Ditemukan 33606 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Olive Aturan Cornella; Pembimbing: Pandu Riono; Penguji: Iwan Ariawan, Nurmala Selly Saputri
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan jarak antar-kelahiran dengan kematian neonatal di Indonesia. Desain penelitian yang digunakan adalah potong lintang menggunakan data SDKI 2017 yang mencakup 9.273 kelahiran hidup. Hasil penelitian menunjukan bahwa setelah dikontrol oleh variabel usia ibu saat melahirkan, odds kematian neonatal pada jarak antar-kelahiran 24 bulan ke bawah meningkat menjadi 1,8 (95% CI = 0,9-3,0). Selain itu, terdapat beda efek antara jarak antar-kelahiran dengan kematian neonatal setelah diinteraksikan dengan frekuensi kunjungan ANC. Perlu dilakukan sosialisasi kepada masyarakat mengenai jarak antar-kelahiran yang aman dan pentingnya mengunjungi pelayanan ANC saat masa kehamilan.
Read More
S-10729
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Salsabila Hulwani; Pembimbing: Indang Trihandini; Penguji: Sutanto Priyo Hastono, Maria Gayatri
Abstrak:
Read More
Indonesia menempati peringkat ke-7 dengan jumlah kematian neonatal tertinggi di dunia. Sekitar 42% dari seluruh kematian neonatal terjadi pada hari pertama setelah lahir dan sekitar 75% terjadi dalam periode neonatal dini. Sebagian besar kematian neonatal dini dapat dicegah melalui akses ke pelayanan kesehatan, salah satunya kunjungan neonatal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan Kunjungan Neonatal Pertama (KN 1) dengan kematian neonatal dini di Indonesia. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif menggunakan desain studi kasus-kontrol dengan menganalisis data sekunder SDKI tahun 2017. Penelitian ini menemukan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pemanfaatan KN 1 dengan kematian neonatal dini [OR=8,23, 95% CI=2,76-24,55]. Risiko kematian neonatal dini ditemukan lebih tinggi pada wilayah tempat tinggal perdesaan, bayi berjenis kelamin laki-laki, urutan kelahiran 2-3 dan ≥4, jarak kelahiran35 bulan serta anak tunggal, berat badan lahir35 tahun, memanfaatkan perawatan antenatal
Indonesia is ranked 7th with the highest number of neonatal deaths worldwide. About 75% of all neonatal deaths occur in the early neonatal period. Early neonatal deaths can be prevented through access to health services through neonatal visits. This study aims to determine the relationship between first neonatal visits and early neonatal mortality in Indonesia. This is a quantitative study using a case-control study design by analyzing secondary data from the 2017 IDHS. This study found a significant relationship between first neonatal visits and early neonatal mortality [OR=8.23, 95% CI=2.76- 24,55]. The risk of early neonatal mortality was found to be higher in rural areas; male babies; birth order 2-3 and ≥4; birth spacing 35 months, and an only child; birth weight 35 years; used antenatal care
S-11293
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Dini Kurniawati; Pembimbing: Sabarinah Prasetyo; Penguji: Besral, Evi Martha, Rahmadewi
Abstrak:
Angka kematian ibu dan angka kematian bayi di Indonesia masih tinggi. Salah satu faktor yang menyebabkan tingginya risiko kematian pada ibu dan bayi adalah kelahiran terlalu dekat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor yangberhubungan dengan jarak antar kelahiran pada wanita multipara di Indonesia.Penelitian ini menggunakan data Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI)tahun 2012 pada 9945 wanita multipara. Analisis data menggunakan uji MannWhitney, Kruskal Wallis, Chi Square, dan Chi Square Mantel Haenzel. Hasil penelitian menunjukkan median jarak antar kelahiran sebesar 62 bulan dan 22,8%wanita memiliki jarak antar kelahiran kurang dari 3 tahun. Ada hubungan signifikan antara jarak antar kelahiran dengan pendidikan, status ekonomi, umursaat melahirkan terakhir, jumlah anak hidup, ukuran ideal keluarga, pemakaiankontrasepsi, mortalitas anak, dan kelangsungan hidup sebelumnya menggunakan uji Mann Whitney/Kruskal Wallis dan Chi Square, sedangkan pemberian ASIeksklusif berhubungan signifikan dengan jarak antar kelahiran menggunakan ujiMann Whitney (p<0,05). Perlu peningkatan komunikasi, informasi, dan edukasi mengenai jarak antar kelahiran optimum dan peningkatan pemakaian kontrasepsi untuk mencegah kematian ibu dan bayi.
Kata kunci: jarak antar kelahiran, multipara, SDKI
Maternal mortality rate and infant mortality rate in Indonesia is currently high.One factor linked to high risk maternal and infant mortality is short birth intervals.This study aims to show factors associated with birth intervals in multiparouswomen in Indonesia. This study uses data from Indonesia Demographic andHealth Survey (IDHS) 2012 with 9945 multiparous women. The Data wasanalysed using Mann Whitney, Kruskal Wallis, Chi Square, and Chi SquareMantel Haenzel model. Results shows that median birth interval was 62 monthsand 22,8% women had birth interval of less than 3 years. There was a correlationbetween birth intervals with education, economic level, age when last pregnant,the number of living children, ideal family size, contraception use, infantmortality record, and survival of preceding birth analysed using Whitney/KruskalWallis and Chi Square model, whereas exclusive breastfeeding was significantlyassociated with birth intervals analyzed using the Mann Whitney model (p<0,05).There needs to be more frequent communication, education, and informationabout optimum birth intervals and greater contraceptive use to prevent maternaland infant mortality.
Keywords: birth intervals, multiparous, IDHS
Read More
Kata kunci: jarak antar kelahiran, multipara, SDKI
Maternal mortality rate and infant mortality rate in Indonesia is currently high.One factor linked to high risk maternal and infant mortality is short birth intervals.This study aims to show factors associated with birth intervals in multiparouswomen in Indonesia. This study uses data from Indonesia Demographic andHealth Survey (IDHS) 2012 with 9945 multiparous women. The Data wasanalysed using Mann Whitney, Kruskal Wallis, Chi Square, and Chi SquareMantel Haenzel model. Results shows that median birth interval was 62 monthsand 22,8% women had birth interval of less than 3 years. There was a correlationbetween birth intervals with education, economic level, age when last pregnant,the number of living children, ideal family size, contraception use, infantmortality record, and survival of preceding birth analysed using Whitney/KruskalWallis and Chi Square model, whereas exclusive breastfeeding was significantlyassociated with birth intervals analyzed using the Mann Whitney model (p<0,05).There needs to be more frequent communication, education, and informationabout optimum birth intervals and greater contraceptive use to prevent maternaland infant mortality.
Keywords: birth intervals, multiparous, IDHS
S-8338
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Determinan Sosial Kematian Neonatal dan Kematian Postneonatal di Indonesia: Analisis Data SUPAS 2015
Onetusfifsi Putra; Pembimbing: Budi Utomo; Penguji: Martya Rahmaniati, Wendy Hartanto, Mugia Bayu Raharja, Sri Wahyuni
Abstrak:
Angka kematian bayi merupakan indikator kesehatan dan kesejahteraan suatu negara. Pengelompokkan bayi menurut WHO dibagi atas masa neonatal dan postneonatal. Sehingga mengetahui determinan pada setiap kategori merupakan sesuatu yang penting untuk dilakukan. Analisis data survei menggunakan data SUPAS 2015 dilakukan untuk melihat determinan sosial kematian bayi. Analisis menggunakan regresi logistic dan regresi linear untuk mengestimasi angka kematian bayi pada setiap provinsi di Indonesia. Hasil penelitian didapatkan bahwa kematian neonatal disebabkan oleh faktor yang bersifat endogen seperti usia ibu melahirkan dan paritas, sedangkan postneonatal disebabkan oleh faktor yang bersifat eksogen, seperti pendidikan ibu, sosial ekonomi, dan faktor lingkungan. Model determinan sosial yang dibentuk dapat menjelaskan kematian pada setiap provinsi sebesar 78%. Berdasarkan telaah didapatkan proporsi kematian neonatal terhadap kematian bayi semakin tinggi seiring dengan rendahnya angka kematian bayi. Artinya tingkat kesehatan di Indonesia semakin baik. Diharapkan kepada pemerintah dalama mengatasi neonatal lebih fokus ke faktor endogen dan postneonatal ke faktor eksogen. Selanjutnya variabel determinan sosial menjadi fokus untuk menurunkan angka kematian bayi.
Read More
T-5611
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Nur Hadi Budhy Setyanto; Pembimbing: Sudjianto Kamso; Penguji: Artha Prabawa, Salimar
S-10026
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Nailina Farah; Pembimbing: Besral; Penguji: Evi Martha, Hesti Kristina P. Tobing
Abstrak:
Read More
Pemberian ASI eksklusif adalah salah satu upaya untuk mengurangi malnutrisi dan kematian bayi. Namun, cakupan pemberian ASI eksklusif di Indonesia masih perlu ditingkatkan untuk mencapai target percepatan penurunan stunting sebesar 80%. Berdasarkan data tahun 2021, prevalensi pemberian ASI eksklusif pada bayi usia 0 – 5 bulan sebesar 71,5% sehingga masih perlu ditingkatkan. Salah satu faktor yang memengaruhi pemberian ASI eksklusif yaitu metode persalinan. Persalinan sectio caesarea diketahui dapat menurunkan peluang pemberian ASI eksklusif. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan persalinan caesar dengan pemberian ASI eksklusif di Indonesia. Penelitian ini menggunakan data SDKI tahun 2017 dengan desain cross sectional. Sampel penelitian sebanyak 1.290 yang merupakan wanita usia subur (15 – 49 tahun) sudah menikah dan melahirkan anak terakhir dalam keadaan hidup berusia 0 – 5 bulan. Regresi logistik model faktor risiko diterapkan untuk melihat hubungan persalinan caesar dengan pemberian ASI eksklusif dengan mengontrol beberapa variabel kovariat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara persalinan caesar dengan pemberian ASI eksklusif setelah dikendalikan oleh usia bayi, tingkat pendidikan ibu, regional, dan status ekonomi. Terdapat interaksi antara persalinan caesar dengan tingkat pendidikan ibu terhadap pemberian ASI eksklusif sehingga hubungan persalinan caesar dengan ASI eksklusif berbeda menurut tingkat pendidikan ibu dimana risiko paling tinggi tidak memberi ASI eksklusif pada ibu yang melakukan persalinan caesar dengan pendidikan ≤ SD (AOR: 0,290). Berdasarkan hal tersebut, diperlukan peningkatan informasi ASI eksklusif pada ibu menyusui terutama untuk ibu dengan pendidikan rendah yang melakukan operasi caesar serta perlu membentuk kelompok pendukung ASI di masyarakat.
Exclusive breastfeeding is one of the strategies to reduce malnutrition and infant mortality. However, exclusive breastfeeding coverage in Indonesia still needs to be increased to achieve the accelerated stunting reduction target of 80%. Based on 2021 data, the prevalence of exclusive breastfeeding in infants aged 0 - 5 months was 71.5%, so it still needs to be improved. One of the factors that influence exclusive breastfeeding is the method of delivery. Sectio caesarean delivery is known to reduce the chances of exclusive breastfeeding. Therefore, this study aimed to determine the relationship between caesarean delivery and exclusive breastfeeding in Indonesia. This study used data from the 2017 IDHS with a cross-sectional design. The study sample was 1,290 women of childbearing age (15 - 49 years) who were married and gave birth to their last living child aged 0 - 5 months. Logistic regression risk factor model was applied to see the association of caesarean delivery with exclusive breastfeeding by controlling several covariate variables. The results showed that there was a significant association between caesarean delivery and exclusive breastfeeding after controlling for infant age, maternal education level, region, and economic status. There was an interaction between caesarean delivery and mother's education level on exclusive breastfeeding so that the relationship between caesarean delivery and exclusive breastfeeding differed according to the mother's education level where the highest risk of not giving exclusive breastfeeding was in mothers who had caesarean delivery with education ≤ SD (AOR: 0.290). Based on this, it is necessary to increase information on exclusive breastfeeding for breastfeeding mothers, especially for mothers with low education who have a cesarean section and need to form breastfeeding support groups in the community.
S-11350
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Hafizah Fauziyana Fadly; Pembimbing: Sudijanto Kamso; Penguji: Sutanto Priyo Hastono, Rahmadewi
Abstrak:
Read More
Berat badan lahir rendah (BBLR) menjadi penyebab kematian neonatal terbanyak tiap tahunnya di Indonesia. Data SDKI 2017 melaporkan persentase rata-rata kasus BBLR adalah 6,98%, berada di bawah target RPJMN 2015–2019. Beberapa studi menunjukkan kehamilan tidak diinginkan (KTD) merupakan salah satu faktor yang berpengaruh signifikan terhadap BBLR. KTD di Indonesia mengalami kenaikan dari 14% (2012) menjadi 15% (2017). Sebagai salah satu faktor yang dapat meningkatkan risiko masalah kesehatan pada bayi, KTD harus dapat dicegah, dan mencegahnya merupakan salah satu komponen untuk mencapai SDGs ke-5 PBB, yaitu meningkatkan kesehatan ibu. Sehingga penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kehamilan tidak diinginkan dengan kejadian berat badan lahir rendah di Indonesia.
Low birth weight (LBW) become the most common cause of neonatal death each year in Indonesia. The 2017 IDHS data reports that the average proportion of LBW cases is 6.98%, which is below the target of the 2015–2019 RPJMN. Several studies have shown that unintended pregnancy is one of the factors that have significant effect on LBW. Unintended pregnancy in Indonesia has increased from 14% (2012) to 15% (2017). As one of the factors that can increase the risk of health problems in infants, adverse events must be preventable, and preventing them is one of the components to achieve the UN's 5th SDGs, that is improving maternal health. This study aims to determine the relationship between unintended pregnancy and the incidence of low birth weight in Indonesia. The 2017 IDHS data reports that the average proportion of LBW cases is 6.98%, which is below the target of the 2015–2019 RPJMN. Several studies have shown that unintended pregnancy is one of the factors that have significant effect on LBW. Unintended pregnancy in Indonesia has increased from 14% (2012) to 15% (2017). As one of the factors that can increase the risk of health problems in infants, adverse events must be preventable, and preventing them is one of the components to achieve the UN's 5th SDGs, that is improving maternal health. This study aims to determine the relationship between unintended pregnancy and the incidence of low birth weight in Indonesia.
S-11320
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Rahma Wardah Khumaeroh; Pembimbing: Pandu Riono; Penguji: Iwan Ariawan, Sudibyo Alimoeso
Abstrak:
Read More
Kehamilan remaja merupakan isu kesehatan global yang terjadi pada berbagai negara, terutama negara berkembang. BKKBN menyatakan bahwa kehamilan remaja berisiko pada kematian ibu dan bayi. Kehamilan remaja dapat dicegah dengan adopsi kontrasepsi secara tepat dan konsisten. Namun, banyak remaja yang hambatan dalam mengakses kontrasepsi sehingga terjadi kegagalan kontrasepsi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan adopsi metode kontrasepsi dengan kehamilan pada remaja usia 15 – 19 tahun. Penelitian ini menggunakan data SDKI 2017 dengan desain studi cross-sectional. Analisis multivariabel regresi logistik dilakukan pada sampel 7.854 remaja perempuan usia 15 – 19 tahun. Hasil penelitian menunjukkan setelah dikontrol variabel kovariat (usia, status pernikahan, tingkat pendidikan, status pekerjaan, status ekonomi, pengetahuan terkait kontrasepsi, tempat tinggal, paparan media massa terkait kontrasepsi, dan kunjungan petugas KB), odds kehamilan remaja 0,61 kali lebih rendah pada remaja yang tidak menggunakan kontrasepsi dibandingkan remaja yang menggunakan kontrasepsi (AOR = 0,39; 95% CI: 0,213 – 0,714). Hal ini mungkin terjadi karena sebagian besar sampel tergolong tidak aktif secara seksual dan remaja yang menggunakan kontrasepsi masih berisiko untuk hamil karena kegagalan kontrasepsi. Dengan demikian, perlu upaya untuk mengembangkan layanan konseling dan pendidikan kesehatan reproduksi remaja yang berkualitas terutama terkait kontrasepsi, kehamilan remaja, dan pernikahan dini pada remaja serta orang tua.
Adolescent pregnany is a global health issue that occurs in various countries, especially developing countries. BKKBN states that adolescent pregnancy risk matenal dan infant mortality. Adolescent pregnancy can be prevented with approriate and consistent contraceptive adoption. However, many adolescents faced barriers in accessing contraception that led to contraceptive failure. This study aims to determine the relationship between adoption of contraceptive method and adolescent pregnancy aged 15 – 19 years. The study used the 2017 Indonesia Demographic and Health Survey data with a cross-sectional study design. Multivariable logistic regression analysis was used on a sample of 7.854 adolescent girls aged 15 – 19 years. The results showed that after adjusting for covariate variables (age, marital status, education level, employment status, economic status, knowledge related to contraception, place of residence, exposure to mass media related to contraception, and family planning worker visits), the odds of adolescent pregnancy was 0,61 times lower among adolescent who did not use contraception compared to adolescent who used contraception (AOR = 0,39; 95% CI: 0,213 – 0,714). This may be explained by the fact that most of the sample was not sexually active and adolescent who used contraception were still at risk of pregnancy due to contraceptive failure. Therefore, it is necessary to develop quality adolescent reproductive health counseling and education services, especially related to contraceptive, adolescent pregnancy, and early marriage in adolescents and their parents.
S-11315
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Gita Rinjani; Pembimbing: Meiwita Budiharsana; Penguji: Indang Trihandini, Anindita Dyah Sekarpuri
Abstrak:
Angka Kematian Perinatal (AKP) merupakan salah satu indikator yang dapat digunakan dalam menilai derajat kesehatan suatu bangsa. Hal ini dikarenakan kematian perinatal menyumbang angka yang cukup tinggi terhadap Angka Kematian Bayi (AKB). Di Indonesia, tidak terjadi penurunan AKP dalam sepulu htahun terakhir (2002-2012). Desain yang digunakan pada penelitian ini adalah studi potong lintang. Penelitian menggunakan data sekunder SDKI 2012 denganteknik penarikan sampel cluster sampling tiga tahap. Sampel yang diambil berjumlah 15.430 responden dengan 1.420 responden mengalami kematian perinatal dan 14.010 responden lahir hidup dan tidak mengalami kematian neonatal dini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antarapendidikan, umur, paritas, komplikasi kehamilan, komplikasi persalinan, prematur, berat bayi, IMD, dan kunjungan antenatal ibu dengan kematian perinatal. Komplikasi persalinan merupakan faktor risiko yang paling tinggi dalam menyebabkan kematian perinatal. Kata kunci: Perinatal, lahir mati, komplikasi, antenatal
Perinatal Mortality Rate (PMR) is one of the indicators that can be used inassessing health status of a nation. This is because perinatal mortality is quite high contributed to Infant Mortality Rate (IMR). In Indonesia, there is no deriving of PMR in last ten years (2002-2012). The design used in this research was crosssectional study. This research used secondary data of IDHS 2012 with three stagecluster sampling technique. Samples taken were 15.340 respondents with 1.420 respondents experiencing perinatal death and 14.010 respondents were born aliveand did not experience early neonatal death. The results showed that there isassociation between maternal education, age, parity, pregnancy complication,delivery complication, premature, birth weight, early initiation of breastfeeding,and frequency of antenatal visits with perinatal mortality. Delivery complicationis the highest risk factor in affecting perinatal mortality.Key words:Perinatal, stillbirth, complication, antenatal
Read More
Perinatal Mortality Rate (PMR) is one of the indicators that can be used inassessing health status of a nation. This is because perinatal mortality is quite high contributed to Infant Mortality Rate (IMR). In Indonesia, there is no deriving of PMR in last ten years (2002-2012). The design used in this research was crosssectional study. This research used secondary data of IDHS 2012 with three stagecluster sampling technique. Samples taken were 15.340 respondents with 1.420 respondents experiencing perinatal death and 14.010 respondents were born aliveand did not experience early neonatal death. The results showed that there isassociation between maternal education, age, parity, pregnancy complication,delivery complication, premature, birth weight, early initiation of breastfeeding,and frequency of antenatal visits with perinatal mortality. Delivery complicationis the highest risk factor in affecting perinatal mortality.Key words:Perinatal, stillbirth, complication, antenatal
S-8211
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Sicilia Katherina Levieren; Pembimbing: Besral; Penguji: Milla Herdayati, Winne Widiantini
Abstrak:
Read More
Angka kematian balita digunakan untuk mengukur kelangsungan hidup pada anak dan juga merefleksikan kondisi sosial, ekonomi dan lingkungan di mana anak-anak hidup. Angka kematian balita di Indonesia masih cukup tinggi yaitu 32 per 1.000 kelahiran hidup, sehingga angka kematian balita di Indonesia belum mencapai target yang ditetapkan oleh Sustainable Development Goals (SDGs) yaitu 25 per 1.000 kelahiran hidup. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan kematian balita di Indonesia dari tahun 2012 sampai dengan tahun 2017 dengan desain studi cross sectional dan menggunakan data sekunder Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2017. Analisis dilakukan pada seluruh sampel anak terakhir dengan usia 0-59 bulan yang tinggal dengan ibu terpilih sebagai responden. Hasil analisis dengan uji logistik ganda adalah proporsi kematian balita di Indonesia sebesar 1,8% dengan variabel paling berhubungan dominan yaitu riwayat pemberian ASI (AOR: 22.26, 95% CI: 16.72-29.64) dan hubungan yang signifikan didapatkan pada status pekerjaan ibu, jenis bahan bakar masak, jenis kelamin balita, dan berat badan lahir. Oleh karena itu, dibutuhkan adanya pelayanan dan promosi kesehatan pada ibu agar dapat mempersiapkan kehamilan seperti informasi tentang pemenuhan nutrisi yang dibutuhkan saat masa kehamilan agar dapat mencegah balita lahir prematur dan juga peningkatan pengetahuan tentang jenis bahan bakar masak tidak aman yang mengakibatkan penyakit pada anak hingga berakhir kematian.
The under-five mortality rate was used to measure child survival and also reflects the social, economic, and environmental conditions where children live. The under-five mortality rate in Indonesia is still high which is 32 per 1,000 live births, means the under-five mortality rate in Indonesia has not yet reached the target set by the Sustainable Development Goals (SDGs), which is 25 per 1,000 live births. This study aims to identify the factors associated with under-five mortality in Indonesia from 2012 to 2017 with a cross-sectional study design and uses secondary data from the 2017 Indonesian Demographic and Health Surveys. The analysis was carried out on all samples of the last child aged 0-59 months living with the mother selected as the respondent. The results of the analysis followed by a multiple logistic regression test showed that the proportion of under-five mortality in Indonesia was 1.8% with the variable that has the biggest correlation, namely the history of breastfeeding (AOR: 22.26, 95% CI: 16.72-29.64) and a significant correlation was found in the mother's employment status, type of cooking fuel, sex of the child, and birth weight. Therefore, there is a need for health services and promotion for mothers so they can prepare for health services and promotion for mothers so they can prepare for pregnancy such as information about fulfilling the nutrition needed during pregnancy to prevent babies born prematurely and also increasing knowledge about the types of unsafe cooking fuels that cause disease in children until it ends a dead.
S-11482
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
