Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 35390 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Algavusada Fesya Yemix; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Indri Hapsari Susilowati, Ali Nurrahman
Abstrak: Stres kerja adalah respons disebabkan oleh ketidakseimbangan antara tuntutan yang dirasakan dan sumber daya yang dimiliki dengan kemampuan individu untuk mengatasi tuntutan-tuntutan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan adanya stres kerja pada pekerja hulu minyak bumi di Pertamina Hulu Energi Offshore Southeast Sumatra dan faktor-faktor terkait stres kerja. Faktor-faktor yang diteliti adalah faktor individu (usia, status pernikahan, tingkat pendidikan, dan penilaian diri), faktor pekerjaan (unit kerja, status kepegawaian, masa kerja, jadwal kerja, dukungan sosial, konflik interpersonal, tuntutan pekerjaan, dan beban kerja), dan faktor lingkungan. Penelitian ini merupakan penelitian cross-sectional dengan instrumen kuesioner. 68 pekerja berpartisipasi dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 52,9% responden mengalami stres kerja. Ditemukan pula hubungan antara area kerja dengan stres kerja, dan hubungan antara dukungan sosial dengan stres kerja. Kata kunci: Stres Kerja, Pekerja Hulu Minyak Bumi, Faktor Individu, Faktor Pekerjaan, Faktor Lingkungan Occupational stress is response caused by an imbalance between perceived demands and available resources with individual abilities to cope with those demands. The aim of this study is to explain an occupational stress condition within upstream oil workers in Pertamina Hulu Energi Offshore Southeast Sumatra. Observed factors are individual factors (age, marriage status, education level, and self-assessment), occupational factors (work unit, employment status, work period, work schedule, social support, workplace conflict, job demand, and workload), and environmental factors. This is a cross-sectional study using self-reported questionnaires as an instrument. 68 workers participated in this study. The result of this study reports that 52,9% of respondents experience occupational stress. The result also shows a relationship between work unit and occupational stress, and relationship between social support and occupational stress. Key words: Occupational stress, Upstream Oil Workers, Individual Factors, Occupational Factors
Read More
S-10454
Depok : FKM-UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rahmilia Permatasari; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Mila Tejamaya, R. Bramantyo Eko Wahyudi
Abstrak: ABSTRAK
 
 
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas dari surveilans kesehatan kerja terkait hipertensi yang telah diterapkan oleh PT X dengan lokasi di Y. Analisis dilakukan dengan melihat gambaran tekanan darah pekerja selama 1 tahun terakhir lalu dianalisis prevalensi dan insiden hipertensi yang ada, kemudian, dilakukan kajian terhadap efektifitas program K3 dalam menurunkan angka prevalensi dan insiden tersebut. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif- kuantitatif dengan desain penelitian cross-sectional .Hasil penelitian menyarankan bahwa segera melakukan identifikasi Health Risk Assessment (HRA) terkait faktor risiko hipertensi, segera membuat kebijakan untuk melakukan pemeriksaan sebelum bekerja, lalu melakukan beberapa perubahan pada program kesehatan dan keselamatan kerja.
 

 
ABSTRACT
 
 
This study purposed to analyze the effectiveness of occupational health surveillance related hypertension that has been applied by PT X site Y. The analysis was done by looking at the overview of blood pressure workers during the last 1 year ago and then analyzed the prevalence and incidence of hypertension, followed by an assessment of the effectiveness of the occupational health and safety program in reducing the prevalence and incidence. This study is qualitative-quantitative study with cross-sectional research design. The results of the study suggest that immediate identification of Health Risk Assessment (HRA)-related risk factors of hypertension, , immediately making policy for examination blood pressure workers before work, and then made some changes to occupational health and safety programs.
Read More
S-8109
Depok : FKM-UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mirnayanti; Pembimbing: Ridwan Zahdi Sjaaf; Penguji: Doni Hikmat Ramdhan, Tulus Herdiyanto
S-7477
Depok : FKM UI, 2012
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muhamad Rifqul Ubbad; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Mila Tejamaya, Ahmad Fadhli
S-8249
Depok : FKM-UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Adam Maryanto; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Abdul Kadir, Robiana Modjo
Abstrak:
Risiko psikososial merupakan salah satu faktor yang dapat memengaruhi kesehatan, kesejahteraan, dan keselamatan pekerja, khususnya pada industri hulu minyak dan gas bumi yang memiliki karakteristik pekerjaan berisiko tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hazard psikososial, menilai tingkat risiko psikososial, menganalisis efek yang dialami pekerja, mengidentifikasi kebutuhan konseling dan pemantauan psikososial, serta menganalisis tren keterkaitan hazard psikososial dengan faktor-faktor yang muncul dalam investigasi incident pada pekerja PT X. Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed methods dengan desain kuantitatif deskriptif cross-sectional sebagai pendekatan utama, yang dilengkapi analisis kualitatif terhadap data sekunder investigasi incident melalui pattern matching. Pengumpulan data kuantitatif dilakukan terhadap 204 respons lengkap yang berasal dari pekerja organik dan mitra kerja. Instrumen dikembangkan peneliti melalui adaptasi selektif dari konsep HSE Management Standards Indicator Tool, NIOSH, ICAWS, NASA-TLX, MBI, JCQ, dan JD-R. Data kualitatif menggunakan data sekunder investigasi incident PT X Zona 7 Tahun 2025 untuk menjelaskan pola hasil kuantitatif, bukan untuk membuktikan hubungan sebab-akibat langsung antara hazard psikososial dan incident. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hazard psikososial dominan pada lingkungan kerja meliputi tuntutan pekerjaan yang tinggi, beban kerja, keterbatasan fasilitas dan peralatan kerja, serta kurangnya pelatihan. Pada lingkungan rumah dan sosial, hazard dominan meliputi kurangnya waktu bersama keluarga, masalah dengan pasangan, masalah keuangan keluarga, dan kondisi kesehatan keluarga. Pada faktor individu, hazard dominan meliputi mudah lupa, kurang teliti, kehilangan konsentrasi, rendahnya daya tahan terhadap stres, dan tidak sabar. Sebagian besar risiko psikososial berada pada kategori rendah hingga sedang. Efek yang paling banyak dirasakan pekerja meliputi pusing kepala, kelelahan, kecemasan, mudah lupa, penurunan daya ingat, kesalahan kerja, dan penurunan produktivitas. Analisis tren menunjukkan adanya kesesuaian pola antara hazard psikososial dominan dengan faktor-faktor yang muncul dalam investigasi incident, terutama yang berkaitan dengan kegagalan identifikasi bahaya, pelanggaran prosedur kerja, penggunaan peralatan yang tidak memadai, dan kesalahan kerja. Penelitian ini menyimpulkan bahwa hazard psikososial berpotensi memengaruhi kesehatan, perilaku kerja, dan keselamatan kerja. Oleh karena itu, pengelolaan risiko psikososial perlu dilakukan secara terintegrasi melalui pemantauan psikososial, konseling pekerja, penguatan dukungan organisasi, serta peningkatan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja.

Psychosocial risk is one of the factors that may affect workers’ health, well-being, and safety, particularly in the upstream oil and gas industry, which is characterized by high-risk work activities. This study aimed to identify psychosocial hazards, assess psychosocial risk levels, analyze psychosocial effects experienced by workers, identify counseling and psychosocial monitoring needs, and examine trends in the relationship between psychosocial hazards and factors identified in incident investigations at PT X. This study used a mixed methods approach with a descriptive quantitative cross-sectional design as the main approach, complemented by qualitative analysis of secondary incident investigation data using pattern matching. Quantitative data were collected from 204 complete responses from permanent and contractor workers. The researcher-developed instrument selectively adapted concepts from the HSE Management Standards Indicator Tool, NIOSH, ICAWS, NASA-TLX, MBI, JCQ, and JD-R. Qualitative data were obtained from secondary incident investigation data from PT X Zone 7 in 2025 to explain the quantitative pattern, not to prove a direct causal relationship between psychosocial hazards and incidents. The results showed that the dominant psychosocial hazards in the work environment included high job demands, workload, inadequate facilities and work equipment, and insufficient training. In the home and social environment, the dominant hazards included lack of family time, marital problems, family financial problems, and family health issues. Individual-related hazards were dominated by forgetfulness, lack of attention to detail, loss of concentration, low stress tolerance, and impatience. Most psychosocial risks were categorized as low to moderate. The most frequently reported effects included headaches, fatigue, anxiety, forgetfulness, memory decline, work errors, and reduced productivity. Trend analysis revealed a pattern consistency between dominant psychosocial hazards and factors identified in incident investigations, particularly hazard identification failures, procedural violations, inadequate equipment, and work-related errors. This study concludes that psychosocial hazards have the potential to influence workers’ health, work behavior, and occupational safety. Therefore, psychosocial risk management should be implemented through integrated psychosocial monitoring, employee counseling programs, strengthened organizational support, and continuous improvement of occupational health and safety management systems.
Read More
T-7721
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Lutfi Al Hakim; Pembimbing: Ridwan Z. Syaaf; Penguji: Doni Hikmat Ramdhan, Efendi Baharudin
S-7451
Depok : FKM UI, 2012
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ni Made Truly Pinanti Sastra; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Fatma Lestari, L. Meily; Milla Tejamaya
Abstrak:
Latar belakang: Fenomena korosi pada material carbon steel di fasilitas produksi hulu minyak dan gas dapat menyebabkan penipisan lapisan logam sehingga terjadi kebocoran hidrokarbon. Untuk mencegah kerugian tersebut, perusahaan perlu menerapkan corrosion management dengan injeksi corrosion inhibitor sebagai lapisan pelindung material. Salah satu jenis Corrosion inhibitor (CI) yang diinjeksikan mengandung bahan baku asam tioglikolat (TGA), seperti yang digunakan di PT. X, yaitu produk CI-A. Selain memiliki manfaat dalam melapisi logam, TGA dapat terdekomposisi menjadi H2S (hidrogen sulfida) akibat perubahan suhu, misalnya akibat paparan sinar matahari saat penyimpanan produk. Pelepasan gas iritan dari CI dapat menimbulkan risiko bagi kesehatan pernafasan pekerja. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat risiko H2S dalam produk CI yang mengandung TGA beserta usulan prioritas perbaikan existing control measures di tempat kerja. Metodologi: Penelitian menggunakan data sekunder hasil pengukuran gas H2S dari drum produk CI-A, hasil pengukuran gas H2S dari simulasi pemanasan sampel CI-A di laboratorium PT. X, dan dokumen prosedur kerja PT. X. Selain itu, penelitian menggunakan data primer dari kuesioner untuk mendapatkan data demografi pekerja PT. X, frekuensi dan durasi penanganan CI pada 2 Unit Kerja (area produksi dan warehouse) di PT. X, dan riwayat keluhan kesehatan pekerja sebagai basis melakukan Chemical Health Risk Assessment (CHRA) menurut DOSH versi 2018. Hasil: Dari 113 responden kuesioner PT. X, 96 orang (85%) merupakan pekerja yang rutin menangani produk CI, di mana 2% pekerja pernah merasakan keluhan kesehatan saat menangani produk CI pada periode 2020-2022. Identifikasi risiko kesehatan pada kegiatan ini mengacu pada hasil pengukuran gas H2S yang diperoleh lebih dari 200 ppm dari drum dan lebih dari 700 ppm saat pemanasan 40 ºC selama 180 menit. Nilai konsentrasi ini melebihi STEL-TWA H2S menurut ACGIH yaitu 5 ppm selama 15 menit waktu pajanan. Sesuai CHRA DOSH, tingkat risiko kesehatan gas H2S termasuk hazard rating (HR) = 5. Analisis exposure rating (ER) secara kualitatif menunjukkan ER area produksi (4) lebih tinggi dari ER di area warehouse (3) karena perbedaan frequency-duration rating (FDR) antar unit kerja (magnitude rating (MR) saat aktivitas membuka tutup drum CI = 4). Oleh karena itu, perhitungan tingkat risiko kesehatan gas H2S dari produk CI-A yang mengandung TGA menghasilkan high risk level, yaitu RR = 20 pada Unit Kerja 1 dan RR = 15 pada Unit Kerja 2, sehingga pengendalian risiko utama yang perlu dilakukan oleh perusahaan adalah melakukan subsitusi bahan kimia CI di perusahaan dengan produk CI alternatif yang tidak menghasilkan gas berbahaya, seperti green corrosion inhibitor yang mulai umum dikembangkan untuk industri minyak dan gas bumi. Kesimpulan: Risiko kesehatan akibat pajanan H2S dari CI termasuk pada high risk level menurut CHRA DOSH dan langkah utama yang perlu dilakukan adalah subsitusi sebagai bagian dari technical control untuk menurunkan level risiko kesehatan pekerja di PT. X. Perusahaan memastikan kembali kesesuaian langkah pengendalian teknis, administratif, dan APD saat bahan TGA ini digunakan produk corrosion inhibitor.

Background: Thioglycolic acid (TGA) is used as iron ion reduction in corrosion inhibitor which can produce H2S (hydrogen sulfide) and expose to human health. The purpose of this research is to analyze the risk level of H2S exposure from CI along with the proposed risk control in the company. Methodology: Chemical Health Risk Assessment (CHRA) according to DOSH (2018) in two exposed work units in PT. X (Work Unit 1 as production area and Work Unit 2 as warehouse area). Result: According to DOSH, the hazard rating of H2S is 5. Qualitative exposure rating (ER) analysis shows the ER of the production area (4) is higher than ER in the warehouse area (3) due to the difference in frequency-duration rating (FDR). By considering the Magnitude rating (MR) during drums opening is 4, the level of health risk is at high risk level (RR Work Units 1 = 20; RR Work Units 2 = 15). Conclusion: H2S exposure from CI is at high risk level according to CHRA DOSH and the main required control is substitution to reduce the risk level. Adequacy of technical, administrative, and PPE control measures is critical when TGA is used in corrosion inhibitor.
Read More
T-6562
Depok : FKM UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yudi Handradika; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Mila Tejamaya, Budiawan, Heni D. Mayawati, Elsye As Safira
Abstrak: Pekerja di lapangan migas, khususnya di lepas pantai memiliki risiko yangtinggi terhadap pajanan BTX di area kerja. Pajanan bersumber dari aktifitas yanglangsung bersentuhan dengan uap dan gas hidrokarbon yang sifatnya mudahmenguap pada suhu kamar (Volatile organic compounds - VOC) sehinggamemungkinkan terhisap oleh para pekerja dan menimbulkan efek kesehatan.Penelitian ini bertujuan untuk memperkirakan tingkat risiko nonkarsinogenik dankarsinogenik dari Pajanan BTX terhadap pekerja lepas pantai beserta manajemenrisiko yang harus dilakukan. Penelitian ini merupakan studi potong lintangmenggunakan pendekatan analisis risiko kesehatan lingkungan (ARKL) yangmeliputi 4 langkah penting: identifikasi bahaya, analisis dosis-respon, analisispajanan dan karakterisasi risiko. Jumlah sampel berupa 95 orang pekerja tetap diperusahaan hulu migas X. Data penelitian diperoleh melalui wawancara danpengukuran langsung, tingkat risiko dihitung dengan cara membagi asupandengan dosis referensi BTX. Sebagai pembanding (control) dilakukan jugaperhitungan terhadap 7 orang pekerja lepas pantai yang bekerja hanya di kantor(office). Hasil penelitian menunjukkan risiko pajanan benzene non karsinogenikharus diwaspadai bagi pekerja lepas pantai dimana dari perhitungan diketahuinilai RQ (Risk Quotient) yang lebih dari satu baik untuk pajanan realtime (ada21,05% pekerja) maupun pajanan lifetime (61,05% pekerja). Sementara untukrisiko pajanan non karsinogenik dari toluene dan xylene termasuk rendah. Iniditunjukkan dari hasil perhitungan RQ untuk realtime maupun lifetime yangsemuanya (100%) bernilai kurang dari satu (RQ <1). Untuk risiko kesehatanpajanan karsinogenik benzene, diperoleh bahwa 20% pekerja lepas pantaimemiliki efek karsinogenik pada pajanan realtime dan 60% pekerja pada pajananlifetime. Disimpulkan bahwa perlu dilakukan manajemen risiko terhadap pajanansenyawa benzene di lingkungan kerja lepas pantai, agar pekerja terhindar daririsiko kesehatan baik risiko nonkarsinogenik dan risiko karsinogenik jangkapanjang.
Kata kunci:Analisis Risiko, BTX, Pekerja Lepas Pantai
This research has objective to predict carsinogenic and non carcinogeniceffect of BTX exposure to offshore workers and the risk management required. Itis cross sectional study which utilize the environmental health risk assessmentapproach. Sample consists of 95 offshore workers in upstream oil and gascompany X. research data is compiled from direct interview and companymeasurement data. As a control, 7 administrative workers are involved incalculation. The result of this research is non carcinogenic exposure of benzenemust become a high concern which has risk quotient - RQ 21.05% at realtimeexposure and 61.05% at lifetime exposure. There is little risk related to tolueneand xylene. Its respectively RQ is lower than 1 for both of them. For carcinogenichealth risk of benzene, 20% of offshore workers and 60% of offshore workers hascarcinogenic effect to their health risk.It can be concluded that risk management isrequired for being applied in order to minimize the benzene health effect tooffshore workers.
Keyword: Risk Analysis, BTX, Offshore worker.
Read More
T-4438
Depok : FKM UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Cahyo Hardo Priyoasmoro; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Indri Hapsari Susilowati, Mufti Wirawan, Achmad Dahlan, Ivan Fadlun Azmy
Abstrak:

Resiko bekerja di perusahaan migas PT X yang berlokasi di offshore Natuna adalah relatif tinggi. Sepanjang tahun 2018 – 2023 terjadi fluktuasi kecelakaan kerja di PT. X. Bahkan setelah dua tahun (tahun 2020 dan 2019) tidak terjadi kecelakaan kerja untuk kategori recordable injury (kasus di atas FAC), di tahun 2021 terjadi lagi 3 kasus (1 RWDC dan 2 MTC) dan di tahun 2022 terjadi 4 kasus (1 LWDC, 1 RWDC, dan 2 MTC). Di tahun 2023 terjadi 1 kasus (1 RWDC). Korban kecelakaan kerja di tahun 2021 didominasi oleh pekerja kontrak dan pekerja tetap sedangkan kecelakaan kerja di tahun 2022 dan 2023 semuanya terjadi pada pekerja kontrak. Sebagian besar kecelakaan yang terjadi penyebab langsungnya adalah unsafe acts. Sampai saat ini belum ada analisis menyeluruh dari data investigasi kecelakaan-kecelakaan yang telah dilakukan PT X untuk mendapatkan faktor-faktor penyebab dasar dari semua kecelakaan tersebut. Dengan demikian, penelitian perlu dilakukan, dan karena berhubungan dengan human factor, maka pada penelitian ini akan dianalisis faktor-faktor yang menyebabkan kecelakaan kerja tersebut dengan metode Human Factor Analysis and Classification System (HFACS). Tujuan: Menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi kecelakaan kerja di PT X antara tahun 2018 – 2023 dengan metode HFACS. Metode: Penelitian ini adalah penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan kualitatif. Data sekunder yang digunakan berupa rekaman kejadian kecelakaan dan laporan investigasi atas 41 kecelakaan di PT X. Data sekunder tersebut kemudian diklasifikasikan sesuai dengan empat (4) tahapan kegagalan di metode HFACS, yaitu unsafe acts, precondition of unsafe acts, unsafe supervision, dan organizational influence. Pengklasifikasian ini divalidasi oleh dua ahli keselamatan kerja, di mana hasil validasinya relatif tinggi (96%). Hasil: Hasil penelitian menjelaskan bahwa faktor-faktor HFACS yang mempengaruhi kecelakaan terbesar berturut-turut adalah adverse mental state (51,2%), skill-based error (39%), routine violations (34,1%), dan tools/technological dan resource management (masing-masing 31,7%). Kemudian disusul oleh decision error (29,3%), inadequate supervision (22%), failed to correct problem dan organizational process masing-masing (17,1%), lalu supervisory violation dan organizational climate masing-masing (9,8%). Kesimpulan: Faktor-faktor HFACS yang memengaruhi kecelakaan kerja di PT X dapat digunakan sebagai masukan untuk perbaikan program K3 perusahaan guna menurunkan angka kecelakaan dengan memprioritaskannya pada faktor HFACS yang bersifat latent failure baru kemudian pada faktor active failure-nya, karena latent failure - jika diperbaiki- akan menjadi kunci untuk mencegah berulangnya kecelakaan.


The risks of working for the PT X , an oil and gas company located offshore Natuna are relatively high. Throughout 2018 – 2023 there were fluctuations in work accidents at PT. X. Even after two years (2020 and 2019) there was no work accident for the recordable injury category (cases above FAC), in 2021 there were 3 cases (1 RWDC and 2 MTC) and in 2022 there were 4 cases (1 LWDC, 1 RWDC, and 2 MTC). In 2023 there was 1 case (1 RWDC). Work accident victims in 2021 are dominated by contract workers and permanent workers, while work accidents in 2022 and 2023 all occur in contract workers. Most of the accidents that occur are directly caused by unsafe acts. Until now there has been no comprehensive analysis of accident investigation data that has been carried out by PT X to obtain the basic causal factors of all these accidents. Thus, research needs to be carried out, and because it is related to human factors, this research will analyze the factors that cause work accidents using the Human Factor Analysis and Classification System (HFACS) method. Objective: Analyzing the factors that influence work accidents at PT X between 2018 – 2023 using the HFACS method. Method: This research is descriptive analytical research with a qualitative approach. The secondary data used is in the form of recordings of accidents and investigation reports on 41 accidents at PT X . This classification was validated by two occupational safety experts, where the validation results were relatively high (96%). Results: The research results explain that the HFACS factors that influence the biggest accidents are adverse mental state (51.2%), skill-based errors (39%), routine violations (34.1%), and tools/technological and resources, respectively. management (31.7% each). Then followed by decision errors (29.3%), inadequate supervision (22%), failed to correct problems and organizational processes respectively (17.1%), then supervisory violations and organizational climate respectively (9.8%). Conclusion: The HFACS factors that influence work accidents in PT X can be used as input for improving the company's H&S program to reduce the number of accidents by prioritizing the HFACS factors which are latent failures and then the active failure factors, because latent failures - if corrected - will become key to preventing recurrence of accidents.

Read More
T-6952
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Lugina Prativi; Pembimbing: Izhar M. Fihir; Penguji: Indri Hapsari Susilowati, Farida Tusafariah
S-7625
Depok : FKM UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive