Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 41538 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Sulistyowati Tuminah; Pembimbing: Sudarto Ronoatmodjo; Penguji: Ratna Djuwita, Julianty Pradono, Nikson Sitorus
Abstrak:
"Latar belakang: Hipertensi, DM, dan stres psikologis masih menjadi masalah kesehatan yang belum sepenuhnya dapat dikendalikan. Tujuan: menilai kejadian hipertensi dan besaran risiko akibat efek gabungan antara DM dan stres psikologis pada orang dewasa. Metode: Analisis menggunakan data sekunder Studi Kohor Faktor Risiko Penyakit Tidak Menular (FRPTM). Disain studi yaitu studi kohor retrospektif. Populasi: Data penduduk berusia 25 tahun ke atas (saat baseline) yang menjadi responden Studi Kohor FRPTM di Kota Bogor, Jawa Barat. Inklusi: Data yang lengkap pada wawancara/pengukuran/ pemeriksaan. Eksklusi: Data subyek yang hipertensi saat baseline. Sampel: Data penduduk berusia 25 tahun ke atas (saat baseline) yang menjadi responden Studi Kohor FRPTM di Kota Bogor, Jawa Barat. Sebanyak 3165 data subyek dianalisis dengan regresi Cox. Hasil: Hipertensi yang ditemukan sebanyak 207 orang (6,6%). Relative risk (RR) untuk terjadinya hipertensi akibat adanya efek gabungan antara DM dan stres psikologis sebesar 2,20 dengan 95% CI (1,030?4,711) setelah dikontrol oleh jenis kelamin dan obesitas. Interaksi yang didapatkan bersifat sinergis (positif). Kejadian hipertensi yang disebabkan karena interaksi sebesar 30%. Kesimpulan: Kelompok subyek dengan DM dan stres psikologis berisiko untuk terjadinya hipertensi sebesar 2,20 kali lebih tinggi dibandingkan kelompok subyek tanpa DM dan tanpa stres psikologis dengan hubungan yang bermakna secara statistik.

Background: Hypertension, DM, and psychological distress are still health problems that cannot be fully controlled. Purpose: to assess the proportion of hypertension and the magnitude of the risk due to the combined effect of DM and psychological distress in adults. Methods: Analysis using secondary data of Cohort Study on Non-Communicable Disease Risk Factors (NCDRF). The study design was a retrospective cohort study. Population/sample: Data of respondents of the NCDRF Cohort Study in Bogor City, West Java aged 25 years and over (at baseline). Inclusions: Complete data on interviews/ measurements/examinations. Exclusion: Data of hypertensive subjects at baseline. A total of 3165 subject data were analyzed with Cox regression. Results: Hypertension was found in 207 people (6.6%). The relative risk (RR) for the occurrence of hypertension due to the combined effect of DM and psychological distress is 2.20 with a 95% CI (1.030-4.711) after controlling for gender and obesity. The interactions obtained are synergistic (positive). The incidence of hypertension caused by interactions is 30%. Conclusion: The group of subjects with DM and experiencing psychological stress has a risk of developing hypertension by 2.20-fold higher rather than the group of subjects without DM and without psychological distress with a statistically significant association.
Read More
T-6535
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Pradita Rani Nurharianti; Pembimbing: Nasrin Kodim, Ratna Djuwita; Penguji: Fidiansjah, Uswatun Hasanah
Abstrak: Prediabetes merupakan golden period dalam menunda terjadinya diabetes melitus tipe 2 karena pada periode ini perjalanan penyakit masih bisa dihentikan.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak stres pada konversi prediabetes menjadi diabetes melitus tipe 2 pada orang dewasa. Penelitian ini menggunakan desain kohort retrospektif. Data yang digunakan adalah data sekunder dari Studi Kohort Faktor Risiko untuk Penyakit Tidak Menular di Bogor, Indonesia. Pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan sejak 2011 hingga 2015 dengan total populasi 5.890. Berdasarkan kriteria eksklusi dan inklusi, total subjek penelitian adalah 1059. Selama 5 tahun pengamatan, di antara subjek usia dewasa prediabetik ada 169 subjek yang dikategorikan sebagai T2DM dan 219 subjek dikategorikan sebagai stres. Analisis bivariat menunjukkan bahwa stres dan usia pada awal merupakan faktor risiko pada konversi pradiabetes menjadi T2DM (p <0,05). Model akhir pada analisis multivariat, menunjukkan hazard rasio stres sebesar 1,815 (95% CI: 1,307 - 2,520) dengan p <0,05. Temuan ini, diharapkan dapat digunakan sebagai informasi dan motivasi dalam upaya melakukan pencegahan dan pengendalian T2DM. Terutama pada individu dengan prediabetes yang menderita stres karena memiliki pengaruh terhadap konversi prediabetes menjadi T2DM.
Kata kunci: Diabetes melitus tipe 2, prediabetes, stres, dewasa

Prediabetes is a golden period in delaying the occurrence of type 2 diabetes mellitus because in this period the course of the disease can still be stopped. The study aim was to knowing the impact of stress on the conversion of prediabetes to type 2 diabetes mellitus in adults. This study used retrospective cohort design. The data used are secondary data from the Cohort Study of Risk Factors for Non-Communicable Diseases in Bogor, Indonesia. Data collection in this study was carried out since 2011 until 2015 with a total population of 5890. Based on the exclusion and inclusion criteria, the total of study participants were 1059. During 5 years of follow-up, among prediabetic adults there were 169 subjects categorized as T2DM and 219 subjects categorized as stressed. Bivariate analysis shows that stress and age at baseline is a risk factor on the conversion of prediabetes to T2DM (p < 0,05). Final model on multivariate analysis, shows the hazard ratio of stress was 1.815 (95% CI: 1.307 - 2.520) with p < 0.05. This findings, expected to be used as information and motivation in an effort to make prevention and control of T2DM. Especially in individuals with prediabetes who suffer from stress because it has an impact with conversion of prediabetes to T2DM.
Key words: Type 2 diabetes mellitus, prediabetes, stress, adults
Read More
T-5471
Depok : FKM UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ba'da Febriani; Pembimbing: Trisari Anggondowati; Penguji: Sudarto Ronoatmodjo, Misti
Abstrak:

Diabetes melitus (DM) masih menjadi tantangan bagi negara berkembang termasuk Indonesia. International Diabetes Federation (IDF) memproyeksikan angka DM di Indonesia akan meningkat 150%, menjadi 28,6 juta jiwa pada tahun 2045. WHO merekomendasikan kelompok berisiko untuk melakukan kombinasi dari konsumsi buah dan sayur ≥5 porsi/hari serta melakukan aktivitas fisik cukup untuk hasil optimal dalam menurunkan risiko DM. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan antara efek gabungan konsumsi buah-sayur dan aktivitas fisik dengan DM pada penduduk dewasa usia 18-64 tahun di Indonesia tahun 2023. Desain studi cross sectional dari data sekunder Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023 dengan total sampel 23.821 orang dewasa berusia 18-64 tahun di Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi DM pada orang dewasa sebesar 15,2%. Analisis multivariat dengan uji logistic regression menunjukkan asosiasi yang tidak signifikan antara konsumsi buah-sayur <3 porsi/hari dan aktivitas fisik kurang dibandingkan dengan penduduk dewasa yang mengonsumsi buah-sayur ≥5 porsi/hari dan aktivitas fisik cukup (RRCorrected 1,2; 95%CI 1,08-1,52 p value 0,607), artinya penduduk dewasa yang mengonsumsi buah-sayur <3 porsi/hari dan memiliki aktivitas fisik rendah memiliki tren peningkatan risiko DM sebesar 1,2 kali lebih tinggi dibandingkan orang dewasa yang mengonsumsi buah-sayur ≥5 porsi/hari dan aktivitas fisik cukup setelah dikontrol variabel usia, jenis kelamin, hipertensi dan obesitas sentral, meskipun tidak signifikan secara statistik. Optimalisasi upaya pencegahan DM dengan meningkatkan intake buah-sayur agar memenuhi rekomendasi ≥5 porsi/hari dapat dilakukan penduduk dewasa usia 18-64 tahun yang disertai dengan meningkatkan kegiatan aktivitas fisik baik sedang maupun berat serta meningkatkan kegiatan olah raga bersama baik di sekolah, kampus, kantor maupun di rumah. 


Diabetes mellitus (DM) remains a significant challenge for developing countries, including Indonesia. The International Diabetes Federation (IDF) projects that the number of DM cases in Indonesia will increase by 150%, reaching 28,6 million by 2045. The World Health Organization (WHO) recommends that high-risk groups adopt a combination of consuming ≥5 servings of fruits and vegetables per day and engaging in sufficient physical activity for optimal results in reducing DM risk. This study aims to examine the association between the combined effects of fruit and vegetable consumption and physical activity on DM among adults aged 18–64 years in Indonesia in 2023. The study used a cross-sectional design with secondary data from the 2023 Indonesian Health Survey (SKI), involving a total sample of 23,821 adults aged 18–64 in Indonesia. The findings revealed that the prevalence of DM among adults was 15,2%. Multivariate analysis using logistic regression showed a non-significant association between consuming <3 servings of fruits and vegetables per day with insufficient physical activity compared to adults who consumed ≥5 servings per day and engaged in adequate physical activity (RRcorrected 1,2; 95% CI 1,08–1,52, p-value 0,607). This suggests that adults with low fruit and vegetable intake (<3 servings/day) and low physical activity had a trend of a 1,2 times higher risk of DM compared to those who met the recommended intake (≥5 servings/day) and had sufficient physical activity, after controlling for age, sex, hypertension, and central obesity—though the result was not statistically significant. To optimize DM prevention efforts, adults aged 18–64 should increase their fruit and vegetable intake to meet the recommended ≥5 servings per day, alongside increasing moderate to vigorous physical activity and promoting group exercise activities in schools, universities, workplaces, and at home.

Read More
T-7322
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Alana Arumsari Pramono; Pembimbing: Ratna Djuwita; Penguji: Sudarto Ronoatmodjo, Woro Riyadina
Abstrak: Latar belakang: Penyakit jantung koroner merupakan salah satu penyakit tidak menular. Faktor risiko penyakit jantung koroner antara lain hipertensi, merokok, kolesterol tinggi, obesitas, dan rendahnya konsumsi buah dan sayuran. Menurut data Riskesdas pada tahun 2013, prevalensi penyakit jantung koroner dengan diagnosa dokter adalah sebesar 0,5%. Sedangkan pada tahun 2018 prevalensi penyakit jantung koroner dengan diagnosa dokter adalah sebesar 1,5%. Maka terjadi peningkatan oleh responden yang menderita penyakit jantung koroner. Penyakit jantung koroner disebabkan oleh penumpukan plak di dinding arteri yang memasok darah ke jantung dan bagian tubuh lainnya. Plak tersebut terdiri dari deposit kolesterol dan zat lain di arteri. Penumpukan plak menyebabkan bagian dalam arteri menyempit dari waktu ke waktu, yang sebagian atau seluruhnya dapat menghalangi aliran darah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan efek gabungan hipertensi dan obesitas dengan kejadian penyakit jantung koroner Metode: Pada analisis ini menggunakan analisis univariat untuk mengetahui proporsi dari varibel penelitian, analisis bivariat untuk mengetahui adanya hubungan pada variabel, analisis stratifikasi untuk mengetahui adanya confounding dan efek modifikasi. Analisis multivariat untuk mengetahui model akhir. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional. Hasil: didapatkan variabel penyakit jantung koroner 1,44%, hipertensi dan obesitas 9,77%, hipertensi dan tidak obesitas 9,64%, tidak hipertensi dan obesitas 22,04%, tidak hipertensi dan tidak obesitas 58,55%. Dan hubungan hipertensi dan obesitas terhadap penyakit jantung koroner setelah dikontrol oleh variabel usia dan jenis kelamin. Kesimpulan: Hubungan dari efek gabungan hipertensi dan obesitas dengan kejadian penyakit jantung koroner setelah dilakukan kontrol oleh variabel usia dan jenis kelamin
Background: Coronary heart disease is a non-communicable disease. Risk faktors for coronary heart disease include hypertension, smoking, high cholesterol, obesity, and low consumption of fruits and vegetables. According to Riskesdas data in 2013, the prevalence of coronary heart disease with a doctor's diagnosis was 0.5%. Meanwhile, in 2018 the prevalence of coronary heart disease with a doctor's diagnosis was 1.5%. Then there is an increase in respondents who suffer from coronary heart disease. Coronary heart disease is caused by the buildup of plaque on the walls of the arteries that supply blood to the heart and other parts of the body. The plaque consists of deposits of cholesterol and other substances in the arteries. Plaque buildup causes the inside of the arteries to narrow over time, which can partially or completely block blood flow. The purpose of this study was to determine the relationship between the combined effect of hypertension and obesity with the incidence of coronary heart disease Methods: This analysis uses univariate analysis to determine the proportion of research variables, bivariate analysis to determine the relationship between variables, stratification analysis to determine the presence of confounding and modification effects. Multivariate analysis to determine the final model. This study used a cross sectional design. Results: found coronary heart disease variables 1.44%, hypertension and obesity 9.77%, hypertension and not obesity 9.64%, not hypertension and obesity 22.04%, not hypertension and not obesity 58.55%. And the relationship of hypertension and obesity to coronary heart disease after being controlled by age and sex variables. Conclusion: The relationship of the combined effect of hypertension and obesity with the incidence of coronary heart disease after being controlled by age and sex variables
Read More
T-6129
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Riska Desti Ayu; Pembimbing: Nurhayati Adnan; Penguji: Yovsyah, Muhammad Sugeng Hidayat, Misti
Abstrak:
enyakit Jantung Koroner (PJK) merupakan salah satu penyebab kematian secara global dengan angka mortalitas hampir 17,5 juta setiap tahunnya. Merokok menyumbang 33% dan Hipertensi menyumbang 31% dari semua kematian akibat cardiovascular disease. Merokok dan Hipertensi merupakan faktor risiko utama PJK yang menjadi masalah serius yang perlu ditangani di Indonesia maupun dunia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui besar risiko merokok dan hipertensi dengan kejadian penyakit jantung koroner di Indonesia. Penelitian menggunakan desain kohort retrospektif. Data yang digunakan yaitu data sekunder Indonesian Family Life Survey (Data IFLS-4 dan IFLS-5 tahun 2007-2014) dengan total sampel 19.486 responden penduduk yang berusia ≥18 tahun. Analisis data dengan cox regression dan besar risiko dinyatakan dalam risk ratio (RR) dengan confidence interval (CI) 95%. Data analisis menggunakan software pengolah data. Hasil analisis multivariat setelah di kontrol berdasarkan jenis kelamin dan riwayat DM didapatkan bahwa merokok secara individual tidak berhubungan dengan PJK di Indonesia tahun 2007-2014 dengan nilai (RR 1,08 ; 95% CI = 0,70-1,67). Hipertensi secara individual meningkatkan risiko PJK (RR 1,19 ; 95% CI = 0,92-1,53). Merokok dan hipertensi secara bersama meningkatkan risiko PJK dibandingkan dengan orang yang tidak merokok dan tidak mempunyai hipertensi di Indonesia tahun 2007-2014 (RR 1,66 ; 95% CI = 1,11-2,48) artinya responden yang merokok dan hipertensi berisiko mengalami PJK 1,66 kali (95% CI; 1,11-2,48) dibandingkan dengan orang yang tidak merokok dan tidak hipertensi.

Coronary Heart Disease (CHD) is one of the leading causes of death globally with a mortality rate of nearly 17.5 million annually. Smoking accounts for 33% and hypertension accounts for 31% of all deaths from cardiovascular disease. Smoking and hypertension are major risk factors for CHD, which are a serious problem that needs to be addressed in Indonesia and the world. The purpose of this study was to determine the greater risk of smoking and hypertension with the incidence of coronary heart disease in Indonesia. The study used a retrospective cohort design. The data used are secondary data from the Indonesian Family Life Survey (IFLS-4 and IFLS-5 data for 2007-2014) with a total sample of 19,486 population respondents aged ≥18 years. Data analysis with cox regression and the amount of risk is expressed in risk ratio (RR) with a confidence interval (CI) of 95%. Data analysis using data processing software. The results of multivariate analysis after being controlled by sex and DM history showed that smoking individually was not related to CHD in Indonesia in 2007-2014 with a value (RR 1.08; 95% CI = 0.70- 1.67). Hypertension individually increases CHD risk (RR 1.19; 95% CI = 0.92-1.53). Smoking and hypertension together increase the risk of CHD compared to people who don't smoke and don't have hypertension in Indonesia in 2007-2014 (RR 1.66; 95% CI = 1.11-2.48) meaning that respondents who smoke and hypertension are at risk of experiencing CHD 1.66 times (95% CI; 1.11-2.48) compared to nonsmokers and those without hypertension.

Read More
T-5958
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aprizal Satria Hanafi; Pembimbing: Nurhayati A. Prihartono, Helda; Penguji: Yovsyah; Julianty Pradono, Woro Riyadina
Abstrak: ABSTRAK Hubungan obesitas dan merokok terhadap kejadian hipertensi sudah banyak diketahui namun masih jarang dilakukan penelitian untuk melihat efek gabungan obesitas dan merokok dalam menyebabkan hipertensi derajat 1. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efek gabungan obesitas dan merokok dalam menyebabkan hipertensi derajat 1. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional menggunakan data Indonesian Family Life Survey-5 (IFLS-5) tahun 2014. Sampel yang dianalisis pada penelitian ini berjumlah 13.487 setelah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Analisis multivariat menggunakan uji cox regresi digunakan untuk mengetahui besar risiko obesitas dan merokok dalam menyebabkan hipertensi derajat 1. Hasil penelitian didapatkan prevalensi hipertensi derajat 1 sebesar 23,50%. Analisis multivariat menunjukkan bahwa orang yang obesitas dan merokok memiliki risiko 2,86 kali untuk mengalami hipertensi derajat 1 (PR=2,86), orang obesitas dan tidak merokok memiliki risiko 1,64 kali untuk mengalami hipertensi derajat 1 (PR=1,64), orang tidak obesitas dan merokok memiliki risiko 1,32 kali untuk mengalami hipertensi derajat 1 (PR=1,32). Risiko untuk mengalami hipertensi derajat 1 meningkat 48% akibat interaksi obesitas dan merokok. Perlu adanya adanya skrining lebih ketat untuk mencegah hipertensi terutama pada orang obesitas dan merokok pada umur ≥18 tahun misalnya dengan pengkuran tekanan darah secara rutin di rumah. Selain itu perlu adanya peningkatan kualitas pelaksanaan Posbindu PTM dari pemerintah untuk pemantauan faktor risiko serta deteksi dini PTM. Kata kunci: Efek gabungan, obesitas, merokok, hipertensi derajat 1, Indonesia ABSTRACT The relationship of obesity and cigarette smoking to the incidence of hypertension was well known, but study is still rare to see the joint effects of obesity and smoking in causing hypertension grade 1. This study aimed to evaluate the joint effect of obesity and cigarette smoking on causing hypertension grade 1. This study used a crosssectional design using data from Indonesian Family Life Survey-5 (IFLS-5) in 2014. The samples analyzed in this study amounted to 13,487 after fulfilling the inclusion and exclusion criteria. Multivariate analysis using the cox regression test was use to determine the risk of obesity and smoking in causing hypertension grade 1. The results showed that the prevalence of hypertension grade 1 is 23.50%. Multivariate analysis showed that people who were obese and smoking had a risk of 2.86 times for having hypertension grade 1 (PR = 2.86), obese and non-smoking people have a risk of 1.64 times to have hypertension grade 1 (PR = 1.64), people who were not obese and smoking have a risk of 1.32 times for having hypertension grade 1 (PR = 1.32). The risk of developing hypertension grade 1 increased by 48% due to the interaction of obesity and smoking. There needs to be more rigorous screening to prevent hypertension, especially in obese and smoking people at age ≥18 years, for example by measuring blood pressure regularly at home. In addition, there is a need to improve the quality of the implementation of NCDs Integrated Development Post (Posbindu) from the government for risk factor monitoring and early detection of NCDs. Key words: Joint effect, obesity, smoking, hypertension grade 1, Indonesia
Read More
T-5474
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ruth Tabitha; Pembimbing: Syahrizal Syarief: Penguji: Rizka Maulida, Nining Mularsih
Abstrak:
Stroke menjadi salah satu faktor risiko kematian dan disabilitas kedua di dunia dengan 12.2 juta kasus baru secara global. Indonesia menempati peringkat pertama sebagai negara tertinggi yang mengalami stroke di di Asia dengan prevalensi mencapai 8.3% dari 1000 populasi. Faktor risiko terbesar untuk terjadinya stroke adalah hipertensi dan diabetes mellitus. Hipertensi memicu 6 kali lebih tinggi terjadi stroke sedangkan diabetes mellitus meningkatkan sebesar 1.6 kali hingga 8 kali. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan efek gabungan diabetes mellitus dan hipertensi dengan kejadian penyakit stroke di Indonesia pada tahun 2014 menggunakan data IFLS-5. Metode penelitian yang digunakan adalah cross-sectional dengan analisis menggunakan unconditional logistic regression. Berdasarkan hasil multivariat, didapatkan hasil bahwa pada usia < 55 tahun, responden yang menderita diabetes mellitus dan tidak hipertensi berisiko 2.52 kali lebih besar untuk terkena stroke, menderita hipertensi dan tidak diabetes mellitus berisiko 10.21 kali sedangkan yang menderita keduanya berisiko 49.36 kali. Pada usia > 55 tahun, besar risiko pada variabel yang sama adalah sebesar 1.47 kali,  5.97 kali dan 28.86 kali. Terdapat peningkatkan yang signifikan untuk terkena stroke pada responden yang menderita hipertensi dan diabetes mellitus pada setiap golongan umur dibandingkan pada responden yang hanya menderita hipertensi atau hanya menderita diabetes mellitus.

Stroke is the second leading risk factor for death and disability in the world with 12.2 million new cases globally. Indonesia ranks as the country with the highest stroke rate in Asia with a prevalence of 8.3% out of 1000 population. The biggest risk factors for stroke are hypertension and diabetes mellitus. Hypertension triggers 6 times higher stroke occurrence while diabetes mellitus increases it by 1.6 times to 8 times. This study aims to determine the association of the combined effects of diabetes mellitus and hypertension with the incidence of stroke in Indonesia in 2014 using IFLS-5 data. The research method used was cross-sectional with analysis using unconditional logistic regression. Based on multivariate results, it was found that at the age of < 55 years, respondents with diabetes mellitus and no hypertension had a 2.52 times greater risk of stroke, hypertension and no diabetes mellitus had a 10.21 times risk, while those with both had a 49.36 times risk. At age > 55 years, the risk for the same variables was 1.47 times, 5.97 times and 28.86 times. There was a significant increase in the risk of stroke among respondents with both hypertension and diabetes mellitus in every age group compared to those with only hypertension or only diabetes mellitus.
Read More
T-7392
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Bima Uramanda; Pembimbing: PNurhayati A Prihartono, Yovsyah; Penguji: Yoan Hotnida Naomi
Abstrak: Salah satu cara untuk mendeteksi secara dini adanya gangguan faal paru adalah dengan cara mengukur arus puncak ekspirasi (APE) menggunakan peak flow meter. Salah satu faktor resiko yang menyebabkan penurunan nilai APE adalah merokok. Merokok dapat menyebabkan terjadinya bronkokontriksi pada saluran pernapasan. Selain merokok, faktor lain yang berperan dalam menurunkan risiko terjadinya penurunan kapasitas fungsi paru adalah kurangnya aktivitas fisik. Oleh karena itu penelitian untuk melihat efek gabungan merokok dan aktifitas fisik terhadap penurunan nilai APE diperlukan untuk mengkonfirmasi besar asosiasi keduanya dengan mempertimbangkan faktorfaktor contributory (potential confounder) yang juga berhubungan terhadap penurunan nilai APE. Penelitian ini menggunakan disain cross-sectional. Sebanyak 8.823 responden pria 18- 74 tahun menjadi sampel pada penelitian ini. Data diperoleh dari Indonesian family life survey 5(IFLS) dan dianalisis menggunakan uji Cox regresi. Penurunan nilai arus puncak ekspirasi lebih besar pada orang yang tidak merokok dan aktifitas fisik kurang,yaitu sebesar 1,26 kali serta perokok yang memiliki aktivitas fisik kurang sebesar 1,20 kali dibanding orang yang tidak merokok dan memiliki aktivitas fisik cukup. Sedangkan pada orang yang merokok dan memiliki aktivitas fisik cukup beresiko 0,84 kali protektif dibandingkan dengan orang yang tidak merokok dan memiliki aktivitas fisik cukup dengan kata lain aktivitas fisik lebih berperan dibanding kebiasaan merokok. Pada orang yang memiliki kebiasaan merokok sebaiknya juga melakukan aktifitas fisik secara rutin agar resiko untuk terjadinya penurunan nilai arus puncak ekspirasi menjadi lebih kecil
Read More
T-5582
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Titi Indriyati; Promotor: Asri C. Adisasmita; Kopromotor: Mardiati Nadjib, Imam Subekti; Penguji: Ratna Djuwita, Soewarta Kosen, Woro Riyadina, Telly Purnamasari
Abstrak:
ABSTRAK Peran Perubahan Status Sindrom Metabolik Terhadap Kualitas Hidup Terkait Kesehatan Pada Orang Dewasa Di Kota Bogor (Data Studi Kohor Faktor Risiko Penyakit Tidak Menular Dalam 4 Periode Pemantauan, Tahun 2011-2018) Pemantauan kualitas hidup pada penderita sindrom metabolik perlu dilakukan secara berkelanjutan, untuk mencapai status kesehatan yang lebih baik. Penelitian ini bertujuan menilai peran perubahan status sindrom metabolik terhadap kualitas hidup terkait kesehatan (HRQoL). Pendekatan studi menggunakan desain follow up prevalence sebagai turunan dari cross sectional yang merupakan bagian dari studi kohor induk. Diagnosis SM ditegakkan ketika jumlah kriteria SM >3 dari 5 faktor risiko menggunakan data studi kohor faktor risiko PTM yang dikelola oleh Balitbangkes Kemenkes RI di Kecamatan Bogor Tengah dalam 4 periode pemantauan tahun 2011-2018. HRQoL diukur melalui wawancara langsung terhadap 874 responden menggunakan kuesioner SF-36 dan EQ-5D-5L. Perubahan status SM yang dapat diidentifikasi adalah: SM persisten (6,8%); SM memburuk (12,8%), SM membaik (10,3%), dan tidak SM (70,1%). Kriteria SM pada periode pemantauan T4 yaitu: obesitas sentral pada laki-laki 23,2% dan perempuan 78,6%; kadar HDL rendah pada laki-laki 31% dan perempuan 36,4%; hipertensi 35,5%; trigliserida tinggi >150 mg/dl adalah 21,9%; serta gula darah puasa tinggi >100 mg/dl adalah 38,2%. Gambaran HRQoL dari hasil pengukuran kuesioner SF-36 yaitu 50,3% memiliki kualitas hidup baik pada dimensi fisik dan 51% baik pada dimensi mental. HRQoL EQ-5D-5L untuk profil status kesehatan adalah 95,7% tidak bermasalah pada dimensi kemampuan perawatan diri; sedangkan masalah yang paling besar adalah pada dimensi ketidaknyamanan (rasa nyeri) seebanyak 76,8%. Pada skala EQ-VAS responden dengan kategori HRQoL rendah sebanyak 8,5% memiliki nilaidi bawah rerata EQ-VAS orang Indonesia pada umumnya. Ada interaksi dalam hubungan perubahan status SM dengan HRQoL pada dimensi fisik berdasarkan faktor riwayat penyakit penyerta (PTM), Analisis multivariat regresi logisttik ganda membuktikan bahwa perubahan status SM yang berinteraksi dengan riwayat penyakit penyerta (PTM: jantung, strok, DM, kanker) memberikan efek HRQoL rendah pada dimensi fisik sebesar POR (95%CI) = 27,5 (10,3-73,2) dan strata tidak memiliki penyakit penyerta sebesar = 9,2 (5,7 – 15,0) setelah dikontrol oleh umur, status kesehatan mental, perubahan IMT, rutinitas periksa kesehatan dalam setahun, dan pengetahuan. Efek interaksi yang dijelaskan menggunakan nilai rasio peluang disebut interaksi multiplikatif dan ini penting dalam menjelaskan hubungan kausalitas bahwa perubahan status SM yang memburuk sebagai penyebab rendahnya HRQoL dimensi fisik. Rekomendasi mengembangkan upaya sinergi dengan instansi terkait dalam menentukan progam intervensi kesehatan dan Germas yang memungkinkan untuk diintegrasikan dalam studi kohor PTM di Kota Bogor.

ABSTRACT The Role of Changes in Metabolic Syndrome Status on Health-Related Quality of Life in Adults in Bogor City (Data on Cohort Study of Non-Communicable Disease Risk Factors in 4 Monitoring Periods, 2011-2018) Monitoring the quality of life in patients with metabolic syndrome needs to be carried out on an ongoing basis, to achieve a better health status. This study aims to assess the role of changes in metabolic syndrome status on health-related quality of life (HRQoL). The study approach uses a follow-up prevalence design as a cross-sectional derivative which is part of the main cohort study. The diagnosis of MS is enforced when the total number of criteria for MS >3 from 5 risk factors using a cohort study data of NCD risk factors managed by the Research and Development Center of the Ministry of Health of Indonesia in Central Bogor District in 4 monitoring periods 2011-2018. HRQoL was interviewed with 874 participants using the SF-36 and EQ-5D-5L questionnaires. Changes in MS status that can be identified are: persistent MS (6.8%); worsened MS (12.8%), improved MS (10.3%), and no MS (70.1%). The criteria for MS in the fourth monitoring period were: central obesity in males 23.2% and females 78.6%; low HDL levels in men 31% and women 36.4%; hypertension 35.5%; high triglycerides >150 mg/dl is 21.9%; and high fasting blood sugar> 100 mg/dl is 38.2%. The HRQoL description from the SF-36 questionnaire is 50.3% have a good quality of life on the physical dimension and 51% have a good quality of life on the mental dimension. HRQoL EQ-5D-5L for the health status profile is 95.7% without problems on the dimension of self-care ability; while the biggest problem is the dimension of discomfort (pain) as much as 76.8%. On the respondent's EQ-VAS scale with a low HRQoL category of 8.5% has a value below the average EQ-VAS of Indonesians in general. There is an interaction in the relationship between changes in MS status and HRQoL on the physical dimension based on the history of co-morbidities (NCD). Low HRQoL in the physical dimensions of POR (95% CI) = 27.5 (10.3-73.2) and without comorbidities of = 9.2 (5.7 – 15.0) after adjusting for age, mental health status, changes in BMI, routine health checks in a year, and knowledge. The effect modifications are explained using the probability ratio is called the multiplicative interaction is important in explaining the causal relationship that worsening MS status changes low HRQoL physical dimension. Recommendations for developing a synergy program with related agencies in determining health and Germas intervention programs that allow them to be integrated into the NCD cohort study in Bogor City.
Read More
D-486
Depok : FKM-UI, 2023
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Laurentius Aswin Pramono; Pembimbng: Bambang Sutrisna; Penguji: Siti Setiati, Imam Subekti, Nasrin Kodim, Asri C. Adisasmita
T-3140
Depok : FKM-UI, 2010
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive