Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 32697 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Najiah Meirina Anwar; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Evi Sofia Riani, Renti Mahkota
Abstrak: COVID-19 adalah penyakit menular yang disebabkan oleh severe acute respiratory syndrome coronavirus 2. Hingga saat ini kasus COVID-19 semakin bertambah. Meskipun kasus sembuh mencapai angka 96%, hal tersebut harus tetap diwaspadai karena sebagai penyintas masih dapat mengalami gejala yang menetap atau biasa disebut Long COVID. Long Coronavirus Disease (Long COVID) atau Post Acute COVID adalah kondisi pasca infeksi COVID-19 yang berkepanjangan setelah 4 minggu timbulnya gejala awal. Long COVID menjadi ancaman serius bagi para penyintas COVID-19 karena gejala yang menetap dapat membawa dampak buruk dan menganggu aktivitas penderitanya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui factor-faktor yang memengaruhi kejadian Long COVID pada penyintas COVID-19 di Kota Sukabumi. Penelitian ini menggunakan desain penelitian cross sectional, pengambilan data dilakukan dengan menyebarkan kuesioner secara online. Penelitian ini diikuti oleh 267 rseponden dengan kriteria inklusi sudah sembuh dari COVID-19, berdomisili di Kota Sukabumi, dan usia minimal 18 tahun. Hasil penelitian menunjukan proporsi kejadian Long COVID sebesar 47% dengan gejala yang paling sering adalah mudah Lelah (30,7%), sulit berkonsentrasi (14,98%), dan mudah lupa (13,86%). Analisis bivariat menunjukan bahwa terdapat hubugan antara tingkat gejala (P value = 0,001), jenis perawatan (P value = 0,012), dan perokok pasif (P value = 0,020) dengan kejadian Long COVID. Lalu tidak terdapat hubungan yang signifikan antara karakteristik sosiodemografi, status vaksinasi, status merokok, derajat rokok, dan kondisi penyerta.
COVID-19 is an infectious disease caused by severe acute respiratory syndrome coronavirus 2. Until now, COVID-19 cases are increasing. Although the number of recovered cases reached 96%, this must still be watched out for because survivors can still experience persistent symptoms or commonly known as Long COVID. Long Coronavirus Disease (Long COVID) or Post Acute COVID is defined as persisten symptoms and/or delayed or longterm complications beyond 4 weeks from the onset of symptoms. Long COVID is a serious condition to COVID-19 survivors because persistent symptoms can have a negative impact and disrupt the sufferer's activities. The purpose of this study was to determine the factors that affecting the incidence of Long COVID in COVID-19 survivors in Sukabumi City. This study used a cross-sectional study. Data collection was carried out by distributing online questionnaires. This study was conducted by 267 respondents with inclusion criteria are having recovered from COVID-19, domiciled in Sukabumi City, and a minimum age of 18 years. The results showed the proportion of the incidence of Long COVID was 47% with the most frequent symptoms are tiredness or fatigue (30.7%), difficulty concentrating (14.98%), and forgetful (13.86%). Bivariate analysis showed that there was a relationship between symptom level (P value = 0.001), type of treatment (P value = 0.012), and passive smoking (P value = 0.020) with the incidence of Long COVID. There is no significant relationship between sociodemographic characteristics, vaccination status, smoking status, smoking degree, and comorbidity,
Read More
S-10963
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hotma Martogi Lorensi Hutapea; Promotor: Mondastri Korib Sudaryo; Kopromotor: Tri Yunis Miko Wahyono, Arli Aditya Parikesit; Penguji: Besral, Ratna Djuwita, Trisari Anggondowati, Sunarno, Adi Yulandi, Radiyati Umi Partan
Abstrak:
Latar Belakang: Long COVID adalah kondisi pasca infeksi SARS-CoV-2 yang ditandai oleh gejala yang bertahan ≥2 bulan, dengan kelelahan sebagai keluhan utama. Di Indonesia, tercatat sekitar 1.400 kasus COVID-19 aktif, dan berpotensi mengalami long COVID. Meskipun kelelahan umum terjadi, faktor risiko dan biomarker yang mendasarinya, baik pada long COVID maupun COVID-19 secara umum, belum sepenuhnya dipahami. Interleukin-6 (IL-6) diduga berperan dalam mekanisme kelelahan, tetapi hubungan antara varian virus SARS-CoV-2, kadar IL-6, dan gejala kelelahan masih belum jelas. Metode: Penelitian ini merupakan studi kohort ambispektif yang melibatkan pasien dewasa yang dirawat inap ≥5 hari karena COVID-19. Data klinis, demografis, dan riwayat vaksinasi diperoleh dari rekam medis. Gejala kelelahan dinilai menggunakan kuesioner Fatigue Assessment Scale (FAS), sedangkan long COVID dinilai melalui kuesioner terstruktur. Analisis regresi Cox digunakan untuk mengidentifikasi faktor risiko. IL-6 diukur dengan metode ELISA, dan analisis in-silico dilakukan untuk menilai hubungan mutasi ssRNA terhadap binding affinity TLR8 dan kadar IL-6. Hasil: Sebanyak 257 pasien terlibat dalam penelitian, dengan 30 subjek diambil darahnya untuk pemeriksaan IL-6. Enam faktor risiko ditemukan terkait dengan long COVID, yaitu riwayat kelelahan akut saat dirawat, penyakit ginjal kronis, status PCR positif saat keluar RS, trombositosis, status vaksinasi, dan kebiasaan olahraga. Eritrositopenia dan terapi oksigen berkorelasi dengan kelelahan long COVID, sedangkan kelelahan akut dan kebiasaan olahraga memengaruhi kelelahan COVID-19 umum. Varian Delta meningkatkan risiko long COVID namun menurunkan risiko kelelahan, dan kadar IL-6 tinggi berhubungan dengan kelelahan setelah dikendalikan oleh variabel confounding. Selain itu, ditemukan secara in-silico perbedaan skor binding affinity yang disebabkan mutasi pada ssRNA memengaruhi kadar IL-6 subjek. Kesimpulan: Long COVID, kelelahan long COVID dan kelelahan COVID-19 umum dipengaruhi oleh kombinasi faktor klinis, perilaku, dan varian virus. IL-6 berperan penting dalam patogenesis kelelahan, dengan kemungkinan pengaruh mutasi virus terhadap disregulasi imun. Kata kunci: coronavirus disease 2019, faktor risiko, interleukin 6, long COVID, penyintas COVID-19.

Background: Long COVID is a post-infection condition following SARS-CoV-2 infection characterized by symptoms lasting ≥2 months, with fatigue being the major complaint. In Indonesia, around 1,400 active COVID-19 cases have been recorded. These individuals have the potential to develop long COVID. Although fatigue is common, the underlying risk factors and biomarkers both in long COVID and in COVID-19 generally are not yet fully understood. Interleukin-6 (IL-6) is suspected to play a role in the mechanism of fatigue, but the relationship between SARS-CoV-2 variants, IL-6 levels, and fatigue symptoms remains unclear. Methods: This was an ambispective cohort study involving adult patients hospitalized for ≥5 days due to COVID-19. Clinical, demographic, and vaccination history data were collected from medical records. Fatigue status was assessed using the Fatigue Assessment Scale (FAS), and long COVID was evaluated through a structured questionnaire. Cox regression analysis was used to identify risk factors. IL-6 was measured using ELISA, and in-silico analysis was performed to assess the relationship ssRNA mutations based its binding affinity to TLR8. The binding affinity score was compared to IL-6 levels. Results: A total of 257 patients participated in the study, with blood samples for IL-6 testing collected from 30 subjects. Six risk factors were found to be associated with long COVID: history of acute fatigue during hospitalization, chronic kidney disease, PCR-positive status at hospital discharge, thrombocytosis, vaccination status, and exercise habits. Erythrocytopenia and oxygen therapy were correlated with long COVID fatigue, while acute fatigue and exercise habits influenced general COVID-19-related fatigue. After controlling for confounding variables, the Delta variant increased the risk of long COVID but had the lower risk of fatigue, and high IL-6 levels were associated with fatigue. Additionally, in-silico findings showed that mutations in ssRNA altered TLR8 binding affinity scores, which influenced IL-6 levels in subjects. Conclusion: Long COVID, long COVID fatigue, and general COVID-19-related fatigue are influenced by a combination of clinical, behavioral, and viral variant factors. IL-6 plays an important role in the pathogenesis of fatigue, with possible viral mutation effects contributing to immune dysregulation. Keywords: coronavirus disease 2019, COVID-19 survivors, interleukin 6, long COVID, risk factors.
Read More
D-578
Depok : FKM-UI, 2025
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yudha Asy`ari; Pembimbing: Helda; Penguji: Yovsyah; Krishna Adi Wibisana
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian Long COVID pada penyintas COVID-19 di Kelurahan Jatisampurna Kota Bekasi. Penelitian ini menggunakan desain penelitia cross-sectional. Penelitian ini diikuti oleh 308 responden, dengan proporsi perempuan 64% dan laki-laki 36%. Hasil penelitian ini menunjukan proporsi kejadian Long COVID sebesar 80,2%. Gejala yang paling banyak dilaporkan adalah kelelahan (64%), brain fog (30.5%), dan batuk kering (21.8%). Analisis bivariat menunjukan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara umur dan pekerjaan dengan kejadian Long COVID. Namun terdapat hubungan yang signifikan antara jenis kelamin dengan kejadian Long COVID (p= 0,011 OR=2,157) dan komorbid dengan kejadian Long COVID (p= 0,006 OR= 2,652).
Read More
S-10798
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Lutfiani Fajrin; Pembimbing: Syahrizal; Penguji: Nurhayati Adnan, Helmi; Ahmad Hidayat
Abstrak:
Reinfeksi Covid-19 didefinisikan sebagai telah sembuh dari infeksi COVID-19 kemudian terinfeksi kembali. Banyaknya laporan kejadian reinfeksi dibeberapa negara seperti Hongkong, Nevada, Amerika Serikat, Belgium, Ekuador, India, dan negara lainnya menunjukkan besaran masalah reinfeksi. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui faktor yang beresiko terhadap kejadian reinfeksi COVID-19. Studi ini menggunakan desain cross-sectional dalam mengetahui faktor resiko reinfeksi COVID-19. Subjek penelitian ini adalah pasien dengan riwayat reinfeksi yang memenuhi kriteria inklusi dan eklusi dari data surveilans epidemiologi di RSDC Wisma Atlet, Jakarta pada bulan Juli – Desember 2021. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 7 variabel yang berhubungan dengan reinfeksi COVID-19 pada pasien RSDC WAK: usia 30-39 tahun (POR: 0.60, 95% CI: 0.47-0.77), usia ≥40 tahun (POR 0.41, 95%CI: 0.32-0.53), variabel pekerjaan; non-nakes (POR: 0.91, 95% CI: 0.68-1.22), nakes (POR: 1.80, 95% CI: 1.32-2.46), riwayat kontak erat (POR: 0.75, 95% CI: 0.59-0.97), penggunaan transportasi umum (POR: 1.36, 95% CI:1.02-1.79), perjalanan ke luar daerah (POR: 0.69, 95% CI: 0.51-0.96), bepergian ke fasilitas umum (POR: 2.01, 95% CI: 1.45-2.78), status vaksin; vaksin dosis 1 (POR: 0.56, 95% CI: 0.42-0.74), dan belum vaksinasi (POR:0.62, 95% CI: 0.48-0.78). Determinan atau faktor prediktor dominan reinfeksi COVID-19 pada pasien rawat inap RSDC WAK adalah variabel bepergian ke fasilitas umum.

COVID-19 reinfection defined as a person who has recovered from infection with COVID-19 then re-infected. The number of reinfection report in several countries such as Hongkong, Nevada, Amerika Serikat, Belgium, Ekuador, India, and the other country shows the magnitude of the reinfection problem. Therefore, this study was conducted to determine risk factor of COVID-19 reinfection. This study is an analytical study with a cross-sectional to determine the risk factors of COVID-19 reinfection. The subjects of this study were patients with a history of reinfection who met the inclusion and exclusion criteria from secondary data (epidemiological surveillance data) at the RSDC Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta (RSDC WAK) in July – December 2021. The results showed that there were 7 variables related to the incidence of reinfection of COVID-19 in RSDC WAK patients, including: age; age 30-39 years old (POR: 0.60, 95% CI: 0.47-0.77), age ≥40 years old (POR 0.41, 95%CI: 0.32-0.53), occupation; non-health workers occupation (POR: 0.91, 95% CI: 0.68-1.22), health worker occupation (POR: 1.80, 95% CI: 1.32-2.46), history of close contact (POR: 0.75, 95% CI: 0.59-0.97), public transportation uses (POR: 1.36, 95% CI: 1.02-1.79), travel outside the region (POR: 0.69, 95% CI: 0.51-0.96), visit public facilities (POR: 2.01, 95% CI: 1.45 -2.78), vaccine status; vaccinated doses 1 (POR: 0.56, 95% CI: 0.42-0.74), and unvaccinated (POR:0.62, 95% CI: 0.48-0.78). Predictor of COVID-19 reinfection in inpatients at RSDC WAK is visit public facilities.
Read More
T-6560
Depok : FKM UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sonia Annisa Br Ketaren; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Putri Bungsu, Nurhalina Afriana, Bai Kusnadi
Abstrak:
Hepatitis B merupakan masalah kesehatan masyarakat yang signifikan, termasuk pada ibu hamil yang berisiko mengalami transmisi vertikal kepada bayinya. Di Kota Bogor, ditemukan 155 ibu hamil dengan HBsAg reaktif dari 18.713 ibu hamil yang diperiksa pada tahun 2025. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor risiko yang memengaruhi kejadian hepatitis B pada ibu hamil di Puskesmas Kota Bogor tahun 2026. Desain penelitian adalah studi kasus-kontrol tidak berpasangan yang dilaksanakan di 25 Puskesmas Kota Bogor pada periode Januari–Mei 2026. Sampel terdiri dari 112 kasus (ibu hamil HBsAg reaktif) dan 112 kontrol (ibu hamil HBsAg nonreaktif) yang dipilih menggunakan total sampling dengan rasio 1:1. Data dikumpulkan melalui wawancara menggunakan kuesioner terstruktur. Analisis dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan uji chi-square, dan multivariat menggunakan regresi logistik ganda dengan metode forward selection, disertai koreksi bias menggunakan Firth's penalized likelihood logistic regression untuk mengatasi complete separation. Hasil analisis bivariat menunjukkan empat variabel yang berhubungan bermakna: usia ≥30 tahun (COR=2,48; 95%CI: 1,45–4,25), riwayat paparan darah (COR=5,34; 95%CI: 2,10–13,56), riwayat tinggal bersama penderita hepatitis B (COR=17,47; 95%CI: 4,04–75,52), dan paritas lebih dari satu kali (COR=1,92; 95%CI: 1,12–3,28). Hasil analisis multivariat dengan metode Firth mengidentifikasi tiga faktor risiko dominan, yaitu riwayat tinggal bersama penderita hepatitis B (AOR=20,98; 95%CI: 4,97–88,48; p<0,001), riwayat paparan darah (AOR=3,90; 95%CI: 1,43–10,61; p=0,008), dan usia ≥30 tahun (AOR=2,50; 95%CI: 1,36–4,59; p=0,003), serta status bekerja sebagai faktor protektif (AOR=0,25; 95%CI: 0,09–0,67; p=0,006). Penelitian ini merekomendasikan penguatan skrining berbasis keluarga, edukasi pencegahan penularan dalam rumah tangga, dan perluasan vaksinasi bagi anggota keluarga serumah ibu hamil HBsAg reaktif.

Hepatitis B remains a significant public health problem, particularly among pregnant women at risk of vertical transmission to their infants. In Bogor City, 155 pregnant women tested HBsAg-reactive out of 18,713 screened in 2025. This study aimed to analyze risk factors associated with hepatitis B among pregnant women at community health centers in Bogor City in 2026. An unmatched case-control design was applied across 25 community health centers from January to May 2026. The sample consisted of 112 cases (HBsAg-reactive pregnant women) and 112 controls (HBsAg-non-reactive pregnant women), selected by total sampling at a 1:1 ratio. Data were collected through structured questionnaire interviews. Analysis included univariate, bivariate using chi-square test, and multivariate using multiple logistic regression with forward selection, with bias correction applied using Firth's penalized likelihood logistic regression to address complete separation. Bivariate analysis identified four significantly associated variables: age ≥30 years (COR=2.48; 95%CI: 1.45–4.25), history of blood exposure (COR=5.34; 95%CI: 2.10–13.56), history of living with a hepatitis B patient (COR=17.47; 95%CI: 4.04–75.52), and parity greater than once (COR=1.92; 95%CI: 1.12–3.28). Multivariate analysis using the Firth method identified three dominant risk factors: history of living with a hepatitis B patient (AOR=20.98; 95%CI: 4.97–88.48; p<0.001), history of blood exposure (AOR=3.90; 95%CI: 1.43–10.61; p=0.008), and age ≥30 years (AOR=2.50; 95%CI: 1.36–4.59; p=0.003), with employment status as a protective factor (AOR=0.25; 95%CI: 0.09–0.67; p=0.006). This study recommends strengthening family-based screening, household transmission prevention education, and expanding vaccination for household members of HBsAg-reactive pregnant women.
Read More
T-7600
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sarikasih Harefa; Pembimbign: Ratna Djuwita; Penguji: Nurhayati Prihartono, Lukman Hakim Tarigan, Asima Herna Dewi S, Hera Nurlila
Abstrak:

ABSTRAK Latar Belakang : Kurang gizi masih menjadi masalah utama yang dihadapi dunia. Setiap tahunnya sekitar 55.000 orang meninggal karena kurang gizi. Dan dua per tiga dari jumlah yang meninggal ini adalah anak-anak. Di negara-negara berkembang, kontribusi kurang gizi terhadap kematian anak balita yang berhubungan penyakit infeksi meneapai 53%. Anak yang kurang gizi cenderung lebih rentan terhadap penyakit infeksi baik dalam hal jumlah kejadian (misalnya insidens) maupun durasi setiap kejadian penyakit Tahun 2006, jumlah penderita gizi buruk mengalami peningkatan dati tahun sebelumnya. Jumlah balita gizi buruk di Indonesia, menurut laporan UNICEF 2006 meningkat dari 1,8 juta pada tahun 200412005 menjadi 2,3 juta jiwa Peningkatan balita gizi buruk ini tentulah sangat mengkhawatirkan, karena depat menyebabkan "lost Metode : Penelitian ini menggunakan rancangan quasi eksperimen pre-post test dengan jumlah sampel 114 yang terdiri dari 60 balita yang menerimn intervensi PMT-P dan 54 balita yang menerima konseling gizi. Untuk menguji hipotesis digwtukan uji t-test dan anova. Analisa multivariat dengan Analisis Regress!Berganda. Hasil: Hasil uji ststistik menunjukkan terdapat perbedaan yang bermakna antara Zsrore balila gizi buruk sebelum dan sesudah mendapatkan intervensi. Konseling gizi berhasil meningkatkan Zscore belita gizi buruk sebesar 0.2237. Pemberian PMT- berhasil meningkatkan Zscore balita gizi blll1lk sebesar 0.2181. Untuk kelompok konseling, faktor-faktor yang mempengarohi peningkatan Zscore balita gizi blll1lk adalah status gizi {Zscore) balita di awal penelitian. Sedangkan untuk kelompok PMT-P, adalah umur analk, dan umur balita disapih. Kesimpulan : Setelah intervensi, prevalensi gizi buruk turon 38,6%. Darl kelompok konseling, prevalensi balita gizi buruk turun 50,0%, sedangkan prevalensi gizi buruk pada kelompok PMT-P turun 28,3%. Pada kelompok PMT-P juga ditemukan balita yang meningkat statusnya menjadi gizi balk. Faktor-faktor yang mempengaruhi peningkatan Zscore balita gizi buruk adalah status gizi {Zscore) balita di awal penelitiaa (konseling), umur anak, dan umur balita disapih {PMT-P).


Background : Poor nutrition still become prior problem in the world. Every year, about 55.000 people die due to malnutrition. And 2 out of3 death was children. Poor nutrition contributes to 1 out of2 death (53%) associated with infections diseases among children aged under five in developing country. Children with malnutrition more vulnerable to infection, both incidens and duration of diseases. In 2006, the number of malnutrition increased than in 2005. Unicef(2006) reports, the malnutrition children aged under five increased from I ,8 million in 2004/2005 to 2,3 million in 2006. This increasing was very concerned, leads to "lost generation". One of program conduct by government to care of children with malnutrition was nutritional intervention (supplementation). To cure dan care of malnutrition children, was conduct food supplementation breastfeeding for Methods : This research conduct quasi experiment design with pre-post test. The number of sample was 114 children, contain of 60 children in the food supplementation group and 54 children in the counseling group. For testing the hypothesis was conduct t-test dan one-way anova. Multivariat analysis with Multiple Linier Regression Analysis. Result : There is significant differences between Zscore weight for aged of under five chidren with malnutrition at the pre intervention and post intervention. Counseling program increased Zscore weight for aged of underfive chidren about 0,2237 SD. Food supplementation program increased Zscore weight for aged of underfive chidren about 0,2181 SD. In the counseling group, the factors related to the increasing Zscore weight for aged of underfive children malnutrition is the nutrition statue of children at the begining of intervention. In the food supplementation group, the factors is the children's aged and the children's aged while weaning. Summary : After intervention program, malnutrition prevalence decreased 38,6%. In the counseling group, prevalence decreased 50,0%, While in the food supplementation group prevalence decreased 28,3%. In the food supplementation group also found a child with nonnal statue. In the counseling group, the factors related to the increasing Zscore weight for aged of underfive children malnutrition is the nutrition statue of children at the beginning of intervention. In the food supplementation group, the factors is the children's aged and the children's aged while weaning.

Read More
T-2923
Depok : FKM-UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fionaliza; Pembimbing: Nuning Maria Kiptiyah; Penguji: Ratna Djuwita, Kusharisupeni Djokosujono, Basuki Budiman
T-2526
Depok : FKM UI, 2007
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fitriani Azizah; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Dharma Ningsih Dwi Putri
Abstrak:
Penyakit tidak menular menjadi penyebab 41 juta kematian di seluruh dunia setiap tahunnya. Salah satu yang memiliki prevalensi tertinggi adalah hipertensi. Kota Depok memiliki prevalensi hipertensi sebesar 34,13% di tahun 2018. Walaupun lebih banyak terjadi pada usia tua, namun kelompok usia muda juga berisiko mengalami hipertensi. Penelitian ini dilakukan untuk melihat faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian hipertensi pada penduduk usia produktif (15 – 64 tahun) di Kota Depok. Desain penelitian yang digunakan adalah cross-sectional dengan menggunakan data Sistem Informasi Penyakit Tidak Menular Kota Depok Tahun 2022 yang direkapitulasi oleh Dinas Kesehatan Kota Depok. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya prevalensi hipertensi sebesar 28,7% pada penduduk usia produktif di Kota Depok tahun 2022. Faktor-faktor yang berhubungan adalah usia 40 – 64 tahun (PR 3,084; 95% CI 2,808-3,388; p=0,001), tingkat pendidikan rendah (PR 1,534; 95% CI 1,344-1,750; p=0,001), riwayat hipertensi keluarga (PR 1,573; 95% CI 1,327-1,864; p=0,001), konsumsi garam berlebih (PR 2,094; 95% CI 1,766-2,483; p=0,001), obesitas (PR 2,089; 95% CI 1,888-2,311; p=0,001), obesitas sentral (PR 1,612; 95% CI 1,471-1,766; p=0,001), dan diabetes (PR 2,290; 95% CI 1,960-2,674; p=0,001). Variabel lain seperti jenis kelamin, pekerjaan, konsumsi sayur dan buah, kurang aktivitas fisik, merokok dan konsumsi alkohol tidak menunjukkan hubungan yang signifikan pada penelitian ini.

Non-communicable diseases are the cause of 41 million deaths worldwide. One that has the highest prevalence is hypertension. In 2018, the prevalence of hypertension in Depok City was 34,13%. Although it occurs more frequently in older age, the younger age group is also at risk of hypertension. This research was conducted to determine risk factors associated with the incidence of hypertension in the productive age population in Depok City in 2022. The design of this study is cross-sectional using Non-Communicable Disease Information System for 2022 from Depok City Health Agency. The results of this study indicate that the prevalence of hypertension in the productive age population in Depok City was 28.7%. The related factors are adults aged 40-64 years (PR 3.084; 95% CI 2.808-3.388; p=0.001), low level of education (PR 1.534; 95% CI 1.344-1.750; p=0.001), family history of hypertension (PR 1.573; 95% CI 1.327-1.864; p=0.001), excessive salt consumption (PR 2.094; 95% CI 1.766-2.483; p=0.001), obesity (PR 2.089; 95% CI 1.888-2.311; p=0.001), central obesity (PR 1.612; 95% CI 1.471-1.766; p=0.001), and diabetes (PR 2.290; 95% CI 1.960-2.674; p=0.001). Gender, occupation, vegetable and fruit consumption, lack of physical activity, smoking and alcohol consumption did not show a significant relationship in this study.
Read More
S-11416
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Marliah Santi HR; Pembimbing: Nuning Maria Kiptiyah; Penguji: Lukman Hakim
S-6906
Depok : FKM UI, 2012
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tiur Annisa Harahap; Pembimbing: Helda; Penguji: Yovsyah, Yusnita Aswarini
S-7699
Depok : FKM UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive