Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 31732 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Ayesha Nuraini; Pembimbing: Budi Hartono; Penguji: Zakianis, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kesiapsiagaan masyarakat di Kecamatan Jatiasih, Kota Bekasi dalam menghadapi bencana banjir saat pandemi COVID-19 yang diukur berdasarkan empat parameter yaitu a) parameter pengetahuan dan sikap tentang risiko bencana; b) parameter rencana tanggap darurat bencana banjir; c) parameter sistem peringatan bencana banjir; dan d) parameter mobilisasi sumber daya. Penelitian dilakukan menggunakan metode deskriptif kuantitatif dan metode kualitatif. Sebanyak 150 rumah tangga menjadi sampel dalam penelitiaan ini. Terdapat juga 3 informan yang diwawancari untuk mendapatkan gambaran lebih dalam mengenai lokasi penelitian. Data yang didapatkan dari rumah tangga melalui kuesioner dianalisis dengan analisa univariat dan analisa indeks kesiapsiagaan.
Read More
S-10770
Depok : FKM-UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muhamad Rafly Syahputra; Pembimbing: Ema Hermawati; Penguji: Budi Hartono, Fajar Nugraha
Abstrak:
Banjir di Daerah Khusus Jakarta memicu krisis kesehatan lingkungan akibat terganggunya akses air bersih, sanitasi, pengelolaan sampah, dan peningkatan vektor penyakit. Penelitian ini bertujuan menganalisis perbedaan kesiapsiagaan masyarakat dalam aspek kesehatan lingkungan menghadapi banjir antara Kelurahan Jati Padang (rawan banjir) dan Kelurahan Kebagusan (tidak rawan banjir). Desain penelitian adalah komparatif potong lintang (cross-sectional) dengan teknik purposive sampling pada 30 rumah tangga (15 per kelompok). Data dikumpulkan melalui kuesioner dan observasi, kemudian dianalisis menggunakan indeks LIPI-UNESCO/ISDR serta uji Mann-Whitney U. Hasil menunjukkan karakteristik sosiodemografis relatif seimbang, namun tingkat pendidikan di Kelurahan Kebagusan lebih tinggi. Indeks pengetahuan dan sikap (KA) termasuk kategori siap (77,04 vs 78,89); rencana tanggap darurat (EP) sangat siap (81,94 vs 85,83); sistem peringatan dini (WS) belum siap (48,48 vs 52,42); mobilisasi sumber daya (RMC) belum siap (29,09 vs 27,27). Skor kesehatan lingkungan Kelurahan Jati Padang (81,1%) lebih tinggi dari Kelurahan Kebagusan (75,4%). Indeks kesiapsiagaan final tidak berbeda signifikan (p=0,059) dan skor kesehatan lingkungan juga tidak berbeda signifikan (p=0,543). Kesimpulannya, klasifikasi administratif zona rawan banjir tidak otomatis menjamin kesiapsiagaan yang lebih baik. Intervensi peningkatan WS, RMC, dan pengendalian vektor diperlukan di kedua kelurahan.

Flooding in Jakarta's Special Capital Region triggers an environmental health crisis due to disrupted access to clean water, sanitation, waste management, and increased disease vectors. This study analyzes differences in community preparedness for floods between Jati Padang (flood-prone) and Kebagusan (non-flood-prone). A comparative cross-sectional study used purposive sampling of 30 households (15 per group). Data from questionnaires and observations were analyzed using the LIPI-UNESCO/ISDR index and Mann-Whitney U test. Results show balanced sociodemographics, but higher education in Kebagusan. The knowledge and attitude (KA) index was “prepared” (77.04 vs. 78.89); emergency response plans (EP) “highly prepared” (81.94 vs. 85.83); early warning systems (WS) “not yet prepared” (48.48 vs. 52.42); resource mobilization (RMC) not ready (29.09 vs. 27.27). The environmental health score was higher in Jati Padang (81.1%) than Kebagusan (75.4%). The final preparedness index (p=0.059) and environmental health scores (p=0.543) were not significantly different. Administrative flood-prone classification does not automatically guarantee better preparedness. Interventions to improve WS, RMC, and vector control are needed in both subdistricts.
Read More
S-12269
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Abdul Fatah; Pembimbing: Ema Hermawati; Penguji: Bambang Wispriyono, Ponco Sugianto
Abstrak:
Skor indeks risiko bencana banjir tahun 2024 di Kabupaten Bogor berada di kelas tinggi dengan skor 12,82. Banjir menyebabkan krisis kesehatan akibat buruknya sanitasi dan penularan vektor. Penelitian ini mengevaluasi kesiapsiagaan Pemerintah Kabupaten Bogor dalam persiapan pemenuhan kebutuhan dasar kesehatan lingkungan dengan pendekatan kualitatif. Diketahui kebijakan merujuk pada regulasi nasional, mekanisme koordinasi antar sektor berjalan baik, dan berbagai program pemberdayaan masyarakat. Secara umum, perencanaan dalam kebutuhan air bersih, keamanan pangan, sanitasi darurat, pengelolaan sampah, dan limbah medis baik. Namun diperlukan peningkatan dalam rasio perhitungan kebutuhan dasar sesuai standar, fasilitas aksesibel bagi disabilitas, dan pemilahan jenis sampah di lokasi bencana.

In 2024, Bogor Regency’s flood disaster risk index was categorized as high with a score of 12.82. Floods can trigger health crises due to poor sanitation and vector-borne disease transmission. This study qualitatively evaluates the local government’s preparedness in fulfilling basic environmental health needs. Policies refer to national regulations, intersectoral coordination functions well, and various community empowerment programs are in place. Planning for water, food safety, emergency sanitation, and waste management is generally adequate. However, improvements are needed in standard-based needs calculation, accessible facilities for persons with disabilities, and waste segregation at disaster sites.
Read More
S-11923
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Kresna Lintang Pratidina; Pembimbing: Suyud warno Utomo; Penguji: Budi Hartono, Dzulfiqar Khaidir Sulong
Abstrak: Gangguan mental emosional, atau yang biasa disebut dengan distres psikologik, merupakan salah satu penyebab disabilitas pada negara ekonomi menengah ke bawah. Gangguan neuropsikiatri ini merupakan penyumbang sepertiga disabilitas yang dinilai dengan disability adjusted life years (DALYs). Banyak faktor yang memengaruhi gangguan mental ini. Selain karakteristik responden seperti umur dan jenis kelamin, banyak penelitian yang menemukan bahwa keberadaan ruang terbuka hijau (RTH) menjadi salah satu faktor yang menentukan kondisi kesehatan mental seseorang.
 
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan gangguan mental emosional ditinjau dari keberadaan RTH dan karakteristik responden. Desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional. Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara untuk mendapatkan data mengenai status mental, umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, dan status pekerjaan responden, data sekunder dari Bappeda, BPLH, dan Dinas Tata Kota Bekasi untuk mengetahui jumlah RTH di wilayah penelitian.
 
Hasil analisis menunjukkan bahwa sebanyak 23,3% responden di Kecamatan Jatiasih mengalami gangguan mental emosional. Faktor risiko tertinggi yang berhubungan signifikan dengan gangguan mental emosional pada responden yaitu tingkat pendidikan (OR = 4,206) dan status pekerjaan (OR = 2,306). Tidak ada hubungan yang signifikan antara RTH dan gangguan mental emosional.
 

Emotional mental disorders, or commonly referred to as psychological distress, are one cause of disabilities in the lower middle economies. Neuropsychiatric disorders is a third contributor to disability as measured by disability adjusted life years (DALYs). Many factors affect the mental disorder, such as depression and anxiety. In addition to respondent characteristics, e.g. age and gender, many studies found that the presence of green open space to be one of the factors that determine a person's mental health condition.
 
This study aims to determine the factors associated with emotional mental disorders in terms of the presence of green spaces and respondent characteristics. The study design for this reaseach was cross sectional. Data collected by interviews to obtain data regarding mental status, age, gender, education level, and employment status of the respondents, secondary data from Bappeda, BPLH, and Dinas Tata Kota Bekasi to determine the amount of green spaces in the study area.
 
The analysis showed that 23.3% of respondents in the Kecamatan Jatiasih suffered mental emotional disorder. The highest risk factors significantly associated to educational level (OR = 4,206) and employment status (OR = 2,306). There is no significant relationship between green space and mental emotional disorders.
Read More
S-8235
Depok : FKM-UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Pratiwi Soni Redha; Pembimbing: Laila Fitria; Penguji: Dewi Susana, Budi Hartono, Taohid, Fitriyani Dwi Astuti
Abstrak:
Kota Bandung memiki topografi berupa cekungan dan intensitas hujan yang tinggi sehingga berisiko terhadap terjadinya banjir. Kesiapsiagaan tenaga sanitasi lingkungan dan surveilans di lokasi bencana dipengaruhi oleh karakteristik individu, jalur dan tempat evakuasi, protap penanggulangan banjir, sistem informasi dan komunikasi dan biaya operasional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesiapsigaan tenaga sanitasi lingkungan dan surveilans pusat kesehatan masyarakat terhadap risiko kesehatan dalam bencana banjir di kota Bandung. Penelitian ini menggunakan desain crosssectional , teknik pengambilan sampel adalah simple randomed sampling pada 40 Puskesmas di Kota bandung pada bulan mei tahun 2022. Hasil penelitian adalah kesiapsiagaan tenaga sanitasi lingkungan dan surveilans terhadap risiko kesehatam dalam bencana banjir sebesar sebanyak 26 orang (51%), adanya hubungan yag signifikan antara lama bekerja, pelatihan dan biaya operasional terhadap kesiapsiagaan tenaga sanitasi lingkungan dan surveilans Puskesmas terhadap risiko kesehatan dalam bencana banjir di kota Bandung .Lama bekerja dan biaya operasional merupakan faktor dominan yang paling berhubungan. Sarannya dengan memfasilitasi pelatihan terkait penanggulangan kebencanaan ,peningkatan kapasitas profesi, menyediakan tempat dan fasilitas evakuasi, membuat sistem informasi dan komunikasi yang terintegrasi, menyediakan biaya operasional.

Bandung has a topography in the form of basins and high rainfall intensity so that it is at risk of flooding. The preparedness of environmental sanitation and surveillance personnel at disaster locations is influenced by individual characteristics, evacuation routes and places, flood management procedures, information and communication systems and operational costs. This study aims to determine the preparedness of environmental sanitation workers and surveillance of public health centers against health risks in the flood disaster in the city of Bandung. This study used a cross-sectional design, the sampling technique was simple randomed sampling at 40 Public health center in Bandung in May 2022. The result of the study was preparedness environmental sanitation workers and surveillance of public health centers against health risks in the flood disaster are 26 people (51%), there is a significant relationship between length of work, training and operational costs on the preparedness of environmental sanitation workers and Public health center surveillance of health risks in flood disasters in Bandung. Length of work and operating costs are the dominant factors that are most related. Some advice are to facilitate training about disaster management and increase professional capacity , building the evacuation places and facilities, making integrated information and communication systems, also providing operational costs.
Read More
T-6586
Depok : FKM UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Virli Andani Harnelis; Pembimbing: Al Asyary; Penguji: Dewi Susanna, La Ode Ahmad Saktiansyah
Abstrak: Demam berdarah dengue (DBD) ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegepty dan Aedes albopictus betina yang terinfeksi virus dengue (DENV). Selama masa pandemi COVID-19, jumlah kasus DBD di dunia internasional maupun nasional mengalami penurunan, begitupun Kota Jakarta Timur. Kendati demikian, Kota Jakarta Timur merupakan kota dengan kasus DBD tertinggi di Provinsi DKI Jakarta. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor iklim dengan jeda waktu 0 (non-time lag), 1 (time lag 1), dan 2 (time lag 2) bulan, kepadatan penduduk, dan angka bebas jentik (ABJ) dengan kejadian DBD di Kota Jakarta Timur pada saat sebelum dan selama masa pandemi COVID-19 tahun 2018-2021. Data dianalisis menggunakan uji beda ≥ 2 rata-rata, uji korelasi, dan analisis spasial. Secara statistik, terdapat perbedaan rata-rata incidence rate (IR) DBD dan ABJ yang signifikan antara tahun 2018-2021 (p = 0,000; p = 0,011). Selain itu uji korelasi menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara curah hujan time lag 1 (p = 0,002; r = 0,041) dan time lag 2 (p =0,000; r = 0,651), suhu udara time lag 1 (p = 0,004; r = -0,441), dan time lag 2 (p = 0,001; r = -0,48), serta kelembaban udara non time lag (p = 0,002; r = 0,429), time lag 1 (p = 0,000; r = 0,668), dan time lag 2 (p = 0,000; r = 0,699) dengan kejadian DBD. Secara spasial maupun statistik tidak ditemukan adanya hubungan yang signifikan antara kepadatan penduduk dan ABJ dengan kejadian DBD. Pemetaan tingkat kerawanan kejadian DBD pada saat sebelum dan selama pandemi COVID-19, menunjukkan bahwa dari 10 kecamatan yang ada di Kota Jakarta Timur, 1 kecamatan mengalami peningkatan tingkat kerawanan menjadi sedang dan 2 kecamatan mengalami penurunan tingkat kerawanan menjadi rendah. Kecamatan Matraman tergolong pada tingkat kerawanan tinggi. Kecamatan Jatinegara, Duren Sawit, Kramatjati, dan Ciracas tergolong pada tingkat kerawanan sedang. 5 Kecamatan lainnya tergolong pada tingkat kerawanan rendah. Adanya perbedaan rata-rata yang signifikan pada ABJ dan IR DBD, hubungan antara faktor iklim dengan kejadian DBD, serta tingkat kerawanan yang tinggi pada beberapa wilayah, sebaiknya dijadikan pertimbangan oleh pemerintah setempat untuk meningkatkan upaya pencegahan DBD dan menyusun rencana strategis dalam pengendalian DBD.
Dengue hemorrhagic fever (DHF) is transmitted by Aedes aegypti and Aedes albopictus mosquitoes infected with the dengue virus (DENV). During the COVID-19 pandemic, the number of dengue cases internationally and nationally decreased, as did the City of East Jakarta. Thus, East Jakarta City is the city with the highest dengue cases in DKI Jakarta Province. This study aims to analyze climate factors at time lag of 0 (non-time lag), 1 (time lag 1), and 2 (time lag 2) months, population density, and larva free index (LFI) with the incidence of DHF in the city of Jakarta. East before and during the 2018-2021 COVID-19 pandemic. The data were analyzed using the average difference test, correlation test, and spatial analysis. Statistically, there is a significant difference in the average incidence rate (IR) of DHF and LFI between 2018-2021 (p = 0.000; p = 0.011). In addition, the correlation test showed a significant relationship between rainfall at time lag 1 (p = 0.002; r = 0.041) and time lag 2 (p = 0.000; r = 0.651), air temperature at time lag 1 (p = 0.004; r = -0.441), and time lag 2 (p = 0.001; r = -0.48), as well as non-time lag air humidity (p = 0.002; r = 0.429), time lag 1 (p = 0.000; r = 0.668), and time lag 2 (p = 0.000; r = 0.699) with the incidence of DHF. Spatial and statistically, there was no significant relationship between population density and LFI with the incidence of DHF. Mapping the level of vulnerability to DHF events before and during the COVID-19 pandemic, shows that of the 10 sub-districts in East Jakarta City, 1 sub-district experienced an increase in the level of vulnerability to moderate and 2 sub-districts experienced a decrease in the level of vulnerability to low. Matraman sub-districts are classified as high vulnerability. Jatinegara, Duren Sawit, Kramatjati, and Ciracas sub-districts are classified as moderate vulnerability. The other 5 sub-districts are classified as low vulnerability. The existence of significant differences in the average ABJ and IR of DHF, the relationship between climatic factors and the incidence of DHF, as well as the high level of vulnerability in some areas, should be considered by the local government to increase efforts to prevent DHF and develop a strategic plan in controlling DHF.
Read More
S-11026
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Clara Andyna Hazairin; Pembimbing: I Made Djaja; Penguji: Budi Hartono, Yulia Fitria Ningrum
S-9879
Depok : FKM UI, 2018
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Erina Julia; Pembimbing: Haryoto Kusnoputranto; Penguji: Ririn Arminsih Wulandari, Entin Kartini
Abstrak: Tujuan dari penelitian ini ingin mengetahui aspek yang akan diteliti meliputi karakteristik limbah B3 medis, aspek regulasi, aspek sumber daya, dan aspek teknis (pemilahan, penyimpanan, pengangkutan, pengolahan, penguburan, dan penimbunan). Metode penelitian ini merupakan penelitian campuran atau mixed methods, kuantitatif dan kualitatif dengan analisis deskriptif. Data yang digunakan berasal dari wawancara dan dokumen serah terima limbah PT X bulan November 2020 hingga Juni 2021.
Read More
S-10607
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Candra Alfi Kusumadewi; Pembimbing: Suyud Warno Utomo; Penguji: Budi Hartono, Nunuk Agustina
S-8222
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fahmi Riyanto Hilmy; Pembimbing: Al Asyary; Penguji: Budi Hartono, Haryoto Kusnoputranto, Khayan, Betty Roosihermiati
Abstrak:
DBD adalah penyakit menular dengan virus dengue (DENV) melalui gigitan nyamuk Aedes (Ae.), dan merupakan permasalahan kesehatan serius di dunia. WHO menegaskan pentingnya pencegahan, dan pengendalian penyakit DBD, terutama saat pandemi COVID-19. Namun kenyataan penanganan DBD terabaikan karena fokus kasus COVID-19. Kota Bandar Lampung merupakan salah satu kabupaten/kota dengan kasus DBD terbanyak di Provinsi Lampung dalam waktu 2018 hingga 2021. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran dan hubungan pengendalian DBD dengan kejadian DBD sebelum dan selama pandemi COVID-19 di Kota Bandar Lampung dengan disain penelitian Kuantitatif dengan study ekologi. Populasi dan Sampel penelitian ini sebanyak 26 buah Puskesmas dan menggunakan data sekunder yang diperoleh dari Dinas Kesehatan dengan analisis Pearson, Wilcoxon, dan regresi linear. Hasil analisis menunjukan penurunan setiap tahun pada kejadian DBD di Kota Bandar Lampung dari tahun 2018 hingga 2021. Selain itu, terdapat hubungan bermakna namun berbanding lurus antara PSN (p = 0,04, korelasi 0,394) dan fogging (p= 0,00, Korelasi 0,796) terhadap kejadian DBD di Kota Bandar Lampung tahun 2019, dan tidak ada hubungan antara jumantik dan ABJ terhadap DBD di Kota Bandar Lampung. Terdapat perbedaan signifikan pada setiap variabel di Kota Bandar Lampung antara tahun 2018,2020, dan 2021 dengan adanya penurunan data pada Dengue dan fogging, kenaikan data pada ABJ, dan tidak ada perubahan pada data PSN dan jumantik di Kota Bandar Lampung. Fogging menjadi variabel yang dominan berhubungan dengan DBD namun menunjukan 4/5 (0,851) kejadian DBD terjadi setiap penambahan 1 jumlah program fogging. Kesimpulannya adalah Terjadinya penurunan kejadian DBD sebelum dan selama masa pandemi COVID-19. Adanya hubungan program PSN dan fogging terhadap Dengue, namun berbanding lurus dengan DBD di Kota Bandar Lampung tahun 2019. Disarankan bagi Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung untuk peningkatan sumber daya dan efektivitas program pengendalian DBD, dan penyuluhan edukasi terhadap masyarakat.

Dengue is a disease transmitted by the dengue virus (DENV) through the bite of the Aedes (Ae.) mosquito, and is a serious health problem in the world. WHO emphasizes the importance of preventing and controlling dengue fever, especially during the COVID-19 pandemic. However, the reality of handling dengue fever has been neglected because of the focus on the COVID-19 case. Bandar Lampung City is one of the districts/cities with the most dengue fever cases in Lampung Province from 2018 to 2021. This research aims to determine the description and relationship between dengue control and the incidence of dengue fever before and during the COVID-19 pandemic in Bandar Lampung City using a quantitative research design with ecological studies. The population and sample for this study were 26 community health centers and used secondary data obtained from the Health Service using Pearson, Wilcoxon and linear regression analysis. The analysis results indicate a consistent decrease in Dengue Fever (DBD) cases each year in Bandar Lampung City from 2018 to 2021. Furthermore, there is a significant positive correlation between PSN (p = 0.04, correlation 0.394) and fogging (p = 0.00, correlation 0.796) with DBD occurrences in Bandar Lampung City in 2019. However, there is no significant relationship between larval monitoring (jumantik) and ABJ (container index) with DBD in Bandar Lampung City. Significant differences were observed in each variable in Bandar Lampung City between 2018, 2020, and 2021, showing a decline in Dengue and fogging data, an increase in ABJ data, and no change in PSN and larval monitoring data. Fogging emerges as the dominant variable associated with DBD, indicating that 4/5 (0.851) DBD cases occur with every increase of 1 fogging program. In conclusion, there has been a decrease in DBD cases before and during the COVID-19 pandemic. There is a correlation between PSN and fogging programs with Dengue, positively correlating with DBD in Bandar Lampung City in 2019. Therefore, it is recommended for the Bandar Lampung City Health Service to enhance resources and the effectiveness of DBD control programs, along with public education and awareness campaigns.
 
Read More
T-7151
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive