Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 27278 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Virmandiani; Pembimbing: Asri C. Adisasmita; Penguji: Syahrizal Syarif, Johanes Edy Siswanto
Abstrak: Data dari Poli Rehabilitasi Medik 2019 didapatkan 36.48% pasien dengan Communication Disorder, hampir serupa dengan data dari CDC tahun 2012, pada usia 3-10 tahun 41,8%. Goal attainment Scale (GAS) adalah skala objektif menilai pencapain target setelah rehabilitasi. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh Sistem Klasifikasi Komunikasi Fungsional (SKKF) terhadap perbaikan subskala dalam International Classification Of Functioning, Children & Youth (ICF-CY), yang dinilai berdasarkan GAS setelah Program Rehabilitasi 3 bulan. Desain studi kohort retrospektif. Kategori SKKF-I (komunikasi efektif) Kategori SKKF-II (komunikasi tidak efektif). Perbaikan atau GAS-1 apabila total skor menjadi ≥50.00. dari skor awal 35.8. Hasil studi ini sejumlah subjek sebanyak 202, mayoritas pada kelompok SKKF berat 109(53.96%); dan terbanyak pada kelompok usia >3.5 tahun; serta mayoritas laki-laki 61.88%. SKKF-1 mempunyai peluang lebih besar dalam memperbaiki Fokus Atensi RR=1.43; [95% IK, 1.23- 1.66]; p<0.001; Fungsi Perseptual RR=1.70; [95% IK, 1.40-2.06]; p<0.001; Fungsi Motorik Halus RR=2.43; [95% IK, 1.87-3.16];p<0.001; Fungsi eksekutif-problem solving RR=4.6; [95% IK, 2.86- 7.67];p<0.001. Analisa multivariate ARR: 4.01;[95%IK, 2.22-7.06]; p<0.001). Kesimpulan bahwa bahwa Gangguan Bicara Bahasa dengan derajat ringan-sedang, setelah dikontrol dengan asfiksia, microcephaly dan WeeFIM, akan memperbaiki GAS empat kali lebih tinggi dibandingkan derajat berat, sehingga disarankan pentingnya deteksi dini, menentukan tingkat keparahan pada anak-anak usia sebelum 4 tahun
Read More
T-6243
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rico Januar Sitorus; Promotor: Ratna Djuwita; Ko-Promotor: Sabarinah B. Prasetyo, Siti Dharmayati B. Utoyo; Penguji: Nuning MK. Masjkuri, Asri C. Adisasmita, Syahrizal Syarif, Hartati Kurniadi, Evi Martha
Abstrak: Penyalahgunaan narkotika merupakan masalah kesehatan yang sangat penting di seluruh dunia yang dapat mengakibatkan ketergantungan, kerugian ekonomi, kerugian kesehatan dan dampak sosial. Di Indonesia sebagai salah satu negara berkembang, penyalahgunaan narkotika dari tahun ke tahun tetap tinggi. Angka yang pernah menggunakan narkotika di populasi diperkirakan sebesar 2,4 % dengan laki-laki jauh lebih besar daripada perempuan. Berdasarkan kelompok umur, prevalensi penyalahguna narkotika yang paling tinggi pada kelompok usia kelompok usia 20-29 tahun sebesar yaitu 4,41 % sedangkan yang paling rendah pada kelompok usia di atas 40 tahun sebesar 1,06 %. (BNN, 2012). Penelitian ini bertujuan mengetahui efek tahapan rehabilitasi melalui skor rata-rata self efficacy sebelum mengikuti komunitas terapeutik dibanding dengan sesudah mengikuti komunitas terapeutik pasien ketergantungan narkotika. Penelitian ini menggunakan desain before and after yang bersifat longitudinal, dimana pengukuran terhadap outcome dilakukan beberapa kali (berulang). Pada penelitian ini pengukuran terhadap self efficacy dilakukan sebanyak empat kali.
 
 
Hasil penelitian ini membuktikan ada perbedaan yang bermakna skor rata-rata self efficacy sebelum komunitas terapeutik dibanding dengan skor rata-rata self efficacy sesudah komunitas terapeutik, nilai p = 0,014 < (α ; 0,05). Pasien telah menjalani tahapan komunitas terapeutik selama dua bulan atau 60 hari. Pada tahapan komunitas terapeutik selama satu bulan pertama, terlihat bahwa tidak ada perbedaan yang bermakna skor rata-rata self efficacy bila dibandingkan dengan skor rata-rata self efficacy sebelum komunitas terapeutik, p value 0,25 > (α ; 0,05), tetapi pada komunitas terapeutik bulan kedua terlihat ada perbedaan yang bermakna skor rata-rata self efficacy dibandingkan dengan sebelum komunitas terapeutik, nilai p = 0,005 < (α ; 0,05). Dari peningkatan skor rata-rata self efficacy, terbukti bahwa program ini bermanfaat bagi pasien dengan ketergantungan narkotika yang akan menjalani rehabilitasi dengan menjalani program minimal 60 hari atau dua bulan.
 

 
Drug abuse is a very important health problem worldwide which can lead to dependence, economic loss, loss of health and social impacts. In Indonesia as a developing country, drug abuse over the years remains high. Figures ever using drugs in a population is estimated at 2.4% with males much larger than females. By age group, the prevalence of drug abusers is highest in the age group of 20-29 years age group is 4.41% while the lowest in the age group above 40 years amounted to 1.06%. (BNN, 2012). This study aims to determine the effect of the rehabilitation phase through an average score of self-efficacy before following therapeutic communities compared with patients after participating in a therapeutic community drug dependence. The design of this study before and after that is longitudinal, where the measurement of the outcome done several times (repeated). In this study, measurement of self-efficacy was done four times.
 
 
The results of this research prove there were significant differences in mean score before the self efficacy of therapeutic communities compared with an average score of self-efficacy after therapeutic communities, p value 0.014 < (α; 0.05). Patients had undergone stages of therapeutic communities for two months or 60 days. At the stage of therapeutic communities during the first month, it appears that there are no significant differences of mean score of self-efficacy when compared to the average score of self-efficacy prior to therapeutic communities, p value 0.25 > (α; 0.05), but the therapeutic communities in both show no significant differences mean score of self-efficacy compared to prior therapeutic communities, p value 0.0005 <(α; 0.05). The increase in the average score of self-efficacy, proved that this program is very beneficial for patients with drug addiction which will undergo a program of rehabilitation with a minimum of 60 days or two months.
Read More
D-323
Depok : FKM-UI, 2015
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Subani; Pemb. Sudarto Ronoatmodjo
A-214
Jakarta : FKM UI, 1979
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Qurratu Ayunin; Pembimbing: Krisnawati Bantas; Penguji: Sudarto Ronoatmodjo, Taufan Harun Habibie
Abstrak:
Jumlah infeksi baru HIV di Indonesia masih tinggi yaitu mencapai 46.000 dan jumlah kematian yang disebabkan oleh HIV sejumlah 38.000 kematian pada Tahun 2018. Koinfeksi Hepatitis C pada pasien HIV cukup tinggi yaitu berkisar 2-15%.  Penelitian ini bertujuan meneliti pengaruh koinfeksi Hepatitis C terhadap kesintasan pasien HIV yang mendapatkan terapi antiretroviral di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tebet pada tahun 2015-2020. Penelitian dilakukan menggunakan desain kohort retrospekstif dengan analisis kesintasan. Pengambilan data dilakukan secara total sampling yang memenuhi kriteria inklusi sebesar 284 sampel. Data dianalisis secara univariat untuk melihat distribusi frekuensi dari masing-masing variabel penelitian yang diteliti. Analisis bivariat dilakukan untuk melihat hubungan masing-masing variabel independen dengan kesintasan pasien HIV dengan menggunakan Regresi Cox. Analisis multivariat dilakukan untuk mendapatkan model yang robust dan parsimonius dengan analisis Regresi Cox. Hasil penelitian menjukkan kesintasan kumulatif pasien HIV yaitu 85,4 %. Pengaruh koinfeksi Hepatitis C terhadap kesintasan pasien HIV yang mendapatkan terapi ARV di RSUD Tebet Tahun 2015-2020 didapatkan HR 1,94 (95% CI 0,81-4,6) dengan nilai p: 0,13 setelah dikontrol oleh variabel indeks massa tubuh dan status kerja. Tidak terdapat hubungan yang bermakna secara statistik dari koinfeksi Hepatitis C terhadap kesintasan pasien HIV yang mendapatkan terapi ARV di RSUD Tebet Tahun 2015-2020.

The number of new HIV infections in Indonesia is still high, reaching 46,000 and number of deaths caused by HIV is 38,000 in 2018. Hepatitis C coinfection in HIV patients is high, ranging from 2-15%. This study aims to examine the effect of hepatitis C coinfection on survival of HIV patients receiving antiretroviral therapy at Tebet Regional Public Hospital (RSUD) in 2015-2020. This research used retrospectif cohort design with survival analysis and used total sampling as much as 284 HIV patients. Data were analyzed univariately to see the frequency distribution of each variable studied. Bivariate analysis was performed to see the relationship of each independent variable with the survival of HIV. Multivariate analysis was performed to obtain robust and parsimonius models with Cox Regression. The results of research found cumulatif survival of HIV patients in RSUD Tebet were 85,4 %. The Effect of Hepatitis C Coinfection on Survival HIV Patients Who Receive Antiretroviral Therapy in RSUD Tebet from 2015 until 2020 had HR 1,94 (95% CI 0,81-4,6) after adjusted with body mass index and working status. There were no corelation from Hepatitis C Coinfection on Survival HIV Patients Who Receive Antiretroviral Therapy in RSUD Tebet from 2015 until 2020.

Read More
T-5905
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Imam Rasjidi; Promotor: Bambang Sutrisna; Ko-promotor: M. Farid Aziz, Akmal Taher; Penguji: Syahrizal Syarif, Soewarta Kosen, Laila Nuranna, Chaidir A Mocthar, Ratna Djuwita, Mondastri Korib Sudaryo, Bambang Sutrisna, Farid Aziz, Akmal Taher
D-223
Depok : FKM-UI, 2008
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Bona Simanungkalit; Promotor: Nuning M. K. Masjkuri; Kopromotor: Wimpie Pangkahila, Asri C. Adisasmita/ Penguji: Wahyuning Ramelan, Sudarto Ronoatmodjo; Sabarinah B. Prasetyo, Hartati Kurniadi, Diah Setia Utami, Riza Sarasvita
D-382
Depok : FKM-UI, 2018
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Galih Putri Ardhiyani; Pembimbing: Nasrin Kodim; Penguji: xRenti Kodim, Saad Budiono
Abstrak: Stroke merupakan penyakit yang sangat serius karena keganasan dan dampak yang ditimbulkan. Dampak utama dari stroke adalah kecacatan yang mengganggu pada kemandirian. Terapi okupasi membantu mencegah kecacatan dan mengembangkan fungsi kemandirian. Tujuan penelitian ini mengetahui pengaruh terapi okupasi dalam pengembalian kemandirian penderita stroke. Metode yang digunakan adalah cohort retrospektif. Sampel penelitian ini adalah penderita stroke yang mengikuti terapi okupasi dan yang tidak mengikuti terapi okupasi diInstalasi Rehab Medik RSPAD Gatot Soebroto Ditkesad pada tahun 2011. Sampeldiambil menggunakan teknik purposive sampling. Hasil penelitian ini adalah terapi okupasi memiliki pengaruh yang besar dalam mengembalikan kemandirian penderita stroke (RR=2,4, 95%CI=1,038-5,705, p-value=0,041). Intervensi terapiokupasi diberikan kepada semua penderita stroke sehingga banyak penderita stroke kembali mandiri.Kata kunci : stroke, okupasi terapi, kemandirian
Stroke is a disease that is very serious because the ferocity and impact. The mainimpact of stroke is a disability that interferes with the independence. Occupationaltherapy to help prevent disability and develop independence functions. Thepurpose of this study to know the effect of occupational therapy in strokesurvivors return independence. The method used was a retrospective cohort. Thesample was stroke patients following the occupational therapy and occupationaltherapy that does not follow in the Installation Medical Rehab RSPAD GatotSoebroto Ditkesad in 2011. Samples were taken using purposive samplingtechnique. The results of this research is occupational therapy has a greatinfluence in restoring the independence of people with stroke (RR=2,4,95%CI=1,038-5,705, p-value=0,041). Occupational therapy intervention given toall patients with stroke so many stroke survivors back themselves.Keywords: stroke, occupational therapy, independence
Read More
S-7659
Depok : FKM-UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nor Efendi; Pembimbing: Helda; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Titi Sundari, Siti Nur Anisah
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lokasi anatomi TB terhadap kesintasan (ketahanan hidup) 2 tahun pasien ko-infeksi TB-HIV setelah diagnosis.Penelitian ini menggunakan desain kohort restrospektifdinamik menggunakan 177 rekam medik pasien ko-infeksi TB-HIV di RSPI Prof. Dr Sulianti Saroso Jakarta yang terdaftar tahun 2010-2013, diambil secara simple random samplingKasintasan pasien ko-infeksi TB-HIV 2 tahun setelah diagnosa dengan lokasi anatomi TB di ekstraparu sebesar 86%, lebih rendah dibandingkan dengan lokasi anatomi TB di paru sebesar 98%. Lokasi anatomi TB di ekstraparu mempengaruhi kecepatan kematian pasien ko-infeksi TB-HIV (adjusted HR 1,48, 95% CI : 0,55-4,02), setelah dikontrol oleh faktor risiko penularan dan kadar CD4 awal. Infeksi HIV mengakibatkan kerusakan sistem imunitas tubuh yang luas sehingga infeksi dan penyebaran kuman TB juga akan meluas seperti ke kelenjar getah bening, pleura dan organ lainnya. TB ekstra paru memiliki beban bakteri TB yang lebih tinggi dan menunjukkan progresifitas perjalanan penyakit semakin parah yang mengakibatkan probabilitas ketahanan hidup (kesintasan) penderitanya semakin menurun.Perlu dilakukan screening lebih intensif terhadap pasien ko-infeksi TB-HIV untuk menemukan kemungkinan TB di ekstra paru sedini mungkinagar dapat diberikan penatalaksanaan yang tepat dalam rangka meningkatkan kualitas hidup penderitanya. Kata Kunci : Lokasi Anatomi TB; Kesintasan;Ko-infeksi TB-HIV
Read More
T-4478
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sjahrul Meizar Nasri; Pembimbing: Bambang Sutrisna, Harwinta F. Eyanoer, Jenny Endang B. Bashiruddin; Penguji: Tjipto Suwandi, Sudarto Ronoatmodjo, Sudijanto Kamso, I Made Djaja, Erna Tresnaningsih, Bambang Sutrisna, Harwinta F. Eyanor, Jenny Endang B. Bashiruddin
D-106
[s.l.] : FKM-UI, 2005
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nur Lita Herliana; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Yovsyah, Firy Triyani
S-9792
Depok : FKM-UI, 2018
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive