada 1 interaksi yang bermakna antara status gizi dan sanitasi rumah sehingga dapat dikemukakan sebuah model dengan 4 variabel utama dan 1 variabel interaksi.
Read More
T-1171
Depok : FKM-UI, 2001
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sri Hayanti; Pembimbing: Nurhayati Aprihartono, Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Sutanti Siti Namtini, Endang Lukitasari
Abstrak:

ABSTRAK Nama : Sri Hayanti Program Studi : Magister Epidemiologi Judul : Faktor-Faktor Yang Berhubungan dengan Gagal Pengobatan Pasien Extensive Drug Resistant Tuberculosis (TB-XDR) di Indonesia Tahun 2009 – 2017 (Analisis Data e-TB Manager Subdit Tuberkulosis - Kemenkes RI) TB resistensi obat khususnya TB-XDR pada program pengendalian TB menjadi burden. Berbagai upaya pengendalian TB dilakukan untuk mencapai target global yaitu bebas TB, salah satunya melalui penurunan insiden gagal pengobatan. Penelitian untuk melihat gagal pengobatan TB-XDR belum dilakukan di Indonesia. Penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan gagal pengobatan pasien TB-XDR di Indonesia tahun 2009 – 2017 dengan menggunakan data sekunder dari aplikasi eTB manager di Subdit Tuberkulosis - Kementerian Kesehatan RI. Sebanyak 151 pasien TB- XDR di Indonesiadianalasis dengan cox regression terdapat 28 (19%) pasien TB-XDR yang sembuh, 2 (1%) pengobatan lengkap, 38 (25%) gagal pengobatan, 4 (3%) lost to follow up, 35 (23%) meninggal dunia dan 44 (29%) tidak dievaluasi. Dari penelitian ini diketahui bahwa pasien yang interupsi pengobatan ≤60 hari berisiko 0,57 kali lebih kecil untuk terjadi gagal pengobatan (HR 0,57; 95%CI -1,29 – 0,15 dan nilai p 0,12) sedangkan pada pasien yang interupsi >60 hari berisiko 0,11 kali lebih kecil untuk terjadi gagal pengobatan dibanding kelompok yang tidak interupsi (HR 0,11; 95% CI -3,67- -0,69 dan nailai p 0,00). Pasien yang memiliki kavitas paru berisiko 3,60 kali lebih besar untuk terjadi gagal pengobatan dibandingkan yang tidak memiliki kavitas paru (HR 3,60; 95% CI 0,50 - 2,06 dan nilai p 0,00). Program pengendalian TB-XDR di Indonesia diharapkan lebih memfokuskan intervensi pada interupsi pengobatan dan kavitas paru. Kata kunci: gagal pengobatan; interupsi pengobatan; kavitas paru; TB-XDR

ABSTRACT Name : Sri Hayanti Study Program: Magister Epidemiologi Title : Influencing Factors for The Failure Treatments of The Extensive Drug Resistant Tuberculosis (XDR-TB) Patients in Indonesia Year 2009-2017 TB drug resistance especially XDR-TB on TB treatment program become a burden. Many programs have been conducted to achieve global target, free of TB, one of strategy is to decrease failed treatment. Study to prove failed treatment on XDR-TB never been conducted in Indonesia. Purpose of this study is to determine the various factors associated with failure treatment on patients with XDR-TB in Indonesia in 2009 – 2017 was conducted using secondary data from the e-TB manager application in Sub Directorate Tuberculosis. Based on analysis by cox regression 151 patients with XDR-TB in which 28 patients (19%) cured, 2 (1%) complete treatment, 38 (25%) failed treatment, 4 (3%) lost to follow up, 35 (23%) died and 44 (29%) do not be evaluated. From this research it is known that patients who are interruption treatment ≤ 60 days have a lower risk 0.57 times more likely to occur as treatment failure (HR 0.57; 95%CI -1.29 – 0.15 and p value 0.12) otherwise patients who are interruption treatment >60 days have a lower risk 0.11 times more likely to occur as treatment failures compared to the group that is no interruption (HR 0.11; 95% CI -3.67- -0.69 and p value 0.00). Patients with lung cavities have 3.60 times greater risk for treatment failure than they who have no lung cavity HR 3.60; 95% CI 0.50 - 2.06 and p value 0.00). Treatment program XDR-TB resistant in Indonesia is expected to be more focused intervention to interruption treatment and lung cavity. Keywords: failure treatment; interruption treatment; cavity pulmonary; XDR-TB


 

Read More
T-5170
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nenden Siti Aminah; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Retno Kusuma Dewi, Ani Herna Sari
Abstrak:
Tiga permasalahan TB di Indonesia yaitu TB sensitif, TB Resistan Obat (TB-RO) dan TB-HIV. TB-RO merupakan masalah yang menghawatirkan, angka penemuan kasus TBRO setiap tahun semakin meningkat, namun tidak diimbangi dengan angka pengobatan. Penggunaan paduan jangka pendek untuk pengobatan pasien TB-RO sejak September 2017 merupakan salah satu upaya menekan peningkatan kasus pasien putus berobat. Penelitian ini dilakukan untuk melihat trend dan faktor yang berhubungan dengan keberhasilan pengobatan pasien TB Resistan Obat (TB RO) dengan paduan Shorter Treatment Regiment (STR) di Indonesia Tahun 2017-2019. Penelitian menggunakan desain kohort restropektif. Sumber data adalah semua pasien TB RO paduan jangka pendek yang terdaftar dalam sistem informasi TB MDR Subdit Tuberkulosis. Metode sampling adalah total sampling yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Analisis yang digunakan adalah uji chi-square dan uji cox regression. Sebanyak 3.100 pasien disertakan dalam analisis, didapat angka keberhasilan pengobatan adalah 41,94%. Hasil analisis menunjukkan faktor yang berhubungan dengan keberhasilan pengobatan adalah umur, kepatuhan, hasil pemeriksaan sputum awal pengobatan, pola resistensi monoresisten dan poliresisten, serta wilayah tempat tinggal. Kepatuhan merupakan faktor dominan yang berhubungan dengan keberhasilan pengobatan. Perlu dilakukan upaya penguatan kepatuhan dengan melakukan konseling sedini mungkin, pendamping PMO dari non petugas dan inisiasi grup dukungan pasien di setiap faskes MDR

TB problems in Indonesia are TB sensitive, Drug-Resistant TB and TB-HIV. TB-RO is the most challengging  problem, the number of case finding is increase every year, but treatment rate is decrease. The use of short-term  regiment since September 2017 is one of strategy to reduce default of TB treatment. This research was  conducted to see trends and factors related to the TB treatment success rate among patients with Drug  Resistance TB (TB RO) using Shorter Treatment Regiment (STR) in Indonesia 2017-2019. The study desain is  restropective cohort. Data sources are all patients of TB RO using STR regiment, which is enrolled in the e-TB  manager, Sud Directorate of Tuberculosis, MoH RI. The sampling method is total sampling that meets the  inclusion and exclusion criteria. The analysis used was the chi-square test and the cox regression test. As many  as 3,100 patients were included in the analysis, the treatment success rate was 41,94%. The results of the  analysis showed that factors related to treatment success were age, adherence, results of initial sputum  examination of treatment, patterns of monoresistant and polyresistant resistance, and area of ​​residence.  Adherence is a dominant factor related to treatment success. Efforts should be made to strengthen compliance  by conducting counseling as early as possible, PMO assistants from non-helath officers and initiating patient  support groups in each MDR facility 

Read More
T-5925
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive