Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 33877 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Nurrahma Fitria Ramadhani; Pembimbing: Kemal Nazaruddin Siregar; Penguji: Sutanto Priyo Hastono, Laily Hanifah
Abstrak: Diabetes melitus merupakan penyakit kronis yang terjadi akibat pankreas tidak membuat cukup insulin atau insulin yang dibuat tidak dapat digunakan secara efektif. Diabetes melitus sendiri dalam 20 tahun terakhir menunjukan angka kejadian yang terus meningkat. Faktor risiko diabetes seperti kelebihan berat badan (obesitas), diet yang tidak sehat, aktivitas fisik kurang yang menyumbang sekitar 80% dari peningkatan prevalensi diabetes. Tujuan penelitian ini untuk melihat hubungan sedentari dengan diabetes melitus di Indonesia. Penelitian ini menggunakan data Indonesia Family Life Survey 5 tahun 2014/2015 dengan desain potong lintang dan didapatkan 3985 responden terbobot. Dilakukan analisis statistik univariat, bivariat menggunakan chi-square (CI: 95%) dan analisis multivariat menggunakan uji regresi logistik ganda. Dari 3985 responden didapatkan 291 (7,8%) responden diabetes dan 583 (14,04%) responden sedentari. Hasil analisis multivariat didapatkan hubungan sedentari dengan diabetes melitus setelah dikontrol dengan variabel konfounding (OR 1,5 95%CI: 1,07-2,11). Maka disimpulkan mengurangi kebiasaan sedenter baik dilakukan guna mencegah terjadinya diabetes melitus, dan diperlukannya perubahan gaya hidup menjadi lebih sehat untuk mencegah terjadinya diabetes melitus.
Diabetes mellitus is a chronic disease that occurs when the pancreas does not make enough insulin or the insulin that is made cannot be used effectively. Diabetes mellitus itself in the last 20 years shows an increasing incidence. Diabetes risk factors such as being overweight (obesity), unhealthy diet, lack of physical activity account for about 80% of the increase in diabetes prevalence. The purpose of this study was to examine the relationship between sedentary and diabetes mellitus in Indonesia. This study uses data from the Indonesia Family Life Survey 5 in 2014/2015 with a cross-sectional design and obtained 3985 weighted respondents. Univariate statistical analysis, bivariate using chi-square (CI: 95%) and multivariate analysis using multiple logistic regression test. From 3985 respondents, 291 (7.8%) diabetic respondents and 583 (14.04%) sedentary respondents. The results of multivariate analysis showed a sedentary relationship with diabetes mellitus after controlling for confounding variables (OR 1.5 95% CI: 1.07-2.11). It is concluded that reducing sedentary habits is good to do to prevent the occurrence of diabetes mellitus, and the need for changes in lifestyle to be healthier to prevent diabetes mellitus.
Read More
S-11000
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Vivid Ivearni Patriana Leodewi Darwanto; Pembimbing: Toha Muhaimin; Penguji: Kemal Nazaruddin Siregar, Selamet Riyadi
Abstrak: Prevalensi perilaku sedentari di Indonesia pada remaja lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok umur lainnya. Perilaku sedentari merupakan perilaku berisiko menyebabkan penyakit diabetes tipe II, hipertensi, gangguan jantung, dan depresi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang berhubungan dengan lama waktu sedentari pada remaja di Indonesia dan mengetahui faktor apa yang paling dominan. Desain studi potong lintang, dengan menggunakan data GSHS 2015. Sampel penelitian remaja (11-18 tahun) yang memiliki data variabel lengkap sebesar 9973 sampel. Analisis bivariat dilakukan menggunakan uji beda proporsi dan analisis multivariate dilakukan menggunakan uji regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi perilaku sedentari ≥ 3 jam per hari pada remaja sebesar 27,7% (95% CI = 24,6%-30,9%). Faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku sedentari adalah kelompok umur remaja (OR=3,344; 95% CI=2,410-4,642), indeks massa tubuh (OR=1,324; 95% CI=1,141-1,539), konsumsi makanan berisiko (OR=1,738; 95% CI=1,127-2,678), dan konsumsi alkohol (OR=1,643; 95% CI=1,294-2,088). Faktor paling dominan yang berhubungan dengan perilaku sedentari adalah kelompok umur remaja. Diperlukan penelitian lebih lanjut dengan memasukkan variabel dari faktor lingkungan.
Read More
S-10135
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Amanda Widlanisia; Pembimbing: Kemal Nazarudin; Penguji: Sutanto; Sudibyo Alimoeso
Abstrak: Pemberian ASI merupakan usaha dan investasi yang mudah dilakukan untuk menekan angka morbiditas dan mortalitas pada bayi dan anak. Keterlambatan pemberian ASI pertama dapat diakibatkan oleh metode kelahiran yang dipilih seperti secara pervaginam atau persalinan sesar. Penelitian ini dilakukan secara cross sectional dan pendekatan kuantitatif menggunakan data SDKI 2017 untuk mengetahui hubungan antara persalinan sesar dengan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) di Provinsi DKI Jakarta. Sampel yang digunakan adalah wanita usia subur 15-49 tahun saat survei di Provinsi DKI Jakarta yang memiliki anak terakhir yang lahir dalam 2 tahun terakhir sebanyak 236 responden. Dilakukan analisis statistik univariat, bivariat menggunakan chi-square (CI 95%) dan analisis multivariat uji regresi logistik berganda. Hasil analisis menunjukkan ibu yang melahirkan secara persalinan sesar berisiko 0,52 [95%CI 0,27-1,01] kali lebih rendah melakukan IMD dibandingkan ibu yang melahirkan secara pervaginam. Analisis multivariat pada penelitian ini memperlihatkan bahwa ibu secara persalinan sesar berisiko 0,54 [95%CI 0,18-1,61] kali lebih rendah melakukan IMD dibandingkan ibu yang melahirkan secara pervaginam setelah dikontrol dengan variabel tingkat pendidikan, usia, dan status ekonomi. Maka disimpulkan bahwa pembuatan kebijakan dan pemberian intervensi akan bagaimana pelaksanaan dan pentingnya inisasi menyusu dini perlu dilakukan pada ibu yang memiliki tingkat Pendidikan rendah, usia dibawah 35 tahun, status ekonomi rendah, dan yang berencana melahirkan dengan metode persalinan sesar.
Breastfeeding is an easy way to reduce morbidity and mortality in infants and childrens. The delay in giving the first breast milk can be caused by the chosen method of birth such as vaginal or cesarean delivery. This study was conducted in a cross sectional and quantitative approach using the 2017 IDHS data to determine the relationship between cesarean delivery and Early Breastfeeding Initiation (EBFI) in DKI Jakarta Province. The sample used was women of childbearing age 15-49 years during the survey in DKI Jakarta Province who had their last child born in the last 2 years as many as 236 respondents. Univariate, bivariate statistical analysis was performed using chi-square (95% CI) and multivariate analysis with multiple logistic regression tests. The results of the analysis showed that mothers who gave birth by cesarean had 0.52 times [95% CI 0.27-1.01] times lower risk of having an EBFI than mothers who gave birth vaginally. Multivariate analysis in this study showed that mothers who delivered by cesarean had 0.54 times lower risk [95% CI 0.18-1.61] of having an EBFI compared to mothers who gave birth vaginally after controlled by variables such as education level, age, and economic status. It is concluded that policy making and providing interventions on how to implement and the importance of early breastfeeding initiation need to be carried out on mothers who have low levels of education, age under 35 years, low economic status, and who plan to give birth by cesarean delivery method.
Read More
S-11137
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nurfahira Hernovirianti; Pembimbing: Sudijanto Kamso; Penguji: Artha Prabawa, Galuh Budi Leksono Adhi
Abstrak: Tuberkulosis merupakan 10 besar penyakit yang menyebabkan kematian di seluruh dunia. Pada tahun 2013 prevalensi kejadian tuberkulosis paru di Indonesia berdasarkan terdiagnosis dokter sebesar 0,4% dan berdasarkan gejala sebesar 3,9%. Saat ini diabetes melitus diketahui sebagai faktor risiko tuberkulosis. Prevalensi diabetes melitus berdasarkan diagnosis dokter di Indonesia pada tahun 2013 sebanyak 2,1%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan diabetes melitus dengan kejadian tuberkulosis paru di Indonesia. Penelitian ini merupakan analisis lanjut Indonesia Family Life Survey dengan desain studi Cross Sectional. Responden dalam penelitian ini adalah seluruh penduduk di Indonesia usia ≥ 15 tahun yang memiliki data variabel penelitian lengkap. Berdasarkan penelitian ini diperoleh bahwa responden yang menderita diabetes melitus memiliki peluang 3,80 kali lebih besar untuk menderita tuberkulosis paru dibandingkan dengan responden yang tidak menderita diabetes melitus setelah dikontrol oleh variabel jenis kelamin, status gizi, dan riwayat merokok.
Read More
S-10056
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Clarissa Tertia Firjatullah; Pembimbing: Kemal Nazarudin Siregar; Penguji: Popy Yuniar, Tiur Febrina Pohan
Abstrak:

Prevalensi diabetes melitus mengalami tren meningkat, baik di tingkat global maupun di
Indonesia. Prevalensi DM berdasarkan pemeriksaan kadar gula darah di Indonesia meningkat dari tahun 2013 (6,9%), 2018 (10,9%), hingga 2023 (11,7%). DM adalah salah satu penyakit tidak menular (PTM) yang bisa dicegah melalui perubahan gaya hidup, salah satunya adalah aktivitas fisik, yang menjadi kunci dalam pencegahan dan pengurangan beban PTM. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara aktivitas fisik dengan kejadian DM pada penduduk usia 15 tahun ke atas di Indonesia pada tahun 2023, dengan distratifikasi oleh variabel perancu usia, jenis kelamin, status obesitas, tempat tinggal, status pekerjaan, dan status ekonomi. Penelitian ini menggunakan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 dengan desain studi potong lintang. Analisis yang dilakukan adalah analisis univariat, bivariat, dan stratifikasi. Berdasarkan analisis bivariat, aktivitas fisik berhubungan signifikan dengan DM, dengan aktivitas fisik kurang lebih berpeluang (OR=1,36; 95% CI= 1,23 – 1,51) untuk memiliki DM. Variabel perancu usia, jenis kelamin, status obesitas, dan status pekerjaan berhubungan signifikan dengan DM dan digunakan untuk stratifikasi. Setelah distratifikasi, hubungan aktivitas fisik dengan DM tetap signifikan, tetapi nilai OR berbeda berdasarkan modifikasi efek dari variabel usia dan jenis kelamin. Penduduk usia 40 tahun ke atas (OR=1,52; 95% CI= 1,35 – 1,71) lebih berpeluang untuk memiliki DM jika kurang melakukan aktivitas fisik. Upaya intervensi pengelola program kesehatan perlu difokuskan untuk merancang dan mengimplementasikan kebijakan aktivitas fisik dan skrining DM yang komprehensif dengan bekerja sama dengan sektor luar kesehatan dan fokus untuk meningkatkan partisipasi aktivitas fisik pada penduduk berusia 40 tahun ke atas.


There is an upward trend of diabetes mellitus prevalency, both globally and in Indonesia.  DM prevalency based on blood glucose examination in Indonesia shows an upward trend,  from 2013 (6,9%), 2018 (10,9%), up to 2023 (11,7%). DM is a noncommunicable disease  (NCD) that could be prevented by lifestyle change, which one of them is physical activity,  a key in NCD prevention and burden reduction.  This study aims to identify the  association between physical activity and DM in Indonesia’s population aged 15 years  and over in 2023, with stratification based on confounding variable age, sex, obesity  status, residential area, employment status, and economic status. This study utilizes  Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 data with cross-sectional study design.  Univariate, bivariate, and stratification analysis were conducted. Based on bivariate  analysis, physical activity is significantly associated with DM, with the less active group  having higher odds (OR=1,36; 95% CI= 1,23 – 1,51) for developing DM. Confounding  variables age, sex, obesity status, and employment status significantly associated with  DM and will be used in stratification. After stratification, the association between  physical activity and DM hold its significance, but the OR differs based on effect  modification by age and sex variables. Population aged 40 years and over (OR=1,52; 95%  CI= 1,35 – 1,71) higher odds to develop DM if they’re physically inactive. Interventions  effort made by health program organizer needs to be focused on designing and  implementing comprehensive physical activity and DM screening policy with partners  outside the health sectors and focusing on increasing participation in physical activity  among population aged 40 years and over. 

Read More
S-11872
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Betania Ilhami Wahida Hera Wati; Pembimbing: Kemal Nazarudin Siregar; Penguji: Milla Herdayati, Sri Lestari
S-10084
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Uweisha Eraz Puteri; Pembimbing: Kemal Nazaruddin Siregar; Penguji: Artha Prabawa, Leny Latifah
Abstrak: Bunuh diri termasuk penyebab kematian ketiga pada remaja usia 10 hingga 19 tahun. Pada tahun 2016, angka kematian akibat bunuh diri di Indonesia diestimasikan sebesar 3,4 per 100.000 penduduk. Kematian akibat bunuh diri adalah sebuah fenomena gunung es, dimana besarnya masalah akan terlihat lebih jelas jika perilaku bunuh diri dimasukkan dalam perhitungan. Salah satu faktor utama perilaku bunuh diri remaja usia sekolah adalah bullying. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat hubungan antara bullying dengan perilaku bunuh diri ada pelajar SMP dan SMA di Indonesia setelah dikontrol oleh variabel confounding. Desain studi yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross sectional dengan pendekatan kuantitatif menggunakan data sekunder Global School Based Health Survey Indonesia 2015. Sampel penelitian ini adalah pelajar SMP dan SMA yang berusia 12-17 tahun (n = 8733). Analisis yang digunakan adalah analiss univariat, bivariat dan multivariabel dengan level kepercayaan 95%. Hasil analisis multivariabel dengan regresi logistik berganda, menunjukkan rasio odds terjadinya perilaku bunuh diri pada pelajar SMP dan SMA di Indonesia yang pernah mengalami bullying dibandingkan dengan pelajar yang tidak pernah mengalami bullying adalah 2,27 (95% CI: 1,92-3,53). Selain itu, hasil analisis multivariabel juga mununjukan adanya variabel interaksi (variabel moderator/effect modifier) yaitu perilaku berkelahi dan kekerasan seksual. Strategi pencegahan bullying dan perilaku bunuh diri berbasis sekolah sangat diperlukan untuk mengurangi risiko perilaku bunuh diri pada pelajar. Kata kunci: Bunuh diri, Perilaku Bunuh Diri, Bullying Suicide is the third leading cause of death in adolescents aged 10 to 19 years old. In 2016, the death rate due to suicide in Indonesia was estimated at 3.4 per 100,000 population. Complete suicide is an iceberg phenomenon, where the problem will be seen more clearly if suicidal behavior was involved. One of the main factors that could intensify suicidal behavior risk among high school students is bullying. This study examined the association between bullying and suicide among high school student in Indonesia after adjusting for confounder variables. It was a secondary analysis of Global School Based Health Survey Indonesia 2015 which used cross sectional study design. Univariate, bivariate, and multivariable analyses were performed at 95% confidence level. Multivariable regression logistic model showed that students who had been bullied had 2.27 times greater odds of having suicidal behavior compared to students who had never experienced bullying (OR: 2,27; 95% CI: 1,92-3,53). Besides, we indicated that physical fighting, and sexual abuse as effect modifiers (moderator or interaction variables) that affect the association between bullying and suicidal behavior. School-based bullying and suicidal behavior prevention strategies are needed to reduce the risk of suicidal behavior among students. Key words: Suicide, Suicidal Behavior, Bullying
Read More
S-10338
Depok : FKM-UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yuanita Rizky Inggarputri; Pembimbing: Indang Trihandini; Penguji: Iwan Ariawan, Pujiyanto, Saudatina Aum Maujudah, Triwidhi Hastuti Puspitasari
Abstrak:
Penyakit jantung masih menjadi masalah kesehatan global di seluruh dunia termasuk Indonesia dan menjadi penyakit penyebab kematian tertinggi. Berdasarkan data Riskesdas 2018 prevalensi penyakit jantung mencapai 1,5%. Salah satu faktor resiko utama dari penyakit jantung adalah diabetes melitus (DM). Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan akurasi model prediksi kejadian penyakit jantung pada penderita DM di Indonesia. Penelitian ini menggunakan data sampel BPJS Kesehatan tahun 2015-2021 dengan pendekatan berbasis machine learning dan menggunakan metode random survival forest. Hasil penelitian pada kelompok penderita DM tipe 1, hasil akurasi tertinggi didapatkan nilai C-index sebesar 0,645 dengan nilai AUC sebesar 0,8. Maka disimpulkan bahwa dalam memprediksi kejadian jantung pada penderita DM dengan menggunakan data sampel BPJS Kesehatan Tahun 2015-2021, random survival forest memiliki kemampuan 64,5% untuk memprediksi dengan benar penderita DM tipe 1 yang mengalami kejadian penyakit jantung dan yang tidak mengalami kejadian penyakit jantung. Sedangkan pada kelompok penderita DM tipe 2, hasil akurasi tertinggi didapatkan nilai C-index sebesar 0,631 dengan nilai AUC sebesar 0,657. Maka disimpulkan bahwa dalam memprediksi kejadian jantung pada penderita DM dengan menggunakan data sampel BPJS Kesehatan Tahun 2015-2021, random survival forest memiliki kemampuan 63,1% untuk memprediksi dengan benar penderita DM tipe 2 yang mengalami kejadian penyakit jantung dan yang tidak mengalami kejadian penyakit jantung.

Heart disease is still a global health problem throughout the world including Indonesia and is the highest cause of death. Based on Riskesdas 2018 data, the prevalence of heart disease reached 1,5%. One of the main risk factors for heart disease is diabetes mellitus (DM). This study aims to obtain the accuracy of the prediction model of heart disease incidence in DM patients in Indonesia. This study used BPJS Kesehatan sample data for 2015-2021 with a machine learning-based approach and using the random survival forest method. The results of the study in the group of patients with T1D, the highest accuracy results obtained a C-index value of 0,645 with an AUC value of 0,8. So it was concluded that in predicting cardiac events in DM patients using BPJS Health sample data for 2015-2021, the random survival forest has the ability of 64,5% to correctly predict T1D patients who experience heart disease events and who do not experience heart disease events. While in the group of patients with T2D, the highest accuracy results obtained a C-index value of 0,631 with an AUC value of 0,657. So it was concluded that in predicting cardiac events in DM patients using BPJS Health sample data for 2015-2021, the random survival forest has the ability of 63,1% to correctly predict T2D patients who experience heart disease events and who do not experience heart disease events.
Read More
T-6910
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nur Hadi Budhy Setyanto; Pembimbing: Sudjianto Kamso; Penguji: Artha Prabawa, Salimar
S-10026
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Pingky Shafiyah Ananda Riko; Pembimbing: Sutanto Priyo Hastono; Penguji: Sudijanto Kamso, Fidiansjah
Abstrak:
Depresi merupakan salah satu gangguan kesehatan mental yang paling sering terjadi. Data menunjukkan bahwa Indonesia menduduki peringkat kedua dengan total kasus depresi tertinggi di wilayah Asia Tenggara, setelah India. Dimana depresi merupakan beban penyakit mental urutan pertama di Indonesia dalam hampir tiga dekade (1990 ? 2017). Terdapat beberapa faktor risiko kejadian depresi, salah satunya adalah aktivitas fisik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan antara aktivitas fisik dengan depresi yang dikontrol dengan beberapa variabel yang diduga confounding pada penduduk usia 15 ? 24 tahun di Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain penelitian cross-sectional menggunakan data IFLS-5. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis uji chi-square dan uji regresi logistik ganda. Hasil analisis menunjukkan proporsi depresi sebesar 29.46% dan berdasarkan model akhir analisis multivariat diketahui jika aktivitas fisik yang kurang 0.58 kali lebih rendah risiko mengalami depresi, serta tidak terdapat variabel confounding yang ikut mempengaruhi hubungan antara aktivitas fisik dengan depresi.

Depression is one of the most common mental health disorders. Data shows that Indonesia ranks second with the highest total cases of depression in the Southeast Asia region, after India. Where depression is the first burden of mental illness in Indonesia in almost three decades (1990 ? 2017). There are several risk factors for depression, one of them is physical activity. The purpose of this study was to analyze the relationship between physical activity and depression which was controlled by several variables that were suspected of being confounded in residents aged 15-24 years in Indonesia. This study uses a quantitative method with a cross-sectional research design using IFLS-5 data. The analysis used in this study is the analysis of the chi-square test and multiple logistic regression. The results of the analysis showed that the proportion of depression was 29.46% and based on the final multivariate analysis model, it was found that physical activity was lacking 0.58 times the risk of experiencing depression was lower, and there were no confounding variables that influenced the relationship between physical activity and depression.
Read More
S-11181
Depok : FKMUI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive