Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 33526 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Qurratu Ayunin; Pembimbing: Krisnawati Bantas; Penguji: Sudarto Ronoatmodjo, Taufan Harun Habibie
Abstrak:
Jumlah infeksi baru HIV di Indonesia masih tinggi yaitu mencapai 46.000 dan jumlah kematian yang disebabkan oleh HIV sejumlah 38.000 kematian pada Tahun 2018. Koinfeksi Hepatitis C pada pasien HIV cukup tinggi yaitu berkisar 2-15%.  Penelitian ini bertujuan meneliti pengaruh koinfeksi Hepatitis C terhadap kesintasan pasien HIV yang mendapatkan terapi antiretroviral di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tebet pada tahun 2015-2020. Penelitian dilakukan menggunakan desain kohort retrospekstif dengan analisis kesintasan. Pengambilan data dilakukan secara total sampling yang memenuhi kriteria inklusi sebesar 284 sampel. Data dianalisis secara univariat untuk melihat distribusi frekuensi dari masing-masing variabel penelitian yang diteliti. Analisis bivariat dilakukan untuk melihat hubungan masing-masing variabel independen dengan kesintasan pasien HIV dengan menggunakan Regresi Cox. Analisis multivariat dilakukan untuk mendapatkan model yang robust dan parsimonius dengan analisis Regresi Cox. Hasil penelitian menjukkan kesintasan kumulatif pasien HIV yaitu 85,4 %. Pengaruh koinfeksi Hepatitis C terhadap kesintasan pasien HIV yang mendapatkan terapi ARV di RSUD Tebet Tahun 2015-2020 didapatkan HR 1,94 (95% CI 0,81-4,6) dengan nilai p: 0,13 setelah dikontrol oleh variabel indeks massa tubuh dan status kerja. Tidak terdapat hubungan yang bermakna secara statistik dari koinfeksi Hepatitis C terhadap kesintasan pasien HIV yang mendapatkan terapi ARV di RSUD Tebet Tahun 2015-2020.

The number of new HIV infections in Indonesia is still high, reaching 46,000 and number of deaths caused by HIV is 38,000 in 2018. Hepatitis C coinfection in HIV patients is high, ranging from 2-15%. This study aims to examine the effect of hepatitis C coinfection on survival of HIV patients receiving antiretroviral therapy at Tebet Regional Public Hospital (RSUD) in 2015-2020. This research used retrospectif cohort design with survival analysis and used total sampling as much as 284 HIV patients. Data were analyzed univariately to see the frequency distribution of each variable studied. Bivariate analysis was performed to see the relationship of each independent variable with the survival of HIV. Multivariate analysis was performed to obtain robust and parsimonius models with Cox Regression. The results of research found cumulatif survival of HIV patients in RSUD Tebet were 85,4 %. The Effect of Hepatitis C Coinfection on Survival HIV Patients Who Receive Antiretroviral Therapy in RSUD Tebet from 2015 until 2020 had HR 1,94 (95% CI 0,81-4,6) after adjusted with body mass index and working status. There were no corelation from Hepatitis C Coinfection on Survival HIV Patients Who Receive Antiretroviral Therapy in RSUD Tebet from 2015 until 2020.

Read More
T-5905
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Marlina Meilani Simbolon; Pembimbing: Ratna Djuwita; Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, Adria Rusli, Endang Lukitosari
T-4138
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Lela Amelia; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Renti Mahkota, Abraham Simatupang
T-2759
Depok : FKM-UI, 2007
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fauziyah Hasani; Pembimbing: Nuning M. Kiptiyah; Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, Soroy Lardo, Mulia Sugiarti
Abstrak: Terapi Antiretroviral (ARV) merupakan revolusi dalam pengobatan pasien HIV/AIDS. Beberapa faktor prognosis yang diketahui mempengaruhi kesintasan hidup pasien terapi ARV adalah umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, status pernikahan, stadium klinis, status fungsional, kadar CD4 awal, cara penularan HIV, infeksi oportunistik, jenis ARV yang digunakan, dan kepatuhan minum obat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor prognosis yang mempengaruhi kesintasan hidup pasien terapi ARV di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto Jakarta tahun 2007-2017. Desain penelitian ini adalah kohort retrospektif menggunakan data rekam medis pasien terapi ARV di RSPAD Gatot Soebroto Jakarta. Sampel penelitian adalah pasien terapi ARV berusia dewasa yang naïve ARV di RSPAD Gatot Soebroto Jakarta pada tahun 2007-2017 sebanyak 812 pasien. Penelitian ini menemukan probabilitas kesintasan pasien terapi ARV selama 11 tahun pengamatan adalah sebesar 66,5%. Hasil analisis dengan Extended Cox menunjukkan bahwa faktor prognosis yang paling signifikan mempengaruhi kesintasan pasien terapi ARV adalah infeksi oportunistik, dimana pasien yang mempunyai infeksi oportunistik memiliki risiko kematian 9,5 kali dibandingkan yang tidak memiliki infeksi oportunistik.
Read More
T-5615
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Lily Banonah Rivai; Pembimbing: Lukman Hakim Tarigan; Penguji: Ratna Djuwita, Indang Trihandini, Janto G. Lingga, Dyah Erty Mustikawati
T-3032
Depok : FKM UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Talitha El Zhafira Hadi; Pembimnbing: Helda; Penguji: Nurhayati Adnan, Alfons M. Letelay, Suyono
Abstrak:
Angka mortalitas HIV/AIDS hingga saat ini masih menjadi permasalahan kompleks di tingkat global, terutama pada negara berkembang. Terapi Antiretroviral (ARV) menjadi salah satu bentuk pencegahan berkembangnya kasus HIV menjadi AIDS. Tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa ODHA yang telah memulai terapi ARV pun masih berisiko tinggi untuk mengalami kematian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kepatuhan terapi antiretroviral terhadap kejadian mortalitas pada pasien HIV/AIDS di RSUD Kabupaten Tangerang periode tahun 2006 – 2022. Desain studi yang digunakan adalah kohort restrospektif. Jumlah sampel pada penelitian ini adalah 924 pasien yang diobservasi melalui rekam medis pasien. Kelompok exposed yaitu 510 pasien yang patuh terapi ARV dan kelompok non-exposed yaitu 414 pasien yang tidak patuh terapi ARV. Berdasarkan hasil analisis, diketahui bahwa probabilitas kumulatif survival dan median survival time secara keseluruhan adalah 52,3% dan 7 tahun. Rata-rata waktu pengamatan survival pada tahun ke 8 dan median survival time pada tahun ke 7 pengamatan. Selain itu, diketahui pula terdapat pengaruh antara kepatuhan terapi ARV terhadap kejadian mortalitas pasien HIV/AIDS dengan nilai adjHR = 1,71 (95% CI: 0,03 - 3,18) setelah mengendalikan variabel usia dan infeksi oportunistik. Hasil penelitian ini dapat menjadi acuan dan pertimbangan dalam meningkatkan kepatuhan ODHA dalam menjalankan terapi ARV di kemudian hari supaya tren kematian dapat ditekan.

The mortality rate of HIV/AIDS is still being a complex problem at the global level, especially in developing countries. Antiretroviral Therapy (ARV) is one form of prevention of the development of HIV cases into AIDS. However, it is undeniable that people living with HIV who have started ARV therapy are still at high risk of death. This study aims to determine the effect of adherence to antiretroviral therapy on the survival of HIV/AIDS patients at General Hospital of Tangerang Regency for the period 2006 – 2022. The study design used a retrospective cohort design. The exposed group was 510 patients who were adherent to ARV therapy and the non-exposed group was 414 patients who were not adherent to ARV therapy. Based on the results of the analysis, it is known that the cumulative probability of survival and median survival time as overall are 52.3% and 7 years. The average survival observation time at year 8 and median survival time at year 7 observation. In addition, it is also known that there is an correlation between adherence to ARV therapy on the mortality incidence of HIV/AIDS patients with adjHR = 1.71 (95% CI: 0,03 - 3,18) after controlling for age and opportunistic infection variables. The results of this study can be a reference and consideration in improving the compliance of PLHIV in carrying out ARV therapy in the future so that the mortality trend can be suppressed.
Read More
T-6670
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dian Triana Sinulingga; Pembimbing: Bambang Sutrisna; Penguji: Yovsyah; Siti Nadia Tarmizi
Abstrak:

ABSTRAK Latar Belakang: Terapi ARV pada ODHA diharapkan dapat menurunkan angka kematian dan kesakitan serta menekan penularan HIV. Untuk mencapai tujuan MDG’s tahun 2015, diharapkan 90% ODHA sudah mendapatkan terapi ARV secara teratur. RSUD Arifin Achmad Pekanbaru telah memberikan terapi ARV sejak tahun 2004 tetapi belum pernah diteliti pengaruh ARV terhadap survival pasiennya. Metode : Penelitian ini menggunakan desain studi kohort retrospektif dengan 319 sampel dan dilakukan selama Mei-Juni 2013. Data penelitian diperoleh melalui data rekam medis RS. Data dianalisis dengan menggunakan analisis survival metode Kaplan-Meier dan dilanjutkan dengan analisis multivariate Hasil: Penelitian menunjukkan bahwa pasien yang memakan ARV secara teratur memiliki survival yang lebih baik. Pasien yang tidak memakan ARV atau memakan ARV tetapi tidak teratur, memiliki risiko kematian sebesar 42,5 kali lebih besar jika dibandingkan dengan pasien yang memakam ARV secara teratur. (p=0,01, 95%CI: 13-138). Jumlah kematian selama pengamatan hanya 5,8% pada kelompok yang teratur memakan ARV, sedangkan pada kelompok yang tidak mencapai 28%. Faktor lain yang turut meningkatkan survival adalah jumlah CD4 pada awal pengobatan >100 sel/mm³(p=0,01, HR=4,39, 95% CI(1,8-10,5). Walaupun kurang bermakna secara statistik, perlu mempertimbangkan pemberian ARV pada stadium klinis awal sebagai faktor yang turut meningkatkan survival ODHA mengingat stadium klinis dapat diperiksa di semua layanan kesehatan. (p=0,07, HR=2.3, 95%CI 0,9-5.6). Faktor pendidikan secara statistik juga bermakna membedakan survival pasien. Dalam penelitian ini stadium klinis dibuktikan sebagai confounding. Hal yang disarankan adalah meningkatkan cakupan penemuan dan tatalaksana dini kasus HIV/AIDS dengan melakukan pelacakan pada semua kasus mangkir, meningkatkan kepatuhan memakan ARV dan mengupayakan pendampingan kasus secara maksimal.


 ABSTRACT Background: ARV for HIV or AIDS patients is a hope to reduce the mortality, morbidity and to prevent the transmissions. To achieve the MDG the minister of health need to cover 90% AIDS people with ARV adherently. RSUD Arifin Achmad Pekanbaru have giving the therapy for AIDS patients since 2004, but have never studied the survival analysis and another factors that contribute to yet. Method: This study is a cohort retrospective design, with 319 samples. Take place in Arifin Achmad Hospital Of Pekanbaru, Riau Province in May-June 2013. The resource are medical record of HIV/AIDS patiens in VCT clinic. Was analyse by Kaplan-Meier survival analysis and then for further use multivariate analyses. Result: The study show that the survival of patiens who take ARV adherently is higher than the other one. The patients who no used ARV adherently will have mortality rate 42,5 times than the patients that used ARV addherently. (p=0,01, 95%CI: 13-138). The deaths amount only 5,8% on the adherently ARV patients, but at another side, the deaths amount increase by 28%. Another factor that contribute to increase the survival are CD4 amounts at the beginning of therapy that >100 sel/mm³(p=0,01, HR=4,39, 95% CI(1,8-10,5). We need to consider the clinical of AIDS stadium as one of factor that contribute to increase the survival too if use ARV at the beginner of clinical stadium. (p=0,07, HR=2.3, 95%CI 0,9-5.6). The educations level has the value statistically to distinguish the survival. In this study, the clinical stadium is a confounder. We sugest to improve the early detection and prompt treatment by tracking the lost of follow up patients, increase the adherent of ARV and by mentoring or”buddy” programe for all HIV cases.

Read More
T-3796
Depok : FKM-UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ainun Jhariah Hidayah; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Renti Mahkota, Rahmi Binarsih
Abstrak: Penyakit infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) sampai sekarang masih menjadi masalah kesehatan di dunia termasuk di Indonesia. Progresivitas penyakit pada pasien HIV/AIDS dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain faktor usia, genetik, penyakit infeksi lain seperti tuberkulosis dan hepatitis, faktor gizi, status imunologi dan lain-lain. Adanya pengobatan ARV belum mampu menyembuhkan penyakit namun mampu mengontrol progresivitas penyakit HIV dan AIDS dengan menekan replikasi virus, mengurangi timbulnya infeksi oportunistik. Walaupun program ini telah dilaksanakan, namun kematian akibat HIV tetap saja terjadi terutama pada tahun pertama pengobatan ARV. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui prediktor yang berhubungan dengan kematian pada pasien HIV-AIDS yang mendapatkan terapi ARV di RS dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor Tahun 2008-2012. Desain studi yang digunakan adalah kohort retrospektif dengan menggunakan data register ART dan Rekam Medik. Sampel berjumlah 396 pasien HIV yang menggunakan ARV. Analisis data dilakukan dengan menggunakan Regresi Cox. Hasil analisis multivariat menunjukkan prediktor kematian pasien HIV-AIDS yang mendapatkan ARV adalah status fungsional baring (RR=2,34, 95% CI:1,32-4,11), kategori IO berat (RR=2,11, 95% CI:1,26-3,54), dan status anemia (RR=2,56, 95% CI:1,74-3,77). Diperlukan perhatian khusus dan pemantauan bagi pasien HIV-AIDS yang menggunakan ARV dengan status fungsional baring, anemia, dan memiliki infeksi oportunistik yang berat. Kata kunci: ARV; HIV-AIDS; kohort retrospektif; kematian; prediktor
Human Immunodeficiency Virus (HIV) is still an issue in health sector in the world, particularly in Indonesia. Progression of disease is influenced by various factors including age, genetic, and other infectious diseases such as tuberculosis and hepatitis, nutritional factors, and immunological status. ARV therapy has not been able to cure the disease yet is able to control the progression of HIV/AIDS by suppressing viral replication which reduce the incidence of opportunistic infections. Although the program has been implemented, the deaths from HIV continue to occur, especially in the first year of ARV treatment. This study aims to investigate the predictors related to death in HIV-AIDS patients with ARV therapy in Dr. H. Marzoeki Mahdi Hospital in Bogor in 2008-2012. The study design was retrospective cohort using ART registration data and Medical Record. Number of samples were 396 HIV patients with ARV therapy. Data analysis was performed using Cox Regression. The multivariate analysis showed that the predictors of deaths in HIV-AIDS patients with ARV therapy were functional baring status (RR = 2.34, 95% CI: 1.32-4.11), heavy IO category (RR = 2.11, 95% CI : 1.26-3.54), and anemia status (RR = 2.56, 95% CI: 1.74-3.77). Special attention and monitoring are required for HIV/AIDS patients taking antiretroviral medications with functional status of baring, anemia, and having severe opportunistic infections. Keywords: ARV; HIV-AIDS; Retrospective cohort; Death; Predictors.
Read More
T-4871
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Intan Ully Athalia Sihombing; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Helda, Helwiah Umniyati, Irfan Maulana
Abstrak:
Kesintasan pasien HIV/AIDS sangat dipengaruhi oleh waktu inisiasi terapi antiretroviral (ART) setelah diagnosis ditegakkan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara periode inisiasi ART dengan kesintasan pasien HIV/AIDS selama tiga tahun di Kabupaten Bekasi. Penelitian menggunakan desain kohort retrospektif berbasis data sekunder dari Sistem Informasi HIV/AIDS (SIHA) Kabupaten Bekasi terhadap pasien yang didiagnosis HIV/AIDS pada periode 2017–2022. Sebanyak 1.554 pasien memenuhi kriteria inklusi. Analisis Kaplan-Meier digunakan untuk menggambarkan probabilitas kesintasan, sementara analisis regresi Cox time-dependent digunakan untuk mengetahui pengaruh waktu inisiasi ART terhadap risiko kematian, dengan mengontrol variabel sosiodemografi, klinis, pengobatan, dan perilaku. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesintasan tertinggi ditemukan pada kelompok pasien yang memulai ART dalam

The survival of HIV/AIDS patients is strongly influenced by the timing of antiretroviral therapy (ART) initiation following diagnosis. This study aimed to analyze the relationship between the ART initiation period and three-year survival among HIV/AIDS patients in Bekasi District. A retrospective cohort design was used, based on secondary data from the HIV/AIDS Information System (SIHA) of Bekasi District, involving patients diagnosed with HIV/AIDS during the 2017–2022 period. A total of 1,554 patients met the inclusion criteria. Kaplan-Meier analysis was employed to estimate survival probability, while time-dependent Cox regression analysis was used to assess the effect of ART initiation timing on the risk of death, controlling for sociodemographic, clinical, treatment-related, and behavioral variables. The results showed that the highest survival was observed among patients who initiated ART within
Read More
T-7397
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tiarma Talenta Theresia; Pembimbing: Nuning Maria Kiptiyah; Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, Haridana Indah, Irawati Panca
Abstrak: Pendahuluan. Penyakit infeksi HIV sampai saat ini masih menjadi masalahkesehatan masyarakat yang serius dengan jumlah penderita di Indonesia sampaidengan September 2015 sebanyak 184.929 kasus dan jumlah kumulatif AIDSsebanyak 68.197 kasus. Sejak penemuan ARV pada tahun 1996 sampai sekarangberarti kemungkinan sudah ada pasien yang mengkonsumsi ARV selama 20tahun, hal ini merupakan salah satu yang melatarbelakangi untuk meneliti lebihlanjut faktor-faktor yang mempengaruhi prognosis jangka panjang pada pasienHIV/AIDS. Kesintasan dan tidak memburuknya kondisi klinis pasien merupakanindikator keberhasilan dari pengobatan ARV pada pasien HIV/AIDS. Waktu yangoptimal untuk memulai pengobatan ARV adalah sebelum kondisi pasien menjadiburuk atau sebelum terjadi infeksi oportunistik. Monitoring imunologi denganjumlah sel CD4 adalah cara ideal untuk mengetahuinya. Batas nilai CD4 yangmenunjukkan peningkatan risiko progresivitas klinis penyakit adalah 200sel/mm3.Metode. Penelitian ini menggunakan data dari register pra-ART, register ARTdan rekam medis di Poli Khusus HIV RS Kanker Dharmais. Subyek penelitianadalah pasien HIV/AIDS yang berada dalam perawatan RS Kanker Dharmaisyang berusia 15 tahun keatas, pasien yang melakukan kunjungan pertama danmemulai terapi ARV pertama kali (naïve) di RS Kanker Dharmais selama waktupengamatan yaitu Januari 2004 sampai April 2006 dan terdapat data mengenaijumlah CD4 dalam jangka waktu 0-3 bulan sebelum memulai terapi ARV. Totalsubyek penelitian adalah 217 pasien. Variabel dependen adalah kematian (event)dan variabel independen adalah jumlah CD4 awal.Hasil. Dari 217 pasien, ditemukan 33 pasien yang mengalami kematian (event).Hazard Ratio (crude) kelompok jumlah CD4 ≤ 200 sel/mm3 adalah 1,94 (95%CI0,68-5,52) dengan kelompok jumlah CD4 >200 sel/mm3 sebagai reference.Hazard Ratio (adjusted) kelompok jumlah CD4 ≤ 200 sel/mm3 adalah 2,73(95%CI 0,94-7,96) setelah dikontrol oleh variabel potensial confounder jeniskelamin, stadium saat mulai ARV dan kepatuhan ambil obat (adherence).Kesimpulan. Pasien dengan jumlah CD4 awal ≤200 sel/mm3 memiliki laju kematian2,73 kali dibandingkan dengan pasien dengan jumlah CD4 awal >200 sel/mm3 setelahdikontrol oleh variabel potensial confounder yaitu jenis kelamin, stadium saat inisiasiARV, dan kepatuhan ambil obat (adherence).Kata kunci: jumlah CD4 awal, kesintasan 10 tahun, mortality rate
Introduction. HIV disease is still a serious public health problem in Indonesiawith the number of HIV-infected patients until September 2015 as many as 184929 and the number of cumulative AIDS cases as many as 68 197 cases. Since thediscovery of antiretroviral drugs in 1996 until now means the possibility ofexisting patients taking antiretroviral drugs for 20 years, and that is one of thereason to further examine the factors that affect the long-term prognosis inpatients with HIV/AIDS. Survival and not a worsening of the patient's clinicalcondition is an indicator of the success of ARV treatment in patients withHIV/AIDS. The optimal time to initiate antiretroviral treatment is before thepatient's condition getting worse or before opportunistic infections occur.Monitoring immunological CD4 count is the ideal way to find out. Limit CD4value that indicates an increased risk of clinical progression of disease was 200cells/mm3.Methods. This study uses data from the register of pre-ART, ART registers andmedical records in the Poli Khusus HIV RS Kanker Dharmais. Subjects werepatients with HIV/AIDS who are in the care of RS Kanker Dharmais, aged 15 andolder, patients who made the first visit and started ARV therapy was first (naïve)RS Kanker Dharmais for observation time is January 2004 until April 2006 andcontained the data the CD4 count within a period of 0-3 months before startingARV therapy. Total study subjects were 217 patients. The dependent variable wasdeath (event) and the independent variable is the initial CD4 count.Results. Of the 217 patients, found 33 patients who suffered death (event). HazardRatio (crude) group CD4 count ≤ 200 cells/mm3 was 1.94 (95 % CI 0.68-5.52)with a group of CD4 counts > 200 cells mm3 as a reference. Hazard Ratio(adjusted) group CD4 count ≤ 200 cells/mm3 was 2.73 (95 % CI 0.94-7.96) afterbeing controlled by the potential confounder variables gender, clincial stadiumwhile starting antiretroviral drugs and take medication compliance (adherence).Conclusions. Patients with baseline CD4 count ≤200 cells/ mm3 had a mortalityrate of 2.73 times compared with patients with baseline CD4 cell counts > 200cells/mm3 after being controlled by the potential confounder variables gender,clincial stadium while starting antiretroviral drugs, and take medicationcompliance (adherence).Keywords: CD4 count at baseline, 10 years survival, mortality rate
Read More
T-4788
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive