Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 39433 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Fadilla Rizky Prameshwari; Pembimbing: Dian Ayubi; Penguji: Rita Damayanti, Tri Krianto, Gafar Hartatiyanto, Usep Solehudin
Abstrak:
Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah virus yang menginfeksi sel darah putih yang disebut sel CD4 dan menargetkan daya tahan tubuh. kasus HIV di DKI Jakarta pada tahun 2022 memiliki kasus HIV secara kumulatif sebanyak 79.043 sehingga menempati urutan provinsi tertinggi. Kasus terbanyak yang dilaporkan pada Tahun 2020 oleh Profil Kesehatan DKI Jakarta berada pada wilayah Jakarta Selatan. Salah satu upaya untuk meningkatkan angka harapan hidup ODHIV adalah penggunaan obat antiretroviral (ARV). Secara umum pemberian terapi ARV diberikan dalam bentuk kombinasi yang harus dikonsumsi seusia hidup. Angka kepatuhan di Puskesmas Kecamatan Setiabudi yaitu 45.6%. Angka ini lebih rendah dari target kemenkes yaitu 95% pasien mengalami supresi virus. Kepatuhan terapi antiretroviral di Puskesmas Kecamatan Setiabudi ini dipengaruhi oleh berbagai faktor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran dan faktor yang berhubungan dengan kepatuhan terapi antiretroviral di Puskesmas Kecamatan Setiabudi. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan wawancara responden berdasarkan kuisioner yang sudah dibuat. Populasi adalah pasien ODHIV >18 tahun dengan minimal terapi selama 6 bulan. Sampel sebanyak 90 orang didapatkan melalui rumus uji beda proporsi. Berdasarkan analisis univariat diperoleh rerata kepatuhan terapi antiretroviral di Puskesmas Kecamatan Setiabudi 84.3 dari skala 100. Hasil uji regresi logistik berganda menunjukkan bahwa keyakinan diri memiliki hubungan dengan kepatuhan terapi antiretroviral. Keyakinan diri merupakan variabel dominan yang berhubungan dengan kepatuhan terapi antiretroviral di Puskesmas Kecamatan Setiabudi (p=0.023, OR 2.87). Monitoring kepatuhan dapat menjadi intervensi yang baik bagi Puskesmas Kecamatan Setiabudi

The Human Immunodeficiency Virus (HIV) is a virus that infects white blood cells called CD4 cells and targets the body's immune system. The cases of HIV in DKI Jakarta in 2022 have cumulatively reached 79,043, making it the province with the highest number of cases. The highest number of cases reported in 2020 by the DKI Jakarta Health Profile were in the South Jakarta area. One of the efforts to increase the life expectancy of people living with HIV (PLWH) is the use of antiretroviral (ARV) drugs. Generally, ARV therapy is given in combination and must be consumed for life. The adherence rate at the Puskesmas in Kecamatan Setiabudi is 45.6%. This figure is lower than the Ministry of Health's target of 95% of patients achieving virus suppression. Adherence to antiretroviral therapy at the Puskesmas in Kecamatan Setiabudi is influenced by various factors. This study aims to understand the picture and factors associated with adherence to antiretroviral therapy at the Puskesmas in Kecamatan Setiabudi. This study uses a cross-sectional design with respondent interviews based on a pre-made questionnaire. The population is HIV patients >18 years old with a minimum of 6 months of therapy. A sample of 90 people was calculated using a difference of proportion test formula. Based on a univariate analysis, the average adherence to antiretroviral therapy at the Puskesmas in Kecamatan Setiabudi is 84.3 out of 100. The results of the multiple logistic regression tests show that self-efficacy is associated with adherence to antiretroviral therapy. Self efficacy is the dominant variable associated with adherence to antiretroviral therapy at the Puskesmas in Kecamatan Setiabudi (p=0.023, OR 2.87). Monitoring adherence can be a good intervention for the Puskesmas in Kecamatan Setiabudi
Read More
T-6657
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wulan Meilani; Pembimbing: Dian Ayubi; Penguji: Helda, Wahyu Handriana Alamsyah
S-6343
Depok : FKM-UI, 2011
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ajeng Perwita Sari; Pembimbing: Dian Ayubi; Penguji: Anwar Hasan, Santayana
Abstrak: PMTCT (Prevention Mother To Child HIV/AIDS Transmission) merupakan salah satu bentuk pengendalian masalah HIV/AIDS pada ibu hamil dan bayi. Salah satu programnya adalah dengan melakukan Tes HIV pada seluruh wanita yang sedang hamil. Masih ada 4,8% ibu hamil yang tidak mau melakukan test HIV, padahal target dari pemerintah adalah pada 100 persen ibu hamil dilakukan test HIV. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran factor-faktor yang berhubungan dengan perilaku test HIV pada ibu hamil di Puskesmas Pasar Rebo Jakarta Timur. Penelitian adalah penelitian kualitatif dengan teknik wawancara mendalam dan diskusi kelompok terarah dalam pengambilan datanya. Data diperoleh dari 8 informan ibu hamil yang memeriksakan kehamilannya di Puskesmas Kecamatan Pasar Rebo. Hasil penelitian ini adalah persepsi hambatan dari ibu hamil seperti tidak izin dari suami, ibu takut kerahasiaan hasil test tidak terjamin dan kekhawatiran ibu akan adanya kecurigaan dari orang-orang sekitar bahwa ibu akan dianggap berperilaku negatif bila melakukan test HIV membuat ibu tidak mau melakukan test HIV. persepsi kerentanan ibu terhadap HIV/AIDS juga merupakan factor yang mempengaruhi ibu untuk melakukan test HIV. ibu yang merasa memiliki factor resiko untuk terinfeksi HIV mau melakukan test HIV sedangkan ibu yang merasa sehat dan tidak memiliki factor resiko tidak melakukan test HIV. diharapkan Puskesmas mau melakukan penyuluhan kepada suami sehinga suami semakin waspada dan mau mengizinkan istrinya untuk melakukan test HIV.
 

PMTCT (Prevention of Mother To Child HIV / AIDS Transmission) is one form to control over the issue of HIV / AIDS in pregnant women and infants. One of the programs is to perform an HIV test to all pregnant women. There are 4,8% pregnant women who do not want to do an HIV test, even though the target of the government is at 100 percent of pregnant women with HIV test done. The purpose of this study is to describe the cause is still there pregnant women who do not want to do an HIV test at Pasar Rebo PHC. The study is a qualitative research technique of in-depth interviews and focus group discussions in data retrieval. Data were obtained from 8 informants check ups pregnant women in sub-district Pasar Rebo PHC. The result of this research is the perception of pregnant women such barriers do not permit of a husband, a mother afraid test results are not guaranteed confidentiality and the mother fears that there is a suspicion of the people around that maternal behavior would be considered a negative HIV test when the mother does not want to do the HIV test . Mother's perception of vulnerability to HIV / AIDS is also a factor that affects the mother to do the HIV test. Mothers who feel they have risk factors for HIV infection would do the HIV test, while mothers who feel healthy and do not have risk factors do not test for HIV.
Read More
S-8411
Depok : FKM-UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tsalitsa Putri; Pembimbing: Dian Ayubi; Pennguji: Ella Nurlaella Hadi, Tri Yunis Miko Wahyono, Liska Sari, Eem Suhaemi
Abstrak:
Anak usia 6-12 tahun memiliki kerentanan terhadap karies gigi. Kesehatan gigi anak perlu mendapat perhatian orang tua khususnya dari ibu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan perilaku ibu dalam pencegahan karies gigi anak berdasarkan teori Health Belief Model. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan 140 ibu siswa. Terpilih enam SDN dengan teknik cluster random sampling. Jumlah sampel dihitung dengan rumus proportional sampling dan sampel diambil secara systematic random sampling. Data dikumpulkan dengan wawancara menggunakan kuesioner yang dianalisis secara univariat, bivariat dan multivariat. Hasil penelitian menunjukkan 53,6 % ibu berperilaku kurang dalam pencegahan karies gigi anak. Persepsi individu yang berhubungan dengan perilaku ibu adalah persepsi kerentanan dan efikasi diri. Efikasi diri adalah faktor paling dominan berhubungan dengan perilaku ibu, artinya ibu dengan efikasi diri rendah berpeluang 3,4 kali untuk memiliki perilaku kurang dalam pencegahan karies gigi anak dibandingkan ibu dengan efikasi diri yang tinggi setelah dikontrol oleh persepsi kerentanan dan persepsi hambatan (OR:3,475,95%CI:1,653-7,306). Untuk itu, perlu ditingkatkan efikasi diri ibu dengan edukasi dan penyuluhan serta membentuk kelompok dukungan ataupun forum online

Children aged 6-12 years have vulnerabilities to dental caries. Children's dental health needs to get good attentions of parents, especially from mothers. This study aims to determine the determinants of maternal behavior in preventing dental caries in children based on the theory of the Health Belief Model. This study used a cross-sectional design on 140 students’ mothers. Six elementary schools were selected using the cluster random sampling technique. The number of samples were calculated using the proportional sampling formula and the samples were collected using systematic random sampling. Data was gathered by interviewes using questionnaires which were analyzed by univariate, bivariate and multivariate. The results showed that 53.6% of mothers had poor behaviors in preventing children dental caries. Individual perceptions related to mother's behavior are perceptions of vulnerability and self-efficacy. Self-efficacy is the most dominant factor related to maternal behavior, meaning that mothers with low self-efficacy are 3.4 times more likely to demonstrate deficiencies in preventing dental caries in children than those with high self-efficacy after being controlled by perceived vulnerability and perceived obstacles (OR: 3,475 .95%CI:1.653-7.306). For this reason, it is esenssial to increase mothers’ self-efficacy with education and counseling as well as forming support groups or online forums.
Read More
T-6706
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Irma Rahmayani; Pembimbing: Tri Krianto; Penguji: Evi Martha, Siti Nur Anisah, Budiarti Setiyaningsih
Abstrak:
Tuberkulosis dan HIV merupakan isu kesehatan yang menjadi target tujuan pembangunan berkelanjutan meningkatkan kesejahteraan masyarakat dunia untuk dapat diakhiri pada tahun 2030. Kaitan antara TBC dan HIV sangat erat, TBC merupakan penyebab kematian utama pada orang dengan HIV (ODHIV). Indonesia merupakan negara dengan kasus TBC nomor dua terbanyak didunia. Dengan 271 juta penduduk Indonesia diketahui 543.100 orang yang hidup dengan HIV dan diperkirakan 4.700 orang pasien TBC-HIV. Upaya pencegahan sangat diperlukan untuk mencegah risiko penularan tuberkulosis pada ODHIV, dengan pendekatan teori Health Belief Model (HBM) yang mengungkapkan persepsi seorang individu tentang penyakitnya akan mempengaruhi perilaku kesehatannya. Dengan diketahuinya kaitan persepsi ODHIV terhadap perilaku pencegahan tuberkulosis pada ODHIV diharapkan perilaku pencegahan tuberkulosis pada ODHIV dapat ditingkatkan dan berdampak pada penurunan kasus koinfeksi TBC-HIV. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif menggunakan desain studi kasus. Tujuan penelitian ini untuk menggali lebih dalam tentang persepsi perilaku pencegahan tuberkulosis pada ODHIV menggunakan komponen teori Health Belief Model (HBM). Hasil penelitian adalah perilaku pencegahan yang di lakukan ODHIV dalam pencegahan Tuberkulosis adalah pemeriksaan TBC, meminum Terapi pencegahan Tuberkulosis, memakai masker saat bepergian dan melakukan pola hidup sehat. Perilaku tersebut dipengaruhi persepsi kerentanan, persepsi bahaya/ kesakitan terhadap Tuberkulosis, persepsi manfaat dan hambatan untuk berperilaku tersebut, memiliki keyakinan dapat berperilaku tersebut, dan adanya isyarat untuk melakukannya dari petugas kesehatan, pendamping ODHIV, pasangan, dan teman sebaya.

Tuberculosis and HIV are health issues that are targeted by sustainable development goals to improve the welfare of the world community to end in 2030. The link between TB and HIV is very close, TB is the main cause of death in people living with HIV (PLWH). Indonesia is a country with the second most TB cases in the world. Of the 271 million population, there are 543,100 people living with HIV and an estimated 4,700 people with TB-HIV. Prevention efforts are urgently needed to prevent the risk of tuberculosis transmission in ODHIV, with the Health Belief Model (HBM) theoretical approach which reveals an individual's perception of his illness will affect his health behavior. By knowing the link between perceptions of ODHIV on tuberculosis prevention behavior in ODHIV, it is hoped that tuberculosis prevention behavior in ODHIV can be increased and have an impact on reducing cases of TB-HIV co-infection. This research is a qualitative using a case study design. The purpose of this study was to dig deeper into the perceptions of tuberculosis prevention behavior in ODHIV using the theory component of the Health Belief Model (HBM). The results of the study are preventive behaviors that are carried out by ODHIV in preventing tuberculosis, namely TB examinations, taking TB prevention therapy, wearing masks when traveling and adopting a healthy lifestyle. This behavior is influenced by perceptions of vulnerability, perceptions of danger/pain against tuberculosis, perceptions of benefits and barriers to this behavior, having beliefs about this behavior, and cues to do so from health workers, ODHIV companions, partners, and peers.
Read More
T-6756
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Endah Alfiyanti Syahri; Pembimbing: Dian Ayubi; Penguji: Tri Krianto, Muspardi
Abstrak:
Latar belakang: Obesitas merupakan masalah kesehatan masyarakat global yang terus meningkat dan berdampak serius terhadap kualitas hidup serta produktivitas kerja. Prevalensi obesitas di lingkungan PT Hutama Karya Infrastruktur sebesar 65,31% serta lingkungan kerja dengan gaya hidup sedentari dan stres tinggi, berpotensi memperburuk pola makan yang berisiko obesitas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis determinan perilaku makan berisiko obesitas dengan pendekatan teori Health Belief Model (HBM). Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif potong lintang (cross-sectional) dengan pendekatan survei menggunakan kuesioner. Sampel penelitian adalah karyawan PT Hutama Karya Infrastruktur yang dipilih secara total sampling sebanyak 188 orang. Variabel yang dianalisis meliputi konstruk HBM (persepsi kerentanan, keparahan, manfaat, hambatan, isyarat bertindak, efikasi diri) serta karakteristik individu. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji chi-square. Hasil: Skor rata-rata perilaku makan berisiko sebesar 55,5 dari skala 100 menunjukkan pola konsumsi yang cenderung tidak sehat. Persepsi kerentanan, keparahan, dan manfaat berada pada tingkat tinggi, namun tidak berhubungan signifikan dengan perilaku makan berisiko. Sebaliknya, persepsi hambatan memiliki hubungan yang sangat signifikan (p < 0,001). Efikasi diri mendekati signifikan (p = 0,054), sedangkan isyarat bertindak tidak berhubungan secara statistik. Karakteristik individu seperti jenis kelamin (p = 0,038) dan pendapatan (p = 0,019) juga berpengaruh signifikan terhadap perilaku makan. Kesimpulan: Persepsi hambatan merupakan determinan utama perilaku makan berisiko obesitas. Intervensi promosi kesehatan kerja perlu difokuskan pada pengurangan hambatan dan peningkatan efikasi diri untuk membentuk perilaku makan sehat secara berkelanjutan.
Background: Obesity is a global public health issue that continues to rise and has serious impacts on quality of life and work productivity. The prevalence of obesity at PT Hutama Karya Infrastruktur is 65.31%, and the work environment characterized by a sedentary lifestyle and high stress levels has the potential to worsen dietary patterns that increase the risk of obesity. This study aims to analyze the determinants of risky eating behavior using the Health Belief Model (HBM) approach. Methods: This study employed a quantitative cross-sectional design using a survey approach with questionnaires. The study sample consisted of 188 employees at PT Hutama Karya Infrastruktur selected through total sampling. The variables analyzed included HBM constructs (perceived susceptibility, severity, benefits, barriers, cues to action, and self-efficacy) as well as individual characteristics. Data analysis was performed using univariate and bivariate methods with chi-square tests. Results: The average score of risky eating behavior was 55.5 out of 100, indicating a tendency toward unhealthy dietary patterns. Perceived susceptibility, severity, and benefits were at high levels, but they were not significantly associated with risky eating behavior. In contrast, perceived barriers showed a highly significant relationship (p < 0.001). Self-efficacy was nearly significant (p = 0.054), while cues to action were not statistically associated. Individual characteristics such as gender (p = 0.038) and income (p = 0.019) also had a significant influence on eating behavior. Conclusion: Perceived barriers are the main determinant of risky eating behavior associated with obesity. Workplace health promotion interventions should focus on reducing barriers and enhancing self-efficacy to sustainably promote healthy eating behavior.
Read More
S-12003
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dwi Wulandari; Pembimbing: Ella Nurlaella Hadi; Penguji: Putri Bungsu, Fathimah Sulistyowati Sigit, Sisca Rusmawati, Iradani Yupitaningrum
Abstrak:

Kanker leher rahim merupakan penyakit berbahaya pada wanita yang dapat ditangani semenjak awal dengan melakukan deteksi dini. Capaian deteksi dini kanker leher rahim di Indonesia yang rendah menyebabkan peningkatan angka kesakitan dan kematian akibat kanker leher rahim. Puskesmas Batuceper merupakan salah satu puskesmas di Kota Tangerang dengan capaian deteksi dini kanker leher rahim metode IVA terendah pada tahun 2022. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan perilaku wanita usia 30-50 tahun dalam melakukan deteksi dini kanker leher rahim metode IVA di Puskesmas Batuceper tahun 2024 berdasarkan teori Health Belief Model (HBM). Desain penelitian menggunakan studi cross-sectional. Data dikumpulkan dengan metode wawancara menggunakan kuesioner kepada 172 wanita usia 30-50 yang dipilih dengan teknik consecutive sampling. Data dianalisis secara univariat, bivariat dan multivariat dengan uji regresi logistik ganda. Hasil penelitian menunjukkan 11,6% wanita usia 30-50 tahun telah melakukan deteksi dini metode IVA dalam 3 tahun terakhir. Faktor yang berhubungan dengan perilaku deteksi dini kanker leher rahim metode IVA adalah persepsi hambatan dan isyarat bertindak, dimana persepsi hambatan merupakan faktor yang paling dominan. Responden dengan persepsi hambatan yang rendah memiliki peluang 4,68 kali untuk melakukan deteksi dini kanker leher rahim metode IVA dibandingkan responden dengan persepsi hambatan yang tinggi setelah dikontrol oleh isyarat bertindak (aOR=4,68 95% CI 1,45-15,10). Oleh karena itu, penting dilakukan upaya untuk mengurangi hambatan dan meningkatkan isyarat bertindak dengan memperluas kegiatan pemberian edukasi dan informasi mengenai bahaya kanker leher rahim serta pentingnya pemeriksaan IVA kepada calon pengantin, suami/pasangan, orangtua siswa di sekolah serta lintas sektor. Kata Kunci: Deteksi Dini, Kanker Leher Rahim, Health Belief Model, Puskesmas


 

Cervical cancer is a dangerous disease in women that can be treated early by screening. The low achievement of cervical cancer screening in Indonesia has led to an increase in the incidence of pain and death from cervical cancer. The Batuceper Health Center is one of the health centers in Tangerang City with the lowest achievement of cervical cancer screening with IVA method in 2022. This study aims to determine the behavioral determinants of women aged 30-50 in conducting early detection of cervical cancer using the IVA method at the Batuceper Health Center in 2024 based on the Health Belief Model (HBM) theory. The research design uses a cross-sectional study. Data was collected by interview method using a questionnaire to 172 women aged 30-50 who were selected using consecutive sampling techniques. The data were analyzed univariately, bivariate, and multivariate with multiple logistic regression tests. The results showed that 11.6% of women aged 30-50 had successfully detected the IVA method early in the last 3 years. Factors related to the behavior of early detection of cervical cancer IVA method are the perception of obstacles and action signals, where the perception of obstacles is the most dominant factor. Respondents with a low perception of obstacles had 4.68 times the chance of cervical cancer screening with IVA method compared to respondents with a high perception of obstacles after being controlled by action signals (aOR=4.68, 95% CI 1.45-15.10). Therefore, it is important to make efforts to reduce the barriers and increase action signals by expanding education and information activities about the dangers of cervical cancer as well as the importance of IVA examination to brides-to-be, husbands/partners, and parents of students at school and across sectors.  Keywords: Screening, Cervical Cancer, Health Belief Model, Health Center

Read More
T-7228
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nurul Aliyah; Pembimbing: Tri Krianto; Penguji: Siti Arifah Pujonarti, Syahrizal, Anita Rahmiwati, Yudhi Setiawan
Abstrak:
Masalah ketidakpatuhan dalam pengobatan sering dijumpai pada penyakit yang memerlukan penanganan jangka panjang, seperti hipertensi. Ketidakpatuhan terhadap pengobatan hipertensi sering kali menjadi penyebab utama berbagai kecacatan. Alasan utama yang mendasari ketidakpatuhan minum obat pada pasien hipertensi tersebut ialah kurangnya pengetahuan pasien akan pentingnya minum obat hipertensi secara teratur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kepatuhan minum obat antihipertensi penderita hipertensi di Puskesmas Boom baru Kota Palembang berdasarkan teori Lawrence Green. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan 102 sampel. Jumlah sampel dihitung dengan rumus Lemeshow dan sampel diambil secara purposive sampling sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Data dikumpulkan dengan wawancara menggunakan kuesioner yang dianalisis secara univariat, bivariat dan multivariat. Hasil penelitian menunjukkan 74 responden (72,5%) patuh dalam minum obat antihipertensi. Faktor-faktor yang berhubungan dengan kepatuhan minum obat antihipertensi meliputi pengetahuan, sikap, motivasi diri, dukungan keluarga dan dukungan tenaga kesehatan. Faktor yang paling dominan berhubungan dengan kepatuhan minum obat antihipertensi, adalah pengetahuan dengan nilai OR = 8,040 (95% CI: 2,151 - 30,050). Perlu dilakukan upaya peningkatan pengetahuan, sikap, motivasi dengan menyediakan media informasi melalui media sosial seperti membuat grup whatsapp sebagai media komunikasi secara daring antara penderita hipertensi dan tenaga kesehatan di Puskesmas Boom baru dan sebagai media penyebaran informasi sebagai upaya peningkatan pengetahuan. Edukasi diperlukan dengan menitikberatkan pada pengetahuan mengenai hipertensi dan tatalaksananya. Juga perlu dilakukan langkah pendekatan dengan keluarga sebagai upaya untuk menjalin kerjasama antara tenaga kesehatan dan keluarga dalam memberikan dukungan bagi penderita hipertensi.

The problem of non-adherence medication is often encountered in diseases that require long-term management, such as hypertension. Non-adherence among hypertension medication is often become as main cause of various disabilities. The main reason underlying of the non-adherence medication among hypertension patients are the lack of patients knowledges of the importance of taking hypertension medication regularly. This study aims to determine the factors associated with adherence to taking antihypertension medication among hypertension patients who regularly seek treatment at the Boom Baru Public Health Centre, Palembang City based on Lawrence Green's theory. This study used a cross sectional design with 102 samples. The number of samples was calculated using the Lemeshow and the samples were taken by purposive sampling according to the inclusion and exclusion criterias. Datas were collected by interview using a questionnaire which was analysed univariately, bivariately and multivariately. The results showed that 74 respondents (72.5%) were compliant in taking antihypertension medication. Factors associated with adherence on taking antihypertension medication includes knowledge, attitude, self-motivation, family support and health worker support. The most dominant factor associated with adherence to taking antihypertension drug is knowledge with OR = 8,040 (95% CI: 2,151 - 30,050). Efforts need to be made to improve knowledge, attitudes, motivation by providing information media through social media such as creating a WhatsApp group as an online communication medium between hypertension patients and health workers at Puskesmas Boom Baru and as a medium for disseminating information as an effort to increase knowledge. Education is needed with an emphasis on knowledge about hypertension and its management. It is also necessary to take steps to approach families as an effort to establish cooperation between health workers and families in providing support for people with hypertension.
Read More
T-6954
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ashka Dwita Arisawara; Pembimbing: Dian Ayubi; Penguji: Tiara Amelia, Erick Persson Jeffry
Abstrak: ipertensi merupakan salah satu penyakit dengan angka mortalitas dan morbiditasyang sangat tinggi di dunia. Hipertensi merupakan penyakit terbanyak dengan kasus3.336 di Puskesmas Pasar Manggis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kepatuhan minum obat antihipertensi pada lansia diwilayah kerja Puskesmas pasar Manggis Tahun 2020. Penelitian ini merupakan penelitiankuantitatif dengan desain studi cross-sectional. Responden dalam penelitian ini yaitulansia (≥60 tahun) dengan hipertensi yang bertempat tinggal di wilayah kerja PuskesmasPasar Manggis sebanyak 59 responden, yang dipilih menggunakan metode quotasampling. Pengambilan data dilakukan melalui wawancara via telepon dengan panduankuesioner Morisky Medication Adherence Scale-8 (MMAS-8) dan kuesioner yang telahdiadaptasi dari penelitian sebelumnya serta dianalisis dengan uji chi-square . Hasilpenelitian menunjukkan bahwa faktor pendidikan (p=0,011), pengetahuan (p=0,009), dandukungan keluarga (p=0,001) memiliki hubungan yang signifikan dengan kepatuhanminum obat antihipertensi. Jenis kelamin, umur, peran petugas kesehatan dan aksesterhadap pelayanan kesehatan tidak memiliki hubungan yang signifikan dengankepatuhan minum obat antihipertensi (p> 0,05). Hasil penelitian ini diharapkanbermanfaat bagi Dinas Kesehatan Kota Jakarta Selatan & Puskesmas Pasar Manggissebagai dasar pengambilan keputusan untuk upaya kedepannya dalam meningkatkankesadaran, pengobatan dan pengendalian penyakit hipertensi di masyarakat.Kata Kunci:Kepatuhan Minum Obat, Obat Antihipertensi, Tekanan Darah, Hipertensi, Lansia
Hypertension is a disease with very high mortality and morbidity in the world.Hypertension is the most common disease with cases of 3.336 in Puskesmas PasarManggis. This study aims to determine the factors associated with antihypertensivemedication adherence among elderly in the working area of Pasar Manggis Health Centerin 2020. This research is a quantitative-based cross-sectional design. Respondents in thisstudy were 59 elderly (≥60 years old) with hypertension who lived in the working area ofPasar Manggis Health Center which were selected using the quota sampling method.Data was collected through phone interview questions with the Morisky MedicationAdherence Scale-8 (MMAS-8) questionnaire and a questionnaire that has been modifiedfrom previous studies which will be analyzed by chi-square test. The results showed thateducational factors (p = 0.011), knowledge (p = 0.009), and family support (p = 0.001)had a significant relationship with antihypertensive medication adherence. Gender, age,role of health workers and access to health services do not have a significant relationshipwith antihypertensive medication adherence (p> 0.05). The result of this study areexpected to benefit the Sout Jakarta city Health Office & Pasar Manggis Health Centeras a basis for making decisions for future efforts to raise awareness, treatmet and controlof hypertension in the community.Keyword: Medication Adherence, Antihypertensive Medication, Blood Pressure,Hypertension, Elderly.
Read More
S-10357
Depok : FKM-UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dina Putri Yulianti; Pembimbing: Ella Nurlaella Hadi; Penguji: Tiara Amelia, Yoslien Sopamena, Rien Pramindari, Saiful Millah
Abstrak:
Kesiapan kesehatan prakonsepsi merupakan aspek penting dalam pencegahan komplikasi kehamilan serta peningkatan keselamatan ibu dan bayi. Penelitian ini bertujuan menganalisis perilaku kesiapan kesehatan prakonsepsi calon pengantin berdasarkan konstruk Health Belief Model (HBM), meliputi persepsi kerentanan, keseriusan, manfaat, hambatan, isyarat untuk bertindak, dan efikasi diri. Penelitian ini menggunakan desain kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Informan terdiri atas delapan calon pengantin (empat perempuan dan empat laki-laki) sebagai informan utama serta lima informan kunci yang meliputi penyuluh Kantor Urusan Agama (KUA), tenaga kesehatan puskesmas (dokter dan bidan), dan pejabat Kementerian Agama Kota Depok. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan dianalisis menggunakan metode analisis isi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa calon pengantin menyadari adanya kerentanan terhadap risiko komplikasi kehamilan, seperti anemia, penyakit keturunan, dan gangguan kesehatan pada anak, serta memandang risiko tersebut sebagai kondisi yang serius dan memerlukan persiapan sejak sebelum kehamilan. Pemeriksaan kesehatan pranikah dipersepsikan memberikan manfaat berupa deteksi dini dan peningkatan kesiapan fisik maupun psikologis. Namun demikian, berbagai hambatan masih ditemukan, terutama keterbatasan informasi yang aplikatif, faktor psikologis seperti rasa malu dan ketakutan terhadap hasil pemeriksaan, serta keterlambatan waktu pemeriksaan yang dilakukan mendekati hari pernikahan. Isyarat untuk bertindak dalam mempersiapkan kesehatan prakonsepsi muncul melalui dorongan pasangan, edukasi tenaga kesehatan, bimbingan perkawinan oleh penyuluh KUA, serta pengalaman keluarga. Tingkat efikasi diri calon pengantin bervariasi dan dipengaruhi oleh motivasi pribadi, dukungan pasangan, serta lingkungan layanan kesehatan. Penelitian ini menegaskan bahwa meskipun calon pengantin telah memahami manfaat persiapan kesehatan prakonsepsi, masih terdapat kesenjangan antara pemahaman dan penerapan praktis di tingkat layanan. Oleh karena itu, diperlukan penguatan edukasi dan pendampingan prakonsepsi yang terintegrasi antara KUA dan puskesmas agar kesiapan kesehatan prakonsepsi calon pengantin dapat terwujud secara lebih optimal.

Preconception health readiness is a crucial component in preventing pregnancy complications and improving maternal and neonatal safety. This study aimed to analyze preconception health readiness behaviors among prospective brides and grooms using the Health Belief Model (HBM), including perceived susceptibility, perceived severity, perceived benefits, perceived barriers, cues to action, and self-efficacy. A qualitative study with a phenomenological approach was conducted. Participants consisted of eight prospective couples (four women and four men) as primary informants and five key informants, including marriage counselors from the Office of Religious Affairs (KUA), primary healthcare providers (a doctor and a midwife), and officials from the Ministry of Religious Affairs of Depok City. Data were collected through in-depth interviews and analyzed using content analysis. The findings show that prospective couples are aware of their susceptibility to pregnancy-related risks, such as anemia, hereditary conditions, and health problems in children, and perceive these risks as serious and requiring preparation before pregnancy. Premarital health examinations were perceived as beneficial for early detection and improving physical and psychological readiness. However, several barriers were identified, including limited access to practical health information, psychological factors such as embarrassment and fear of examination results, and delays in undergoing health examinations close to the wedding date. Cues to action emerged from partner encouragement, health education provided by healthcare professionals, premarital counseling conducted by KUA counselors, and family experiences. Levels of self-efficacy varied among prospective couples and were influenced by personal motivation, partner support, and the healthcare environment. This study highlights that although prospective couples generally understand the benefits of preconception health preparation, a gap remains between knowledge and practical implementation at the service level. Strengthening integrated preconception education and continuous support between the KUA and primary healthcare centers is needed to optimize preconception health readiness among prospective couples.
Read More
T-7473
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive