Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 25389 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Iif Syarifah Munawaroh; Pembimbing: Helda; Penguji: Sudarto Ronoatmodjo, Eny Martindah, Aria Kekalih
Abstrak: Toxoplasmosis merupakan penyakit zoonosis yang berasal dari parasit Toxoplasma gondii. Dampak dari toksoplasmois dapat menyebabkan kegagalan kehamilan, abortus spontan, kelainan fetus (hydrocephalus, korioretinis, kalsifikasi intrakranial), gangguan syaraf otak dan mata, bahkan dampak jangka panjang dapat menyebabkan penyakit Alzheimer. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisa hubungan kepemilikan hewan peliharaan dengan kejadian toksoplasmosis pada pasien klnik Aquatreat Bogor Tahun 2019. Desain penelitian yang digunakan desain penelitiaan adalah case control dengan pendekatan kuantitatif. Penelitian ini menggunakan data rekam medis pasien klinik Aquatreat yang berkunjung selama tahun 2019 dengan jumlah 286 pasien. Pasien yang bersedia dijadikan sampel penelitian sejumlah 108 pasien. Sampel tersebut didapatkan dengan cara Simple Random Sampling. Teknik analisa data yang dilakukan pada penelitian ini bertahap, meliputi analisa univariat, bivariat, stratifikasi dan analisa multivariat yang diolah menggunakan program statistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proporsi responden dengan kepemilikan hewan peliharaan pada kelompok kasus toksoplasmosis 53,70% dan yang tidak memiliki hewan peliharaan pada kasus toksoplasmosis yaitu 46,30%. Sedangkan kepemilikan hewan peliharaan pada kelompok yang tidak terjangkit toksoplasmosis adalah 29,63% dan yang tidak memiliki hewan peliharaan pada kelompok yang tidak terjangkit toksoplasmosis adalah 70,37%. Hasil analisis uji logistic regression model akhir menunjukkan hubungan yang signifikan antara kepemilikan hewan peliharaan dengan kejadian toksoplasmosis dengan OR 2,88 (95% CI: 1,146,90; p-value: 0,024) artinya bahwa kepemilikan hewan peliharaan pada kelompok toksoplasmosis berisiko 2,88 kali lebih tinggi mengalami toksoplasmosis dibanding kelompok yang tidak memiliki hewan peliharaan setelah dikontrol dengan variabel jenis riwayat transfusi darah, jenis kelamin, konsumsi daging berisiko dan kebersihan rumah
Toxoplasmosis is a zoonotic disease originated from parasite Toxoplasma gondii. toxoplasmosis can cause anembryonic gestation, spontaneous abortion, fetal abnormalities (hydrocephalus, chorioretinitis, intracranial calcification, mental retardation), brain and eyes neurological disorders. Toxoplasmosis also can lead to Alzheimer's disease as its long-term effect. The prevalence of Toxoplasmosis worldwide is about 25-30%. The purpose if this research is to analyze The Correlation Between Pet Ownership with The Toxoplasmosis Occurrence of The Patients in Bogor Aquatreat Clinic 2019. In this research, case control research design is used with a quantitative approach. This research is an observational research using data of medical record in the Aquatreat clinic by selecting the positive serological test results of Toxoplasmosis (IgG) for the case group and selecting the negative serological test results of Toxoplasmosis (IgG) for the control group. Afterwards, interviews of the case and the control groups were done by filling out the questionnaire (GForm). The data is taken from patients who visited in 2019 with total of 286 patients. The data that are willing to be used as samples are the data of 108 patients. The data analysis techniques used in this research were phased, those are univariate, bivariate, and multivariate analyzes which computerized by using a statistical program. The result showed that the proportion of the respondents who own pet in the toxoplasmosis case group is 53,70% and the group who does not own pet that is 46,30%. While the pet ownership in the control group is 29,63% and the group who does not own pet is 38 70,37%. The final model of logistic regression test analysis showed the significant correlation between pet ownership with the toxoplasmosis occurrence with OR value 2,88 (95% CI: 1,146,90; p-value: 0,024) which means the pet ownership in the case group has risk 2,88 times higher to have compared to the group who does not own pet after controlled by other variables that are blood transfusion history, gender, at-risk meat consumption and house cleanliness.
Read More
T-5997
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nurjannah; Pembimbing: Asri C. Adisasmita; Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, Regina Tiolina Sidjabat
Abstrak: Hepatitis A merupakan penyakit hepatitis akut yang disebabkan oleh virus RNA golongan picornaviridae yang dapat ditemukan dalam tinja penderita. Sarana utama penyebaran Hepatitis A ini melalui fecal-oral yang erat kaitannya dengan 3 hal yaitu air, sanitasi, dan higiene. Tiga hal tersebut tidak dapat dipisahkan dikarenakan tanpa toilet atau sanitasi yang baik, air akan mengontaminasi feses dan tanpa air bersih praktek higiene tidak dapat dilaksanakan. Hal ini yang menjadi landasan penelitian ini dilakukan, untuk mengetahui hubungan penggunaan dan kepemilikan jamban dengan kejadian Hepatitis A di Sekolah X Kabupaten Bogor tahun 2019 sebelum dan sesudah dikontrol oleh variabel kovariat. Penelitian ini menggunakan desain penelitian case-control dan pendekatan kualitatif dengan metode forum group discussion (FGD) untuk mendapat gambaran kondisi lingkungan sekolah dan penjamah makanan. Jumlah sampel kasus dalam penelitian ini adalah 30 orang dengan perbandingan kelompok kontrol 1:5 yaitu sebanyak 150 orang. Hasil penelitian ini tidak mampu membuktikan adanya hubungan secara statistik antara penggunaan dan kepemilikan jamban dengan kejadian hepatitis A sebelum dikontrol dengan variabel kovariat dengan p-value 0,254 dan OR 0,591 (CI 95% 0,239-1,462) dan sesudah dikontrol dengan variabel kovariat (kebiasaan mencuci tangan pakai sabun setelah BAB, kebiasaan membawa air minum dari rumah, pengolahan air minum, dan jenis kelamin) dengan p-value 0,146 dan OR 0,488 (CI 95% 0,185-1,284)
Read More
T-6037
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Agus Nawan; Pembimbing: Ratna Djuwita; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Evi Fatimah, Adang Mulyana
Abstrak: Tesis ini membahas hubungan frekuensi episode diare dengan kejadian stunting pada batita usia 12-36 bulan di kecamatan Tamansari kabupaten Bogor tahun 2019. Stunting atau sering disebut kerdil atau pendek adalah kondisi gagal tumbuh pada anak berusia di bawah lima tahun (balita) akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang terutama pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yaitu dari janin hingga anak berusia 23 bulan. Data Riskesdas 2018 menunjukkan prevalensi stunting di Indonesia sebesar 30,8%. Metode penelitian adalah kuantitatif dengan desain cross sectional dari menganalisis data primer dari 441 batita berusia 12-36 bulan. Hasil penelitian menunjukkan proporsi stunting pada balita usia 12-36 bulan sebesar 36,96%. Sedangkan proporsi stunting pada batita dengan frekuensi episode diare >1 kali dalam 6 bulan sebesar 54,55% lebih tinggi dibandingkan proporsi stunting pada batita dengan frekuensi episode diare ≤ 1 kali yaitu 30,31%. Analisis multivariat dengan uji cox regression menunjukkan hubungan yang signifikan antara frekuensi episode diare dengan kejadian stunting memiliki PR= 1,71 (95% CI: 1,24-2,34; p-value: 0,001), artinya peluang kejadian stunting pada batita dengan frekuensi episode diare > 1 kali dalam enam bulan sebesar 1,71 kali lebih tinggi bila dibandingkan dengan batita yang frekuensi episode diare ≤ 1 kali setelah dikontrol ASI eksklusif dan sanitasi. Peningkatan program promotof dan preventif guna pencegahan penyakit diare yaitu mengaktifkan kembali kegiatan penyuluahn meja 4 posyandu, peningkatan surveilans penyakit diare, asupan gizi yang seimbang, berkoordinasi dengan lintas sektor dalam peningatan higiene dan sanitasi, misalnya: penyediaan sarana air bersih, penyediaan saran BAB, dan media sarana edukasi dan sarana cuci tangan menggunakan sabun.

This study analyzes the relationship between the frequency of diarrhea episodes and stunting in toddlers aged 12-36 months in Tamansari sub-district, Bogor district in 2019. Stunting or often called dwarf or short is a condition of growth failure in children under five years due to chronic malnutrition and recurrent infections especially in the period of the First 1,000 days of life, from fetuses to children aged 23 months. The child is classified as stunting if the length or height is below minus two standard deviations. The prevalence of stunting in Tamansari subdistrict in 2019 is 23.01%. Cross sectional research method with cox regression analysis, primary data were taken in July 2019 in Tamansari sub-district, Bogor district from 50 active posyandu with a total sample of 441 toddlers, proportional random sampling technique. The results of the study were 163 (36.96%) stunting toddlers, there were 121 (27.44%) toddlers with diarrhea episode frequencies >1 time, the final cox regression analysis model showed a significant relationship between the frequency of diarrhea episodes with
stunting with a PR = 1 , 71 (95% CI: 1.24-2.34; p-value: 0.001) which means that toddlers with a frequency of diarrhea episodes >1 time have a chance of experiencing stunting 1.71 times higher when compared with toddlers whose frequency of diarrhea episodes ≤ 1 time after sanitation control and a history of exclusive breastfeeding.
Read More
T-5828
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ari Wijayanti; Pembimbing: Ratna Djuwita; Penguji: Evi Fatimah, Hikmah Kurniasari
Abstrak:
Stunting merupakan masalah kesehatan masyarakat yang perlu ditangani baik di Indonesia maupun Dunia. Dampak nyata dari masalah ini adalah terhambatnya perkembangan motorik, pertumbuhan mental dan meningkatnya risiko kesakitan dan kematian. Faktor risiko stunting pada anak salah satunya adalah kurangnya asupan gizi balita, terutama pemberian ASI eksklusif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pemberian ASI eksklusif dengan stunting pada batita 12-36 bulan di kecamatan Tamansari, kabupaten Bogor, tahun 2019. Desain penelitian yang digunakan adalah cross-sectional dengan menggunakan data primer. Sampel pada penelitian ini berjumlah 500 batita yang didapat dengan cara Proportional Random Sampling. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli 2019. Pengumpulan data dilakukan dengan pengukuran tinggi badan, panjang badan, wawancara dengan kuesioner dan food recall. Status stunting dinilai berdasarkan indikator TB/U < -2 z-score. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan analisis multivariat cox regresi dan besar pengaruh dinyatakan dalam Prevalensi Rasio (PR) dengan Confident Interval (CI) 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi stunting pada batita usia 12-36 bulan di kecamatan Tamansari, kabupaten Bogor tahun 2019 sebesar 39.2%. Hasil analisis multivariat menunjukkan batita yang tidak diberikan ASI eksklusif memiliki peluang sebesar 1,37 (95%CI: 1,03-1,83) kali mengalami stunting dibandingkan dengan batita yang diberikan ASI eksklusif setelah dikontrol oleh pendidikan ibu dan asupan kalori batita. Perlu dilakukannya peningkatan pendidikan ibu minimal SMA dan pemberian asupan makanan batita yang tinggi energi serta protein dan terjangkau harganya oleh masyarakat.

Stunting is a public health problem that needs to be addressed both in Indonesia and the World. The real impact of this problem is hampered motor development, mental growth and increased risk of morbidity and death. One of the risk factors for stunting in children is the lack of nutritional intake of infants, especially exclusive breastfeeding. This study aims to determine the relationship between exclusive breastfeeding with stunting in toddlers aged 12-36 months in Tamansari sub-district, Bogor district, 2019. The research design used was cross-sectional using primary data. The sample in this study amounted to 500 toddlers obtained by Proportional Random Sampling. This research was conducted in July 2019. Data collection was carried out by measuring height, body length, interviews with questionnaires and food recall. Stunting status was assessed based on the TB / U indicator <-2 z-score. The analysis used in this study uses multivariate cox regression analysis and the magnitude of the effect is expressed in the prevalence ratio (PR) with a 95% confident interval (CI). The results showed that the prevalence of stunting in toddlers aged 12-36 months in Tamansari sub-district, Bogor district in 2019 was 39.2%. The results of multivariate analysis showed that toddlers who were not given exclusive breastfeeding had a chance of 1.37 (95% CI: 1.03-1.83)  times stunting compared to toddlers who were given exclusive breastfeeding after being controlled by maternal education and toddler calorie intake. It is necessary to improve maternal education at least high school and to provide toddlers food intake that is high in energy and protein and affordable by the community.

Read More
T-5845
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hendi Hoer Apandi; Pembimbing: Trisari Anggondowati; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Adang Mulyana, Sulistyo
Abstrak:
Di Kabupaten Bogor tahun 2022 estimasi kasus TBC adalah 17.684. angka kematian TBC diestimasikan 2.367 kasus setara dengan 1 sampai 2 orang dari 100 penderita TBC meninggal. Tujuan penelitian ini untuk melihat bagaimana gambaran karakteristik pasien TB-SO, menghitung probabilitas survival kumulatif penderita TB-SO yang distratifikasi berdasarkan status DM, menganalisis hubungan DM dengan risiko kematian selama masa pengobatan pada penderita TB-SO setelah dikontrol variabel kovariat (demografi, klasifikasi TBC, dan riwayat pengobatan DM). analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analilsis deskriptif, survival dengan menggunakan Kaplan Meier, dan multivariat menggunakan cox regression. Dari 35.660 pasien terdaftar pada SITB Kabupaten Bogor dari bulan Januari 2022 sampai 31 Oktober 20223 populasi eligible 14.422 memenuhi kriteria inklusi dan eklusi yang analisis. Gambaran demografi penderita TB-SO tahun 2022 sampai 2023 umur < 45 tahun (60,84%), jenis kelamin laki laki (55,12%) Distribusi pasien TB-SO dengan DM pada usia

n Bogor Regency in 2022 the estimated TB cases will be 17,684. The TB death rate is estimated at 2,367 cases, equivalent to 1 to 2 people out of 100 TB sufferers dying. The aim of this study is to see how the characteristics of TB-SO patients are described, calculate the cumulative survival probability of TB-SO sufferers stratified by DM status, analyze the relationship between DM and the risk of death during the treatment period in TB-SO sufferers after controlling for covariate variables (demographics, TB classification , and history of DM treatment). The analysis used in this research is descriptive analysis, survival using Kaplan Meier, and multivariate using Cox regression. Of the 35,660 patients registered at the Bogor Regency SITB from January 2022 to October 31 2022, the eligible population of 14,422 met the inclusion and exclusion criteria for analysis. TB-SO sufferers from 2022 to 2023 were 38 (3.3%) TB-SO patients with DM who died, 75 (3.7%) aged ≤ 60 years, 193 (2.4%) men, 123 (2, 2%) were working, 24 (2.9%) were classified as extra pulmonary TB, 25 (11.9%) were HIV positive and 5 (3.8%) were receiving DM treatment with insulin. The mortality rate for TB-SO sufferers is 3.8 per 1000 person-months with a cumulative survival of 97.52%. The mortality rate for TB-SO patients with DM is higher compared to TB-SO without DM, namely 5.8 per 1000 person-months. Meanwhile, in TB-SO sufferers without DM, it was 3.7 per 1000 person-months with a survival probability of 97.73%. Bivariate test results found that TB-SO patients with positive DM had an HR value of 1.2 (95% CI 0.87-1.83). Multivariate analysis results in the final model of TB-SO patients with DM had a risk of 1.2 (95%CI 0.87-1.83) times greater risk of death compared to TB-SO without DM, and there was no evidence of convounding that influenced the relationship. DM on the risk of death in TB-SO patients.
Read More
T-7023
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muhamad Arif Musoddaq; Pembimbing: Budi Haryanto; Penguji: Ririn Arminsih Wulandari, Sri Tjahjani Budi Utami, Fitri Andayani, Catur Puspawati
Abstrak: Merokok berbahaya bagi perokok aktif maupun perokok pasif (Aditama, 2001).Asap rokok mengandung nikotin yang dapat memicu aktivitas kelenjar tiroid padamanusia (Utiger, 1998). Wanita lebih rentan mengalami hipertiroid (Greenspanand Baxter, 1994). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antarastatus merokok dengan kejadian hipertiroid pada pasien wanita usia subur diKlinik Balai Litbang GAKI Magelang tahun 2013-2014. Penelitian dilakukandengan disain kasus-kontrol. Penelitian melibatkan 51 responden pasien wanitausia subur penderita hipertiroid dan 102 responden pasien wanita usia suburdengan fungsi tiroid normal (eutiroid). Pengumpulan data dilakukan pada statusmerokok, umur, penggunaan kontrasepsi hormonal, melahirkan 1 tahun terakhir,tingkat stres, dan kebiasaan penggunaan garam beriodium rumah tanggaresponden. Data dianalisa menggunakan uji regresi logistik. Pasien wanita usiasubur terpajan asap rokok baik perokok aktif atau pasif berisiko mengalamihipertiroid 2,05 kali dari risiko pasien wanita usia subur di Klinik Balai LitbangGAKI Magelang setelah dikontrol variabel kontrasepsi hormonal dan tingkatstres. Menggunakan kontrasepsi hormonal menurunkan risiko hipertiroid,sedangkan stres berat meningkatkan risiko hipertiroid. Wanita usia suburhendaknya menghindari pajanan asap rokok dan melakukan manajemen stresuntuk mengurangi faktor risiko hipertiroid.
Kata kunci : kasus-kontrol, status merokok, hipertiroid, wanita usia subur,
Smoking is harmful to the active smokers and passive smokers (Aditama, 2001).Tobacco smoke contains nicotine, chemical that are known can leadhyperthyroidism in human (Utiger, 1998). This study aimed to determine therelationship between smoking status on hyperthyroidism in patients ofchildbearing age women in the Clinic of IDD (Iodine Deficiency Disorders)Research Center, Magelang in 2013-2014. The study was conducted with a case-control design. The study involved 51 childbearing-age women patients withhyperthyroidism patients and 102 childbearing-age women patients with normalthyroid function (euthyroid). Data collection was conducted on smoking status,age, hormonal contraceptive use, giving birth in the past one year, the level ofstress, and the habits of the use of iodized salt in the household. Data wereanalyzed using logistic regression. Chiilbearing-age women patients who wereactive/passive smokers at risk of hyperthyroidism 2.05 times the risk ofchildbearing-age women patients in the Clinic of Iodine Deficiency Disorders(IDD) Research Center, Magelang after controlled by hormonal contraceptivesand stress levels variables. Use of hormonal contraceptives reduce the risk ofhyperthyroidism, whereas severe stress increases the risk of hyperthyroidism.Childbearing-age women should avoid exposure to cigarette smoke and do stressmanagement to reduce risk factors for hyperthyroidism.
Keywords : case-control, smoking status, hyperthyroidism, childbearing agewomen
Read More
T-4282
Depok : FKM UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sakina Makatita; Pembimbing: Ratna Djuwita, Nurhayati Adnanl Penguji: Anies Irawati, Juzi Deliana
Abstrak:
Tesis ini membahas hubungan pola asuh dan pendidikan ibu dengan stunting pada batita Stunting merupakan suatu keadaan dimana anak dibawah lima tahun mengalami gagal tumbuh yang di akibatkan karena kekurangan asupan gizi kronis yang disebabkan oleh malnutrisi jangka panjang sehingga tinggi badan anak tidak sesuai dengan umur anak tersebut atau bisa dikatakan anak terlalu pendek jika dibandingkan dengan usianya

Stunting is a public health problem that needs to be addressed both in Indonesia and the World. The real impact of this problem is hampered motor development, mental growth and increased risk of morbidity  and death. One of the risk factors for stunting in children is the lack of nutritional intake of infants, especially exclusive breastfeeding. This study aims to determine the relationship between exclusive breastfeeding with stunting in toddlers aged 12-36 months in Tamansari sub-district, Bogor district, 2019. The research design used was cross-sectional using primary data. The sample in this study amounted to 500 toddlers obtained by Proportional Random Sampling. This research was conducted in July 2019. Data collection was carried out by measuring height, body length, interviews with questionnaires and food recall. Stunting status was assessed based on the TB / U indicator <-2 z-score. The analysis used in this study uses multivariate cox regression analysis and the magnitude of the effect is expressed in the prevalence ratio (PR) with a 95% confident interval (CI). The results showed that the prevalence of stunting in toddlers aged 12-36 months in Tamansari sub-district, Bogor district in 2019 was 39.2%. The results of multivariate analysis showed that toddlers who were not given exclusive breastfeeding had a chance of 1.37 (95% CI: 1.03-1.83) times stunting compared to toddlers who were given exclusive breastfeeding after being controlled by maternal education and toddler calorie intake. It is necessary to improve maternal education at least high school and to provide toddlers food intake that is high in energy and protein and affordable by the community.

Read More
T-5957
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Abdelrahman M S Alnweiri; Pembimbing: Nurhayati Adnan; Penguji: Helda, Hadianti Adlani
Abstrak:
Demam berdarah dengue (DBD) tetap menjadi masalah kesehatan masyarakat yang signifikan di Indonesia, dengan komplikasi pada fungsi hati yang sering dijumpai. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara peningkatan enzim transaminase hati hati (SGOT/SGPT) dan lama hari rawat inap (LOS) pada pasien dewasa DBD di RS Ummi Bogor selama periode Januari 2021–Desember 2023. Penelitian ini menggunakan desain retrospektif analitik kasus-kontrol berdasarkan data rekam medis. Variabel utama meliputi status peningkatan kadar SGOT/SGPT, lama rawat inap, komorbiditas, dan penggunaan obat hepatoprotektor. Analisis statistik mencakup uji Chi-square bivariat dan regresi logistik multivariat. Dari 786 pasien DBD, 329 (41,9%) mengalami peningkatan enzim transaminase hati hati. Rata-rata lama rawat inap pada pasien dengan peningkatan enzim transaminase hati hati adalah sekitar 5 hari, sedangkan kelompok tanpa peningkatan sekitar 4 hari (p < 0,05). Analisis multivariat menunjukkan bahwa peningkatan enzim transaminase hati hati secara mandiri berhubungan signifikan dengan lama rawat inap lebih lama (adjusted odds ratio 1,42; 95% CI 1,05–1,94). Komorbiditas dan tidak menerima terapi hepatoprotektor juga terbukti berhubungan signifikan dengan perpanjangan lama rawat inap. Temuan ini mengindikasikan bahwa gangguan fungsi hati pada pasien DBD berkaitan dengan masa rawat inap yang lebih panjang. Diharapkan deteksi dini dan penatalaksanaan gangguan hati sejak awal dapat meningkatkan hasil perawatan pasien.

Dengue fever remains a significant public health problem in Indonesia, and hepatic complications are frequently observed. This study aimed to analyze the relationship between elevated liver enzymes (SGOT/SGPT) and length of hospital stay (LOS) in adult dengue patients at UMMI Bogor Hospital from January 2021 to December 2023. We conducted a retrospective case-control study using medical records. The main variables included elevated SGOT/SGPT levels, length of stay, comorbidities, and hepatoprotective therapy. Statistical analysis involved bivariate Chi-square tests and multivariate logistic regression. Of the 786 dengue patients, 329 (41.9%) had elevated liver enzymes. The mean LOS was about 5 days for patients with elevated enzymes, compared to about 4 days for those without elevation (p < 0.05). Multivariate analysis showed that elevated liver enzymes remained independently associated with longer hospital stays (adjusted OR 1.42; 95% CI 1.05–1.94). In addition, comorbidities and lack of hepatoprotective therapy were also significantly associated with longer LOS. These findings suggest that liver involvement in dengue is linked to extended hospital stays. Early detection and management of hepatic dysfunction upon admission may improve patient outcomes.
Read More
T-7462
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mulyadi; Pembimbing: Renti Mahkota; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Ratna Djuwita, Toni Wandra, M. Sugeng Hidayat
Abstrak: ABSTRAK
 Sindrom metabolik merupakan sekumpulan gangguan metabolik yang dialami seseorang, meliputi obesitas, rendahnya kadar HDL, tingginya trigliserida, kadar gula darah puasa tinggi, dan hipertensi yang dapat meningkatkan risiko terhadap penyakit kardiovaskuler. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi dan hubungan antara aktifitas fisik dengan kejadian sindrom metabolik di Puskesmas Bogor Timur, Kota Bogor Tahun 2013. Studi cross sectional ini berlangsung pada bulan Mei 2013, dengan jumlah sampel 301 orang yang merupakan anggota Posbindu di Wilayah Kerja Puskesmas Bogor Timur, Kota Bogor Tahun 2013, data yang dikumpulkan meliputi kadar kolesterol HDL, kadar trigliseride menggunakan alat rapid test lipid panel, data gula darah puasa, tekanan darah dan ukuran lingkar perut.
Untuk IMT menggunakan indeks BB/TB2. Data wawancara meliputi data umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, pendapatan, aktifitas fisik, kebiasaan merokok, riwayat penyakit keluarga, IMT dan keluhan stress. Kemudian untuk data asupan energi, asupan karbohidrat, asupan lemak, dan asupan protein diperoleh menggunakan food recall 1 x 24 jam. Analisis data bivariat dengan uji chi square dan multivariat dengan cox regresi. Hasil studi menunjukkan prevalensi sindrom metabolik sebesar 31.6%. Hasil analisis multivariat model kausalitas diperoleh ada hubungan antara aktifitas fisik ringan dengan kejadian sindrom metabolik dengan PR 2.0 (95% CI 1.31 - 3.18), setelah dikontrol variabel umur, indeks massa tubuh dan asupan energi. 

ABSTRACT
The metabolic syndrome is a constellation of metabolic disturbances experience by a person, includes obesity, low HDL, high triglycerides, elevated fasting glucose and raised bood pressure which increase the risk of developing cardiovascular disease. This study aims to determine the prevalence and of metabolic syndrome at Puskesmas East Bogor City in 2013. Cross sectional study took place in May 2013, with total sample of 301 people who are members of Posbindu in work area at Puskesmas East Bogor, Bogor City in 2013. The data collected inculude HDL Cholesrol, triglyceride concentration using rapid test of lipid panel, fasting glucose, blood presure and abdominal circumference. 
For BMI using index BB/TB2. Interview data includes data of age, sex, education, occupation, income, physical activity, smoking habits, family history, BMI and stress. The data energy intake, carbohydrate, fat, and protein intake were obtained using food recall 1x 24 hours. Analysis of bivarite data with chi square test and multivariate Cox regression. The results of study show prevalence of metabolic syndrome was 31.6%. Multivariate analysis models obtained with casuality relationship between light physical activity metabolic syndrome with PR 2.0 (95% CI 1.31 to 3.18), after controling age, body mass index and energy intake.
Read More
T-3791
Depok : FKM-UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Melly Kristanti; Pembimbing: Helda; Penguji: Ratna Djuwita, Sylviana Andinisari, Frima Elda
T-5150
Depok : FKM UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive