Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 20033 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Timothy Kennedy; Pembimbing: Diah Mulyawati Utari; Penguji: Nurul Dina Rahmawati Desminarti
Abstrak: Cookies merupakan makanan ringan yang cukup digemari di Indonesia. Cookies konvensional yang beredar di masyarakat didominasi oleh penggunaan produk gluten, hewani dan gula sederhana. Hal ini mengakitbatkan cookies tidak dapat dikonsumsi oleh sebagian kalangan yang memiliki keterbatasan dalam mengonsumsi produk tersebut dan jika dikonsumsi secara berlebihan dapat menjadi salah satu faktor risiko penyakit tidak menular seperti diabetes tipe II. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menciptakan cookies yang bebas dari produk gluten, hewani dan gula sederhana sehingga masyarakat yang memiliki keterbatasan terhadap produk tersebut dapat mengonsumsi cookies yang sama enaknya dengan cookies yang beredar. Skripsi ini menguji tingkat kesukaan masyarakat terhadap cookies dengan metode uji sensori dan menghitung nilai gizi dari cookies yang dibuat. Perbandingan selai kacang dan biji chia yang digunakan dalam formula cookies bebas produk gluten, hewani dan gula sederhana adalah R1 15:30, R2 20:20, R3 25:10, selain itu terdapat R4 sebagai cookies kontrol yang dibuat seperti cookies konvensional yang beredar di masyarakat dengan perbandingan selai kacang dan biji chia sebesar 11:0. Uji sensori cookies mendapatkan hasil R1, R2, R3, R4 secara berturut-turut adalah 3,91; 3,76; 3,55; 4,16 berbanding dengan skor maksimal 5 yang berarti R1 merupakan cookies terpilih setelah R4 yang merupakan cookies kontrol. Hasil perhitungan gizi dari bahan mentah menunjukkan R4 memiliki total energi 1344 kkal, lemak 97,04 g dan karbohidrat 95,31 g/100 g cookies yang merupakan nilai yang paling tinggi sedangkan protein yang paling tinggi dimiliki oleh R1 sebesar 39,25 g/100 g cookies. Analisis biaya harga produksi perkemasan/30g cookies selai kacang dan biji chia R1, R2, R3, dan R4 secara berurutan adalah sebesar Rp 3.006; Rp 3.261; Rp 3.756; Rp 8.335. Hal ini menunjukkan R1 memiliki harga produksi yang paling terjangkau dibandingkan resep yang lain
Cookies are snacks which are quite popular in Indonesia. Conventional cookies circulating in the market are dominantly using gluten, animal products, and simple sugar as ingredients. This causes the cookies cannot be consumed by those who have limitations on these products and if consumed excessively will become one of the risk factors of noncommunicable diseases, namely type II diabetes. The purpose of this study is to create cookies which are free of gluten, animal products, and simple sugars so those who have limitations on these products can consume cookies that are as delicious as any other cookie out there. This preference for these cookies using sensoric test and calculates the nutritional value of the cookies tested. The ratio of peanut butter and chia seeds used in the gluten-, animal-, and simple sugar- R1 15:30, R2 20:20, R3 25:10 and R4 is controlling formula made similar to conventional cookies circulating in public with ratio of peanut butter and chia seeds 11:0. Results of the hedonic test for R1, R2, R3, R4 are 3,91; 3,76; 3,55; 4,16, respectively with the maximum score of 5, which mean R1 is the formula chosen after R4 which is a control. The nutritional value of 100g R4 cookies are: 1344kcal of macronutrient, 97,04g of fat, and 95,31g of carbohydrate, which have the highest value, while the highest protein value is in R1 cookies that has 39,25g of protein in 100g cookies. Production cost analysis for a pack/30g of peanut butter and chia seed cookies R1, R2, R3 and R4 are Rp3.006; Rp3.261; Rp3.756; and Rp8.335 respectively. It shows that R1 has the most affordable production cost compared to other formulas.
Read More
S-10931
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nesya Gustin; Pembimbing: Wahyu Kurnia Yusrin Putra; Penguji: Asih Setiarini, Khoirul Anwar
Abstrak:
Kue kering adalah jenis kue yang memiliki tekstur renyah karena memiliki sedikit kadar air; umumnya dibuat dengan menggunakan bahan-bahan seperti tepung terigu, gula pasir, margarin, dan telur. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan produk kue kering bebas gluten dan bebas produk hewani yang menggunakan bahan dasar tepung ubi jalar ungu dan tepung kedelai, agar masyarakat yang memiliki keterbatasan dalam mengonsumsi makanan yang mengandung gluten dan/atau produk hewani bisa tetap menikmati kue kering bercitarasa mirip dengan kue kering konvensional yang umum beredar di masyarakat. Adapun formulasi yang digunakan dalam penelitian ini dibedakan oleh perbandingan tepung ubi jalar ungu dan tepung kedelai sebagai bahan utama kue kering bebas gluten dan bebas produk hewani. Formulasi-formulasi tersebut adalah: R1 3:9; R2 6:6; dan R3 9:3, selain itu terdapat R4 sebagai formulasi kontrol dengan resep yang dibuat seperti kue kering konvensional yang umum beredar di masyarakat. Analisis yang dilakukan adalah uji hedonik, data yang diperoleh dilakukan uji statistik ANOVA, dan jika terdapat perbedaan nyata dilanjutkan dengan uji DMRT dengan tingkat kepercayaan 5%. Analisis juga dilakukan terhadap kadar air, kadar abu, kadar protein, kadar lemak, dan kadar karbohidrat pada kue kering dengan formulasi terpilih. Hasil penelitian menunjukkan tingkat kesukaan panelis terhadap R1, R2, R3 dan R4 berturut-turut adalah 3,09; 3,19; 3,45; dan 3,99 yang berarti R3 memiliki nilai tertinggi setelah R4 yang merupakan formulasi kontrol. Formulasi R3 menjadi formulasi terpilih dengan kadar air 6,91%, kadar abu 2,59%, kadar karbohidrat 61,59%, kadar lemak 21,31%, dan kadar protein 7,61%.

Cookies are a type of snack that have a crispy texture due to their low moisture content. They are typically made using ingredients such as wheat flour, granulated sugar, butter, and eggs. This study aims to develop gluten-free and animal-free cookies using purple sweet potato flour and soy flour, allowing those with limitations in consuming gluten and/or animal products to still be able to enjoy cookies that taste similar to conventional ones. The formulations used in this study differ based on the ratio of purple sweet potato flour to soy flour as the main ingredients for the gluten-free and animal-free cookies. The formulations are as follows: R1 3:9; R2 6:6; and R3 9:3, with R4 as the control formulation, following a recipe similar to conventional cookies commonly found in society. Hedonic testing was conducted, and the obtained data were subjected to ANOVA statistical analysis. If significant differences were found, Duncan's Multiple Range Test (DMRT) was performed at a 5% confidence level. Analysis was also conducted on the moisture content, ash content, protein content, fat content, and carbohydrate content of the selected formulation of cookies. The results of the study showed that the preference levels of the panelists for R1, R2, R3, and R4 were 3.09, 3.19, 3.45, and 3.99, respectively. This indicates that R3 had the highest score after R4, which was the control formulation. Formulation R3 was selected with a moisture content of 6.91%, ash content of 2.59%, carbohydrate content of 61.59%, fat content of 21.31%, and protein content of 7.61%.
Read More
S-11349
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Shafira Ramadhani; Pembimbing: Diah Mulyawati Utari; Penguji: Siti Arifah Pujonarti, Susi Desminarti
Abstrak:
Fenomena globalisasi mendorong pekerja, terutama di wilayah perkotaan, untuk mengadopsi gaya hidup padat dan serba cepat sehingga tren permintaan terhadap makanan siap konsumsi seperti snack bar terus meningkat setiap tahunnya. Akan tetapi, mayoritas snack bar komersial yang diperjualbelikan di pasaran masih memiliki kandungan gula dan lemak tinggi sedangkan serat dan protein rendah sehingga berkontribusi terhadap peningkatan risiko obesitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan formulasi snack bar berbahan dasar isolat protein kacang polong dan kacang hitam sebagai bentuk pencegahan terhadap obesitas. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimental dengan pendekatan Rancangan Acak Lengkap (RAL) satu faktorial terhadap empat formulasi snack bar. Uji hedonik dilakukan terhadap 43 panelis tidak terlatih dewasa muda (18—29 tahun) serta dianalisis menggunakan uji Friedman dan post hoc menggunakan Wilcoxon-Signed Rank dengan koreksi Bonferroni. Hasil uji Friedman menunjukkan bahwa lima dari enam parameter mutu sensori memiliki perbedaan penerimaan hedonik di antara empat formulasi snack bar yang sangat signifikan (p<0,001), yaitu rasa, warna, aroma, tekstur, dan keseluruhan. Dengan demikian, diperoleh formulasi snack bar dengan tingkat penerimaan mutu hedonik keseluruhan tertinggi, yaitu formulasi R3 (3,60). Hasil analisis zat gizi menunjukkan bahwa setiap sajian (45 g) formulasi R3 mengandung 132,90 kkal energi, 18,95% kadar air, 6,21 gram karbohidrat, 6,52 gram lemak, 12,35 gram protein, 1,47 gram BCAA, 4,68 gram serat pangan, 1,42 gram gula total, dan 167,15 mg natrium. Uji alergenisitas menunjukkan bahwa tidak terdeteksi adanya alergen kacang pada snack bar formulasi R3. Penelitian ini mengindikasikan bahwa snack bar berbasis isolat protein kacang polong dan kacang hitam berpotensi sebagai pangan fungsional yang mendukung regulasi berat badan melalui kandungan tinggi protein, BCAA, dan serat.

Globalization encourages workers, particularly in urban areas, to adopt increasingly fast-paced lifestyles, resulting in a growing demand for convenient ready-to-eat foods such as snack bars. However, most commercially available snack bars are characterized by high sugar and fat contents and low levels of protein and dietary fiber, which may contribute to an increased risk of obesity. This study aimed to develop a snack bar formulation based on pea protein isolate and black beans as a potential dietary strategy for obesity prevention. An experimental study employing a single-factor Completely Randomized Design (CRD) was conducted using four snack bar formulations. Hedonic evaluation was conducted in 43 young adult untrained panelists aged 18–29 years. The data were analyzed using the Friedman test followed by the Wilcoxon Signed-Rank post hoc test with Bonferroni correction. The Friedman test showed highly significant differences (p<0.001) among the four formulations in five of the six sensory quality attributes assessed, namely taste, color, aroma, texture, and overall acceptability. Moreover, formulation R3 achieved the highest overall hedonic acceptance score (3.60). Nutritional analysis demonstrated that each serving (45 g) of formulation R3 contained 132.90 kcal of energy, 18.95% moisture, 6.21 g carbohydrates, 6.52 g fat, 12.35 g protein, 1.47 g branched-chain amino acids (BCAAs), 4.68 g dietary fiber, 1.42 g total sugars, and 167.15 mg sodium. Allergenicity testing indicated that no peanut allergen was detected in formulation R3. These findings suggest that a snack bar formulated with pea protein isolate and black beans has the potential to serve as a functional food that supports body weight regulation through its high protein, BCAA, and dietary fiber contents.
Read More
S-12357
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tika Iriana; Pembimbing: Ratu Ayu Dewi Sartika; Penguji: Tini Sudiarti, Marcella Kasih
Abstrak: ABSTRAK
 
 
Diabetes melitus DM masih menjadi masalah yang belum dapat diselesaikan karena kejadiannya terus meningkat, baik di Indonesia maupun dunia. Makanan selingan adalah makanan dengan porsi kecil yang dapat mengendalikan kadar gula darah antarwaktu makan besar. Terdapat serealia yakni sorgum memiliki pengaruh positif terhadap DM karena memiliki indeks glikemik dan energi yang rendah, sifat antioksidan yang stabil, dan tinggi kandungan tanin. Namun, tanin dalam sorgum menyebabkan rasa dan daya terimanya rendah. Tujuan penelitian ini adalah membuat makanan selingan untuk diabetesi dan mengetahui daya terima cookies berbahan dasar tepung sorgum. Penelitian dengan desain eksperimental dilakukan dengan membuat tiga formulasi yang terdiri atas satu cookies kontrol 100:0 dan dua cookies formulasi 90:10 80:20 . Uji hedonik dilakukan pada 30 panelis dewasa >25 tahun yakni karyawan FKM UI. Hasil penelitian menunjukkan cookies formulasi yang paling disukai adalah cookies 750 80:20 . Penelitian ini membuktikan adanya perbedaan signifikan terhadap tekstur pada ketiga cookies dan terdapat perbedaan signifikan terhadap tekstur, rasa, dan aftertaste antara cookies kontrol dan cookies terpilih.
 

 
ABSTRACT
 
 
Diabetes melitus DM is a problem and hasn rsquo t be solved because the prevalence increased, both in Indonesia and the world. Snack can control blood sugar levels between meals. There is one of cereal called sorghum that has a positive effect on DM because its low glycemic index and energy, stable antioxidant, and high tannin content. However, tannins in sorghum cause bad taste and low acceptance. The objective of this study is to make snack for diabetics and measure the acceptance of sorghum cookies. This study has two formulation cookies 90 10 80 20 and control 100 0 . Hedonic test was conducted on 30 adult panelists 25 years . The result shows cookies 750 80 20 is most selected. This study indicates significant differences in texture on all cookies and significant differences in texture, taste, and aftertaste between control and selected cookies.
Read More
S-9408
Depok : FKM-UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nursang; Pembimbing: Triyanti; Penguji: Nurul Dina Rahmawati, Dieta Nurrika
Abstrak:
Autism Spectrum Disorder (ASD) merupakan gangguan perkembangan saraf yang ditandai dengan hambatan interaksi sosial, komunikasi, dan perilaku hiperaktif. Prevalensi ASD terus meningkat secara global, dengan sekitar 0,6-0,75% populasi dunia mengalami ASD tahun 2000-2012 dan terus meningkat hingga mencapai 1% pada tahun 2022, sedangkan di Indonesia sendiri, prevalensi ASD diperkirakan sekitar 1% atau 10 kasus per 1.000 penduduk. Jabodetabek merupakan salah satu wilayah dengan jumlah anak autisme yang cukup besar serta didukung oleh keberadaan sekolah inklusi dan pusat terapi. Salah satu pendekatan yang banyak diterapkan dalam pengelolaan anak autisme adalah diet bebas gluten dan kasein (GFCF). Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan penerapan diet GFCF pada anak autisme di wilayah Jabodetabek. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional. Pemgambilan data dilakukan melalui google form kuesioner yang disebar secara online kepada orang tua anak autisme. Penelitian dilakukan pada 93 responden dengan metode total sampling. Data yang diperoleh kemudian dianalisis secara univariat dan bivariat. Hasil penelitian menemukan bahwa 75,3% responden memiliki penerapan diet GFCF yang baik. Hasil uji chi-square menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pemanfaatan informasi melalui layanan terapi (p=0,009; OR=0,273; 95% CI=0,100-0,746) dengan penerapan diet GFCF. Sementara itu, tidak terdapat hubungan signifikan antara tingkat pendidikan ibu, tingkat pekerjaan ibu, pengetahuan ibu, dan keikutsertaan dalam komunitas anak autisme (p>0,05) dengan penerapan diet GFCF. Namun, terdapat kecenderungan bahwa orang tua yang mengikuti komunitas anak autisme memiliki proporsi penerapan diet GFCF yang lebih baik dibandingkan yang tidak mengikuti komunitas. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan edukasi dan pendampingan terkait penerapan diet GFCF melalui tenaga kesehatan, dan komunitas orang tua agar penerapan diet GFCF dapat dilakukan secara lebih konsisten.

Autism Spectrum Disorder (ASD) is a neurodevelopmental disorder characterized by impairments in social interaction and communication, and hyperactive behavior. The prevalence of ASD continues to increase globally, with approximately 0.6–0.75% of the world's population experiencing ASD between 2000 and 2012, and this figure is expected to reach 1% by 2022. In Indonesia, the prevalence of ASD is estimated at around 1%, or 10 cases per 1,000 people. Greater Jakarta (Jabodetabek) is one of the areas with a significant number of children with autism, supported by the presence of inclusive schools and therapy centers. One approach widely applied in the management of children with autism is the gluten-free and casein-free (GFCF) diet. Therefore, this study aims to analyze factors related to the implementation of the GFCF diet in children with autism in the Greater Jakarta area. This study is a quantitative study with a cross-sectional design. Data collection was carried out through a Google form questionnaire distributed online to parents of children with autism. The study was conducted on 93 respondents using a total sampling method. The data obtained were then analyzed univariately and bivariately. The results found that 75.3% of respondents had good implementation of the GFCF diet, while 24.7% of respondents had poor implementation of the GFCF diet. The results of the chi-square test showed a significant relationship between the use of information through therapy services (p = 0.009; OR = 0.273; 95% CI = 0.100-0.746) and the implementation of the GFCF diet. Meanwhile, there was no significant relationship between maternal education level, maternal employment level, maternal knowledge, and participation in a community for children with autism (p>0.05). However, there was a trend that parents who participated in a community for children with autism had a better proportion of GFCF diet implementation than those who did not. Therefore, increased education and support regarding the implementation of the GFCF diet through healthcare professionals and parent communities is needed to ensure more consistent implementation of the GFCF diet.
Read More
S-12387
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Christopher Daniel; Pembimbing: Triyanti; Penguji: Nurul Dina Rahmawati, Fitri Hudayani
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan penggunaan jasa OFD dan faktor lainnya dengan konsumsi gula sederhana pada mahasiswa nonkesehatan UI. Variabel dependen pada penelitian ini adalah konsumsi gula sederhana dan variabel independennya adalah frekuensi penggunaan jasa OFD, durasi loyalitas konsumen, preferensi makanan dan minuman tinggi gula, jenis kelamin, jumlah uang saku, jenis tempat tinggal, aktivitas fisik, tingkat stres, dan pengetahuan gizi. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional. Pengambilan data dilakukan pada bulan Mei 2023 kepada 125 mahasiswa nonkesehatan di Universitas Indonesia dengan metode quota sampling. Data dikumpulkan melalui pengisian kuesioner secara daring (online) dan wawancara SQ-FFQ secara luring. Data yang diperoleh kemudian dianalisis secara univariat, bivariat menggunakan chi-square, dan multivariat dengan uji regresi logistik ganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 44,0% responden memiliki konsumsi gula sederhana yang tinggi yaitu ≥50 gram per hari. Hasil juga menunjukkan bahwa frekuensi penggunaan jasa OFD, preferensi makanan dan minuman tinggi gula, jenis tempat tinggal, dan pengetahuan gizi berhubungan dengan konsumsi gula sederhana pada mahasiswa nonkesehatan UI. Analisis multivariat menunjukkan preferensi makanan dan minuman tinggi gula merupakan faktor dominan yang berhubungan dengan konsumsi gula sederhana pada mahasiswa nonkesehatan UI. Peneliti menyarankan agar mahasiswa dapat membatasi konsumsi makanan/minuman manis sehingga dapat terhindar dari peningkatan berat badan yang berlebihan yang dapat menyebabkan obesitas. Peneliti juga menyarankan kepada Universitas Indonesia dan Dinas Kesehatan Depok agar dapat membuat program edukasi gizi dan kesehatan kepada mahasiswa terkait dengan gula sederhana.

This study aims to determine the relationship between the use of OFD services and other factors with the consumption of simple sugars in UI non-health students. The dependent variable in this study was the consumption of simple sugars and the independent variables were the frequency of using OFD services, duration of consumer loyalty, preference for foods and beverages high in sugar, gender, amount of pocket money, type of residence, physical activity, stress level, and knowledge of nutrition. This research is a quantitative study with a cross-sectional design. Data collection was carried out in May 2023 for 125 non-medical students at the University of Indonesia using the quota sampling method. Data was collected through online questionnaire filling and offline SQ-FFQ interviews. The data obtained were then analyzed by univariate, bivariate using chi-square, and multivariate using multiple logistic regression tests. The results showed that 44.0% of respondents had a high consumption of simple sugar, i.e ≥50 grams per day. The results also show that the frequency of using OFD services, preferences for high sugar foods and drinks, type of residence, and knowledge of nutrition are related to consumption of simple sugars in UI non-health students. Multivariate analysis showed that the preference for high-sugar foods and drinks was the dominant factor associated with consumption of simple sugars among UI non-health students. Researchers suggest that students can limit consumption of sweet foods/drinks so they can avoid excessive weight gain which can lead to obesity. The researchers also suggested to Universitas Indonesia and the Depok’s Health Service to create a nutrition and health education program for college students related to simple sugars.
Read More
S-11239
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Syahidah Asma Amani; Pembimbing: Indrawani Yvonne Magdalena; Penguji: Fatmah, Joko Hermanianto
S-8836
Depok : FKM UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Defry Lesmana; Pembimbing : Diah Mulyawati Utari; Penguji: Trini Sudiarti, Susi Desminarti
Abstrak: Hipertensi adalah suatu kondisi di mana tekanan sistole darah ≥ 140 mmHg dan diastole ≥ 90 mmHg (Schumann et al., 2011). Di Indonesia sendiri, prevalensi untuk hipertensi dinilai tinggi jika dibandingkan dengan prevalensi Asia Tenggara, yaitu 30,9% (WHO, 2012). Prevalensi hipertensi di Provinsi Jawa Barat adalah 29,4%, lebih besar daripada provinsi DKI Jakarta dengan prevalensi 28,8% dan provinsi Banten dengan prevalensi 27,6%. Tujuan umum dari penelitian ini adalah mengetahui hasil analisis kandungan zat gizi cookies untuk hipertensi dan daya terima dari cookies untuk hipertensi pada kalangan usia dewasa di kampus Unpas Kota Bandung tahun 2013. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan metode rancangan acak lengkap dengan pola satu arah. Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari hingga Juni 2013. Panelis dalam uji hedonik ini adalah 30 orang pria dan wanita dewasa dengan usia 21 tahun ke. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kandungan gizi yang terkandung dalam cookies untuk hipertensi memenuhi kebutuhan sehari-hari untuk natrium dan kalium, namun belum dapat memenuhi kebutuhan kalsium sehari untuk usia dewasa. Perlakuan cookies yang terbaik adalah perlakuan 703 dengan kandungan gizi: air 6,93%; abu 1,01%; protein 6,62%; lemak 18,60%; serat kasar 5,11%; karbohidrat 61,73%; natrium 0,08%; kalium 1,14%; dan kalsium 130,93 mg.
 

Hypertension is a condition which systolic blood pressure ≥ 140 mmHg and diastolic ≥ 90 mmHg. Prevalence for hypertension in Indonesia is higher than South East Asia which has 30.9%. Hypertension prevalence in West java is 29.4% which higher than DKI Jakarta (28.8%) and Banten (27.6%). The main goals for this research are to know the result of nutrition analysis for cookies for hypertension and to know the acceptance for these cookies in adult-aged group at Pasundan University Bandung on 2013. This research is an experimental research which using completely randomized design method. This research was conducted on January to June 2013. Panelists for hedonic test are 30 people of men and women with age 21 or above. The result of this research shows that the nutrition content for cookies for hypertension have fulfilled the daily needs of sodium and potassium for adult-aged group but not for the daily needs of calcium. Cookies with the best treatment is cookies 703 with nutrients are: water 6,93%; ash 1,01%; protein 6,62%; fat 18,60%; crude fiber 5,11%; carbohydrate 61,73%; sodium 0,08%; potassium 1,14%; and calsium 130,93 mg.
Read More
S-7914
Depok : FKM-UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Trecy; Pembimbing: Diah Mulyawati Utari; Penguji: Trini Sudiarti, Susi Desminarti
Abstrak:
Penderita diabetes melitus terus meningkat di Indonesia. Diabetes melitus dapat menyebabkan komplikasi dan kerusakan berbagai organ tubuh lainnya. Dalam rangka mengontrol kadar gula darah pada penderita DM diperlukan diet khusus. Penderita diabetes melitus dianjurkan untuk mengonsumsi makanan selingan diantara waktu makan. Salah satu makanan selingan yang populer di masyarakat adalah cookies. Namun, cookies yang beredar di masyarakat mayoritas menggunakan bahan dasar seperti tepung terigu, telur, susu, mentega, dan gula sederhana yang kurang dianjurkan bagi penderita diabetes melitus. Di samping itu, bahan pangan seperti sorgum dan kacang merah yang memiliki indeks glikemik yang rendah sehingga dapat dijadikan alternatif bahan pangan untuk pembuatan cookies. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan produk cookies yang dapat dijadikan makanan selingan bagi penderita diabetes melitus menggunakan bahan dasar tepung sorgum dan kacang merah serta penambahan rempah yang memiliki efek antidiabetik yakni jintan hitam. Adapun formulasi yang digunakan dalam penelitian ini dibedakan oleh perbandingan jumlah tepung sorgum dan kacang merah yang digunakan, yaitu R1 1:3; R2 2:2; dan R3 3:1, selain itu terdapat R4 sebagai formulasi kontrol dengan formulasi yang dibuat seperti cookies konvensional yang umum beredar di masyarakat. Uji hedonik dilakukan di Laboratorium Gizi FKM UI pada bulan April 2024. Uji tersebut dilakukan kepada 30 orang panelis tidak terlatih yakni karyawan FKM UI. Hasil penelitian menunjukkan cookies yang paling disukai oleh panelis adalah cookies R2 dengan rata-rata nilai kesukaan tertinggi dibandingkan formulasi lainnya yaitu sebesar 3.80. Kandungan gizi setiap satu takaran saji cookies R2, yaitu energi sebesar 191,4 kkal, 24,6 g karbohidrat, 5,6 g protein, 7,8 g lemak, dan 2,7 g jintan hitam. Biaya produksi satu takaran saji cookies formulasi R2 adalah sebesar Rp3.705.

Patients with diabetes mellitus have increased in Indonesia. Diabetes mellitus can cause complications and damage to various organs. In order to control blood sugar levels in people with DM, a special diet is needed. Patients with diabetes mellitus are encouraged to consume snacks between meals. One of the popular snack in the community is cookies. However, cookies circulating in the community mostly use basic ingredients such as wheat flour, eggs, milk, butter, and simple sugar which are not recommended for people with diabetes mellitus. In addition, food ingredients such as sorghum and red beans have a low glycemic index so that they can be used as alternative food ingredients for making cookies. This study aims to develop a cookies product that can be used as a snack for people with diabetes mellitus using the basic ingredients of sorghum flour and red beans and the addition of spices that have antidiabetic effects, namely black cumin. The formulations used in this study are distinguished by the ratio of the amount of sorghum flour and red beans used, namely R1 1:3; R2 2:2; and R3 3:1, besides that there is R4 as a control formulation with formulations made like conventional cookies commonly circulated in the community. The hedonic test was conducted at the Nutrition Laboratory of FKM UI in April 2024. The test was conducted on 30 untrained panelists, FKM UI employees. The results of the study showed that R2 cookies is most selected by panelist with the highest average score of 3,80. The nutritional content of each serving size of R2 cookies, energy of 191,4 kcal, 24,6 g carbohydrate, 5,6 g protein, 7,8 g fat, and 2,7 g black cumin. The production cost of one serving size of cookies formulation R2 is Rp3,705.
Read More
S-11639
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sumayyah; Pembimbing : Siti Arifah Pudjonarti; Penguji: Trini Sudiarti, Damar Wiraputra
Abstrak: Mengingat angka kejadian gizi buruk dan anak pendek di Indonesia serta minimnya alternatif makanan untuk anak autisme, maka penulis ingin membuat cookies non-terigu berprotein tinggi dengan memanfaatkan bahan produksi pangan Indonesia, yaitu tepung ikan teri, tepung daun kelor, dan tepung mocaf. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorium dengan metode rancangan acak lengkap. Panelis dalam penelitian ini adalah 45 mahasiswa FKM UI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cookies yang paling disukai panelis adalah cookies 144 yang memiliki kandungan tepung mocaf sebesar 34.0% ,tepung ikan sebesar 8.5%, dan tepung daun kelor sebesar 8.5%. Penelitian membuktikan adanya perbedaan signifikan terkait penilaian warna,aroma, after taste, dan keseluruhan cookies (p < 0,05) namun tidak pada variabel tekstur, dan rasa (p > 0,05). Berdasarkan hasil uji laboratarium, cookies 144 memiliki kandungan gizi yaitu energi 415,82 kkal; air 11,04 gram; abu 3,483 gram; lemak 14,78 gram; protein 11,80 gram; dan karbohidrat 58,90 gram. Penambahan tepung mocaf, tepung ikan teri, dan tepung daun kelor meningkatkan jumlah protein, lemak, karbohidrat, kadar air, dan kadar abu.
Kata kunci: Cookies, Protein, tepung mocaf, tepung ikan teri, dan tepung daun kelor

The incidence of malnutrition and short children in Indonesia increase and the lack of alternative food for children with autism, hence the authors want to make highprotein non-wheat cookies by utilizing Indonesian food production which is mocaf flour, anchovy fish flour, and moringa flour. This research is an experimental research that using completely randomized design method. Panelists for hedonic test in this research are 45 students from Faculty of Public Health UI. The results showed that cookies most favored panelists were cookies 144 which contained mocaf flour by 34.0%, fish flour by 8.5%, and moringa flour by 8.5%. Studies have shown significant differences in color, aroma, after taste, and overall cookies (p 0.05). Based on laboratorium analysis, the nutrient contents of cookies 144 are 415,82 kcal of energy; 11,04 gram of water; 3,483 gram of ash; 14,78 gram of fat; 11,80 gram of protein; and 58,90 gram of carbohydrate. The addition of mocaf flour, fish flour, and moringa flour can improve the content of protein, fats, carbohydrate, water, and ash.
Keywords : Cookies, Protein, mocaf flour, anchovy fish flour, and moringa flour.
Read More
S-9367
Depok : FKM UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive