Ditemukan 34381 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Gina Nurul Habibah; Pembimbing: Ella Nurlaella Hadi; Penguji: Tri Yunis Wahyono, Ahmad Syafiq, Surdi Sudiana, Ratna Wulan
Abstrak:
Read More
Proporsi ibu hamil yang datang ke pelayanan dan mendapat tes HIV tahun 2021 di Kabupaten Sumedang masih dibawah target, yaitu sebesar 79%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan perilaku tes HIV pada ibu hamil di Kabupaten Sumedang tahun 2022. Penelitian menggunakan desain cross sectional, pada 220 ibu hamil yang berkunjung ke 8 Puskesmas yang terpilih secara acak di Kabupaten Sumedang. Data dikumpulkan dengan cara responden mengisi secara mandiri kuesioner yang sudah diujicoba validitas dan reliabilitasnya dan selanjutnya dianalisis dengan uji logistik regresi ganda. Hasil penelitian menunjukkan proporsi ibu hamil yang tidak melakukan tes HIV di Kabupaten Sumedang sebesar 30,9%. Pengetahuan tentang HIV/AIDS, persepsi manfaat dan persepsi hambatan melakukan pemeriksaan HIV berhubungan dengan perilaku tes HIV dan faktor yang paling dominan adalah persepsi manfaat pemeriksaan HIV. Ibu hamil yang mempersepsikan pemeriksaan HIV tidak bermanfaat berpeluang hampir 3,4 kali untuk tidak melakukan tes HIV dibanding yang mempersepsikan bermanfaat setelah dikontrol oleh pengetahuan tentang HIV/AIDS dan persepsi hambatan melakukan pemeriksaan HIV di Kabupaten Sumedang (p value = 0,003, POR = 3,427, 95% CI: 1,542-7,615). Untuk itu, perlu mengoptimalkan pemberian KIE dan konseling tentang manfaat melakukan tes HIV/AIDS, meningkatkan upaya promosi kesehatan melalui media massa serta mengoptimalkan pelayanan mobile VCT.
The proportion of pregnant women who come to the service and receive an HIV test in 2021 in Sumedang is still below the target, which is 79%. This study aims to determine the determinants of HIV testing behavior in pregnant women in Sumedang in 2022. The study used a cross sectional design, on 220 pregnant women who visited 8 health centers randomly selected in Sumedang. Data were collected by means of respondents filling out a questionnaire that had been tested for validity and reliability and then analyzed by using multiple regression logistic test. The results showed that the proportion of pregnant women who did not do an HIV test in Sumedang was 30.9%. Knowledge of HIV/AIDS, perceived benefits and perceived barriers to HIV testing are related to HIV testing behavior and the most dominant factor is perceived benefits of HIV testing. Pregnant women who perceive that HIV testing is not beneficial are almost 3.4 times more likely not to take an HIV test than those who perceive it is beneficial after being controlled by knowledge about HIV/AIDS and perceived barriers to HIV testing in Sumedang (p value = 0.003, POR = 3.427, 95% CI: 1.542-7.615). For this reason, it is necessary to optimize the provision of KIE and counseling about the benefits of testing for HIV/AIDS, increase efforts to promote health through mass media and optimize mobile VCT services.
T-6580
Depok : FKM UI, 2022
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Lidya Latifah Novianti; Pembimbimbing: Sudijanto Kamso; Penguji: Toha Muhaimin, Pandu Riono, Baby Jim Aditya, Husein Habsyi
Abstrak:
Menurut data WHO (2015) jumlah perempuan yang terinfeksi HIV adalahsebanyak 16,0 juta jiwa dan 3,2 juta jiwa merupakan anak-anak (<15 tahun) daritotal 36,7 juta orang yang terinfeksi HIV. Pencegahan penularan HIV dari ibu keanak merupakan upaya pengendalian HIV/AIDS karena membantu menurunkanjumlah orang terkena HIV. Dari tahun 2000 sampai dengan 2015 penurunanjumlah orang yang tertular HIV sampai dengan 35 % dari program pencegahanHIV. Salah satu pencegahannya adalah pemeriksaan tes HIV kepada Ibu hamil.Provinsi Jawa barat termasuk dalam 3 provinsi terbanyak kasus HIV, PuskesmasCicalengka dan Puskesmas Rancaekek merupakan Puskesmas yang tersedialayanan pemeriksaan tes HIV. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku test HIV pada ibu hamil. Design crosssectional dengan menggunakan instrument kuesioner. Hasil regresi logistic dalampenelitian didapatkan persepsi manfaat (P value = 0,021; OR = 0,299), informasi(P value = 0,004; OR = 6,67) dan dukungan petugas kesehatan (P value = 0,011;OR = 3,704) merupakan faktor yang berhubungan dengan perilaku tes HIV padaibu hamil, dengan faktor yang paling mempengaruhi adalah faktor informasi.Disarankan untuk Dinas Kesehatan dan Puskesmas untuk meningkatkan upayapromosi tentang pencegahan HIV melalui media elektronik untuk memudahkanakses informasi oleh masyarakat.Kata Kunci: Ibu hamil, HIV, PPIA, dan Tes.
The number of women who is infected by HIV is 16.0 million. Moreover, 3.2million from 36.7 million number who infected by HIV are children (<15 yearsold) (WHO, 2015). Prevention of mother-child transmission is one of HIV-infected. From 2000 until 2015 the decreased number of people who are infectedby HIV down to 35% resulting from HIV prevention. One of the gold standards inprevention programs is HIV examination for pregnant women. West JavaProvince included in three largest provinces of HIV cases, primary health carecenter in Cicalengka and Rancaekek are providing HIV test service. The aims ofthis study are related to HIV test behavior in pregnant women. A cross-sectionaldesign with questionnaire measurement was used in this study. The result ofregretion logistic shows that benefit perception (P = 0.021, OR = 0.299),information (P = 0.021, OR = 0.299), and health care provider support (P =0.021, OR = 0.299) are factors determinant in this study. Information factorresulting as most influencing factors in this study. Recommended to thedepartment of health and public health center is to improve the promotion of HIVusing electronic media to help the community.Keywords: Pregnant women, HIV, PMTCT, and Test.
Read More
The number of women who is infected by HIV is 16.0 million. Moreover, 3.2million from 36.7 million number who infected by HIV are children (<15 yearsold) (WHO, 2015). Prevention of mother-child transmission is one of HIV-infected. From 2000 until 2015 the decreased number of people who are infectedby HIV down to 35% resulting from HIV prevention. One of the gold standards inprevention programs is HIV examination for pregnant women. West JavaProvince included in three largest provinces of HIV cases, primary health carecenter in Cicalengka and Rancaekek are providing HIV test service. The aims ofthis study are related to HIV test behavior in pregnant women. A cross-sectionaldesign with questionnaire measurement was used in this study. The result ofregretion logistic shows that benefit perception (P = 0.021, OR = 0.299),information (P = 0.021, OR = 0.299), and health care provider support (P =0.021, OR = 0.299) are factors determinant in this study. Information factorresulting as most influencing factors in this study. Recommended to thedepartment of health and public health center is to improve the promotion of HIVusing electronic media to help the community.Keywords: Pregnant women, HIV, PMTCT, and Test.
T-5093
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ni Komang Novi Suryani; Pembimbing: Kemal N. Siregar; Penguji: Besral, Milla Herdayati, Dian Kristiani Irawaty, Rikawarstuti
Abstrak:
Lebih dari 90% kasus anak terinfeksi HIV, ditularkan melalui proses penularan dari ibu ke anak. Tujuan penelitian mengetahui hubungan antara keteraturan pelayanan antenatal dengan tes HIV pada ibu hamil di Indonesia berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Tahun 2018. Penelitian ini merupakan penelitian observasional metode survei (cross sectional) dengan menggunakan data yang bersumber dari Riskesdas tahun 2018. Sampelnya wanita usia subur di Indonesia yang memiliki riwayat kehamilan dan terpilih yang menjadi responden Riskesdas tahun 2018 serta memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Besar sampel pada penelitian ini adalah 12.383 responden. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah tes HIV pada ibu hamil, variabel independen utama yaitu keteraturan pemeriksaan antenatal (ANC) dan variabel kovariat yaitu umur, tempat tinggal, pendidikan, status bekerja, paritas, pengetahuan HIV, sikap terhadap orang dengan HIV/AIDS (ODHA), pelayanan antenatal 10T, tenaga kesehatan (nakes) pemberi layanan dan fasilitas kesehatan (faskes) tempat ibu periksa hamil. Variabel keteraturan pemeriksaan antenatal dan variabel fasilitas kesehatan memiliki efek yang hampir sama dalam mempengaruhi rendahnya cakupan tes HIV pada ibu hamil. Tes HIV pada ibu yang teratur periksa hamil ditemukan 1,8 kali lebih banyak di perkotaan dan 2,2 kali lebih banyak di perdesaan dibandingkan dengan yang tidak teratur periksa hamil. Selanjutnya tes HIV pada ibu yang teratur periksa hamil lebih banyak ditemukan 1,5 kali yang periksa di rumah sakit, 2,8 kali yang periksa di puskesmas dan 2,2 kali yang periksa di klinik/praktek mandiri dibandingkan dengan yang tidak teratur periksa hamil. Saran kepada tenaga kesehatan dan pengelola program KIA untuk meningkatkatkan keteraturan dan kelengkapan pelayanan Antenatal serta meningkatkan ketersediaan fasilitas tes HIV
More than 90% of cases of children infected with HIV are transmitted through the process of mother-to-child transmission. The purpose of the study was to determine the relationship between the regularity of antenatal care and HIV testing in pregnant women in Indonesia based on data from the 2018 Basic Health Research (Riskesdas). This study was an observational survey method (cross sectional) using data sourced from Riskesdas in 2018. The sample was women. of childbearing age in Indonesia who have a history of pregnancy and were selected as Riskesdas respondents in 2018 and met the inclusion and exclusion criteria. The sample size in this study was 12,383 respondents. The dependent variable in this study was HIV testing for pregnant women, the main independent variable was the regularity of antenatal check-ups (ANC) and the covariates were age, place of residence, education, work status, parity, knowledge of HIV, attitudes towards people living with HIV/AIDS (PLWHA). ), 10T antenatal care, health workers (nakes) who provide services and health facilities (faskes) where mothers check for pregnancy. The variables of regularity of antenatal check-ups and variables of health facilities have almost the same effect in influencing the low coverage of HIV testing in pregnant women. There were 1.8 times more HIV tests in women who had regular pregnancy check-ups in urban areas and 2.2 times more in rural areas compared to those who did not regularly check for pregnancy. Furthermore, HIV tests for mothers who regularly check for pregnancy are found to be 1.5 times more checked at the hospital, 2.8 times are checked at the puskesmas and 2.2 times are checked at the clinic/independent practice compared to those who do not regularly check for pregnancy. Suggestions to health workers and MCH program managers to improve the regularity and completeness of Antenatal services and increase the availability of HIV testing facilities
Read More
More than 90% of cases of children infected with HIV are transmitted through the process of mother-to-child transmission. The purpose of the study was to determine the relationship between the regularity of antenatal care and HIV testing in pregnant women in Indonesia based on data from the 2018 Basic Health Research (Riskesdas). This study was an observational survey method (cross sectional) using data sourced from Riskesdas in 2018. The sample was women. of childbearing age in Indonesia who have a history of pregnancy and were selected as Riskesdas respondents in 2018 and met the inclusion and exclusion criteria. The sample size in this study was 12,383 respondents. The dependent variable in this study was HIV testing for pregnant women, the main independent variable was the regularity of antenatal check-ups (ANC) and the covariates were age, place of residence, education, work status, parity, knowledge of HIV, attitudes towards people living with HIV/AIDS (PLWHA). ), 10T antenatal care, health workers (nakes) who provide services and health facilities (faskes) where mothers check for pregnancy. The variables of regularity of antenatal check-ups and variables of health facilities have almost the same effect in influencing the low coverage of HIV testing in pregnant women. There were 1.8 times more HIV tests in women who had regular pregnancy check-ups in urban areas and 2.2 times more in rural areas compared to those who did not regularly check for pregnancy. Furthermore, HIV tests for mothers who regularly check for pregnancy are found to be 1.5 times more checked at the hospital, 2.8 times are checked at the puskesmas and 2.2 times are checked at the clinic/independent practice compared to those who do not regularly check for pregnancy. Suggestions to health workers and MCH program managers to improve the regularity and completeness of Antenatal services and increase the availability of HIV testing facilities
T-6287
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Putri Bestari; Pembimbing: Mieke Savitri; Penguji: Dadan Erwandi, Nida Rohmawati, Viny Sutriani
Abstrak:
Resiko penularan HIV dari Ibu ke bayi dinegara berkembang meningkat cepatdisebabkan oleh minimnya akses intervensi. Di Indonesia sendiri kasus HIV semakinmeningkat ditiap tahunnya dan kasus HIV banyak terjadi di usia produktif dimana padausia ini banyak terdapat ibu hamil yang sangat rentan untuk dapat menularkan HIVkepada bayinya. Provinsi Kepulauan Riau merupakan provinsi yang sangat dekatdengan negara tetangga (Singapura dan Malaysia), sehingga merupakan daerah yangsangat rentan untuk terjadinya penularan HIV/AIDS. Oleh sebab itu, perlu dilakukanupaya untuk pencegahan penyebaran penularan HIV/AIDS lebih luas terutama pada ibuhamil melalui program Pencegahan Penularan HIV/AIDS dari Ibu ke Anak (PPIA).
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perilaku ibu hamil dalam pencegahanpenularan HIV dari Ibu ke Anak (PPIA) di Kota Tanjungpinang. Desain penelitianadalah cross-sectional dengan pendekatan kuantitatif. Sampel merupakan ibu hamilyang datang ke puskesmas berjumlah 130 responden. Variable yang diteliti yaitu umur, tingkat pendidikan, status perkawinan, pekerjaan, pengetahuan, sikap, dukungan petugas kesehatan, dukungan suami dan keterpaparan informasi. Variabel tersebut diukur dengan menggunakan kuisioner yang diolah hingga multivariat dengan menggunakan uji regresi logistik ganda.
Hasil analisis univariat didapatkan bahwa rata-rata ibu yang berkunjung ke puskesmas mempunyai perilaku buruk sebesar 56,2%.Hasil uji chi-square didapatkan hasil bahwa yang berhubungan dengan perilaku ibu hamil dalam pencegahan penularan HIV dari Ibu ke Anak (PPIA) yaitu sikap ibu, keterpaparan informasi kesehatan dan dukungan petugas kesehatan. Variabel yang paling dominan mempengaruhi perilaku ibu adalah dukungan dari tenaga kesehatan dengan nilai OR= 6,420 yang artinya Ibu yang mendapat dukungan dari petugas kesehatan akan berperilaku baik 6,240 kali lebih besar dibandingkan Ibu hamil yang tidak mendapatkan dukungan dari tenaga kesehatan, setelah dikontrol oleh variable pendidikan, sikap dan keterpaparan informasi.
Direkomendasikan kepada Dinas Kesehatan dan Puskesmas agar dapat meningkatkan upaya promosi kesehatan tentangHIV/AIDS dan meningkatkan komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) serta konseling tentang HIV/AIDS kepada ibu hamil agar ibu hamil mau melakukan pemeriksaan HIV selama kehamilan.
Kata kunci: Perilaku, HIV/AIDS, PPIA, Tenaga Kesehatan
Read More
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perilaku ibu hamil dalam pencegahanpenularan HIV dari Ibu ke Anak (PPIA) di Kota Tanjungpinang. Desain penelitianadalah cross-sectional dengan pendekatan kuantitatif. Sampel merupakan ibu hamilyang datang ke puskesmas berjumlah 130 responden. Variable yang diteliti yaitu umur, tingkat pendidikan, status perkawinan, pekerjaan, pengetahuan, sikap, dukungan petugas kesehatan, dukungan suami dan keterpaparan informasi. Variabel tersebut diukur dengan menggunakan kuisioner yang diolah hingga multivariat dengan menggunakan uji regresi logistik ganda.
Hasil analisis univariat didapatkan bahwa rata-rata ibu yang berkunjung ke puskesmas mempunyai perilaku buruk sebesar 56,2%.Hasil uji chi-square didapatkan hasil bahwa yang berhubungan dengan perilaku ibu hamil dalam pencegahan penularan HIV dari Ibu ke Anak (PPIA) yaitu sikap ibu, keterpaparan informasi kesehatan dan dukungan petugas kesehatan. Variabel yang paling dominan mempengaruhi perilaku ibu adalah dukungan dari tenaga kesehatan dengan nilai OR= 6,420 yang artinya Ibu yang mendapat dukungan dari petugas kesehatan akan berperilaku baik 6,240 kali lebih besar dibandingkan Ibu hamil yang tidak mendapatkan dukungan dari tenaga kesehatan, setelah dikontrol oleh variable pendidikan, sikap dan keterpaparan informasi.
Direkomendasikan kepada Dinas Kesehatan dan Puskesmas agar dapat meningkatkan upaya promosi kesehatan tentangHIV/AIDS dan meningkatkan komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) serta konseling tentang HIV/AIDS kepada ibu hamil agar ibu hamil mau melakukan pemeriksaan HIV selama kehamilan.
Kata kunci: Perilaku, HIV/AIDS, PPIA, Tenaga Kesehatan
T-5131
Depok : FKM UI, 2018
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Refi Hanna Amelinda; Pembimbing: Sandra Fikawati, Asih Setiarini; Penguji: Ahmad Syafiq, Marudut, Ivonne Kusumaningtias
Abstrak:
Kesehatan adalah kebutuhan dasar bagi kehidupan manusia dan merupakan faktorpenentu untuk menentukan kualitas sumber daya manusia. Kecukupan gizi dapatberpengaruh penting untuk meningkatkan sumber daya manusia salah satu faktornyaadalah pemberian ASI sampai dengan dua tahun yang dapat berpengaruh besar terhadapsumber daya manusia tersebut. Pemberian ASI yang maximal adalah pemberian ASIsampai dengan dua tahun, Pemberian ASI sampai dengan dua tahun dapatmeningkatkan IQ anak dan meningkatkan kualitas anak bangsa, olehkarena itupemberian ASI sampai dengan dua tahun adalah hal yang sangat penting untukdiberikan kepada anak. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor yangpaling dominan dalam pemberian ASI sampai dua tahun di kecamatan CimalakaKabupaten Sumedang. Metode penelitian ini adalah kuantitatif dengan desain penelitiancross sectional dengan sampel 310 ibu yang mempunyai anak 24-59 bulan. Penelitianini dilakukan pada bulan Februari-Maret 2018, cara pengambilan sampel menggunakanpurposive sampling, dari sebanyak 14 Desa dipilih 7 Desa lalu memilih kembali sampeldengan menggunakan metode random sampling. Hasil penelitian ini terdapat tiga faktoryang berpengaruh terhadap pemberian ASI sampai dua tahun yaitu pendidikan dengannilai p value 0,05, sosial ekonomi dengan nilai p value 0,043 dan riwayat pemberianASI eksklusif sampai enam bulan dengan nilai p value 0,023.Kata kunci:ASI, Pemberian ASI sampai dua tahun, Anak 24-59 bulan
Health is a basic need for human life and a decisive factor for determining thequality of human resources. Adequacy of nutrition can have an important effect toincrease human resources. One of the factors is breastfeeding up to two years which canhave big influence to the human resource. Maximal breastfeeding is breastfeeding up totwo years. Breastfeeding up to two years can increase the intelligence quotient (IQ) ofthe children and improve the quality of the children, therefore breastfeeding up to twoyears is important to the children. The aim of this study was to determine the mostdominant factor in breastfeeding up to two years in Cimalaka sub-district, SumedangDistrict. The study design was cross sectional. The study sample consisted of motherswho have children 24-59 months (N = 310). This research was conducted in February-March 2018. The method sampling was purposive sampling, from 14 villages selected 7villages and then select the sample by using random sampling method. The resultsshowed that there were three factors that affect breastfeeding up to two years, i.e.education (p value 0.05), socioeconomic (p value 0.043), and history of exclusivebreastfeeding until six months (p value 0.023).Keywords:Breastfeeding, Breastfeeding up to two years, Children 24-59 months.
Read More
Health is a basic need for human life and a decisive factor for determining thequality of human resources. Adequacy of nutrition can have an important effect toincrease human resources. One of the factors is breastfeeding up to two years which canhave big influence to the human resource. Maximal breastfeeding is breastfeeding up totwo years. Breastfeeding up to two years can increase the intelligence quotient (IQ) ofthe children and improve the quality of the children, therefore breastfeeding up to twoyears is important to the children. The aim of this study was to determine the mostdominant factor in breastfeeding up to two years in Cimalaka sub-district, SumedangDistrict. The study design was cross sectional. The study sample consisted of motherswho have children 24-59 months (N = 310). This research was conducted in February-March 2018. The method sampling was purposive sampling, from 14 villages selected 7villages and then select the sample by using random sampling method. The resultsshowed that there were three factors that affect breastfeeding up to two years, i.e.education (p value 0.05), socioeconomic (p value 0.043), and history of exclusivebreastfeeding until six months (p value 0.023).Keywords:Breastfeeding, Breastfeeding up to two years, Children 24-59 months.
T-5409
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Nita Merzalia; Pembimbing: Ahmad Syafiq; Penguji: Sandra Fikawati, Tria Astika Endah Permatasari, Yuliyana
Abstrak:
Read More
Bayi merupakan bagian dari anak dimana Angka Kematian Bayi (AKB) dijadikan sebagai salah satu indikator yang dapat digunakan untuk mengetahui derajat kesehatan masyarakat, mengukur tingkat perekonomian dan sosial pada suatu wilayah. Mereka adalah aset yang akan menjadi generasi penerus bangsa. Untuk menghasilkan anak yang berkualitas, tentunya mereka harus dipelihara secara optimal dari sejak dalam kandungan. Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) merupakan bayi yang baru lahir dengan berat badan < 2500 gram tanpa memandang usia kehamilan. BBLR berdampak dalam jangka pendek maupun jangka panjang yang dapat menyebabkan morbiditas dan mortalitas bagi bayi tersebut. Prevalensi BBLR di Indonesia menurut WHO berkisar 5-10% dan menyebabkan 60-80% kematian bayi dengan risiko kematian meningkat 20 kali lipat dibandingkan bayi dengan berat badan lahir normal. Berdasarkan hasil SSGI tahun 2021, proporsi kejadian BBLR di Indonesia sebesar 6,6%. Untuk wilayah Sumatera, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung memiliki proporsi BBLR di atas angka nasional (7,5%). Sedangkan se-Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Kabupaten Belitung memiliki prevalensi tertinggi selama 3 (tiga) tahun berturut-turut, yaitu tahun 2020-2022 (berkisar 6,59%-7,69%) dan masih berada di atas target Indikator Kinerja Gizi Masyarakat tahun 2022 yang ditetapkan dari Kementerian Kesehatan RI sebesar 3,8%. Selain itu, BBLR juga merupakan faktor penyumbang angka kematian neonatus terbesar di Kabupaten Belitung dalam rentang waktu tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan kejadian BBLR di Kabupaten Belitung tahun 2022 dengan desain penelitian cross-sectional dan total 310 sampel berdasarkan kriteria inklusi dan ekslusi. Penelitian ini menggunakan data primer yang berasal dari kohort ibu tahun 2022 dengan kejadian BBLR sebagai variabel dependen dan variabel independen terdiri dari : faktor ibu (umur ibu, paritas, jarak kehamilan), faktor kehamilan (komplikasi kehamilan dan umur kehamilan), faktor gizi (penambahan berat badan selama hamil, kadar Hb, risiko KEK) dan faktor layanan ANC (jumlah kunjungan ANC, kualitas layanan ANC, komposit pelayanan ANC). Analisis bivariat menggunakan uji kai kuadrat dan analisis multivariat menggunakan uji regresi logistik ganda. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi kejadian BBLR di kabupaten Belitung sebesar 10,6%. Analisis bivariat menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara umur ibu, jarak kehamilan, penambahan berat badan selama hamil, kadar Hb, risiko KEK, komplikasi kehamilan, umur kehamilan, jumlah kunjungan ANC dan kualitas layanan ANC dengan kejadian BBLR. Variabel yang paling dominan terhadap kejadian BBLR adalah umur kehamilan dan komplikasi kehamilan.
Babies are part of children where the Infant Mortality Rate (IMR) is used as an indicator that can be used to determine the level of public health, measure the economic and social level in an area. They are assets who will become the nation's next generation, so their quality of life must be a priority. To produce quality children, of course children must be cared for optimally from the time they are in the womb. Low Birth Weight (LBW)is a newborn baby with a body weight < 2500 grams regardless of gestational age. LBW has short-term and long-term impacts that can cause morbidity and mortality for the baby. The prevalence of LBW in Indonesia according to WHO is around 5-10% and causes 60-80% of infant deaths with the risk of death increasing 20 times compared to babies with normal birth weight. Based on the 2021 SSGI results, the proportion of LBW incidents in Indonesia is 6.6%. For the Sumatra region, the Bangka Belitung Islands Province has a LBW proportion above the national figure (7.5%). Meanwhile, in the Bangka Belitung Islands province, Belitung Regency has the highest prevalence for 3 (three) consecutive years, namely 2020-2022 (range 6.59%-7.69%) and is still above the Community Nutrition Performance Indicator target in 2022 set by the Indonesian Ministry of Health at 3.8%. Apart from that, LBW is also a contributing factor to the largest neonatal mortality rate in Belitung Regency in that time period. StudyThis aims to determine the determinants of the incidence of LBW in Belitung Regency in 2022 with a cross-sectional research design and a total of 310 samples based on inclusion and exclusion criteria. This study uses primary data originating from the 2022 cohort of mothers with the incidence of LBW as the dependent variable and independent variables consisting of: maternal factors (maternal age, parity, pregnancy interval), pregnancy factors (pregnancy complications and gestational age), nutritional factors (additional weight during pregnancy, Hb levels, risk of CED) and ANC service factors (number of ANC visits, ANC service quality, ANC service composite). Bivariate analysis uses the chi-square test and multivariate analysis uses the multiple logistic regression test. The research results show that the prevalence of LBW in Belitung district is 10.6%. Bivariate analysis showed that there was a significant relationship between maternal age, pregnancy spacing, weight gain during pregnancy, Hb levels, risk of CED, pregnancy complications, gestational age, number of ANC visits and quality of ANC services with the incidence of LBW. The most dominant variables in the incidence of LBW are gestational age and pregnancy complications.
T-7028
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Siti Romlah; Pembimbing: Evi Martha, Agustin Kusumayati; Penguji: Kodrat Pramuho, Dedi Kuswenda, Mieke Savitri
Abstrak:
AKI dan AKB merupakan salah satu indikator derajat kesehatan masyarakat. Masalah kematian dan kesakitan ibu dan anak di Indonesia masih merupakan masalah besar sehingga pelayanan kesehatan ibu dan anak menjadi prioritas utama dalam pembangunan kesehatan di Indonesia. Pada tahun 2007 Departemen kesehatan bersama JICA mengembangkan program Kelas Ibu Hamil di Kabupaten Garut dengan menetapkan 5 wilayah kerja Puskesmes sebagai daerah intervensi penggunaan Buku KIA. Berdasarkan laporan tahunan Dinas Kesehatan Kabupaten Garut tahun 2008, setelah Intervensi Kelas lbu Hamil di 5 wilayah Puskesmas di Kabupaten Garut, belum semua wilayah menunjukkan keberhasilan intervensi. Penelitian ini merupakan studi prevalensi 2 populasi dengan rancangan potong lintang (cross secrionab dengan n = |86 ibu hamil trimester ketiga dimana 93 sebagai kelompok dengan KIH dan 93 sebagai kelompok tanpa KH-I. Hasil penelitian diperoleh terdapat 73 responden dengan KIH ('78,S%) ibu yang berperilaku positif (p=0,000; 0R=l6,899). Sedangkan variabel-variabel dominan yang berhubungan dengan perilaku ibu dalam merencanakan persalinan dan pencegahan komplikasi selain kelas ibu hamil adalah pekerjaan, dukungan suami dan keluarga serta dukungan tokoh masyarakat.
Maternal Mortality and Infant Mortality Rate constitutes one of health degree as social indicator. In Indonesian its still becomes a main priority in health development. On 2007, Health Department with JICA develops a Pregnant Mother Class's Program at 5 health centers in Garut District that has purpose as intervention binds with Books KIA. Base annual report on 2008 by Health Department in Garut District, find out that haven't all regions worked out with intervention success. This research constitutes study prevalence 2 populations, Cross Sectional Design with = |86 third trimester?s pregnant mothers whene 93 respondents got KIH and 93 respondents without KII-I. Acquired observational result 73 respondents with KH-I exists 78,5% mothers have positive behavior in birth preparedness and emergency readiness (p =0,000; OR=l6,899). Meanwhile the dominant variables that engaged with mother?s behavior besides mother class are occupation, husband and family support and society figure support.
Read More
Maternal Mortality and Infant Mortality Rate constitutes one of health degree as social indicator. In Indonesian its still becomes a main priority in health development. On 2007, Health Department with JICA develops a Pregnant Mother Class's Program at 5 health centers in Garut District that has purpose as intervention binds with Books KIA. Base annual report on 2008 by Health Department in Garut District, find out that haven't all regions worked out with intervention success. This research constitutes study prevalence 2 populations, Cross Sectional Design with = |86 third trimester?s pregnant mothers whene 93 respondents got KIH and 93 respondents without KII-I. Acquired observational result 73 respondents with KH-I exists 78,5% mothers have positive behavior in birth preparedness and emergency readiness (p =0,000; OR=l6,899). Meanwhile the dominant variables that engaged with mother?s behavior besides mother class are occupation, husband and family support and society figure support.
T-3147
Depok : FKM-UI, 2010
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Annisah Zahrah; Pembimbing: Luknis Sabri; Penguji: Toha Muhaimin, Heru Herdiawati
S-6547
Depok : FKM UI, 2011
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Dhora Yufita Nurfitriani; Pembimbing: Milla Herdayati; Penguji: Besral, Sabarinah, Enny Ekasari, Mutmainah Indriyati
Abstrak:
Read More
ABSTRAK Nama : Dhora Yufita Nurfitriani Program Studi : S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Judul : Hubungan Anemia Pada Ibu Hamil Dengan Kejadian Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) Di RSUD KiSA Kota Depok Tahun 2022 Pembimbing : DR.Milla Herdayati,SKM,MSi Anemia selama kehamilan merupakan masalah kesehatan utama yang terkait dengan BBLR. Kejadian kelahiran BBLR di negara berkembang sebesar 95,6%, merupakan salah satu penyebab terbesar kematian neonatal di Indonesia. Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) adalah berat badan saat lahir kurang dari 2500 gram, merupakan sindrom kompleks yang mencakup kelahiran premature, bayi kecil untuk usia kehamilan (Small for gestational age = SGA) atau kombinasi antara keduanya. BBLR dikaitkan dengan kematian janin dan neonatal serta morbiditas, menghambat pertumbuhan dan perkembangan, beresiko stunting serta meningkatkan risiko penyakit tidak menular di kemudian hari. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat pengaruh anemia pada ibu hamil terhadap BBLR, dengan desain penelitian case control. Desain penelitian ini menggunakan data rekam medis RSUD KiSA Kota Depok, populasi penelitian ini adalah ibu yang melahirkan di RSUD KiSA Kota Depok Tahun 2022. Sampel penelitian terdiri dari 72 ibu yang melahirkan dengan BBLR sebagai kasus dan 72 ibu yang melahirkan dengan BBL normal (> 2500grm) sebagai kontrol. Hasil penelitian proporsi Anemia pada ibu hamil lebih banyak pada kelompok BBLR (43,1%) daripada yang tidak BBLR (22,2%). Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara anemia ibu hamil dengan kejadian BBLR dengan nilai P-value 0,001. (95% CI 1.88 – 13.04). Ibu yang menderita anemia pada kehamilan memiliki resiko 4,96 kali untuk mengalami BBLR dibandingkan dengan ibu hamil yang tidak anemia, setelah dikontrol variable paritas, usia kehamilan dan hipertensi. Saran dari penelitian ini diharapkan program pencegahan dan penanggulangan anemia ibu hamil dapat lebih di tingkatkan oleh pemerintah daerah baik dari sisi kebijakan, penganggaran maupun dalam hal monitoring dan evaluasinya. Dengan memfokuskan pencegahan anemia pada ibu dengan paritas beresiko tinggi, ibu dengan resiko persalinan preterm dan ibu dengan hipertensi. Kata kunci: BBLR, Bayi Berat Lahir Rendah, Anemia dalam kehamilan, Kota Depok
ABSTRACT Name : Dhora Yufita Nurfitriani Study Program : Master of Public Health Sciences Tittle : The Relationship between Anemia in Pregnancy and the Incidence of Low Birth Weight (LBW) at Kisa Hospital, Depok City in 2022 Counsellor : DR.Milla Herdayati,SKM,MSi ……… Anemia during pregnancy is a major health problem associated with LBW. The incidence of LBW births in developing countries is 95.6%, LBW is one of the causes of neonatal death in Indonesia. Low Birth Weight (LBW) is weight at birth less than 2500 grams, is a complex syndrome that includes premature birth, a small baby for gestational age (SGA) or a combination of the two. LBW is associated with fetal and neonatal death and morbidity, inhibits growth and development and increases the risk of non-communicable diseases in later life. The purpose of this study was to see the effect of anemia in pregnant women on LBW, with a case control study design. This study used medical record data at KiSA Hospital, Depok City, the population of this study were mothers who gave birth to babies at KiSA Hospital, Depok City, in 2022. This study used medical record data at KiSA Hospital, Depok City, the population of this study were mothers who gave birth at KiSA Hospital, Depok City in 2022. The study sample consisted of 72 mothers who gave birth with LBW as cases and 72 mothers who gave birth with normal BBL (> 2500grm). ) as a control. The results of the study showed that the proportion of anemia in pregnant women was higher in the LBW group (43.1%) than those who were not LBW (22.2%). From the results of this study it can be concluded that there is a significant relationship between anemia in pregnant women and the incidence of LBW with a P-value of 0.001. (95% CI 1.88 – 13.04). Mothers who suffer from anemia in pregnancy have a 4.96 times the risk of experiencing LBW compared to pregnant women who are not anemic, after controlling for parity, gestational age and hypertension variables. Suggestions from this study are that it is hoped that the program for preventing and overcoming anemia in pregnant women can be further improved by the regional government both in terms of policy, budgeting and in terms of monitoring and evaluation. By focusing on prevention of anemia in women with high-risk parity, women with a risk of preterm delivery and mothers with hypertension. Key words: LBW, Low Birth Weight, Anemia in pregnancy, Depok City
T-6759
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Fransiska Yuniati Demang; Pembimbing: Pandu Riono; Penguji: Soedarto Ronoatmodjo, Nurhalia Afriana, Rahmawati
Abstrak:
Tes HIV merupakan gerbang utama dalam rangkaian penanganan kasus HIV. Diketahuinya status HIV seseorang akan meningkatkan upaya pencegahan pada orang yang belum terinfeksi HIV dan membantu orang yang terinfeksi untuk segera mengakses layanan pengobatan. Berdasarkan laporan STBP tahun 2015 Lelaki potensial berisiko tinggi merupakan kelompok kunci yang memiliki prevalensi tes HIV paling rendah. Orang yang memiliki persepsi berisiko tertular penyakit akan cenderung untuk mengakses layanan kesehatan untuk mengetahui status kesehatannya, dan persepsi berisiko tertular HIV diduga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi seseorang melakukan tes HIV. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh persepsi berisiko tertular HIV terhadap perilaku tes HIV pada lelaki potensial berisiko tinggi. Penelitian ini merupakan analisis data sekunder STBP tahun 2015. Metode penelitian yang digunakan adalah cross sectional dengan jumlah sampel sebanyak 4.898 orang yang diambil dari 12 kab/kota di Indonesia. Hasil penelitian menunjukan bahwa tidak ada pengaruh persepsi berisiko tertular HIV terhadap perilaku tes HIV pada lelaki potensial berisiko tinggi dengan (OR: 0.9 and 95% CI 0.5-1.5).
Read More
T-4960
Depok : FKM UI, 2017
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
