Ditemukan 37624 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Nazarina; Promotor: Ratna Djuwita; Ko Promotor: Risatianti, Krisnawati Bantas; Penguji: Pradana Soewondo, Siti Madanijah, Julianty Pradono, Mondastri Korib Sudaryo, Besral, Ahmad Syafiq
Abstrak:
Prevalensi penyandang diabetes di Indonesia terus meningkat. Diabetes berisiko terhadap mortalitas dan morbiditas, seperti dislipidemia. Tatalaksana diabetes diantaranya terapi gizi berupa pemberian aturan diet melalui konseling gizi. Namun, kepatuahn diet penyandang diabetes rendah. Hal ini dimungkinkan karena perilaku makan penyandang diabetes yang resisten terhadap perubahan diet. Instrumen untuk mengukur perilaku makan di Indonesia belum ada dan belum ada yang menghubungkan perilaku makan diabetes dengan kejadian dislipidemia. Oleh karenanya, penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan instrumen berupa kuesioner perilaku makan yang sahih dan dipercaya untuk mengukur perilaku makan diabetes, kemudian perilaku makan tersebut dihubungan dengan kejadian dyslipidemia Pengembangan kuesioner perilaku makan diabetik (KPMD) dilakukan dengan terlebih dahulu diskusi kelompok terarah (DKT) pada 30 responden diabetes yang merupakan anggota Persadia DPC Bogor Informasi peralaku makan dari DKT di buat transkrip dan matriks dan yang kemudia diidentifikasi menjadi tema (dimensi) dan sub-tema (item pertanyaan) pada setiap dimensi. Hasilnya diperoleh KPMD yang sahih factor loading 0,33 1,00 dan dipercaya cronbach > 0,6, dengan 4 dimensi perilaku makan, yaitu eksternal, restraint, emosional, dan kecepatan makan. Kuesioner perilaku makan diabetik yang sahih dan dapat dipercaya yang dihasilkan dari penelitian ini dapat digunakan untuk menilai perilaku makan diabetes meskipun masih harus dikembangkan lagi dengan subjek yang lebih hetegogen dalam status pekerjaan, usia, dan sosial-budaya. Oleh karena perilaku makan behubungan dengan dislipidemia, maka penyandanng diabetes sebaiknya menyadari perilaku makan yang dimilki, seperti perilaku makan eksternal. Pada penyandang diabetes yang memiliki perilaku makan eksternal sebaiknya tidak menyimpan atau menyetok makanan yang siap untuk dimakan dan meletakan makanan mudah terlihat. Hal ini juga perlu dukungan keluarga agar tidak meletakan makan yang mudah terlihat bagi anggota keluarga yang diabetes
Read More
D-439
Depok : FKM-UI, 2021
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Andini Wisdhanorita; Pembimbing: Syahrizal, Putri Bungsu; Penguji: Dian Meutia
Abstrak:
Prevalensi diabetes melitus di Indonesia meningkat sebanyak 23,2% dari 6,9% pada tahun 2013 menjadi 8,5% pada tahun 2018 (Riskesdas, 2018). Selain itu, perilaku merokok yang diduga sebagai salah satu faktor penyebab terjadinya diabetes melitus juga mengalami peningkatan sebesar 6,14% dari 34,2 persen pada tahun 2007 menjadi 36,3 persen pada tahun 2013 (Riskesdas, 2013). Berbagai penelitian telah menunjukan bahwa terdapat hubungan antara perilaku merokok dengan diabetes melitus tipe 2 (Cho dkk, 2014; Sairenchi dkk, 2004; Shi dkk, 2013; Papier, 2016). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Hubungan Antara Perilaku Merokok Dengan Kejadian Diabetes Melitus Tipe 2 Di Kecamatan Bogor Tengah. Desain penelitian menggunakan kohort retrospektif. Sampel terdiri dari 1804 responden yang berasal dari studi kohort faktor risiko PTM. Responden diamati selama 6 tahun. Insidens rate diabetes melitus adalah 4,13%.
Read More
T-5688
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Dian Kartika Irnayanti; Pembimbing: Krisnawati Bantas; Penguji: Ratna Djuwita, Sudarto Ronoatmodjo, Eva Sulistiowati, Lily Banonah Rivai
Abstrak:
Prevalensi diabetes mellitus tipe 2 cenderung meningkat dan diperkirakan akan semakin meningkat di Indonesia. Sementara itu, prevalensi obesitas yang diketahui berkaitan erat dengan kejadian DM tipe 2 juga mengalami peningkatan dan diperkirakan juga akan terus meningkat. Penelitian ini dengan desain studi kohort retrospektif ini bertujuan mengetahui hubungan antara kombinasi obesitas umum (indeks massa tubuh/IMT) dan obesitas sentral (rasio lingkar perut-tinggi badan/rasio LP-TB) dengan kejadian diabetes mellitus tipe 2 pada penduduk dewasa Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor selama tahun 2011-2018, dengan menggunakan data sekunder Studi Kohor Faktor Risiko PTM. Hasil penelitian didapatkan insidens kumulatif diabetes mellitus tipe 2 adalah sebesar 18,3% dan lebih dari setengah (51,2%) responden mengalami obesitas keduanya. Proporsi terjadinya diabetes mellitus tipe 2 pada masing-masing kategori adalah 24,7% untuk kombinasi obesitas umum dan obesitas sentral; 12,5% untuk obesitas sentral saja; dan 50,0% untuk obesitas umum saja. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa kategori kombinasi obesitas umum dan obesitas sentral (RR = 1,914; 95% CI 1,5142,418; p = 0,000) dan kategori obesitas umum saja (RR = 5,013; 95% CI 1,582-15,889; p = 0,006) berhubungan secara signifikan dengan diabetes mellitus tipe 2 setelah dikontrol dengan variabel umur dan kadar trigliserida. Sementara itu, kategori obesitas sentral saja tidak berhubungan secara signifikan dengan diabetes mellitus (RR = 1,024; 95% CI: 0,761-1,377). Hasil penelitian ini masih dipengaruhi oleh beberapa hal, diantaranya nilai AUC untuk cut off point rasio LP-TB yang tidak ideal, kurangnya jumlah sampel minimal untuk masing-masing kategori, baik exposed maupun nonexposed, menurunnya power of study pada kategori tertentu, masih adanya pengaruh chance, dan adanya kemungkinan misklasifikasi dan bias seleksi akibat tingginya loss to follow up dengan karakteristik yang berbeda
The prevalence of type 2 diabetes mellitus tends to increase and will increase in several years in Indonesia. Meanwhile, the prevalence of obesity closely related to the incidence of diabetes mellitus type 2 has also increased and is expected to increase in few years later. The study as a retrospective cohort aims to find out the relationship between the combination of general obesity (body mass index/BMI) and central obesity (waist-toheight ratio/WtHR) with the incidence of type 2 diabetes mellitus in the adult population of Central Bogor Subdistrict, Bogor City year 2011-2018, using secondary data of Studi Kohor Faktor Risiko PTM. The results showed the cumulative incidence of type 2 diabetes mellitus was 18.3% and more than half (51.2%) of respondents were obese. The proportion of incidence of type 2 diabetes mellitus in each category was 24.7% for the combination of general obesity and central obesity; 12.5% for central obesity only; and 50.0% for general obesity only. The results of multivariate analysis showed that the combination of general obesity and central obesity (RR = 1.914; 95% CI 1.514-2.418; p = 0.000) and general obesity only (RR = 5.013; 95% CI 1.58215.889; p = 0.006) were significantly associated with type 2 diabetes mellitus after controlled by age and triglyceride levels. Meanwhile, the central obesity only was not significantly associated with type 2 diabetes mellitus (RR = 1.024; 95% CI: 0.7611.377). The results of this study are still reliable and influenced by several things, including the AUC value for the cut-off point of LP-TB ratio is not ideal; the minimum sample size for each category (both exposed and unexposed); lower power of study in certain categories; remaining chance effect; the possibility of misclassification; and selection bias because of loss to follow up
Read More
The prevalence of type 2 diabetes mellitus tends to increase and will increase in several years in Indonesia. Meanwhile, the prevalence of obesity closely related to the incidence of diabetes mellitus type 2 has also increased and is expected to increase in few years later. The study as a retrospective cohort aims to find out the relationship between the combination of general obesity (body mass index/BMI) and central obesity (waist-toheight ratio/WtHR) with the incidence of type 2 diabetes mellitus in the adult population of Central Bogor Subdistrict, Bogor City year 2011-2018, using secondary data of Studi Kohor Faktor Risiko PTM. The results showed the cumulative incidence of type 2 diabetes mellitus was 18.3% and more than half (51.2%) of respondents were obese. The proportion of incidence of type 2 diabetes mellitus in each category was 24.7% for the combination of general obesity and central obesity; 12.5% for central obesity only; and 50.0% for general obesity only. The results of multivariate analysis showed that the combination of general obesity and central obesity (RR = 1.914; 95% CI 1.514-2.418; p = 0.000) and general obesity only (RR = 5.013; 95% CI 1.58215.889; p = 0.006) were significantly associated with type 2 diabetes mellitus after controlled by age and triglyceride levels. Meanwhile, the central obesity only was not significantly associated with type 2 diabetes mellitus (RR = 1.024; 95% CI: 0.7611.377). The results of this study are still reliable and influenced by several things, including the AUC value for the cut-off point of LP-TB ratio is not ideal; the minimum sample size for each category (both exposed and unexposed); lower power of study in certain categories; remaining chance effect; the possibility of misclassification; and selection bias because of loss to follow up
T-6089
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Wagiran; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Ratna Djuwita, M. Sugeng Hidayat, Punto Dewo
T-4855
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Hubungan Hipertensi dengan Penyakit Jantung Koroner di Kecamatan Bogor Tengah (Studi Potong Lintang)
Nurul Fajri Widyasari
Abstrak:
Read More
Penyakit kardiovaskuler masih menjadi permasalahan global dan merupakan penyakit yang paling banyak menyebabkan kematian di dunia. Penyakit kardiovaskuler adalah kelompok penyakit yang menyerang jantung dan pembuluh darah termasuk didalamnya adalah penyakit jantung koroner (PJK) dan penyakit jantung lainnya. Hipertensi adalah salah satu faktor risiko PJK yang dapat di modifikasi. Peningkatan tekanan darah secara signifikan meningkatkan risiko PJK. Penelitian ini merupakan studi observasional dengan desain potong lintang. Data penelitian menggunakan data sekunder dari Studi Kohor Faktor Risiko Penyakit Tidak Menular (FRPTM) di Kecamatan Bogor Tengah pada Tahun 2017 – 2018. Populasi sumber pada penelitian ini adalah seluruh masyarakat yang mengikuti studi kohor FRPTM yang mengikuti periode pengambilan data baseline di tahun 2011 dan 2012. Analisis multivariat dilakukn dengan regresi logistik ganda. Hasil dari penelitian ini adalah prevalensi PJK pada tahun 2017-2018 sebesar 5.3% dan prevalensi hipertensi sebesar 43.48%. Hipertensi secara signifikan berhubungan dengan PJK dengan aOR 2.90 (95% CI, 2.04 – 4.12) setelah dikontrol variabel kovariat. Hasil penelitian ini diharapkan menjadi masukan bagi program pengendalian penyakt tidak menular di Indonesia untuk meningkatkan skrining pada penderita dengan faktor risiko PJK terutama penderita hipertensi.
Cardiovascular disease is a global health problem and the most causes of death in the world. Cardiovascular disease is a group of diseases that attack the heart and blood vessels, including coronary heart disease (CHD) and other heart diseases. Hypertension is a modifiable CHD risk factor. Elevated blood pressure significantly increases the risk of CHD. This research is an observational study with a cross-sectional design. This study used secondary data from the Non-Communicable Disease Risk Factor Cohort Study (FRPTM) at Bogor Tengah District on 2017 – 2018. The source population in this study were all people who participated in the FRPTM cohort study who participated in the baseline data collection period in 2011 and 2012. The multivariate analysis was performed using multiple logistic regression. The results of this study were that the prevalence of CHD in 2017-2018 was 5.3% and the prevalence of hypertension was 43.48%. Hypertension was significantly associated with CHD with an adjusted OR of 2.90 (95% CI, 2.04 – 4.12) after controlling for covariate variables. The results of this study are expected to be input for non-communicable disease control programs in Indonesia to improve screening of patients with CHD risk factors, especially those with hypertension
T-6745
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Sri Lestari; Pembimbing: Renti Mahkota; Penguji: Nasrin Kodim, Rustika, Djarot Harsono
T-4161
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Titi Indriyati; Pembimbing: Ratna Djuwita; Penguji: Asri C. Adisasmita, Rustika, Edi Darma
T-4070
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Khoirina Nur Fadhilah; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Yovsyah, Dwi Sutanto
Abstrak:
Permasalahan kesehatan gigi dan mulut khususnya pada anak merupakan faktor yang harus diperhatikan sedini mungkin karena jika kerusakan gigi pada usia anak tidak segera dilakukan pemeliharan maka akan menimbulkan rasa sakit pada gigi. Faktor yang mempengaruhi kesehatan gigi anak adalah kurangnya perhatian ibu sebagai orang tua terhadap kesehatan gigi anak karena orang tua dianggap memiliki pengetahuan untuk mengajarkan anaknya berbagai hal dasar mengenai menjaga kesehatan gigi dan mulut determinan yang berhubungan dengan perilaku ibu dalam pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut pada anak prasekolah (usia 3-6 tahun). Penelitian ini bersifat kuantitatif dengan desain cross sectional, jumlah sampel sebanyak 162 ibu yang diambil melalui kuesioner online di bulan Juli 2020. Analisa hubungan menggunakan uji chi square dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa tidak ada hubungan signifikan faktor presdiposisi (umur, pendidikan, pekerjaan, pendapatan, pengetahuan dan sikap), faktor pemungkin (sumber informasi) dan faktor penguat (dukungan anggota keluarga) dengan perilaku ibu dalam pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut anak. Namun tetap perlu meningkatkan upaya preventif dan promotif mengenai kesehatan gigi dan mulut agar ibu atau orang tua yang sudah memiliki perilaku positif tetap dipertahankan dengan memberikan informasi-informasi yang positif. Untuk ibu atau orang tua dengan perilaku negatif agar berubah menjadi lebih baik. Kata kunci: Kesehatan, gigi dan mulut, perilaku ibu, determinan perilaku. Dental and oral health problems, especially in children, are a factor that must be considered as early as possible because if the tooth decay at the age of the child is not done immediately, it will cause pain in the teeth. The factor that affects children's dental health is the lack of attention of mothers as parents to children's dental health because parents are considered to have the knowledge to teach their children basic things about maintaining determinant dental and oral health related to maternal behavior in maintaining dental and oral health in preschool children. (ages 3-6 years). This research is quantitative with a cross sectional design, the total sample is 162 mothers who were taken through an online questionnaire in July 2020. Analysis of the relationship using the chi square test with a confidence level of 95%. The results of statistical tests show that there is no significant relationship between the predictive factors (age, education, occupation, income, knowledge and attitudes), enabling factors (sources of information) and reinforcing factors (family member support) with maternal behavior in maintaining children's oral and dental health. However, it is still necessary to increase preventive and promotive efforts regarding oral health so that mothers or parents who already have positive behavior are maintained by providing positive information. For mothers or parents with negative behavior to change for the better. Keyword: Health, teeth and mouth, mother's behavior, behavioral determinants.
Read More
S-10414
Depok : FKM-UI, 2020
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Isnaeni; Pembimbing: Helda; Penguji: Renti Mahkota, Felly Philips Sinewe
T-4076
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Nur Rizky Ramadhani; Pembimbing: Nurhayati Adnan; Penguji: Ratna Djuwita, Eva Sulistiowati, Robert M. Saragih
Abstrak:
Prediabetes adalah masalah kesehatan global. Prevalensi prediabetesmeningkat signifikan di seluruh dunia dan pada umumnya tinggi di masyarakatserta merupakan keadaan risiko tinggi untuk terjadinya DM. Obesitas memilikiperanan penting dalam patofisiologi prediabetes. Penelitian ini bertujuan untukmengetahui apakah obesitas umum dan obesitas abdominal secara bersama-samaberhubungan terhadap kejadian prediabetes pada kelompok usia 20-65 tahun diKecamatan Bogor Tengah berdasarkan faktor riwayat DM keluarga, jeniskelamin, umur, merokok, hipertensi, aktifitas fisik dan stress. Desain studi yangdigunakan adalah potong lintang dengan Cox Regression untuk analisismultivariable. Data analisis merupakan data baseline dari studi kohort faktorrisiko penyakit tidak menular tahun 2012. Ada 3244 responden dari kecamatanbogor tengah yang dipilih dengan teknik sampel acak. Hasil analisis menunjukkanbahwa obesitas terhadap kejadian prediabetes setelah mengendalikan faktor umuradalah obesitas umum PR 1,58 (95% CI: 1,17-2,15), obesitas abdominal PR 1,45(95% CI; 1,19-1,87) dan obesitas umum dan obesitas abdominal secara bersama-sama PR 1,92 (95% CI; 1,62-2,28). Untuk itu, obesitas umum dan obesitasabdominal secara bersama-sama berkontribusi paling besar terhadap peningkatanprevalensi prediabetes. Peningkatan kesadaran dan skrining prediabetes padakelompok risiko tinggi berdasarkan pengukuran IMT bersama dengan lingkarpinggang penting untuk dipertimbangkan sebagai bagian dari upaya untukmengurangi epidemi prediabetes di masyarakat.Kata Kunci : obesitas umum, obesitas abdominal, prediabetes
Prediabetes is a global public health issue. Prevalence of prediabetes isincreasing worldwide. Generally, it is high among adults and as a high risk statefor DM. Obesity has essential role in pathophysiology of prediabetes. This studyaimed to explore whether both of general obesity and abdominal obesity related toprediabetes on age group 20-65 years in Bogor tengah sub-district by familyhistory of DM, sex, age, smoking, hypertension, physical activity and stress. Thisstudy used the cross sectional design study with Cox Regression to multivariableanalysis. Data for this analysis were collected during the baseline stage of cohortstudy of risk factors of non-communicable disease in 2011-2012. There were3244 respondents from Bogor tengah were taken by random sample technique..The result indicated that obesity to prediabetes adjusted by age; general obesityalone PR 1,58 (95% CI: 1,17-2,15), abdominal obesity alone PR 1,45 (95% CI;1,19-1,87), general obesity and abdominal obesity jointly PR 1,92 (95% CI;1,62-2,28). Therefore, general obesity and abdominal obesity jointly contributedmost to the increase prevalence of prediabetes. Awareness raising and screeningof prediabetes of those at high risk group by assessing obesity by BMI and waistcircumference joinlty are essential to be considered as part of efforts for haltingthe epidemic of prediabetes in community.Keyword : general obesity, abdominal obesity, prediabetes.
Read More
Prediabetes is a global public health issue. Prevalence of prediabetes isincreasing worldwide. Generally, it is high among adults and as a high risk statefor DM. Obesity has essential role in pathophysiology of prediabetes. This studyaimed to explore whether both of general obesity and abdominal obesity related toprediabetes on age group 20-65 years in Bogor tengah sub-district by familyhistory of DM, sex, age, smoking, hypertension, physical activity and stress. Thisstudy used the cross sectional design study with Cox Regression to multivariableanalysis. Data for this analysis were collected during the baseline stage of cohortstudy of risk factors of non-communicable disease in 2011-2012. There were3244 respondents from Bogor tengah were taken by random sample technique..The result indicated that obesity to prediabetes adjusted by age; general obesityalone PR 1,58 (95% CI: 1,17-2,15), abdominal obesity alone PR 1,45 (95% CI;1,19-1,87), general obesity and abdominal obesity jointly PR 1,92 (95% CI;1,62-2,28). Therefore, general obesity and abdominal obesity jointly contributedmost to the increase prevalence of prediabetes. Awareness raising and screeningof prediabetes of those at high risk group by assessing obesity by BMI and waistcircumference joinlty are essential to be considered as part of efforts for haltingthe epidemic of prediabetes in community.Keyword : general obesity, abdominal obesity, prediabetes.
T-4776
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
