Ditemukan 35116 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Famelasari Fitria Ramdani; Pembimbing: Tri Krianto; Penguji: Sandra Fikawati, Dessy Rosmelita, Bayu Rahadian
Abstrak:
Read More
Penyakit karies gigi pada remaja berefek negatif pada aktivitas yang sedang dilaksanakan yaitu dapat mengakibatkan ketidaknyamanan dan produktivitas kerja tidak optimal, misalnya seorang atlet. Faktor resiko utama masalah kesehatan gigi pada atlet adalah kebiasaan konsumsi makanan atau minuman kariogenik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor resiko perilaku pencegahan karies terkait kejadian karies pada atlet remaja nasional di Sekolah Khusus Olahraga Kemenpora (SKO) Tahun 2023. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross sectional. Pengambilan sampel menggunakan metode nonprobability sampling yaitu total sampling sebanyak 50 orang atlet remaja nasional di SKO Kemenpora Tahun 2023. Pengumpulan data dilakukan dengan pemeriksaan karies dan wawancara menggunakan kuesioner, kemudian dianalisis secara univariat, bivariat dan multivariat (regresi logistik). Hasil penelitian menunjukkan 64% atlet remaja mengalami karies gigi. Faktor resiko perilaku pencegahan karies yang berhubungan dengan kejadian karies pada atlet remaja nasional adalah sikap terhadap kesehatan gigi (p-value 0,011) dan frekuensi makanan kariogenik (p-value 0,005). Faktor resiko tertinggi terkait keajdian karies pada atlet remaja di SKO Kemenpora adalah makanan kariogenik dengan nilai PR 19,432 (95% CI 2,473-152,687), jadi atlet remaja yang mempunyai perilaku frekuensi konsumsi makanan kariogenik tinggi 19,432 kali lebih beresiko mengalami karies gigi dibanding atlet remaja yang mempunyai perilaku frekuensi konsumsi makanan kariogenik rendah. Perlu adanya edukasi pencegahan karies dengan membatasi konsumsi makanan dan minuman kariogenik.
Dental caries in adolescents and adults can have a negative effect on the activities being carried out, which can result in uncomfortable conditions and work productivity is not optimal, for example an athlete. The main risk factor for dental and oral health problems in athletes is the habitual consumption of carioogenic foods and cariogenic beverages. This study aims to determine the risk factors for caries prevention behavior related to the incidence of caries in national adolescent athletes at the Kemenpora Sports Special School (SKO) in 2023. The research method uses a quantitative approach with a cross sectional design. Sampling using the nonprobability sampling method is a total sampling of 50 national youth athletes at the SKO Kemenpora in 2023. Data collection was conducted by interviews using questionnaires, then analyzed univariately, bivariately (chi square) and multivariate (multiple logistic regression). The results showed 64% of adolescent athletes experienced dental caries. Risk factors for caries prevention behavior associated with caries incidence in national adolescent athletes are attitudes towards dental health (p-value 0.011) and frequency of cariogenic foods (p-value 0.005). The highest risk factor related to caries in adolescent athletes at SKO Kemenpora is carioogenic food with a PR value of 19,432 (95% CI 2,473-152,687), so adolescent athletes who have high frequency of consumption of cariogenic foods are 19,432 times more likely to experience dental caries than adolescent athletes who have low frequency behavior of consuming cariogenic foods. There is a need for prevention programs by providing education on the prevention of caries by limiting the consumption of cariogenic foods and drinks.
T-6668
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Tsalitsa Putri; Pembimbing: Dian Ayubi; Pennguji: Ella Nurlaella Hadi, Tri Yunis Miko Wahyono, Liska Sari, Eem Suhaemi
Abstrak:
Read More
Anak usia 6-12 tahun memiliki kerentanan terhadap karies gigi. Kesehatan gigi anak perlu mendapat perhatian orang tua khususnya dari ibu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan perilaku ibu dalam pencegahan karies gigi anak berdasarkan teori Health Belief Model. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan 140 ibu siswa. Terpilih enam SDN dengan teknik cluster random sampling. Jumlah sampel dihitung dengan rumus proportional sampling dan sampel diambil secara systematic random sampling. Data dikumpulkan dengan wawancara menggunakan kuesioner yang dianalisis secara univariat, bivariat dan multivariat. Hasil penelitian menunjukkan 53,6 % ibu berperilaku kurang dalam pencegahan karies gigi anak. Persepsi individu yang berhubungan dengan perilaku ibu adalah persepsi kerentanan dan efikasi diri. Efikasi diri adalah faktor paling dominan berhubungan dengan perilaku ibu, artinya ibu dengan efikasi diri rendah berpeluang 3,4 kali untuk memiliki perilaku kurang dalam pencegahan karies gigi anak dibandingkan ibu dengan efikasi diri yang tinggi setelah dikontrol oleh persepsi kerentanan dan persepsi hambatan (OR:3,475,95%CI:1,653-7,306). Untuk itu, perlu ditingkatkan efikasi diri ibu dengan edukasi dan penyuluhan serta membentuk kelompok dukungan ataupun forum online
Children aged 6-12 years have vulnerabilities to dental caries. Children's dental health needs to get good attentions of parents, especially from mothers. This study aims to determine the determinants of maternal behavior in preventing dental caries in children based on the theory of the Health Belief Model. This study used a cross-sectional design on 140 students’ mothers. Six elementary schools were selected using the cluster random sampling technique. The number of samples were calculated using the proportional sampling formula and the samples were collected using systematic random sampling. Data was gathered by interviewes using questionnaires which were analyzed by univariate, bivariate and multivariate. The results showed that 53.6% of mothers had poor behaviors in preventing children dental caries. Individual perceptions related to mother's behavior are perceptions of vulnerability and self-efficacy. Self-efficacy is the most dominant factor related to maternal behavior, meaning that mothers with low self-efficacy are 3.4 times more likely to demonstrate deficiencies in preventing dental caries in children than those with high self-efficacy after being controlled by perceived vulnerability and perceived obstacles (OR: 3,475 .95%CI:1.653-7.306). For this reason, it is esenssial to increase mothers’ self-efficacy with education and counseling as well as forming support groups or online forums.
T-6706
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Nadhisa Zalfa; Pembimbing: Caroline Endah Wuryaningsih; Penguji: Dian Ayubi, Desta Amanda Awalia
Abstrak:
Read More
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku pencegahan anemia remaja pada siswi SMA Negeri 3 Depok tahun 2023. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode cross-sectional menggunakan data primer yang diselenggarakan di SMA Negeri 3 Depok pada bulan Oktober dan November 2023 dengan sampel berjumlah 110 responden. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah perilaku pencegahan anemia dengan variabel independen yaitu pengetahuan, sikap, keterlaksanaan program pencegahan anemia di sekolah, ketersediaan sarana kesehatan sekolah, dan dukungan teman sebaya. Data berupa hasil pengisian kuesioner yang diisi secara langsung oleh responden dan dianlisis dengan uji chi-square. Berdasarkan hasil analisis, didapatkan bahwa sebanyak 69 responden (62,7%) sudah menunjukkan perilaku pencegahan anemia yang baik. Secara statistik, terdapat hubungan yang signifikan antara sikap dengan perilaku pencegahan anemia (p-value = 0,006). Hasil penelitian menyarankan untuk sekolah agar meningkatkan pemantauan terhadap konsumsi TTD oleh siswi, bekerja sama dengan fasilitas kesehatan setempat untuk mengadakan skrining atau deteksi dini anemia yang menyeluruh, serta meningkatkan lagi edukasi melalui anemia dan pencegahannya melalui media informasi dan pelatihan peer education.
The purpose of this study is to explore and confirm the factors related to behaviors in anemia prevention by female students at SMA Negeri 3 Depok in 2023. This is a quantitative study with a cross-sectional method with the usage of primary data, held at SMA Negeri 3 Depok in October and November of 2023 with a sampel size of 110 respondents. The dependent variable is the behaviors in anemia prevention, with knowledge, attitude, implementation of the school’s anemia prevention programs, availability of the school’s health infrastructure and resources, and peer social support as the independent variables. The data includes results from questionnares the respondents answered themselves and analyzed with the chi-square test. Analysis shows that 69 respondents (62,7%) has shown good behaviors in anemia prevention. Statistically, there’s a significant relation between attitude and good behaviors in anemia prevention (p-value = 0,006). Study results suggest that the school escalates their monitoring on the students’ monthly consumption of iron supplements, work together with local health facilities to organize an exhaustive screening for anemia in students, and improve education of anemia and its prevention methods through informative media and peer education training.
S-11519
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Wulan Ningsih; Pembimbing: Evi Martha; Penguji: Caroline Endah Wuryaningsih, Nunung Nurlaela Sari
Abstrak:
Read More
Data hasil riset kesehatan dasar (Riskesdas) menunjukkan peningkatan prevalensi anemia dari 22.7% ditahun 2013 menjadi 32% di tahun 2018. Remaja putri menjadi kelompok yang rentan mengalami anemia. Pendistribusian tablet tambah darah (TTD) melalui usaha kesehatan sekolah (UKS) menjadi salah satu upaya pencegahan anemia remaja dan didukung berbagai kegiatan lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk menggali informasi mendalam mengenai gambaran pelaksanaan UKS terkait pencegahan anemia di SMAN 63 Jakarta. Penelitian ini dilakukan secara kualitatif dengan informan meliputi penanggung jawab UKS Puskesmas, Kepala Sekolah, Guru Pembina UKS, Pengurus UKS, dan siswa sekolah terkait. Hasil penelitian menunjukkan komponen input untuk pencegahan anemia sudah tersedia baik SDM, dana, sarana prasarana. Dalam komponen proses, kegiatan pencegahan anemia meliputi penyuluhan, distribusi TTD, deteksi dini, sarapan bersama, dan hari minum TTD bersama di sekolah. Namun masih ada kegiatan yang belum rutin dilakukan dan proses pengawasan belum dilakukan dengan maksimal. Capaian kegiatan pencegahan anemia di sekolah tersebut untuk distribusi TTD sudah mencapai target yang ditetapkan (> 70%) namun untuk konsumsinya belum diperhatikan. Oleh sebab itu, disarankan bagi pihak sekolah untuk meningkatkan pengawasan konsumsi TTD para siswinya. Puskesmas diharapkan memastikan terlaksananya kegiatan minum TTD bersama di sekolah dan dinas pendidikan turut mengawasi pihak sekolah terkait kegiatan pencegahan anemia yang dilakukan.
Data from basic health research (Riskesdas) shows an increase in the prevalence of anemia from 22.7% in 2013 to 32% in 2018. Adolescent girls are a group that is vulnerable to anemia. The distribution of iron tablets (TTD) through school health program (UKS) is one of the efforts to prevent anemia in adolescents and is supported by various other activities. This study aims to explore in-depth information regarding the description of UKS implementation related to anemia prevention at SMAN 63 Jakarta. This research was qualitative research with informants including the person in charge of UKS program ini the community health center, school principals, UKS supervisor teachers, UKS administrators, and related school students. The results of the study show that input components for anemia prevention are available both man, money, material. In the process component, anemia prevention activities include counseling, iron tablets distribution, early detection, breakfast together, and day of taking iron tablets together at school. However, there are still activities that have not been routinely carried out and the monitoring process has not been carried out optimally. The achievement of anemia prevention activities in these schools for the distribution of iron tablets has reached the set target (> 70%) but the consumption has not been considered. Therefore, it is suggested for the school to increase supervision of the consumption of iron tablets for their students. The Community Health Center is expected to ensure that joint iron tablets activities are carried out at schools and the education office will also oversee the school regarding anemia prevention activities being carried out.
S-11348
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Inayah Mahanani Nanda Sulistiyono; Pembimbing: Dian Ayubi; Penguji: Tri Krianto, Siti Muhimatul Munawaroh
Abstrak:
Read More
Perilaku yang mengarah kepada seks pranikah pada remaja dapat menimbulkan berbagai dampak negatif, seperti kehamilah tidak diinginkan, infeksi menular seksual, hingga HIV/AIDS. Terdapat tiga kematian bayi di Puskesmas Depok Utara sepanjang tahun 2025 akibat kehamilan tidak diinginkan yang merupakan dampak dari perilaku yang mengarah kepada seks pranikah pada remaja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku yang mengarah kapada seks pranikah pada remaja usia 15-19 tahun di wilayah kerja Puskesmas Depok Utara berdasarkan Theory of Planned Behaviour. Desain penelitian yang digunakan adalah desain cross-sectional dengan jumlah sampel 140 responden. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode convenience sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner yang diisi secara mandiri oleh responden dan data dianalisis menggunajan uji korelasi spearman. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara sikap terhadap perilaku (rs = 0,183; p = 0,03), norma subjektif (rs = 0,343; p = 0,001), dan intensi (rs = 0,187; p = 0,027) dengan perilaku yang mengarah kepada seks pranikah. Tidak terdapat hubungan signifikan antara variabel persepsi kontrol perilaku terhadap perilaku yang mengarah kepada seks pranikah (p >0,05). Upaya yang dapat dilakukan adalah intervensi yang melibatkan lingkungan sosial remaja, seperti teman sebaya, orang tua dan guru.
Behaviors leading to premarital sexual activity among adolescents may have serious adverse consequences, including unintended pregnancy, sexually transmitted infections (STIs), and HIV/AIDS. Three infant deaths were reported in 2025 in the Puskesmas Depok Utara as a consequence of unintended pregnancies associated with adolescents' behaviors leading to premarital sexual activity. This study aimed to examine the factors associated with behaviors leading to premarital sexual activity among adolescents aged 15–19 years in the catchment area of the North Depok Community Health Center based on the Theory of Planned Behaviour (TPB). This study employed a cross-sectional design involving 140 adolescents selected through convenience sampling. Data were collected using a self-administered questionnaire and analyzed using Spearman's rank correlation test. The findings demonstrated significant positive correlations between attitude toward the behavior (rs = 0.183, p = 0.030), subjective norm (rs = 0.343, p = 0.001), and intention (rs = 0.187, p = 0.027) with behaviors leading to premarital sexual activity. However, no significant association was found between perceived behavioral control and behaviors leading to premarital sexual activity (p > 0.05). These findings suggest that adolescents' social environment, particularly peers, parents, and teachers, plays an important role in shaping behaviors related to premarital sexual activity. Therefore, interventions aimed at preventing premarital sexual behavior among adolescents should actively involve these key social influences.
S-12417
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Radyan Rifka Pramanik; Pembimbing: Caroline Endah Wuryaningsih; Penguji: Tiara Amelia, Inggrid Pudyaningrum T
Abstrak:
Read More
Majelis Kesehatan Dunia ke-49 menyatakan kekerasan sebagai masalah utama bagi kesehatan masyarakat di dunia. Sekolah menjadi salah satu tempat terjadinya kekerasan. kekerasan yang paling umum terjadi di sekolah adalah Bullying. Bullying merupakan perilaku agresif yang melibatkan tindakan negatif, tidak diinginkan yang dilakukan secara berulang dan tidak adanya kekuatan yang seimbang antara pelaku dan korban. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku bullying pada remaja di SMP Negeri 3 Kota Bogor tahun 2023. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain studi cross-sectional. Sampel dalam penelitian ini adalah 213 sampel.Hasil penelitian didapatkan sebanyak 51,8% siswa memiliki perilaku bullying. Uji statistik didapatkan bahwa jenis kelamin (p-value 0,02), lingkungan keluarga (p-value 0,017), lingkungan teman (p-value 0,001) dan penggunaan sosial media (p-value 0,000) memiliki hubungan dengan perilaku bullying. Sedangkan, usia (p-value 0,227) tidak memiliki hubungan dengan perilaku bullying. Maka dari itu, disarankan untuk melakukan edukasi dan komunikasi pada siswa dan keluarga tentang bullying dengan bekerja sama antara sekolah, keluarga dan tenaga kesehatan untuk membentuk lingkungan yang aman dan nyaman, Meningkatkan fungsi UKS (Unit Kesehatan Siswa) dengan bekerja sama bersama tenaga kesehatan, Menjalankan Program Roots sebaik mungkin, dengan membentuk agen perubahan ke arah positif, Membuat hotline pelaporan kasus bullying untuk masyarakat sekolah.
The 49th World Health Assembly declared violence as a major issue for the health of the world’s public. Schools are one of the places of violence. The most common violence in schools is bullying. Bullying is an aggressive behavior involving negative, unwanted actions that are repeatedly performed and the absence of a balanced force between the perpetrator and the victim. The purpose of this study is to find out factors related to bullying behavior in adolescents at Bogor City 3 State Junior High School in 2023. The research uses quantitative methods with cross-sectional study design. The sample in this study was 213 samples. The results of the study found that 51.8% of students had bullying behavior. Statistical tests found that gender (p-value 0.02), family environment (p-value 0.017), friend environment (p-value 0.001) and social media use (p-value 0.000) have a relationship with bullying behavior. Age (p-value 0.227) has no connection with bullying behavior. Therefore, it is advisable to conduct education and communication in students and families about bullying by working together between schools, families and health workers to form a safe and comfortable environment, Improve the function of UKS (Student Health Unit) by working with health workers, Running Roots Programs as best as possible, by forming change agents towards positive, Create a hotline reporting case bullying for school communities.
S-11488
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Zulfan Al Ghiffari; Pembimbing: Tri Krianto; Penguji: Dian Ayubi, Gatot Dermawan
Abstrak:
Read More
Latar Belakang: Pemanasan merupakan tahap penting sebelum aktivitas olahraga yang berfungsi untuk mempersiapkan kondisi fisik dan mental serta mencegah terjadinya cedera. Namun, masih terdapat siswa yang belum melakukan pemanasan secara optimal. Hal ini dapat dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan dan sikap siswa terhadap pemanasan. Metode: Penelitian ini menggunakan design cross-sectional dengan melibatkan 200 responden yang merupakan siswa SMA Negeri 98 Jakarta Timur Tahun 2026. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner untuk mengukur pengetahuan, sikap, dan perilaku pemanasan. Data dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji chi-square. Hasil: Sebagian besar responden memiliki pengetahuan baik (62%) dan sikap positif (97,5%) terhadap pemanasan. Sebanyak 56,5% responden memiliki perilaku pemanasan yang baik. Hasil analisis menunjukan adanya hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan perilaku pemanasan (p<0,05) dan antara sikap dengan perilaku pemanasan (p<0,05). Kesimpulan: Pengetahuan dan sikap memiliki hubungan yang signifikan dengan perilaku pemanasan siswa. Semakin baik pengetahuan dan sikap siswa, maka semakin baik pula perilaku pemanasan yang dilakukan sebelum aktivitas olahraga.
Background: Warm-up is an important stage before physical activity that aims to prepare physical and mental conditions and prevent injuries. However, there are still students who do not perform warm-up optimally. This may be influenced by students’ level of knowledge and attitudes toward warm-up. Methods: This study used a cross-sectional design involving 200 respondents who were students of SMA Negeri 98 East Jakarta in 2026. The sampling technique used was purposive sampling. The research instrument was a questionnaire to measure knowledge, attitudes, and warm-up behaviour. Data were analyzed using univariate and bivariate analysis with the chi-square test. Results: Most respondents had good knowledge (62%) and positive attitudes (97,5%) toward warm-up. A total of (56,5%) of respondents demonstrated good warm-up behaviour. The analysis showed a significant relationship between knowledge and warm-up behaviour (p<0,05) and between attitudes and warm-up behavior (p<0,05). Conclusion: Knowledge and attitudes have a significant relationship with a student’s warm-up behavior. The better the student’s knowledge and attitudes, the better their warm-up behavior before physical activity.
S-12219
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Baby Prabowo Setyawati; Pembimbing: Adi Sasongko; Penguji: Ella N. Hadi, Dian Ayubi, Rizal Rivandi, Ishiko Herianto
T-4266
Depok : FKM UI, 2014
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Tiska Lozikania Mawardani; Pembimbing: Ella Nurlaella Hadi; Penguji: Indang Trihandini, Ririn Arminsih Wulandari, Sukaris, Anik Luthfiyah
Abstrak:
Read More
Karies gigi masih menjadi salah satu masalah kesehatan utama pada anak sekolah dasar di Indonesia. Orang tua khususnya ibu, memiliki peran penting dalam pencegahan karies gigi anaknya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan perilaku ibu dalam pencegahan karies gigi anak di SD Muhammadiyah Kompleks Gresik Jawa Timur berdasarkan teori Health Belief Model (HBM). Desain cross sectional digunakan pada 135 ibu yang diambil melalui multistage random sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara menggunakan kuesioner tervalidasi. Data dianalisis menggunakan uji chi-square, dan regresi logistik ganda. Hasil penelitian menunjukkan 51,1% ibu berperilaku kurang baik dalam pencegahan karies gigi pada anaknya. Variabel yang berhubungan dengan perilaku ibu adalah pengetahuan (p = < 0,001), efikasi diri (p = < 0,001) dan persepsi manfaat (p = 0,013) sedangkan persepsi hambatan dan isyarat merupakan konfonding pada hubungan tersebut. Efikasi diri merupakan faktor yang dominan berhubungan dengan perilaku ibu dalam pencegahan karies gigi anak, ibu yang memiliki efikasi diri tinggi berpeluang untuk berperilaku baik hampir 14 kali dibanding yang efikasi dirinya rendah setelah dikontrol oleh pengetahuan, persepsi manfaat, persepsi hambatan dan isyarat bertindak. Untuk itu, disarankan agar pihak sekolah bersama puskesmas meningkatkan pelaksanaan program UKGS dengan melibatkan orang tua, khususnya ibu dalam kegiatan edukasi berkala setiap 6 bulan sekali terkait pencegahan karies gigi. Selain itu, diperlukan penyediaan media edukasi seperti poster atau leaflet di sekolah, serta kegiatan simulasi menyikat gigi bersama ibu dan anak secara rutin untuk meningkatkan pengetahuan dan efikasi diri ibu dalam menjaga kesehatan gigi anak.
Dental caries remains a major health problem among elementary school children in Indonesia. This study aimed to determine the determinants of maternal behavior in preventing dental caries in children at SD Muhammadiyah Complex Gresik, East Java, based on the Health Belief Model (HBM). A cross-sectional design was applied to 135 mothers selected by multistage random sampling. Data were collected through interviews using validated questionnaires and analyzed using chi-square and logistic regression tests. The results showed that 51.1% of mothers exhibited poor behavior in preventing dental caries in their children. Factors significantly associated with maternal behavior were knowledge (p < 0.001), self-efficacy (p < 0.001), and perceived benefits (p = 0.013). Self-efficacy was identified as the dominant factor, with mothers who had high self-efficacy being nearly 14 times more likely to engage in positive preventive behavior compared to those with low self-efficacy, after adjusting for other variables. Therefore, it is recommended that schools collaborate with health centers to strengthen the implementation of the School Dental Health Program (UKGS) by involving parents, especially mothers, in educational activities held every six months related to dental caries prevention. Additionally, providing educational media such as posters or leaflets at school and organizing tooth brushing simulations with mothers and children are needed to improve mothers' knowledge and self-efficacy in maintaining their children's oral health.
T-7335
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Amalia Ayu Ramadhani; Pembimbing: Ella Nurlaela Hadi; Penguji: Putri Bungsu, Dharma Ningsih Dwi Putri
Abstrak:
Read More
Di Indonesia prevalensi kasus Diabetes Melitus (DM) pada anak meningkat 70 kali lipat pada tahun 2023. Jumlah kasus tersebut dibandingkan pada tahun 2010 yaitu 0,028 per 100 ribu jiwa, angkanya naik menjadi 2 per 100 ribu jiwa pada tahun 2023. Kasus penyakit DM pada anak di Kota Depok dilaporkan oleh Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) di Kota Depok mencapai 109 kasus sepanjang tahun 2022. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perilaku orang tua dalam melakukan pencegahan penyakit DM pada anak di Kota Depok Tahun 2023. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif, desain cross-sectional dilakukan pada 170 responden yang diambil secara quota sampling pada orang tua di Kota Depok. Data dikumpulkan secara online menggunakan kuesioner yang sudah diuji validitas dan reliabilitasnya serta dianalisis dengan uji Chi Square untuk melihat hubungan 11 variabel independen dengan perilaku orang tua dalam pencegahan penyakit diabetes pada anak. Hasil penelitian menunjukkan, responden memiliki perilaku pencegahan DM pada anak yang baik yaitu sebanyak 43,5%. Pendapatan (p=0,001), persepsi kerentanan (p=0,020), persepsi keparahan (p=0,030), persepsi manfaat (p=0,018), dan persepsi hambatan (p=0,046) menunjukkan hubungan dengan perilaku orang tua dalam pencegahan penyakit DM pada anak, sedangkan usia (p=0,085), jenis kelamin (p=0,378), pendidikan (p=0,530), pekerjaan (p=0,419), pengetahuan (p=0,425), dan self-efficacy (p=0,429) tidak berhubungan dengan perilaku orang tua dalam pencegahan penyakit DM pada anak. Perlu meningkatkan edukasi dan sosialisasi terkait bahaya DM pada anak dan risiko yang terjadi jika anak terkena DM untuk meningkatkan kesadaran akan kerentanan dan keparahan terhadap penyakit DM pada anak.
In Indonesia, the prevalence of Diabetes Melitus (DM) cases in children will increase 70 times by 2023. Compared to 2010, where the number of cases was 0.028 per 100.000 population, this figure will increase to 2 per 100.000 population by 2023. Cases of DM disease in children in Depok City were reported by the Depok City Health Center to reach 109 cases throughout 2022. The aim of study is to determine the behavior of parents in preventing DM disease in children in Depok City in 2023. This study used a quantitative approach with a cross-sectional design conducted on 170 respondents taken by quota sampling among parents in Depok City. Data were collected online using a questionnaire that had been tested for validity and reliability, and analyzed using the Chi Square test to see the relationship between 11 independent variables and parental behavior in preventing diabetes in children. The results showed that 43.5% of respondents had good diabetes prevention behavior. Income (p = 0.001), perceived vulnerability (p = 0.020), perceived severity (p = 0.030), perceived benefits (p = 0.018), and perceived barriers (p = 0.046) were relation with parental behavior in preventing diabetes in children, while age (p = 0.085), gender (p = 0.378), education (p = 0.530), occupation (p = 0.419), knowledge (p = 0.425), and self-efficacy (p = 0.429) were not relation with parental behavior in preventing DM in children. Increase education and socialization related to the dangers of DM in children and the risks that occur if children develop DM to increase awareness of the vulnerability and severity of DM disease in children.
S-11491
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
