Ditemukan 29388 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Nailul Hikmi; Pembimbing: Budi Haryanto; Penguji: Laila Fitria, Al Asyari, Didi Purnama, Wijayantono
Abstrak:
Pencemaran udara menyebabkan berbagai masalah kesehatan yaitu Infeksi Saluran pernapasan Akut (ISPA), bronchitis, iritasi mata, asma bronkial, iritasi kulit, penyakit kardiovaskuler dan kanker paru. Asma di Asia sampai saat ini masih menjadi masalah penyakit kronik utama. Prevalensi pada orang dewasa masih tergolong rendah dibandingkan dengn Eropa, akan tetapi tren kasus asma selalu terjadi peningkatan. Asma pada usia dewasa dapat disebabkan oleh polusi udara. Ibu rumah tangga yang tinggal disekitar kawasan pabrik semen serta menghabiskan sebagian waktunya didalam rumah dengan berbagai aktivitas rumah tangga beresiko terpajan polutan partikulat (PM2,5). Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pajanan PM2,5 udara ruang dalam rumah terhadap kejadian asma pada ibu rumah tangga disekitar kawasan pabrik semen Kelurahan Limau Manih. Penelitian ini menggunakan studi cross-sectional yang dilaksanakan pada bulan November-Desember 2020. Jumlah sampel sebanyak 258 ibu rumah tangga. Rata-rata konsentrasi PM2,5 dalam rumah yang menderita asma sebesar 38,514 µg/m 3 . Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh konsentrasi PM2,5 terhadap kejadian asma pada ibu rumah tangga disekitar kawasan pabrik semen dengan nilai p=0,005. Selain itu penelitian ini mengonfirmasi bahwa terdapat hubungan antara konsentrasi PM2,5 dalam rumah dan asma pada ibu rumah tangga setelah dikontrol dengan variabel keberadaan perokok dalam rumah, luas ventilasi dan kelembaban. Perlu dilakukan pengendalian risiko dengan pengaturan ventilasi untuk pertukaran udara, tidak merokok di dalam rumah serta menjaga kondisi kelembaban rumah dengan cara meningkatkan pencahayaan dan sirkulasi udara dengan menambah luas ventilasi dan membuka jendela rumah.
Air pollution causes various health problems, namely acute respiratory infections (ARI), bronchitis, eye irritation, bronchial asthma, skin irritation, cardiovascular disease and lung cancer. Asthma in Asia is still a major chronic disease problem. The prevalence in adults is still low compared to Europe, but the trend of asthma cases is always increasing. Asthma in adulthood can be caused by air pollution. Housewives who live around the cement factory area and spend part of their time in the house with various household activities are at risk of exposure to particulate pollutants (PM2,5). This study aims to determine the effect of PM2.5 exposure to indoor air on the incidence of asthma in housewives around the cement factory area of Limau Manih Village. This study used a cross-sectional study which was conducted in November-December 2020. The total sample was 258 housewives. The average concentration of PM2.5 in homes with asthma was 38.514 µg / m3. The results showed the effect of PM2.5 concentration on the incidence of asthma in housewives around the cement factory area with p = 0.005. In addition, this study confirms that there is a relationship between PM2.5 concentrations in the home and asthma in housewives after controlling for the variables of the presence of smokers in the house, the extent of ventilation and humidity. It is necessary to control risks by controlling ventilation for air exchange, not smoking in the house and maintaining humidity in the house by increasing lighting and air circulation by increasing the area of ventilation and opening the windows of the house
Read More
Air pollution causes various health problems, namely acute respiratory infections (ARI), bronchitis, eye irritation, bronchial asthma, skin irritation, cardiovascular disease and lung cancer. Asthma in Asia is still a major chronic disease problem. The prevalence in adults is still low compared to Europe, but the trend of asthma cases is always increasing. Asthma in adulthood can be caused by air pollution. Housewives who live around the cement factory area and spend part of their time in the house with various household activities are at risk of exposure to particulate pollutants (PM2,5). This study aims to determine the effect of PM2.5 exposure to indoor air on the incidence of asthma in housewives around the cement factory area of Limau Manih Village. This study used a cross-sectional study which was conducted in November-December 2020. The total sample was 258 housewives. The average concentration of PM2.5 in homes with asthma was 38.514 µg / m3. The results showed the effect of PM2.5 concentration on the incidence of asthma in housewives around the cement factory area with p = 0.005. In addition, this study confirms that there is a relationship between PM2.5 concentrations in the home and asthma in housewives after controlling for the variables of the presence of smokers in the house, the extent of ventilation and humidity. It is necessary to control risks by controlling ventilation for air exchange, not smoking in the house and maintaining humidity in the house by increasing lighting and air circulation by increasing the area of ventilation and opening the windows of the house
T-6039
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Devina Lenggo Putri; Pembimbing: Zakianis; Penguji: Ririn Arminsih, Laila Fitria, Satria Pratama, Diah Wati
Abstrak:
Gangguan fungsi paru merupakan penyakit tidak menular yang diperkirakan menjadi penyebab ketiga kematian di dunia pada Tahun 2030. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan panjanan partikulat (PM2,5) terhadap gangguan fungsi paru pada ibu rumah tangga di sekitar kawasan pabrik semen Desa Citeuruep, Kabupaten Bogor. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional. Jumlah sampel pada penelitian ini adalah 100 orang ibu rumah tangga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 57 orang ibu rumah tangga memiliki gangguan fungsi paru, 55% berumur lebih dari 40 tahun, 58% memiliki status gizi tidak normal, 59% memiliki ventilasi rumah tidak memenuhi syarat, 70% anggota keluarga merupakan perokok aktif, 67% menetap dirumah dengan jarak dari pabrik semen memiliki risko akan paparan debu, 100% Kelembaban rumah ibu rumah tangga tidak memenuhi syarat. Ibu rumah tangga yang terpajanan partikulat (PM2,5) tidak memenuhi syarat sebanyak 56,4% mengalami gangguan fungsi paru. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa semua varibel yang diteliti pada penelitian ini tidak memiliki hubungan yang signifikan terhadap gangguan fungsi paru pada ibu rumah tangga. Upaya pencegahan yang dapat dilakukan adalah melakukan sosialisasi kepada ibu rumah tangga untuk melakukan pola hidup bersih dan sehat. Selain itu, pihak puskesmas dapat melakukan penyuluhan terkait rumah sehat, pola konsumsi gizi seimbang serta inspeksi snaitasi rumah secara berkala.
Read More
T-5837
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Johan Iswara; Pembimbing: Budi Haryanto; Penguji: Budi Hartono, Ririn Arminsih Wulandari, Adang Mulyana, Norlia Restihani Sri Wahyuni
Abstrak:
Read More
Hipertensi merupakan masalah kesehatan masyarakat dengan prevalensi tinggi di Kecamatan Klapanunggal, wilayah dengan konsentrasi partikulat halus (PM2,5) melebihi rekomendasi WHO dan berdekatan dengan pabrik semen berskala besar. Pajanan PM2,5 di udara dalam rumah berpotensi meningkatkan risiko hipertensi, terutama pada ibu rumah tangga yang sebagian besar beraktivitas di dalam rumah. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara konsentrasi PM2,5 di udara dalam rumah dengan hipertensi pada ibu rumah tangga di sekitar pabrik semen di Kecamatan Klapanunggal. Penelitian potong lintang ini melibatkan 87 ibu rumah tangga di Desa Nambo, Kembangkuning, dan Klapanunggal yang memenuhi kriteria inklusi. Data dikumpulkan melalui wawancara serta pengukuran konsentrasi PM2,5 di udara dalam rumah dan tekanan darah, kemudian dianalisis secara univariat, bivariat, dan multivariat menggunakan regresi logistik. Hasil menunjukkan median konsentrasi PM2,5 sebesar 81 µg/m³ dan 67,8% responden mengalami hipertensi. Tidak ditemukan hubungan signifikan antara konsentrasi PM2,5 di udara dalam rumah dengan hipertensi (p = 0,647). Namun, status obesitas (p = 0,001; OR = 8,621) dan riwayat hipertensi keluarga (p = 0,033; OR = 3,094) berhubungan signifikan dengan hipertensi dan berperan sebagai variabel perancu bersama riwayat penyakit lainnya. Diperlukan upaya promotif dan preventif terintegrasi untuk pengendalian hipertensi dan obesitas serta penguatan pemantauan kualitas udara secara rutin melalui kerjasama lintas sektor.
Hypertension is a major public health problem in Klapanunggal District, an area with fine particulate matter (PM2.5) concentrations exceeding World Health Organization (WHO) recommendations and located near a large-scale cement factory. Indoor PM2.5 exposure may increase the risk of hypertension, particularly among housewives who spend most of their time indoors. This study aimed to examine the association between indoor PM2.5 concentration and hypertension among housewives living near a cement factory in Klapanunggal District. A cross-sectional study was conducted among 87 eligible housewives from Nambo, Kembangkuning, and Klapanunggal Villages. Data were collected throµgh interviews and measurements of indoor PM2.5 concentration and blood pressure, and analyzed using univariate, bivariate, and multivariate logistic regression. The median indoor PM2.5 concentration was 81 µg/m³, and 67.8% of respondents were hypertensive. No significant association was found between indoor PM2.5 concentration and hypertension (p = 0.647). However, obesity (p = 0.001; OR = 8.621) and a family history of hypertension (p = 0.033; OR = 3.094) were significantly associated with hypertension and acted as confounding factors, along with a history of other non-communicable diseases. Integrated promotive and preventive efforts are needed to control hypertension and obesity and to strengthen routine air quality monitoring throµgh multisectoral collaboration.
T-7465
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Febry Handiny; Pembimbing: Ema Hermawati; Penguji: Laila Fitria, Sri Tjahjani Budi Utami, Edy Hariyanto, Didi Purnama
T-5001
Depok : FKM UI, 2017
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Mifta Rahmiza; Pembimbing: Budi Haryanto; Penguji: Laila Fitria, Budi Hartono, Didik Supriyono
Abstrak:
Asma merupakan penyakit inflamasi (peradangan) kronik saluran napas. Asma termasuk penyakit dengan fatalitas yang rendah namun kasusnya cukup banyak dijumpai di masyarakat. WHO memperkirakan 100-150 juta penduduk dunia menderita asma dan akan terus bertambah sebesar 180.000 orang setiap tahunnya. Asma pada usia dewasa dapat disebabkan oleh polusi udara. Ibu rumah tangga yang tinggal di pemukiman sekitar industri semen serta menghabiskan sebagian besar waktunya di dalam rumah dengan berbagai aktivitas rumah tangga berisiko terpapar polutan partikulat (PM2,5). Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi hubungan konsentrasi PM2,5dalam rumah dan asma pada ibu rumah tangga di pemukiman sekitar industri semen Kecamatan Klapanunggal. Penelitian menggunakan studi cross-sectionalyang dilaksanakan pada April-Mei 2018. Jumlah sampel sebanyak 110 ibu rumah tangga dengan metode simple random sampling. Rata-rata konsentrasi PM2,5dalam rumah sebesar 50,5 μg/m3. Ditemukan sebanyak 30% ibu rumah tangga menderita asma. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan antara konsentrasi PM2,5dalam rumah dan asma pada ibu rumah tangga di pemukiman sekitar industri semen Kecamatan Klapanunggal, namun terdapat satu variabel konfounding, yaitu lubang asap dapur dimana p=0,013; OR= 3,52(1,38-8,93). Penelitian ini mengkonfirmasi bahwa terdapat hubungan antara konsentrasi PM2,5dalam rumah dan asma pada ibu rumah tangga yang dipengaruhi oleh lingkungan fisik rumah, sumber polutan dalam rumah, serta faktor individu tertentu. Perlu dilakukan pengendalian risiko dengan pengaturan ventilasi untuk pertukaran udara, tidak merokok di dalam rumah, tidak menggunakan bahan bakar berisiko, tidak menggunakan obat nyamuk bakar, serta pengendalian status obesitas.
Kata kunci:Polusi udara dalam ruang, PM2,5, Asma
Asthma is a chronic airway inflammatory disease (inflammation). Asthma is adisease with low fatalities yet the case is quite common in the society. WHO estimates 100-150 million people of the world suffer from asthma and will continue to grow by 180,000 people every year. Asthma in adulthood can be caused by air pollution. Housewives who live in settlements around the cement industry and spend most of their time in the home with various household activities is at risk of exposure to particulate pollutants (PM2.5). This study aims to identify the relationship between PM2.5 concentrations in the home with asthma on housewives at settlement around cement industry Klapanunggal sub-District. The study used a cross-sectional study conducted in April-May 2018. The sample size is 110 housewives with simple random sampling method. The average concentration of PM2.5 in the house is 50.5 μg / m3. Found as many as 30% of housewives suffered from asthma. The result showed no significant correlation between PM2.5 concentration in house with asthma on housewife at settlement around cement industry Klapanunggal sub district, but there is still one confounding variable, that is kitchen smoke hole where p = 0.013; OR = 3.52 (1.38-8.93). This study confirms that there is a relationship between PM2.5 concentrations in the home and asthma on housewives who are affected by the physical environment of the home, the source of home pollutants, as well as certain individual factors. Risk control is required with ventilation arrangements for air exchange, non-smoking within the home, no use of risky fuels, no use of mosquito coils, and controlling the obesity status.
Keywords: Indoor air pollution, PM2.5, Asthma
Read More
Kata kunci:Polusi udara dalam ruang, PM2,5, Asma
Asthma is a chronic airway inflammatory disease (inflammation). Asthma is adisease with low fatalities yet the case is quite common in the society. WHO estimates 100-150 million people of the world suffer from asthma and will continue to grow by 180,000 people every year. Asthma in adulthood can be caused by air pollution. Housewives who live in settlements around the cement industry and spend most of their time in the home with various household activities is at risk of exposure to particulate pollutants (PM2.5). This study aims to identify the relationship between PM2.5 concentrations in the home with asthma on housewives at settlement around cement industry Klapanunggal sub-District. The study used a cross-sectional study conducted in April-May 2018. The sample size is 110 housewives with simple random sampling method. The average concentration of PM2.5 in the house is 50.5 μg / m3. Found as many as 30% of housewives suffered from asthma. The result showed no significant correlation between PM2.5 concentration in house with asthma on housewife at settlement around cement industry Klapanunggal sub district, but there is still one confounding variable, that is kitchen smoke hole where p = 0.013; OR = 3.52 (1.38-8.93). This study confirms that there is a relationship between PM2.5 concentrations in the home and asthma on housewives who are affected by the physical environment of the home, the source of home pollutants, as well as certain individual factors. Risk control is required with ventilation arrangements for air exchange, non-smoking within the home, no use of risky fuels, no use of mosquito coils, and controlling the obesity status.
Keywords: Indoor air pollution, PM2.5, Asthma
T-5247
Depok : FKM UI, 2018
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Randy Novirsa; Pembimbing: Umar Fahmi Achmadi; Penguji: Sri Tjahjani Budi Utami, Riris Nainggolan
S-7253
Depok : FKM UI, 2012
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Mega Utami Basra; Pembimbing: R. Budi Haryanto, Laila Fitria; Penguji: Budi Hartono, Didik Supriyono
Abstrak:
Pencemaran udara yang berasal dari sektor transportasi, industri, dan aktivitas domestikmenjadi masalah bagi kesehatan masyarakat di Indonesia. Pengolahan semen banyakmelepaskan partikulat di udara, ditambah dengan kegiatan transportasi untukdistribusinya. Menurut data yang diperoleh dari laporan tahunan PuskesmasKlapanunggal dari tahun 2016-2018, penyakit gangguan pernapasan terbanyak berada didesa sekitar industri semen. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungankonsentrasi PM2,5 di dalam rumah dengan gangguan fungsi paru pada ibu rumah tanggadi sekitar industri semen, Kecamatan Klapanunggal. Penelitian ini menggunakan studicross-sectional yang dilaksanakan pada Bulan April-Mei 2018. Jumlah sampelsebanyak 97 orang ibu rumah tangga usia 20-55 tahun. Pengukuran konsentrasi PM2,5dilakukan dengan menggunakan alat Haz-Dust EPAM 5000 dan pengukuran fungsi parudilakukan dengan uji spirometri menggunakan alat spirometer. Hasil penelitianmenunjukkan rata-rata konsentrasi PM2,5 di udara rumah adalah 70,51 μg/m3. Semuasampel mengalami gangguan fungsi paru restriktif dan 8,2% diantaranya mengalamigangguan fungsi paru obstruktif. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa tidak adahubungan signifikan antara konsentrasi PM2,5 dengan gangguan fungsi paru restriktifpada ibu rumah tangga di Kecamatan Klapanunggal dengan nilai p=0,199. Perludilakukan monitoring dan penyuluhan kepada masyarakat mengenai cara menjagakualitas udara rumah sekaligus bekerja sama dengan perguruan tinggi atau lembagakesehatan lingkungan daerah setempat serta mengupayakan pemeriksaan fungsi parusecara berkala bagi masyarakat.
Kata kunci: PM2,5; gangguan fungsi paru, ibu rumah tangga
Air pollution from the transportation, industrial and domestic activities are problems forpublic health in Indonesia. Cement processing releases many particulates in the air, evenwith transport activities for its distribution. According to data obtained from the annualreport of Klapanunggal Puskesmas from 2016-2018, most respiratory diseases are in thevillages around the cement industry. This study aims to analyze the correlation of PM2.5concentration in household with impaired lung function among housewife aroundcement industry area, Klapanunggal sub-district. This study used a cross-sectional studyconducted in April-May 2018. The sample size is 97 housewives aged 20-55 years.Measurement of PM2.5 concentration was done by using Haz-Dust EPAM 5000 andpulmonary function measurement was done by spirometry test using spirometer tool.The results showed that the average concentration of PM2.5 in the house air was 70.51μg/m3. All samples had impaired restrictive lung function and 8.2% of them hadimpaired obstructive lung function. The result of bivariate analysis showed that therewas no significant correlation between PM2.5 concentration with restrictive lungfunction disorder in housewife in Kecamatan Klapanunggal with p value = 0,199.Monitoring and counseling needs to be done to the public about how to maintain thequality of house air as well as working with local universities or environmental healthagencies and seek fo regular lung function checks for the community.
Key words: PM2.5, impaired lung function, housewive.
Read More
Kata kunci: PM2,5; gangguan fungsi paru, ibu rumah tangga
Air pollution from the transportation, industrial and domestic activities are problems forpublic health in Indonesia. Cement processing releases many particulates in the air, evenwith transport activities for its distribution. According to data obtained from the annualreport of Klapanunggal Puskesmas from 2016-2018, most respiratory diseases are in thevillages around the cement industry. This study aims to analyze the correlation of PM2.5concentration in household with impaired lung function among housewife aroundcement industry area, Klapanunggal sub-district. This study used a cross-sectional studyconducted in April-May 2018. The sample size is 97 housewives aged 20-55 years.Measurement of PM2.5 concentration was done by using Haz-Dust EPAM 5000 andpulmonary function measurement was done by spirometry test using spirometer tool.The results showed that the average concentration of PM2.5 in the house air was 70.51μg/m3. All samples had impaired restrictive lung function and 8.2% of them hadimpaired obstructive lung function. The result of bivariate analysis showed that therewas no significant correlation between PM2.5 concentration with restrictive lungfunction disorder in housewife in Kecamatan Klapanunggal with p value = 0,199.Monitoring and counseling needs to be done to the public about how to maintain thequality of house air as well as working with local universities or environmental healthagencies and seek fo regular lung function checks for the community.
Key words: PM2.5, impaired lung function, housewive.
T-5242
Depok : FKM UI, 2018
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Anis Fitriyani; Pemb. Budi Haryanto; Penguji: Laila Fitria, Sri Tjahjani Budi Utami, Rina Hasriana, Jajat Nugraha
T-3972
Depok : FKM UI, 2013
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Aulia Rahmi Cheni; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari; Penguji: Haryoto Kusnoputranto, Budi Hartono, Laila Fitria, Erick Zicof, Desrizal
Abstrak:
Read More
Pencemaran udara menyebabkan berbagai masalah kesehatan salah satunya Infeksi Saluran pernapasan Akut (ISPA). Penyakit ISPA pada negara berkembang dengan angka kematian balita berada pada angka 40 per 1000 kelahiran hidup yaitu 15-20% pertahun pada golongan usia balita, kurang lebih 13 juta balita didunia meninggal setiap tahun terdapat pada negara berkembang. Prevalensi kejadian ISPA di Indonesia menurut Riset Kesehatan Dasar pada tahun 2018 yaitu sebanyak 9.3%. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh konsentrasi pajanan PM10 dalam ruang terhadap kejadian ISPA pada balita di Kelurahan Surau Gadang Kecamatan Nanggalo Kota Padang Tahun 2024. Dengan menggunakan desain studi cross-sectional dilaksanakan pada bulan Mei – Juni 2024. Jumlah sampel sebanyak 130 balita. Rata-rata konsentrasi PM10 73,3 µg/m3. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan konsentrasi PM10 terhadap kejadian ISPA pada balita di Kelurahan Surau Gadang dengan nilai p=0,012. Selanjutnya penelitian ini mengonfirmasi bahwa terdapat pengaruh antara konsentrasi PM10 dalam ruang terhadap kejadian ISPA pada balita setelah dikontrol oleh kelembaban dan luas ventilasi.
Air pollution causes various health problems, one of which is acute respiratory infections (ARI). ARI disease in developing countries with under-five mortality rates are at 40 per 1000 live births, which is 15-20% per year in the under-five age group, approximately 13 million under-fives in the world die every year in developing countries. The prevalence of ARI in Indonesia according to Basic Health Research in 2018 was 9.3%. This study aims to determine the effect of indoor PM10 exposure concentration on the incidence of ARI in toddlers in Surau Gadang Village, Nanggalo District, Padang City in 2024. Using a cross-sectional study design conducted in May - June 2024. The number of samples was 130 toddlers. The average PM10 concentration was 73.3 µg/m3. The results showed a relationship between PM10 concentration and the incidence of ARI in toddlers in Surau Gadang Village with a value of p = 0.012. Furthermore, this study confirms that there is an influence between indoor PM10 concentrations on the incidence of URI in toddlers after being controlled by humidity and ventilation area.
T-7112
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Dortua Lince Sidabalok; Pembimbing: Budi Hartono; Penguji: Laila Fitria, Ririn Arminsih Wulandari, Didik Supriyono, Nining Sunengsih
Abstrak:
Pneumonia merupakan penyebab kematian terbesar akibat infeksi pada balita di seluruh dunia, terutama di negara berkembang termasuk Indonesia. Polusi udara dalam ruangan menjadi salah satu faktor risiko yang mempengaruhi kejadian pneumonia disamping faktor individu dan infeksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara PM2,5 dalam udara ruang rumah dengan kejadian pneumonia pada balita. Penelitian ini bersifat analitik observasional menggunakan desain studi kasus kontrol. Sampel penelitian sebanyak 78 balita dari wilayah kerja Puskesmas Citeureup yang terdiri dari 26 kasus dan 52 kontrol. Data penelitian dikumpulkan menggunakan alat mini particle counter dan kuesioner, serta dianalisis menggunakan chi square dan regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa status gizi (OR=12,14; 95%CI: 1,33-110,29), status imunisasi (OR=5,51; 95%CI: 1,82-16,69), ASI eksklusif (OR=3,89; 95%CI: 1,27-11,88), luas ventilasi (OR= 4,09; 95%CI: 1,43-11,75), dan kebiasaan merokok dalam rumah (OR=4,09; 95%CI: 1,51-11,12) berhubungan dengan kejadian pneumonia pada balita. Konsentrasi PM2,5 dalam rumah berhubungan dengan pneumonia pada balita (aOR=4,092; 95%CI: 1,08-15,45) setelah dikontrol oleh status imunisasi, ASI eksklusif, luas ventilasi dan adanya orang yang merokok di dalam rumah.
Read More
Pneumonia is the major causes of death due to infection in children under five around the
world, especially in developing countries including Indonesia. Indoor air pollution is one
of the risk factors that increased the incidence of pneumonia besides individual factors
and infections. This study aimed to determine the relationship between indoor PM2,5 with
the incidence of pneumonia in children under five. This was an analytic observational
study with case control design. The sample study was 78 children under five selected
from working area of Puskesmas Citeureup consisted of 26 cases and 52 controls. The
data were collected by mini particle counter and a set of questionnaire, analyzed by chi
square and multiple logistic regression. The results showed that nutritional status
(OR=12.14; 95% CI: 1.33 to 110.29), immunization status (OR=5.51; 95% CI: 1.82 to
16.69), exclusive breastfeeding (OR=3.89; 95% CI: 1.27 to 11.88), ventilation (OR=4.09;
95% CI: 1.43 to 11.75), and smoking habits at home (OR=4.09; 95% CI: 1.51 to 11.12)
associated with the incidence of pneumonia. Indoor PM2.5 were associated with
pneumonia in children under five (aOR=4,092; 95%CI: 1.08 to 15.45) after being
controlled by immunization status, exclusive breastfeeding, ventilation and smoking
habits at home.
T-5836
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
