Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 37558 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Fanesya Nuur Haniifah; Pembimbing: Budi Utomo; Penguji: Besral; Sudibyo Alimoeso
Abstrak: Indonesia merupakan negara berkembang dengan proporsi kehamilan tidak diinginkan memiliki persentase yang cenderung sama dari hasil SDKI 2002-2003 hingga 2017 yaitu berada di sekitar angka 7%. Budaya patriarki yang ada dalam kebudayaan Indonesia membuat perempuan sulit untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan terutama dalam bidang kesehatan reproduksi. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan otonomi reproduksi perempuan dengan kehamilan tidak diharapkan. Penelitian ini menggunakan data sekunder yang berasal dari Survei Kesehatan Reproduksi Perempuan di Jawa 2018 yang menggunakan desain crosssectional.Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 3.510 wanita usia subur 15-49 tahun yang pernah melahirkan anak terakhir dan sedang hamil saat survei dilakukan. Analisis data yang digunakan adalah regresi logistic multinomial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengambilan keputusan terhadap penggunaan kontrasepsi dan kemampuan komunikasi berhubungan dengan kehamilan tidak diharapkan setelah dikontrol dengan confounder.
Read More
S-10942
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Firlisha Miftanifa Salsabila; Pembimbing: Budi Utomo; Penguji: Besral, Sudibyo Alimoeso
Abstrak: Penelitian ini akan membahas hubungan antara dan pengetahuan kesehatan reproduksi terhadap kejadian perkawinan anak di Indonesia menggunakan data SDKI 2017. Hasil penelitian menunjukan bahwa pengetahuan kesehatan reproduksi seperti pengetahuan masa subur, pengetahuan gejala HIV&AIDS dan pengetahuan metode kontasepsi memiliki hubungan dengan perkawinan anak pada wanita usia subur 15-49 tahun di Indonesia setelah di control oleh pendidikan, budaya, status ekonomi, wilayah tempat tinggal, pendidikan KRT, akses televisi, akses radio. Factor lain yang berhubungan dengan perkawinan anak adalah pendidikan, budaya tradisional, status ekonomi, wilayah tempat tinggal, pendidikan kepala rumah tangga, akses koran, akses televisi, akses radio.
Read More
S-10633
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Shafa Aura Dian Insani; Pembimbing: Budi Utomo; Penguji: Rico Kurniawan, Sudibyo Alimoeso
Abstrak:

Latar Belakang: KB memiliki sejarah keberhasilan dalam meningkatkan pemakaian kontrasepsi modern dalam waktu relatif pendek, yaitu dari 10% di awal dekade 1970-an menjadi sekitar 60% di awal 2000-an. Namun, pada kurun waktu tersebut hingga 2017 terjadi pergeseran dominasi metode kontrasepsi yang digunakan oleh perempuan usia subur berstatus kawin, yaitu dari penggunaan metode kontrasepsi yang beragam menjadi dominasi Non MKJP, khususnya suntik KB.
Metode: Analisis data sekunder dilakukan dengan menggunakan data SKI tahun 2023. Uji chi-square dan regresi logistik dengan interval kepercayaan 95% digunakan dalam penelitian ini untuk menggambarkan kekuatan hubungan antar variabel.
Hasil: Cakupan penggunaan MKJP pada perempuan usia subur berstatus kawin di Indonesia dalam penelitian ini mencapai 28,8%. Hasil analisis multivariabel menunjukkan bahwa variabel yang memiliki hubungan secara statistik antara lain adalah usia, pendidikan responden, status pekerjaan responden, paritas, status ekonomi, wilayah administratif, pendidikan pasangan, dan konseling KB.
Kesimpulan: Semakin tingginya tingkat pendidikan yang ditempuh oleh seorang perempuan, semakin tinggi juga peluang yang dimilikinya untuk menggunakan MKJP. Hal ini disebabkan karena dengan tingkat pendidikan tersebut perempuan akan cenderung lebih mudah memahami informasi dan manfaat MKJP, serta memiliki kapasitas lebih besar dalam pengambilan keputusan terkait kontrasepsi. Oleh karenanya, peningkatan akses dan kualitas informasi dapat menjadi salah satu strategi yang dapat mendorong penggunaan MKJP secara lebih luas.a


Background: The family planning program has a history of success in increasing the use of modern contraceptives within a relatively short period, rising from 10% in the early 1970s to around 60% in the early 2000s. However, during that period up to 2017, there was a shift in the dominant contraceptive methods used by women of reproductive age—from a variety of methods to a dominance of non-long-acting and permanent methods (non-LARCs), particularly injectable contraceptives. Method: The proportion of long-acting reversible contraceptive (LARC) use among women of reproductive age in Indonesia in this study reached 28.8%. The multivariable analysis showed that several variables were statistically associated with LARC use, including age, respondent’s education, respondent’s employment status, parity, economic status, administrative region, partner’s education, and FP counseling. Results: Women with a secondary education level are more likely to use long-acting reversible contraceptive (LARCs). This is because, at this level of education, women tend to better understand information regarding the benefits of LARCs and have greater capacity in making decisions related to contraception. Therefore, improving access to and the quality of information may serve as an effective strategy to promote broader use of LARCs. Conclusion: The higher the level of education attained by a woman, the greater her likelihood of using long-acting reversible contraceptive (LARCs). This is because women at this education level tend to understand information about the benefits of LARCs more easily and have greater capacity in making decisions related to contraception. Therefore, improving access to and the quality of information can be an effective strategy to encourage wider use of LARCs.

Read More
S-11953
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nafa Shahira Anglila Syaharani; Pembimbing: R. Sutiawan; Penguji: Sutanto Priyo Hastono, Sudibyo Alimoeso
Abstrak:
Komplikasi kehamilan adalah salah satu penyebab kematian ibu yang dapat berdampak tidak hanya pada kesehatan ibu tetapi juga pada bayi baru lahir. Usia yang terlalu muda (35 tahun) merupakan usia ibu hamil yang berisiko tinggi terhadap komplikasi kehamilan. Banten dan Jawa Barat berkontribusi terhadap tingginya angka wanita yang hamil pada usia risiko tinggi sekaligus juga menduduki peringkat lima tertinggi provinsi dengan persentase komplikasi kehamilan se-Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan komplikasi kehamilan berdasarkan usia ibu hamil risiko tinggi di Provinsi Banten dan Jawa Barat. Desain penelitian ini adalah cross-sectional menggunakan data sekunder dari hasil Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 2017. Sampel penelitian ini adalah 777 wanita yang melahirkan anak terakhir lahir hidup dalam kurun waktu lima tahun terakhir yang berusia muda dan tua saat hamil dan bertempat tinggal di Provinsi Banten dan Jawa Barat. Data dianalisis menggunakan uji chi-square dan uji regresi logistik ganda model prediksi yang distratifikasi berdasarkan usia ibu hamil risiko tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komplikasi kehamilan lebih banyak terjadi pada ibu hamil usia tua di kedua provinsi. Di Provinsi Banten, variabel yang berhubungan dengan komplikasi kehamilan pada ibu hamil usia muda adalah status kehamilan, umur kandungan saat pemeriksaan kehamilan pertama, jumlah pemeriksaan kehamilan, masalah akses perawatan kesehatan ibu, pengambilan keputusan perawatan kesehatan ibu, tingkat pendidikan ibu, dan indeks kekayaan dengan umur kandungan saat pemeriksaan kehamilan pertama dan masalah akses perawatan kesehatan ibu sebagai variabel yang paling berhubungan. Pada ibu hamil usia tua, variabel yang berhubungan secara signifikan adalah status kehamilan dan jumlah pemeriksaan kehamilan dengan jumlah pemeriksaan kehamilan sebagai variabel yang paling berhubungan. Di Provinsi Jawa Barat, variabel yang berhubungan secara signifikan pada ibu hamil usia muda adalah tingkat pendidikan ibu dengan status pekerjaan ibu sebagai variabel yang paling berhubungan. Untuk mencegah komplikasi kehamilan pada ibu hamil usia risiko tinggi, institusi kesehatan terkait perlu meningkatkan promosi edukasi terkait komplikasi kehamilan dan “4 Terlalu dan 3 Terlambat”; akses layanan kesehatan reproduksi; cakupan pelayanan kesehatan ibu hamil; serta deteksi komplikasi kehamilan berdasarkan faktor risiko yang berpengaruh signifikan.

Pregnancy complications are one of the causes of maternal death which can affect not only on mother’s health but also on the newborn. Ages that are too young (35 years) are the ages of pregnant women who are at high risk of pregnancy complications. Banten and West Java Province contribute to the high number of women who pregnant at a high-risk maternal age and are also ranked as the fifth highest province with the percentage of pregnancy complications in Indonesia. This study aims to determine the factors associated with pregnancy complications according to high-risk maternal age in the Provinces of Banten and West Java. The research design was cross-sectional using secondary data from 2017 Indonesia Demographic Health Survey (IDHS). The sample of this study was 777 women who gave birth to their last live birth within the last five years who were at young and advanced ages during pregnancy and lived in Banten and West Java Province. Data was analyzed using the chi-square test and multiple logistic regression stratified by high-risk maternal age. The results showed that pregnancy complications were more common in older pregnant women in both provinces. In Banten Province, the variables associated with pregnancy complications in young age pregnant women are pregnancy status, months pregnant at first received antenatal care, number of received antenatal care, problems accessing maternal health care, maternal health care decision-making, maternal education level, and wealth index with months pregnant at first received antenatal care and problems accessing maternal health care as the most related variables. In advanced age pregnant women, the variables that were significantly related were pregnancy status and number of received antenatal care with number of received antenatal care being the most related variable. In West Java Province, the variable that is significantly related to in young age pregnant women is maternal education level with maternal employment status as the most related variable. To prevent pregnancy complications in pregnant women of high risk age, health institutions need to increase promotion of education related to pregnancy complications and “4 Terlalu dan 3 Terlambat”; access to reproductive health services; coverage of health services for pregnant women; and detection of pregnancy complications based on risk factors that have a significant effect.
Read More
S-11415
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rozanah Aminurrahmah; Pembimbing: Milla Herdayati; Penguji: Besral, Teti Tejayanti
Abstrak:
Pelayanan antenatal merupakan program penting guna menurunkan angka kematian ibu. Pada tahun 2021, Kementerian Kesehatan RI menetapkan kebijakan untuk meningkatkan jumlah kunjungan antenatal menjadi minimal 6 kali selama kehamilan. Akan tetapi pada tahun 2023, cakupan antenatal K6 di Indonesia baru mencapai 17,6%. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi pemanfaatan pelayanan antenatal K6 adalah pemberdayaan perempuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pemberdayaan perempuan dengan pemanfaatan pelayanan antenatal di Indonesia, sekaligus mengembangkan indeks pemberdayaan perempuan yang komprehensif menggunakan data SDKI tahun 2017. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cakupan antenatal K6 di Indonesia pada tahun 2017 adalah 5,4% (95% CI: 4,9-5,9). Akan tetapi perlu ditekankan bahwa pada tahun 2017 belum ditetapkan kebijakan antenatal K6 sehingga cakupannya masih rendah. berdasarkan hasil principal component analysis, diketahui bahwa pemberdayaan perempuan dapat digambarkan melalui 5 dimensi. Rata-rata skor pemberdayaan perempuan Indonesia tahun 2017 berdasarkan masing-masing dimensi adalah 83,98 untuk dimensi sikap terhadap pemukulan istri, 62,59 untuk dimensi pengambilan keputusan, 56,60 untuk dimensi pendidikan, 33,42 untuk dimensi kontrol atas hubungan seksual, dan 41,61 untuk dimensi kontrol atas sumber daya. Adapun rata-rata indeks pemberdayaan perempuan di Indonesia secara keseluruhan adalah 50,37. Pemberdayaan perempuan memiliki hubungan yang signifikan dengan pemanfaatan pelayanan antenatal dengan nilai AOR sebesar 1,70 (95% CI: 1,27-2,27). Dimensi yang berhubungan signifikan adalah dimensi sikap terhadap pemukulan istri tinggi (AOR: 2,73), pengambilan keputusan tinggi (AOR: 1,48), pendidikan sedang (AOR: 1,61), pendidikan tinggi (AOR: 1,85), kontrol atas hubungan seksual tinggi (AOR: 0,58), dan kontrol atas sumber daya sedang (AOR: 1,49). Oleh karena itu perlu dilakukan upaya untuk meningkatkan pemberdayaan perempuan di Indonesia.

Antenatal care is an important program to reduce maternal mortality. In 2021, the Indonesian Ministry of Health established a policy to increase the number of antenatal visits to a minimum of 6 times during pregnancy. However, in 2023, K6 antenatal coverage in Indonesia only reach 17.6%. One factor that can influence the utilization of K6 antenatal utilization is women’s empowerment. This research aims to determine the relationship between women’s empowerment and the antenatal care utilization in Indonesia, as well as developing a comprehensive women’s empowerment index using 2017 IDHS data. The results show that K6 antenatal coverage in Indonesia in 2017 was 5.4% (95% CI: 4.9-5.9). However, it needs to be emphasized that in 2017 the K6 antenatal policy had not been established so coverage was still low. Based on the results of the principal component analysis, it is known that women’s empowerment can be described through 5 dimensions. The average score for Indonesian women’s empowerment in 2017 based on each dimension was 83.98 for the attitude towards wife beating, 62.59 for the decision-making, 56.60 for the education, 33.42 for the control over sexual relations, and 41.61 for the control over resources. The average women’s empowerment index in Indonesia as a whole is 50.37. Women’s empowerment has a significant relationship with the antenatal care utilization with an AOR value of 1.70 (95% CI: 1.27-2.27). The dimensions that were significantly related were the high score in dimensions of attitudes towards wife beating (AOR: 2.73), high scoce in decision making (AOR: 1.48), moderate score in education (AOR: 1.61), high score in education (AOR: 1.85), high score in control over sexual relations (AOR: 0.58), and moderate score in control over resources (AOR: 1.49). Therefore, efforts need to be made to increase women’s empowerment in Indonesia.
Read More
S-11731
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ghina Yusriyah; Pembimbing: Sudijanto Kamso; Penguji: Popy Yuniar, Rahmadewi
Abstrak:

Kehamilan tidak diinginkan di Indonesia belum menunjukkan perubahan yang konsisten dari 2002 hingga 2019 (BKKBN, 2019). Dominasi kehamilan tidak diinginkan terjadi pada kelompok usia berisiko tinggi (56% kasus) (BKKBN, 2012, 2017) dan cenderung lebih banyak ditemukan di perkotaan Indonesia. Salah satu faktor yang mempengaruhi terjadinya kehamilan tidak diinginkan yaitu penggunaan kontrasepsi modern. Penelitian ini dilakukan untuk melihat besar hubungan yang terjadi antara penggunaan kontrasepsi modern dengan kejadian kehamilan tidak diinginkan pada wanita kelompok usia berisiko tinggi di wilayah perkotaan dan pedesaan Indonesia. Desain studi pada penelitian ini merupakan cross sectional dengan analisis menggunakan chi square dan regresi logistik. Data yang digunakan merupakan data SDKI 2017. Hasil analisis menunjukkan bahwa wanita usia risiko tinggi di wilayah perkotaan Indonesia yang tidak menggunakan kontrasepsi memiliki risiko yang lebih rendah untuk mengalami kehamilan tidak diinginkan (OR: 0.76; 95% CI: 0.588-0.977). Sedangkan wanita usia risiko tinggi di wilayah pedesaan Indonesia yang tidak menggunakan kontrasepsi memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengalami kehamilan tidak diinginkan (OR: 1.66 95% CI: 1.035-2.648).


 

Unintended pregnancies in Indonesia have not shown consistent changes from 2002 to 2019 (BKKBN, 2019). In addition, unintended pregnancies mostly occur in the high-risk age group (56% of cases) (BKKBN, 2012, 2017). One of the factor that can influence incident of unintended pregnancy is the use of modern contraception. In Indonesia unintended pregnancies tend to be more common in urban areas. This research was conducted to see the relationship between modern contraception use and the incidence of unintended pregnancies in women in high-risk age groups in urban and rural areas of Indonesia. The study design in this research is cross sectional and data will be conducted with chi square and logistic regression. The data used in this research is the 2017 IDHS. The results show that women of high risk age in urban areas of Indonesia who do not use contraception have a lower risk of experiencing unwanted pregnancy (OR: 0.76; 95% CI: 0.588-0.977). Meanwhile, women of high risk age in rural areas of Indonesia who do not use contraception have a higher risk of experiencing unwanted pregnancy (OR: 1.66 95% CI: 1.035-2.648).

Read More
S-11660
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yudha Joniyan Syahputra; Pembimbing: Sutanto Priyo Hastono; Penguji: Popy Yuniar, Ely Setyawati
Abstrak:
Latar belakang: Diare masih menjadi permasalahan Kesehatan secara global maupun nasional. Di Indonesia, Jawa Barat memiliki persentase kejadian diare pada balita sebesar 11%. Angka ini tertinggi ke-5 secara nasional dan paling tinggi di pulau Jawa. Berbagai intervensi sudah dilakukan guna mengurangi angka diare pada balita. Namun, masih tingginya kejadian diare pada balita di Jawa Barat membuat penelitian ini diperlukan untuk mengidentifikasi determinan kejadian diare pada balita di Jawa Barat. Metode: Penelitian ini menggunakan data SKI 2023 dengan total sampel sebanyak 913 balita. Desain studi yang digunakan yaitu cross-sectional. Data dianalisis berdasarkan complex sample secara univariat, bivariat dengan uji chi-square, dan multivariat dengan uji regresi logistic berganda. Hasil: Faktor yang berhubungan signifikan dengan kejadian diare pada balita di Jawa Barat adalah drainase limbah (p-value 0,004; OR 2,188; CI 1,283-3,733) dan fasilitas cuci tangan (p-value 0,044; OR 1,808; CI 1,017-3,213), sedangkan untuk sumber air minum dan pengolahan air minum menjadi variabel confounding. Kesimpulan: Upaya optimalisasi sanitasi di masyarakat masih perlu ditingkatkan, di samping itu upaya pencegahan masih perlu dimasifkan untuk meningkatkan keberhasilan penurunan prevalensi kejadian diare pada balita di Jawa Barat.


Background: Diarrhea remains a significant health problem globally and nationally. In Indonesia, West Java has a diarrhea prevalence of 11% among under-five children. This figure is the 5th highest nationally and the highest on Java Island. Various interventions have been implemented to reduce diarrhea rates in under-five children. However, the persistently high incidence of diarrhea in under-five children in West Java necessitates this research to identify the determinants of diarrhea incidence in under-five children in West Java. Methods: This study utilized SKI 2023 data with a total sample of 913 under-five children. A cross-sectional study design was employed. Data were analyzed using complex sample analysis, including univariate, bivariate with chi-square test, and multivariate with multiple logistic regression. Results: Factors significantly associated with diarrhea incidence in under-five children in West Java were wastewater drainage (p-value 0.004; OR 2.188; CI 1.283-3.733) and handwashing facilities (p-value 0.044; OR 1.808; CI 1.017-3.213), while drinking water source and drinking water treatment were identified as confounding variables. Conclusion: Efforts to optimize community sanitation still need to be improved. Furthermore, prevention efforts need to be intensified to enhance the successful reduction of diarrhea prevalence in under-five children in West Java.
Read More
S-12090
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Annabel Serafina; Pembimbing: Milla Herdayati; Penguji: Martya Rahmaniati Makful, Dion Zein Nuridzin
Abstrak:
Latar Belakang: Pneumonia menyebabkan banyak kematian pada anak-anak di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Pneumonia menyebabkan sebanyak 15,3% kematian pada anak usia 29 hari–11 bulan dan 12,5% kematian pada anak balita usia 12–59 bulan di Indonesia pada tahun 2022. Di Provinsi Jawa Timur, prevalensi pneumonia balita mencapai 3,32%, lebih tinggi dari prevalensi nasional sebesar 1,56%. Hal ini menjadikan Provinsi Jawa Timur sebagai provinsi dengan prevalensi pneumonia balita tertinggi ketiga di Indonesia. Tujuan: Penelitian ini bertujuan mendapatkan pola sebaran kasus pneumonia dan faktor risikonya pada balita di Provinsi Jawa Timur pada tahun 2022. Metode: Penelitian ini menggunakan desain studi ekologi dengan analisis autokorelasi spasial global dan lokal menggunakan Moran’s I. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan adanya autokorelasi spasial imunisasi dasar lengkap dengan kasus pneumonia pada balita. Kasus pneumonia pada balita membentuk pola mengelompok dengan variabel kepadatan penduduk, ASI eksklusif, suplementasi vitamin A, penggunaan bahan bakar utama untuk memasak yang berisiko, dan keberadaan puskesmas. Sementara itu, kasus pneumonia pada balita membentuk pola menyebar dengan variabel penduduk miskin, berat badan lahir rendah, dan gizi buruk. Kesimpulan dan Saran: Kasus pneumonia pada balita dan faktor-faktor risikonya membentuk pola yang berbeda-beda. Pencegahan dan pengendalian pneumonia pada balita dapat disesuaikan dengan karakteristik dari masing-masing kabupaten/kota.

Background: Pneumonia causes many deaths in children throughout the world, including in Indonesia. Pneumonia causes 15.3% of deaths in children aged 29 days–11 months and 12.5% of deaths in children aged 12–59 months in Indonesia in 2022. In East Java Province, the prevalence of pneumonia in under-five children reached 3.32%, higher than the national prevalence of 1.56%. This makes East Java Province the province with the third highest prevalence of under-five children pneumonia in Indonesia. Objective: This study aims to obtain patterns of pneumonia cases and risk factors among under-five children in East Java Province in 2022. Methods: This study uses an ecological study design with global and local spatial autocorrelation analysis using Moran's I. Results: The results show spatial autocorrelation in complete basic immunization in cases of pneumonia in under-five children. Pneumonia cases in under-five children form a pattern that clusters with population density, exclusive breastfeeding, vitamin A supplementation, risky use of primary fuel for cooking, and the presence of community health centers. Meanwhile, cases of pneumonia in under-five children form a widespread pattern with variables such as poverty, low birth weight, and poor nutrition. Conclusions and Recommendations: Pneumonia cases in under-five children and their risk factors form different patterns. Prevention and control of pneumonia in under-five children can be adjusted to the characteristics of each regency/city.
Read More
S-11666
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Kezia Rosari; Sabarinah; Penguji: Popy Yuniar, Sudibyo Alimoeso
Abstrak:

Tingginya Angka Kematian Ibu (AKI) menjadi salah satu isu prioritas kesehatan di Indonesia. Penggunaan kontrasepsi modern pascasalin merupakan strategi efektif untuk menekan AKI dengan mengatur jarak kehamilan. Namun, cakupannya belum merata, dengan disparitas signifikan antarprovinsi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan penggunaan kontrasepsi modern pascasalin di Provinsi Jawa Timur dan Sumatera Utara.
Penelitian ini menggunakan desain potong lintang (cross-sectional) dengan analisis data sekunder dari Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Sampel terdiri dari wanita usia subur (15-49 tahun) yang telah melahirkan. Analisis data dilakukan menggunakan regresi logistik multivariabel. Hasil penelitian menunjukkan proporsi penggunaan kontrasepsi modern pascasalin di Jawa Timur (79,2%) lebih tinggi secara signifikan dibandingkan Sumatera Utara (50,5%). Faktor determinan di Sumatera Utara adalah umur, status pekerjaan, dan konseling KB. Di Jawa Timur, faktor yang berhubungan adalah daerah tempat tinggal, status ekonomi, paritas, dan konseling KB. Konseling KB pascasalin menjadi satu-satunya faktor yang berhubungan signifikan di kedua provinsi. Kesimpulannya, terdapat perbedaan determinan dalam penggunaan kontrasepsi modern pascasalin antara kedua provinsi, yang menyoroti pentingnya intervensi spesifik sesuai konteks wilayah. Penguatan layanan konseling menjadi kunci strategis untuk meningkatkan cakupan secara nasional.


The high Maternal Mortality Rate (MMR) is a priority health issue in Indonesia. The use of modern postpartum contraception is an effective strategy to reduce MMR by managing pregnancy spacing. However, its coverage is uneven, with significant disparities between provinces. This study aims to analyze the factors associated with the use of modern postpartum contraception in East Java and North Sumatra provinces. This study employed a cross-sectional design using secondary data analysis from the 2023 Indonesian Health Survey (SKI). The sample consisted of women of childbearing age (15-49 years) who had previously given birth. Data were analyzed using multivariate logistic regression. The results showed that the proportion of modern postpartum contraceptive use in East Java (79.2%) was significantly higher than in North Sumatra (50.5%). The determining factors in North Sumatra were age, employment status, and family planning counseling. In East Java, the associated factors were area of residence, economic status, parity, and family planning counseling. Counseling was the only factor significantly associated in both provinces. In conclusion, there are different determinants for the use of modern postpartum contraception between the two provinces, highlighting the importance of region-specific interventions. Strengthening counseling services is a strategic key to increasing coverage nationally.

Read More
S-12039
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Reyhan Gerriananta; Pembimbing: Tris Eryando; Penguji: Kemal Nazaruddin Siregar, Misti
Abstrak:
Latar Belakang: Diagnosis dini diabetes merupakan kunci untuk mencegah mortalitas dan morbiditas akibat diabetes. Hal tersebut dapat dilakukan jika individu melakukan pemantauan gula darah secara rutin. Namun diperkirakan sebanyak 85% penduduk Indonesia tidak pernah memeriksakan gula darahnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya hubungan antara akses ke fasilitas kesehatan primer terhadap pemanfaatan pemeriksaan gula darah pada individu usia ≥18 tahun. Metode:Penelitian ini menggunakan data sekunder Riskesdas 2018. Sampel dari penelitian ini adalah penduduk Indonesia yang berumur ≥18. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan akses memiliki hubungan yang bermakna dengan pemanfaatan pemeriksaan gula darah setelah dikontrol variabel kovariat, meski hubungan yang ditemukan tidak terlalu besar. Kesimpulan: Akses ke fasilitas kesehatan primer dapat mempengaruhi individu untuk melakukan pemeriksaan gula darah, meski pengaruhnya tidak terlalu besar.

ackground: Early diagnosis of diabetes is the key to preventing morbidity and mortality related to diabetes. This can be done if the individual monitors blood sugar regularly. However, it is estimated that as many as 85% of Indonesia's population have never had their blood sugar checked. This study aims to determine the relationship between access to primary health facilities and the utilization of blood sugar checks in primary health service. Methods: This study used secondary data from 2018 National Basic Health Research. The sample for this study was Indonesian residents aged ≥18. Results: The results showed that access had a significant relationship with the utilization of blood sugar checks, although the relationship found was not too significance. Conclusions: Access to primary health facilities can influence individuals to do blood sugar checks, although the effect is not too big
Read More
S-11449
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive