Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 31705 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Sulfi Udi; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji; Yovsyah, Rosita Alkatiri, Havid Syadri Banda
Abstrak: Penentuan daerah focus eliminasi malaria adalah sebagai upaya menghentikan penularan malaria di suatu wilayah geografi tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko terjadinya penularan malaria di Kota Ternate, yang telah dideklarasikan sebagai wilayah focus eliminasi malaria. Desain penelitian menggunakan case-control, dengan mengambil semua temuan kasus malaria dari 2020-2022. Total sampel penelitian sebanyak 46 kasus yang didasarkan pada hasil pemeriksaan laboratorium dan 92 kontrol dari hasil survei kontak pasien dan terbukti negative malaria secara laboratoris. Hasil penelitian diperoleh 95.7% merupakan kasus impor, Sebagian besar kasus adalah laki-laki (93.5%), berusia <30 tahun (47.8%), pekerja (87%), dan berlatar pendidikan SMA (80.4%). Berdasarkan faktor risiko, kasus lebih banyak ditemukan pada responden dengan jarak breeding place ≤1.5 km (69.6%), memiliki kebiasaan di luar rumah (67.4%), Riwayat perjalanan daerah endemis malaria (95.7%), dan tidak menggunakan insektisida (56.5%). Hasil analisis multivariat menunjukkan faktor risiko malaria adalah laki-laki (40.11; 7.11 ? 62.40), Riwayat perjalanan ke daerah endemis (OR= 13.97; 2.24 ? 27.18), dan jarak ≤1.5 km dari breeding place (OR= 3.48; 1.29 ? 9.38). Kebiasaan di luar rumah berperan protektif terhadap terjadinya malaria (OR = 0.16; 0.04 ? 0.64). Diperlukan adanya evaluasi menyeluruh mengenai masih terjadinya penularan malaria secara local di lokasi studi. Peningkatan kualitas system surveilans malaria sangat penting agar dapat menyajikan data yang lengkap sesuai form standar dan menjadi pertimbangan pengambilan kebijakan.
Determining the focus area for malaria elimination is an effort to stop malaria transmission in a specific geographical area. This study aims to analyze the risk factors for malaria transmission in Ternate City, which has been declared a focus area for malaria elimination. The study was a case control, taking all findings of malaria cases from 2020-2022. The study's total sample was 46 cases based on the results of laboratory tests and 92 controls from a survey of patient contacts and laboratory-proven malaria negative. The results showed that most of the cases were import cases (95.7%), male (93.5%), aged <30 years (47.8%), workers (87%), and high school education background (80.4%). Based on risk factors, more cases were found in respondents with a breeding place distance of ≤1.5 km (69.6%), had a habit of being outside the home (67.4%), had a history of traveling to malaria-endemic areas (95.7%), and not use insecticides (56.5%). The risk factors for malaria were male (40.11; 7.11 ? 62.40), history of travel to endemic areas (OR= 13.97; 2.24 ? 27.18), and distance ≤1.5 km from breeding places (OR= 3.48; 1.29 ? 9.38 ). The behavior outside the home played a protective role against malaria (OR = 0.16; 0.04 ? 0.64). There is a need for a thorough evaluation regarding the persistence of malaria local transmission in the study location. Improving the quality of the malaria surveillance system is very important so that it can present complete data according to a standard form and become a consideration for policymaking.
Read More
T-6530
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
I Made Winarta; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Nuning Maria Kiptiyah, Helda, I Nyoman Kandum, Sholah Imari
T-3434
Depok : FKM-UI, 2011
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fitri Wahyuni; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Yovsyah, Desriana Elizabeth Ginting
Abstrak: Malaria masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang dapat menyebabkan kematian terutama pada kelompok risiko tinggi, yaitu bayi, anak balita, dan ibu hamil. Selain itu, malaria secara langsung menyebabkan anemia dan dapat menurunkan produktivitas kerja. Pada tahun 2010 di Indonesia terdapat 65% kabupaten endemis dimana sekitar 45% penduduk di kabupaten tersebut berisiko tertular malaria. Pada tahun 2020 terdapat 515 kasus malaria di Kabupaten Batu Bara, dan pada tahun 2021 meningkat menjadi 952 kasus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko kejadian malaria di Kabupaten Batu Bara. Penelitian ini menggunakan desain kasus-kontrol dimana seluruh responden berusia 12 tahun ke atasdimana kasus adalah pasien yang berkunjung ke puskesmas dengan gejala demam dengan hasil pemeriksaan positif dan kontrol adalah mereka yang memiliki gejala demam dengan hasil pemeriksaan negatif malaria. Dari hasil analisis multivariat dengan melibatkan semua faktor risiko secara bersamaan, terlihat variabel yang mempengaruhi kejadian malaria secara signifikan adalah faktor usia dan keberadaan kandang ternak. Berdasarkan kategori usia, maka terlihat responden berusia 12-17 tahun terukur memiliki risiko tertular malaria tertinggi (AOR= 3,85; 1,40 – 10,59) dibandingkan kelompok usia 18-40 tahun (AOR= 1,79; 0,70 – 4,58). Responden yang menyatakan terdapat kandang ternak besar di sekitar tempat tinggal lebih berisiko 3 kali tertular malaria dibandingkan dengan responden yang tidak berdekatan dengan kandang ternak.
Malaria is still one of the leading public-health problems that can cause death primarily in high-risk groups, namely, infants, toddlers, and expectant mothers. In addition, malaria directly causes anemia and can lower labor productivity. In 2010, in Indonesia, 65% of endemic districts were at risk of contracting malaria. By 2020 there are 515 cases of malaria in Batu Bara, and by 2021 rising to 952. The purpose of this study is to know the risk factors in the incidence of malaria in the Batu Bara. It uses a case-control design. The responders are 12 years of age and above where the cases are those who visit the health center with fever symptoms and positive malaria and controls are those with symptoms of a fever with a malaria negative. From multivariat analysis involving all risk factors simultaneously, there is a significant variable affecting the incidence of malaria that is both the age and the existence of a cattle cage. According to the age category, it shows 12-17 year old respondents with the highest risk of contracting malaria (AOR = 3.85; 1.40-10.59) by those ages 18-40 (AOR= 1.79; 070-4.58). Those who claim that there is a corral in the neighborhood, having a three times greater risk of contracting malaria than those who not.
Read More
T-6660
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Salma Sabira; Pembimbing: Helda; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Yovsyah, Lukman Hakim, Yuliandri
Abstrak:
Kabupaten Purworejo mengalami peningkatan kasus malaria setempat kembali pada tahun 2021 dan Kecamatan Bener adalah Kecamatan tertinggi penyumbang kasus malaria. Penelitian epidemiologi mengenai malaria yang banyak dilakukan selama ini adalah penelitian mengenai faktor risiko malaria yang pengukurannya bertujuan untuk mengetahui biobehavioral effect pada tingkat individu. Di Indonesia belum banyak dilakukan penelitian mengenai faktor risiko terjadinya malaria yang menggabungkan analisis tingkat individu dan tingkat ekologi. Penelitian ini ingin mengetahui faktor-faktor yang berperan terhadap kejadian malaria di Kecamatan Bener Kabupaten Purworejo. Desain studi yang digunakan adalah gabungan dua rancangan studi yaitu rancangan studi cross sectional dan studi ekologi. Sebanyak 1240 subjek dan 28 desa yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelitian dengan analisis multilevel menunjukkan bahwa variabel individu yang berperan terhadap kejadian malaria adalah usia yang lebih tua ≥35 tahun (OR 2,307; 95% CI 1,511-3,481) dan jenis kelamin laki-laki (OR 6,944; 95% CI 49), pada variabel kontekstual yang berperan terhadap kejadian malaria adalah endemisitas tinggi (IOR 14,077-129,207) dan keberadaan pohon tinggi (IOR 0,563-4,766). Peran kontribusi 2 variabel kontekstual terhadap kejadian malaria sebesar 83,795%. Penanganan malaria difokuskan pada wilayah dengan tingkat endemisitas tinggi dan keberadaan pohon tinggi agar kelompok individu yang berisiko (usia ≥35 tahun dan jenis kelamin laki-laki) meningkatkan perilaku pencegahan.

In 2021, Purworejo Regency in Indonesia saw a rise in local malaria cases, with Bener District having the highest number. The research aimed to understand the factors influencing the incidence of malaria in Bener District, using a cross-sectional and ecological study design. The study involved 1240 subjects and 28 villages, with results showing that older age (OR 2.307; 95% CI 1.511-3.481) and male gender (OR 6.944; 95% CI 49) are the main individual variables affecting malaria incidence. Contextual variables, such as high endemicity (IOR 14.077-129.207) and the presence of tall trees (IOR 0.563-4.766), also play a role in malaria incidence. The contribution of these variables is 83.795%. Malaria management is now focusing on areas with high levels of endemicity and tall tree presence to encourage preventive behavior among individuals at risk, particularly those aged 35 or more and male.
Read More
T-7012
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yuda Triyuni Sakdiah; Pembimbing: Renti Mahkota; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Sri Endang Kusdiningsih
S-5917
Depok : FKM-UI, 2010
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ferizal Masra; Pembimbing: Lukman Hakim Tarigan; Penguji: Tri Yunis Miko, Dewi Susanna, Suherman, Sonny Priajaya Warouw
Abstrak:
Di Indonesia, penyakit malaria masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat, terutama di daerah luar Jawa Bali. Di daerah-daerah tersebut masih sering terjadi letusan wabah yang menimbulkan banyak kematian. Pemberantasan penyakit malaria dapat dilakukan dengan pemutusan rantai penularannya, melalui upaya menghilangkan tempat perindukan nyamuk Anopheles di sekitar rumah, sehingga nyamuk tidak dapat berkembangbiak. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kekuatan hubungan antara tempat perindukan nyamuk dengan kejadian malaria di Kecamatan Teluk Betung Barat Kota Bandar Lampung Tahun 2002. Desain penelitian yang digunakan adalah Kasus-Kontrol dengan jumlah sampel sebanyak 196 orang dan menggunakan alat pengumpul data berupa kuesioner. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa keberadaan tempat perindukan nyamuk yang berjarak kurang dari 2 km dari pemukimam mempunyai hubungan yang bermakna dengan kejadian malaria, dengan nilai OR sebesar 3,774 (95 % CI: 1,975-7,211), dan setelah dikontrol oleh variabel lain, yakni pekerjaan dan pemakaian kelambu yang berperan sebagai faktor konfonding, nilai OR menjadi 3,687 (95 % Cl: 1,819-7,473). Aktifitas di luar rumah pada malam hari, Pemasangan kassa pada ventilasi rumah, dan lama bermukim di wilayah penelitian, merupakan variabel yang mempunyai hubungan langsung dengan kejadian malaria, akan tetapi tidak mempunyai pengaruh secara bermakna terhadap hubungan antara tempat perindukan nyamuk dengan kejadian malaria. Disarankan agar masyarakat lebih berperan aktif dalam pemberantasan penyakit malaria dengan upaya membersihkan tempat perindukan nyamuk di sekitar rumahya, melakukan perlindungan individu dan perlindungan rumah/keluarga terhadap gigitan nyamuk Anopheles. Dan bagi Pemerintah Daerah bersama-lama dengan Dinas Kesehatan agar lebih intensif lagi melaksanakan kegiatan pemberantasan penyakit malaria dengan lebih melibatkan peran serta aktif masyarakat dan melaksanakan penyuluhan tentang pendidikan kesehatan masyarakat secara intensif. In Indonesia, malaria diseases remains one of public health problems, mainly at the districts beyond Java and Bali.Within those districts, frequently occurs the outbreaking disease with result to the mortality case. Malaria disease elimination through breaking down the infection linking by cleaning up the Anopheles breeding places around the house, in order the mosquito could not growth. The research is conducted to find assosiation strength between breeding place with malaria incidence in Kecamatan Teluk Behmg Barat, Kota Bandar Launpung Tahnm 2002.

Research design used is Case-Control with total sample are 196 peoples and using questioner as collecting instrument The research shows that the existence of breeding place which the distance is less than 2 km from community residence have significant assosiation with malaria incidence, with OR is 3,774 (95% CI : 1,975 - 7,211), and controlled by another variables, that is occupational and bad net used which plays role as confounding factor, then OR becomes 3,687 (95% CI : 1,819 - 7,473). Night outdoor activities, screening applied on ventilation, length of stay in the research area, are the direct variables to the malaria incidence without having significant influence to the relation between breeding place and malaria incidence. The community is advised to participate actively in eliminating the malaria disease by cleaning up the breeding place of mosquito around the house, individual protecting and house/flintily protecting against anopheles bitting. The District Government and Provincial health authority are expected to work together intensively in malaria eliminating by involving community roles, and conducting counseling about conummity health education intensively.
Read More
T-1443
Depok : FKM UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ayu Nurdiantika Sari; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Yovsyah, Inge Sutanto, Ayleen Alicia Kosasih
Abstrak: Malaria merupakan penyakit menular yang penyebab utamanya adalah parasit (Protozoa) dari genus Plasmodium, cara penularannya melalui perantara nyamuk dari genus Anopheles betina yang terinfeksi. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah masih tingginya kejadian malaria di Kab. Belu Nusa Tenggara Timur Indonesia. Tujuan dari penelitian ini untuk menganalisis dan mengukur besarnya faktor risiko yang berhubungan terhadap kejadian malaria. Penelitian ini menggunakan desain study cross-sectional. Penelitian ini merupakan bagian dari penelitian mass screening & selective treatment oleh Sutanto et al pada tahun 2013 di Kabupaten Belu, NTT, Indonesia. Jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian sebanyak 1113 Subjek. Analisis menggunakan cox regression dengan tingkat kemaknaan α = 5% dan nilai confidence interval 95%. Hasil analisis multivariat dengan cox regression, menunjukkan faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian malaria di Kab. Belu NTT yaitu umur PR 4.901 95% CI (3.093-7.766) p value 0.000, pekerjaan PR 3.838 95% CI (2.536-5.808) p value 0.000, penggunaan obat malaria PR 0.448 95% CI (0.239-0.839) p value 0.012, dan Desa. Disimpulkan bahwa umur, pekerjaan, konsumsi obat antimalaria, dan Desa merupakan faktor risiko kejadian malaria di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur Indonesia
Malaria is an infectious disease transmitted by Protozoa of the genus Plasmodium through an infected female Anopheles mosquito. This study is conducted due to the high malaria incidence in Kab. Belu, East Nusa Tenggara, Indonesia, which presents itself as a public health threat. Study aims include analyzing and measuring the magnitude of the risk factors associated with malaria incidence. This study utilized a cross-sectional study design, and is part of a larger surveillance study by Sutanto et al in 2013, which conducts large-scale mass screening and selective treatment in Belu Regency, NTT, Indonesia. The number of samples included in the study were 1113 subjects, with statistical analysis using cox regression models with 5% significance level and 95% confidence interval. The results of multivariate analysis suggested that the the risk factors associated with the malaria incidence were (1) age PR 4.901 95% CI (3.093-7.766) p value 0.000, (2) occupation PR 3.838 95% CI (2.536-5.808) p value 0.000, (3) malaria drug use PR 0.448 95% CI (0.239-0.839) p value 0.012, and (4) village location. Therefore, malaria incidence in Belu District, East Nusa Tenggara Indonesia, were heavily influenced by age, occupation, consumption of antimalarial drugs, and strategic village position for malaria vector breeding grounds
Read More
T-6153
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yozua Toar Kawatu; Pembimbing: Bambang Wispriyono; Penguji: Dewi Susana, Laila Fitria, Adhi Sambodo
Abstrak: Abstrak

Malaria merupakan masalah kesehatan dunia termasuk Indonesia karena mengakibatkan dampak yang luas dan berpeluang menjadi penyakit emerging dan re-emerging. Di Wilayah South East Asian Region (SEARO) yang Indonesia menjadi salah satu negara anggotanya, malaria merupakan masalah kesehatan masyarakat yang utama. Data Kasus Baru malaria tahun 2009/2010 di seluruh Indonesia berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2010 adalah 22,9 per mil, sedangkan di Provinsi Sulawesi Utara (61,7?).

Penelitian ini menggunakan desain cross sectional yang bertujuan untuk memperoleh gambaran karakteristik individu, faktor lingkungan dan perilaku yang berhubungan dengan kejadian malaria klinis di Provinsi Sulawesi Utara 2010. Penelitian dengan studi kuantitatif melibatkan 2272 subyek penelitian yang diperoleh data dari Riskesdas 2010, dengan jumlah kejadian malaria klinis sebanyak 408 subyek. Dari 20 variabel yang dianalisis multivariat di Provinsi Sulawesi Utara didapatkan ada 6 variabel yang berhubungan secara signifikan yaitu : pendidikan : OR = 2,04 (95% CI : 1,59 ? 2,62) dengan p value = 0,000, rawa-rawa : OR = 1,57 (95% CI : 1,10 ? 2,25), dengan p value = 0,014, pantai : OR= 0,49 (95% CI : 0,31 ? 078) dengan p value = 0,003, perkebunan : OR = 1,58 (95% CI : 1,25 ? 2,00) dengan p value = 0,000, tidur menggunakan kelambu : OR = 0,59 (95% CI : 0,41 ? 0,85) dengan p value = 0,005 dan memakai obat nyamuk bakar/elektrik : OR = 0,59 (95% CI : 0,45 - 0,78) dengan p value = 0,000.

Analisis juga dilakukan pada 8 Kabupaten dan 4 Kota di provinsi Sulawesi Utara dan hasilnya ada 4 Kabupaten dan 2 Kota yang sebagian variabel mempunyai hubungan signifikan dengan kejadian malaria klinis yaitu : Kabupaten Kepulauan Talaud, Kabupaten Minahasa, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Kota Manado, Kota Tomohon dan Kabupaten Minahasa Utara.

Disarankan kepada masyarakat yang tinggal di sekitar rawa-rawa, pantai dan perkebunan hendaknya selalu menjaga kebersihan lingkungan serta memakai obat nyamuk bakar/elektrik. Untuk Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Utara pelaksanakan program "Gebrak Malaria" hendaknya lebih diintensifkan dan melibatkan seluruh lapisan masyarat. Untuk peneliti lain supaya dapat melakukan penelitian yang lebih mendalam tentang Malaria atau Malaria Klinis di daerah endemis malaria di Provinsi lain dengan menggunakan data hasil Riskesdas 2010 atau data terbaru di wilayah tersebut.


Malaria is a global health problem, including Indonesia, because it resulted in a broad impact and may appear and re-emerging diseases. Regional Southeast Asia Region (SEARO) and Indonesia became one of its member countries, malaria is a major public health problem. The new malaria cases in 2009/2010 Data for Health Research in Indonesia based on the Basic (Riskesdas) 2010 is 22.9 per mile, whereas in the Province of North Sulawesi (61.7 ?).

This study uses cross sectional design which aims to obtain a picture of individual characteristics, environmental factors and behaviors associated with the incidence of clinical malaria in North Sulawesi province in 2010. Research with quantitative studies involving 2272 subjects who obtained the data from Riskesdas 2010, with the incidence of clinical malaria as much as 408 subjects. Of the 20 variables in the multivariate analysis of the North Sulawesi province to find there are six significant variables related to: Education: OR = 2.04 (95% CI: 1.59 to 2.62) with p-value = 0.000, bog: OR = 1, 57 (95% CI: 1.10 to 2.25), with a p-value = 0.014, coast: OR = 0.49 (95% CI: 0.31 to 078) with a p-value = 0.003, plantations: OR = 1 , 58 (95% CI: 1.25 to 2.00) with p-value = 0.000, using mosquito nets to sleep: OR = (95% CI: 0.41 to 0.85) 0.59 with a p-value = 0.005 and use mosquito repellent/electric: OR = 0.59 (95% CI: 0.45 to 0.78) with p-value = 0.000.

The analysis was also conducted in eight counties and four cities in the province of North Sulawesi and the results there are four counties and two cities that some variables have a significant relationship with the incidence of clinical malaria namely: Talaud Islands, Minahasa, Sangihe Regency, Manado, Minahasa regency Tomohon and north.

It is recommended for people who live in the vicinity, the coast marshes and plantations should always keep the environment clean and using mosquito repellent / electric. For the North Sulawesi Provincial Health Office, the implementation of "Gebrak Malaria" program should be improved and involve all layers masyarat. For other researchers to conduct more in-depth research on Malaria, Clinical malaria or malaria in endemic areas in other provinces using data from Riskesdas 2010 or latest data in the region.

Read More
T-3488
Depok : FKM-UI, 2012
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tubianto Anang Zulfikar; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, I Nyoman Kandun
T-3297
Depok : FKM UI, 2011
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Adny Bendru; Pembimbing: Yovsyah; Krisnawati Bantas; Penguji, Kiptiyah, Nuning Maria; Lukman Hakim, Agus Sugiarto
T-2284
Depok : FKM UI, 2006
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive