Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 32801 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Ira Ayu Hastiaty; Pembimbing: Haryoto Kusnoputranto; Penguji: Umar Fahmi Achmadi, Margareta Maria Sintorini Moerdjoko
Abstrak:
Polusi udara dapat meningkatkan kerentanan terhadap COVID-19. Pengendalian polusi udara serta pengendalian COVID-19 di Kota Tangerang belum dilaksanakan dengan maksimal. Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan model prediksi hubungan polusi udara terhadap kasus COVID-19 Kota Tangerang Tahun 2020-2022. Penelitian ini menggunakan desain studi ekologi tren waktu serta kualitatif. Penelitian ini dilaksanakan di Kota Tangerang pada bulan April- Juni 2023. Penelitian ini menggunakan data sekunder meliputi data ISPU (NO2, SO2, PM10, dan PM2,5), suhu, kelembapan udara dan kasus COVID-19 di Kota Tangerang. Analisis data menggunakan analisis univariat, uji korelasi, uji regresi linier berganda. Gambaran NO2, SO2, PM10 tahun 2020-2022 berada dalam kategori baik, sedangkan PM2,5 adalah kategori sedang. Hasil uji korelasi spearman menunjukkan SO2 (p= 0,001 ; r= -0,109) dan PM10 (p= 0,000 ; r= -0,210) berhubungan signifikan terhadap kasus konfirmasi COVID-19. Analisis multivariat menunjukkan polusi udara yang paling dominan mempengaruhi kasus COVID-19 di Kota Tangerang adalah PM10, setelah dikontrol dengan PM2,5, suhu dan kelembapan. Variabel PM10, PM2,5, suhu, dan kelembapan dapat menjelaskan variasi variabel kasus COVID-19 sebesar 17,7%. Model prediksi hubungan polusi udara dengan kasus COVID-19 di Kota Tangerang Tahun 2020-2022 adalah kasus konfirmasi COVID-19 = 4384,38 + 22,47PM10 + 1,63PM2,5 - 120,39suhu - 13,33kelembapan. 

Air pollution can increase vulnerability to COVID-19. Air pollution control and COVID-19 control in Tangerang City have not been implemented optimally. The purpose of this study is to determine the prediction model of the relationship between air pollution and COVID-19 cases in Tangerang City in 2020-2022. This research uses a time trend ecological study design and qualitative. This research was conducted in Tangerang City in April-June 2023. This study used secondary data including ISPU data (NO2, SO2, PM10, and PM2,5), temperature, humidity and COVID-19 cases in Tangerang City. Data analysis used univariate analysis, correlation test, multiple linear regression test. The overview of NO2, SO2, PM10 in 2020-2022 is in the good category, while PM2,5 is in the moderate category. The results of the spearman correlation test showed that SO2 (p = 0.001; r = -0.109) and PM10 (p = 0.000; r = -0.210) were significantly associated with confirmed cases of COVID-19. Multivariate analysis shows that the most dominant air pollution affecting COVID-19 cases in Tangerang City is PM10, after controlling for PM2,5, temperature and humidity. PM10, PM2,5, temperature, and humidity variables can explain 17,7% of the variation in COVID-19 case variables. The prediction model of the relationship between air pollution and COVID-19 cases in Tangerang City in 2020-2022 is confirmed COVID-19 cases = 4384,38 + 22,47PM10 + 1.63PM2,5 - 120.39 temperature - 13.33 humidity.
Read More
T-6722
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Minar Indriasih; Pembimbing: Laila Fitria; Penguji: Budi Hartono, Zakianis, Inggariwati, Erni Pelita Fitratunnisa
Abstrak:
Pandemi Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) yang terjadi secara global telah menjadi ancaman besar bagi kesehatan masyarakat di seluruh dunia. Provinsi DKI Jakarta merupakan salah satu episenter kasus COVID-19 di Indonesia. Hingga tanggal 25 September 2022, DKI Jakarta menjadi penyumbang kasus tertinggi yaitu sebanyak 1.422.965 kasus, dengan 15.553 kasus yang berakhir dengan kematian. Dari total kasus positif di DKI Jakarta per tanggal 25 September 2022 tersebut, Kota Administrasi Jakarta Pusat menyumbang sebanyak 131.410 kasus dengan mortality rate yang paling tinggi yaitu sebesar 1,35%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara faktor iklim (suhu, kelembaban, curah hujan, kecepatan angin) dan pencemaran udara (PM10, PM2.5, SO2, NO2) dengan kasus COVID-19, menganalisis faktor yang paling dominan dan membuat model prediksi kasus COVID-19 berdasarkan faktor iklim dan pencemaran udara. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang menggunakan desain studi ekologi berdasarkan waktu (time trend). Penelitian dilakukan pada bulan April-Juni 2023 menggunakan data iklim, data pencemaran udara dan data insidens kasus COVID-19 di Kota Administrasi Jakarta Pusat Tahun 2020-2022. Data dianalisis menggunakan analisis univariat, bivariat dan multivariat serta hasilnya disajikan dalam bentuk tabel dan grafik. Hasil uji bivariat dengan korelasi spearman menunjukkan bahwa suhu (p = 0,0000; r = -0,291) dan kecepatan angin (p = 0,001; r = 0,265) berhubungan dengan kasus COVID-19. Hasil uji multivariat dengan regresi linear berganda menunjukkan variabel yang berpengaruh signifikan terhadap COVID-19 adalah suhu, kecepatan angin dan PM2.5, dimana faktor yang paling dominan adalah PM2.5. Model prediksi kasus COVID-19 adalah ln(Y) = 22,330 - 0,875(X1) + 1,806(X2) + 0,053(X3) + e dengan R2 = 0,225. Temuan ini menunjukkan pentingnya upaya pengurangan pencemaran PM2.5 di Kota Administrasi Jakarta Pusat sehingga dapat mengurangi kasus penyakit pernapasan termasuk COVID-19. Penelitian ini memanggil peneliti selanjutnya agar dapat melakukan penelitian di tingkat individu dengan desain studi kohort untuk membuktikan hubungan antara paparan polusi udara dengan kasus COVID-19.

The global pandemic of Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) has become a major threat to public health. DKI Jakarta Province is one of the epicenters of COVID-19 cases in Indonesia. As of September 25 2022, DKI Jakarta is the highest contributor of cases, namely 1,422,965 cases, with 15,553 cases ending in death. From the total positive cases in DKI Jakarta as of September 25 2022, the Central Jakarta Administrative City contributed 131,410 cases with the highest mortality rate, which was 1.35%. This study aims to determine the relationship between climatic factors (temperature, humidity, rainfall, wind speed) and air pollution (PM10, PM2.5, SO2, NO2) with COVID-19 cases, to analyze the most dominant factors and to create a case prediction model. This research is a quantitative study using a time trend ecological study design. The research was conducted in April-June 2023 using climate data, air pollution data and COVID-19 case incidence data in the Administrative City of Central Jakarta for 2020-2022. Data were analyzed using univariate, bivariate and multivariate analysis. The results of the bivariate test with Spearman correlation show that temperature (p = 0.0000; r = -0.291) and wind speed (p = 0.001; r = 0.265) are related significantly to COVID-19 cases. The results of the multivariate test with multiple linear regression show that the variables that had a significant relation on COVID-19 are temperature, wind speed and PM2.5, where the most dominant factor is PM2.5. The COVID-19 case prediction model is ln(Y) = 22.330 - 0.875(X1) + 1.806(X2) + 0.053(X3) + e with R2 = 0.225. These findings show the importance to reduce PM2.5 pollution in the Administrative City of Central Jakarta so that it can reduce cases of respiratory diseases including COVID-19. This study calls on future researchers to conduct research at the individual level with a cohort study design to prove the relationship between exposure to air pollution and cases of COVID-19.
Read More
T-6754
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Eka Hartomy; Pembimbing: Laila Fitria; Penguji: R. Budi Haryanto, Ririn Arminsih Wulandari, Dadang Iskandar, Fathurrohim
Abstrak:
COVID-19 adalah penyakit yang ditetapkan oleh World Health Organization (WHO) sebagai pandemi. Pada November 2022, positivity rate COVID-19 di Kota Serang dalam 7 hari terakhir adalah 19,61% dan lebih tinggi dibandingkan dengan Kabupaten Lebak (18,67%), Kota Cilegon (18,41%), Kabupaten Serang (16,02%), dan Kabupaten Pandeglang (13,47%). Penelitian bertujuan mengetahui hubungan suhu, kelembaban, curah hujan, kecepatan angin, dan lama penyinaran matahari dengan kasus COVID-19, menganalisis model prediksi kasus dan faktor cuaca dominan terhadap kasus COVID-19 di Kota Serang. Desain studi penelitian menggunakan ekologi tren waktu. Penelitian dilakukan pada Februari – Maret 2023 menggunakan data cuaca dan kasus COVID-19 di Kota Serang Maret 2020 – Desember 2022. Analisis data menggunakan analisis univariat, uji korelasi, uji regresi linier berganda, dan analisis spasial. Hasil penelitian menunjukkan Kecamatan Serang menjadi wilayah dengan kasus terbanyak. Suhu (r=-0,263) dan kecepatan angin (r=0,258) berhubungan dengan kasus COVID-19 mingguan. Pada lag 1 minggu, suhu (r=-0,366) dan lama penyinaran matahari (r=-0,179) berhubungan dengan kasus COVID-19. Pada lag 2 minggu, suhu (r=-0,348) dan lama penyinaran matahari (r=-0,214) berhubungan dengan kasus COVID-19. Model prediksi kasus COVID-19 adalah ln(Y) = 95,020 – 2,379X1 – 0,306X2 + e dengan R2 = 0,270. Faktor cuaca yang paling dominan mempengaruhi kasus COVID-19 adalah suhu disusul kelembaban.

COVID-19 is a disease designated by the World Health Organization (WHO) as a pandemic. In November 2022, the positivity rate of COVID-19 in Serang City in the last 7 days was 19.61% and higher than Lebak Regency (18.67%), Cilegon City (18.41%), Serang Regency (16.02%), and Pandeglang Regency (13.47%). The study aims to determine the relationship between temperature, humidity, rainfall, wind speed, and length of sunshine with COVID-19 cases, analyze case prediction models and dominant weather factors for COVID-19 cases in Serang City. The research study design uses time trend ecology. The research was conducted in February - March 2023 using weather data and COVID-19 cases in Serang City March 2020 - December 2022. Data analysis used univariate analysis, correlation test, multiple linear regression test, and spatial analysis. The results showed that Serang sub-district was the area with the most cases. Temperature (r=-0.263) and wind speed (r=0.258) are associated with weekly COVID-19 cases. At a lag of 1 week, temperature (r=-0.366) and length of sunshine (r=-0.179) were associated with COVID-19 cases. At a lag of 2 weeks, temperature (r=-0.348) and length of sunshine (r=-0.214) are associated with COVID-19 cases. The prediction model for COVID-19 cases is ln(Y) = 95.020 - 2.379X1 - 0.306X2 + e with R2 = 0.270. The most dominant weather factor affecting COVID-19 cases is temperature followed by humidity.
Read More
T-6643
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muhammad Hanif Fadhilah; Pembimbing: Bambang Wispriyono; Penguji: Laila Fitria, Sumiati
Abstrak:
Tingginya tingkat pencemaran udara masih menjadi permasalahan di DKI Jakarta. Hasil pemantauan kualitas udara oleh pihak Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta selama periode tahun 2020 menunjukkan hanya terdapat 8% periode kualitas udara yang menunjukkan kondisi baik. Sementara itu, Kota Jakarta Timur bahkan menjadi kota dengan jumlah kasus COVID-19 tertinggi di Indonesia yaitu sebanyak 300.198 kasus per 10 Juni 2022. Kecamatan Cipayung merupakan salah satu kecamatan dengan kasus COVID-19 tertinggi di Kota Jakarta Timur. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa paparan dari zat polutan yang terdapat di udara ambien beserta faktor meteorologis dapat berkontribusi terhadap dinamika penularan penyakit COVID-19. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara konsentrasi NO2, konsentrasi SO2, suhu udara, kelembaban udara, curah hujan, dan kecepatan angin dengan kejadian COVID-19 di Kecamatan Cipayung Kota Jakarta Timur. Penelitian ini menggunakan desain studi ekologi dengan pendekatan analisis tren waktu. Seluruh data yang digunakan merupakan data sekunder pada tahun 2021 yang berasal dari BMKG, Suku Dinas Kesehatan Kota Administrasi Jakarta Timur, dan dataset NASA POWER (Prediction of Worldwide Energy Resources). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara suhu udara, kelembaban udara, dan kecepatan angin dengan kejadian COVID-19 di Kecamatan Cipayung Kota Jakarta Timur Tahun 2021. Namun, tidak terdapat hubungan yang signifikan antara konsentrasi NO2, konsentrasi SO2, dan curah hujan dengan kejadian COVID-19 di Kecamatan Cipayung Kota Jakarta Timur Tahun 2021. Kecepatan angin menjadi variabel yang paling dominan berpengaruh terhadap kejadian COVID-19.

The high level of air pollution is still a problem in DKI Jakarta. The results from air quality monitoring by the Environmental Agency of DKI Jakarta province during the 2020 period showed that only 8% of the air quality monitoring periods indicated good conditions. Meanwhile, East Jakarta City has the highest number of COVID-19 cases in Indonesia, namely 300,198 cases as of June 10 2022. Cipayung District is one of the districts with the highest COVID-19 cases in East Jakarta City. Previous studies have shown that exposure to pollutants in the ambient air and meteorological factors can contribute to the dynamics of COVID-19 disease transmissions. This study aims to determine the relationship between NO2 concentration, SO2 concentration, air temperature, air humidity, rainfall, and wind speed with the incidence of COVID-19 in East Jakarta City. This study uses an ecological study design with a time trend analysis approach. All data used is secondary data in 2021 originating from the BMKG, the Health Office of East Jakarta Administrative City, and the NASA POWER (Prediction of Worldwide Energy Resources) dataset. This study's results indicate a significant relationship between air temperature, air humidity, and wind speed with the incidence of COVID-19 in Cipayung District, East Jakarta City, in 2021. However, there is no significant relationship between NO2 concentration, SO2 concentration, and rainfall with the incidence of COVID-19 in Cipayung District, East Jakarta City, in 2021. Wind speed is the variable that has the most dominant influence on the incidence of COVID-19.
Read More
S-11202
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dhyneke Pramitha Yuciana; Pembimbing: Dewi Susanna; Penguji: Zakianis, Aria Kusuma
Abstrak:

Hubungan antara kualitas udara dengan masalah kesehatan pernapasan dan kardiovaskular su- dah banyak diteliti, tetapi studi mengenai kualitas udara dengan demam berdarah dengue masih terbatas. Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di dunia, baik di wilayah tropis maupun subtropis. Studi ekologi dila- kukan di DKI Jakarta, salah satu wilayah yang memiliki jumlah kasus DBD tertinggi di Asia Tenggara, untuk meneliti hubungan antara Incidence Rate (IR) DBD dengan polusi udara, kece- patan angin, luas ruang terbuka hijau, serta kepadatan penduduk selama 2019–2023. Dilakukan pendekatan uji korelasi, uji Kruskal wallis, uji regresi linear berganda, dan analisis spasial. Ha- silnya menunjukkan bahwa semakin buruk kualitas udara, maka IR DBD cenderung menurun, dan sebaliknya pada uji korelasi, uji Kruskall-Wallis, dan regresi. Kecepatan angin, kepadat- an penduduk, dan luas ruang terbuka hijau memiliki hubungan negatif signifikan terhadap IR DBD di hampir seluruh wilayah di DKI Jakarta. Pada analisis spasial, IR DBD cenderung lebih tinggi di wilayah dengan polusi udara tinggi, luas ruang terbuka hijau rendah, dan kepadatan penduduk tinggi, sedangkan kecepatan angin menunjukkan variabilitas dan tidak tampak pola yang konsisten. Penelitian ini dapat dijadikan masukan bagi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk meningkatkan akurasi prediksi dini IR DBD di DKI Jakarta.


The associations between respiratory and cardiovascular health outcomes with air quality have been well examined. Less conclusive are the studies assessing the relationship between air quality and Dengue Hemorrhagic Fever (DHF), a mosquito-borne illness which remains a public health problem worldwide. We examined this relationship in DKI Jakarta, Indonesia, where the burden of DHF is among the highest across South-East Asian region. We analyzed the correlation between dengue incidence rate and variations in air pollution, wind speed, vegetation greenness, and population density in DKI Jakarta from 2019 to 2023 using the ecological study method. The results indicated that poorer air quality was generally associated with lower dengue incidence rate, as shown in the correlation, Kruskal-Wallis test, and regression tests. Wind speed, population density, and green open space area showed significant negative relationships with dengue incidence rate across most areas in DKI Jakarta. In the spatial analysis, dengue incidence rate tended to be higher in areas with high air pollution, low green vegetation, and high population density, while wind speed showed variability and did not indicate a consistent pattern. Variations in the concentrations of these air pollutants may inform short-term DHF forecasts by the Agency for Meteorology, Climatology, and Geophysics (BMKG)

Read More
S-11886
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nurul Eka Saputri; Pembimbing: Budi Hartono; Penguji: Bambang Wispriyono, Didik Supriyono
Abstrak:
Tuberkulosis paru merupakan sebuah penyakit yang menular sehingga mengakibatkan kesehatan buruk dan juga salah satu dari sepuluh penyebab kematian paling atas di dunia. Penyebab penyakit tuberkulosis paru yakni Mycobacterium tuberculosis. Penyakit tuberkulosis paru masih menjadi salah satu masalah Kesehatan di kota bogor dari tahun 2020-2022. Tujuan: Menganalisis hubungan cakupan rumah sehat, cakupan rumah tangga ber PHBS, fasilitas kesehatan dan kepadatan penduduk terhadap kasus tuberkulosis paru di Kota Bogor pada tahun 2020-2022. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain studi ekologi berbasis waktu. Hasil: Hasil analisis korelasi menunjukkan bahwa Rumah sehat (p=0,256), Rumah ber-phbs (p=-0,257), Fasilitas Kesehatan (p=0,338), Kepadatan penduduk (p=-0,943) terhadap kejadian tuberkulosis paru. Kesimpulan: Terdapat hubungan signifikan antara fasilitas Kesehatan dan kepadatan penduduk terhadap kejadian tuberkulosis. Dan terdapat hubungan yang tidak signifikan antara rumah sehat dan rumah tangga ber-phbs terhadap kejadian tuberkulosis paru.

Tuberculosis is an infectious disease that causes poor health and is also one of the top ten causes of death in the world. The cause of tuberculosis (TB) is Mycobacterium tuberculosis. Tuberculosis is still a health problem in the city of Bogor from 2020-2021. Objective: To analyze the relationship between healthy home coverage, PHBS household coverage, health facilities and population density on pulmonary tuberculosis (TB) cases in Bogor City in 2020-2022. Method: This research is a quantitative research with a time-based ecological study design. Results: The results of the correlation analysis show that healthy houses (p=0.256), houses with PHBS (p=-0.257), health facilities (p=0.338), population density (p=-0.943) affect the incidence of tuberculosis. Conclusion: There is a significant relationship between health facilities and population density on the incidence of tuberculosis. And there is an insignificant relationship between healthy homes and households with PHBS on the incidence of tuberculosis
Read More
S-11793
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Arifanissa Maramis; Pembimbing: Bambang Wispriyono; Penguji: Budi Hartono, Ririn Arminsih Wulandari, Satria Pratama, Nurusysyarifah Aliyyah
Abstrak:
Pneumonia menjadi salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada kelompok balita di Indonesia. Kota Padang merupakan wilayah dengan jumlah penemuan kasus pneumonia balita terbanyak di Provinsi Sumatera Barat selama periode tiga tahun terakhir. Salah satu faktor yang diduga berkontribusi terhadap tingginya angka kejadian pneumonia adalah kualitas udara yang buruk akibat peningkatan emisi polutan, terutama yang bersumber dari kendaraan bermotor dan aktivitas industri yang meningkat setiap tahunnya. Balita merupakan kelompok usia yang rentan terhadap dampak buruk pencemaran udara, mengingat sistem pernapasan mereka yang masih berkembang dan imunitas tubuh yang belum optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis korelasi antara indeks standar pencemar udara (ISPU) berdasarkan parameter (PM10, PM2,5, NO2, SO2, O3, dan CO) dengan jumlah kasus pneumonia pada balita di Kota Padang selama periode tahun 2020-2024. Desain studi yang digunakan adalah studi ekologi dengan unit analisis tahunan, dan analisis dilakukan dengan uji korelasi pearson. Kejadian pneumonia pada balita menunjukkan tren peningkatan setiap tahunnya, dengan jumlah kasus pneumonia terbanyak terjadi di tahun 2023 sebanyak 2.598 kasus. Kualitas udara di Kota Padang berdasarkan rata-rata nilai ISPU, menunjukkan fluktuasi yang tidak stabil, indeks O3 tertinggi terjadi di tahun 2021, indeks PM10, PM2,5, dan SO2 tertinggi terjadi pada tahun 2023, dan indeks NO2 dan CO tertinggi terjadi di tahun 2024. Hasil penelitian mendapatkan adanya korelasi kuat dan positif antara indeks PM2,5 dan CO dengan kasus pneumonia pada balita. Hasil ini mengindikasikan bahwa peningkatan indeks PM2,5 dan indeks CO di udara ambien Kota Padang berkaitan dengan peningkatan kejadian pneumonia pada balita.

Pneumonia is one of the leading cause of morbidity and mortality among toddlers in Indonesia. Padang city has the highest number of pneumonia cases among toddlers in West Sumatera Province over the past three years. One of the factor suspected to contributing the high incidence of pneumonia is poor air quality due to increasing pollutant emissions, particularly from motor vehicles and industrial activities, which increase annually. Toddlers are vulnerable age group that is vulnerable to the adverse effects of air pollution, given their still developing respiratory systems and immature immune systems. This study aims to analyze the correlation between the air pollutant standard index based on parameters (PM10, PM2,5, NO2, SO2, O3, dan CO) and the number of pneumonia cases among toddlers in Padang city during the period of 2020-2024. The study design used was an ecological study with an annual unit of analysis, and the analysisis was conducted using pearson correlation test. The incidence of pneumonia in toddlers shows an increasing trend every year, with the highest number of pneumonia cases occurring in 2023, amounting to 2.598 cases. Air quality in Padang city, based on the average of ISPU, shows unstable fluctuations, with the highest O3 index occurring in 2021, the highest PM10, PM2,5, and SO2 indices occurring in 2023, and the highest of  NO2 and CO indices occurring in 2024. The study results revealed a strong and positive correlation between PM2,5 and CO indices and pneumonia cases among toddlers. These findings indicate that an increase of PM2,5 and CO indices in the ambient air in Padang city is associated with an increase in pneumonia cases in toddlers.
Read More
T-7455
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ratna Maya Paramita; Pembimbing: Haryoto Kusnoputranto; Penguji: Ririh Yudhastuti, Margareta Maria Sintorini, Suyud Warno Utomo, Budi Hartono
Abstrak: COVID-19 ditetapkan menjadi pandemi global oleh WHO sejak 11 Maret 2020. Infeksi COVID-19 disebabkan oleh virus SARS-Cov-2 yang dapat menular dari manusia ke manusia. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi gambaran hubungan faktor iklim dan PM2,5 dengan kasus konfirmasi COVID-19 di Kota Surabaya tahun 2020. Desain penelitian menggunakan studi ekologi time series analysis dengan durasi penelitian mulai Maret hingga November 2020. Data sekunder diperoleh dari institusi pemerintahan terkait, yaitu BMKG Perak I Kota Surabaya, DLH Surabaya, dan Dinas Kesehatan Kota Surabaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu udara, kelembaban udara, curah hujan, dan konsentrasi PM2,5 memiliki hubungan dengan kasus konfirmasi COVID-19 dengan kekuatan hubungan masing-masing adalah 0,305, 0,249, 0,329, dan 0,114. Semua hubungan tersebut memiliki arah yang negatif. Dinas Kesehatan Kota Surabaya dapat membantu pembuatan kebijakan dan persiapan pencegahan penularan COVID-19 dengan ketersediaan informasi kelembaban udara, suhu udara, dan curah hujan beberapa hari kedepan melalui kerja sama dengan BMKG. Kata kunci: COVID-19, iklim, PM2,5, studi ekologi
COVID-19 have been declared as global pandemic by WHO at March 11 th , 2020. Infection of COVID-19 is caused by SARS-Cov-2 that human to human transmission. The aim of this study is to capture the relation between climate factor and concentration of PM2,5 with confirmation cases of COVID-19 in Surabaya City, 2020. Data provider for this study are Board of Meteorology, Climatology, and Geophysics (BMKG) Perak I Surabaya, Surabaya Environmental Office, and Surabaya Health Office. Research design of this study is ecological study-time series analysis from March to November 2020. This study found that negative correlation between climate factor, like air temperature, humidity, precipitation, concentration of PM2,5 with confirmation cases of COVID-19. The strenght of correlation were 0,305, 0,249, 0,329, and 0,114 respectively. Surabaya Health Office need to cooperate with BMKG as climate data provider, like weather prediction information for helping regulation maker and purpose preparation to prevent the transmission of COVID-19
Read More
T-6158
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yoerdy Agusmal Saputra; Pembimbing: Dewi Susanna; Penguji: Al Asyary, Laila Fitria, Bonnie Medanna Pahlavie, Inggariwati
Abstrak: Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh SARS-CoV-2. Iklim dianggap sebagai prediktor teratas COVID-19, karena dapat menentukan kelangsungan hidup dan penularan Coronavirus. Per tanggal 31 Agustus 2020, dilaporkan total kasus 24.854.140 dari seluruh dunia dengan 838.924 kematian. Di Indonesia, tercatat sebanyak 174.796 kasus COVID-19 dengan 7.417 kematian dari seluruh provinsi yang didominasi oleh kasus dari DKI Jakarta. Penelitian ini bertujuan untuk mencari pola hubungan secara korelasi dan spasial faktor iklim mikro terhadap pola kasus COVID-19 serta model prediksi kasus COVID-19 berdasarkan faktor iklim mikro di DKI Jakarta tahun 2020. Penelitian ini menggunakan desain studi ekologi berdasarkan waktu dan tempat dengan integrasi sistem informasi geografis, dan teknik statistik. Hasil uji statistik menunjukan adanya hubungan yang signifikan antara kelembaban, curah hujan, kecepatan angin rata-rata, dan lamanya penyinaran matahari Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta dapat menggunakan model prediksi tersebut untuk memprediksi pola kasus, sehingga dapat digunakan untuk merencanakan kegiatan pencegahan dan pengendalian COVID-19.
Read More
T-6218
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Selfi Octaviani Lestari; Pembimbing: Zakianis; Penguji: Dewi Susanna, Laila Fitria, Agus Setyo Widodo, Kuat Prabowo
Abstrak: Penyakit diare merupakan masalah kesehatan masyarakat yang utama di negara-negara berkemban. Diare ditandai dengan terjadinya tiga atau lebih episode buang air besar yang encer dari biasanya, umumnya disertai kram perut dalam waktu 24 jam. Insiden diare di Asia Tenggara cenderung lebih tinggi di bandingkan di Afrika. Berbagai negara telah memiliki program dalam rangka menurunkan diare yaitu Community Led Total Sanitation. Di Indonesia juga memiliki program untuk menurunkan kejadian diare yaitu Sanitasi Total Berbasis Masyarakat.Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui korelasi STBM yaitu stop buang air besar sembarangan (Stop Buang Air Besar Sembarangan (SBABs)), cuci tangan pakai sabun (CTPS), pengelolaan air minum dan makanan rumah tangga (PAMMRT), pengelolaan sampah rumah tangga (PSRT) dan pengelolaan limbah cair rumah tangga (PLCRT) dengan kejadian diare di Kota Metro Provinsi Lampung Tahun 2020-2022. Disain studi ekologi dan analisis spasial sebanyak 22 kelurahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari kelima pilar hanya 2 pilar yang berhubungan dengan kejadian diare di Kota Metro tahun 2020-2022 yaitu PSRT (p=0,012, B=0,557) dan PLCRT (p= 0,017, B=-0,529).
Diarrheal disease is a major public health problem in developing countries. Diarrhea is characterized by the occurrence of three or more episodes of loose stools than usual, generally accompanied by abdominal cramps within 24 hours. The incidence of diarrhea in Southeast Asia tends to be higher than in Africa. Various countries already have programs to reduce diarrhea, namely Community Led Total Sanitation. Indonesia also has a program to reduce the incidence of diarrhea, namely Community-Based Total Sanitation. The aim of this study was to determine the correlation between STBM, namely Stop Buang Air Besar Sembarangan (SBABs), hand washing with soap (CTPS), and management of drinking water and household food. (PAMMRT), household waste management (PSRT) and household liquid waste management (PLCRT) with the incidence of diarrhea in Metro City, Lampung Province, 2020-2022. Ecological studies and spatial analysis studies of 22 sub-districts. The results showed that of the five pillars, only 2 pillars were related to the incidence of diarrhea in Metro City in 2020-2022, namely PSRT (p=0,012, B=0,557) and PLCRT (p= 0,017, B=-0,529).
Read More
T-6760
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive