Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 34702 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Donna Pratiwi; Pembimbing: Kemal N. Siregar; Penguji: Toha Muhaimin, Husein Habsyi, Baby Jim Aditya
Abstrak: Latar Belakang Laporan Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon menyebutkan tahun 2012 terdapat 637 kasus HIV, tahun 2013 meningkat menjadi 707 kasus dan tahun 2014 meningkat menjadi 805 kasus HIV. Hal ini terjadi karena adanya penularan HIV melalui transmisi seksual, termasuk pada kelompok WPS sebagai salah satu kelompok yang rentan terhadap penularan HIV. Estimasi jumlah WPS di Kabupaten Cirebon dan Kota Cirebon tahun 2016 sebanyak 720 WPS, namun hanya 67% saja yang memanfaatkan layanan tes HIV. Salah satu penyebab keengganan WPS dalam melakukan tes HIV adalah merasa dirinya berisiko rendah terhadap penularan HIV. Pemanfaatan layanan tes HIV oleh WPS pada penelitian ini dapat dipelajari melalui teori Health Belief Model. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan antara persepsi berisiko HIV/AIDS dengan pemanfaatan layanan tes HIV pada WPS di Cirebon tahun 2017. Metode Penelitian menggunakan rancangan crossectional. Sampel pada penelitian ini berjumlah 94 responden. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner dengan skala sikap untuk mengukur persepsi berisiko HIV. Hasil Pemanfaatan layanan tes HIV pada WPS di Cirebon mencapai 84%. Didapat 43.6% responden memiliki persepsi berisiko HIV tinggi. Berdasarkan analisis bivariat status perkawinan menikah/cerai hidup/cerai mati berhubungan dengan pemanfaatan layanan tes HIV (p = 0.031). Berdasarkan analisis multivariat didapat tidak ada hubungan antara persepsi berisiko HIV tinggi pada WPS dengan pemanfaatan layanan tes HIV setelah dikontrol dengan variabel status perkawinan (p = 0.513, OR = 1.49). Kesimpulan Sebagian besar WPS sudah memanfaatkan layanan tes HIV baik pada WPS yang memiliki persepsi berisiko HIV tinggi maupun persepsi berisiko HIV rendah
Read More
T-6007
Depok : FKM UI, 1998
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sonda Nur Assyaidah; Pembimbing: Pandu Riono; Penguji: Toha Mohaimin, Ahmad Syafiq, Nurhalina Afriana, Ovi Norfiana
Abstrak: Industri jasa layanan seks ada di Indonesia dan dikenal sebagai sumber penularan HIV dan IMS. Upaya pencegahan penularan HIV salah satunya melalui tes HIV. Tes HIV dapat memperluas layanan HIV yang meliputi perawatan, dukungan, dan pengobatan pada waktu yang tepat. Akan tetapi, masih banyak WPS yang belum bersedia memanfaatkan pelayanan tes HIV padahal tes ini sudah disediakan gratis begitu pula dengan pengobatannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan komprehensif HIV/AIDS dan persepsi berisiko terkena HIV terhadap pemanfaatan layanan tes HIV pada WPS baik WPSL maupun WPSTL di DKI Jakarta. Penelitian ini merupakan penelitian mix method (kuantitatif dan kualitatif) dengan desain Sequential Explanatory. Sampel pada penelitian ini adalah WPS berjumlah 447 orang dan 12 informan. Terdapat variasi pengaruh pengetahuan dan persepsi terhadap pemanfaatan layanan tes. Pengetahuan komprehensif mempunyai faktor proteksi 0,50 kali untuk memanfaatkan layanan tes HIV. Artinya, WPS yang tidak memiliki pengetahuan komprehensif lebih berpeluang untuk melakukan pemanfaatan layanan tes HIV, dibandingkan dengan WPS yang memiliki pengetahuan komprehenshif. Sedangkan persepsi berisiko terkena HIV mempunyai faktor proteksi 0,48 kali untuk melakukan pemanfaatan layanan tes HIV. Artinya, WPS yang tidak memiliki persepsi berisiko terkena HIV lebih berpeluang untuk melakukan pemanfaatan layanan tes HIV, dibandingkan dengan WPS yang memiliki persepsi berisiko terkena HIV.
Kata kunci : Pemanfaatan Layanan, Tes HIV, Wanita Pekerja Seks

Sex services industry is in Indonesia and known as a source of HIV and STI transmission.Prevention of HIV transmission one of them is HIV testing. HIV testing can expand HIV services that include care, support, and treatment in a timely manner. However, there are still many FSWs who are not willing to take advantage of HIV testing services, whereas this test has been provided free of charge as well as the treatment. This study aims to determine relationship between comprehensive knowledge of HIV/AIDS and risk perceptions of HIV to the use HIV testing services in WPS both WPSL and WPSTL in DKI Jakarta. This research is mix method (quantitative and qualitative) with Sequential Explanatory design. Samples in this study were WPS amounted to 447 people and 12 informants. There are variations in the influence of knowledge and perceptions on the utilization of test services. Comprehensive knowledge of HIV/AIDS has a protection factor of 0.50 times to take advantage of HIV testing services. That is, WPS who do not have comprehensive knowledge of HIV/AIDS more likely to make use of HIV testing services, compared with WPS with comprehensive knowledge of HIV/AIDS. While risk perceptions of HIV have a protection factor of 0.48 times to make use of HIV testing services. That is, WPS who do not have perceptions at risk of HIV are more likely to utilize HIV testing services, compared to female sex workers who have a risk perception of HIV.
Keywords: Service Utilization, HIV Test, Female Sex Worker
Read More
T-5423
Depok : FKM UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Liana Rica Mon Via; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Syahrizal, Rizky Hasby, B. Bayu Sabdo Kusumo
Abstrak: HIV masih menjadi masalah kesehatan global. Pelanggan WPS merupakan salah satu populasi kunci penyebaran HIV. Penggunaan kondom secara konsisten menjadi cara efektif pencegahan HIV dan IMS pada kelompok ini. Angka konsistensi penggunaan kondom kelompok ini masih rendah, yaitu: 35,82% pada konsistensi kategori 1 (selalu atau sering menggunakan kondom), dan 21,10% pada konsistensi kategori 2 (selalu menggunakan kondom). Konsistensi penggunaan kondom dipengaruhi beberapa faktor salah satunya adalah persepsi berisiko tertular HIV. Pada kelompok pelanggan diketahui yang mempunyai persepsi merasa berisiko tertular HIV adalah 45,37%. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif desain cross sectional untuk mengetahui hubungan persepsi berisiko tertular HIV dengan konsistensi penggunaan kondom pada pelanggan WPS yang menggunakan data STBP 2018-2019, dilaksanakan di 24 kabupaten/ kota di 16 provinsi di Indonesia pada tahun 2018 sampai 2019 dengan jumlah sampel sebanyak 4743 orang. Hasil penelitian menunjukkan: pada konsistensi penggunaan kondom kategori 1, terdapat hubungan signifikan antara persepsi berisiko tertular HIV dengan konsistensi penggunaan kondom dimana pelanggan WPS yang memiliki persepsi merasa berisiko tertular HIV memiliki kecenderungan 1,60 kali lebih tinggi untuk konsisten menggunakan kondom saat berhubungan seks dibandingkan yang memiliki persepsi merasa tidak berisiko setelah dikontrol oleh variabel umur pertama kali berhubungan seks dan pengetahuan tentang efektivitas kondom (PR=1,60, 95% CI=1,28-1,99). Sedangkan pada konsistensi penggunaan kondom kategori 2, terdapat hubungan signifikan antara persepsi berisiko tertular HIV dengan konsistensi penggunaan kondom dimana pelanggan WPS yang memiliki persepsi merasa berisiko tertular HIV memiliki kecenderungan 1,46 kali lebih tinggi untuk konsisten menggunakan kondom saat berhubungan seks dibandingkan yang memiliki persepsi merasa tidak berisiko setelah dikontrol oleh variabel umur pertama kali berhubungan seks dan pengetahuan tentang efektivitas kondom (PR=1,46, 95% CI=1,10-1,94). Pemberlakuan perda kewajiban kondom di lokalisasi dengan sanksi yang tegas disertai kerjasama sinergis antar lintas sektor, updating pemetaan berkala lokalisasi yang belum terjangkau disertai penyuluhan tentang HIV/ AIDS dan efektivitas kondom, diseminasi informasi untuk membentuk persepsi berisiko dan perilaku konsisten menggunakan kondom, penerapan manajemen penyediaan kondom di lokalisasi perlu dipertimbangkan untuk mengurangi kejadian HIV terutama di kelompok pelanggan WPS.
HIV is still a global health problem. FSW customers are one of the key populations spreading HIV. Consistent condom use is an effective way of preventing HIV and STI in this group. The consistency rate of condom use in this group is still low, namely: 35.82% in category 1 consistency (always or often using condoms), and 21.10% in category 2 consistency (always using condoms). The consistency of condom use is influenced by several factors, one of which is the perception of risk of contracting HIV. In the group of known customers who have a perception of feeling at risk of contracting HIV is 45.37%. This study is a quantitative cross-sectional design study to determine the relationship between perception of risk of contracting HIV with consistency of condom use in FSW customers using IBBS data 2018-2019, carried out in 24 regencies/cities in 16 provinces in Indonesia from 2018 to 2019 with a total sample of 4743 people. The results showed: in the consistency of category 1 condom use, there was a significant relationship between the perception of risk of contracting HIV and the consistency of condom use where FSW customers who had a perception of feeling at risk of contracting HIV had a 1.60 times higher tendency to consistently use condoms during sex than those who had a perception of feeling no risk after being controlled by the age variable of first intercourse sex and knowledge of condom effectiveness (PR=1.60, 95% CI=1.28-1.99). Meanwhile, in the consistency of category 2 condom use, there was a significant relationship between the perception of risk of contracting HIV and the consistency of condom use where FSW customers who had a perception of feeling at risk of contracting HIV had a 1.46 times higher tendency to consistently use condoms during sex than those who had a perception of feeling no risk after being controlled by age variables for the first time having sex and knowledge of condom effectiveness (PR=1.46, 95% CI=1.10-1.94). The implementation of mandatory condom localization bylaws with strict sanctions accompanied by synergistic cooperation between cross-sectors, updating the periodic mapping of unreached localizations accompanied by counseling on HIV/AIDS and condom effectiveness, dissemination of information to form risk perceptions and consistent behavior using condoms, the implementation of condom provision management in localization needs to be considered to reduce the incidence of HIV especially in FSW customer groups.
Read More
T-6683
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ade Nurlina; Pembimbing: Syahrizal Syarif; Nurhayati Adnan; Penguji: Victoria Indrawati, Nanang Ruhyana
Abstrak: Perkembangan infeksi Human Imunodeficiency Virus (HIV) di dunia sangatprogresif. Sejak ditemukan di dunia tahun 1981 sampai dengan tahun 2016 jumlahpenderitanya telah mencapai puluhan juta jiwa. Jumlah penderita baru infeksi HIV diKabupaten Cirebon memiliki kecenderungan yang sama dengan kondisi dunia. Padatahun 2017 jumlah penderita baru meningkat 50% dibanding tahun 2009. PenyebaranInfeksi HIV masih terkonsentrasi pada populasi kunci dengan pola transmisi utamamelalui hubungan seks tidak aman. Upaya pencegahan primer yang dilakukan adalahdeteksi dini status HIV seseorang dan konseling terhadap faktor risiko yang dimilikimelalui kegiatan Voluntary Counselling And Testing (VCT). Penelitian ini bertujuanuntuk mengetahui besarnya hubungan antara perilaku seks berisiko dengan infeksi HIVpada Klien VCT Di Kabupaten Cirebon.Penelitian ini menggunakan desain cross sectional menggunakan data sekunderkegiatan VCT tahun 2017. Populasi penelitian ini adalah klien yang berkunjung padakegiatan VCT, melakukan konseling pra test, tes HIV dan konseling pasca menerimahasil tes. Klien yang berkunjung terdiri dari terdiri dari populasi kunci (gay/LSL, ,penasun, penjaja seks (PS), pelanggan PS, waria, dan WBP) serta pasien TB danpasangan risti. Dilakukan analisis regresi logistik untuk mendapatkan estimasi besarhubungan antara perilaku seks berisiko dengan infeksi HIV setelah dikendalikanvariabel kovariat.Proporsi infeksi hiv pada klien VCT di Kabupaten Cirebon tahun 2017 sebesar3,0%, sedangkan proporsi perilaku seks berisiko sebesar 80,4%. Didapatkan besarhubungan (POR) antara perilaku seks berisiko dengan infeksi HIV pada klien VCT diKabupaten Cirebon sebesar 2,23 (95% CI ; 1,019-4,899) setelah dikendalikan jeniskelamin.Proporsi perilaku seks berisiko pada klien VCT sangat tinggi, klien VCT yangmelakukan perilaku seks berisiko berpeluang terinfeksi HIV sebesar 2,23 kalidibandingkan dengan klien VCT yang tidak melakukan perilaku seks berisiko.Direkomendasikan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon agar dapatmeningkatkan kegiatan promotif dan preventif yang bertujuan untuk memberikanpengetahuan dan keterampilan pencegahan infeksi HIV kepada masyarakat , melakukanpelatihan petugas lapangan dalam hal tehnik advokasi dan regulasi, meningkatkanfrekuensi kegiatan VCT pada populasi kunci dan meningkatkan durasi serta kualitaskonseling dalam kegiatan VCT.Kata kunci:HIV, VCT, Perilaku seks berisiko, Kabupaten Cirebon
The progression of Human Immunodeficiency Virus (HIV) infection in theworld is very progressive. Since found in 1981 until 2016 the number of cases hasreached tens of millions of lives. The number of new HIV infections in CirebonRegency has the same as the condition of the world. In 2017 the number of new casesincreased by 50% compared to 2009. The spread of HIV infection is still concentratedin the key population with the main transmission pattern through unsafe sex. Primaryprevention undertaken are early detection of a HIV status and counselling of riskfactors through Voluntary Counseling and Testing (VCT) activities. This study aims todetermine the magnitude of the association between risky sexual behavior with HIVinfection on VCT Clients in Cirebon Regency.This was cross sectional study using secondary data of VCT in 2017. Thepopulation is clients who visit VCT clinic, doing pre-test counselling, HIV test andpost-test counselling. Clients are key populations (gay / MSM, customer sex workers,IDUs, sex workers, transgender, and prisoners), TB patients and legaly sex partner.Logistic regression analysis was used to estimate association between risky sexbehavior and HIV infection after controlled covariate variables.Nearly 3.0%. (85/2,858) of tested clients were positif HIV and 80.4%(2,299/2.858) client had risky sexual behavior. There was a significant associationbetween risky sex behavior and HIV infection on VCT clients in Cirebon Regency(Adjusted POR=2.23 (1.019-4.899) after controlling to gender.The proportion of risky sex behaviors in VCT clients is very high, VCT clientswho engage in sex-risk behaviors had a risk of 2.23 times for HIV infection comparedto VCT clients who do not engage in risky sexual behavior. It is recommended to theCirebon Health Office to improve promotive and preventive programs to enhancingcommunity knowledge and skills in preventing HIV infection, conducting outreachtraining in terms of regulatory and advocacy techniques, increasing the frequency ofVCT and improving the duration and quality of counselling in VCT.Key words:HIV, VCT, Risky sexual behavior, Cirebon Regency.
Read More
T-5137
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Delistia Afifi; Pembimbing: Meiwita Budiharsana; Penguji: Martya Rahmaniati Makful, Lea Meirina Trisnawati
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor perilaku berisiko yang dapat mempengaruhi kejadian HIV pada WPS di Kota Jayapura. Metode: Sebanyak 361 WPS terpilih sebagai sampel melalui Time Location Sampling (TLS) dan Simple Random Sampling (SRS). Uji statistik yang digunakan pada penelitian ini adalah chi square dan regresi logistik. Variabel yang diikutsertakan dalam analisis ini meliputi variabel karakteristik demografi dan faktor perilaku berisiko yang dilakukan oleh WPS. Hasil: Persentase HIV pada penelitian ini diestimasikan mencapai 6.6%. Hasil analisis multivariabel menunjukkan variabel yang berhubungan dengan kejadian HIV diantaranya: (a) usia muda [p=0.03; 18-24 tahun: AOR=2.92; 95% CI=0.89-9.57 | 25-34 tahun: AOR= 3.93; 95% CI=1.33-11.63]; (b) usia seks pertama kali yang terlalu din [p=0.03; AOR=3.31; 95% CI=1.09-10.05]; (c) penggunaan kondom [p=0.03; AOR-0.10; 95% CI=0.01-0.81].
Read More
S-10786
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Anggia Erma Rini; Pembimbing: Anwar Hasan; Penguji: Syahrizal Syarif, Joedo Prihartono, Husein Hasbyi
T-4047
Depok : FKM UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Triana Rachmawati Waznah; Pembimbing: Indang Trihandini; Penguji: Kemal N. Siregar, Indri Oktaria Sukmaputri
S-9850
Depok : FKM UI, 2018
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hubaybah; Pembimbing: Puput Oktamianti; Penguji: Anhari Achadi, Wachyu Sulistiadi, Tri Witjaksono, Fadlul
Abstrak: Tesis ini membahas tentang PMTS (Program Pencegahan HIV-AIDSmelalui Transmisi Seksual), merupakan program pencegahan HIV-AIDS yangdicetuskan oleh Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN), bertujuanuntuk melakukan pencegahan HIV secara komprehensif, integratif dan efektifpada populasi kunci yang salah satunya adalah WPS. Untuk mencapai tujuantersebut kegiatan yang dilakukan adalah peningkatan peran positif pemangkukepentingan (pembentukan Pokja Lokasi, pembuatan peraturan lokal lokasi,penyusunan program kerja), komunikasi perubahan perilaku (pengelolaanpendidik sebaya, kader lokasi, pengadaan dan pendistribusian media KIE,penyuluhan, VCT mobile), manajemen pasokan kondom dan pelicin (perumusanrantai pasok kondom dan pelicin, pembentukan outlet kondom dan pelicin),penatalaksanaan IMS dan HIV-AIDS. Koordinasi yang belum maksimal,kurangnya dana, sarana dan prasarana menjadi penyebab utama belum tercapainyatujuan program PMTS ini, ditandai dengan tidak berjalannya Pokja Lokasi yangtelah dibentuk. Pokja Lokasi merupakan salah satu kunci keberhasilan dalammenjalankan seluruh kegiatan, sehingga saran dari peneltian ini adalahmeningkatkan koordinasi dari KPAK dengan LSM, SKPD, Pokja Lokasi dalambentuk pertemuan rutin, mengalokasikan dana rutin untuk Pokja Lokasi dankeseluruhan kegiatan, serta menyediakan sarana dana prasarana untuk menunjangkegiatan ini.Kata kunci: HIV AIDS, PMTS, Evaluasi Program
The focus of this study is PMTS (HIV-AIDS Prevention Programthrough Sexual Transmission) is a program of HIV-AIDS prevention which wasinitiated by the National AIDS Commission (KPAN), its aim is to do HIVprevention comprehensively, interactively and effectively on the key populationwhich is female sex workers. The activity that is being done to achieve theseobjectives is to increase the positive role of thepeople in charge (establishment ofLocation Working Unit, location rule making, preparation of working programs),behavior changes communication (management of peer educators, location cadres,procurement and distribution of KIE media, counseling, mobile VCT),management of the supply of condoms and lubricants (formulation of condomsand lubricants supply, formulation of condoms and lubricants outlets), treatmentof STIs and HIV-AIDS. Lack of coordination, lack of funds, facilities andinfrastructure have become the reason whythe goal PMTS program cannot beachieved yet, marked with dysfunctional Location Working Unit. LocationWorking Unit is one key to success that can run the entire activities, so thesuggestions of this research are to improve the coordination of KPAK withLSM/NGO, SKPD, Location Working in a form of routine meetings, to allocatethe routine funds for Location Working Unit and the entire activities, as well asproviding facilities and infrastructure to support the activities.Keywords: HIV AIDS, PMTS, Program Evaluation
Read More
T-4419
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tirza Amadea Nugroho; Pembimbing: Nurhayati Adnan; Penguji: Yovsyah, Lanny Luhukay
Abstrak: penelitian ini dilakukan untuk melihat faktor-faktor apa saja yang berpengaruh terhadap perilaku penggunaan kondom pada WPS. Penelitian dilakukan menggunakan desain studi cross sectional untuk menganalisis data 4465 WPS responden STBP 2018-2019. Didapatkan hasil bahwa 46,8% responden memiliki perilaku penggunaan kondom yang baik. Faktor yang berhubungan dengan perilaku penggunaan kondom adalah tingkat pengetahuan terkait HIV, keterpajanan informasi terkait HIV, akses pada kondom, persepsi risiko, umur, dan status pernikahan.
Read More
S-10677
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mutia Sani Fadillah; Pembimbing: Toha Muhaimin; Penguji: Besral, Nurjannah
Abstrak: Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui hubungan faktor sosiodemografi, sumber informasi pengetahuan HIV/AIDS, dan perilaku berisiko terhadap kejadian seksual pranikah pada remaja di Indonesia berdasarkan STBP pada tahun 2015. Desain penelitian ini adalah studi cross sectional dengan menggunakan data sekunder STBP tahun 2015. Sampel dalam penelitian ini menggunakan metode multistage cluster random sampling dengan kriteria inklusi murid Sekolah Menengah Atas (SMA) baik yang dikelola pemerintah (SMA Negeri) maupun SMA yang dikelola oleh swasta yang saat ini duduk di kelas 11 (kelas 2), dan berada dalam tujuh kota penelitian.
Read More
S-10539
Depok : FKM-UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive