Ditemukan 28837 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Hasil penelitian menunjukkan pekerja yang terpajan kebisingan >80 dBA memiliki tekanan darah dan prevalensi hipertensi yang lebih tinggi dibandingkan pekerja yang terpajan kebisingan ≤80 dBA. Pekerja yang terpajan kebisingan >80 dBA memiliki tingkat risiko terkena hipertensi lebih tinggi dengan OR = 3,19 dibandingkan dengan pekerja yang terpajan kebisingan ≤80 dBA. Tidak ada hubungan antara intensitas kebisingan dengan tekanan darah dan hipertensi. Akan tetapi terdapat kecenderungan dosis-respon antara intensitas kebisingan dengan tekanan darah sistolik, tekanan darah diastolik dan hipertensi
Industri konstruksi merupakan sektor dengan tingkat risiko kecelakaan kerja yang tinggi sehingga
penerapan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) menjadi aspek penting dalam menciptakan lingkungan
kerja yang aman. Iklim keselamatan (safety climate) berperan dalam membentuk perilaku kerja aman dan
dipengaruhi oleh karakteristik individu pekerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan
karakteristik individu dengan persepsi iklim keselamatan pada pekerja proyek konstruksi di PT XYZ.
Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan pendekatan kuantitatif pada 155 pekerja
menggunakan teknik total sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner karakteristik
individu dan NOSACQ-50, kemudian dianalisis secara univariat, bivariat, dan multivariat. Hasil penelitian
menunjukkan mayoritas responden berjenis kelamin laki-laki, berada pada usia produktif 20–44 tahun,
berpendidikan SMA/sederajat, bekerja sebagai pekerja lapangan, dan memiliki masa kerja kurang dari lima
tahun. Persepsi iklim keselamatan secara umum berada pada kategori baik. Variabel jenis kelamin dan
posisi jabatan memiliki hubungan yang signifikan terhadap persepsi iklim keselamatan, sedangkan usia,
tingkat pendidikan, dan masa kerja tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Posisi jabatan merupakan
faktor yang paling dominan memengaruhi persepsi iklim keselamatan pekerja. Hasil penelitian ini
diharapkan menjadi dasar dalam pengembangan strategi peningkatan K3 yang lebih efektif untuk
memperkuat budaya keselamatan kerja pada proyek konstruksi.
The construction industry is a sector with a high risk of occupational accidents; therefore, the implementation of Occupational Health and Safety (OHS) is an essential aspect of creating a safe working environment. Safety climate plays an important role in shaping safe work behavior and is influenced by workers’ individual characteristics. This study aimed to analyze the relationship between individual characteristics and safety climate perceptions among construction project workers at PT XYZ. This study employed a quantitative approach with a cross-sectional design involving 155 workers using a total sampling technique. Data were collected using an individual characteristics questionnaire and NOSACQ 50 and analyzed using univariate, bivariate, and multivariate analyses. The results showed that the majority of respondents were male, within the productive age group of 20–44 years, had a senior high school education or equivalent, worked as field workers, and had less than five years of work experience. Overall, safety climate perception was categorized as good. Gender and job position showed significant relationships with safety climate perception, whereas age, educational level, and work experience showed no significant relationships. Job position was identified as the most dominant factor influencing workers’ safety climate perceptions. The findings of this study are expected to serve as a basis for developing more effective OHS improvement strategies to strengthen safety culture in construction projects.
Peningkatan kompetensi karyawan sekarang menjadi isu penting bagi perusahaan untuk menjaga kemampuan berkompetisi guna menghadapi tantangan bisnis dalam era perdagangan babas yang akan segera datang. Undang-undang Ketenagalistrikan (baru) akan mengatur kompetisi antar pelaku bisnis tenaga listrik seperti PT PLN (Persero), swasta, termasuk koperasi dan BUMN yang lain. Melalui pembahasan bersama institusi terkait, maka Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral secara bertahap mempersiapkan standarisasi kompetensi tenaga teknik ketenagalistrikan.Analisis kompetensi K3 pada Pengawas kegiatan penyediaan tenaga listrik di PT PLN (Persero) bertujuan untuk mengidentifikasi tingkat kompetensi K3 pada Pengawas pada beberapa Unit pengelola instalasi yang dipilih untuk melakukan penelitian yang dapat mewakili kegiatan penyediaan tenaga listrik di PT PLN (Persero), sekaligus untuk menggambarkan tingkat kompetensi pada kegiatan pembangkitan, transmisi dan distribusi tenaga listrik.Dengan menggunakan referensi elemen kompetensi dan kriteria unjuk kerja dari kompetensi K3 umum (generik) untuk Pengawas (NOHSC, Australia) sebagai instrumen penelitian, dilakukan wawancara kepada para Pengawas serta kuisioner kepada para Pelaksana, kelompok kerja pengelola instalasi dan kepada para Pejabat pengelola instalasi, diperoleh bahwa rata-rata tingkat kompetensi K3 pada Pengawas kegiatan penyediaan tenaga listrik di PT PLN (Persero) dapat diklasifikasikan antara "rendah" sampai "kurang dari cukup", di mana pada kegiatan pembangkitan lebih baik dari pada kegiatan transmisi dan pada kegiatan transmisi lebih baik dari pada kegiatan distribusi.Saran pembinaan untuk meningkatkan kompetensi dengan menambah wawasan pengetahuan, ketrampilan dan sikap K3 pada Pengawas, keharusan terdapatnya komitmen yang kuat terhadap K3 dari top manajemen (dukungan manajemen) dan memperhatikan tempat kerja (tantangan kegiatan atau pengaruh lingkungan).
The Analysis on Occupational Safety and Health Competency for Supevisor of Electric Energy Supply in PT PLN (Persero)Employee competency improvement is now becoming the important issues for corporations to maintain its competitive ability to meet business challenges for incoming free trade era. The (new) Electricity Act regulates the competition of electricity business players such as PT PLN (Persero), the private sector including ccoperative and other state owned corporations. Through agreements with related institutions, The Department of Mine and Energy is progressively set the standards to be used for technician competencies in electricity.The analysis on occupational health and safety (OHS) competency for Supervisor of electric energy supply in PT PLN (Persero) aims at identifying the competency level of OHS of Supervisors in a number of units chosen to investigate matters that may represent the activities of electricity supply in PT PLN, while also describing the competency levels in electricity generation, transmission and distribution.With reference to the competency elements and performance criteria for generic OHS c^mnPfencies for Supervisors (NOHSC, Australia) as research tool, interviews were conducted with Supervisors and questionnaires were given to Working groups who directly in charge for instalation maintenance administering installation and the respected Officers. The result obtained indicates that the average competency level of OHS among Supervisor of electric energy supply in PT PLN (Persero) can be classified ranging from "low" to "inadequate", whereas electricity generating activities scored higher than transmission activities, and distribution activities have the lowest score among them.Suggestions to improve competency include supplementary information of OHS knowledge, skill and attitude of Supervisors, need a strong commitment from the top management on OHS (managerial support) and awareness of the work location (in term of challenging activities and or environmental influence).
Pembangkit lislrik panas bumi berkembang pesat pada saat ini, karena merupakan salah satu sumber energi pengganti selain migas. PT XYZ dalam hal ini juga ikut berperan aktif dalam tahapan engineering, procurement, konstruksi industry energi PLTP ini. Dalam kegiatan konstruksi tersebut PT XYZ mempunyai potensi keuntungan maupun resiko kerugian terhadap kegiatan ini. Pada 5 tahun terakhir ini PT XYZ mengalami kerugian akibat kecelakaan pada tahapan commissioning, meskipun hal ini sudah diasuransikan, antara lain data kecelakaan sebagai berikut : a. Kerusakan Furnish pada saat commissioning di proyek Blue Sky Refenery pada tahun 2005 b. Bocomya Reaklor Urea pada saat commissioning di proyek Kujang I B di tahun 2005. c. Pada proyek PLTP Kamojang- 4 terjadi kerusakan pada separator dan pipe line pada tahapan kegiatan commissioning pada tahnn 2007, Dalarn hal iui resiko perusabaau unruk mendapat potensi kerugian dari kegitan commissioning ini cukup besar, jika dilihat darl pengalaman proyek-proyek sebelumnya tahapan commissioning menyumbang banyak kecelakaan yang menimbulkan potensi kerugian pada peruaahaan, meskipun dalam hal ini proteksi kesehatan dan keselamatan kerja melalui process safety management sudah dilakukan. Oleh karena itu perlu dilakukan evalusi terhadap process safety management yang digunakan sebagai proteksi terhadap hazards/bahaya-bebeya yang ada pada kegiatan commissioning ini. Secara umum tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar tingkat efektivitas proteksi K3 yang dilakukan untuk menoegah kerugian perusahaan pada tahapan kegiatan commissioning pipa sags pada pembangunan PLTP.
Geothermal power energy rapidly grow in this time because as one of energy source substitution besides oil and the reserve gas is progressively attenuate. PT XYZ in this case also contribute is active in industrial construction of this geothermal power energy. In the activity of construction, PT XYZ have loss risk and also advantage potency to this activity. At 5 the last year PT XYZ experience loss of accident effect at step commissioning, though this thing have been insured, for example accident data as follows : 1. Damage of Funish at commissioning in project of Blue Sky Refenery in 2005 th 2. Damage of area Reactor at commissioning in project ujang I B in 2005 th 3. At project of PLTP Kamojang - 4 happened damage at separator and pipe line atstep of commissioning activities in the year 2007th. Therefore require to be done by evaluation to protection system process safety management (K3) which applied as protection to Hazards on the this commissioning activity. In general purpose of research is to how know big level of protection effectiveness process safety management (K3) which done to prevent loss of company at phases of pipe sags commissioning activities at geothermal power energy development.
Hasil penelitian didapatkan prevalensi operator yang mengalami fatigue ringan 80,4% dan fatigue sedang sebanyak 19,6%. Variabel lama jam kerja, kondisi fisik/kesehatan, waktu tidur dan shift kerja merupakan variabel yang berhubungan dengan kejadian fatigue pada analisis bivariat sedangkan variabel yang paling berpengaruh pada kejadian fatigue adalah variabel shift kerja dimana shift kerja merupakan satu-satunya variabel yang berhubungan dengan fatigue pada analisis multivariat. Responden yang bekerja shift malam mempunyai peluang 11,046 kali dibandingkan dengan responden yang bekerja shift siang.
Kata kunci : fatigue, shift kerja, kondisi fisik/kesehatan, jam kerja, waktu tidur
Fatigue is the one problem faced by company related to occupational health and safety issues, mainly in company which applies shift work system. The porpuse of the research is to figure out of fatigue prevalence in geothermal power plant operator and risk factors related to fatigue that make its occurence. The design of this study uses cross sectional method, where the datas collect by using questionnarie of international fatigue research committee (IFRC), field observation, operational data and direct measurement. There are many factors which are associated with fatigue. But in this study, there are 11 variables that is taken. They are: age, body mass index, monotonous, working hours, sleep hours, physical/health condition, shift work, work load, lighthing, temperature and noise.
The result of study shows the prevalence of operator that is light fatigue 80,4% and medium fatigue 19,6%. The variable independent which is related to fatigue are working hours, physical/health condition, sleep hours and shift work (the result from analysis bivariate). In multivariate analysis the variable that is significant influencing of fatigue occurence is shift work with the odd ratio 11,04. It means the workers who work on night shift has opportunity to being fatigue 11,045 times compare to workers who work on day shift.
Key Word : fatigue, shift work, working hours, physical/health condition, sleep hours.
ABSTRAK Pemodelan merupakan salah satu cara yang digunakan untuk melakukan suatu analisis risiko untuk mengetahui gambaran dan tingkat risiko terhadap potensi kegagalan yang disebabkan oleh adanya beberapa faktor dan dampak yang ditimbulkan akibat adanya kegagalan suatu sistem. Dalam melakukan analisis risiko pada sistem perpipaan yang digunakan untuk menstransmisikan natural gas di PT. XYZ dari suatu tempat ke tempat yang lain digunakan pemodelan dari W. Kent Muhlbauer, dimana model ini secara langsung dapat membantu dalam proses pengolahan data-data untuk menentukan gambaran serta besaran risiko pada suatu sistem perpipaan transmisi. Hasil dari olahan data ini dapat digunakan untuk melakukan justifikasi, tindakan serta sekala prioritas yang harus dilakukan.
ABSTRACT Modeling is one part of ways to determine and define the risk level of potentially failure caused by several factors and impact result due to system failures. On performing of pipeline safety risk analysis where pipeline is used to transport natural gas by PT. XYZ from one place to other place with using W. Kent Muhlbauer’s model. This model will use to calculate and to define the risk level from gathered data that collected from PT. XYZ. The risk analyses results are used to justify the actions are to be taken in accordance with priority level.
