Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 39216 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Irene Tenriana Kenia; Pembimbing: Ascobat Gani; Penguji: Mardiati Nadjib, Vetty Yulianty Permanasari, Pipiet Okti Kusumastiwi, Rini Widyaningrum
Abstrak:
Dewasa ini, teknologi kedokteran gigi di Indonesia, khususnya di Yogyakarta semakin berkembang dengan sangat pesat. Tindakan medis yang umumnya dilakukan pada kasus impaksi gigi berupa pencabutan terhadap gigi yang impaksi. Sebelum dilakukan pencabutan gigi, pasien akan diminta dokter gigi untuk melakukan pemeriksaan radiografi. Teknologi radiografi yang saat ini dikenal sebagai pemeriksaan penunjang untuk mendiagnosis impaksi gigi adalah Cone-Beam Computed Tomography dan Panoramik. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui efektivitas biaya dari dua fasilitas pemeriksaan penunjang, yaitu CBCT dan Panoramik yang dilakukan di RSGM UMY Yogyakarta. Penelitian ini bersifat non eksperimental menggunakan evaluasi ekonomi model cost effectiveness analysis dengan cohort retrospective. Data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini adalah rekam medis, dokumen keuangan, dokumen bagian fix asset, dan dokumen pencatatan ruang radiologi di RSGM UMY dari 1 Januari 2021 hingga 31 Desember 2021. Penelitian ini menghitung biaya dari setiap aktivitas menggunakan metode Activity Based Costing. Biaya yang dihitung dalam penelitian ini terdiri dari biaya investasi, biaya pemeliharaan, serta biasanya operasional. Biaya tersebut dihitung sesuai dengan aktivitas yaitu di pendaftaran, poli perawat, poli gigi, poli radiologi, dan kasir. Sedangkan output pada penelitian ini terdapat empat indikator yaitu akurasi radiografi, error rate radiograf, dosis radiasi, dan waktu paparan. Efektivitas yang dihitung dari akurasi radiograf kedua pemeriksaan penunjang. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa biaya pemeriksaan CBCT Rp 614.843,4 dan kelompok Panoramik didapatkan hasil yang lebih murah yaitu Rp 333.342,0. Biaya investasi yang memiliki kontribusi adalah biaya investasi di poli gigi yaitu sebesar Rp 89.545,9 baik pada pemeriksaan CBCT maupun Panoramik. Output yang diukur dalam penelitian ini adalah akurasi radiograf, error rate radiograf, dosis radiasi, dan waktu paparan. Namun, untuk mendapatkan nilai efektivitas dilakukan perhitungan akurasi, dimana pada pemeriksaan CBCT didapatkan hasil akurasi sebesar 50% dan persentase akurasi radiografi Panoramik sebesar 90,8%. Panoramik memiliki efektivitas yang lebih baik dari CBCT dan harga yang lebih rendah. Oleh karena itu, radiografi Panoramik pada penelitian ini mendominasi. Sehingga dapat dikatakan Panoramik lebih cost effective dari CBCT. CBCT terbukti tidak cost effective karena memiliki biaya yang lebih tinggi namun efektivitasnya tidak lebih baik. Penelitian ini hanya berfokus pada RSGM UMY. Sampel yang terbatas tidak mencerminkan kondisi pelayanan radiografi gigi secara umum di fasilitas kesehatan lain.

Today, dental technology in Indonesia, especially in Yogyakarta, is growing very rapidly. The most common medical procedure for impacted teeth is the extraction of the impacted tooth. Prior to tooth extraction, the patient will be asked by the dentist to perform a radiographic examination. Radiographic technology currently known as a supporting examination for diagnosing impacted teeth is Cone-Beam Computed Tomography and Panoramic. The purpose of this study was to determine the cost effectiveness of the two supporting examination facilities, namely CBCT and Panoramic which were carried out at RSGM UMY Yogyakarta. This research is non-experimental using an economic evaluation model of cost-effectiveness analysis with a retrospective cohort. The secondary data used in this study are medical records, financial documents, fixed asset section documents, and radiology room recording documents at RSGM UMY from January 1, 2021 to December 31, 2021. This study calculates the cost of each activity using the Activity Based Costing method. The costs calculated in this study consist of investment costs, maintenance costs, and usually operational costs. The fee is calculated according to the activities, namely at registration, nursing poly, dental poly, radiology poly, and cashier. While the output in this study there are four indicators, namely radiographic accuracy, radiographic error rate, radiation dose, and exposure time. Effectiveness was calculated from the accuracy of the radiographs of both investigations. The results showed that the cost of the CBCT examination was Rp. 614,843.4 and the panoramic group got cheaper results, which was Rp. 333,342.0. The investment cost that has a contribution is the investment cost in the dental clinic, which is Rp. 89,545.9 for both CBCT and panoramic examinations. The outputs measured in this study were radiographic accuracy, radiographic error rate, radiation dose, and exposure time. However, to get the effectiveness value, an accuracy calculation is carried out, where the CBCT examination results in an accuracy of 50% and the percentage of Panoramic radiography accuracy of 90.8%. Panoramic has better effectiveness than CBCT and lower cost. Therefore, panoramic radiography in this study dominates. So it can be said that Panorama is more cost effective than CBCT. CBCT is proven not to be cost effective because it has a higher cost but its effectiveness is not better. This research only focuses on RSGM UMY. The limited sample does not reflect the general condition of dental radiography services in other health facilities
Read More
T-6588
Depok : FKM UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aurora Sihombing; Pembimbing: Budi Hidayat; Penguji: Pujiyanto, Wachyu Sulistiadi, Wkisnu Handoyo, Ari Purwohandoyo
Abstrak:

ABSTRAK Name : Aurora Sihombing Study Program : Health Economic Title of Reserach : “Analisa Biaya Satuan Tindakan Terapi Radiasi Eksternal Pada Pasien Kanker Payudara di Instalasi Radioterapi RS. Kanker Dharmais Tahun 2016”. Angka kasus kanker payudara di Indonesia, tinggi. Kunjungan pasien kanker payudara ke RS Kanker Dharmais mengalami peningkatan. Terapi Radiasi eksternal termasuk layanan unggulan untuk pengobatan kanker payudara di RS. Kanker Dharmais. Pemerintah membiayai tindakan terapi ini lewat tarif INA CBG’s sebesar Rp 1.014.906. Melalui metode perhitungan Activity Based Costing (ABC), peneliti ingin mengetahui berapa sebenarnya biaya satuan tindakan untuk terapi ini ; lalu dibandingkan dengan tarif INA CBG’ s yang berlaku. Hasil penelitian menunjukkan bahwa total biaya tindakan 1 siklus terapi radiasi eksternal kanker payudara di RS Kanker Dharmais tahun 2016 adalah sebesar Rp 36.482.930, dengan biaya satuan tindakan sebesar Rp 1.216,098,- Keywords : Unit Cost, Activity Based Costing (ABC), External radiation


ABSTRACT Name : Aurora Sihombing Study Program : Health Economics Title of Research : Analysis of Unit Cost of External Radiation Therapy  for Breast Cancer Patient of Radiotherapy Installation at Rumah Sakit Kanker Dharmais in 2016. The number of breast cancer cases in Indonesia is at alarming rate. Breast cancer patients looking for treatment at Rumah Sakit Kanker Dharmais have continually increased for the last several years. The external radiation therapy of Rumah Sakit Kanker Dharmais has been considered as one of the best cancer treatment facilities in the country. Indonesian government subsidizes cost of the therapy based on INA- CBG’s tariff scheme of Rp 1.014.906. Using Activity Based Costing (ABC) approach, the researcher would like to investigate the real unit cost of the treatment; the result will then be compared to the INA- CBG’s tariff. The study showed that the total cost of one cycle of the external radiation therapy for breast cancer at Rumah Sakit Kanker Dharmais is Rp36.482.930 in 2016, while the unit cost is Rp 1.216,098,- for the same periode. Keywords: Unit Cost, Activity Based Costing (ABC), External Radiation

Read More
T-4983
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Erie Gusnellyanti; Pembimbing: Ede Surya Darmawan; Penguji: Mardiati Nadjib, Vetty Yulianty Permanasari, riza Sultoni, Sutrya Fitri
T-4075
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Cyntiya Rahmawati; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Vetty Yulianty Permanasari, Mardiati Nadjib, Agusdini Banun, Djamal Abdul Muis
Abstrak: Latar belakang:Hipertensimerupakan salah satu faktor risiko gagal jantung kongestif. Di rawat inap RSUD Pasar Rebo pada tahun 2014, gagal jantung kongestif masuk dalam 10 penyakit terbanyak, dengan biaya total yang cukup besar dan terdapat selisih tarif antara tarif RS dengan tarif JKN, sehingga perlu dilakukan analisis minimalisasi biaya salah satunya pada obat antihipertensi. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk memilih alternatif yang lebih cost- minimize antara ramipril-spironolakton dengan valsartan pada pengobatan gagal jantung kongestif di RSUD Pasar Rebo tahun 2014. Metode Penelitian: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatifberupa analisis cross-sectional retrospektif. Penelitian dilakukan dengan membandingkan nilai rata-rata biaya total dua alternatif pengobatan gagal jantung kongestif, yaitu ramipril-spironolakton dengan valsartan dengan menggunakan perspektif Rumah Sakit. Komponen biaya langsung medis yang dihitung adalah biaya obat, biaya jasa dokter dan biaya rawat inap. Sedangkan efektivitas dipastikan memiliki efek yang setara. Hasil: Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan pada pasien gagal jantung kongestif di RSUD Pasar Rebo tahun 2014 didapatkan bahwa: (1) Nilairata-rata biaya total penggunaan kombinasi obat ramipril-spironolakton sebesar Rp.2.527.743; (2) Rata-rata biaya total penggunaan obat valsartan sebesar Rp.2.430.923; (3) Obat ramipril-spironolakton efektivitasnya tidak berbeda signifikan atau setara dengan obat valsartan; (4) Adanya penghematan pada rata- rata biaya total obat valsartan sebesar Rp.96.820 per pasien; (5) Adanya penghematan pada biaya rawat inap obat valsartan sebesar Rp.299.031 per pasien. Kesimpulan: Obat valsartan memberikan nilai rupiah yang terendah dan menjadi pilihan yang lebih cost-minimize dibandingkan obat ramipril-spironolakton pada pasien gagal jantung kongestif di RSUD Pasar Rebo Tahun 2014. Kata kunci: Analisis minimalisasi biaya,ramipril - spironolakton, valsartan, gagal jantung kongestif, RSUD Pasar Rebo
Read More
T-4368
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sutikno; Pembimbing: Ascobat Gani
T-849
Depok : FKM UI, 2000
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Zainal Muslim; Pembimbing: Wachyu Sulistiadi; Penguji: Sabarinah Prasetyo
T-1653
Depok : FKM-UI, 2003
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sarto; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Pujianto, R. Sutiawan, Zamrud Ewita, Sri Handajani
T-3265
Depok : FKM-UI, 2010
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ferdinan S. Tarigan; Pembimbing: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Amal Chalik Sjaaf, Purnawan Junadi, Hardi Yusa
T-3076
Depok : FKM UI, 2009
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Suryawati Endaningsih; Pembimbing: Hafizzurachman; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Laksmi Dwiati, Bambang Tutuko
Abstrak:

Abstrak

Dalam Undang Undang Nomor 29 Tahun 2004 pasal 29 menyatakan bahwa setiap dokter dan dokter gigi yang melakukan praktik kedokteran di Indonesia wajib memiliki STR sesuai sertifikat kompetensi yang dimiliki. STR berlaku lima (5) tahun. Jika sampai masa berlaku STR habis dokter atau dokter gigi tidak melakukan registrasi ulang, akan kehilangan kewenangan untuk melakukan praktik kedokteran. Sanksi bagi yang menjalankan praktik dengan sengaja tanpa STR dan surat ijin adalah denda maksimal Rp 100 juta ( pasal 75). Hasil pencapaian registrasi ulang belum 100%.

Penelitian ini ditujukan untuk melakukan analisis terhadap kebijakan dan analisis untuk menyusun rekomendasi (analysis of policy dan analysis for policy) registrasi ulang dokter dan dokter gigi di Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan untuk analisis data digunakan model content analisis diolah dengan pendekatan model Patton Savicky dengan kriteria boulton disajikan berdasarkan analysis of policy dan analisis for policy sebagai rekomendasi.

Hasil penelitian menemukan bahwa dokter dan dokter gigi kurang bersedia melakukan registrasi ulang karena : alur sertifikasi kompetensi untuk persyaratan registrasi ulang terlalu panjang, pemenuhan persyaratan terlalu sulit, pengisian borang borang terlalu banyak, pengumpulan SKP untuk memperoleh sertifikat kompetensi bagi registrasi ulang kurang menilai kompetensi (skill) lebih untuk menilai administrasi, pendidikan dan pelatihan yang diselenggarakan oleh organisasi profesi membutuhkan biaya dan hanya untuk peningkatan pengetahuan (knowledge) bukan untuk meningkatkan keterampilan (skill), proses penerbitan sertifikat kompetensi dan STR ulang menjadi terlalu lama.Kesimpulannya, implementasi kebijakan registrasi ulang dokter dan dokter gigi kurang efektif pelaksanaannya karena dipengaruhi oleh peraturan itu sendiri, upaya dokter atau dokter gigi, institusi yang melaksanakan kebijakan serta kondisi lingkungan.

Peneliti menyarankan agar mengembangkan sistem registrasi, meningkatkan komitmen, meningkatkan otoritas KKI, meningkatkan resources, meningkatkan pemahaman dan kesepakatan terhadap tujuan dan stakeholder agar meningkatkan pembinaan dan pengawasan.


According to the Law Number 29 in 2004 article 29 States that every doctors and dentists who conduct medical practices in Indonesia must have a certificate of competence in accordance STR owned .STR is expired after five (5) years. If until the expiration date of STR, doctor and dentist do not apply for the re-registration, so doctors or dentists will loss their authority to conduct medical practices. The consequence for doctors and dentists who running practice without STR and licence intentionally is a fine of up to Rp 100 million (article 75). The achievements of re-registration have not been 100% yet.

This study aimed to analysis the policy and analysis to make recomendations for reregistration policy of doctors and dentists in Indonesia. This study used qualitative approach and for data analysis using the content analysis model, prepared by "Patton Savicky model approach with Boulton criteria based on the analysis of policy and analysis for policy as a recommendation.

The study has found that doctors and dentists are less willingness to be registered as the competencies certification flow for the reregistration are too long, too difficult STR making requirements, too many forms must be fulfilled, the SKP activity colllecting to have competence certificate for the reregistration is not to assess the competencies (skills) but to assess the administration, education and training organized by professional organizations to expensive and only for knowledge increase, not for the skills the,and the waiting time for STR publishing is too long. To sum up, the implementation of the re-registration policies of doctors and dentists have not performed well because it was influenced by the re-registration policy and efforts of the doctors and dentists and institutions in implementing the policy and environmental circumstance.

Researchers suggests to develop a registration system, to increase the commitment, to improve KKI authority, increase resources, to increase the understanding and agreement on goals and stakeholders in order to improve the guidance and supervision

Read More
T-3973
Depok : FKM-UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Marisa Aristiawati Hardigaloeh; Pembimbing: Wachyu Sulistiadi; Penguji: Budi Hidayat, Dian Ayubi, Harimat Hendarwan, Paulus Januar
Abstrak:

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan gigi dan mulut pada penduduk Indonesia. Metode yang digunakan adalah cross-sectional dengan menggunakan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) dan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) tahun 2007. Responden pada penelitian ini minimal berusia 12 tahun keatas (N = 725,966). Dari hasil analisis deskriptif didapatkan gambaran pemanfaatan pelayanan kesehatan gigi dan mulut kuratif dan preventif. Hasil uji regresi logistik memperlihatkan bahwa faktor predisposisi (umur, jenis kelamin, status kawin, pendidikan, pekerjaan utama, perilaku menggosok gigi), faktor pendukung (ketersediaan jaminan kesehatan, status ekonomi, wilayah domisili, rural/urban) dan faktor need (status kesehatan gigi dan mulut) berhubungan dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan gigi dan mulut kuratif dan preventif. Status kesehatan gigi dan mulut serta ketersediaan asuransi kesehatan merupakan variabel yang paling berhubungan dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan gigi dan mulut kuratif dan preventif. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pemanfaatan pelayanan kesehatan gigi dan mulut kuratif dan preventif di Indonesia berhubungan dengan faktor predisposisi, pendukung dan need. Kata kunci : pemanfaatan pelayanan kesehatan gigi dan mulut, faktor, Indonesia


 The objective of this study was to analyze factors associated with  curative and preventive dental care utilization in Indonesian population. This study used secondary cross-sectional data from the Indonesian Basic Health Research 2007 and Indonesian National Socio-Economic Survey 2007. Respondent included individuals at least 12 years old (N = 725,966). Descriptive analyses was used to describe the curative and preventive dental care utilization. Multivariate logistic regression analyses showed that predisposing factors (age, gender, marital status, education, occupation, and toothbrushing behavior), enabling factors (health insurance, economic status, domicile, rural/urban) and need factor (dental health status) were associated with curative and preventive dental care utilization. Moreover also found that both dental health status and health insurance were the most associated variables with curative and preventive dental care utilization. This study concluded that curative and preventive dental care utilization in Indonesia were influenced by all the three predisposing, enabling, and need factors. Keywords : dental care utilization, factors, Indonesia

Read More
T-3350
Depok : FKM-UI, 2011
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive