Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 32207 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Arief Hertanto; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Fatma Lestari, Laksita Ri Hastiti, Ispranto K. Adhy, Errik Yusnadi Saleh
Abstrak: Iklim keselamatan adalah persepsi bersama karyawan tentang kebijakan, prosedur, dan praktik yang berkaitan dengan keselamatan di lingkungan kerja mereka. Iklim keselamatan berhubungan dengan perilaku selamat dan kecelakaan kerja yang tidak disengaja di tempat kerja. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengukur tingkat kematangan iklim keselamatan di PT X serta menganalisis hubungannya dengan perilaku selamat. Penelitian ini bersifat deskriptif kuantitatif menggunakan metode kuesioner dengan total 200 responden. Kuesioner terstruktur digunakan untuk menangkap karakteristik sosio-demografis responden, iklim keselamatan kerja, dan perilaku keselamatan kerja. Responden berpartisipasi dalam penelitian ini dengan menjawab kuesioner yang dibagikan secara online dan offline. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat kematangan iklim keselamatan di PT X berada di level Cukup, terdapat hubungan yang sangat kuat antara Variabel sub dimensi dengan iklim keselamatan, serta hubungan yang cukup kuat antara iklim keselamatan dengan perilaku selamat. Studi menekankan bahwa peningkatan tingkat iklim keselamatan dapat meningkatkan perilaku selamat sehingga efektif dalam mengurangi insiden kecelakaan kerja.
Safety climate is the shared perception of employees about policies, procedures and practices related to safety in their work environment. Safety climate is related to safe behavior and occupational accidents in the workplace. The purpose of this study was to measure the maturity level of the safety climate at PT X and to analyze its relationship with safety behavior. This research is descriptive quantitative using a questionnaire method with a total of 200 respondents. A structured questionnaire was used to capture the socio-demographic characteristics of the respondents, safety climate, and safety behavior. Respondents participated in this study by answering questionnaires distributed online and offline. The findings of this study indicate that the maturity level of the safety climate at PT X is at the fair level, there is a very strong relationship between the subdimensional variables and the safety climate, and a fairly strong relationship between the safety climate and safety behavior. The study emphasizes that an increase in the level of safety climate can increase safe behavior therefore it is effective in reducing the incidence of work accidents.
Read More
T-6174
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Refiani Fitri Ardiyanti; Pembimbing: Sjahrul Meizar Nasri; Penguji: Dadan Erwandi, Afid Yusthi Ghozali
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara iklim keselamatan dengan perilaku keselamatan pada pekerja di PT X. Iklim keselamatan mencerminkan persepsi pekerja terhadap komitmen dan praktik keselamatan di lingkungan kerja, sementara perilaku keselamatan mencerminkan tindakan nyata pekerja dalam mendukung keselamatan kerja. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan desain studi cross-sectional. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang disusun berdasarkan indikator iklim keselamatan dan perilaku keselamatan, yang masing-masing diukur menggunakan skala ordinal. Responden penelitian ini adalah seluruh pekerja bagian produksi di PT X. Analisis hubungan dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan positif yang kuat antara iklim keselamatan dan perilaku keselamatan (ρ = 0,551). Hal ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi persepsi pekerja terhadap iklim keselamatan, maka semakin baik pula perilaku keselamatan yang ditunjukkan. Temuan ini menegaskan pentingnya membangun iklim keselamatan yang positif sebagai strategi untuk meningkatkan perilaku keselamatan di tempat kerja.

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara iklim keselamatan dengan perilaku keselamatan pada pekerja di PT X. Iklim keselamatan mencerminkan persepsi pekerja terhadap komitmen dan praktik keselamatan di lingkungan kerja, sementara perilaku keselamatan mencerminkan tindakan nyata pekerja dalam mendukung keselamatan kerja. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan desain studi cross-sectional. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang disusun berdasarkan indikator iklim keselamatan dan perilaku keselamatan, yang masing-masing diukur menggunakan skala ordinal. Responden penelitian ini adalah seluruh pekerja bagian produksi di PT X. Analisis hubungan dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan positif yang kuat antara iklim keselamatan dan perilaku keselamatan (ρ = 0,551). Hal ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi persepsi pekerja terhadap iklim keselamatan, maka semakin baik pula perilaku keselamatan yang ditunjukkan. Temuan ini menegaskan pentingnya membangun iklim keselamatan yang positif sebagai strategi untuk meningkatkan perilaku keselamatan di tempat kerja.
Read More
S-11992
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Charisha Mahda Kumala; Pembimbing: Sjahrul M. Nasri; Penguji: Mila Tejamaya, Hendra, Waluyo, Seviana Rinawati
Abstrak: Latar Belakang: Faktor kunci yang dibutuhkan untuk mencapai keberhasilan dan pencegahaan kecelakaan adalah iklim keselamatan. Berdasarkan dari data PLN mayoritas pelaporan INSPEKTA adalah perilaku tidak aman. Iklim keselamatan dapat diukur dengan beberapa dimensi dan beberapa penelitian menilai dimensi-dimensi pada iklim keselamatan yang memiliki hubungan dengan perilaku untuk mengurangi terjadinya kecelakaan. Tujuan : Menganalisis hubungan dimensi pada iklim keselamatan dengan perilaku keselamatan pada pekerja di PLN PUSMANPRO di project pembangunan kelistrikan PST JATENG I. Metode: Penelitian cross sectional ini melibatkan 120 orang pekerja pada Project PLN PUSMANPRO PST JATENG I. Data primer diperoleh menggunakan kuesioner skala likert yang mengacu pada kuesioner dari beberapa penelitian sebelumnya. Hasil: Pada dimensi iklim keselamatan hasil analisis univariat semua dimensi lebih banyak berkategori rendah dan analisis bivariat menghasilkan pada dimensi komitmen dan nilai-nilai dengan P value = 0,000 dan nilai korelasi 0,268, dimensi pelatihan dengan P value = 0,000 dan nilai korelasi 0,318, dimensi komunikasi P value = 0,002 dan nilai korelasi 0,274, persiapan kondisi darurat P value = 0,000 dan nilai korelasi 0,362, dimensi prioritas keselamatan P value = 0,001 dan nilai korelasi 0,318, dimensi justifikasi risiko P value = 0,000 dan nilai correlation 0,503, dimensi keterlibatan subkontraktor P value = 0,000 dan nilai korelasi 0,390, dimensi insentif keselamatan P value = 0,001 dan nilai korelasi 0,309, dimensi manajemen program keselamatan P value = 0,000 dan nilai korelasi 0,435, dimensi pengetahuan keselamatan P value = 0,000 dan nilai korelasi 0,372, dimensi motivasi keselamatan P value = 0,000 dan nilai korelasi 0,416 dapat diketahui pada nilai tersebut memiliki hubungan positif dengan perilaku keselamatan kecuali dimensi lingkungan kerja dengan P value = 0,904 dan nilai correlation 0,011. Kesimpulan: Terdapat hubungan yang positif antara dimensi iklim keselamatan dengan perilaku keselamatan sehingga penerapan keselamatan kerja pada PLN PUSMANPRO PST JATENG I untuk membentuk perilaku keselamatan pada pekerja dapat melalui peningkatan iklim keselamatan serta fasilitas yang mendukung program keselamatan yang dapat mengurangi terjadinya kecelakaan pada proyek
Background: The key factor needed to achieve success and prevent accidents is the safety climate. Based on PLN data, the majority of INSPEKTA reports are unsafe behavior. Safety climate can be measured by several dimensions and several studies assess the dimensions of safety climate that have a relationship with behavior to reduce the occurrence of accidents. Objective: To analyze the relationship between dimensions of safety climate and safety behavior of workers at PLN PUSMANPRO in the PST JATENG I electricity development project. Methods: This cross sectional study involved 120 workers at the PLN PUSMANPRO PST JATENG I Project. Primary data were obtained using a Likert scale questionnaire that referring to the questionnaires from several previous studies. Results: In the dimension of safety climate, the results of the univariate analysis of all dimensions are more in the low category and bivariate analysis results in the dimensions of commitment and values with P value = 0.000 and correlation value 0.268, training dimension with P value = 0.000 and correlation value 0.318, communication dimension P value = 0.002 and correlation value 0.274, emergency preparation P value = 0.000 and correlation value 0.362, safety priority dimension P value = 0.001 and correlation value 0.318, risk justification dimension P value = 0.000 and correlation value 0.503, subcontractor involvement dimension P value = 0.000 and the correlation value is 0.390, safety incentive dimension P value = 0.001 and the correlation value is 0.309, the safety program management dimension P value = 0.000 and the correlation value is 0.435, safety knowledge dimension P value = 0.000 and the correlation value is 0.372, safety motivation dimension P value = 0.000 and a correlation value of 0.416 can be seen at the value of it has a positive relationship with safety behavior except for the work environment dimension with P value = 0.904 and a correlation value of 0.011. Conclusion: There is a positive relationship between the dimensions of safety climate and safety behavior so that the application of work safety at PLN PUSMANPRO PST JATENG I to shape safety behavior in workers can be through improving the safety climate and facilities that support safety programs that can reduce accidents on the project
Read More
T-6211
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aji Utomo Putro; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan; Penguji: Indri Hapsari Susilowati, Nendra Gunawan
Abstrak: Penelitian ini membahas tentang analisis faktor-faktor yang berhubungandengan perilaku tidak selamat pada Pekerja Proyek Ulubelu Unit 3 dan 4,Gheothermal Power Project di PT. X. Kecelakaan kerja secara umum disebabkanoleh dua hal yaitu perilaku kerja tidak aman (unsafe act) dan kondisi kerja yangtidak aman (unsafe condition). Heinrich (1980), memperkirakan 85% kecelakaanadalah hasil kontribusi perilaku kerja yang tidak aman (unsafe act). Berdasarkanhal tersebut, dapat dikatakan bahwa perilaku manusia merupakan unsur yangmemegang peranan penting dalam mengakibatkan suatu kecelakaan.Jenis penelitian ini adalah observasional dengan pendekatan kuantitatifmenggunakan desain penelitian cross sectional, Variabel independen ini meliputifactor personal (Psycological distress, Laziness, Mudah marah, Terburu-buru,pamer, dan Ketidaknyamanan), Faktor Pekerjaan (Jumlah pekerjaan, Timepressure), Faktor Manajemen (Pengawasan, Komitmen manajemen, dan Rewarddan Penalty) dan Faktor Kelompok (Tekanan kelompok). Variabel dependen yangditeliti adalah Perilaku Tidak Selamat. Sampel pada penelitian ini berjumlah 158responden. Analisis bivariat dilakukan dengan uji Chi Square. Berdasarkan hasilpenelitian, diketahui sebanyak 75 orang (47%) memiliki perilaku tidak selamat danselamat 83 orang (53%) yang memiliki perilaku selamat. Faktor-faktor yangterbukti berhubungan dengan perilaku tidak selamat adalah Psycological distress,Laziness, Mudah marah, Terburu-buru, Pamer, Ketidaknyamanan, Jumlahpekerjaan, Time pressure. Sedangkan, daktor-faktor yang terbukti mempengaruhiperilaku tidak selamat adalah Komitmen manajemen, Reward dan Penalty danTekanan Kelompok.Kata kunci: perilaku tidak selamat, proyek konstruksi, gheothermal power project.
This research is about the analysis of related factors to safety behaviour onUlubelu Project Worker Units 3 and 4, Gheothermal Power Project di PT. X.Accidents are generally caused by two things, unsafe work behaviour (unsafe act)and unsafe working conditions (unsafe condition). Heinrich (1980), estimates that85% of accidents are the contribution of unsafe work behaviour (unsafe act). Basedon this research, it can be said that human behaviour is an important element thatrole in causing an accindent.This is the observational-quantitative reasearch with cross sectional designstudies. Independent variables which include on this reaseaarch are personal factors(Psycological distress, Laziness, being angry, in a rush, show off, and beinguncomfortable), Job Factors (Numbers of Jobs and Time Pressure), ManagementFactors (Supervision, Management Commitment, Reward and Penalty), andWorkgroup factors (Group Pressure). Dependen variables which include on thisresearch is Unsafety Behaviour. With 158 respondents of Ulubelu Project Workers,researcher used chi-square for bivariate analysis. The result, 75 workers (47%) haveunsafety behaviour and the other 83 workers (53%) have safety behavior in doingan Geothermal Power Project for Ulubelu. Factors which shown to be related withunsafety behaviour are Psycological distress, Laziness, being angry, in hurry, showoff, being unconfortable, numbers of jobs, Time pressure. And for Managementcommitment, Reward and Penalty, and Group preassure are shown not to be relatedto unsafe behaviour in this research.Keywords: Unsafe Act, Construction Project, Gheothermal Power Project.
Read More
S-9262
Depok : FKM-UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Raih Zenita Imami; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Hendra, Mayarni
S-8349
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Januardi Putra; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Doni Hikmat Ramdhan, Dicky W. Rahmawan
S-8432
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rahmat Satria Dewangga; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Abdul Kadir, Dadan Erwandi
Abstrak:
Keselamatan dan kesehatan kerja memiliki peran integral dalam memastikan kesejahteraan dan produktivitas pekerja di lingkungan industri modern. Dalam konteks ini, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh gaya kepemimpinan supervisor terhadap dimensi iklim keselamatan, yang meliputi komunikasi keselamatan, pembelajaran, kepercayaan pada kompetensi rekan kerja, dan kepercayaan terhadap efikasi sistem keselamatan di perusahaan manufaktur keramik. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kuantitatif menggunakan kuesioner sebagai instrumen pengumpulan data. Responden adalah para supervisor di beberapa perusahaan manufaktur keramik. Data dianalisis menggunakan teknik statistik deskriptif dan analisis regresi untuk mengidentifikasi hubungan antara gaya kepemimpinan dan dimensi iklim keselamatan. Hasil analisis menunjukkan bahwa gaya kepemimpinan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap komunikasi keselamatan, pembelajaran, dan kepercayaan pada kompetensi rekan kerja. Namun, pengaruh gaya kepemimpinan terhadap kepercayaan terhadap efikasi sistem keselamatan tidak terbukti signifikan. Hal ini mengindikasikan bahwa gaya kepemimpinan supervisor dapat memainkan peran penting dalam membentuk beberapa aspek iklim keselamatan di lingkungan kerja. Temuan penelitian ini menggarisbawahi pentingnya peran gaya kepemimpinan dalam membentuk iklim keselamatan di lingkungan kerja. Dengan memperkuat komunikasi keselamatan dan memfasilitasi pembelajaran yang berfokus pada keselamatan, supervisor dapat meningkatkan kepercayaan rekan kerja terhadap kompetensi keselamatan, yang pada gilirannya dapat meningkatkan kesadaran kolektif akan pentingnya praktik keselamatan. Hasil penelitian ini memberikan kontribusi bagi pemahaman tentang bagaimana gaya kepemimpinan supervisor dapat membentuk iklim keselamatan di lingkungan kerja. Implikasi praktis dari penelitian ini menekankan perlunya pengembangan kompetensi kepemimpinan yang mengedepankan komunikasi dan pembelajaran terkait keselamatan, sehingga dapat meningkatkan efektivitas program keselamatan di berbagai sektor industri.

Workplace safety and health play an integral role in ensuring the well-being and productivity of employees in the modern industrial environment. In this context, the present study aims to analyze the influence of supervisor leadership styles on safety climate dimensions, encompassing safety communication, learning, trust in coworker competence, and confidence in the efficacy of safety systems within ceramic manufacturing companies. Employing a quantitative approach, this study employed questionnaires as data collection instruments. The respondents consisted of supervisors from various ceramic manufacturing companies. Data were subjected to descriptive statistical techniques and regression analysis to identify the relationship between leadership styles and safety climate dimensions. The analysis results indicate that leadership styles significantly impact safety communication, learning, and trust in coworker competence. However, the influence of leadership styles on confidence in the efficacy of safety systems did not demonstrate statistical significance. This suggests that supervisor leadership styles play a pivotal role in shaping several aspects of the safety climate in the workplace. These findings underscore the importance of leadership styles in shaping the safety climate within the work environment. By enhancing safety communication and facilitating safety-focused learning, supervisors can enhance coworkers' trust in safety competence, thereby fostering collective awareness of the importance of safety practices. The outcomes of this research contribute to understanding how supervisor leadership styles can shape the safety climate in the workplace. The practical implications of this study emphasize the need for leadership competency development that prioritizes safety-related communication and learning, ultimately enhancing the effectiveness of safety programs across diverse industrial sectors.
Read More
T-6805
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Anugrah Budi Utama; Pembimbing: Baiduri Widanarko; Penguji: Robiana Modjo, Indri Hapsari Susilowati, Dwi Dian Oktaviani, Lorencius Kukuh Prabowo
Abstrak: Tahun 2020 angka kecelakaan kerja di Indonesia mencapai 221.740 kasus. Salah satu faktor yang mempengaruhi kecelakaan adalah iklim keselamatan kerja. Iklim keselamatan dapat dipengaruhi oleh faktor demografi (umur, jenis kelamin, jabatan, tingkat pendidikan, dan masa kerja). Terkait dengan iklim keselamatan kerja, di PT X belum pernah dilakukan pada proyek pengelolaan alat. Proyek Y adalah pilot project pengelolaan alat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis iklim keselamatan kerja di konstruksi PT X proyek Y. Penelitian cross sectional ini menggunakan kuesioner NOSACQ-50 untuk mengukur iklim keselamatan dan wawancara untuk triangulasi dan validasi data. Total pekerja di Proyek Y adalah 114 pekerja. Semua pekerja menjadi responden kuesioner NOSACQ-50, sedangkan informan kunci terdiri dari lima orang. Tingkat iklim keselamatan kerja di konstruksi PT X proyek Y adalah 3,03 yang termasuk kategori baik. Ada perbedaan signifikan pada iklim keselamatan berdasarkan jabatan dan tingkat Pendidikan pekerja. Iklim kerja tidak berhubungan signifikan dengan umur pekerja, meskipun berhubungan signifikan dengan masa kerja
Read More
T-6426
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Firyal Resa Azhari; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Baiduri Widanarko, Wahyudin Lihawa
Abstrak: ABSTRAK Industri baja memiliki resiko yang tinggi terhadap kesehatan dan keselamatan karyawannya. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui iklim keselamatan di area rolling mill PT X dengan besar sampel 166 orang. Hasilnya dimensi iklim keselamatan yang paling kuat adalah dimensi individu (3,21), dengan faktor iklim keselamatan tertinggi adalah komitmen pekerja (3,28). Semakin tinggi tingkat pendidikan, jabatan dan semakin lama orang bekerja maka semakin tinggi nilai iklim keselamatannya. Kata kunci: Safety Climate ABSTRACT The steel industry has a high risk to the health and safety of its employees. The purpose of this research is to know the safety climate in rolling mill area of PT X with a large sample of 166 people. The result of the most robust dimension of the safety climate is the individual dimension (3.21), with the highest safety climate factor being workers' commitment (3.28). The higher the level of education, position and the longer the people work the higher the safety climate. Key words: Safety Climate
Read More
S-9684
Depok : FKM-UI, 2018
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Alfiansah Rahadian; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Dadan Erwandi, Hendra, Avep Disasmita, Wahyudin Syakir
Abstrak: Berdasarkan tinjauan literatur, terdapat hubungan antara distress kerja dengan iklim keselamatan, yang berpengaruh terhadap terjadinya kecelakaan kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan dimensi distress kerja terhadap iklim keselamatan. Studi cross-sectional yang dilakukan pada 152 karyawan perusahaan pembangkit listrik tenaga gas di site Prabumulih, Palembang, dan dua site Batam, pada departemen operation dan maintenance yang dipilih secara acak sebagai responden penelitian. Responden mengisi kuesioner iklim keselamatan Nordik (NOSACQ-50) dan kuesioner distress kerja NIOSH Generic Job Stress secara daring. Data dianalisis menggunakan uji statistik korelasi bivariat dan regresi linier. Gambaran iklim keselamatan perusahaaan menunjukkan hasil rata-rata 2,73 atau pada tingkatan cukup, sehingga memerlukan perbaikan pada komitmen tenaga kerja pada keselamatan dan prioritas keselamatan. Berdasarkan tingkat distress kerja, terdapat 10,53% karyawan yang memiliki tingkat distress rendah, 77,63% karyawan yang memiliki tingkat distress sedang, dan 11,84% karyawan yang memiliki tingkat distress tinggi. Analisis bivariat menunjukkan variabel distress kerja pada penilaian diri, masa depan karyawan, dan dukungan sosial, menunjukkan adanya hubungan yang signifikan dengan iklim keselamatan. Analisis multivariat menunjukkan variabel distress kerja pada konflik dan ketidakjelasan peran menjadi variabel paling dominan berhubungan dengan iklim keselamatan. Untuk meningkatkan iklim keselamatan, perusahaan harus berusaha untuk mengurangi distress di tempat kerja melalui pengendalian faktor konflik dan ketidakjelasan peran.
Based on the literature review, there is a relationship between work distress and safety climate, which affects to work accidents. This study aims to determine the relationship of the dimensions of work distress to the safety climate. A cross-sectional study was conducted on 152 employees of a gas-fired power plant company at the Prabumulih site, Palembang, and two Batam sites, in the operation and maintenance department who were randomly selected as research respondents. Respondents filled out the Nordic safety climate (NOSACQ-50) and NIOSH Generic Job Stress online questionnaire. Data were analyzed using bivariate correlation statistical tests and linear regression. Company's safety climate showed an average result of 2.73 or at a sufficient level, required improvement in the commitment of the workforce to safety and safety priorities. There were 10.53% of employees who have low levels of distress, 77.63% of employees who have moderate levels of distress, and 11.84% of employees who have high levels of distress. Bivariate analysis showed that the variables of work distress on self-assessment, future work, and social support, showed a significant relationship with safety climate. Multivariate analysis showed that the variables of work distress in conflict and role ambiguity were the most dominant variables related to the safety climate. To improve safety climate, Company should strive to reduce workplace distress through controlling conflict factors and role ambiguity.
Read More
T-6454
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive