Ditemukan 40933 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Arindi Vindi Cahyani; Pembimbing: Ratna Djuwita; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Nurhalina Afriana
Abstrak:
Latar belakang: Human Immunodeficiency Virus (HIV) merupakan virus yang menyerang kekebalan tubuh pada orang yang terinfeksi. HIV masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat yang dihadapi Indonesia khususnya provinsi Jawa Barat. Pada tahun 2020 jumlah kasus baru HIV mencapai 5.666 kasus jauh dibandingkan rata-rata kasus baru Indonesia. Transmisi HIV sangat berbeda tergantung pada konteks sosial dan karakteristik spesifik wilayah. Tujuan: Mengetahui faktor demografi dan sosial ekonomi yang berhubungan dengan prevalensi HIV di Jawa Barat pada tahun 2020. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian epidemiologi deskriptif dengan menggunakan studi ekologi korelasi perbandingan wilayah, dengan populasi 27 Kabupaten/Kota Provinsi Jawa Barat. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor demografi kepadatan penduduk memiliki hubungan yang signifikan dengan prevalensi HIV (P=0,038) kekuatan hubungan sedang dengan arah positif (r=0,4). Faktor sosial ekonomi Indeks Pembangunana Manusia memiliki hubungan signifikan dengan prevalensi HIV (P=0,035) kekuatan hubungan sedang dengan arah positif (0,407). Sementara, faktor demografi jenis kelamin dan faktor sosial ekonomi PDRB per Kapita memiliki hubungan yang tidak signifikan dengan prevalensi HIV. Kesimpulan: Penanganan HIV dapat memperhatikan karakteristik spesifik wilayah sesuai dengan kondisi sosial ekonomi dan demografi.
Background: Human Immunodeficiency Virus (HIV) is a virus which attacks the immune system of an infected person. HIV become a serious problem being faced in Indonesia especially West Java province. In 2020 the number of new HIV infection in West Java reach 5.666 cases, higher than an average new cases in Indonesia. The spread of HIV depend on social context and region-specific characteristic. Goal: This study aims to analyze demographic and socioeconomic factors associated with HIV prevalence in West Java Province in 2020. Methods: Epidemiology descriptive using ecological correlation study with multiple-group study. Populations in this study are all 27 regencies and municipalities in West Java Province. Results: The result of this study showed that population density part of demographic factor has a significant relation with HIV prevalence (P=0,038), with a moderate relationship and positive pattern (r=0,4). Human Development Index part of socioeconomic factor has a significant relation with HIV prevalence (P=0,035), with a moderate relationship and positive pattern (r=0,407). Meanwhile, for sex ratio and GRDP per Capita showed an insignificant relationship with HIV prevalence. Conclusion: Considering characteristic specific areas based on socioeconomic and demographic can be a good way for HIV prevention.
Read More
Background: Human Immunodeficiency Virus (HIV) is a virus which attacks the immune system of an infected person. HIV become a serious problem being faced in Indonesia especially West Java province. In 2020 the number of new HIV infection in West Java reach 5.666 cases, higher than an average new cases in Indonesia. The spread of HIV depend on social context and region-specific characteristic. Goal: This study aims to analyze demographic and socioeconomic factors associated with HIV prevalence in West Java Province in 2020. Methods: Epidemiology descriptive using ecological correlation study with multiple-group study. Populations in this study are all 27 regencies and municipalities in West Java Province. Results: The result of this study showed that population density part of demographic factor has a significant relation with HIV prevalence (P=0,038), with a moderate relationship and positive pattern (r=0,4). Human Development Index part of socioeconomic factor has a significant relation with HIV prevalence (P=0,035), with a moderate relationship and positive pattern (r=0,407). Meanwhile, for sex ratio and GRDP per Capita showed an insignificant relationship with HIV prevalence. Conclusion: Considering characteristic specific areas based on socioeconomic and demographic can be a good way for HIV prevention.
S-10971
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Santi Deliani Rahmawati; Pembimbing: Syahrizal Syarif; Penguji: Renti Mahkota, Nana Mulyana
Abstrak:
ABSTRAK
Pedoman WHO/UNICEF menyarankan bahwa menyusui harus dihindarkan seluruhnya hanya apabila makanan pengganti Acceptable (mudah diterima), Feasible (mudah dilakukan), Affordable (terjangkau), Sustainable (berkelanjutan), dan Safe (aman penggunaannya)/AFASS. ASI eksklusif diberikan selama 6 bulan untuk bayi lahir dari ibu yang HIV dan sudah dalam terapi ARV. Ibu terinfeksi HIV yang memilih memberi susu formula tanpa memenuhi kriteria AFASS paling berisiko terhadap penularan HIV dan kematian. Penelitian menggunakan desain cross sectional yang bertujuan untuk menganalisis faktor risiko yang mempengaruhi kepatuhan ibu terinfeksi HIV dalam pemberian nutrisi pada bayi 0 ? 6 bulan di Beberapa Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Barat tahun 2013. Penelitian ini melibatkan 229 subjek penelitian yang diambil dengan teknik multistage sampling. Dari analisis multivariat didapatkan pemberian ARV pada bayi merupakan faktor risiko yang paling dominan mempengaruhi kepatuhan ibu terinfeksi HIV dalam pemberian nutrisi pada bayi 0 ? 6 bulan (PR : 7,817 (95%CI 1,789 ? 34,152)) di samping pemberian terapi ARV pada ibu dan konseling tenaga kesehatan. Disarankan kepada Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat dan Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi Jawa Barat untuk meningkatkan distribusi obat antiretroviral sehingga seluruh ibu terinfeksi HIV dan bayi yang lahir dari ibu terinfeksi HIV mempunyai akses yang lebih luas untuk mendapatkan obat antiretroviral dan meningkatkan program pelatihan bagi petugas kesehatan yang menjadi konselor HIV/AIDS mengenai pemberian konseling pra-laktasi agar ibu terinfeksi HIV dapat memilih nutrisi terbaik bagi bayinya dan konsisten dalam memberikan nutrisi yang telah dipilih.
ABSTRACT
WHO/UNICEF guideline recommends that the breastfeeding should be avoided only if replacement feeding is Acceptable (readily accepted), Feasible (easy to do), Affordable (easy to get), Sustainable (ongoing), and Safe (safe to use)/AFASS. Exclusive breastfeeding (ASI) is given for six (6) months to baby who is born from HIV-infected mother and in ARV therapy program. HIV-infected mother who choose to feed her baby with formula milk without fulfilling AFASS criteria has the greatest risk of HIV spreading/transmitting and death. The research uses cross-sectional design that aims to analyze the risk factor affecting adherence HIV-infected mother in providing nutrition for 0-6 month?s infant of Some Regencies/Cities in West Java province on 2013. The research involves 229 subjects/persons who are taken by multistage sampling technique. From multivariate analysis is found that the provision of ARVs to the infant is the most dominant risk factor affecting adherence in HIV-infected mother in providing nutrition for 0-6 month?s infant (PR : 7,817 (95%CI 1,789 ? 34,152)) beside the provision of ARV therapy and counseling from maternal health workers. The researcher suggested to the West Java Provincial Health Office and the Provincial AIDS Commission of West Java to improve the distribution of antiretroviral drugs so that all HIV-infected mothers and infants who are born from HIV-infected mother have greater access to get antiretroviral drugs and to improve training programs for health workers who will be the HIV/AIDS counselor about the pre-lactation counseling in order to HIVinfected mother can choose the best nutrition for her baby and be consistent in delivering or providing that nutrition.
Read More
ABSTRACT
T-3891
Depok : FKM-UI, 2013
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Nurmalita Hartiyana Kusuma Wardani; Pembimbing: Renti Mahkota; Penguji: Trisari Anggondowati, Rina Handayani
Abstrak:
Read More
Indonesia merupakan negara dengan jumlah kasus tuberkulosis tertinggi kedua di dunia. Sedangkan provinsi Jawa Barat merupakan provinsi di Indonesia yang melaporkan jumlah kasus tuberkulosis paling besar. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan ketidakberhasilan pengobatan pasien tuberkulosis di Jawa Barat tahun 2020 – 2022. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain studi kohort retrospektif melalui data sekunder yang diperoleh dari SITB Kementerian Kesehatan RI pada tahun 2020 – 2022. Penelitian menggunakan total sampel yang memenuhi keriteria inklusi dan eksklusi. Data dibersihkan dan dianalisis menggunakan STATA 15 dengan uji chi-square untuk mengetahui derajat hubungan antar variabel dan p-value <0,05 sebagai batas kemaknaan. Total sebanyak 303.100 kasus TB (54,52% laki-laki) dimasukkan dalam studi. Prevalensi ketidakberhasilan pengobatan adalah sebesar 12,10% yang terdiri dari gagal (0,40%), lost to follow up (8,89%), dan meninggal (2,82%). Ketidakberhasilan pengobatan ditemukan berhubungan dengan usia semakin tua, jenis kelamin laki-laki, tinggal di wilayah rural, pekerjaan wiraswasta dan pegawai negeri/swasta, TB ekstraparu, TB resisten obat, pernah melakukan pengobatan sebelumnya, TB-HIV, TB-DM, dan berobat di FKRTL. Penelitian ini mengidentifikasi berbagai faktor yang memengaruhi ketidakberhasilan pengobatan TB. Hasil penelitian ini dapat menjadi bahan pertimbangan pemerintah untuk meningkatkan program dan kebijakan kesehatan dalam pengendalian TB. Pentingnya meningkatan cakupan skrining TB pada pasien DM. Peningkatan jumlah cakupan skrining dapat dilakukan dengan mengintegrasikan layanan geriatri dan prolanis di puskesmas hingga tingkat posbindu.
Indonesia is the country with the second highest number of tuberculosis cases in the world. Meanwhile, West Java province is the province in Indonesia that reports the largest number of tuberculosis cases. This study aims to identify factors associated with unsuccessful treatment outcomes of tuberculosis patients in West Java in 2020–2022. This research is a quantitative study with a retrospective cohort study design using secondary data obtained from the SITB of the Indonesian Ministry of Health in 2020–2022. Research using the total sample that meets the inclusion and exclusion criteria. Data were cleaned and analyzed using STATA 15 with the chi-square test to determine the degree of relationship between variables and p-value
S-11520
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Putu Wahyuni Wulandari Karnawati; Pembimbing: Dwi Gayatri; Penguji: Martya Rahmaniati Makful, Puput Oktamianti, Hidayat Nuh Ghazali
Abstrak:
Read More
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji keterlambatan inisiasi pengobatan pada pasien TBC RO di Jawa Barat tahun 2024 melalui analisis faktor individu, penilaian aksesibilitas geografis terhadap fasilitas pengobatan, serta pemetaan distribusi spasial faktor risiko keterlambatan. Penelitian ini merupakan studi observasional dengan desain cross sectional dan ekologi menggunakan data sekunder SITB tahun 2024. Keterlambatan inisiasi pengobatan didefinisikan sebagai interval antara tanggal hasil diagnosis TCM hingga dimulainya pengobatan, dengan cut-off >7 hari. Variabel independen meliputi usia, jenis kelamin, domisili, riwayat pengobatan TBC RO sebelumnya, status diabetes, status HIV, dan jenis fasilitas pengobatan. Analisis faktor individu menggunakan regresi Poisson untuk mengestimasi prevalence ratio, sedangkan analisis kewilayahan dilakukan melalui peta risiko berbasis skoring komposit dan analisis aksesibilitas fisik dengan pendekatan Euclidean distance. Dari 2.216 pasien yang dianalisis, median keterlambatan inisiasi pengobatan adalah 16 hari, dengan 81,32% mengalami keterlambatan >7 hari. Pasien berusia >50 tahun (PR=1,06;95%CI: 1,02 – 1,11), ko-infeksi HIV (PR=1,20; 95%CI: 1,15-1,38), dan inisiasi pengobatan di balai kesehatan (PR=1,22; 95%CI: 1,09 – 1,36) meningkatkan risiko keterlambatan. Pemetaan kewilayahan mengidentifikasi 11 dari 27 kabupaten/kota (40,74%) berisiko tinggi. Analisis akses menunjukkan disparitas aksesibilitas fisik yang cukup lebar antar kabupaten/kota, terutama di wilayah kabupaten. Jarak yang lebih jauh umumnya berkaitan dengan proporsi keterlambatan yang lebih tinggi, meskipun pola ini tidak selalu konsisten di wilayah perkotaan.
This study aimed to investigate delayed treatment initiation among DR-TBC patients in West Java in 2024 by examining individual-level factors, assessing geographic accessibility to treatment facilities, and mapping the spatial distribution of delay risk factors across the province. a cross-sectional and ecological study was conducted using DR-TBC patient data from the Indonesian Tuberculosis Information System (SITB) in West Java, Indonesia, 2024. Delayed treatment initiation was defined as treatment initiation >7 days after diagnosis. Poisson regression with robust variance was used to indetify individual-level factors, while geographic analyses assessed physical accessibility using Euclidean distance and mapped the spatial distribution of delay risk. Among the 2,216 patients included in the analysis, the median treatment initiation delay was 16 days, with 81.32% experiencing a delay >7 days. Patients aged >50 years (PR = 1.06; 95% CI: 1.02–1.11), patient with HIV co-infection (PR = 1.20; 95% CI: 1.15–1.38), and those who initiated treatment at Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat (BBKPM) (PR = 1.22; 95% CI: 1.09–1.36) were more likely to experience delayed treatment initiation. Spatial mapping identified 11 of the 27 districts/cities (40.74%) as high-risk areas. Accessibility analysis revealed substantial disparities in physical access to healthcare services across districts/cities, particularly in rural districts. Longer travel distances were generally associated with a higher proportion of treatment delays, although this pattern was not consistently observed in urban settings.
T-7599
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Aulia Safitri Hanifa; Pembimbing: Krisnawati Bantas; Penguji: Yovsyah, Reza Isfan
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara pendidikan ibu dengan status imunisasi dasar lengkap pada bayi di Indonesia. Penelitian ini menggunakan data SDKI 2017 dengan rancangan studi potong lintang. Sampel penelitian yaitu anak usia 12-23 bulan yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi berjumlah 3386. Data dianalisis secara univariat, bivariat, dan multivariat. Persentase bayi yang memiliki status imunisasi dasar lengkap sebesar 60,5% dan 39,5% lainnya tidak lengkap. Sebagian besar ibu berpendidikan menengah (56,7%). Terdapat hubungan signifikan antara pendidikan ibu dengan status imunisasi dasar lengkap.
Read More
S-10529
Depok : FKM-UI, 2021
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Wardiman; Pembimbing: Putri Bungsu; Penguji: Trisari Anggondowati, Bai Kusnadi
Abstrak:
Read More
Latar belakang: Pencapaian supresi viral load merupakan indikator keberhasilan terapi antiretroviral (ARV) sekaligus pilar ketiga target fast track 95-95-95. Kota Bogor mencatat capaian supresi viral load sebesar 67% pada tahun 2024, jauh di bawah target 95%. Belum diketahui secara komprehensif faktor-faktor yang memprediksi tidak tercapainya supresi tersebut, baik dari aspek kuantitatif maupun kualitatif. Metode: Penelitian menggunakan rancangan mixed methods dengan explanatory sequential design. Komponen kuantitatif menggunakan studi potong lintang (cross-sectional) terhadap 724 Orang Dengan HIV (ODHIV) dewasa (≥15 tahun) yang tercatat di SIHA 2.1 Dinas Kesehatan Kota Bogor tahun 2025 dan memiliki data viral load lengkap. Analisis dilakukan secara bivariat dan multivariat menggunakan regresi logistik. Komponen kualitatif dilakukan melalui wawancara mendalam terhadap enam informan yang terdiri dari pemegang program HIV Dinas Kesehatan, LSM pendamping, dan ODHIV. Hasil: Proporsi supresi viral load sebesar 79%. Analisis multivariat menunjukkan bahwa ketidakpatuhan konsumsi ARV merupakan prediktor kejadian viral load tidak tersupresi (aOR 90,11; 95% CI: 37,93–214,09), stadium klinis lanjut 3–4 (aOR 7,94; 95% CI: 3,24–19,48), regimen ARV lini 2 (aOR 2,91; 95% CI: 1,18–7,19), dan usia 25–34 tahun (aOR 4,51; 95% CI: 1,41–14,44). Kelompok LSL menunjukkan odds viral load tidak tersupresi yang lebih rendah dibandingkan bukan populasi kunci (aOR 0,18; 95% CI: 0,03–0,96), yang kemungkinan mencerminkan peran keterjangkauan layanan dan pendampingan komunitas pada kelompok yang teridentifikasi dalam sistem layanan. Temuan kualitatif mengidentifikasi stigma diri, kejenuhan terapi, beban efek samping lini 2, keterlambatan diagnosis, serta keterbatasan pendampingan sebagai faktor penghambat supresi. Kesimpulan: Pencapaian supresi viral load pada ODHIV di Kota Bogor dipengaruhi oleh kombinasi faktor individu, klinis, perilaku, dan kesiapan sistem layanan. Temuan ini menekankan perlunya intervensi yang tidak hanya berfokus pada konseling kepatuhan, tetapi juga memperkuat deteksi dini, pendampingan berbasis komunitas, tindak lanjut pasien dengan viral load tidak tersupresi, serta kesinambungan logistik ARV dan pemeriksaan viral load.
Background: Achieving viral load suppression is a key indicator of antiretroviral (ARV) therapy success and the third pillar of the 95-95-95 fast-track targets. Bogor City recorded a viral load suppression rate of only 67% in 2024, well below the 95% target. The factors predicting failure to achieve suppression have not been comprehensively identified, either quantitatively or qualitatively. Methods: This study employed a mixed-methods design with an explanatory sequential approach. The quantitative component used a cross-sectional study of 724 adult people living with HIV (PLHIV; ≥15 years) registered in SIHA 2.1 of the Bogor City Health Office in 2025 with complete viral load data. Bivariate and multivariate analyses were conducted using logistic regression. The qualitative component involved in-depth interviews with six informants comprising HIV program officers from the Health Office, supporting NGOs, and PLHIV. Results: The proportion of viral load suppression was 79%. Multivariate analysis identified ARV non-adherence as the strongest predictor of unsuppressed viral load (aOR 90.11; 95% CI: 37.93–214.09), followed by advanced clinical stage 3–4 (aOR 7.94; 95% CI: 3.24–19.48), second-line ARV regimen (aOR 2.91; 95% CI: 1.18–7.19), and age 25–34 years (aOR 4.51; 95% CI: 1.41–14.44). MSM had lower odds of unsuppressed viral load than non-key populations (aOR 0.18; 95% CI: 0.03–0.96), which may reflect better service reach and community support among MSM identified within the service system. Qualitative findings identified self-stigma, therapy fatigue, second-line side-effect burden, delayed diagnosis, and limited peer support as barriers to suppression. Conclusion: Viral load suppression among PLHIV in Bogor City is shaped by the interaction of individual, clinical, behavioral, and health-system factors. These findings highlight the need for interventions that go beyond adherence counseling by strengthening early detection, community-based support, follow-up for patients with unsuppressed viral load, and continuity of ARV and viral load testing logistics.
T-7509
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Salma Noor Azzahra; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Yovsyah, Suparmi
Abstrak:
Read More
Dilaporkan terdapat 38,4 juta orang yang hidup dengan HIV pada tahun 2021 dan terdapat sebanyak 58 juta kasus kasus kronis Hepatitis C pada tahun 2019. Pengguna NAPZA suntik merupakan populasi yang paling rentan untuk terinfeksi kedua virus ini akibat jalur transmisi kedua virus ini yang sangat besar melalui jarum suntik tidak steril. Kedua penyakit ini dapat terjadi secara bersamaan yang menyebabkan percepatan progres keduanya menjadi kronis. Penelitian ini bertujuan untuk melihat faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian koinfeksi HIV/HCV untuk mencegah penyebaran yang lebih lanjut dengan melakukan analisis bivariat dengan menggunakan chi-square dan melihat crude prevalence rate. Studi cross-sectional dari data STBP 2018-2019 di tujuh kabupaten/kota Jawa Barat populasi Penasun dilakukan dan didapatkan bahwa positivity rate koinfeksi HIV/HCV pada Penasun mencapai sebesar 9%. Ditemukan bahwa terdapat hubungan antara usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, status perkawninan, riwayat dipenjara, usia pertama kali menggunakan NAPZA suntik, lama menggunakan NAPZA suntik, pernah menggunakan alat suntik tidak steril, usia pertama kali berhubungan seksual, hubungan seksual satu tahun terakhir, penggunaan kondom dengan pasangan tetap, pengetahuan komprehensif HIV, akses LASS, dan akses PTRM dengan kejadian koinfeksi HIV/HCV. Dari hasil tersebut diperlukan intervensi yang tepat untuk mencegah dan menanggulangi tingginya kejadian koinfeksi HIV/HCV pada Penasun.
There are 38.4 million people reported living with HIV in 2021 and there are as many as 58 million cases of chronic hepatitis C cases in 2019. Injecting drug users are the most vulnerable population to be infected with these two viruses due to the transmission routes of these two viruses via unsterile needles. These two diseases can occur simultaneously which causes the accelerated progress of both infections to become chronic. This study aims to look at the factors associated with the incidence of HIV/HCV coinfection to prevent further spread by conducting bivariate analysis using chi-square and looking at the crude prevalence rate. A cross-sectional study of 2018-2019 IBBS data in seven districts/cities of West Java of the IDU population was conducted and it was found that the positivity rate of HIV/HCV coinfection in IDU reached 9%. It was found that there was a relationship between age, gender, education level, marital status, history of imprisonment, age at first injecting drug use, duration of injecting drug use, ever using unsterile injecting equipment, age at first sexual intercourse, sexual intercourse in the past year, use of condoms with regular partners, comprehensive knowledge of HIV, access to sterile syringe service, and access to methadone treatment, with HIV/HCV coinfection. From these results, appropriate interventions are needed to prevent and overcome the high incidence of HIV/HCV co-infection among IDU.
S-11342
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Rita Yulihane; Pembimbing: Renti Mahkota; Penguji: Yovsyah; Christina Widaningrum
S-6912
Depok : FKM UI, 2012
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Eryza Odilia; Pembimbing: Nasrin Kodim; Penguji: Mondastri Korib, Endang Poedjiningsih
S-8828
Depok : FKM UI, 2015
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Izatun Nidaa; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Iwan Ariawan, Irma Ardiana
Abstrak:
Salah satu isu terkait kontrasepsi adalah ketidak langsungan penggunaan kontrasepsi karena merupakan determinan yang mempengaruhi Contraception Prevalence Rate. Ketidak langsungan penggunaan kontrasepsi dapat menyebabkan dampak masalah kesehatan masyarakat yaitu kehamilan tidak diinginkan. Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran faktor-faktor ketidak langsungan penggunaan kontrasepsi suntik, implan dan IUD di Kabupaten Lombok Barat, Lombok Timur dan Sumbawa. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan data sekunder dari Survei Pemantauan dan Evaluasi Penggunaan Kontrasepsi di Jawa Timur dan NTB. Sampel penelitian adalah ibu yang berstatus menikah dan berusia 15-49 tahun. Jumlah sampel yang dianalisis sebanyak 5023 responden. Hasil penelitian proporsi ketidak langsungan penggunaan kontrasepsi suntik, implan dan IUD di total tiga kabupaten sebesar 29,2%. Faktor predisposisiyang berhubungan adalah umur dan jumlah anak hidup. Faktor pemungkin, jenisalat kontrasepsi tidak berhubungan di tiga kabupaten. Faktor penguat, KIE KBdan diskusi KB dengan suami berhubungan secara total di tiga Kabupaten.Sehingga disarankan untuk Pemerintah Provinsi dan NTB untuk melakukan penyuluhan intensif tentang perlunya melanjutkan penggunaan alat kontrasepsiterutama pada ibu-ibu berusia diatas 35 tahun atau yang memiliki anak lebih dari3, menggencarkan pemberian informasi KB oleh kunjungan petugas kesehatanatau tokoh masyarakat dan meningkatkan peran suami.Kata Kunci: ketidaklangsungan kontrasepsi, kontrasepsi suntik, implan, IUD
One of the issues related to the use of contraception is contraceptivediscontinuation as a determinant affecting Contraception Prevalence Rate.Contraceptive discontinuation can cause public health problem such as unwantedpregnancy. This study aims to describe of the factors associated with injectioncontraceptive, implant and IUD discontinuation in West Lombok Barat, EastLombok and Sumbawa. This study used a cross-sectional design and secondarydata from the Monitoring and Evaluation Survey Use of Contraception in EastJava and West Nusa Tenggara Province. The samples were mothers who aremarried and aged 15-49 years. The number of samples analyzed is 5023respondents. The results of the study the proportion of injection contraceptive,implant and IUD discontinuation in a total of three districts is 29.2 %.Predisposing factors that statistically correlated are age and number of livingchildren. Enabling factors, types of contraceptives is not statistically correlated inthree districts. Reinforcing factors, IEC KB and discussion about KB withhusband is statistically correlated in total of three districts. So it is recommendedto the Provincial Government of NTB to conduct intensive counseling about theneed to continue the use of contraceptives, especially in women older than 35years or who have children over 3, to intensify the provision of family planninginformation by visiting health workers or community leaders and enhance the roleof the husband.Keywords: contraceptive, discontinuation, injection contraceptive, implant, IUD
Read More
One of the issues related to the use of contraception is contraceptivediscontinuation as a determinant affecting Contraception Prevalence Rate.Contraceptive discontinuation can cause public health problem such as unwantedpregnancy. This study aims to describe of the factors associated with injectioncontraceptive, implant and IUD discontinuation in West Lombok Barat, EastLombok and Sumbawa. This study used a cross-sectional design and secondarydata from the Monitoring and Evaluation Survey Use of Contraception in EastJava and West Nusa Tenggara Province. The samples were mothers who aremarried and aged 15-49 years. The number of samples analyzed is 5023respondents. The results of the study the proportion of injection contraceptive,implant and IUD discontinuation in a total of three districts is 29.2 %.Predisposing factors that statistically correlated are age and number of livingchildren. Enabling factors, types of contraceptives is not statistically correlated inthree districts. Reinforcing factors, IEC KB and discussion about KB withhusband is statistically correlated in total of three districts. So it is recommendedto the Provincial Government of NTB to conduct intensive counseling about theneed to continue the use of contraceptives, especially in women older than 35years or who have children over 3, to intensify the provision of family planninginformation by visiting health workers or community leaders and enhance the roleof the husband.Keywords: contraceptive, discontinuation, injection contraceptive, implant, IUD
S-8098
Depok : FKM-UI, 2014
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
