Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 28269 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Alfiansah Rahadian; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Dadan Erwandi, Hendra, Avep Disasmita, Wahyudin Syakir
Abstrak: Berdasarkan tinjauan literatur, terdapat hubungan antara distress kerja dengan iklim keselamatan, yang berpengaruh terhadap terjadinya kecelakaan kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan dimensi distress kerja terhadap iklim keselamatan. Studi cross-sectional yang dilakukan pada 152 karyawan perusahaan pembangkit listrik tenaga gas di site Prabumulih, Palembang, dan dua site Batam, pada departemen operation dan maintenance yang dipilih secara acak sebagai responden penelitian. Responden mengisi kuesioner iklim keselamatan Nordik (NOSACQ-50) dan kuesioner distress kerja NIOSH Generic Job Stress secara daring. Data dianalisis menggunakan uji statistik korelasi bivariat dan regresi linier. Gambaran iklim keselamatan perusahaaan menunjukkan hasil rata-rata 2,73 atau pada tingkatan cukup, sehingga memerlukan perbaikan pada komitmen tenaga kerja pada keselamatan dan prioritas keselamatan. Berdasarkan tingkat distress kerja, terdapat 10,53% karyawan yang memiliki tingkat distress rendah, 77,63% karyawan yang memiliki tingkat distress sedang, dan 11,84% karyawan yang memiliki tingkat distress tinggi. Analisis bivariat menunjukkan variabel distress kerja pada penilaian diri, masa depan karyawan, dan dukungan sosial, menunjukkan adanya hubungan yang signifikan dengan iklim keselamatan. Analisis multivariat menunjukkan variabel distress kerja pada konflik dan ketidakjelasan peran menjadi variabel paling dominan berhubungan dengan iklim keselamatan. Untuk meningkatkan iklim keselamatan, perusahaan harus berusaha untuk mengurangi distress di tempat kerja melalui pengendalian faktor konflik dan ketidakjelasan peran.
Based on the literature review, there is a relationship between work distress and safety climate, which affects to work accidents. This study aims to determine the relationship of the dimensions of work distress to the safety climate. A cross-sectional study was conducted on 152 employees of a gas-fired power plant company at the Prabumulih site, Palembang, and two Batam sites, in the operation and maintenance department who were randomly selected as research respondents. Respondents filled out the Nordic safety climate (NOSACQ-50) and NIOSH Generic Job Stress online questionnaire. Data were analyzed using bivariate correlation statistical tests and linear regression. Company's safety climate showed an average result of 2.73 or at a sufficient level, required improvement in the commitment of the workforce to safety and safety priorities. There were 10.53% of employees who have low levels of distress, 77.63% of employees who have moderate levels of distress, and 11.84% of employees who have high levels of distress. Bivariate analysis showed that the variables of work distress on self-assessment, future work, and social support, showed a significant relationship with safety climate. Multivariate analysis showed that the variables of work distress in conflict and role ambiguity were the most dominant variables related to the safety climate. To improve safety climate, Company should strive to reduce workplace distress through controlling conflict factors and role ambiguity.
Read More
T-6454
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muhyidin; Pembimbing: Sjahrul Meizar Nasri; Penguji: Mila Tejamaya, Hendra, Elsye As Safira, Tomi Wahyu Hadi
Abstrak: Tesis ini membahas analisis kebisingan kerja di Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi dan hubungannya dengan tekanan darah dan risiko hipertensi pada pekerja. Desain penelitian dengan metode cross-sectional menggunakan data primer (usia, jenis kelamin, masa kerja, kebiasaan merokok, penggunaan APT, dan stres) menggunakan kuesioner dan data sekunder (intensitas kebisingan, indeks massa tubuh, diabetes, kolesterol total, LDL / low density lipoprotein, dan tekanan darah pekerja) yang diperoleh dari PT XYZ. Sebanyak 101 pekerja berpartisipasi dalam penelitian ini dengan purposive sampling sesuai similar exposure group (SEG). Uji analisis Mann-Whitney dan Chi Square digunakan untuk melihat hubungan antara variabel dependen dan variabel independen. Intensitas kebisingan diukur menggunakan noise dosimeter selama 8 jam kerja.

Hasil penelitian menunjukkan pekerja yang terpajan kebisingan >80 dBA memiliki tekanan darah dan prevalensi hipertensi yang lebih tinggi dibandingkan pekerja yang terpajan kebisingan ≤80 dBA. Pekerja yang terpajan kebisingan >80 dBA memiliki tingkat risiko terkena hipertensi lebih tinggi dengan OR = 3,19 dibandingkan dengan pekerja yang terpajan kebisingan ≤80 dBA. Tidak ada hubungan antara intensitas kebisingan dengan tekanan darah dan hipertensi. Akan tetapi terdapat kecenderungan dosis-respon antara intensitas kebisingan dengan tekanan darah sistolik, tekanan darah diastolik dan hipertensi
Read More
T-6326
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rahmat Satria Dewangga; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Abdul Kadir, Dadan Erwandi
Abstrak:
Keselamatan dan kesehatan kerja memiliki peran integral dalam memastikan kesejahteraan dan produktivitas pekerja di lingkungan industri modern. Dalam konteks ini, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh gaya kepemimpinan supervisor terhadap dimensi iklim keselamatan, yang meliputi komunikasi keselamatan, pembelajaran, kepercayaan pada kompetensi rekan kerja, dan kepercayaan terhadap efikasi sistem keselamatan di perusahaan manufaktur keramik. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kuantitatif menggunakan kuesioner sebagai instrumen pengumpulan data. Responden adalah para supervisor di beberapa perusahaan manufaktur keramik. Data dianalisis menggunakan teknik statistik deskriptif dan analisis regresi untuk mengidentifikasi hubungan antara gaya kepemimpinan dan dimensi iklim keselamatan. Hasil analisis menunjukkan bahwa gaya kepemimpinan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap komunikasi keselamatan, pembelajaran, dan kepercayaan pada kompetensi rekan kerja. Namun, pengaruh gaya kepemimpinan terhadap kepercayaan terhadap efikasi sistem keselamatan tidak terbukti signifikan. Hal ini mengindikasikan bahwa gaya kepemimpinan supervisor dapat memainkan peran penting dalam membentuk beberapa aspek iklim keselamatan di lingkungan kerja. Temuan penelitian ini menggarisbawahi pentingnya peran gaya kepemimpinan dalam membentuk iklim keselamatan di lingkungan kerja. Dengan memperkuat komunikasi keselamatan dan memfasilitasi pembelajaran yang berfokus pada keselamatan, supervisor dapat meningkatkan kepercayaan rekan kerja terhadap kompetensi keselamatan, yang pada gilirannya dapat meningkatkan kesadaran kolektif akan pentingnya praktik keselamatan. Hasil penelitian ini memberikan kontribusi bagi pemahaman tentang bagaimana gaya kepemimpinan supervisor dapat membentuk iklim keselamatan di lingkungan kerja. Implikasi praktis dari penelitian ini menekankan perlunya pengembangan kompetensi kepemimpinan yang mengedepankan komunikasi dan pembelajaran terkait keselamatan, sehingga dapat meningkatkan efektivitas program keselamatan di berbagai sektor industri.

Workplace safety and health play an integral role in ensuring the well-being and productivity of employees in the modern industrial environment. In this context, the present study aims to analyze the influence of supervisor leadership styles on safety climate dimensions, encompassing safety communication, learning, trust in coworker competence, and confidence in the efficacy of safety systems within ceramic manufacturing companies. Employing a quantitative approach, this study employed questionnaires as data collection instruments. The respondents consisted of supervisors from various ceramic manufacturing companies. Data were subjected to descriptive statistical techniques and regression analysis to identify the relationship between leadership styles and safety climate dimensions. The analysis results indicate that leadership styles significantly impact safety communication, learning, and trust in coworker competence. However, the influence of leadership styles on confidence in the efficacy of safety systems did not demonstrate statistical significance. This suggests that supervisor leadership styles play a pivotal role in shaping several aspects of the safety climate in the workplace. These findings underscore the importance of leadership styles in shaping the safety climate within the work environment. By enhancing safety communication and facilitating safety-focused learning, supervisors can enhance coworkers' trust in safety competence, thereby fostering collective awareness of the importance of safety practices. The outcomes of this research contribute to understanding how supervisor leadership styles can shape the safety climate in the workplace. The practical implications of this study emphasize the need for leadership competency development that prioritizes safety-related communication and learning, ultimately enhancing the effectiveness of safety programs across diverse industrial sectors.
Read More
T-6805
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Bambang Setiadi; Pembimbing: Wawan Irawan; Penguji: Tata Soemitra, Supriyanto
Abstrak:

Peningkatan kompetensi karyawan sekarang menjadi isu penting bagi perusahaan untuk menjaga kemampuan berkompetisi guna menghadapi tantangan bisnis dalam era perdagangan babas yang akan segera datang. Undang-undang Ketenagalistrikan (baru) akan mengatur kompetisi antar pelaku bisnis tenaga listrik seperti PT PLN (Persero), swasta, termasuk koperasi dan BUMN yang lain. Melalui pembahasan bersama institusi terkait, maka Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral secara bertahap mempersiapkan standarisasi kompetensi tenaga teknik ketenagalistrikan.Analisis kompetensi K3 pada Pengawas kegiatan penyediaan tenaga listrik di PT PLN (Persero) bertujuan untuk mengidentifikasi tingkat kompetensi K3 pada Pengawas pada beberapa Unit pengelola instalasi yang dipilih untuk melakukan penelitian yang dapat mewakili kegiatan penyediaan tenaga listrik di PT PLN (Persero), sekaligus untuk menggambarkan tingkat kompetensi pada kegiatan pembangkitan, transmisi dan distribusi tenaga listrik.Dengan menggunakan referensi elemen kompetensi dan kriteria unjuk kerja dari kompetensi K3 umum (generik) untuk Pengawas (NOHSC, Australia) sebagai instrumen penelitian, dilakukan wawancara kepada para Pengawas serta kuisioner kepada para Pelaksana, kelompok kerja pengelola instalasi dan kepada para Pejabat pengelola instalasi, diperoleh bahwa rata-rata tingkat kompetensi K3 pada Pengawas kegiatan penyediaan tenaga listrik di PT PLN (Persero) dapat diklasifikasikan antara "rendah" sampai "kurang dari cukup", di mana pada kegiatan pembangkitan lebih baik dari pada kegiatan transmisi dan pada kegiatan transmisi lebih baik dari pada kegiatan distribusi.Saran pembinaan untuk meningkatkan kompetensi dengan menambah wawasan pengetahuan, ketrampilan dan sikap K3 pada Pengawas, keharusan terdapatnya komitmen yang kuat terhadap K3 dari top manajemen (dukungan manajemen) dan memperhatikan tempat kerja (tantangan kegiatan atau pengaruh lingkungan).


 

The Analysis on Occupational Safety and Health Competency for Supevisor of Electric Energy Supply in PT PLN (Persero)Employee competency improvement is now becoming the important issues for corporations to maintain its competitive ability to meet business challenges for incoming free trade era. The (new) Electricity Act regulates the competition of electricity business players such as PT PLN (Persero), the private sector including ccoperative and other state owned corporations. Through agreements with related institutions, The Department of Mine and Energy is progressively set the standards to be used for technician competencies in electricity.The analysis on occupational health and safety (OHS) competency for Supervisor of electric energy supply in PT PLN (Persero) aims at identifying the competency level of OHS of Supervisors in a number of units chosen to investigate matters that may represent the activities of electricity supply in PT PLN, while also describing the competency levels in electricity generation, transmission and distribution.With reference to the competency elements and performance criteria for generic OHS c^mnPfencies for Supervisors (NOHSC, Australia) as research tool, interviews were conducted with Supervisors and questionnaires were given to Working groups who directly in charge for instalation maintenance administering installation and the respected Officers. The result obtained indicates that the average competency level of OHS among Supervisor of electric energy supply in PT PLN (Persero) can be classified ranging from "low" to "inadequate", whereas electricity generating activities scored higher than transmission activities, and distribution activities have the lowest score among them.Suggestions to improve competency include supplementary information of OHS knowledge, skill and attitude of Supervisors, need a strong commitment from the top management on OHS (managerial support) and awareness of the work location (in term of challenging activities and or environmental influence).

Read More
T-1355
Depok : FKM-UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ispranto Kurnia Adhy; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Zulkifli Djunaidi, Juanto Sitorus, Arisman
Abstrak:

Pembangkit lislrik panas bumi berkembang pesat pada saat ini, karena merupakan salah satu sumber energi pengganti selain migas. PT XYZ dalam hal ini juga ikut berperan aktif dalam tahapan engineering, procurement, konstruksi industry energi PLTP ini. Dalam kegiatan konstruksi tersebut PT XYZ mempunyai potensi keuntungan maupun resiko kerugian terhadap kegiatan ini. Pada 5 tahun terakhir ini PT XYZ mengalami kerugian akibat kecelakaan pada tahapan commissioning, meskipun hal ini sudah diasuransikan, antara lain data kecelakaan sebagai berikut : a. Kerusakan Furnish pada saat commissioning di proyek Blue Sky Refenery pada tahun 2005 b. Bocomya Reaklor Urea pada saat commissioning di proyek Kujang I B di tahun 2005. c. Pada proyek PLTP Kamojang- 4 terjadi kerusakan pada separator dan pipe line pada tahapan kegiatan commissioning pada tahnn 2007, Dalarn hal iui resiko perusabaau unruk mendapat potensi kerugian dari kegitan commissioning ini cukup besar, jika dilihat darl pengalaman proyek-proyek sebelumnya tahapan commissioning menyumbang banyak kecelakaan yang menimbulkan potensi kerugian pada peruaahaan, meskipun dalam hal ini proteksi kesehatan dan keselamatan kerja melalui process safety management sudah dilakukan. Oleh karena itu perlu dilakukan evalusi terhadap process safety management yang digunakan sebagai proteksi terhadap hazards/bahaya-bebeya yang ada pada kegiatan commissioning ini. Secara umum tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar tingkat efektivitas proteksi K3 yang dilakukan untuk menoegah kerugian perusahaan pada tahapan kegiatan commissioning pipa sags pada pembangunan PLTP.


Geothermal power energy rapidly grow in this time because as one of energy source substitution besides oil and the reserve gas is progressively attenuate. PT XYZ in this case also contribute is active in industrial construction of this geothermal power energy. In the activity of construction, PT XYZ have loss risk and also advantage potency to this activity. At 5 the last year PT XYZ experience loss of accident effect at step commissioning, though this thing have been insured, for example accident data as follows : 1. Damage of Funish at commissioning in project of Blue Sky Refenery in 2005 th 2. Damage of area Reactor at commissioning in project ujang I B in 2005 th 3. At project of PLTP Kamojang - 4 happened damage at separator and pipe line atstep of commissioning activities in the year 2007th. Therefore require to be done by evaluation to protection system process safety management (K3) which applied as protection to Hazards on the this commissioning activity. In general purpose of research is to how know big level of protection effectiveness process safety management (K3) which done to prevent loss of company at phases of pipe sags commissioning activities at geothermal power energy development.

Read More
T-2994
Depok : FKM-UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Andhika Yudiaji; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Dadan Erwandi, Yuni Kusminanti
S-6214
Depok : FKM UI, 2010
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Refiani Fitri Ardiyanti; Pembimbing: Sjahrul Meizar Nasri; Penguji: Dadan Erwandi, Afid Yusthi Ghozali
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara iklim keselamatan dengan perilaku keselamatan pada pekerja di PT X. Iklim keselamatan mencerminkan persepsi pekerja terhadap komitmen dan praktik keselamatan di lingkungan kerja, sementara perilaku keselamatan mencerminkan tindakan nyata pekerja dalam mendukung keselamatan kerja. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan desain studi cross-sectional. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang disusun berdasarkan indikator iklim keselamatan dan perilaku keselamatan, yang masing-masing diukur menggunakan skala ordinal. Responden penelitian ini adalah seluruh pekerja bagian produksi di PT X. Analisis hubungan dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan positif yang kuat antara iklim keselamatan dan perilaku keselamatan (ρ = 0,551). Hal ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi persepsi pekerja terhadap iklim keselamatan, maka semakin baik pula perilaku keselamatan yang ditunjukkan. Temuan ini menegaskan pentingnya membangun iklim keselamatan yang positif sebagai strategi untuk meningkatkan perilaku keselamatan di tempat kerja.

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara iklim keselamatan dengan perilaku keselamatan pada pekerja di PT X. Iklim keselamatan mencerminkan persepsi pekerja terhadap komitmen dan praktik keselamatan di lingkungan kerja, sementara perilaku keselamatan mencerminkan tindakan nyata pekerja dalam mendukung keselamatan kerja. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan desain studi cross-sectional. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang disusun berdasarkan indikator iklim keselamatan dan perilaku keselamatan, yang masing-masing diukur menggunakan skala ordinal. Responden penelitian ini adalah seluruh pekerja bagian produksi di PT X. Analisis hubungan dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan positif yang kuat antara iklim keselamatan dan perilaku keselamatan (ρ = 0,551). Hal ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi persepsi pekerja terhadap iklim keselamatan, maka semakin baik pula perilaku keselamatan yang ditunjukkan. Temuan ini menegaskan pentingnya membangun iklim keselamatan yang positif sebagai strategi untuk meningkatkan perilaku keselamatan di tempat kerja.
Read More
S-11992
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Duliman; Pembimbing: Zulkifli Junaidi; Penguji: Baiduri, Bambang Sulistio
Abstrak: Fatigue merupakan salah satu masalah yang sering dihadapi perusahaan terkait keselamatan dan kesehatan kerja pada perusahaan yang menerapkan sistem kerja shift. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran dan hubungan faktor-faktor penyebab fatigue dengan kejadian fatigue pada operator. Penellitian ini menggunakan desain cross sectional (potong lintang), pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner IFRC, observasi lapangan dan pengukuran langsung. Ada banyak faktor-faktor yang menyebabkan fatigue. Pada penelitian ini, ada 11 variabel independen yang diteliti. Variabel independen pada penelitian ini adalah umur, indeks massa tubuh, kejenuhan, kondisi fisik/kesehatan, jam kerja, waktu tidur, shift kerja, beban kerja dan lingkungan kerja fisik (pencahayaan, lingkungan kerja panas dan kebisingan).
Hasil penelitian didapatkan prevalensi operator yang mengalami fatigue ringan 80,4% dan fatigue sedang sebanyak 19,6%. Variabel lama jam kerja, kondisi fisik/kesehatan, waktu tidur dan shift kerja merupakan variabel yang berhubungan dengan kejadian fatigue pada analisis bivariat sedangkan variabel yang paling berpengaruh pada kejadian fatigue adalah variabel shift kerja dimana shift kerja merupakan satu-satunya variabel yang berhubungan dengan fatigue pada analisis multivariat. Responden yang bekerja shift malam mempunyai peluang 11,046 kali dibandingkan dengan responden yang bekerja shift siang.
Kata kunci : fatigue, shift kerja, kondisi fisik/kesehatan, jam kerja, waktu tidur

Fatigue is the one problem faced by company related to occupational health and safety issues, mainly in company which applies shift work system. The porpuse of the research is to figure out of fatigue prevalence in geothermal power plant operator and risk factors related to fatigue that make its occurence. The design of this study uses cross sectional method, where the datas collect by using questionnarie of international fatigue research committee (IFRC), field observation, operational data and direct measurement. There are many factors which are associated with fatigue. But in this study, there are 11 variables that is taken. They are: age, body mass index, monotonous, working hours, sleep hours, physical/health condition, shift work, work load, lighthing, temperature and noise.
The result of study shows the prevalence of operator that is light fatigue 80,4% and medium fatigue 19,6%. The variable independent which is related to fatigue are working hours, physical/health condition, sleep hours and shift work (the result from analysis bivariate). In multivariate analysis the variable that is significant influencing of fatigue occurence is shift work with the odd ratio 11,04. It means the workers who work on night shift has opportunity to being fatigue 11,045 times compare to workers who work on day shift.
Key Word : fatigue, shift work, working hours, physical/health condition, sleep hours.
Read More
T-5053
Depok : FKM UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
I Made Sudarta; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Fatma Lestari, Juanto Sitoru, Arisman Indrawan
Abstrak:

ABSTRAK Pemodelan merupakan salah satu cara yang digunakan untuk melakukan suatu analisis risiko untuk mengetahui gambaran dan tingkat risiko terhadap potensi kegagalan yang disebabkan oleh adanya beberapa faktor dan dampak yang ditimbulkan akibat adanya kegagalan suatu sistem. Dalam melakukan analisis risiko pada sistem perpipaan yang digunakan untuk menstransmisikan natural gas di PT. XYZ dari suatu tempat ke tempat yang lain digunakan pemodelan dari W. Kent Muhlbauer, dimana model ini secara langsung dapat membantu dalam proses pengolahan data-data untuk menentukan gambaran serta besaran risiko pada suatu sistem perpipaan transmisi. Hasil dari olahan data ini dapat digunakan untuk melakukan justifikasi, tindakan serta sekala prioritas yang harus dilakukan.


 

ABSTRACT Modeling is one part of ways to determine and define the risk level of potentially failure caused by several factors and impact result due to system failures. On performing of pipeline safety risk analysis where pipeline is used to transport natural gas by PT. XYZ from one place to other place with using W. Kent Muhlbauer’s model. This model will use to calculate and to define the risk level from gathered data that collected from PT. XYZ. The risk analyses results are used to justify the actions are to be taken in accordance with priority level.

Read More
T-3003
Depok : FKM-UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rizki Iwari Saputra; Pembimbing: Hendra; Penguji: Dadan Erwandi, Robiana Modjo, Yuni Kusminanti, Muhamad Fertiaz
Abstrak:
Berdasarkan data BPJS Ketenagakerjaan tahun 2021 terdapat kasus 234.370 kasus, dengan kontribusi terbesar dari sektor manufaktur dan konstruksi sebesar 22,3%, Sebagian besar kecelakaan kerja dan perilaku yang tidak aman disebabkan oleh ketidakmampuan untuk mengidentifikasi bahaya dan kesalahan persepsi terhadap penerapan K3. penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan persepsi terhadap penerapan K3 pada karyawan PT XYZ tahun 2024. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah desain cross-sectional. Studi ini melibatkan 143 karyawan yang diminta untuk mengisi kuisioner yang diberikan kepada mereka. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian karyawan mempunyai persepsi yang baik terhadap penerapan K3 yaitu sebesar 50,3%, sedangkan 49,7% responden mempunyai persepsi yang buruk terhadapa penerapan K3. Nilai p dari hasil uji korelasi antara faktor-faktor yang berhubungan dengan penerpan K3 antara lain masa kerja (0,507), Pendidikan (0,131), sikap K3(<0,001), Pengetahuan K3 (0,001), Pelatihan K3 (0,004), dan Ketersediaan sarana dan prasarana K3(0,04). Kesimpulan disimpulkan faktor yang berhubungan dengan persepsi terhadap penerpan K3 pada karyawan di PT XXY adalah sikap K3, pengtahuan K3, pelatihan K3, ketersedian sarana dan prasarana sehingga perusahaan perlu meningkatkan pemahaman dan pelatihan kepada karyawan dengan program-program K3 yang lebih efektif

Based on BPJS Employment data in 2021, there were 234,370 cases, with the largest contribution from the manufacturing and construction sector at 22.3%, Most work accidents and unsafe behavior are caused by the inability to identify hazards and misperceptions of OHS implementation. This research aims to identify factors related to perceptions of OHS implementation among PT XYZ employees in 2024. The method used in this research is a cross-sectional design. This research involved 143 employees who were asked to fill out a questionnaire given to them. Data analysis was carried out using the Chi-square test. The research results show that some employees have a good perception of the implementation of K3, namely 50.3%, while 49.7 respondents had a Badperception of the implementation of OHS. The p-value from the correlation test results between factors related to the implementation of OHS includes work experience (0.507), education (0.131), OHS attitude (<0.001), OHS knowledge (0.001), OHS training (0.004), and availability of facilities. and OHS infrastructure (0.04). In conclusion, the factors related to the perception of OHS implementation among PT XXY employees are OHS attitudes, OHS knowledge, OHS training, availability of facilities and infrastructure so that the company needs to increase employee understanding and training more effectively OHS programs.
 
Read More
T-7143
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive