Ditemukan 40204 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Efi Kurniatiningsih; Pembimbing: Budi Hartono; Penguji: Ririn Arminsih Wulandari, Ema Hermawati, Leo Hariono
Abstrak:
Konsentrasi PM2,5 dalam ruang mempengaruhi kesehatan apabila terhirup oleh manusia terutama pada kelompok rentan seperti balita. Balita yang tinggal dalam rumah dengan konsentrasi PM2.5 tidak memenuhi syarat memiliki risiko terhadap kejadian gejala ISPA. Penelitian ini dilakukan dengan desain studi cross sectional pada balita diwilayah kerja Puskesmas Mekarmukti yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi di desa Mekarmukti, Pasirgombong dan desa Wangunharja sebanyak 130 orang. Penentuan gejala ISPA pada balita berdasarkan hasil wawancara dan observasi menggunakan kuesioner sedangkan pengukuran konsentrasi PM2,5 dalam ruang menggunakan Haz dustEPAM 5000.Analisis dilakukan dengan menggunakan analisis regresi logistik ganda. Hasil analisis menunjukkan hubungan yang signifikan antara konsentrasi PM2,5 dengan gejala ISPA pada balita (8,47 ; 3,52-20,36). Faktor lain yang mempengaruhi adalah statusmerokok (1,38; 0,58-3,26), jenis kelamin (1,22; 0,58-2,55), status gizi (1,64; 0,56-4,84), suhu (2,48; 0,97-6,32) dan kelembaban (1,96; 0,89-4,34). Analisis multivariat menunjukkan bahwa balita yang tinggal dalam rumah dengan konsentrasi PM2,5 tidak memenuhi syarat memiliki risiko 15,71 kali mengalami gejala ISPA setelah dikontrol dengan variabel kelembaban dan pendapatan orang tua. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat hubungan bermakna antara konsentrasi PM2.5 dengan kejadian gejala ISPA pada balita. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengendalian dan pencegahan terhadap efek PM2.5 dengan konseling kesehatan lingkungan dan peningkatan promosi kesehatan terkait faktor risiko gejala ISPA pada balita
Read More
T-6447
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Yuniatun; Pembimbing: Laila Fitria; Penguji: Ririn Arminsih Wulandari, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak:
Kejadian penyakit merupakan hasil hubungan interaktif antara manusia dan perilakunya serta komponen lingkungan yang memiliki potensi penyakit. Penelitian ini bertujuan melihat hubungan konsentrasi PM2.5 terhadap kejadian Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) pedagang di Terminal Bus Senen. Hasil penelitian ini menunjukkan konsentrasi PM2.5 mencapai 219 μg/m3. Didapatkan pedagang dengan ISPA sebesar 28% dari 93 sampel. Terdapat hubungan yang signifikan antara lama kerja dengan kejadian ISPA (p=0,027). Tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara paparan PM2.5 , umur, status gizi, status merokok dan durasi kerja. Selanjutnya diperlukan pemantauan uji emisi kendaraan dan pemantauan kualitas udara.
Read More
S-9975
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ni Putu Sri Wahyuni; Pembimbing: Budi Haryanto; Penguji: Sri Tjahyani Budi Utami, Retno Maharsi
S-8141
Depok : FKM-UI, 2014
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Epi Ria Kristina Sinaga; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari; Penguji: Zakianis, Didik Supriyono
S-6983
Depok : FKM UI, 2012
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Nadya Isnaeni Pangabean; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari; Penguji: Zakianis, Didik Supriyono
S-7472
Depok : FKM UI, 2012
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Nanda Labado; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari; Penguji: Bambang Wispriyono, Budi Hartono, Lora Agustina, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak:
ISPA merupakan salah satu penyakit penyebab kematian pada anak-anak di dunia khususnya Negara berkembang seperti di Indonesia. Faktor penyebab ISPA adalah kondisi lingkungan rumah serta PHBS yang buruk. Tingginya insiden ISPA di Kabupaten Gorontalo khususnya balita dan belum tercapainya target RPJMN rumah sehat di Provinsi Gorontalo melatarbelakangi dilakukannya penelitian terkait kondisi lingkungan rumah dan perilaku dengan Kejadian ISPA pada anak balita di wilayah kerja Puskesmas Tilango. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan faktor-faktor terkait kondisi lingkungan dan perilaku yang berhubungan dengan kejadian ISPA di kecamatan Tilango. Penelitian ini menggunakan desain studi Cross sectional dengan analisis multivariate Binary Regresi logistic model prediksi. Populasi pada penelitian ini adalah anak balita usia 0-59 bulan yang berkunjung ke Puskesmas Tilango. Pemilihan sampel penelitian ini dilakukan secara acak berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi yang ditetapkan. Jumlah sampel dalam penelitian ini yaitu 92 responden. Hasil penelitian ini ditemukan bahwa yang paling dominan secara signifikan terhadap Kejadian ISPA pada balita di Kecamatan Tilango yaitu Pendapatan (OR=13,9, 95% CI 3,395-57,668), Pendidikan (OR=11,3, 95%CI 2,498-51.650), Status Imunisasi (OR=9,8, 95%CI 1,019-95.346), Luas Ventilasi (OR= 8,9, 95%CI= 2,204-35,956), Kebiasaan Buka Jendela (OR=0,05, 95%CI 0,007-0,447). kesimpulan pada penelitian ini adalah banyak faktor yang dapat mempengaruhi kejadian ISPA pada balita yaitu karakteristik balita, karakteristik orangtua, perilaku dan lingkungan rumah
Read More
T-6425
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Wiwin Kurniawati; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari; Penguji: Ema Hermawati, Laila Fitria, Yulia Fitria Ningrum, Didik Supriyono
Abstrak:
Read More
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) masih menjadi masalah kesehatan pada balita di Indonesia. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023, prevalensi ISPA pada balita di Indonesia mencapai 34,2%. Sementara prevalensi ISPA di Kota Bogor tercatat sebesar 71%, jauh lebih tinggi dari rata-rata nasional. Adapun Puskesmas dengan jumlah penderita ISPA pada balita terbanyak di Kota Bogor adalah Puskesmas Kedung Badak, dengan total kasus selama lima tahun terakhir (2020-2024) mencapai 10.399 kasus. Penelitian ini bertujuan menganalisis determinan kejadian ISPA pada balita di wilayah kerja Puskesmas Kedung Badak Kota Bogor tahun 2026. Desain penelitian menggunakan case-control retrospektif dengan melibatkan 110 balita usia 0-59 bulan yang terdiri dari 55 balita ISPA dan 55 balita non-ISPA, dipilih menggunakan systematic random sampling. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan uji chi- square, dan multivariat menggunakan regresi logistik ganda. Analisis bivariat menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan secara statistik antara seluruh variabel yang diteliti dengan kejadian ISPA pada balita. Namun, hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa kebiasaan merokok orangtua merupakan faktor yang paling dominan, dengan OR sebesar 2,13 (95% CI: 0,98-4,70). Meskipun hasil analisis statistik tidak menunjukkan hubungan yang signifikan pada α=5%, arah asosiasi yang positif serta besarnya nilai OR masih mengindikasikan adanya kecenderungan yang layak diperhatikan secara klinis. Diperlukan upaya pencegahan melalui edukasi perilaku hidup sehat dan pengendalian paparan asap rokok di dalam rumah, untuk mendorong perubahan perilaku merokok serta menciptakan lingkungan rumah yang lebih sehat bagi tumbuh kembang balita.
Acute Respiratory Infections (ARI) remain a health issue among children under five years of age in Indonesia. According to the 2023 Indonesian Health Survey (SKI), the prevalence of ARI among under-five children in Indonesia reached 34.2%. In Bogor City, however, the prevalence reached 71%, substantially higher than the national average. Among all primary healthcare centers in the city, Kedung Badak Primary Health Center reported the highest number of ARI cases in children under five, with a total of 10,399 cases recorded over the last five years (2020–2024). This study aimed to analyze the determinants of ARI among children under five in the working area of Kedung Badak Primary Health Center, Bogor City, in 2026. The study design used a retrospective case-control study involving 110 under-five children, consisting of 55 with ARI and 55 without ARI, selected using systematic random sampling. Data analysis was performed using univariate and bivariate analyses with the chi-square test, and multivariate analysis using multiple logistic regression. Bivariate analysis showed that there was no statistically significant association between any of the variables studied and the incidence of ARI in under-five children. However, the results of the multivariate analysis showed that parental smoking habits were the most dominant factor, with an OR of 2.13 (95% CI: 0.98–4.70). Although the statistical analysis did not reveal a significant association at the 5% level, the positive direction of the association and the magnitude of the OR still indicate a trend worthy of clinical attention. Preventive efforts are needed through education on healthy lifestyles and control of second-hand smoke exposure in the home to encourage changes in smoking behavior and create a healthier home environment for the growth and development of children under five ages.
T-7532
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Maya Kartika; Pembimbing: Budi Haryanto; Penguji: Dewi Susanna, Rahmat Suherwin
S-6828
Depok : FKM UI, 2011
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ema Fiki Munaya; Pembimbing: Sri Tjahjani Budi Utami; Penguji: Laila Fitria, Didik Supriyono
Abstrak:
Data menunjukkan bahwa angka kejadian penyakit ISPA nasional selalu menunjukkan peningkatan setiap tahun. Tahun 2013 dengan Provinsi Jawa Tengah menempati posisi ketujuh dengan jumlah penderita ISPA terbanyak. Angka kejadian ISPA nonpneumonia selama 2011-2013 di Kota Magelang maupun diPuskesmas Kelurahan Magersari selalu menunjukkan peningkatan dengan sebagian besar penderita adalah balita.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar faktor risiko kualitas lingkungan fisik rumah ( jenis lantai, atap,dinding, luas ventilasi, kepadatan hunian) dan pencemaran udara dalam rumah( keberadaan perokok dalam rumah, pengguaan anti nyamuk bakar, bahan bakar memasak dalam rumah)terhadap kejadian ISPA nonpneumonia pada balita diwilayah kerja Puskesmas Magersari, Kota Magelang, Jawa Tengah tahun 2013.
Desain penelitian ini adalah case-control dengan masing-masing sampel berjumlah 50 balita. Case adalah balita yang menderita ISPA nonpneumonia dengan diagnosis dokter puskesmas, sedangkan control balita yang didiagnosis tidak menderita ISPA. Ada hubungan yang bermakna antara jenis lantai nilai p0,000 &OR 15,881 ( 95% CI : 4,949-50,958), jenis atap nilai p 0,000 & OR13,500 (95% CI 5,087-35,830), jenis dinding nilai p 0,000 &OR 17,484 ( 95% CI6,314-48,415), kepadatan hunian, nilai p 0,000 & OR 12,250 (95% CI 4,652-32,258), keberadaan perokok dalam rumah nilai p 0,003 &OR 4,205 ((95% CI1,692-10,448) dan penggunaan bahan bakar memasak nilai p 0,000 & OR 11,294( 95% CI 2,435-52,379).
Kata kunci ; faktor risiko, jenis lantai, atap, dinding, luas ventilasi, kepadatan hunian,keberadaan perokok dalam rumah, pengguaan anti nyamuk bakar, bahan bakar memasak dalam rumah, ISPA nonpneumonia
Nation health data show that the incidence of acute respiratory infection (ARI)always increased every years. 2013, with Central Java Province occupies was theseventh position with the highest number of patients with acute respiratoryinfection (ARI). The incidence of ARI nonpneumonia during 2011-2013 in thecity of Magelang as well as in the Village Health Center Magersari alwaysincrease which most of the patientare are under five children.
This study aims todetermine how big the risk factors of physical quality of the home environment(type of floor, roof, walls, extensive ventilation, residential density) and indoor airpollution (presence of smokers in the home, using anti-mosquito, cooking fuel inthe house) to nonpneumonia ARI incidence of under five children in the workingarea of Magersari health center, Magelang, Central Java in 2013.
The Research design was a case-control study by each sample for 50 under five children. Caseare under five with nonpneumonia ARI diagnosis by Megersari Helath Centerdoctors, whereas control are underfive children which not diagnosed with ARIs .There is a significant correlation between the type of floor p value 0.000 and OR15.881 (95 % CI : 4.949 to 50.958), the type of roof p-value of 0.000 and OR13,500 (95 % CI 5.087 to 35.830), the type of wall p-value of 0.000 and OR17.484 (95 % CI 6.314 to 48.415), residential density, p-value 0.000 and OR12,250 (95 % CI 4.652 to 32.258), the presence of smokers in the house p-valueof 0.003 and OR 4.205 (95 % CI 1.692 to 10.448) and cooking fuel p value0,000OR 11,294 (95 % CI 2.435 to 52.379).
Keywords ; risk factors, types of floors, roofs, walls, extensive ventilation,residential density, the presence of smokers in the home, anti-mosquito, cookingfuel in the house, ARI nonpneumonia
Read More
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar faktor risiko kualitas lingkungan fisik rumah ( jenis lantai, atap,dinding, luas ventilasi, kepadatan hunian) dan pencemaran udara dalam rumah( keberadaan perokok dalam rumah, pengguaan anti nyamuk bakar, bahan bakar memasak dalam rumah)terhadap kejadian ISPA nonpneumonia pada balita diwilayah kerja Puskesmas Magersari, Kota Magelang, Jawa Tengah tahun 2013.
Desain penelitian ini adalah case-control dengan masing-masing sampel berjumlah 50 balita. Case adalah balita yang menderita ISPA nonpneumonia dengan diagnosis dokter puskesmas, sedangkan control balita yang didiagnosis tidak menderita ISPA. Ada hubungan yang bermakna antara jenis lantai nilai p0,000 &OR 15,881 ( 95% CI : 4,949-50,958), jenis atap nilai p 0,000 & OR13,500 (95% CI 5,087-35,830), jenis dinding nilai p 0,000 &OR 17,484 ( 95% CI6,314-48,415), kepadatan hunian, nilai p 0,000 & OR 12,250 (95% CI 4,652-32,258), keberadaan perokok dalam rumah nilai p 0,003 &OR 4,205 ((95% CI1,692-10,448) dan penggunaan bahan bakar memasak nilai p 0,000 & OR 11,294( 95% CI 2,435-52,379).
Kata kunci ; faktor risiko, jenis lantai, atap, dinding, luas ventilasi, kepadatan hunian,keberadaan perokok dalam rumah, pengguaan anti nyamuk bakar, bahan bakar memasak dalam rumah, ISPA nonpneumonia
Nation health data show that the incidence of acute respiratory infection (ARI)always increased every years. 2013, with Central Java Province occupies was theseventh position with the highest number of patients with acute respiratoryinfection (ARI). The incidence of ARI nonpneumonia during 2011-2013 in thecity of Magelang as well as in the Village Health Center Magersari alwaysincrease which most of the patientare are under five children.
This study aims todetermine how big the risk factors of physical quality of the home environment(type of floor, roof, walls, extensive ventilation, residential density) and indoor airpollution (presence of smokers in the home, using anti-mosquito, cooking fuel inthe house) to nonpneumonia ARI incidence of under five children in the workingarea of Magersari health center, Magelang, Central Java in 2013.
The Research design was a case-control study by each sample for 50 under five children. Caseare under five with nonpneumonia ARI diagnosis by Megersari Helath Centerdoctors, whereas control are underfive children which not diagnosed with ARIs .There is a significant correlation between the type of floor p value 0.000 and OR15.881 (95 % CI : 4.949 to 50.958), the type of roof p-value of 0.000 and OR13,500 (95 % CI 5.087 to 35.830), the type of wall p-value of 0.000 and OR17.484 (95 % CI 6.314 to 48.415), residential density, p-value 0.000 and OR12,250 (95 % CI 4.652 to 32.258), the presence of smokers in the house p-valueof 0.003 and OR 4.205 (95 % CI 1.692 to 10.448) and cooking fuel p value0,000OR 11,294 (95 % CI 2.435 to 52.379).
Keywords ; risk factors, types of floors, roofs, walls, extensive ventilation,residential density, the presence of smokers in the home, anti-mosquito, cookingfuel in the house, ARI nonpneumonia
S-8176
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Mutmainnah; Pembimbing: Budi Haryanto; Penguji: Ema Hermawati, Bai Kusnadi
Abstrak:
Read More
Latar Belakang: InfeksidSaluran Pernapasan Akut (ISPA) masihmmenjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat Indonesia, terutama di wilayah perkotaan padat pendudk seperti Kota Bogor. Particulate Matter 2,5 (PM 2,5) dalam ruang diduga menjadi salah satu faktor lingkungan yang berkontribusi. Tujuan: Mengetahui hubungan antara konsentrasi PM 2,5 udara dalam ruang dengan kejadian ISPA pada masyarakat di Kota Bogor tahun 2025. Metode: Penelitian menggunakan desain cross-sectional. Variabel dependen adalah kejadian ISPA, sedangkan variabel independen utama adalah konsentrasi PM 2,5 udara dalam ruang. Variabel lain yang dianalisis meliputi kepadatan hunian, pajanan asap rokok, dan perilaku membersihkan rumah. Hasil: Sebanyak 7,7% rumah tangga mengalami kejadian ISPA, dan 50,4% rumah tangga memiliki konsentrasi PM 2,5 udara dalam rumah yangggtidak memenuhi syarat. Hasilaanalisis bivariat menunjukkan bahwa konsentrasi PM 2,5 udara dalam rumah tidak berhubungan secara signifikan dengan kejadian ISPA (p = 0,150; OR = 1,54; 95% CI: 0,89–2,67). Variabel kepadatan hunian menunjukkan hubungan yang bermakna secara statistik dengan kejadian ISPA (p = 0,019; OR = 2,10; 95% CI: 1,16–3,79), sedangkan pajanan asap rokok (p = 0,133; OR = 1,73; 95% CI: 0,89–3,33) dan perilaku membersihkan rumah (p = 0,633; OR = 0,79; 95% CI: 0,39–1,60) tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa konsentrasi PM 2,5 udara dalam rumah tetap tidak berhubungan secara signifikan dengan kejadian ISPA setelah dikontrol oleh variabel potensial confounding (AOR = 1,548; 95% CI: 0,896–2,675; p = 0,117). Kesimpulan: Konsentrasi PM 2,5 udara dalam rumah belum terbukti berhubungan secara signifikan dengan kejadian ISPA pada masyarakat Kota Bogor. Kepadatan hunian merupakan faktor yang berhubungan dengan kejadian ISPA.
Latar Belakang: InfeksidSaluran Pernapasan Akut (ISPA) masihmmenjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat Indonesia, terutama di wilayah perkotaan padat pendudk seperti Kota Bogor. Particulate Matter 2,5 (PM 2,5) dalam ruang diduga menjadi salah satu faktor lingkungan yang berkontribusi. Tujuan: Mengetahui hubungan antara konsentrasi PM 2,5 udara dalam ruang dengan kejadian ISPA pada masyarakat di Kota Bogor tahun 2025. Metode: Penelitian menggunakan desain cross-sectional. Variabel dependen adalah kejadian ISPA, sedangkan variabel independen utama adalah konsentrasi PM 2,5 udara dalam ruang. Variabel lain yang dianalisis meliputi kepadatan hunian, pajanan asap rokok, dan perilaku membersihkan rumah. Hasil: Sebanyak 7,7% rumah tangga mengalami kejadian ISPA, dan 50,4% rumah tangga memiliki konsentrasi PM 2,5 udara dalam rumah yangggtidak memenuhi syarat. Hasilaanalisis bivariat menunjukkan bahwa konsentrasi PM 2,5 udara dalam rumah tidak berhubungan secara signifikan dengan kejadian ISPA (p = 0,150; OR = 1,54; 95% CI: 0,89–2,67). Variabel kepadatan hunian menunjukkan hubungan yang bermakna secara statistik dengan kejadian ISPA (p = 0,019; OR = 2,10; 95% CI: 1,16–3,79), sedangkan pajanan asap rokok (p = 0,133; OR = 1,73; 95% CI: 0,89–3,33) dan perilaku membersihkan rumah (p = 0,633; OR = 0,79; 95% CI: 0,39–1,60) tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa konsentrasi PM 2,5 udara dalam rumah tetap tidak berhubungan secara signifikan dengan kejadian ISPA setelah dikontrol oleh variabel potensial confounding (AOR = 1,548; 95% CI: 0,896–2,675; p = 0,117). Kesimpulan: Konsentrasi PM 2,5 udara dalam rumah belum terbukti berhubungan secara signifikan dengan kejadian ISPA pada masyarakat Kota Bogor. Kepadatan hunian merupakan faktor yang berhubungan dengan kejadian ISPA.
S-12268
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
