Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 40279 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Erma Antasari; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Syarif Syahrizal, Agus Irianto
Abstrak: Pendahuluan: Pekerja merupakan salah satu kelompok rentan penyalahgunaan narkoba. Penggunaan narkoba oleh pekerja dapat menyebabkan hilangnya produktivitas, kecelakaan dan cedera di tempat kerja, peningkatan ketidakhadiran karyawan, penurunan semangat kerja dan gangguan kesehatan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui determinan demografi dan psikososial penyalahgunaan narkoba pada pekerja di Indonesia. Metode: Penelitian ini merupakan analisis data sekunder dari Survei Nasional Penyalahgunaan Narkoba pada Kelompok Pekerja Tahun 2017 dengan jumlah responden sebanyak 34.397. Analisis data dilakukan dengan menggunakan regresi logistik. Hasil: Uji multivariat menunjukkan perilaku penyalahgunaan narkoba pada pekerja berhubungan dengan karakteristik demografi (pendidikan), karakteristik psikologis (sikap setuju terhadap penyalahgunaan narkoba, perilaku merokok, perilaku minum minuman beralkohol, perilaku seks berisiko dan melakukan pekerjaan berisiko tinggi/ berbahaya), dan karakteristik sosial (lingkungan rumah rawan narkoba, kemudahan mendapatkan narkoba, keluarga menggunakan narkoba, teman kerja menggunakan narkoba, teman sepergaulan menggunakan narkoba, konflik dengan keluarga, konflik dengan rekan kerja, usia pertama kali bekerja kurang dari 15 tahun dan jarang/ tidak pernah melakukan kegiatan beribadah). Kesimpulan: Banyak faktor yang berpengaruh terhadap penyalahgunaan narkoba pada pekerja, oleh karena itu perlu adanya upaya komprehensif untuk mendorong terciptanya program pencegahan penyalahgunaan narkoba pada pekerja di Indonesia
Introduction: Workers are one of the vulnerable groups for drug abuse. Drugs use by workers can lead to loss of productivity, workplace accidents and injuries, the increase of employee absenteeism, the decrease in morale and health problems. The purpose of this study was to determine the demographic and psychosocial determinants of drug abuse among workers in Indonesia. Methods: This study was an analysis of secondary data from the 2017 National Survey on Drug Abuse in the Working Group with a total of 34,397 respondents. Data analysis was performed using logistic regression. Results: The multivariate test showed that drug abuse behavior among workers was related to demographic characteristics (education), psychological characteristics (the agreeable attitude towards drug abuse, smoking behavior, drinking behavior, risky sex behavior and doing high-risk/dangerous work), and social characteristics. (drug-prone home environment, easy access to drugs, family consuming drugs, coworkers consuming drugs, friends consuming drugs, conflict within the family, conflict with the co-workers, age at the first time working less than 15 years and rarely/never doing religious activities). Conclusion: Many factors influence drug abuse among workers, therefore there is a need for comprehensive efforts to encourage the creation of a drug abuse prevention programs for workers in Indonesia.
Read More
T-6259
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Salsabila Benazir; Pembimbing: Dwi Gayatri; Penguji: Krisnawati Bantas, Endang Mulyani
Abstrak: Penyalahgunaan narkoba pada pelajar dan mahasiswa di Indonesiameningkat setiap tahun. Rokok dapat menjadi salah satu awal untukmenyalahgunakan narkoba. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antarakebiasaan merokok dengan penyalahgunaan narkoba pada pelajar dan mahasiswadi 16 provinsi di Indonesia tahun 2011. Studi cross-sectional ini merupakananalisis data sekunder Survei Nasional Perkembangan Penyalahgunaan danPeredaran Gelap Narkoba Pada Kelompok Pelajar dan Mahasiswa di IndonesiaTahun 2011 oleh Puslitkes UI dan Badan Nasional Narkotika Nasional. Hasilpenelitian menggambarkan prevalensi penyalahgunaan narkoba pada pelajar danmahasiswa sebesar 2,3%. Terdapat interaksi antara . Responden perempuanpernah merokok berpeluang menyalahgunakan narkoba 3,3 kali (95% CI 2,3-4,7),sedangkan responden perempuan perokok aktif berpeluang menyalahgunakannarkoba 3,4 kali (95% CI 2,1-5,4) dibandingkan laki-laki tidak pernah merokokterhadap kejadian penyalahgunaan narkoba, setelah dikontrol oleh variabelkovariat tingkat pendidikan, pengaruh teman, konsumsi alkohol, dankeharmonisan keluarga. Responden laki-laki perokok aktif berpeluangmenyalahgunakan narkoba 2,9 kali (95% CI 1,1-8,2) dibandingkan laki-laki tidakpernah merokok terhadap kejadian penyalahgunaan narkoba setelah dikontrol olehvariabel kovariat jenis kelamin, pengaruh teman, konsumsi alkohol, dankeharmonisan keluarga. Kebiasaan merokok memiliki hubungan signifikandengan penyalahgunaan narkoba pada pelajar dan mahasiswa, sehingga upayapreventif dan promotif terkait bahaya rokok dan narkoba harus terus ditingkatkan.Kata Kunci: Narkoba, Merokok, Pelajar, Mahasiswa.
Read More
T-4710
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Asma Nabilah; Pembimbing: Bambang Sutrisna; Penguji; Yovsyah, Siti Nurlela Marliani
Abstrak: Pelajar/mahasiswa merupakan kelompok rentan atau berisiko untuk melakukan kenakalan remaja, salah satunya adalah penyalahgunaan narkoba. Hal ini dikarenakan pelajar/mahasiswa berada pada fase atau masa remaja dimana pelajar/mahasiswa mengalami krisis identitas, memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, serta cenderung bersifat labil sehingga akan mudah dipengaruhi baik dengan hal yang positif maupun negatif oleh lingkungan disekitarnya. Salah satu lingkungan yang dapat mempengaruhi pelajar/mahasiswa adalah teman sebaya.
 
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pengaruh teman sebaya terhadap perilaku penyalahgunaan narkoba pada pelajar/mahasiswa di Indonesia. Data yang digunakan adalah data sekumder yang berasal dari hasil Survei Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba pada Kelompok Pelajar dan Mahasiswa Tahun 2016 oleh BNN dan PPK UI dengan menggunakan desain studi cross sectional. Sampel merupakan pelajar/mahasiswa di 18 provinsi terpilih yang sesuai dengan kriteria inklusi dengan jumlah sampel sebanyak 27.939 responden.
 
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pelajar/mahasiswa yang memiliki teman sebaya yang menggunakan narkoba mempunyai risiko 7,4 kali lebih besar untuk memiliki perilaku penyalahgunaan narkoba dibandingkan dengan pelajar/mahasiswa yang tidak memiliki teman sebaya yang menggunakan narkoba setelah dikontrol variabel jenis kelamin, kerawanan lingkungan sekolah/kampus dan riwayat ditawari narkoba.
 

 
Students are vulnerable or risk group for juvenile delinquency, one of which is drug abuse. This is because students are in adolescence where students have an identity crisis, high curiosity, and tend to be unstable so it will be easily influenced both with positive and negative things by the surrounding environment. One of the environments that can affect students are peers.
 
The purpose of this study is to find the influence of peer towards students drug abuse behavior in Indonesia. This study uses secondary data from the Drug Abuse National Narcotics Board Republic of Indonesia Survey In Students 2016 by BNN and PPK UI and uses Cross Sectional design study. Sample in this study is students in 18 selected provinces that compatible with the inclusion criteria with a total sample of 27,939 respondents.
 
The results showed that students with peer had a history of drugs in it were 7.4 times more likely to abuse drugs after controlled by sex variable, vulnerability of the school campus environment and history of drugs offer.
Read More
S-9771
Depok : FKM-UI, 2018
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Arisa Tika Wahyuliza; Pembimbing: Nasrin Kodim; Penguji: Yovsyah, Endang Mulyani
Abstrak: PENYALAHGUNAAN NARKOBA MASIH MENJADI MASALAH YANG BELUM TERSELESAIKAN SECARA GLOBAL MAUPUN NASIONAL. HAL INI MENUNJUKKAN BAHWA MASALAH PENYALAHGUNAAN NARKOBA HARUS DAPAT DITEKAN SAMPAI SEMINIMAL MUNGKIN. SURVEI BNN TAHUN 2015 MENYATAKAN BAHWA TERDAPAT PERBEDAAN ANGKA PREVALENSI YANG CUKUP BESAR ANTARA PENYALAHGUNA NARKOBA DI RUMAH TANGGA UMUM (1,8%) DAN KHUSUS (5,9%) ADALAH SALAH SATU ALASAN MENGAPA PERLU DITILIK LEBIH LANJUT FAKTOR APA YANG MENYEBABKAN PERBEDAAN PREVALENSI PENYALAHGUNAAN NARKOBA TERSEBUT. SALAH SATU FAKTOR YANG DINILAI PALING DOMINAN ADALAH PENGARUH FAKTOR EKSTERNAL, YAITU PENGARUH DARI KONDISI LINGKUNGAN SOSIAL. PENELITIAN INI BERTUJUAN UNTUK MENGETAHUI HUBUNGAN ANTARA KONDISI LINGKUNGAN SOSIAL DENGAN PERILAKU PENYALAHGUNAAN NARKOBA DI RUMAH KOS PADA 6 KOTA DI INDONESIA. PENELITIAN INI MENGGUNAKAN DATA SEKUNDER DARI SURVEI PREVALENSI PENYALAHGUNAAN NARKOBA PADA KELOMPOK RUMAH TANGGA DI 20 PROVINSI DI INDONESIA TAHUN 2015 DENGAN DESAIN PENELITIAN CROSS SECTIONAL. POPULASI DAN SAMPEL DALAM PENELITIAN INI ADALAH PENGHUNI RUMAH KOS YANG BERDOMISILI DI 6 KOTA YAITU MEDAN, JAKARTA, SURABAYA, PONTIANAK, MAKASSAR DAN MANADO. HASIL PENELITIAN MENUNJUKKAN BAHWA BESAR RISIKO PENGHUNI RUMAH KOS YANG PERNAH DITAWARI NARKOBA OLEH KERABAT ADALAH 140,459 KALI LEBIH BESAR UNTUK MEMILIKI PERILAKU PENYALAHGUNAAN NARKOBA PADA TAHUN 2015 SETELAH DIKONTROL VARIABEL MEMILIKI RIWAYAT KERABAT YANG MENGGUNAKAN NARKOBA, KEIKUTSERTAAN DALAM PENYULUHAN DAN STATUS MEROKOK. KATA KUNCI: RUMAH KOS, PENYALAHGUNAAN NARKOBA, LINGKUNGAN SOSIAL
Read More
S-9874
Depok : FKM-UI, 2018
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Normandhieva Acmad Syuhada; Pembimbing: Nurhayati Adnan Prihartono; Penguji: Rizka Maulida, Ridho Ichsan Syaini
Abstrak:
Sindrom metabolik merupakan kumpulan kondisi yang meningkatkan risiko penyakit jantung, diabetes, dan stroke, dan prevalensinya semakin meningkat di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Pekerja, baik dalam kategori white-collar maupun blue-collar, sering kali terpapar faktor risiko yang berbeda akibat gaya hidup dan lingkungan kerja mereka. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kejadian sindrom metabolik pada pekerja white-collar dan blue-collar di Indonesia berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Dengan total sampel sebanyak 8.582 individu, terdiri dari 4.053 pekerja white-collar dan 4.529 pekerja blue-collar, penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional dan analisis multivariat dengan modifikasi Cox hazard. Variabel independen yang dianalisis meliputi usia, jenis kelamin, pendidikan, aktivitas fisik, perilaku merokok, konsumsi alkohol, konsumsi makanan manis, konsumsi minuman manis, konsumsi makanan asin, konsumsi makanan berlemak, konsumsi daging/ayam/ikan olahan dengan pengawet, dan gangguan kesehatan jiwa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi sindrom metabolik pada kelompok white-collar mencapai 51%, sedangkan pada kelompok blue-collar sebesar 42,9%. Pada kelompok white-collar, variabel yang paling berpengaruh terhadap sindrom metabolik adalah usia dan jenis kelamin, dengan hubungan yang signifikan. Sementara itu, pada kelompok blue-collar, variabel yang paling berpengaruh meliputi usia, jenis kelamin, dan konsumsi minuman manis. Tingginya prevalensi sindrom metabolik pada kedua kelompok pekerja ini menunjukkan perlunya perhatian masyarakat untuk menerapkan gaya hidup sehat guna mencegah risiko sindrom metabolik.

Metabolic syndrome is a cluster of various conditions that increase the risk of heart disease, diabetes and stroke, and its prevalence is increasing worldwide, including in Indonesia. Workers, both in the white-collar and blue-collar categories, are often exposed to different risk factors due to their lifestyle and work environment. This study aims to analyze the incidence of metabolic syndrome in white-collar and blue-collar workers in Indonesia based on the 2023 Indonesian Health Survey (IHS) data. With a total sample of 8,582 individuals, consisting of 4,053 white-collar workers and 4,529 blue-collar workers, this study used a cross-sectional study design and multivariate analysis with modified Cox hazard. Independent variables analyzed included age, gender, education, physical activity, smoking behavior, alcohol consumption, consumption of sweet foods, consumption of sweet drinks, consumption of salty foods, consumption of fatty foods, consumption of processed meat/chicken/fish with preservatives, and mental health disorders. The results showed that the prevalence of metabolic syndrome in the white-collar group reached 51%, while in the blue-collar group it was 42.9%. In the white-collar group, the most influential variables on metabolic syndrome were age and gender, with significant relationships. Meanwhile, in the blue-collar group, the most influential variables included age, gender, and consumption of sugary drinks. The high prevalence of metabolic syndrome in these two groups of workers indicates the need for public attention to adopt a healthy lifestyle to prevent the risk of metabolic syndrome.
Read More
S-11855
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Jauhari Oka Reuwpassa; Pembimbing: Sudarto Ronoatmodjo; Penguji: Helda; Rahmadewi
Abstrak: Kehamilan tidak diharapkan seringkali berakhir dengan dengan aborsi illegal yang membahayakan ibu dan bayinya. Hal ini tentu menambah beban masalah kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besar pengaruh paritas terhadap kehamilan tidak diharapkan pada wanita usia subur (WUS) di Indoensia. Penelitian ini menggunakan data sekunder survey demografi kesehatan Indonesia (SDKI) 2017. Total 15.316 responden memenuhi kriteria eligible penelitian. Data di analisis menggunakan regresi cox untuk melihat crude dan adjusted asosiasi. Besar signifikansi dinilai dari 95% rentang kepercayaan (CI95%)
Read More
T-5695
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nasya Shafira; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Yovsyah, Nurjannah
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan factor sosiodemografi, pengetahuan dan persepsi, perilaku penggunaan napza, perilaku berisiko seks, dan perilaku pencegahan dengan kejadian HIV pada kelompok kunci pengguna narkotika suntik (penasun) di Indonesia. Penelitian ini menggunakan data sekunder STBP 2018-2019. Sampel yang digunakan adalah penasun yang ada diseluruh Indonesia yang sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi dengan jumlah sampel sebanyak 1.364. data dianalisis secara univariat dan bivariat. Prevalensi HIV sebanyak 13,7%.
Read More
S-10542
Depok : FKM-UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nabilla Sophiarany; Pembimbing: Helda; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Suhartini Saragi
Abstrak: Penyalahgunaan NAPZA di kalangan remaja di Indonesia terus mengalami peningkatan dari tahun 2010 hingga 2012 sehingga menimbulkan berbagai masalah kesehatan, kriminalitas, maupun sosial. Penelitian ini bertujuan melihat hubungan antara faktor individu, keluarga, dan lingkungan dengan perilaku penyalahgunaan NAPZA pada remaja yang bersekolah di Provinsi DKI Jakarta, Jawa Timur, dan Sumatera Utara pada tahun 2011. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain studi cross sectional dengan menggunakan data sekunder Survei Nasional Perkembangan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba pada Kelompok Pelajar/Mahasiswa di Indonesia Tahun 2011. Sampel berjumlah 5999 responden, berstatus remaja yang bersekolah di Provinsi DKI Jakarta, Jawa Timur, dan Sumatera Utara yang berusia 10-24 tahun. Hasil penelitian ini adalah ditemukannya faktor individu yang berhubungan dengan perilaku penyalahgunaan NAPZA di kalangan remaja, yaitu usia, jenis kelamin, pendidikan, status merokok, status minum alkohol, dan usia pertama minum alkohol; faktor keluarga, yaitu pekerjaan ayah, ayah melakukan penyalah guna NAPZA, dan saudara kandung penyalah guna NAPZA; faktor lingkungan lokal, yaitu teman sebaya penyalah guna NAPZA dan ketersediaan NAPZA. Penelitian ini menemukan bahwa risiko lebih tinggi untuk penyalahgunaan NAPZA ditemukan pada remaja berada pada usia 17-24 tahun, jenis kelamin lelaki, pendidikan tinggi, perokok, peminum alkohol, usia minum alkohol yang semakin dini, ayah yang tidak bekerja, ayah yang menyalahgunakan NAPZA, saudara kandung yang menyalahgunaka NAPZA, teman sebaya yang menyalahgunakan NAPZA, serta NAPZA yang tersedia di lingkungan tempat tinggal. Kata Kunci: Individu; keluarga; lingkungan; NAPZA; narkoba; penyalahgunaan; remaja
Read More
S-8579
Depok : FKM-UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ulfa Nurul Qomariah; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Mugia Bayu Raharja
Abstrak: Komplikasi kehamilan menjadi penting karena komplikasi kehamilan adalah salah satufaktor penyebab kematian ibu. Kejadian komplikasi kehamilan di Indonesia telahmengalami peningkatan dari 11% di tahun 2007 menjadi 19 % di tahun 2017 berdasarkandata SDKI 2017. Tujuan dari penelitian ini yaitu menemukan hubungan antara usia ibu,paritas, dan aktivitas bekerja dengan kejadian komplikasi kehamilan di Indonesiaberdasarkan data Survei Demografi Kesehatan Indonesia Tahun 2017. Desain penelitian iniadalah case control. Penelitian ini menggunakan data sekunder dari Survei Demografi danKesehatan Indonesia Tahun 2017. Sampel penelitian ini adalah ibu hamil yang menjadisampel pada penelitian Survei Demografi Kesehatan Indonesia Tahun 2017, terdiri dari 73kasus dan 73 sampel. Hasil penelitian secara statistik diperoleh variabel yang memilikihubungan signifikan dengan kejadian komplikasi kehamilan yaitu usia ibu (OR 3,086; 95%Cl 1,104-4,458; p value 0.028) dan paritas (OR 2,218; 95%Cl 1,104-4,458; p value 0,037).Kata kunci : Ibu Hamil, Komplikasi Kehamilan, Usia Ibu, Paritas, Aktivitas Bekerja.
Read More
S-10309
Depok : FKM-UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Melvin Ezekiel; Pembimbing: Rizka Maulida; Penguji: Lhuri Dwianti Rahmartani, Nia Reviani
Abstrak:

Latar belakang: Inisiasi seksual adalah indikator utama dari kesehatan dan kesejahteraan seksual remaja. Sebagai kejadian transisi pada hidup individu, inisiasi seksual idealnya terjadi secara terencana atas persetujuan seluruh pihak yang melakukannya dengan relasi yang setara. Namun, penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa terdapat berbagai risiko yang menyertai inisiasi seksual, terutama apabila dilakukan pada usia yang lebih awal.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan menemukan gambaran dan mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan inisiasi seksual pada remaja laki-laki dan remaja perempuan di Indonesia.
Metode: Dengan menggunakan desain potong lintang, penelitian ini melakukan analisis chi square dan regresi logistik terhadap 6.005 sampel remaja berusia 13 s.d. 17 tahun yang diperoleh dari Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja Tahun 2024. Terdapat tiga belas variabel yang diteliti dalam penelitian ini, yaitu inisiasi seksual sebagai variabel dependen; gender sebagai variabel penstratifikasi; serta status pendidikan, status pekerjaan, pengetahuan terkait HIV, konsumsi alkohol, konsumsi NAPZA, struktur keluarga, dukungan keluarga, status sosial ekonomi, status perkawinan, riwayat berpacaran, dan dukungan teman sebagai variabel independen. Adapun inisiasi seksual dalam penelitian ini didefinisikan sebagai pengalaman hubungan seksual pertama kali.
Hasil: Sebanyak 1,0% remaja berusia 13 s.d. 17 tahun di Indonesia pernah mengalami inisiasi seksual dengan rincian 0,7% pada remaja laki-laki dan 1,4% pada remaja perempuan. Penelitian ini juga menemukan bahwa determinan dari inisiasi seksual pada remaja meliputi status bekerja pada remaja laki-laki (aOR: 5,30; 95% CI: 1,75—16,09); pernah mengonsumsi alkohol seumur hidup pada remaja secara gabungan (aOR: 7,30; 95% CI: 3,71—14,33), remaja laki-laki (aOR: 9,17; 95% CI: 3,06—27,44), dan remaja perempuan (aOR: 5,71; 95% CI: 1,59—20,54); status telah menikah pada remaja secara gabungan (aOR: 1.059,50; 95% CI: 226,60—4.953,98) dan remaja perempuan (aOR: 451,08; 95% CI: 76,84—2.648,17); dan riwayat pernah berpacaran pada remaja secara gabungan (aOR: 9,51; 95% CI: 4,21—21,45), remaja laki-laki (aOR: 6,81; 95% CI: 1,68—27,70), dan remaja perempuan (aOR: 8,67; 95% CI: 3,13—24,06). Adapun status sosial ekonomi rendah-sedang memiliki hubungan negatif dengan inisiasi seksual pada remaja secara keseluruhan (aOR: 0,44; 95% CI: 0,21—0,93; P value = 0,030) dan remaja laki-laki (aOR: 0,15; 95% CI: 0,06—0,43; P value < 0,001).
Kesimpulan: Faktor individu, situasional, keluarga, dan relasi berkaitan dengan inisiasi seksual. Faktor-faktor ini perlu dipertimbangkan dalam intervensi yang meliputi pendidikan seksualitas yang komprehensif, pemberian layanan kesehatan reproduksi remaja, dan penegakan hukum. Penelitian dengan desain longitudinal diperlukan untuk memastikan ada/tidaknya hubungan kausalitas antarvariabel.


Background: Sexual initiation is the core indicator for adolescent sexual health and well-being. As a transition event on adolescents’ life, sexual initiation is ideally performed with plan and consent from each of the parties involved and within an equal relation. However, previous studies have shown that there are increased risks that follow sexual initiation, especially if it happens early. Aim: This study aimed to describe and identify factors related to sexual initiation on male and female adolescents in Indonesia. Methods: Using cross-sectional design, this study was analyzed using chi square and logistic regression analysis on 6.005 samples of adolescents ranging from 13 to 17 years old accessed from National Survey of Life Experiences of Children and Adolescents 2024. This study focuses on sexual initiation as dependent variable; gender as stratifying variable; educational status, working status, knowledge about HIV, alcohol use, drug use, family structure, family support, socioeconomic status, marital status, dating history and peer support as indendent variables. Sexual initiation, in this study, is defined as the experience of first sexual intercourse.  Results: One percent (1,0%) of adolescents in Indonesia have had their first sexual intercourse. The percentage is ranging from 0,7% on male adolescents and 1,4% on female adolescents. This research also finds that the determinants of sexual initiation on adolescents are male adolescents who are currently working (aOR: 5,30; 95% CI: 1,75—16,09); have consumed alcohol in lifetime on both adolescents (aOR: 7,30; 95% CI: 3,71—14,33), male adolescents (aOR: 9,17; 95% CI: 3,06—27,44), and female adolescents (aOR: 5,71; 95% CI: 1,59—20,54) who have consumed alcohol in lifetime; being married on adolescents cumulatively (aOR: 1.059,50; 95% CI: 226,60—4.953,98) and female adolescents (aOR: 451,08; 95% CI: 76,84—2.648,17); and ever dated someone on both adolescents(aOR: 9,51; 95% CI: 4,21—21,45), male adolescents (aOR: 6,81; 95% CI: 1,68—27,70), and female adolescents (aOR: 8,67; 95% CI: 3,13—24,06). Low-middle socioeconomic status is negatively associated with sexual initiation on both adolescents (aOR: 0,44; 95% CI: 0,21—0,93) and male adolescents (aOR: 0,15; 95% CI: 0,06—0,43; P value < 0,001). Conclusion: Individual, situasional, family and relational factors are related to sexual initiation. These factors should be considered during interventions that include comprehensive sexuality education, adolescent reproductive health service and law enforcement. Researches with longitudinal nature are required to identify the presence of causal associations between variables.

Read More
S-12140
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive