Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 37358 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Zuhairah Syarah; Pembimbing: Besral; Penguji: Milla Herdayati, Hany Zahro
Abstrak:
Antenatal care adalah indikator kesehatan yang digunakan untuk mencegah tingginya angka kematian ibu di Indonesia. Namun, masih terdapat provinsi di Indonesia Bagian Timur yang memiliki cakupan kunjungan ANC 4 kali atau lebih di bawah target nasional, yaitu Provinsi NTB sebesar 79%, NTT sebesar 64,3%, Maluku sebesar 47,9%, Maluku Utara sebesar 55,6%, Papua Barat sebesar 48,1%, dan Papua sebesar 43,8%. Selain itu, WUS di Indonesia Bagian Timur yang melaporkan menghadapi salah satu masalah dalam mendapatkan pelayanan kesehatan menunjukkan persentase yang lebih besar jika dibandingkan dengan persentase nasional. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi indikator akses ke pelayanan kesehatan dan mengetahui hubungan akses ke pelayanan kesehatan dengan kunjungan ANC. Penelitian ini menggunakan data SDKI tahun 2017 dengan desain penelitian cross sectional. Confirmatory factor analysis digunakan untuk mengidentifikasi indikator akses ke pelayanan kesehatan. Analisis bivariat dan multivariat digunakan untuk melihat hubungan akses ke pelayanan kesehatan dengan kunjungan ANC. Hasil CFA menunjukkan terdapat 4 dimensi yang membentuk variabel akses pelayanan kesehatan, yaitu literasi dan akses media informasi, otonomi pengambilan keputusan pada wanita, hambatan yang dirasakan dalam akses pelayanan kesehatan, dan kepemilikan jaminan kesehatan. Proporsi kunjungan ANC sesuai standar pada wanita usia subur di Indonesia Bagian Timur adalah 12,8%. Tidak ada hubungan yang signifikan antara akses ke pelayanan kesehatan dengan kunjungan ANC (AOR = 1,19; 95% CI= 0,80-1,77). Dapat disimpulkan bahwa masih rendahnya cakupan kunjungan ANC sesuai standar di Indonesia Bagian Timur sehingga perlu upaya pemerintah untuk meningkatkan kunjungan ANC pada ibu hamil sesuai standar.

Antenatal care is a health indicator to prevent high maternal mortality rates in Indonesia. However, there are still provinces in Eastern Indonesia that have ANC visit coverage of 4 or more times below the national target, namely NTB Province at 79%, NTT at 64.3%, Maluku at 47.9%, North Maluku at 55.6 %, West Papua at 48.1%, and Papua at 43.8%. In addition, the percentage of women aged 15-49 in Eastern Indonesia who reported facing a problem in obtaining health services showed a larger percentage when compared to the national percentage. This study aims to identify indicators of access to health services and determine the relationship between access to health services and ANC visits. Analyses use secondary data (IDHS 2017 Data) with a cross-sectional research design. Confirmatory factor analysis uses to identify indicators of access to health services. Bivariate and multivariate analyzes assessed the relationship between access to health services and ANC visits. The CFA results show there are 4 dimensions of variable access to health services, namely literacy and access to information media, decision-making autonomy for women, perceived barriers to accessing health services, and health insurance. 12.8% of women aged 15-49 in Eastern Indonesia visited standard ANC. There is no significant relationship between access to health services and ANC visits (AOR = 1,19; 95% CI= 0,80-1,77). Despite showing insignificant results, the coverage of ANC visits according to standards in Eastern Indonesia is still low. Therefore, government efforts are required to increase ANC visits to pregnant women according to standards.
Read More
S-11167
Depok : FKMUI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nur A'isyah Amalia Putri; Pembimbing: Besral; Pwnguji: Adang Bachtiar, Sutanto Priyo Hastono, Rahmadewi
Abstrak:
Kelangsungan hidup neonatal dini merupakan kemampuan neonatus untuk bertahan hidup atau menjalani kehidupan hingga mencapai usia enam hari. Masa neonatal dini disebut sebagai masa kritis pada bayi baru lahir, dengan estimasi separuh kematiannya terjadi pada 24 jam pertama pasca lahir. Kurangnya pelayanan berkualitas pada saat atau segera setelah lahir dan pada hari-hari pertama kehidupan memiliki pengaruh terhadap kelangsungan hidup neonatus. Penelitian ini menggunakan desain studi kohort retrospektif dengan pendekatan kuantitatif. Data yang digunakan adalah data sampel SDKI 2017, dengan jumlah sampel sebanyak 15.270 anak lahir hidup. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 1000 bayi yang berumur 0 hari (baru lahir) terdapat 991 bayi yang mampu bertahan hidup sampai berusia tepat 6 hari. Berdasarkan hasil uji regresi Cox, faktor utilisasi pelayanan kesehatan saat hamil hingga pasca persalinan yang berpengaruh dan signifikan secara statistik terhadap kelangsungan hidup neonatal dini yaitu, persalinan yang bukan ditolong oleh tenaga kesehatan, utilisasi layanan KN 1 yang tidak lengkap, dan utilisasi layanan ANC < 6 kali dengan paritas ibu 1 anak, setelah dikontrol dengan usia ibu saat melahirkan, paritas, dan berat lahir bayi. Pengaruh utilisasi pelayanan kesehatan saat hamil hingga pasca persalinan terhadap kelangsungan hidup neonatal dini tidak dipengaruhi oleh waktu. Adapun, faktor utilisasi pelayanan kesehatan yang paling mempengaruhi kelangsungan hidup neonatal dini, yakni layanan KN 1.

Early neonatal survival is the ability of neonates to survive until they reach the age of six days. The early neonatal period is referred to as a critical period for newborns, with an estimated half of deaths occurring in the first 24 hours after birth. Lack of quality care at or immediately after birth and in the first days of life has an impact on neonate survival. This study used a retrospective cohort study design with a quantitative approach. The data used is the 2017 IDHS sample data, with a total sample of 15,270 children ever born. The results of the study showed that out of 1000 babies who were 0 days old (newborn), 991 babies were able to survive until they were exactly 6 days old. Based on the results of the Cox regression test, the factors of health service utilization during pregnancy to postpartum that have a statistically significant influence on early neonatal survival are, births that are not assisted by health workers, incomplete utilization of first neonatal visit services, and utilization of antenatal care services less than 6 times with the mother's parity of 1 child, after controlling for the mother's age at birth, parity, and baby's birth weight. The influence of health service utilization during pregnancy to postpartum on early neonatal survival is not influenced by time. Meanwhile, the health service utilization factor that most influences early neonatal survival is the first neonatal visit service.
Read More
T-6896
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nur Hadi Budhy Setyanto; Pembimbing: Sudjianto Kamso; Penguji: Artha Prabawa, Salimar
S-10026
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Agil Oktora; Pembimbing: Sutanto Priyo Hastono; Penguji: Martya Rahmaniati Makful, Nilna Rahmi Isna
Abstrak: Sectio cesarean merupakan tindakan untuk membantu melahirkan pada Ibu hamildengan melakukan pembedahan pada dinding abdomen (laparatomi) dan dindinguterus (histerotomi). (Cunningham et, 2017). Melahirkan dengan sectio cesareandi dunia sudah melebihi batas angka yang telah ditetapkan oleh WHO yaitu 15%dari seluruh kelahiran disetiap Negara. Di Indonesia angka melahirkan dengansectio cesarean berdasarkan Riskesdas tahun 2018 yaitu sebesar 17%, danberdasarkan laporan data sampel BPJS Kesehatan tahun 2015-2016 tindakansectio cesarean ringan merupakan 10 tindakan terbanyak yang dilakukan padapeserta BPJS Kesehatan. Sectio cesarean dilakukan dengan indikasi medis dantanpa indikasi medis keadaan yang menyebabkan seseorang melahirkan dengansectio cesarean tanpa indikasi medis dapat disebabkan oleh beberapa hal sepertipsikologis, takut berlebihan dan lain sebagainya. Penelitian ini bertujuan untukmengetahui hubungan antara karateristik peserta BPJS Kesehatan denganmelahirkan sectio cesarean tanpa indikasi medis. Dengan desain penelitian CrossSectional dan menggunakan data sampel BPJS Kesehatan tahun 2015-2016.Sampel dalam penelitian ini yaitu dengan kriteria inklusi Ibu yang melahirkansectio cesarean dengan pada data sampel BPJS Kesehatan dan kriteria Eklusiyaitu Ibu yang melahirkan tanpa sectio cesarean. Hasil dari penelitian ini bahwaproporsi peserta BPJS Kesehatan yang melahirkan sectio cesarean tanpa indikasimedis sebesar 61,18%. Terdapat hubungan yang signifikan antara Wilayah,segmentasi peserta daan Kepemilikan tempat pelayanan kesehatan denganmelahirkan sectio cesarean tanpa indikasi medis. Sedangkan pada variabel Umurtidak terdapat hubungan dengan melahirkan sectio cesarean tanpa indikasi medis.Oleh karena itu perlu ditingkatkan pengawasan tindakan sectio cesarean yangdilakukan dirumah sakit yang bekerjasama dengan BPJS Kesehatan, dan perluditingkatan promosi terhadap masayarakat tentang bahaya sectio cesarean tanpaindikasi medis.Kata kunci:Melahirkan, Sectio Cesarean, BPJS Kesehatan
Cesarean sectio is an action to help give birth to pregnant women by performingsurgery on the abdominal wall (laparatomy) and uterine wall (hysterotomy).(Cunningham et, 2017). Childbirth with cesarean sectio in the world has exceededthe limit set by the WHO which is 15% of all births in each country. In Indonesiathe number of births with cesarean sections based on Riskesdas in 2018 is 17%,and based on the BPJS Kesehatan sample data report for 2015-2016 mildcesarean sectio measures are the 10 most actions taken on BPJS Kesehatanparticipants. Cesarean Sectio is done with medical indications and withoutmedical indication the conditions that cause a person to give birth with cesareansectio without medical indications can be caused by several things such aspsychological, excessive fear and so forth. This study aims to determine therelationship between BPJS Health participant characteristics and cesarean sectiodelivery without medical indication. With Cross Sectional research design andusing BPJS Kesehatan sample data for 2015-2016. The sample in this study wasthe inclusion criteria for mothers who gave birth to cesarean sections with theBPJS Kesehatan sample data and the exclusion criteria were mothers who gavebirth without cesarean sections. The results of this study that the proportion ofBPJS Kesehatan participants who gave birth to cesarean sectio without medicalindications was 61.18%. There is a significant relationship between regions,segmentation of participants and ownership of health care facilities and deliveryof cesarean sectio without medical indication. Whereas the age variable is notrelated to cesarean sectio birth without medical indication. Therefore, it isnecessary to increase supervision of cesarean sectio measures performed inhospitals in collaboration with BPJS Kesehatan, and it is necessary to increasepromotion of the community about the dangers of cesarean sectio without medicalindication.Keywords:Childbirth, Sectio Cesarean, BPJS Kesehatan.
Read More
S-10226
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Astari Nola Margaretha; Pembimbing: Kemal Nazarudin Siregar; Penguji: Milla Herdayati, Ika Saptarini
S-10152
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Amanda Widlanisia; Pembimbing: Kemal Nazarudin; Penguji: Sutanto; Sudibyo Alimoeso
Abstrak: Pemberian ASI merupakan usaha dan investasi yang mudah dilakukan untuk menekan angka morbiditas dan mortalitas pada bayi dan anak. Keterlambatan pemberian ASI pertama dapat diakibatkan oleh metode kelahiran yang dipilih seperti secara pervaginam atau persalinan sesar. Penelitian ini dilakukan secara cross sectional dan pendekatan kuantitatif menggunakan data SDKI 2017 untuk mengetahui hubungan antara persalinan sesar dengan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) di Provinsi DKI Jakarta. Sampel yang digunakan adalah wanita usia subur 15-49 tahun saat survei di Provinsi DKI Jakarta yang memiliki anak terakhir yang lahir dalam 2 tahun terakhir sebanyak 236 responden. Dilakukan analisis statistik univariat, bivariat menggunakan chi-square (CI 95%) dan analisis multivariat uji regresi logistik berganda. Hasil analisis menunjukkan ibu yang melahirkan secara persalinan sesar berisiko 0,52 [95%CI 0,27-1,01] kali lebih rendah melakukan IMD dibandingkan ibu yang melahirkan secara pervaginam. Analisis multivariat pada penelitian ini memperlihatkan bahwa ibu secara persalinan sesar berisiko 0,54 [95%CI 0,18-1,61] kali lebih rendah melakukan IMD dibandingkan ibu yang melahirkan secara pervaginam setelah dikontrol dengan variabel tingkat pendidikan, usia, dan status ekonomi. Maka disimpulkan bahwa pembuatan kebijakan dan pemberian intervensi akan bagaimana pelaksanaan dan pentingnya inisasi menyusu dini perlu dilakukan pada ibu yang memiliki tingkat Pendidikan rendah, usia dibawah 35 tahun, status ekonomi rendah, dan yang berencana melahirkan dengan metode persalinan sesar.
Breastfeeding is an easy way to reduce morbidity and mortality in infants and childrens. The delay in giving the first breast milk can be caused by the chosen method of birth such as vaginal or cesarean delivery. This study was conducted in a cross sectional and quantitative approach using the 2017 IDHS data to determine the relationship between cesarean delivery and Early Breastfeeding Initiation (EBFI) in DKI Jakarta Province. The sample used was women of childbearing age 15-49 years during the survey in DKI Jakarta Province who had their last child born in the last 2 years as many as 236 respondents. Univariate, bivariate statistical analysis was performed using chi-square (95% CI) and multivariate analysis with multiple logistic regression tests. The results of the analysis showed that mothers who gave birth by cesarean had 0.52 times [95% CI 0.27-1.01] times lower risk of having an EBFI than mothers who gave birth vaginally. Multivariate analysis in this study showed that mothers who delivered by cesarean had 0.54 times lower risk [95% CI 0.18-1.61] of having an EBFI compared to mothers who gave birth vaginally after controlled by variables such as education level, age, and economic status. It is concluded that policy making and providing interventions on how to implement and the importance of early breastfeeding initiation need to be carried out on mothers who have low levels of education, age under 35 years, low economic status, and who plan to give birth by cesarean delivery method.
Read More
S-11137
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Olivia Tisya Anne E.A. Sigalingging; Pembimbing: Martya Rahmaniati Makful; Penguji: Meiwita P. Budiharsana, Maria Gayatri
Abstrak: Penelitian ini membahas pengaruh jarak kelahiran terhadap kematian bayi usia 0 sampai 1 tahun dengan tujuan mengetahui gambaran pengaruh jarak kelahiran dengan kematian bayi di Indonesia berdasarkan karakteristik wilayah perdesaan dan perkotaan. Desain studi yang digunakan adalah potong lintang (cross sectional) dengan analisis multivariabel regresi logistik menggunakan data sekunder SDKI 2017. Jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebesar 4871 sampel dengan pembagian wilayah perkotaan 2294 sampel dan wilayah perdesaan 2577 sampel pada populasi WUS sudah menikah dan memiliki >1 anak. Hasil penelitian bivariat menunjukkan jarak kelahiran memiliki risiko terhadap kematian bayi usia 0 sampai 1 tahun di perkotaan saja berdasarkan nilai OR. Variabel lainnya yang menunjukan hubungan terhadap kematian bayi usia 0 sampai 1 tahun berdasarkan P value <0,05 adalah jumlah anak yang dilahirkan, kelengkapan melakukan layanan ANC, dan keinginan ibu memiliki anak lagi. Setelah dilakukan analisis pemodelan terdapat perubahan hasil di kedua wilayah. Di perkotaan, hasil analisis multivariabel yang menunjukan faktor risiko kematian bayi usia 0 sampai 1 tahun berdasarkan AOR>1 adalah jarak kelahiran 5 tahun, usia ibu pertama melahirkan 30 tahun, jumlah anak yang dilahirkan >3, tingkat pendidikan tidak sekolah/SD, ANC tidak lengkap, dan ibu menginginkan anak lagi. Di perdesaan, faktor risikonya adalah jarak kelahiran 5 tahun, usia ibu pertama melahirkan 30 tahun, jumlah anak yang dilahirkan >3, ANC tidak lengkap, ibu menginginkan anak lagi. Faktor risiko dominan terhadap kematian bayi usia 0 sampai 1 tahun di kedua wilayah adalah ibu yang melahirkan >5 anak. Dapat disimpulkan jarak kelahiran memiliki hubungan terhadap kematian bayi usia 0 sampai 1 tahun di wilayah perkotaan, sedangkan di wilayah perdesaan jarak kelahiran menjadi faktor risiko setelah dilakukan analisis pemodelan. Terdapat beberapa kesamaan dan perbedaan faktor risiko kematian bayi usia 0 sampai 1 tahun di kedua wilayah, sehingga faktor risiko bervariasi menurut karakteristik wilayah.
Read More
S-10998
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Eska Riyanti Kariman; Pembimbing: Budi Utomo, Besral; Penguji: Sabarinah B Prasetyo, Murtiningsih, Indra Supradewi
Abstrak:

Tingkat pemakaian kontrasepsi pil di kalangan wanita PUS cukup tinggi, hal itu terlihat dari data pemakaian kontrasepsi pil hasil SDKI 2002103 sebesar 13,2 % . Tingginya prevalensi pemakaian kontrasepsi pil tersebut tidak dibarengi dengan tingginya tingkat kelangsungan pemakaian, hasil SDKI 1997 tercatat 34 % pemakai pit tidak menggunakan lagi setelah sate tahun_ Angka putus pakai (drop out) pil ini merupakan yang kedua tertinggi setelah kondom. Tingkat kelangsungan pemakaian kontrasepsi pil arnat dipengaruhi oleh kedisiplinan dan kepatuhan akseptor dalam memakainya. Hal tersebut dimungkinkan bila akseptor memiliki pengetahuan dan informasi yang cukup yang dapat diperoleh melalui konseling yang dilakukan oleh petugas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan konseling kontrasepsi dengan tingkat kelangsungan pemakaian kontrasepsi pil. Data yang digunakan adalah data sekunder SDKI 2002103. Disain penelitian adalah crossectional dengan kajian statistik analisis survival. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata tingkat kelangsungan pemakaian kontrasepsi pil adalah 31 bulan dengan median survivalnya 37 bulan. Probabilitas kelangsungan pemakaian kontrasepsi pil setelah bulan ke-12 adalah 62 % dan probabilitas kelangsungan setelah bulan ke-60 adalah 31 %. Probabilitas kelangsungan pernakaian kontrasepsi pil setelah bulan ke-12 pads kelompok yang mendapat konseling kontrasepsi adalah 66%, sedangkan pada kelompok yang tidak mendapatkan konseling kontrasepsi 56 %. Risiko untuk putus pada akseptor pil yang tidak mendapatkan konseling adalah 1.6 kali bila bertempat tinggal dikota dan 1.5 kali bila tinggal didesa. Risiko untuk putus pada akseptor pil yang tidak konseling adalah 1.6 kali bila tidak ada efek camping dan menjadi 2 kali bila ada efek samping. Tingginya risiko putus pemakaian kontrasepsi pil di wilayah perkotaan perlu mendapatkan perhatian dari pengelola program Keluarga Berencana. Dugaan sementara hal ini dijumpai didaerah kota pinggiran atau daerah kumuh, untuk itu kegiatan konseling kontrasepsi yang lebih intensif terkait dengan akseptor di daerah tersebut hares ditingkatkan misalnya melalui kunjungan petugas yang lebih sering ke rumah diharapkan dapat menurunkan risiko putus pakai. Kegiatan konseling pada prinsipnya dilakukan untuk mengurangi kekhawatiran akseptor akan efek sarnping yang ditimbulkan kontrasepsi selama pemakaiannya.


Prevalence of pill contraception used among reproductive woman are high, it can seen at SDKI 2002/03 which is about 13,2 %. This height prevalence is not followed with the-continuity rate, only 34 % of women still used pill contraception within 12th month recorded in SDKI 1997. This rate as highest secondly after condom. The pill contraception continuity rate is influenced by discipline and compliance of acceptor in using it.That things is possible when acceptor have enough knowledge and information about contraception usage which they can get it from councelling by family planning officer. This study is aimed to gain information on relationship of contraception counselling with the period of time pills uses. This study uses secondary data SDKI 2002/03. Study design used is crossectional with statistical survival analysis. The result study shows that mean of pill contraception continuity rate are 31 month with median survival are 37 month. The Probabilities of pills continuity rate after 12th month are 62 percent and probabilities of pills continuity rate after 60th month are 31 percents. Probabilities of pills continuity rate after 12'h month in whom that receive counsellings are 66 percents, men while the group whom that not receive counselling only 56 percent. The risk of drop out among the pills acceptbr whom that not receive counsellings are 1,6 times if they lives at the city and 1,5 times if they lives at the village. The risk of drop out pills among acceptor whom that not receive counsellings are 1,6 times if they not have side effect and it can be 2 times if they have side effects. The height risk of drop out pills among acceptors in urban region need to get more attentions from the organizer of family planning program. Momentary, assumption whereas this matter is met in marginal town area or slum region, for that more intensive program of counselling contraception related to acceptor in the are, for example more regular follow up to the acceptors whom lives at this area and had side effect. The principle of counseling is to lessen the worried feeling of the acceptor with the side effects generated by contraception during its usage.

Read More
T-2280
Depok : FKM-UI, 2006
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ratna Widia; Pembimbing: Tris Eryando; Penguji: Popy Yuniar, Rahmadewi
Abstrak: Permasalahan yang ditakutkan akan memiliki dampak besar pada keberhasilan program KB dalam mengendalikan jumlah penduduk Indonesia adalah kejadian putus pakai kontrasepsi. Data SDKI 2017 melaporkan sekitar 29% perempuan dengan bermacam metode kontrasepsi memutuskan untuk menyudahi penggunaan alat kontrasepsi setelah 12 bulan pemakaian. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan melihat perbedaan determinan kejadian putus pakai kontrasepsi pada wanita usia subur (15-49 tahun) antara Wilayah Barat Indonesia (Sumatera) dan Wilayah Timur Indonesia (Nusa Tenggara, Maluku, Papua). Penelitian ini menggunakan data Survei Demografi Kesehatan Indonesi tahun 2017. Populasi dalam penelitian ini adalah wanita usia subur (15-49 tahun). Variabel dependen dalam penelitian ini yaitu putus pakai kontrasepsi, sedangkan variabel independent penelitian ini adalah umur, paritas, preferensi fertilitas, tingkat pendidikan, status pekerjaan, daerah tempat tinggal, indeks kekayaan, metode kontrasepsi yang dihentikan, penggunaan internet, dan kepemilikan ponsel. Regresi logistic multivariable digunakan untuk mengidentifikasi faktor yang paling berhubungan dengan putus pakai kontrasepsi di kedua wilayah tersebut. Tingkat putus pakai kontrasepsi di Wilayah Sumatera mencapai 45,7% dan di Wilayah Nusa Tenggara, Maluku, Papua mencapai 41,2%. Alasan paling umum untuk seorang wanita putus pakai kontrasepsi di Wilayah Sumatera dan Nusa Tenggara, Maluku, Papua adalah karena efek samping/masalah kesehatan. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa variabel tingkat pendidikan (OR 2,63) merupakan determinan terbesar terhadap putus pakai konrasepsi di Wilayah Sumatera diikuti oleh daerah tempat tinggal (OR 1,13). Sedangkan determinan terbesar terhadap putus pakai kontrasepsi di Wilayah Nusa Tenggara, Maluku, Papua adalah daerah tempat tinggal (OR 1,42). Konseling dan edukasi terkait metode kontrasepsi dan efek samping/masalah kesehatan yang mungkin muncul perlu digencarkan terutama pada kelompok tingkat pendidikan tinggi dan tinggal di perkotaan.
The problem that is feared will have a major impact on the success of the family planning program in controlling the population in Indonesia is the incidence of discontinuation of contraceptive use. The 2017 IDHS data reported that around 29% of women with various contraceptive methods decided to stop using contraceptives after 12 months of use. This study aim to describe the comparison of determinants of contraceptive discontinuation between the Western Region of Indonesia (Sumatera) and the Eastern Region of Indonesia (Nusa Tenggara, Maluku, Papua). This study uses Indonesia Demography Health Survey (IDHS) 2017. The population for this study is a women of childbearing age 15-49 years old. The dependent variable in this study is the contraceptive discontinuation, while the independent variable of this study are age, parity, fertility preferences, level of education, occupation, area of residence, wealth index, discontinued contraceptive method, internet use, and mobile phone ownership. Multivariable logistic regression was used to identify the predictors of contraceptive discontinuation. The proportion of respondent who discontinue using contraceptive was 45,7% (Sumatera) and 41,2% (Nusa Tenggara, Maluku and Papua). The most common reason for discontinuation in Sumatra and Nusa Tenggara, Maluku, Papua is because of side effects/health problems. The results of the multivariate analysis showed that the variable level of education (OR 2,63) was the largest determinant of contraceptive discontinuation in Sumatra, followed by area of residence (OR 1,13). Meanwhile, the biggest determinant of discontinuation of contraceptive use in Nusa Tenggara, Maluku, Papua is the area of residence (OR 1,42). Counseling and education related to contraceptive methods and side effects/health problems that may arise need to be intensified, especially in the group with higher education levels and living in urban areas.
Read More
S-11027
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hesty Rahayu; Pembimbing : Besral; Penguji: Martya Rahmaniati Makful, Flourisa J. Sudrajat
S-6720
Depok : FKM-UI, 2011
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive