Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 29701 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Reva Maya Tika; Pembimbing: Laila Fitria; Penguji: Al Asyary, Syafran Arrazy
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian CVS pada mahasiswa tahun 2021. Penelitian ini menggunakan studi potong lintang (cross-sectional) dengan populasi mahasiswa S1 Reguler FKM UI angkatan 2018, 2019, dan 2020 dengan jumlah sampel 124 mahasiswa. Data dikumpulkan melalui kuesioner online dengan media gform yang disebarkan pada bulan November 2021. Analisis univariat dilakukan untuk melihat frekuensi distribusi dari masing-masing variabel dan analisis bivariat dilakukan dengan menggunakan uji chi-square untuk melihat hubungan secara statistik. Kemudian juga dimunculkan nilai odd ratio untuk melihat nilai kelompok yang memiliki risiko.
Read More
S-10886
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mashita Fajri Maysuro; Pembibing: Umar Fahmi Achmadi; Penguji: Laila Fitria, Erlina Puspitaloka
Abstrak: Computer vision syndrome (CVS) adalah sindrom yang terjadi karena adanya interaksi mata yang berlebihan dengan komputer. Faktor risiko terkait individu, lingkungan, dan komputer dapat meningkatkan prevalensi CVS dan menyebabkan gejala visual dan ekstraokular pada mata. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa hubungan antara faktor risiko individu, komputer, dan lingkungan dengan prevalensi CVS pada mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer (Fasilkom) Universitas Indonesia. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain studi cross sectional. Sampel penelitian terdiri dari 109 mahasiswa reguler Fasilkom UI angkatan 2015-2018. Teknik sampling yang digunakan adalah stratified random sampling. Penelitian ini menggunakan instrumen penelitian berupa kuesioner online. Data yang terkumpul kemudian dianalisis dengan menggunakan analisis univariat dan bivariat. Prevalensi CVS diperoleh dari sampel sebanyak 36 mahasiswa (33%). Hasil uji bivariat antara faktor risiko dan CVS diperoleh sebagai berikut, riwayat penyakit mata (p= 0.25 OR= 1.76 CI 95%= 0.76-4.07), penggunaan kacamata (p=0.32 OR= 2.02 CI 95%= 0.71- 3.91), jenis kelamin (p= 1.00 OR= 1.67 CI 95%= 0.45-2.29), postur duduk (p=0.27 OR 0.49 CI 95%= 0.76-3.82), usia (p=0.04 OR= 3.19), lama waktu per penggunaan komputer (p= 0.01 OR=1.76 CI 95%= 0.67-3.39), dan durasi penggunaan komputer per hari (p= 0.41 OR= 4.08 CI 95%= 1.42-11.7). Dapat disimpulkan bahwa faktor risiko yang behubungan secara signifikan terhadap kejadian CVS adalah usia dan lama waktu per penggunaan komputer. Kata kunci: Computer vision syndrome, mahasiswa, faktor risiko
Read More
S-10051
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Achmad Fachri; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari; Penguji: Laila Fitria, Didik Supriyono
Abstrak: Pendahuluan: Computer Vision Syndrome (CVS) merupakan penyakit yangmuncul sejak perkembangan teknologi diabad ke-21 dengan tingkat prevalensikejadian secara global sebesar 60 juta dan kerugian Rp192 trilliun setiap tahunnya.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan faktor individu,lingkungan dan komputer serta faktor risiko dominan dengan kejadian CVS padastaf POLRES Metro Jakarta Pusat tahun 2020. Metode: Penelitian inimenggunakan pendekatan studi potong lintang dengan jumlah sampel 92 stafkepolisian yang bertugas di markas besar POLRES Metro Jakarta Pusat dan waktupenelitian pada bulan Juni 2020. Pengumpulan data dilakukan dengan instrumenkuesioner dan pengukuran lingkungan langsung menggunakan lux meter dan RHindex. Analisis deskriptif dengan melihat frekuensi serta proporsi, uji kai kuadratmemunculkan nilai odd ratio dan uji regresi logistik ganda. Hasil: Hasil penelitianmenunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan pada semua variabel dari faktorindividu, lingkungan dan komputer dengan kejadian CVS. Walaupun begitu,terdapat empat variabel yang menjadi faktor risiko dengan kejadian CVSdiantaranya kelainan refraksi (OR=1,65), perilaku merokok (OR=1,89),kelembaban (OR=2,5) dan jenis monitor (OR=1,11). Analisis multivariatmenunjukkan kelembaban ruang kerja memiliki hubungan yang signifikan dengankejadian CVS (p=0,04) dan merupakan faktor risiko dominan (OR=2,5).Kesimpulan: Terdapat empat faktor risiko yang dapat menyebabkan kejadian CVSpada staf POLRES Metro Jakarta Pusat. Saran: Pengendalian faktor risiko kejadianCVS perlu dilakukan oleh pihak POLRES Metro Jakarta Pusat melalui berbagaiprogram promosi kesehatan dan kebijakan terkait kesehatan dan keselamatan kerja.Kata kunci: Computer Vision Syndrome, Kesehatan Lingkungan Perkantoran, Komputer
Introduction: Computer Vision Syndrome (CVS) is one of the emerging diseasesin the 21st century because of advanced technology with the global prevalencearound 60 million from various population characteristics and could cause aneconomic burden equivalent to 192 trillion rupiah. Objective: This study aims todetermine the relationship of individual, environmental, and computer factors aswell as the dominant risk factor with the occurrence of CVS in the Central JakartaMetropolitan Police Officers in 2020. Method: This study uses a cross-sectionalstudy approach with a sample of 92 police officers who are serving at theheadquarters with the research time along June 2020. Data were collected throughquestionnaire and direct environmental measurements using lux meter and RHIndex. Descriptive statistics (chi square) and binary logistic regression were carriedout to compute frequencies, proportion, relevant associations and dominant riskfactors. Results: The results showed there was no significant relationship on allvariables from individual, environment, and computer factors with the occurrenceof CVS. Nevertheless, there are four variables that are risk factors for CVS such asrefractive errors (OR=1.65), smoking behavior (OR=1.89), humidity (OR=2.50),and computer monitor type (OR=1.11). Multivariate analysis showed that humidityhad a significant relationship with CVS (p=0,04) and a dominant risk factor(OR=2.5). Conclusion: There are four risk factors that can cause CVS occurrencein the police officers at the Central Jakarta Metropolitan Police Headquarters.Suggestion: Risk factors for CVS at the Central Jakarta Metropolitan PoliceHeadquarters need to be done through various health promotion programs andpolicies related to occupational health, environmental, and safety.Key words:Computer Vision Syndrome, Environmental Health Office, Computer.
Read More
S-10276
Depok : FKM-UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nurul Maretia Rahmayanti; Pembimbing: Wulandari, Ririn Arminsih / Penguji: Fitria, Laila; Supriyono, Didik
Abstrak: Computer Vision Syndrome (CVS) merupakan gejala okular dan ekstraokular akibat penggunaan komputer dan menyebabkan penurunan produktivitas kerja. CVS adalah keluhan kesehatan akibat kerja dengan kasus terbanyak di seluruh dunia. Mahasiswa jurusan Teknik Informatika dan Komputer termasuk kelompok rentan terkena keluhan CVS. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara karakteristik individu (usia, jenis kelamin, postur kerja, sudut pandang, jarak pandang, durasi kerja, pola istirahat, dan penggunaan alat bantu penglihatan), lingkungan kerja (intensitas pencahayaan ruang kerja, suhu udara, kelembaban udara), dan karakteristik komputer (jenis komputer, jenis monitor, intensitas radiasi elektromagnetik, penggunaan lapisan antiglare, dan polaritas monitor) dengan kejadian CVS pada mahasiswa di jurusan Teknik Informatika dan Komputer Politeknik Negeri Jakarta tahun 2015. Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional dengan menggunakan data primer, dan jumlah sampel sebanyak 100 mahasiswa. Hasil analisis bivariat diperoleh bahwa variabel yang memiliki hubungan bermakna dengan kejadian CVS pada mahasiswa adalah jenis kelamin responden (4,09;1,41-11,90), durasi kerja di luar praktikum (0,32;0,14-0,76), intensitas pencahayaan ruang kerja (8,75;1,26-60,59), dan intensitas radiasi elektromagnetik (2,54;1,09-5,92). Faktor yang paling dominan hubungannya dengan kejadian CVS adalah intensitas pencahayaan ruang kerja. Diperlukan penerapan aspek K3L untuk menurunkan angka kejadian CVS. Kata kunci: Karakteristik individu, lingkungan kerja, komputer, computer vision syndrome (CVS), mahasiswa. Computer Vision Syndrome (CVS) is ocular and extraocular symptoms caused by the use of computer and it decreases work productivity. CVS has the highest incidence of occupational health problem worldwide. Students of informatics and computer engineering major are included the population at risk of CVS. This study aims to determine the relationship between individual characteristic (age, gender, work position, sight angle, distance angle, duration of work, break pattern, and the use of glasses), environmental (lighting, temperature, and humidity), and computer characteristics (computer type, monitor type, electromagnetic radiation intencity, the use of antiglare screen, and monitor polarity) with incidence of CVS among students in Informatics and Computer Engineering major, Politeknik Negeri Jakarta 2015. This study uses crosssectional study design and primary data with sample of 100 students. Result of bivariate analysis shows that variable which significantly associated with CVS incidence among students are gender (4,09;1;41-11,90), duration of work outside class (0,32;0,14-076), lighting intencity (8,75;1,26-60,59), and electromagnetic radiation intencity 2,54;1,09-5,92). The most dominant factor associated with the occurance of CVS is lighting intencity. Occupational and Environmental Health and Safety implementation is needed to reduce the incidence of CVS Keywords: Individual charracteristics, environmental charracteristics, computer, computer vision syndrome (CVS), student.
Read More
S-8698
Depok : FKM-UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rahadian Muhammad Shadik; Pembimbing: Baiduri Widanarko; Penguji: Abdul Kadir, Syahrul Efendi Panjaitan
Abstrak: Computer Vision Syndrome (CVS) menjadi salah satu masalah kesehatan yang paling banyak dialami oleh pengguna komputer, termasuk mahasiswa. Akibat adanya pandemi Covid-19, banyak kegiatan yang tadi nya dilakukan secara offline/luring, berubah menjadi daring, termasuk dalam sektor pendidikan. Hal ini mengakibatkan durasi penggunaan alat elektronik dengan layar digital/VDT meningkat, khususnya di kalangan mahasiswa. Durasi penggunaan layar digital/VDT ini merupakan salah satu faktor risiko dari Computer Vision Syndrome. Selain dari durasi, diduga ada beberapa faktor risiko lain yang juga berhubungan dengan Computer Vision Syndrome. Sehingga tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk melihat gambaran kejadian Computer Vision Syndrome dan faktor risikonya, serta menganalisis hubungan antara kejadian Computer Vision Syndrome dan faktor risikonya pada mahasiswa (S1 Reguler dan pascasarjana S2) Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia di masa pandemi Covid-19 tahun 2022. Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret-Juni 2022 dengan menggunakan kuesioner CVS-Q dan beberapa pertanyaan singkat terkait faktor risiko yang disebar secara online. Desain studi yang digunakan pada penelitian ini adalah cross-sectional dan melibatkan 250 responden yang berasal dari mahasiswa S1 reguler dan pascasarjana S2 FKM UI. Hasil dari penelitian ini menunjukkan terdapat 6 variabel yang mempunyai hubungan yang signifikan, yaitu usia (P value = 0,000), durasi penggunaan layar digital/VDT(P value = 0,006), pola istirahat (P value = 0,007), kelainan refraksi mata(P value = 0,014), penggunaan antiglare (P value = 0,011), dan screen brightness (P value = 0,030 ). Oleh karena itu, dibutuhkan pengendalian dan intervensi lebih lanjut agar masalah tersebut dapat diatasi.
Computer Vision Syndrome (CVS) is one of the most common health problems experienced by computer users, including students. Due to the Covid-19 pandemic, many activities that were previously carried out offline have turned into online, including the education sector. This condition increased the use duration of electronic devices with digital screens/VDT, especially among students, it is one of the risk factors for Computer Vision Syndrome. Apart from duration, several risk factors are also associated with Computer Vision Syndrome. The aims of this study are to see an overview of Computer Vision Syndrome incidence and analyze the relationship between Computer Vision Syndrome incidence and its risk factors in regular (S1) and postgraduate (S2) students, Faculty of Public Health, University of Indonesia (FKM UI) during the Covid-19 pandemic. This research was conducted in March-June 2022 using the CVS-Q questionnaire and several short questions related to risk factors distributed online. The study design used in this study was cross-sectional and involved 250 respondents from regular undergraduate and postgraduate students of FKM UI. The results of this study indicate that there are 6 variables that have a significant relationship, namely age (P value = 0.000), duration of use of digital screens/VDT (P value = 0.006), rest pattern (P value = 0.007), eye refraction abnormalities (P value = 0.014), use of antiglare (P value = 0.011), and Screen brightness (P value = 0.030 ). Therefore, further controls and interventions are needed so that these problems can be overcome.
Read More
S-11064
Depok : FKM-UI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Widya Fitri; Pembimbing: Bambang Wispriyono, Ririn Arminasih Wulandari; Penguji: Zakianis, Imron Cahyono, Didik Supriyono
Abstrak: Latar Belakang : ISPA merupakan masalah utama kesehatan di Indonesia terutama pada balita sehingga perlu mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah, karena tingginya angka kematian dan kesakitan yang disebabkan oleh penyakit tersebut. Hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional 2004, menunjukkan Propinsi Riau memiliki keluhan kesehatan selama satu bulan terakhir cukup tinggi dengan persentase panas (40,89%), batuk (52,24%), pilek (49,69%) dan nafas sesak (4%). Profil Kesehatan Riau 2003 mencatat bahwa ISPA menduduki urutan pertama dari sepuluh penyakit terbanyak dengan pola penyakit penderita ISPA rawat jalan di puskesmas untuk semua golongan umur dan menduduki peringkat utama untuk golongan umur 28 hari sampai satu hari. Tujuan : untuk mengetahui faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian ISPA pada balita di Propinsi Riau berdasarkan data Susenas 2004. Rancangan Penelitian : Penelitian ini merupakan analisis data sekunder dengan menggunakan data Susenas 2004 dengan desain penelitian potong lintang (cross sectional). Variabel yang diteliti disesuaikan dengan variabel yang tersedia pada data Susenas 2004 meliputi umur balita, imunisasi DPT/Campak, riwayat pemberian ASI, pendidikan ibu, jenis atap, jenis dinding, jenis lantai, kepadatan hunian, luas rumah, sosial ekonomi, bahan bakar masak dan tipe wilayah. Analisis dilakukan dengan perangkat lunak yang sesuai untuk data survei dengan mempertimbangkan stratatifikasi, cluster dan pembobotan. Analisis dilakukan secara univariat, bivariat dan multivariat. Hasil : Dari analisis diketahui bahwa 30,88% balita di Propinsi Riau menderita ISPA. Uji bivariat menunjukkan dari duabelas variabel yang diteliti, hanya ada tiga variabel yang berhubungan signifikan dengan kejadian ISPA yaitu umur, imunisasi DPT/Campak dan bahan bakar masak dan uji multivariat diperoleh hubungan yang bermakna antara umur, imunisasi DPT/Campak dengan kejadian ISPA. Studi ini menemukan efek protektif pada imunisasi tidak lengkap dibandingkan imunisasi lengkap terhadap kejadian ISPA pada balita di Propinsi Riau tahun 2004. Namun hasil ini tidak dapat digeneralisasikan karena keterbatasan data sekunder mengenai riwayat imunisasi balita. Sebagai saran perlu ditingkatkan penyuluhan dan pendidikan kesehatan kepada ibu-ibu yang memiliki balita terutama mengenai pentingnya imunisasi lengkap sesuai jadwal pemberian dan pemberian ASI ekslusif. Kata Kunci : ISPA, balita, faktor risiko, Susenas 2004, Riau.
Background : The acute upper airway infection (AUAI) is the main health problem in Indonesia. This case causes high morbidity and mortality mostly on the baby, therefore it needs special attention from the government. The result of the national social economic survey in the 2004 show that Riau province has the quite high number cases reported on the febrile (40,89%), cough (52, 24%), flu (49, 69%) and dyspnea (4%). From the Riau health profile in 2003 shows that the case of acute upper airway infection is on the most cases from the 10 the most cases in Riau. Most of this case was reported for adult and child in out- patient public health center, and as the highest case for baby with 1-28 days old. Objective : The goal of this study was to know the risk factor that related to the case of acute upper airway infection on the baby in the Riau province based on the national social economic survey 2004. Methods : This study was analyzing the secondary data from national social economic survey 2004. The design of the study was cross sectional. The variable that have been analyzed based on the data provide in the national social economic survey 2004 such as the age of the baby, immunization coverage, exclusive breast feeding, educational background of the mother, kinds of roof of the house, kinds of wall of the house, kinds of floor of the house, the space of the house, social economic status, etc. the analyze process was using univariate, bivariate and multivariate analyzes. Conclusions : The result of this study shows that 30, 88% of the baby got acute upper airway infection in Riau province. From bivariate analyze for 12 variables, only 3 variables have significant correlation to the acute upper airway infection, which are the age, immunization (DPT/Chicken pox) coverage and the family fuel used. From multivariate analyze shows the strong correlation on the age, immunization coverage and the acute upper airway infection. Another findings on this study were the uncompleted immunization coverage seems had protective effect to the prevention of the acute upper airway infection, although it could not be standardized for the baby immunization coverage, although this result could not be generalized because of the limitation of the secondary data on the baby immunization history.. Some recommendation of this study were the health education on the immunization coverage and exclusive breast feeding should be given to the mother who have baby especially on the schedule of breast feeding. Keywords : AUAI, baby, risk factor, Susenas 2004, Riau
Read More
T-2131
Depok : FKM-UI, 2005
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wibowo Ady Sapta; Pembimbing: Abdur Rahman; Penguji: Haryoto Kusnoputranto, Suherman, Sujono
T-1287
Depok : FKM-UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fitri Handayani; Pembimbing: Caroline Endah Wuryaningsih; Penguji: Ella Nurlaela Hadi, Anggi Anggarini
Abstrak:
Latar Belakang: Industri seni mengalami lonjakan popularitas yang berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi. Melalui demand yang tinggi, pekerja seni rentan terhadap risiko Carpal Tunnel Syndrome dengan peningkatan durasi kerja. CTS memiliki prevalensi tahunan sebanyak 3,3-3,5 kasus per 100 orang. Program studi Desain Komunikasi Visual yang melibatkan unsur seni rupa dan komunikasi menjadikan mahasiswanya sebagai salah satu populasi rentan. Oleh karena itu, studi ini hendak menelusuri faktor yang berhubungan dengan kejadian risiko CTS pada mahasiswa DKV di Pulau Jawa. Metode: Studi cross-sectional yang dilakukan pada bulan Juli 2025 melibatkan 190 responden untuk meneliti hubungan faktor keturunan, perilaku, serta lingkungan terhadap risiko CTS menggunakan kerangka teori H.L Blum. Hasil: Mayoritas responden berisiko terhadap CTS (89%). Durasi dan frekuensi kerja memiliki hubungan yang signifikan dengan risiko CTS (p-value = 0,008 dan p-value = 0,002). Kesimpulan: Durasi dan frekuensi kerja mahasiswa DKV berpengaruh terhadap risiko CTS. Mahasiswa diharapkan mampu melakukan manajemen waktu dan beristirahat selama 10-15 menit setiap 2 jam dalam lingkup kampus untuk meningkatkan kesadaran dan mengurangi risiko terhadap CTS.

Background: The art industry is experiencing a surge in popularity that contributes to economic growth. Due to high demand, artists are vulnerable to the risk of CTS with increased work duration. CTS has an annual prevalence of 3.3-3.5 cases per 100 people. The DKV study program, which involves elements of fine arts and communication, makes its students one of the vulnerable populations. Therefore, this study aims to explore factors related to the risk of CTS among DKV students in Java. Methods: A cross-sectional study conducted in July 2025 involving 190 respondents examined the relationship between hereditary, behavioral, and environmental factors and the risk of CTS using H.L. Blum's theoretical framework. Results: The majority of respondents were at risk of CTS (89%). Duration and frequency of work had a significant relationship with the risk of CTS (p-value = 0.008 and p-value = 0.002). Conclusion: The duration and frequency of work for DKV students influence the risk of CTS. Students are expected to manage their time and take a 10-15 minute break every two hours on campus to increase awareness and reduce the risk of CTS.
Read More
S-12181
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Agoesti Novalentina; Pembimbing: Hendra; Penguji: Abdul Kadir, Yulian Marstianto
Abstrak:
Komputer merupakan salah satu alat kerja perkantoran yang digunakan untuk menunjang kebutuhan pekerjaan. Dampak dari penggunaan komputer yang berlebihan adalah Computer Vision Syndrome (CVS). Karyawan Head Office PT X berisiko untuk terkena CVS karena sehari-hari bekerja menggunakan komputer. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kejadian CVS dan faktor risiko yang berhubungan pada karyawan PT X. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Pengumpulan data menggunakan kuesioner, observasi, dan pengukuran langsung kepada 100 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 75% responden mengalami kejadian CVS. Gejala CVS yang paling banyak dirasakan oleh responden adalah mata tegang (72%), mata gatal (68%), dan mata kering (67%). Gejala CVS lebih banyak ditemukan pada karyawan perempuan (79,3%), karyawan yang istirahat dengan durasi 15 menit (75,6%), karyawan yang bekerja menggunakan laptop (76%), karyawan yang menggunakan komputer tanpa lapisan anti glare (75,8%), serta karyawan yang menggunakan komputer mode terang (78,1%). Analisis hubungan dengan menggunakan uji chi square, didapatkan hubungan yang signifikan antara penggunaan alat bantu penglihatan (p=0,019, OR=3,35), jarak pandang (p=0,047, OR=3,08), dan intensitas pencahayaan (p=0,047, OR=3,08) dengan kejadian CVS. Semua faktor risiko CVS berkontribusi terhadap kejadian CVS pada karyawan, tetapi tidak semua variabel berhubungan secara signifikan. Oleh karena itu perlu dilakukan upaya perbaikan yang mencakup ketiga faktor tersebut dalam rangka menurunkan gejala CVS pada karyawan Head Office PT X.

The computer is one of the office work tools used to support work needs. The impact of excessive computer use is Computer Vision Syndrome (CVS). Head Office employees of PT X are at risk of developing CVS because they work daily using computers. This study aims to determine the incidence of CVS and associated risk factors in PT X employees. This study used a quantitative method with a cross sectional approach. Data collection used questionnaires, observation, and direct measurement to 100 respondents. The results showed that 75% of respondents experienced CVS. The most common CVS symptoms felt by respondents were eye strain (72%), itchy eyes (68%), and dry eyes (67%). CVS symptoms were more common among female employees (79,3%), employees who took breaks with a duration of 15 minutes (75,6%), employees who worked on laptops (76%), employees who used computers without anti glare coating (75,8%), and employees who used bright mode computers (78.1%). Relationship analysis using the chi square test showed a significant relationship between the use of visual aids (p=0,019, OR=3.35), visibility (p=0,047, OR=3.08), and lighting intensity (p=0,047, OR=3.08) with the incidence of CVS. All CVS risk factors contributed to the incidence of CVS in employees, but not all variables were significantly associated. Therefore, it is necessary to make improvement efforts that include all three factors in order to reduce CVS symptoms in PT X Head Office employees.
Read More
S-11686
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Labibah Saraswati; Pembimbing: Hendra; Penguji: Mila Tejamaya, Syifa Rindani Rachmawati
Abstrak:
PT X merupakan perusahaan distribusi dan manufaktur bahan kimia dengan mayoritas pekerja berada di kantor pusat Jakarta, mencakup Bagian Corporate maupun Bagian Distribution. Aktivitas harian pekerja didominasi oleh tugas administratif dan manajerial berbasis komputer dengan durasi penggunaan perangkat digital yang panjang, tuntutan akurasi data, serta pemenuhan target operasional dan pengawasan anak perusahaan. Kombinasi antara paparan layar yang intensif dan beban kerja kognitif tersebut berpotensi meningkatkan risiko gangguan penglihatan terkait penggunaan visual display terminal (VDT). Sementara itu, program kesehatan kerja yang tersedia saat ini masih berfokus pada pemeriksaan visus mata dan belum menjangkau gejala Computer Vision Syndrome (CVS) secara spesifik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian CVS pada pekerja kantor pusat PT X tahun 2026. Penelitian observasional ini menggunakan desain potong lintang (cross-sectional) yang melibatkan 140 pekerja kantor pusat PT X sebagai responden. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner CVS-Q yang disebarkan secara daring untuk mengukur gejala CVS, serta dilengkapi dengan pengukuran intensitas pencahayaan setempat. Uji chi-square digunakan untuk menganalisis hubungan antara variabel individu, perangkat komputer, dan lingkungan kerja dengan kejadian CVS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 60 pekerja (42,9%) mengalami CVS, sedangkan 80 pekerja (57,1%) tidak menunjukkan gejala. Keluhan yang paling banyak dilaporkan adalah mata kering (52,1%), diikuti sakit kepala (47,1%), mata kabur (45,0%), mata berair (43,6%), dan gatal pada mata (38,5%). Analisis bivariat menunjukkan bahwa kelainan refraksi (p=0,009), durasi penggunaan komputer (p=0,010), dan posisi monitor (p=0,033) berhubungan signifikan dengan kejadian CVS. Di antara ketiga faktor tersebut, kelainan refraksi yang tidak dikoreksi memiliki hubungan terkuat dengan keluhan CVS. Sementara itu, faktor jenis kelamin, penggunaan alat bantu penglihatan, pola istirahat mata, jarak pandang ke layar, dan intensitas pencahayaan tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Oleh karena itu, upaya pencegahan CVS pada pekerja kantor tidak hanya bergantung pada perbaikan ergonomi, melainkan dikombinasikan dengan deteksi dini kelainan refraksi. Pendekatan ini dapat menjadi dasar bagi PT X dalam mengembangkan kebijakan kesehatan mata pekerja, khususnya pada populasi dengan tuntutan administratif dan pengawasan operasional yang tinggi.

PT X is a chemical manufacturing and distribution company with the majority of its employees based at the Jakarta head office, spanning both the Corporate and Distribution divisions. Daily operations are dominated by computer-based administrative and managerial tasks involving prolonged digital device use, high data accuracy demands, and responsibility for meeting operational targets as well as overseeing subsidiary entities. This combination of intensive screen exposure and cognitive workload potentially increases the risk of visual display terminal (VDT)-related visual disturbances. Meanwhile, the current occupational health program remains limited to structural visual acuity examinations and has not specifically addressed Computer Vision Syndrome (CVS) symptoms. This study aims to analyze the risk factors associated with CVS occurrence among head-office workers at PT X in 2026. This observational study adopted a cross-sectional design involving 140 head-office workers at PT X as respondents. Data were collected using the online CVS-Q questionnaire to measure CVS symptoms, complemented by local lighting intensity measurements. The Chi-square test was performed to analyze the associations of individual, computer-device, and work-environment variables with CVS occurrence. The results revealed that 60 workers (42.9%) experienced CVS, while 80 workers (57.1%) were asymptomatic. The most frequently reported complaints were dry eyes (52.1%), followed by headache (47.1%), blurred vision (45.0%), watery eyes (43.6%), and itchy eyes (38.5%). Bivariate analysis showed that refractive error (p=0.009), duration of computer use (p=0.010), and monitor position (p=0.033) were significantly associated with CVS. Among these three factors, uncorrected refractive error demonstrated the strongest association with CVS complaints. Conversely, sex, use of visual aids, eye-rest patterns, viewing distance, and lighting intensity showed no significant association. Therefore, CVS prevention strategies among office workers should not rely solely on ergonomic improvements but must be integrated with the early detection of refractive disorders. This comprehensive approach can serve as a foundation for PT X to develop employee eye-health policies, particularly for a workforce with demanding administrative and operational oversight duties.
Read More
S-12469
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive