Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 30291 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Dwinda Listya Indirwan; Pembimbing: Kusharisupeni Djokosujono; Penguji: Trini Sudiarti, Ratu Ayu Dewi Sartika, Agus Triwinarto, Evi Fatimah
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan status gizi baduta usia 6-23 bulan berdasarkan composite index anthropometric failure (CIAF) di Kecamatan Babakan Madang tahun 2019. Desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional. Respponden yang berpartisipasi pada penelitian ini yaitu sejumlah 279 baduta dengan menggunakan metode purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan pada Mei- September 2019, meliputi pengukuran berat badan dan panjang badan, wawancara terstruktur menggunakan bantuan kuesioner, dan lembar 24-hour recall. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 43,4% baduta yang mengalami anthropomteric failure berdasarkan indikator CIAF. Berdasarkan hasil analisis multivariat, diketahui bahwa usia baduta menjadi faktor paling dominan pada terjadinya anthropomteric failure pada baduta usia 6-23 bulan di Kecamatan Babakan Madang tahun 2019 setelah dikontrol variabel riwayat ASI eksklusif dan riwayat penyakit diare (p=0,028, OR = 1,775 95% CI = 1,063-2,964). Perlu selalu diperhatikan pemberian asupan makanan anak yang aman, higienis, dan adekuat sesuai usianya.

The objective of the study is to determine the determinants of nutritional status of children aged 6-23 months based on the composite anthropometric failure index (CIAF) in Babakan Madang District in 2019. The study design used in this study was cross sectional. The sample used in this study were 279 children using the purposive sampling method. Data collection was conducted in May-September 2019. Data collection was carried out by measuring body weight and length, structured interviews using a questionnaire, and a 24-hour recall sheet. The results showed that 43.4% of the children had experienced anthropomteric failure based on CIAF indicators. Based on the results of the analysis, it is known that the age of the children is the most dominant factor in the occurrence of anthropomteric failure in children aged 6-23 months in Babakan Madang Subdistrict in 2019 after controlling for a history of exclusive breastfeeding and a history of diarrhea in the past 1 month. It is always necessary to pay attention to the intake of children who are safe, hygienic, and adequate according to their age.

Read More
T-5859
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nuril Aiffa Dewantari; Pembimbing: Ahmad Syafiq; Penguji: Asih Setiarini, Wahyu Kurnia Yusrin Putra, Evi Fatimah, Yekti Widodo
Abstrak: Kekurangan gizi pada balita terutama pada dua tahun pertama kehidupan masih merupakan salah satu permasalahan kesehatan masyarakat di Indonesia. Selain kekurangan gizi berdasarkan indikator tunggal BB/U, TB/U, BB/TB, balita juga berisiko mengalami permasalahan kurang gizi kombinasi. Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran status gizi balita umur 6-23 bulan berdasarkan indikator antropometri tunggal dan CIAF serta mengetahui hubungan antara status ASI eksklusif (inisiasi menyusui dini, ASI eksklusif), status MP ASI (inisiasi MP ASI, keragaman konsumsi makanan, protein hewani), penyakit infeksi (diare, ISPA, TB paru), tinggi badan ibu, status BBLR dan faktor dominan terhadap status gizi balita umur 6-23 bulan berdasarkan CIAF. Penelitian ini merupakan studi cross sectional menggunakan data sekunder Riskesdas 2018 dengan jumlah sampel 12.366 balita umur 6-23 bulan di Indonesia. Analisis bivariat dilakukan dengan uji chi square dan analisis multivariat dilakukan dengan uji regresi logistik dengan nilai signifikansi (p value< 0,05). Hasil penelitian menunjukkan terdapat 42,4% balita yang mengalami kurang gizi berdasarkan indikator CIAF. ASI eksklusif, inisiasi MP ASI, tinggi badan ibu, dan status BBLR berhubungan signifikan dengan status gizi berdasarkan CIAF dan status BBLR merupakan faktor dominan. Balita yang dilahirkan dalam kondisi BBLR berisiko mengalami kurang gizi sebesar 2,17 kali (95%CI: 1,8692,524) dibandingkan balita yang dilahirkan normal. Diperlukan peningkatan edukasi gizi melalui kolaborasi dengan kegiatan kemasyarakatan sehingga dapat meningkatkan pengetahuan dan kesadaran gizi pada masyarakat dan mencegah terjadinya permasalahan gizi.
Undernutrition in children under five especially the first two years of life was still one of public health problem in Indonesia. Besides undernutrition according to single indicator WAZ, HAZ, and WHZ, children might be risk of combination undernutrition problem. Until the first two years of life, children were in important periode of growing and developing. The aim of this study was to know nutrition status of children 6-23 months of age using a single indicator of anthropometry and CIAF, besides determining the relationship between exclusive breastfeeding status (initiation of early breastfeeding, exclusive breastfeeding), complementary feeding status (initiation of complementary feeding, dietary diversity, animal protein), infectious diseases (diarrhea, upper respiratory tract infection, pulmonary tuberculosis), maternal height, low birth weight status and the dominant factor of nutrition status in children 6-23 months of age using CIAF. This was crosssectional study using secondary datas on 12.366 children from Indonesia Basic Health Research 2018. Data analysis used chi square for bivariat and logistic regression for multivariate with significance value (p value < 0,05). The results of this study showed 42,4% children 6-23 months were undernutrition by using CIAF. Exclusive breastfeeding, initiation of complementary feeding, maternal height, and low birth weight status were significantly related to undernutrition based on CIAF with low birth weight status as the dominant factor. Children 6-23 months of age had 2.17 times risk (95% CI: 1.869-2.524) of undernutrition compared to children who were born normally. Increasing nutrition education was required by collaborating with public activities so that it would be able to increase nutrition knowledge and awareness moreover to prevent undernutrition.
Read More
T-6119
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ardini Debilauralita Nuraya; Pembimbing: Asih Setiarini; Penguji: Ratu Ayu Dewi Sartika, Wahyu Kurnia Yusrin Putra, Budi Prasetiyo, Irianto
Abstrak: Mortalitas anak kurang dari lima tahun sebagian besar dikarenakan kekurangan gizi. Sebesar 30,8% balita mengalami stunting di Indonesia dan 20,5% balita di Nusa Tenggara Barat menderita gizi kurang. Composite index of anthropometric failure adalah indeks yang digunakan untuk mengidentifikasi kegagalan antropometrik pada balita.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan kejadian anthropometric failure pada anak usia 6-59 bulan berdasarkan composite index of anthropometric failure (CIAF) di Kecamatan Moyo Utara Kabupaten Sumbawa NTB Tahun 2019
Read More
T-6312
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rizka Pratiwi; Pembimbing: Trini Sudiarti; Penguji: Sandra Fikawati, Wahyu Kurnia Yusrin Putra, Mugeni Sugiharto, Fajrinayanti
Abstrak:
Composite Index Anthropometric Failure (CIAF) adalah indikator alternatif penilaian status gizi pada anak-anak yang dapat mengidentifikasi semua anak yang kurang gizi, baik itu stunting, wasting, underweight, wasting dan underweight, stunting dan underweight, atau kombinasi ketiganya. Masalah gagal tumbuh pada balita berdasarkan CIAF di Kecamatan Bojongsari, Kota Depok pada tahun 2023 sebesar 29,8%. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan pengukuran konvensional dengan indikator tunggal dari stunting, wasting dan underweight di Kota Depok berdasarkan SKI 2023 secara berurutan yaitu 14,3%, 5,8% dan 12,8%. Penelitian bertujuan mengetahui determinan status gizi anak usia 6-59 bulan berdasarkan CIAF di Kecamatan Bojongsari, Kota Depok, Provinsi Jawa Barat tahun 2023. Penelitian kuantitatif dengan desain studi cross-sectional menggunakan data sekunder dan analisis data menggunakan uji chi-square dan regresi logistik ganda. Terdapat 317 anak usia 6-59 bulan dalam penelitian ini. Analisis bivariat menunjukkan bahwa variabel yang berhubungan dengan status gizi anak berdasarkan CIAF adalah asupan energi, asupan protein, asupan lemak dan asupan karbohidrat. Analisis multivariat menunjukkan bahwa asupan energi menjadi faktor risiko pada status gizi anak berdasarkan CIAF pada anak usia 6-59 bulan di Kecamatan Bojongsari, Kota Depok, Provinsi Jawa Barat tahun 2023 setelah dikontrol variabel asupan protein dan asupan lemak (p=0,006; OR = 3,493, 95% CI = 1,428 – 8,543).

Composite Index Anthropometric Failure (CIAF) is an alternative indicator for assessing nutritional status in children which can identify all children who are malnourished, whether they are stunting, wasting, underweight, wasting and underweight, stunting and underweight, or a combination of all three. The problem of failure to thrive in children aged 6-59 months based on CIAF in Bojongsari District, Depok City in 2023 is 29,8%. This figure is higher than conventional measurements with single indicators of stunting, wasting, and underweight in Depok City based on the 2023 SKI respectively, namely 14.3%, 5.8%, and 12.8%.. The research aims to determine the determinants of the nutritional status of children aged 6-59 months based on CIAF in Bojongsari District, Depok City, West Java Province in 2023. This quantitative research with cross-sectional study design used secondary data, and data analysis was conducted using Chi-square test and multiple logistic regression. There were 317 children aged 6-59 months in this study. Bivariate analysis showed that variables related to children’s nutritional status based on CIAF were energy intake, protein intake, fat intake and carbohydrate intake. Multivariate analysis shows that energy intake is the risk factor in children’s nutritional status based on CIAF in children aged 6-59 months in Bojongsari District, Depok City, West Java Province in 2023 after controlling for the variables protein intake and fat intake (p=0.006; OR = 3.493, 95% CI = 1.428 – 8.543).
Read More
T-6999
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dinar Farrasia Hafizhah; Pembimbing: Ahmad Syafiq; Penguji: Sandra Fikawati, Siti Arifah Pujonarti, Anies Irawati, Tria Astika Endah Permatasari
Abstrak: Terjadinya masalah gizi di 1000 hari pertama kehidupan dapat memberikan dampak yang buruk bagi anak yaitu dapat menyebabkan gagal tumbuh seiring dengan bertambahnya usia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan yang berhubungan dengan status gizi balita usia 6-59 bulan berdasarkan composite index of anthropometric failure (CIAF) di Indonesia (IFLS5 2014/2015). Penelitian ini menggunakan data sekunder Indonesia Family Life Survey (IFLS) tahun 2014. Total sampel sebanyak 4079 anak balita. Analisis data menggunakan uji chi square dan regresi logistik ganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan antara umur balita dengan CIAF, dimana balita yang berusia 6-23 bulan lebih banyak mengalami gagal tumbuh sebanyak 1,1 kali. Hasil penelitian juga menunjukkan ada hubungan antara keragaman makanan dengan kejadian CIAF, dimana anak balita yang keragaman makanan tidak tercapai berisiko 1,2 kali mengalami gagal tumbuh dan pendidikan ibu yang rendah menunjukkan ada hubungan yang signifikan dengan kejadian gagal tumbuh
The occurrence of nutritional problems in the first 1000 days of life can have a bad impact on children, which can cause failure to grow with age. This study aims to determine the determinants associated with the nutritional status of children aged 6-59 months based on the composite index of anthropometric failure (CIAF) in Indonesia (IFLS5 2014/2015). This study uses secondary data from the 2014 Indonesia Family Life Survey (IFLS). The total sample is 4079 children under five. Data analysis used chi square test and multiple logistic regression. The results showed that there was a relationship between the age of children and CIAF, where children aged 6-23 months experienced more anthropometric failure as much as 1.1 times. The results show that there is a relationship between dietary diversity and the incidence of CIAF, where children under five whose dietary diversity is not reached have a 1.2 times risk of anthropometric failure and mother's education shows a significant relationship with the incidence of anthropometric failure, mothers who have low education experience more anthropometric failure
Read More
T-6226
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nurani Rahmadini; Pembimbing: Trini Sudiarti; Penguji: Diah Mulyawati Utari, Rahmawati
Abstrak: Cakupan perilaku Kadarzi di Kota Depok masih rendah dan prevalensi gizi kurang, pendek, kurus tergolong masalah kesehatan masyarakat. Skripsi ini bertujuan untuk mengetahui faktor dominan terhadap status gizi balita 6-59 bulan berdasarkan Composite Index of Anthropometric Failure (CIAF). Data yang digunakan adalah hasil survei PSG Kadarzi Tahun 2011 di Kota Depok.
 
Survei yang dilakukan menggunakan rancangan penelitian Cross Sectional. Analisis univariat menunjukkan prevalensi gizi kurang (7,8%), pendek (22,3%), kurus (8,6%), dan gagal tumbuh (31%). Cakupan Kadarzi (29,8%), penimbangan balita (75,3%), konsumsi makanan beragam (54,5%), penggunaan garam beryodium (97,2%), dan suplementasi vitamin A (77,7%).
 
Analisis bivariat menunjukkan variabel yang memberikan perbedaan proporsi status gizi balita (BB/U) adalah umur balita, pendidikan ayah, pendidikan ibu, pengetahuan Kadarzi ibu, dan jumlah balita dalam rumah tangga. Variabel yang memberikan perbedaan proporsi status gizi balita (TB/U) adalah konsumsi makanan beragam, status Kadarzi, pendidikan ayah, dan pendidikan ibu. Variabel yang memberikan perbedaan proporsi status gizi balita (BB/TB) adalah penimbangan balita, pengetahuan Kadarzi ibu, dan jumlah balita dalam rumah tangga. Variabel yang memberikan perbedaan proporsi status gizi balita (CIAF) adalah penimbangan balita, status Kadarzi, dan pendidikan ibu.
 
Analisis multivariat menunjukkan faktor dominan terhadap status gizi balita (BB/U) adalah jumlah balita dalam rumah tangga dan faktor dominan terhadap status gizi balita (BB/TB dan CIAF) adalah penimbangan balita. Disarankan agar dalam menginterpretasikan status gizi balita menggunakan indeks CIAF dan meningkatkan penyuluhan mengenai Kadarzi dan pentingnya pemanfaatan posyandu.
 

Proportion of Kadarzi in Depok is low and prevalence of underweight, stunting, wasting is classified as public health problem. This research aims to determine the dominant factor on nutritional status of children 6-59 months based on Composite Index of Anthropometric Failure (CIAF). The data used is survey “PSG Kadarzi” 2011 in Depok.
 
Survey were conducted using a cross sectional study. Univariate analysis showed the prevalence of underweight (7,8%), stunting (22,3%), wasting (8,6%), and failure to thrive (31%). Proportion of Kadarzi (29,8%), children weighing (75,3%), various foods consumption (54,5%), iodized salt (97,2%), and vitamin A supplementation (77,7%).
 
Bivariate analysis showed variables which provide differences of nutritonal status proportion (WA) are children age, father's education, mother's education, mother's knowledge of Kadarzi, and number of children in the household. Variables which provide differences of nutritonal status proportion (HA) are consumption of various food, Kadarzi status, father's education, and mother's education. Variables which provide differences of nutritonal status proportion (WH) are children weighing, mother's knowledge of Kadarzi, and number of children in the household. Variables which provide differences of nutritonal status proportion (CIAF) are children weighing, Kadarzi status, and mother's education.
 
Multivariate analysis showed that number of children in the household is a dominant factor to the children nutritional status (WA) and children weighing is a dominant factor to the children nutritional status (WH and CIAF). It is recommended that interpretation of children nutritional status should use CIAF and increase promotion about Kadarzi and the importance of using Posyandu.
Read More
S-7801
Depok : FKM-UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ayu Anisadiyah; Pembimbing: Ratu Ayu Dewi Sartika; Penguji: Diah Mulyawati Utari, Tria Astika Endah Permatasari
Abstrak: Composite Index of Antropometric Failure (CIAF) merupakan indikator penilaian status gizi komposit (BB/U, PB/U, BB/PB) untuk menggambarkan seluruh masalah gizi yang dialami balita. Masalah gizi, tingkat pengangguran, dan kemiskinan Provinsi Banten cukup tinggi serta pendapatan penduduknya rendah. Desa Karangkamulyan adalah desa tertinggal dengan wilayah pertambangan. Penelitian bertujuan mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan status gizi balita berdasarkan CIAF di Desa Karangkamulyan, Kecamatan Cihara, Kabupaten Lebak tahun 2020. Penelitian menggunakan desain studi cross-sectional dengan menganalisis data primer penelitian ?Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Kecacingan pada Balita di Desa Karangkamulyan Kecamatan Cihara Kabupaten Lebak Tahun 2020?. Sampel penelitian adalah 141 balita berusia 24-59 bulan. Data dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menemukan balita dengan masalah gizi berdasarkan CIAF berjumlah 36,2%. Variabel yang berhubungan dengan status gizi balita berdasarkan CIAF, yaitu ASI Eksklusif (p-value 0,026), asupan energi (p-value 0,026), dan kebiasaan konsumsi protein nabati (p-value 0,003). Variabel pendidikan ibu, penghasilan keluarga, jenis kelamin, berat lahir, panjang lahir, asupan balita (protein, karbohidrat, lemak) kebiasaan konsumsi (protein hewani, sayur dan buah), dan riwayat penyakit (ISPA, diare) tidak berhubungan dengan status gizi balita. Dengan kondisi ini, pelaksanaan penanggulangan gizi dari orang tua, puskesmas, dan dinas kesehatan diharapkan dilakukan untuk menanggulangi masalah gizi balita.
Composite Index of Anthropometric Failure (CIAF) is an indicator of composite nutritional status assessment (WAZ, HAZ, WHZ) to describe all nutritional problems experienced by toddlers. In 2020, malnutrition, unemployment, poverty in Banten Province is high, and the income of the population tends to be low. Karangkamulyan Village is an underdeveloped village with mining areas. This study aims to determine the factors related to Toddler nutritional status based on CIAF in Karangkamulyan Village, Cihara District, Lebak Regency in 2020. The study used a cross-sectional study design by analyzing primary data from the study "Factors Associated with the Incidence of Worms in Toddlers in Karangkamulyan Village, Cihara District, Lebak Regency in 2020". The research sample was 141 toddlers aged 24-59 months. Data were analyzed by univariate and bivariate using the chi-square test. The results found that toddlers experienced nutritional problems based on CIAF were 36.2%. Variables related to the nutritional status of toddlers, is exclusive breastfeeding (p-value 0.026), energy intake (p-value 0.026), and vegetable protein consumption habits (p-value 0.003). The variables of mother's education, family income, gender, birth weight, birth length, toddler's intake (protein, carbohydrates, fat), consumption habits (animal protein, vegetables, and fruit), and disease history (ARI, diarrhea) were not related to toddler nutritional status. With this condition, the implementation of nutrition control from parents, public health centers, and the health office hoped to be carried out to overcome the toddler nutritional problems.
Read More
S-11056
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Meetry Rona Pangestika; Pembimbing: Siti Arifah Pujonarti; Penguji: Nurul Dina Rahmawati, Siti Masruroh
Abstrak:
Masalah kurang gizi pada anak usia 0-23 bulan baik itu stunting, wasting dan underweight baik di Sulawesi Barat maupun di tingkat nasional masih menjadi masalah serius. Ditambah lagi pada kenyataannya terdapat anak-anak yang memiliki dua atau lebih masalah kurang gizi secara bersamaan dan tidak ada satupun indikator konvensional yang benar-benar menggambarkan keseluruhan beban masalah kurang gizi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor dominan CIAF (composite index anthropometric failure) pada anak usia 0-23 bulan di Sulawesi Barat. Penelitian ini menggunakan desain penelitian cross sectional dengan memanfaatkan data sekunder dari Riskesdas 2018 dengan jumlah sampel sebanyak 395 anak. Analisis bivariat dilakukan mengunakan uji chi kuadrat sementara analisis multivariat menggunakan uji regresi logistic ganda. Hasil penelitian didapatkan prevalensi CIAF pada anak usia 0-23 bulan di Sulawesi Barat tahun 2018 sebesar 47.3 %. ISPA dan berat badan lahir memiliki hubungan signifikan dengan CIAF, dimana ISPA merupakan faktor dominan (OR= 2.13). Namun tidak ada hubungan yang signifikan antara CIAF dengan keanekaragaman konsumsi makanan (MDD), diare, TB Paru, MPASI Dini, imunisasi, status pekerjaan ayah, status pendidikan ibu, status pekerjaan ibu, wilayah tempat tinggal, Inisiasi Menyusu Dini (IMD), cara pembuangan tinja baduta, sumber air minum dan pemberian kapsul vitamin A. Kesimpulan pada penelitian ini yaitu anak yang mengalami ISPA dalam kurun waktu sebulan terakhir berisiko 2.1 kali mengalami CIAF sehingga upaya pencegahan penyakit infeksi berulang perlu ditingkatkan agar tidak berdampak pada masalah kurang gizi

Undernutrition in children under five especially aged 0-23 months like stunting, wasting, underweight either in West Sulawesi or nationally is still being a serious problem. In addition there are children who have two or more undernutrition problem simultaneously and none of the three conventional indicators are able to provide the overall prevalence burden of undernutrition. This research aims to determine the dominant factor of composite index anthropometric failure aged 0-23 months in West Sulawesi using Riskesdas Data 2018. This research used cross sectional design with a sample total of 395 children aged 0-23 months. Data were analyzed using chi square for bivariate analysis and multiple regression logistic for multiple analysis. The result showed that 47.3% children aged 0-23 months were undernourished by using CIAF. Acute respiratory infection and birth weight were significantly related to CIAF with acute respiratory infection is a dominant factor (OR 2.13). Meanwhile there were no significant relationship between minimum dietary diversity, diarrhea, lung tuberculosis, early complementary feeding, basic immunization, early initiation of breastfeeding, working status of mother, working status of father, education status of mother, area of residence, source of drinking water, feces children disposal, and supplementation of vitamin A. The conclusion of this research was children who have suffered ARI in the last month have a risk 2.3 times of experiencing CIAF. Therefore increasing efforts to prevent repeated ARI is needed
Read More
S-11400
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fitratur Rahmah Agustina; Pembimbing: Diah Mulyawati Utari; Penguji: Trini Sudiarti, Kusharisupeni Djokosujono, Salimar, Sugiatmi
Abstrak: Kekurangan gizi dapat mempengaruhi pertumbuhan fisik, intelektual dan juga dianggap sebagai penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor dominan yang berhubungan dengan kejadian underweight pada anak usia 6-23 bulan di Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor. Desain penelitian yang digunakan adalah cross-sectional. Penelitian ini menggunakan data sekunder yang diperoleh dari penelitian payung Hibah PITTA B tahun 2019. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 17,3% anak usia 6-23 bulan di Kecamatan Babakan Madang mengalami underweight, dan 6,1% di antaranya mengalami severly underweight. Dari 214 anak, 63,6% anak berusia 12-23 bulan, 50,5% laki-laki, 7% mengalami BBLR, 75,7% lahir dari ibu berpendidikan rendah, 47,7% memiliki ibu dengan pengetahuan kurang, 68,7% tidak memperoleh ASI eksklusif, 25,2% mengalami diare, 46,7 % mengalami defisit energi, dan 46,7% defisit protein. Hasil analisis chisquare menunjukkan bahwa tidak satupun variabel berhubungan dengan kejadian underweight. Namun, hasil uji regresi logistik menunjukkan bahwa usia anak (p value = 0,014), pendidikan ibu (p value =0,029) berhubungan signifikan dengan kejadian underweight. Adapun pengetahuan ibu (p value = 0,004) berhubungan terbalik dengan kejadian underweight. Pendidikan ibu merupakan faktor dominan kejadian underweight pada anak usia 6-23 bulan di Kecamatan Babakan Madang tahun 2019 (OR= 3,259, 95% CI ; 1,132-9,382). Peneliti menyarankan Kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor untuk memberikan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat, khususnya ibu yang memiliki anak usia 6-23 bulan tentang gizi bayi dan balita, gejala dan dampak dari kekurangan gizi, pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat, beserta faktor-faktor lainnya yang dapat menyebabkan kekurangan gizi pada anak
Read More
T-6110
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Eunike Bunga Putriani; Pembimbing: Triyanti; Penguji: Asih Setiarini, Salimar
Abstrak: Stunting atau pendek untuk anak seusianya, didefinisikan sebagai PB/U <-2 SD darimedian standar pertumbuhan anak milik WHO. Stunting memiliki dampak jangkapendek dan jangka panjang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktordominan kejadian stunting pada anak usia 6-23 bulan di Kecamatan Babakan Madangtahun 2019. Penelitian ini merupakan analisis data sekunder Gizi dan Kesehatan BalitaBabakan Madang dengan jumlah sampel 283 anak yang memenuhi kriteria inklusi daneksklusi, serta memiliki data yang lengkap. Variabel dependen yang digunakan yaitustunting, sementara variabel independennya adalah pendapatan keluarga, tingkatpendidikan ibu, usia ibu saat hamil, tinggi badan ibu, pemberian kolostrum, usia mulaipemberian MPASI, dan kerutinan kunjungan ke posyandu. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa prevalensi stunting pada anak usia 6-23 bulan mencapai 33,2persen, yang termasuk dalam kategori tinggi menurut klasifikasi WHO pada tahun1995. Hasil analisis bivariat dengan uji chi square menunjukkan bahwa terdapathubungan antara kerutinan kunjungan ke posyandu dengan kejadian stunting. Hasilanalisis multivariat dengan uji regresi logistik ganda menunjukkan bahwa kerutinankunjungan ke posyandu merupakan faktor dominan kejadian stunting (OR= 2,102; 95%CI 1,268-3,486). Berdasarkan hasil penelitian, saran bagi posyandu, yaitu menetapkanwaktu teratur untuk pelaksanaan posyandu, rutin memberikan penyuluhan terkait gizidan kesehatan ibu hamil, bayi, dan balita, serta melakukan kunjungan rumah pada ibuatau pengasuh bayi dan balita yang tidak rutin ke posyandu. Saran bagi masyarakat,yaitu untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan posyandu. Kemudian, saran untukpeneliti lain, yaitu melakukan penelitian dengan cakupan yang lebih luas danmendalam.Kata kunci:Anak usia 6-23 bulan; kerutinan kunjungan ke posyandu; stunting.
Read More
S-10268
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive