Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 33818 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Fitriana Rahayu; Pembimbing: Al Asyary; Penguji: Haryoto Kusnoputranto, Akhmad Buhaiti
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui factor-faktor yang mempengaruhi santri dalam melakukan pemeliharaan sanitasi lingkungan asrama khususnya di Pondok Pesantren X Sawangan Depok Tahun 2020. Desain studi yang digunakan adalah studi cross-sectional dengan jumlah sampel sebesar 173 santri. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan stratified proportionate random sampling serta kuesioner yang digunakan sebagai alat ukur penelitian. Hasil: Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebanyak 84 santri (48,0%) memiliki perilaku sanitasi lingkungan yang kurang baik.
Read More
S-10551
Depok : FKM-UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Syifa Aulia Hudriah; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari; Penguji: Ema Hermawati, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak:
Skabies adalah penyakit menular yang disebabkan oleh tungau Sarcoptes scabiei var. hominis. Penyakit ini dapat menular baik melalui kontak langsung maupun tidak langsung. Skabies masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, terutama pada individu yang hidup dalam kelompok, seperti di pondok pesantren. Penularan skabies dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan Personal Hygiene. Selain mengganggu kesehatan santri, skabies juga dapat memengaruhi aktivitas mereka sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor lingkungan dan Personal Hygiene yang berhubungan dengan kejadian skabies di Pondok Pesantren X, Kota Bogor pada tahun 2024. Desain penelitian ini adalah studi cross-sectional dengan sampel sebanyak 90 orang yang dipilih secara acak. Data dikumpulkan melalui wawancara menggunakan kuesioner dan pengukuran lingkungan, serta dianalisis menggunakan uji chi-square dan regresi logistik faktor prediksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 47 orang menderita skabies dan 43 orang tidak mengalami skabies. Faktor Personal Hygiene  yang memiliki hubungan signifikan dengan kejadian skabies antara lain kebersihan tangan (OR 4,67; 1,85-11,75), kebersihan kuku (OR 3,60; 1,50-8,64), kebersihan pakaian (OR 4,96; 1,82-13,53), kebersihan handuk (OR 4,03; 1,57-10,32), dan kebersihan tempat tidur (OR 31,27; 9,11-107,25). Sedangkan faktor lingkungan seperti suhu dan kelembapan tidak menunjukkan hubungan signifikan dengan kejadian skabies. Variabel yang paling berpengaruh terhadap kejadian skabies pada santri adalah kebersihan tempat tidur (OR 90,72; 14,83-554,9), kebersihan tangan (OR 6,64; 0,93-47,48), dan kebersihan pakaian (OR 4,31; 0,63-29,34).

Scabies is an infectious disease caused by the mite Sarcoptes scabiei var. hominis. This disease can be transmitted either through direct or indirect contact. Scabies is still a public health problem in Indonesia, especially in individuals who live in groups, such as in Pondok Pesantren. Scabies transmission is influenced by environmental factors and personal hygiene. Apart from disrupting the health of students, scabies can also affect their daily activities. This study aims to analyze environmental factors and personal hygiene that are associated with the incidence of scabies at Pondok Pesantren Data was collected through interviews using questionnaires and environmental measurements, and analyzed using the chi-square test and logistic regression of predictive factors. The results showed that 47 people suffered from scabies and 43 people did not. Personal hygiene factors that have a significant relationship with the incidence of scabies include hand hygiene (OR 4.67; 1.85-11.75), nail hygiene (OR 3.60; 1.50-8.64), clothing hygiene (OR 4.96; 1.82-13.53), towel hygiene (OR 4.03; 1.57-10.32), and bed hygiene (OR 31.27; 9.11-107.25). Meanwhile, environmental factors such as temperature and humidity do not show a significant relationship with the incidence of scabies. The variables that most influence the incidence of scabies in students are bed hygiene (OR 90.72; 14.83-554.9), hand hygiene (OR 6.64; 0.93-47.48), and clothing hygiene (OR 4.31; 0.63-29.34).
Read More
S-11859
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ii Sumarni; Pembimbing: Dewi Susanna, Zakianis; Penguji: Laila Fitria, Endah Kusumowardani, Casuli
T-3934
Depok : FKM UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Henti Rahmaningtyas Asih; Pembimbing: Sri Tjahyani Budi Utami; Penguji: Ema Hermawati, Sukanda
Abstrak: ABSTRAK
 
Skabies merupakan penyakit kulit yang disebabkan oleh Sarcoptes scabiei var
 
hominis yang sering menyebar di lingkungan yang padat penghuni seperti pondok
 
pesantren. Sanitasi lingkungan dan higiene personal memiliki hubungan yang erat
 
dengan kejadian skabies di pondok pesantren. Penelitian ini bertujuan untuk
 
menganalisis hubungan sanitasi lingkungan dan higiene personal santri dengan
 
kejadian skabies di Yayasan Pondok Pesantren Ash-Shiddiqiyyah Kabupaten
 
Purworejo Tahun 2015. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional
 
dengan total sampel sebanyak 64 santri pondok pesantren Ash-Shiddiqiyyah.
 
Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 37.5% santri menderita skabies.
 
Berdasarkan analisis univariat menunjukkan sebagian besar santri memiliki
 
pengetahuan tentang skabies yang baik (65.5%), sebagaian besar responden
 
(96.9%) menempati hunian dengan kepadatan hunian tidak memenuhi syarat,
 
dalam higiene personal santri menunjukkan bahwa variabel mandi pakai sabun
 
pada 63 santri (98.4%) memenuhi syarat, variabel pemakaian handuk pada 53
 
santri (82.8%) tidak memenuhi syarat, variabel pemakaian pakaian pada 44 santri
 
(68.8%) tidak memenuhi syarat, dan variabel penggunaan tempat tidur pada 55
 
santri (85.9%) tidak memenuhi syarat. Berdasarkan analisis bivariat, hanya
 
variabel pemakaian handuk yang memiliki hubungan bermakna dengan kejadian
 
skabies dengan nilai p 0.042 dan nilai OR 7.667.
ABSTRACT
 
Scabies is a skin disease caused by Sarcoptes scabiei var hominis. It often spreads
 
among crowded population quite rapidly such as in boarding school.
 
Environmental sanitation and personal hygiene have a close relationship with
 
incident of scabies in boarding school. This research is conducted to analyze the
 
correlation of environmental sanitation and personal hygiene students with
 
incidence of scabies at Ash-Shiddiqiyyah Boarding School Purworejo 2015. The
 
research uses cross-sectional study design with total sample of 64 students in Ash-
 
Shiddiqiyyah Boarding School. The result has shown that 37.5% students infected
 
scabies. Based on univariate analysis a large number of students have a good
 
knowledge of scabies (65.5%), most students (96.9%) occupy the room by
 
ineligible room density, personal hygiene students show that 63 students (98.4%)
 
eligible on bathing with soap, 53 students (82.5%) ineligible on usage of towels,
 
44 students (68.8%) ineligible on usage of clothes, and 55 students (85.9%)
 
ineligible on usage of bed. Based on bivariate analysis, usage of towels has
 
significant relationship towards the incidence of scabies among students with pvalues
 
0.042 and OR 7.667.
Read More
S-8814
Depok : FKM-UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ghina Labibah; Pembimbing: Bambang Wispriyono; Penguji: Dewi Susanna, Hidayani Fazriah
Abstrak: Latar Belakang : Skabies merupakan penyakit menular yang diakibatkan oleh tungau Sarcoptes scabiei varietas homonis. Penularan skabies dapat terjadi secara langsung maupun tidak langsung. Penyakit skabies sering terjadi pada lingkungan yang berpenghuni padat salah satunya adalah pondok pesantren yang memiliki asrama untuk tempat tinggal santrinya. Kejadian skabies selain mengganggu kesehatan santri namun akan berdampak kepada performa santri untuk menjalankan kegiatan sehari-hari. Berdasarkan hal tersebut, perlu dilakukan penelitian untuk menganalisis hubungan antara faktor lingkungan dan personal hygiene dengan kejadian skabies pada santri di pesantren. Tujuan : Mengetahui hubungan faktor lingkungan dan personal hygiene dengan kejadian skabies pada santri di pesantren X di Kota Bogor pada Tahun 2022. Metode : Studi cross sectional yang dilakukan pada 1 pesantren di Kota Bogor. 84 orang santri dipilih dengan random sampling untuk menjadi responden penelitian. Penelitian dilakukan dengan menggunakan kuesioner dan pengambilan data lingkungan secara langsung. Dara yang telah diperoleh akan dilakukan uji statistik univariat dan bivariat. Hasil : Sebanyak 65 orang (77,4%) mengalami skabies, dan 19 orang (22,6%) tidak mengalami skabies. Tidak ada hubungan yang signifikan antara faktor lingkungan yaitu suhu dan kelembaban dengan kejadian. Sedangkan faktor personal hygiene seperti kebersihan tangan, kebersihan kuku, kebersihan kulit, kebersihan handuk dan kebersihan pakaian memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian skabies. Kata Kunci : Skabies, Sarcoptes scabiei varietas homonis, Pesantren, Lingkungan, Personal Hygiene
Background : Scabies is an infectious disease caused by the mite Sarcoptes scabiei homonis variety. Transmission of scabies can occur directly or indirectly. Scabies disease often occurs in densely inhabited environments, one of which is Islamic boarding schools which have dormitories for students to live in. The incidence of scabies in addition to disturbing the health of students but will have an impact on the performance of students to carry out daily activities. Based on this, it is necessary to conduct research to analyze the relationship between environmental factors and personal hygiene with the incidence of scabies in students in Islamic boarding schools. Objective: To determine the relationship between environmental factors and personal hygiene with the incidence of scabies in students at Islamic boarding school X in Bogor City in 2022. Methods: Cross sectional study conducted at 1 Islamic boarding school in Bogor City. 84 students were selected by random sampling to become research respondents. The research was conducted using a questionnaire and direct environmental data collection. The data that has been obtained will be subjected to univariate and bivariate statistical tests. Results: As many as 65 people (77.4%) had scabies, and 19 people (22.6%) did not have scabies. There is no significant relationship between environmental factors, namely temperature and humidity with the incidence. Meanwhile, personal hygiene factors such as hand hygiene, nail hygiene, skin hygiene, towel cleanliness and clothing hygiene have a significant relationship with the incidence of scabies. Keywords : Scabies, Sarcoptes scabiei homonis variety, Islamic boarding school, Environment, Personal Hygiene
Read More
S-10967
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Syafiah Amalina Nasution; Pembimbing: Al Asyary; Penguji: Bambang Wispriyono, Umar Fahmi Achmadi, Yulia Maryani, Evi Naria
Abstrak: Skabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh Sarcoptes scabiei. Skabies diperkirakan menginfeksi lebih dari 200 juta orang setiap waktu. WHO telah menyatakan bahwa penyakit skabies merupakan salah satu bagian dari penyakit tropis yang terabaikan dan harus segera ditangani demi mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan. Kesadaran masyarakat untuk hidup bersih cenderung meningkat di masa pandemi covid-19. Meski demikian, penyebaran kasus skabies selama masa pandemi masih cukup tinggi. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian skabies pada masa pandemi di Pondok Pesantren X Kecamatan Panei, Kabupaten Simalungun tahun 2023. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan total sampel sebanyak 298 santri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 39,9% responden mengalami skabies dan sanitasi dasar pesantren tidak memenuhi syarat. Variabel yang berhubungan dengan kejadian skabies adalah usia (OR=7,922), jenis kelamin (OR=2,533), tingkat pendidikan (OR=5,821), personal higiene kulit (OR=1,889 pada kategori sedang, OR=2,519 pada kategori buruk), personal higiene tangan, kaki dan kuku (OR=1,718 pada kategori sedang, OR=2,068 pada kategori buruk), personal higiene rambut (OR=1,799 pada kategori sedang, OR=2,727 pada kategori buruk), kepadatan hunian (OR=3,054), suhu (OR=1,787), kelembaban (OR=1,803), dan protokol kesehatan (OR=2,395 pada kategori sedang, OR=3,295 pada kategori buruk). Selain itu dapat diketahui bahwa jenis kelamin merupakan faktor dominan dalam penelitian ini.
Scabies is a skin disease that is caused by Sarcoptes scabiei. Skabies is estimated to affect more than 200 million people at any time. The World Health Organization (WHO) has designated scabies as a neglected tropical disease and must be treated immediately to attain the Sustainable Development Goals. Public awareness to live clean tends to increase during the Covid-19 pandemic. However, the spread of scabies cases during the pandemic was still high. The purpose of this study is to determine the factors related with the incidence of scabies during a pandemic in X Boarding School, Panei District, Simalungun Regency in 2023. This study used a cross-sectional design with a total sample of 298 students. The study results showed 39,9% respondents experienced scabies and basic sanitation not eligible. The variable related to the incidence of scabies is age (OR=7,922), gender (OR=2,533), education level (OR=5,821), hygiene of skin (OR=1,889 medium category, OR=2,519 bad category), hygiene of hand, feet and nail (OR=1,718 medium category, OR=2,068 bad category), hygiene of hair (OR=1,799 medium category, OR=2,727 bad category), occupancy density (OR=3,054), temperature (OR=1,787), humidity (OR=1,803), and health protocol (OR=2,395 medium category, OR=3,295 bad category). In addition, it can be seen the gender is the dominant factor in this study.
Read More
T-6717
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Shabrina Banafsaj Zata Amani; Pembimbing, Dewi Susanna; Penguji: Aria Kusuma, R. Budi Haryanto
Abstrak: Kondisi kamar asrama pesantren dapat memicu timbulnya berbagai agen penyebab penyakit ISPA. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor lingkungan dan perilaku yang berhubungan dengan kejadian ISPA pada santri di Pondok Pesantren ?X? yang berlokasi di Provinsi Jawa Timur menggunakan desain studi cross sectional. Sebanyak 90 santri sebagai sampel penelitian dipilih sesuai kriteria inklusi yaitu bertempat tinggal minimal enam bulan di kamar asrama dan kriteria eksklusi yaitu sedang mengalami penyakit pernapasan tuberculosis (TBC). Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner Penyakit Berbasis Lingkungan dengan delapan pertanyaan terkait kejadian ISPA, kondisi lingkungan kamar asrama (kelembaban, luas ventilasi, kepadatan hunian) dan perilaku (mencuci tangan, olahraga, konsumsi vitamin C) yang diisi oleh para santri dibawah bimbingan guru yang telah diberikan arahan terkait pengisian kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 43,3% santri di Pondok Pesantren ?X? mengalami ISPA, seluruh kamar asrama dalam kondisi yang tidak memenuhi syarat, dan mayoritas santri telah telah menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat dalam pencegahan ISPA dengan baik. Secara statistik, ditemukan adanya hubungan signifikan pada perilaku olahraga teratur terhadap kejadian ISPA (p=0,017), sementara kepadatan hunian, kelembaban, perilaku mencuci tangan dengan air dan sabun, dan perilaku konsumsi vitamin C tidak memiliki hubungan yang signifikan terhadap kejadian ISPA.
The condition of boarding school dorm rooms can trigger the emergence of various agents that cause ARI disease. This study aims to analyze environmental and behavioral factors related to the incidence of ARI among students at Pondok Pesantren 'X' located in East Java Province using a cross sectional study design. A total of 90 students as the research sample were selected according to the inclusion criteria, namely residing for at least six months in a dormitory room and the exclusion criteria being experiencing tuberculosis (TB) respiratory disease. Data was collected using an Environment-Based Diseases questionnaire with eight questions related to the incidence of ARI, dorm room environmental conditions (humidity, ventilation area, occupancy density) and behavior (hand washing, exercise, vitamin C consumption) which were filled out by the students under the guidance of a teacher who had been trained. given directions regarding filling out the questionnaire. The results showed that as many as 43.3% of students at Pondok Pesantren 'X' experienced ARI, all dorm rooms were in conditions that did not meet the requirements, and the majority of students had implemented clean and healthy living behavior in preventing ARI properly. Statistically, it was found that there was a significant relationship between regular exercise behavior and the incidence of ARI (p=0.017), while occupancy density, humidity, hand washing behavior with water and soap, and vitamin C consumption behavior did not have a significant relationship with the incidence of ARI.
Read More
S-11083
Depok : FKM-UI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ani Widiastuti; Pembimbing: Dewi Susanna; Penguji: Ririn Arminsih, Didik Surpiyono
S-8223
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Chiara Maharani; Pembimbing: Chiara Susanna; Penguji: Suyud Warno Utomo, Aria Kusuma
Abstrak: Penyakit kulit masih menjadi masalah kesehatan yang tergolong tinggi di Indonesia dan santri yang tinggal di Pesantren berisiko lebih besar untuk terkena penyakit kulit. Tujuan dari penelitian ini untuk menganalisis hubungan antara faktor individu mencakup perilaku cuci tangan pakai sabun, berbagi peralatan pribadi, riwayat keluarga dengan penyakit kulit, dan sistem kekebalan tubuh, serta faktor kondisi asrama mencakup kondisi air, kelembaban ruangan, dan kepadatan hunian terhadap kejadian penyakit kulit pada santri di Pesantren X Khusus Laki-Laki. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional karena kondisi yang diukur menggambarkan kondisi pada saat pengumpulan data dilakukan yakni dengan menggunakan kuesioner mengenai Potensi Penyakit Berbasis Lingkungan di Pesantren kepada 71 santri di Pesantren X dengan bantuan guru dan data sekuner dari pihak Pesantren X terkait daftar kamar asrama, luas kamar asrama, dan daftar pembagian kamar asrama santri. Hasil dari penelitian yakni sebanyak 35 santri (49,3%) pernah mengalami penyakit kulit dan 36 santri lainnya (50,7%) tidak pernah mengalami penyakit kulit. Adapun jenis-jenis penyakit kulit yang pernah dialami oleh santri adalah kurap, kutu air, impetigo, kusta, bisul, cacar air, kutil, kudis, herpes, panu, eksim, vitiligo, dan rosacea. Penyakit kulit yang paling banyak dialami oleh santri adalah panu sebanyak 16 santri (22,5%) dan yang paling sedikit dialami adalah cacar air hanya 1 santri (1,4%). Tidak ada hubungan yang signifikan antara faktor individu maupun kondisi asrama terhadap kejadian penyakit kulit pada santri di Pesantren X Khusus Laki-Laki. Maka dari itu perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk menganalisis faktor-faktor lain yang memiliki hubungan yang signifikan terhadap kejadian penyakit kulit, namun tetap diperlukan juga adanya peningkatan penerapan personal hygiene dan menjaga kondisi lingkungan asrama Pesantren agar terhindari dari berbagai penyakit.
Skin disease is still a relatively high health problem in Indonesia and students living in Islamic boarding schools are at greater risk of developing skin diseases. The purpose of this study was to analyze the relationship between individual factors including hand washing behavior with soap, sharing personal utensils, family history of skin diseases, and the immune system, as well as dormitory condition factors including water conditions, room humidity, and residential density on the incidence of skin diseases in students at Islamic Boarding School 'X' for Boys. This study used a cross-sectional study design because the measured conditions described the conditions when data collection was carried out by using a questionnaire regarding the Potential for Environmental-Based Diseases in Pesantren to 71 students at Pesantren X with the help of teachers and secondary data from Pesantren X regarding the list of dorm rooms, the size of the dorm rooms, and a list of the distribution of the students' dormitory rooms. The results of the study were as many as 35 students (49.3%) had experienced skin diseases and 36 other students (50.7%) had never experienced skin diseases. The types of skin diseases that have been experienced by students are ringworm, water fleas, impetigo, leprosy, boils, chickenpox, warts, scabies, herpes, tinea versicolor, eczema, vitiligo, and rosacea. The most common skin disease experienced by students was tinea versicolor as many as 16 students (22.5%) and the least experienced was chickenpox, only 1 student (1.4%). There was no significant relationship between individual factors and dormitory conditions on the incidence of skin diseases in students at Pesantren 'X' for Boys. Therefore, it is necessary to conduct further research to analyze other factors that have a significant relationship to the incidence of skin diseases, but it is still necessary to increase the application of personal hygiene and maintain the environmental conditions of the boarding school dormitory in order to avoid various diseases.
Read More
S-10974
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Insyira Ranti Diamantha; Pembimbing: Zakianis; Penguji: Budi Hartono, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak:
Partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan pengelolaan sampah dapat dilakukan pada berbagai tingkatan, seperti pada tingkat rumah tangga. Partisipasi rumah tangga dalam pengelolaan sampah dapat dihitung dari keikutsertaannya dalam memilah dan mengumpulkan sampah pada program daur ulang sampah anorganik yang ada di sekitar tempat tinggalnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis tingkat partisipasi rumah tangga pada jenis program daur ulang sampah anorganik di Kawasan Bintaro Jaya Wilayah Kelurahan Pondok Pucung dan mengetahui faktor-faktor yang berkaitan dengan partisipasi rumah tangga tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain studi cross sectional dengan jumlah sampel sebanyak 147 rumah tangga. Variabel dependen adalah partisipasi rumah tangga dalam pengelolaan sampah melalui program daur ulang sampah anorganik sementara variabel independen yaitu tingkat pendidikan, pengetahuan mengenai sampah, sikap terhadap pengelolaan sampah, dukungan tokoh masyarakat, adanya informasi melalui sosialisasi, jenis program daur ulang sampah anorganik, tempat sampah terpilah, ketersediaan dan akses sarana prasarana program. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat partisipasi rumah tangga di Kawasan Bintaro Jaya Wilayah Kelurahan Pondok Pucung adalah 54.5% dengan tingkat partisipasi terbesar pada program donasi pada recycling center atau tempat penerima sampah untuk daur ulang. Adapun terdapat hubungan antara faktor-faktor yang tergolong ke dalam faktor enabling dan reinforcing, yaitu tempat sampah terpilah (pvalue <0.001), ketersediaan dan akses sarana prasarana program (pvalue <0.001), jenis program (pvalue = 0.009), dukungan tokoh masyarakat (pvalue <0.001), dan informasi melalui sosialisasi (pvalue <0.001).

Community participation in the implementation of waste management can be done at various levels, such as on household level. Household participation in waste management can be obtained by their sorting and collecting waste activities to the inorganic waste recycling program around their household. The purpose of this study is to analyze the household participation level on inorganic waste recycling programs in Bintaro Jaya area Pondok Pucung urban village region and to find out the factors related. This study used a quantitative method with a cross sectional study design with a total sample of 147 households. The dependent variabel is household participation in waste management through the inorganic waste recycling program, while the independent variables are education level, knowledge about waste, attitude towards waste management, support of community figures, information through socialization, types of inorganic waste recycling program, availability of segregated waste bins, and availability and access to program facilities. The results of this study indicate that the participation rate of households is 54.5% with the largest participation rate in the waste donation program to the recycling centers or garbage collectors for recycling. There is a relationship between the reinforcing and enabling factors to the household participation, which is the availability of segregated waste bins (pvalue <0.001), availability and access to program facilities (pvalue <0.001), types of inorganic waste recycling program (pvalue = 0.009), support of community figures (pvalue < 0.001), and information through socialization (pvalue <0.001).
Read More
S-11295
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive